Sunday, November 7, 2010
Belajar Strategi Perang Israel dan Cara Menghadapinya!!! (2)
Mengingat pengambil keputusan perang adalah perdana menteri, maka siapa yang menjadi Perdana Menteri Rezim Zionis Israel menjadi sangat penting. Di Israel seorang perdana menteri harus memiliki pengalaman militer. Oleh karena itu, sangat mungkin sekali metode pengambilan keputusan seorang perdana menteri akan berbeda dengan perdana menteri lainnya.
Dengan gambaran semacam ini, tujuh prinsip klasik metode perang Israel tetap dipertahankan oleh para penguasa Tel Aviv hingga lengsernya diktator Irak Saddam Husein. Begitu cepatnya Baghdad jatuh oleh pasukan pendudukan Amerika pada tahun 2003 memunculkan adanya perubahan dalam strategi militer Israel. Rezim penjajah Palestina begitu terpesona dengan kemenangan cepat Amerika di Irak. Oleh karenanya mereka segera membentuk tim membahas faktor-faktor apa saja yang menentukan kemenangan Amerika.
Faktor pertama yang mereka temukan adalah penggunaan teknologi canggih. Mereka menilai teknologi canggih yang dimiliki oleh AS mampu menundukkan Baghdad dalam sekejap. Atas dasar ini, mereka sampai pada satu kesimpulan bahwa Israel harus memanfaatkan teknologi canggih dalam perang mendatangnya.
Faktor kedua menurut mereka ada pada peran urgen dan prinsip dari angkatan udara Amerika. Kekuatan udara AS menjadi faktor paling determinan dalam menaklukkan kekuatan militer Irak. Sementara pasukan darat AS dengan mudah masuk dan menguasai Baghdad. Sejatinya angkatan darat AS praktis tidak memasuki perang yang sesungguhnya. Karena militer Irak sebenarnya sudah takluk dihancurkan angkatan udara Amerika terlebih dahulu. Itulah mengapa mereka dapat dengan cepat menduduki Irak.
Poin penting lainnya terkait hancurnya sistem komunikasi militer Irak. Pasukan udara Amerika dengan memanfaatkan teknologi modern berhasil menghancurkan sistem jalur komunikasi militer Irak. Militer AS menghancurkan jalur komunikasi yang menghubungkan staf komando Irak di Baghdad dengan satuan-satuan tempurnya di daerah-daerah. Pasukan Irak yang berada di Basrah akhirnya tidak mampu melakukan hubungan dengan Baghdad yang berujung pada ketidakmampuan mereka untuk mengambil keputusan. Di sini, para komandan pasukan Irak yang berada di garis depan dan di daerah-daerah malah mendapatkan informasi perang lewat televisi Aljazeera, disebabkan hubungan ke Baghdad terputus.
Faktor penting lainnya adalah korban yang sangat sedikit dari pihak Amerika. Kenyataan ini sangat mempesonakan militer Israel karena hal ini yang sangat diinginkannya.
Akhirnya militer Israel menjadikan perang Amerika di Irak sebagai panduannya dan meninggalkan strategi militer klasik yang sebelum ini diterapkannya. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah fokus memperkuat angkatan udaranya. Atas dasar ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Israel seorang perwira angkatan udara diangkat menjadi kepala staf gabungan militer Israel. Ia adalah Jenderal Dan Halutz.
Pemilihan Jend. Dan Halutz bermakna bahwa Israel serius mengubah strategi perang dari penekanan pada angkatan darat pada angkatan udara. Tidak hanya itu, Israel bahkan mengambil langkah lebih jauh mengubah kebijakannya terkait pasukan cadangan. Karena di Israel selalu saja dibahas terkait anggaran milier yang begitu besar, bahkan lebih besar dari anggaran pembangunan. Oleh karena itu, anggaran pasukan cadangan pun disunat dan difokuskan membentuk pasukan darat dalam kelompok-kelompok kecil namun diharapkan sangat efektif agar mampu membantu peran signifikan angkatan udara.
Setelah melakukan perubahan ini rezim Zionis Israel mencoba menerapkan strategi barunya dalam perang 33 hari di Lebanon. Berdasarkan analisa dan strategi baru ini Israel beranggapan dengan teknologi modern bukannya sepekan, tapi hanya dalam dua hari mereka bakal mampu menghancurkan kekuatan Hizbullah. Mereka beranggapan hanya dalam dua hari mereka mampu berhasil menghancurkan seluruh pusat-pusat kekuatan Hizbullah lewat kekuatan udara dan setelah itu mereka akan menduduki Lebanon dalam sebuah operasi kecil dari pasukan daratnya. Perang ini akan berakhir sedemikian mudahnya.
Perang 33 hari dimulai dengan gambaran ini. Dua hari dari prediksi para komandan militer Israel telah berlalu, tapi ternyata hasilnya berbeda dari prediksi yang ada. Sepekan berlalu dan tidak ada yang berubah hingga perang berlanjut menginjak pekan kedua. Akhirnya militer Israel baru mulai memahami bahwa strategi yang mereka pakai gagal meraih tujuan yang telah ditetapkan sebelum ini. Karena dalam perang 33 hari itu, tidak satupun dari para pemimpin level satu dan dua tidak ada yang tewas dalam serangan udara Israel. Yang terjadi adalah hanya dua dari pemimpin level tiga dari Hizbullah yang syahid dan mereka yang tewas lainnya berasal dari pasukan biasa Hizbullah yang syahid di medan tempur dan bukan diakibatkan serangan udara.
Semua ini menunjukkan betapa kekuatan udara tidak mampu mengakhiri perang dan ini baru dimengerti Israel setelah perang berlanjut hingga pekan kedua. Para pemimpin militer dan politik Israel baru sadar bahwa strategi yang mereka pakai itu ternyata keliru. Mereka tidak dapat menyelesaikan perang hanya bergantung pada kekuatan udara. Sementara segala target yang dibayangkan selama ini telah dimusnahkan mereka sejak pekan pertama. Karena apa saja yang mereka anggap sebagai pusat Hizbullah telah mereka bombardir dan tidak ada yang tersisa.
Kelemahan mereka dari sisi intelijen terkait target-target Hizbullah membuat mereka bak orang tolol yang akhirnya memaksa membuka arsip mereka terkait letak tempat-tempat Hizbullah. Setelah mendapatkannya tanpa perlu dikaji kembali mereka langsung membombardir daerah itu. Padahal tempat-tempat yang dahulunya milik Hizbullah itu telah beralih kepemilikian. Sebagai contoh, ada sebuah rumah di kota Nabatieh yang dahulunya milik seorang pemimpin Hizbullah yang telah diidentifikasi oleh pihak Israel beberapa tahun lalu sebelum perang 33 hari. Rumah itu sebenarnya telah dijual kepada seseorang dan dalam perang itu menjadi target serangan udara Israel. Akibat serangan itu, sebuah keluarga berikut 8 anaknya syahid seketika.
Ketidakmampuan Israel mendapatkan informasi intelijen terkait tempat-tempat Hizbullah lagi-lagi menjadi kekalahan intelijen rezim penjajah ini. Dari sisi persenjataan pun mereka tidak tahu apa senjata yang dimiliki Hizbullah. Ketika Hizbullah menggunakan senjata-senjata barunya, khususnya rudal dari darat ke laut, mereka kecolongan dan mengklaim bahwa rudal itu ditembakkan oleh para perwira Sepah Pasdaran Iran. Karena informasi intelijen yang mereka miliki menyebutkan bahwa Hizbullah benar memiliki rudal ini, tapi belum mampu menggunakannya. Di sini, kegagalan mereka coba ditepis dengan memunculkan perang urat saraf agar kekalahan intelijen mereka dapat ditutupi.
Bersambung ... (IRIB/SL/MZ)
Israel Akan Rayu AS untuk Serang Iran
Setelah Senator AS, Lindsey Graham mendesak Gedung Putih untuk menghancurkan Republik Islam Iran melalui serangan militer, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu berencana meminta Washington untuk mengancam Tehran dengan aksi militer guna menghentikan program nuklir negara itu.
"Satu-satunya cara untuk memastikan bahwa Iran tidak memperkuat diri dengan senjata nuklir adalah menciptakan sebuah ancaman yang nyata melalui aksi militer," kata kantor PM Israel kemarin (Ahad,7/11).
"Sanksi-sanksi ekonomi mungkin memberatkan Iran, tapi belum ada tanda bahwa mereka berniat menghentikan program nuklirnya," tegasnya.
"Hanya sebuah ancaman militer terhadap Iran yang benar-benar dapat mencegah kami menggunakan kekuatan militer nyata," tulis pernyataan itu. Selama ini, Tel Aviv dan Washington berulang kali mengancam Tehran dengan serangan militer.
Ancaman terbaru disampaikan oleh Panglima AS, Laksamana Mike Mullen. Ia menyatakan kesiapan untuk memulai perang jika itu benar-benar dapat mencegah Iran membuat bom atom.
Sebelumnya, Presiden Barack Obama secara implisit menyatakan akan menyerang Iran dengan senjata nuklir. Pernyataan Obama itu tentunya mengejutkan dunia. AS rupanya ingin mengulangi kekeliruannya di Perang Dunia II dengan melempar bom nuklir di Nagasaki dan Hiroshima.
Iran menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan dalam kerangka Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT). Para pejabat Tehran juga telah memperingatkan bahwa mereka akan merespon dengan tegas setiap aksi militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklirnya dan perang dapat menyebar ke tempat lain di luar Timur Tengah. (IRIB/RM/AR)
IRIB
Singapura Dukung Program Nuklir Damai Iran
Ketua parlemen Republik Islam Iran, Ali Larijani mengatakan, kebijakan standar ganda negara-negara adidaya terkait isu nuklir dan terorisme telah menyebabkan kekacauan di wilayah Timur Tengah.
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo di Tehran kemarin (Ahad,7/11), Larijani menuturkan, situasi di Irak dan Afghanistan adalah contoh nyata dari kekacauan akibat kebijakan standar ganda adidaya dunia.
Pada kesempatan itu, Larijani juga menyatakan bahwa Iran dan Singapura memiliki potensi besar untuk memperluas hubungan mereka di berbagai sektor.
Di pihak lain, George Yeo mengatakan, Singapura ingin melihat Iran memainkan peran yang lebih besar di Asia.
Mengomentari isu nuklir Tehran, Yeo mengatakan bahwa sengketa program nuklir Iran hanya dapat diselesaikan melalui dialog dan diplomasi.
"Singapura berpendapat setiap bangsa memiliki hak untuk mengakses teknologi nuklir untuk tujuan damai," ujar Yeo. Ditambahkannya, era dominasi Barat di Asia telah berakhir. (IRIB/RM/AR)
IRIB
Pramono Edhie, Panglima TNI Berikutnya?
Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo (kanan) dan Pangkostrad Letjen TNI Burhanuddin Amin (kiri) salam komando usai upacara serah terima jabatan Pangkostrad di Markas Divisi I Kostrad Cilodong, Jawa Barat, Jum'at (5/11/2010). (Foto: Tribun News/Bian Harnansa)
8 November 2010 -- Seusai serah terima jabatan, Kepala Staf TNI Angkatan Darat menandaskan, pemegang tongkat komando tertinggi di TNI AD berikutnya adalah mereka yang berpangkat bintang tiga. Salah satu nama yang tak pelak lagi menjadi kuda hitam adalah Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo, yang sebentar lagi tentunya akan mencapai bintang tiga (letnan jenderal), sesuai dengan tugas yang diembannya, yaitu Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD.
Dalam pidatonya saat perayaan sertijab, Edhie bercerita, kariernya lebih banyak di Komando Pasukan Khusus. Edhie memulai kariernya sebagai Komandan Peleton Kopassandha, Komandan Batalyon II Grup I Kopassus (1995), Komandan Grup 5 Kopassus (1998), Wakil Danjen Kopassus (2005), dan Danjen Kopassus (1 Juli 2008-4 Desember 2009). Suami Kiki Gayatri dan ayah dua putra ini punya banyak pengalaman di Singapura hingga Lebanon. Ia juga mendapat banyak tanda jasa, seperti Bintang Kartika Eka Paksi Pratama dan Bintang Yudha Darma Pratama.
Tentu saja Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI George Toisutta secara diplomatis menyatakan, setiap jenderal berbintang tiga di TNI AD memiliki kans yang sama untuk menjadi KSAD. Namun, melesatnya karier Edhie yang juga anak bungsu Sarwo Edhie Wibowo—Komandan RPKAD (1964-1967) yang tersohor itu—tentu saja kansnya besar.
Apa kata Edhie Wibowo? Di sela-sela upacara sertijab, Jumat, saat ditanyakan bahwa dirinya termasuk calon KSAD yang akan datang, ia bilang, ”Ya, banyak faktor yang berpengaruh kan. Mulai dari situasi serta kondisi seperti usia.”
Walaupun lulus Akademi Militer tahun 1980, Edhie berusia lebih tua dari rekan-rekannya. Kini ia berusia 55 tahun, yang berarti pensiun tahun 2013. Adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang lahir pada 5 Mei 1955 ini lebih tua tiga bulan dari Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.
Sesuai dengan UU No 34/2004, menyangkut usia maksimal perwira TNI, yaitu 58 tahun, KSAD George Toisutta pensiun pada Juni 2011. Saat itu, TNI AD akan menyeleksi jenderal-jenderal berbintang tiga untuk menduduki KSAD.
Dengan pensiun tahun 2013, masih ada juga kans jadi Panglima TNI? Edhie hanya berucap, ”Yah... kita liat saja nanti. Itu kan hak Presiden.”
KOMPAS
Belanja Militer Indonesia
Pesawat Tempur Sukhoi TNI AU
Raksasa Asia Tenggara yang sedang tidur telah mulai terbangun membuat pernyataan yang mengejutkan. Setelah beberapa dekade kurangnya investasi dan isolasi internasional, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang dikenal sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI), akan melakuakan perbaikan kemampuan menyeimbangkan strategis di kawasan Asia-Pasifik - setidaknya pernyataan ambisius Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.
Setelah susah payah pengadaan skuadron pertama dari 10 pesawat tempur Sukhoi modern
selama dekade terakhir, di bawah-kekuatan angkatan udara TNI sekarang bertujuan untuk membuat sembilan skuadron Sukhoi lagi dalam sangat singkat, ujar Purnomo pada akhir September yaitu pengadaan sukhoi dengan total 180 pesawat sampai tahun 2024 termasuk pengadaan 50 Pesawat tempur kfx yang telah ditandatangani pada bulan Juli yaitu MoU antara Indonesia dengan Korea Selatan dan akan diproduksi awal tahun 2020an.
Rencana untuk membeli dua kapal selam baru, mungkin dari Rusia atau Korea Selatan. Lebih mencolok, desakan Purnomo bahwa program pengadaan dilakukan dengan ToT, yang memungkinkan PT Pal untuk membangun kapal selam didalam negeri. Dan Menteri Pertahanan Purnomo berjanji untuk sementara memprioritaskan AU dan AL untuk menyeimbangkan alutsista untuk semua mantra, karena pengaruh orde baru yang beroritasi dimantra darat.
Pertanyaannya adalah apakah grand design Purnomo untuk memodernisasi akan banyak halangan terutama dari segi politik dan keuangan?. Menteri sendiri tetap di bawah pengawasan ketat, seperti janji pemerintah yang sebelumnya, Purnomo merupakan menteri pertahanan yang berbeda dengan pendahulunya, Juwono Sudarsono, secara luas dianggap sebagai teknokrat yang mempunyai keahlian dibidang pertahanan, sedangkan Purnomo, yang baru dilantik pada tahun 2009, yang merupakan mantan menteri energi dan pertambangan yang berbeda dengan menteri pertahanan.
Namun, ide kreatif dari Purnomo berbeda dengan pendahulu dimana dia sendiri baru awan dibidang pertahanan. Pada pertengan Oktober, anggota parlemen Indonesia menyetujui keinginan untuk menambah anggaran pertahanan negara untuk US $ 6,3 miliar (lebih dari $ 1 miliar yang sebelumnya disetujui) pada tahun 2011, hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi yang kuat sekitar 7% per tahun yang membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkomitmen meningkatkan anggaran pertahanan menjadi 1,5% dari PDB pada tahun 2014.
Meskipun demikian peningkatkan anggaran pertahanan merupakan sebuah "Ambisi dan kebutuhan yang sebenernya," kata Dewi Fortuna Anwar, mantan asisten menteri luar negeri dan sekarang dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. "Alutsista sangat kurang dan Indonesia perlu membangun kembali. Tapi aspirasi Purnomo benar-benar berbicara tentang kesenjangan yang besar antara kebutuhan yang diinginkan dan apa yang Indonesia dapat dicapai secara realistis. Pada tingkat pengadaan riil, pemerintah masih akan bertujuan untuk membangun MEF (Minimum Essensial Force)"
Berbicara tentang pengadaan 180 Sukhoi mungkin terlalu fantastis, namun Anwar setuju dengan program pengandaan 10 pesawat Sukhoi banyak mengeluarkan anggaran tetapi itu digunakan untuk menjaga kedaulatan NKRI. "Pengadaan Sukhoi bukan sekedar untuk sebuah proyek adu gengsi" tegas dia. "Tentu saja, satu skuadron tidak cukup - tetapi sudah ada uang untuk lebih dari itu. Sekarang ini memiliki fungsi pelatihan penting " Anwar setuju untuk fokus ke pengadaan alutisista TNI AL. Dia menghargai upaya yang sedang berlangsung kementerian pertahanan untuk memperoleh frigat baru untuk angkatan laut, tetapi mengakui bahwa 300 kapal baru yang diperlukan untuk menjaga NKRI.
Bahkan dengan anggaran naik, hampir pasti Indonesia akan meningkatkan kemampuan pertahanan yang lebih bertahap seperti yang dikatakan oleh Purnomo. Negara-negara seperti Australian dan Malaysia harus waspada terhadap militer Indonesia yang sudah menunjukkan peningkatan militernya, ini merupakan suatu pertimbangan penting. "Ada persepsi di Indonesia bahwa kelemahan militer negara itu telah dimanfaatkan oleh negara-negara tetangga," kata Anwar, "tetapi tidak ada tuntutan bagi kita untuk memiliki pesawat lebih dari Malaysia, atau sesuatu seperti itu. Indonesia merupakan negara berkembang. Kami tidak ambisius untuk meningkatan militer secara besar-besaran, dan tidak akan mengorbankan proyek-proyek pembangunan alutsista pertahanan. "
Sama pentingnya memperbarui inventaris TNI yang telah penuaan, meningkatkan anggaran pertahanan bisa memberikan untuk proses reformasi militer Indonesia. Off-budget pendanaan selalu menjadi hambatan serius bagi profesionalisasi TNI, dan dana dari pemerintah yang cukup akhirnya harus memungkinkan pemerintah untuk memaksa militer untuk divestasi kepentingan bisnisnya - jika ada kemauan politik untuk melakukannya.
Dalam hal ini, presiden Yudhoyono memiliki beragam catatan: sementara TNI telah lepas dari politik, ia tetap beberapa hak istimewa yang penting, terutama struktur komando teritorial, yang meningkatkan kemampuan militer untuk beroperasi secara lokal tanpa pengawasan dari pemerintah pusat. Namun, tuduhan baru pelanggaran militer di Papua bisa memaksa pemerintah tersebut menjadi gelombang lebih lanjut dari reformasi militer, menurut Anwar. "Papua jelas menempatkan tekanan pada pemerintah," katanya. "Harus ada mengakhiri impunitas militer."
Untuk sebuah perubahan milter merupakan pil pahit reformasi tentu akan manis dengan komitmen pemerintah yang jelas untuk program pendanaan modernisasi alutsista. Dengan demikian, rencana ambisius Purnomo - bahkan jika mereka terlalu ambisius - harus disambut baik. Tapi Militer negara sekutu memulai pemangakasan anggaran, sedangkan militer Indonesia menemukan jati dirinya untuk pertama kalinya yang dipelopori oleh Purnomo'
Jika Purnomo sekarang memenuhi TNI dengan memberikan pada setidaknya setengah dari janji pengadaan, ia bisa membeli ruang yang sangat berharga bagi pemerintah untuk mengejar lebih lanjut reformasi militer - reformasi yang, seperti peristiwa di Papua .
Sumber: ATIMES
BENJAMIN NETANYAHU Hanya Aksi Militer Bisa Hentikan Iran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya di hadapan Konferensi Pimpinan Amerika Yahudi di New York, 7 Juli 2010
NEW ORLEANS, KOMPAS.com — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan kepada Wakil Presiden AS, Joe Biden, Minggu (7/11/2010), bahwa hanya sebuah ancaman tindakan militer yang bisa memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
Seorang pajabat senior Israel mengungkapkan hal tersebut seusai mengikuti pembicaraan antara Netanyahu dan Biden. Netanyahu bertemu Biden di New Orleans tak lama setelah ia tiba di sana untuk mengikuti sebuah pertemuan puncak organisasi Yahudi. Pejabat senior itu, yang meminta tidak disebutkan namanya, mengutip Netayahu yang mengatakan kepada Biden bahwa "Satu-satunya cara untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir adalah dengan menciptakan sebuah ancaman yang dapat dipercaya tentang aksi militer terhadap Iran jika tidak juga menghentikan upayanya untuk mendapatkan sebuah bom nuklir".
Pemerintah Presiden Barack Obama, yang tidak mengesampingkan opsi militer terhadap Iran, sejauh ini menekankan Iran dengan sanksi-sanksi dan diplomasi sebagai pilihan ketika berurusan dengan program nuklir negara itu. Iran telah sepakat untuk melanjutkan perundingan nuklir dengan enam negara kuat dunia setelah tanggal 10 November. Perundingan itu merupakan langkah lain dari upaya internasional untuk menekan Iran agar meninggalkan program pengayaan uranium yang diduga Barat akan digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Mark Regev, juru bicara Netanyahu, mengatakan, Perdana Menteri Israel menyatakan dukungan bagi sanksi-sanksi lanjutan terhadap Iran, tetapi menyarankan adanya lebih banyak tekanan. "Sanksi-sanksi itu penting. Sanksi-sanksi tersebut meningkatkan tekanan terhadap Iran. Namun, sejauh ini belum ada perubahan dalam perilaku Iran dan peningkatan tekanan internasional sangat diperlukan," katanya mengutip perkataan Netanyahu saat berbicara dengan Biden.
Sumber: KOMPAS
NEW ORLEANS, KOMPAS.com — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan kepada Wakil Presiden AS, Joe Biden, Minggu (7/11/2010), bahwa hanya sebuah ancaman tindakan militer yang bisa memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
Seorang pajabat senior Israel mengungkapkan hal tersebut seusai mengikuti pembicaraan antara Netanyahu dan Biden. Netanyahu bertemu Biden di New Orleans tak lama setelah ia tiba di sana untuk mengikuti sebuah pertemuan puncak organisasi Yahudi. Pejabat senior itu, yang meminta tidak disebutkan namanya, mengutip Netayahu yang mengatakan kepada Biden bahwa "Satu-satunya cara untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir adalah dengan menciptakan sebuah ancaman yang dapat dipercaya tentang aksi militer terhadap Iran jika tidak juga menghentikan upayanya untuk mendapatkan sebuah bom nuklir".
Pemerintah Presiden Barack Obama, yang tidak mengesampingkan opsi militer terhadap Iran, sejauh ini menekankan Iran dengan sanksi-sanksi dan diplomasi sebagai pilihan ketika berurusan dengan program nuklir negara itu. Iran telah sepakat untuk melanjutkan perundingan nuklir dengan enam negara kuat dunia setelah tanggal 10 November. Perundingan itu merupakan langkah lain dari upaya internasional untuk menekan Iran agar meninggalkan program pengayaan uranium yang diduga Barat akan digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Mark Regev, juru bicara Netanyahu, mengatakan, Perdana Menteri Israel menyatakan dukungan bagi sanksi-sanksi lanjutan terhadap Iran, tetapi menyarankan adanya lebih banyak tekanan. "Sanksi-sanksi itu penting. Sanksi-sanksi tersebut meningkatkan tekanan terhadap Iran. Namun, sejauh ini belum ada perubahan dalam perilaku Iran dan peningkatan tekanan internasional sangat diperlukan," katanya mengutip perkataan Netanyahu saat berbicara dengan Biden.
Sumber: KOMPAS
AS Bakal Kembali Rangkul Militer Indonesia?
Kalau saja petinggi militer Indonesia berterus terang tentang apa yang mereka rasakan dan mengganggu agenda TNI, mungkin mereka akan menyalahkan AS.
INILAH.COM, Jakarta - Kalau saja petinggi militer Indonesia berterus terang tentang apa yang mereka rasakan dan mengganggu agenda TNI, mungkin mereka akan menyalahkan Amerika Serikat (AS). Mengapa?
Negara raksasa ini punya beberapa kebijakan yang menempatkan TNI atau militer Indonesia dalam posisi 'bersalah'. Padahal sebelumnya militer Indonesia merupakan kelompok yang selalu didukung rezim Gedung Putih.
Rezim Soeharto (1966-1998) merupakan salah satu pemerintahan militer terpanjang di dunia, memperoleh dukungan AS. Dukungan bervariasi dari aneksasi Timor Portugis menjadi Timor Timur (1975), pembelian pesawat tempur F-16, hingga pelatihan Kopassus.
Sebaliknya, AS juga yang melecehkan sejumlah perwira tinggi militer RI. Letjen Sintong Panjaitan dan Letjen Johny Lumintang merupakan dua di antara perwira tinggi Indonesia yang dilecehkan di wilayah AS. Padahal kedua jenderal itu tergolong prajurit terbaik.
Semua berawal dari penilaian AS bahwa kedua jenderal itu bersalah menangani masalah di Timor Timur. Panjaitan dianggap bertanggung jawab atas peristiwa di kuburan Santa Cruz, Dili, Timor Timur. Sebagai Pangdam IX Udayana yang membawahi Bali, NTT hingga Timtim, Panjaitan dinilai bersalah atas tertembaknya sejumlah warga sipil pada Desember 1991 itu.
Saat itu Sintong Panjaitan hendak mengikuti program studi di salah satu perguruan di AS. Dia diminta meninggalkan AS, dengan alasan, melakukan pelanggaran HAM dalam peristiwa Santa Cruz tersebut.
Jenderal Lumintang selaku Wakil Kepala Staf Angkatan Darat juga dipersalahkan AS. Karena pada 1999, mengeluarkan radiogram kepada Pangdam Udayana agar merespons tindakan anarki yang dilakukan kelompok anti-Indonesia.
Radiogram itu dikeluarkan, berhubung pasca jajak pendapat di provinsi ke-27 RI itu, keselamatan warga pro Indonesia terancam. Respon militer Indonesia menyebabkan jatuhnya korban sejumlah warga sipil Timor Timur.
Ketika Lumintang mengadakan perjalanan dinas ke AS, tiba-tiba ia dikejutkan oleh petugas imigrasi dan FBI. Ia diminta meninggalkan AS dalam kesempatan pertama. Jika tidak, dia akan ditahan dan diajukan ke pengadilan federal.
Selain masalah Timtim, AS juga memberikan sanksi kepada pasukan elit Kopassus. Kerja sama AS dan Indonesia dalam pelatihan Kopassus dihentikan gara-gara keterlibatan sejumlah anggota pasukan elit itu dalam penculikan aktivis yang menentang rezim militer pimpinan jenderal Soeharto.
Sanksi pemerintah AS ini hingga 2010 belum dicabut. Padahal seorang korban penculikan Pius Listrulanang misalnya sudah menjadi anggota DPR mewakili Partai Gerindra, partai yang didirikan Letjen Prabowo Subianto.
Peristiwa penculikan itu terjadi saat Prabowo sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Pius dan Prabowo sudah bersahabat, tapi AS masih belum mencabut sanksinya.
Lain lagi ceritera pembelian pesawat tempur F-16. Pemerintah AS mendorong Indonesia membeli produk negara adidaya itu. Miliaran dolar dana RI mengalir ke industri persenjataan militer AS.
Namun AS kemudian melarang pabrikan menjual suku cadang F-16 kepada Indonesia. Satu persatu skuadron F-16 rontok sebab para mekanik Angkatan Udara RI terpaksa melakukan kanibal antar satu pesawat dengan yang lainnya.
Pengalaman pahit itu memang terjadi jauh sebelum Barack Obama terpilih sebagai presiden. Namun dalam kesempatan kunjungannya minggu kedua November 2010 ini, wajar jika Presiden SBY menyegarkan kembali memori pahit ini.
Tujuannya agar ke depan hubungan kedua negara menggunakan paradigma sehat dan produktif. Kesetaraan dua negara kalaupun hanya dilakukan dalam hal martabat, bukan dalam soal teknologi, keuangan dan indikator lainnya, tidak menjadi masalah.
AS perlu diingatkan bahwa masa depan hubungan kedua negara, tidak bisa lagi ditentukan Washington. Hubungan RI-AS harus saling menguntungkan.
Jika diumpamakan, sepasang muda-mudi, Indonesia ingin 'berpacaran' dengan AS. Tetapi dengan catatan selama belum ada ikatan pernikahan, Indonesia masih bebas berpacaran dengan pihak lain.
Hanya dengan metode seperti itu, kesunggguhan AS menjalin hubungan berkelanjutan, dijamin langgeng. Hanya dengan cara itu, AS bisa disadarkan bahwa di luar AS, tidak sedikit 'pacar' yang ingin menjalin hubungan baik dengan Indonesia.
Sebut saja dalam pengadaan pesawat tempur. Setelah jaminan suku-cadang F-16 tidak ada, Indonesia mencari alternatif baru dengan melirik pesawat tempur Rusia, Sukhoi.
Keputusan ini membuat AS akan berfikir seribu kali untuk memperlakukan Indonesia seperti negara kecil yang mudah dikendalikan. Sinyal untuk itu sudah terlihat. Menjelang kedatangan Obama, Menhan Robert Gates sudah bertemu dengan mitranya Menhan Purnomo Yusgiantoro.
Menurut Menhan RI, agenda hibah F-16 merupakan salah satu topik penting yang dibicarakan Presiden SBY dan Presiden Obama. Jika demikian, agaknya AS akan kembali merangkul militer Indonesia.
Sumber: INILAH
Subscribe to:
Posts (Atom)
BERITA POLULER
-
Rusia Jamin Indonesia Bebas Embargo Militer TEMPO.CO , Jakarta - Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Alexander A. Ivanov, menyatakan pem...
-
Rencana kedatangan alutsista TNI 2010-2014 dengan anggaran pembelian US$ 15 Milyar : Renstra TNI 2010-2014 memberikan nuansa pelangi terhad...
-
T-90S Rusia (Main Battle Tank Russia) Kavaleri Peroleh 178 Unit Kendaraan Tempur Kaveleri TNI Angkatan Darat (AD) akan mendapatkan tambah...
.jpg)


