Pages

Friday, October 2, 2020

5 Andalan Tank TNI

Pertahanan dan Keamanan merupakan efek deterance bagi suatu negara  agar tidak mudah di dikte oleh negara lainnya Mempunyai alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang mumpuni merupakan sebuah kebanggan sendiri bagi kalangan militer di sebuah negara. Semakin canggih alutsista, semakin menambah efek Deterance bagi negara tersebut. Indonesia sendiri memiliki beberapa alutsista yang dinilai mempunyai "daya Gebug" yang cukup hebat dan tak dipandang remeh oleh negara lain. Melalui alutsista tersebut, TNI mempunyai tugas untuk melindungi dan mengamankan kedaulatan negara dari musuh. Salah satunya adalah tank. Berikut sejumlah tank yang dimiliki Indonesia:

1. Main Battle Tank ( MBT) 


MBT Leopard TNI AD

MBT Kendaraan ini berasal dari Jerman yang dikembangkan oleh Krauss-Maffei pada tahun 1970-an. Awalnya digunakan dalam kedinasan tentara Jerman. Namun dalam perkembanganya, tank ini dikomersialkan dan dijual ke beberapa negara. Indonesia menggunakan tank jenis ini pada 2011 yang menggunakan beberapa tipe. Salah satunya adalah mode Revolution. Tank ini memiliki berat sekitar 60 ton dengan panjang 9,9 meter serta lebarnya 3,75 meter. Leopard memiliki tinggi 3 meter dan bisa digunakan untuk empat awak. Senjata utama dari tank ini adalah meriam Rheinmetall kaliber 120 mm L44 atau L55; berisi 42 peluru dan senjata pelengkapnya 2 x 7.62 mm MG3A1 berisi 4,750 peluru, atau FN MAG. Tank Leopard jika melintas di jalan raya lebih ringan ketimbang truk tronton. Dari penelitian tim Institut Teknologi Bandung, yang dikutip Valian, berat Leopard di jalan raya berkisar 8.908,0 newton per meter persegi. Adapun berat truk tronton di jalan raya mencapai lima kali lipatnya, yakni 44.285,71 newton per meter persegi. Tank ini mempunyai daya jelajah 550 kilometer dengan kecepatan maksimal 72 kilometer per jam.

"Tank Leopard tersebut akan menambah inventori Tank Leopard TNI AD yang kini berjumlah 103 unit, terdiri dari 61 MBT Leopard 2 Revolution, 42 MBT 2A4. Satu paket dengan MBT Leopard tersebut, TNI AD juga telah mendatangkan 42 kendaraan tempur infanteri Marder 1A3 upgrade, dan 11 armoured recovery and engineering vehicles diambil dari surplus stock Tentara Jerman."

2. Marder


Marder TNI AD

Kendaraan ini merupakan jenis tempur infanteri buatan Jerman yang mulai diproduksi sejak 1970-an sampai sekarang. Sebagai perancangnya adalah Rheinmetall AG yang merupakan perusahaan otomotif beserta industri pertahanan dari Jerman. Tank ini dikenal sebagai infantry fighting vehicle (IFV) yang memiliki kemampuan tak terbatas. Kapasitasnya adalah tiga awak dengan tujuh personel. Tank memiliki berat antara 28-37 ton (tergantung jenis) dengan panjang 6,79 meter dan lebar 3,24 meter. Sedangkan tingginya 2,98 meter yang mampu digunakan oleh beberapa awak di dalamnya. Senjata utamanya adalah meriam otomatis 20 mm. Kanon yang dipakai adalah dari jenis otomatis, artinya peluru tidak perlu di-reload (diisi) satu persatu. Peluru yang digunakan bisa dari berbagai jenis seperti amunisi konvensional, penembus baja serta high explosive (HE) atau amunisi berdaya ledak tinggi. Senapan mesin 7,62 mm MG3 sebagai senjata pelengkap serta dilengkapi dengan tujuh pelontar granat kaliber 76 mm untuk melontarkan granat asap. Untuk daya jelajahnya, tank Marder mampu berjalan 520 kilometer dengan kecepatan maksimum 75 kilometer per jam didukung mesin diesel MTU MB 833 Ea-500.

Spesifikasi Marder 1A3

Produsen : Rheinmetall Landsysteme, Jerman
Bobot : 35 ton
Bobot Tempur :33,5 ton
Panjang : 6,79 meter
Lebar : 3,24 meter
Tinggi : 2,98 meter
Personel : 3 awak tank dan 6 personel infanteri
Proteksi : Baja setebal 20 hingga 25 mm (Level 4+)
Senjata Utama : Meriam otomatis Rheinmetall MK 20 Rh 202 kaliber 20 mm, rudal anti tank MILAN
Senjata Tambahan : Senapan Mesin MG3 kaliber 7,62 mm
Mesin : Diesel MTU MB 833 Ea-500 600 hp (441 kW)
Rasio Tenaga Mesin dan Berat Kendaraan : 21,1 hp/ton
Transmisi : RENK HSWL 194 – 4 maju dan 2 mundur
Suspensi : Torsion bar
Ground Clearance : 0,45 m
Kapasitas Tangki BBM : 652 liter
Jarak Jangkau : 520 km
Kecepatan Maksimum : 65 km/jam


3 . Tank Amfibi Arisgator

Tank Amfibi Arisgator(tniad.mil.id)

Tank ini milik satuan TNI AD yang berguna untuk angkut pasukan amfibi. Arisgator adalah modifikasi yang ditawarkan sebuah perusahaan Italia bernama ARIS (Applicazioni Rielaborazioni Impianti Speciali).

Ide dasarnya adalah modifikasi dan pembenahan M113 pada sektor daya apung dan propulsi sehingga M113 dapat bersalin rupa menjadi kendaraan pendarat amfibi. Untuk mewujudkan hal tersebut, ada sejumlah kit modifikasi yang disiapkan, yaitu moncong tambahan pada M113 berbentuk haluan kapal yang berisi gabus dan karet khusus yang ringan. Dengan demikian, ini dapat meningkatkan daya apung, plus panel pembelah ombak yang dapat dibentangkan saat mengarung air.   Learn more Panel tambahan serupa yang ditempelkan di bagian belakang kendaraan yang sekaligus menjadi rumah bagi sistem waterjet. Kotak penambah daya apung serupa dapat dipergoki di sisi kiri-kanan Arisgator. Dilansir dari tniad.mil.id, knalpot dipanjangkan dengan menggunakan snorkel pada sisi kanan atap. Grille untuk lubang masuk udara mesin juga diberi penutup yang lebih tinggi dari kendaraan agar tidak kemasukan air pada saat mengarungi permukaan sungai dan laut. Arisgator hanya menyediakan sistem kubah dan dudukan dengan dinding penahan cipratan ombak, plus dudukan untuk senapan mesin M2HB atau pelontar granat 40mm Mk19 Mod 0. Arisgator bisa mengangkut 8 orang dengan kecepatan jelajah air 6,2 kilometer per jam. Memiliki panjang 7,2 meter dan lebarnya 2,9 meter. Untuk penggunaan di darat, Arisgator mampu dipacu hingga 60km/h dan menempuh jarak > 500 km. TNI AD telah mengakuisisi M113 Arisgator untuk melengkapi satuan Infateri Mekanis.


4. TANK BMP- 3F

BMP-3F TNI AL

BMP-3F Tank ini merupakan hasil kerja sama pihak Indonesia dengan Rusia. berjenis IFV (infantry fighting vehicle) yang dikhususkan untuk Korps Marinir TNI AL. Tank jenis ini memiliki komputerisasi balistik yang dengan sistem digital. Semula tank ini dilengkapi senapan tipe AK-47. Namun, di Indonesia telah disesuaikan dengan senapan serbu tipe SS-1 Pindad. Semua diubah agar sesuai dengan kondisi di Indonesia. Tameng tombak (anti-surge vane) memiliki ketebalan 10 mm dan sistem pemanas ruangan disesuaikan dengan iklim Indonesia. BMP-3F mampu beroperasi di laut selama tujuh jam dengan dilengkapi snorkel untuk menunjang amfibinya. Sisi meriam, dilengkapi kaliber 100 mm, dimana meriam ini dirancang untuk menembakkan peluru/roket non-kendali (shell). Meriam tersebut bisa menembak 250 meter per detik. Terdapat juga peluncur roket berkaliber 7,62 mm. Tank BMP 3F memiliki bobot 18,7 ton, panjang delapan meter, lebar 3,5 meter dan tingginya 2,5 meter. Kapasitasnya adalah tiga awak dengan tujuh personel.


5. Tank Scorpion


  Tank Scorpion TNI AD

Ini merupakan tank ringan buatan Inggris. Pada 1973, tank ini digunakan militer Inggris untuk menunjang pertahanan. Setelah saat itu, tank jenis ini mulai dikomersialkan ke berbagai negara. Tank ini dikendalikan oleh tiga awak. Panjangnya 4,9 meter dan lebarnya 2,2 meter. Tingginya 2,1 meter dan beratnya 8 ton. Scorpion dilindungi oleh ketebalan bajanya 12,7 mm dengan senjata utama meriam 76 mm L23A1. Menggunakan mesin diesel Cummins BTA 5.9 memiliki kecepatan maksimal 80 kilometer per jam dengan daya jelajah 644 kilometer.

by : INDONESIA DEFENCE

Sumber : Berbagai Sumber

Wednesday, September 30, 2020

ANGGARAN ALUTSISTA 2021


 

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pertahanan ( Kemenhan) mendapatkan pagu anggaran tahun 2021 dari pemerintah sebesar Rp 136,995 triliun. Pagu anggaran Kemenhan tersebut naik dibandingkan tahun 2020 yang ditetapkan sebesar Rp 117,909 triliun. Dikutip Buku III Himpunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA/KL) Tahun Anggaran 2021 dari Kementerian Keuangan, Sabtu (22/8/2020), pagu anggaran Kemenhan tersebut digunakan salah satunya untuk pengadaan dan peremajaan alat utama sistem persenjataan ( alutsista) TNI. Di tahun 2021, Kemenhan juga akan melanjutkan kegiatan prioritas dan strategis dalam rangka mendukung terwujudnya pemenuhan Minimum Essential Force (MEF) untuk menjamin tegaknya kedaulatan, terjaganya keutuhan wilayah NKRI. Beberapa output terkait pengadaan, modernisasi, serta perawatan dan pemeliharaan (harwat) persenjataan TNI yang akan dicapai Kemenhan di tahun anggaran 2021 antara lain: Baca juga: Mengenal 11 Tunjangan di Luar Gaji Pokok yang Diterima Anggota TNI TNI AD sebesar Rp 2,651 triliun untuk pengadaan material dan alutsita strategis, dan untuk perawatan alutsista Arhanud, overhaul pesawat terbang, dan heli angkut sebesar Rp 1,236 triliun TNI AL sebesar Rp 3,751 triliun antara lain pengadaan kapal patroli cepat, dan peningkatan pesawat udara matra laut, serta Rp 4,281 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan alutsista dan komponen pendukung alutsista. TNI AU sebesar Rp 1,193 triliun antara lain pengadaan Penangkal Serangan Udara (PSU) dan material pendukung, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat tempur sebesar Rp 7,004 triliun. Dalam perencanaan anggaran tahun 2021, output lain yang direncanakan kementerian yang dipimpin Menhan Prabowo Subianto ini yakni dukungan pengadaan alutsista sebesar Rp 9,305 triliun. Lalu pembangunan Jalan Inspeksi Pengamanan Perbatasan (JIPP) sepanjang 375 km sebesar Rp 321 miliar. Baca juga: Besaran Gaji TNI Plus Tunjangannya, dari Tamtama hingga Jenderal Dari pagu anggaran yang akan didapatkan Kemenhan pada tahun depan tersebut, belanja akan diprioritaskan untuk mendukung stimulus ekonomi, kontrak multiyears, carry over dari kegiatan tahun 2020, biaya operasional, dan dukungan operasional pertahanan. Tukin TNI naik 80 persen Salah satu prioritas yakni menaikkan kesejahteraan prajurit TNI dengan meningkatkan tunjangan kinerja atau tukin sebesar 80 persen di tahun 2021.  "Pagu anggaran tersebut telah memperhitungkan antara lain alokasi untuk belanja pegawai karena ada rencana kenaikan tunjangan kinerja sebesar 80 persen sesuai janji Presiden RI (Joko Widodo) saat pidato di acara HUT TNI ke-74," bunyi Buku III Himpunan RKA/KL Tahun Anggaran 2021.   Selain untuk kenaikan tukin prajurit TNI, alokasi lain yakni belanja barang karena kenaikan anggaran untuk pemenuhan pemeliharaan dan perawatan alutsista kesiapan sampai dengan 70 persen dan pemenuhan kebutuhan BMP sebesar Rp 6,112 triliun. Baca juga: Tunjangan Kinerja TNI Naik 80 Persen di 2021 Lalu penyelesaian pekerjaan yang ditunda tahun anggaran 2020 dan dialokasikan di tahun anggaran 2021 sebesar Rp 11,132 triliun. Anggaran Kesehatan sebesar Rp 2,941 triliun yang digunakan untuk pelayanan rumkit militer, yang bersumber dari RM, PNBP dan BLU sebesar Rp 1,870 triliun serta rencana upgrade peralatan kesehatan melalui pinjaman luar negeri sebesar Rp 1,071 triliun. Kesejahteraan prajurit TNI juga ditingkatkan dengan pembangunan rumah dinas prajurit sebesar Rp 964,5 miliar yang berasal dari sumber dana utang negara prinsip syariah atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).  Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pernah meminta Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bijak dan efisien dalam mengelola anggaran kementerian yang dipimpinnya. Baca juga: Ada Anggaran Rp 4,5 Triliun untuk Alutsista pada RAPBN 2018 Pasalnya, Kemenhan diberi porsi anggaran paling besar dibanding instansi lainnya yakni sebesar Rp 127 triliun pada 2020. “Kemenhan anggarannya berasal dari rupiah murni yang diambil dari pajak, pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri," ujar Sri Mulyani. "Banyak peralatan militer kita dibeli dari luar negeri. Pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) membutuhkan proses yang panjang,” sambungnya. Wanita yang akrab disapa Ani itu menilai Menhan dan Panglima TNI harus duduk bersama agar belanja alutsista dapat lebih efisien dan memberikan kepastian.

sumber : KOMPAS

Tuesday, October 17, 2017

Perkembangan IFX saat ini



Ada kabar kemajuan mengenai proyek pesawat tempur generasi 4.5 KFX/IFX yang merupakan proyek bersama antara Korea Selatan dan Indonesia, tetapi sebagian di antaranya agak tidak mengenakkan, berdasarkan wawancara media Flight Global terhadap seorang ofisial dari Korea Aerospace Industries.

Ofisial dari perusahaan KAI buka-bukaan dalam pameran Seoul ADEX 2017, dimana desain final dari KFX sendiri diberitakan akan selesai pada bulan Juni 2018, kemudian dilanjutkan dengan fase EMD (Engineering and Manufacturing Design) yang mendetail.

Setelah fase EMD, diharapkan uji terbang perdana bisa dilakukan pada 2022, kemudian dilanjutkan dengan pengujian, integrasi sistem, dan evaluasi yang diperkirakan butuh waktu empat tahun sendiri. KFX sendiri juga akan disiapkan dalam konfigurasi tempat duduk ganda, sesuatu yang tidak pernah muncul sebelumnya dalam maket-maket pemasaran Korean Aerospace Industries.

Indonesia sendiri, yang membayar 20% biaya pengembangan, sudah berhasil memperoleh ijin ekspor untuk komponen-komponen buatan Amerika Serikat yang nantinya akan terpasang pada versi IFX, dimana saat ini IFX Design Center di Bandung tengah berkutat dengan model IFX yang akan dikembangkan, dan rencananya akan dibeli sebanyak 80 unit tersebut.

Namun, akan ada perbedaan antara KFX dan IFX. IFX sendiri akan mengambil desain KFX Block I, yang akan dikirimkan tanpa lapisan peredam gelombang radar. Belum diketahui apakah Indonesia akan mengembangkan sendiri lapisan RAM (Radar Absorbment Material), yang jelas Korea Selatan tidak akan memberikannya. Pun untuk sistem senjata internal (weapon bay) tidak akan dimasukkan dalam pengembangan Block I.

Hanya KFX yang merupakan desain KFX Block II yang akan dilengkapi dengan weapon bay dan dilapisi lapisan anti radar. Dengan perbedaan spek ini, ada kemungkinan bahwa varian KFX akan memiliki MTOW (Maximal Take Off Weight) yang lebih besar dari IFX karena harus membawa persenjataan yang lebih banyak. Akankah dimensinya juga lebih besar?

Yang jelas, baik KFX maupun IFX sama-sama akan ditenagai oleh mesin General Electric F414. Sebagian besar avionik mulai dari radar AESA, sistem IRST (Infra Red Scan and Track), panel di kokpit, dan sebagian besar LRU (Line Replaceable Unit) akan dikembangkan secara mandiri oleh perusahaan-perusahaan Korea Selatan.

Problem utama adalah masalah senjata, akan tetapi KAI berusaha mengurangi ketergantungan terhadap senjata lansiran AS dengan membuat KFX/IFX kompatibel dengan senjata buatan Eropa seperti MBDA Meteor untuk rudal jarak menengah dan rudal jelajah Taurus KEPD 350. Mengingat kedekatan Indonesia dengan Negara-negara Eropa, seharusnya tidak ada masalah dalam akuisisi senjata untuk IFX nantinya.

Yang jelas, saat ini memang masih terlalu dini untuk berspekulasi bahwa IFX benar-benar akan dibangun dengan spesifikasi yang lebih rendah dari KFX, apalagi wawancara Flightglobal tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pengumuman resmi. Tetapi ini merupakan suatu peringatan dini, dimana Indonesia harus menjaga betul proses pengembangan IFX dengan lebih ketat lagi. (Aryo Nugroho)

Sumber :https://c.uctalks.ucweb.com

Tuesday, October 3, 2017

Helikopter AH-64E Apache Guardian Meriahkan HUT TNI ke-72



Dinas Penerbangan TNI AD akan ketambahan kekuatan apabila delapan unit AH-64E Apache Guardian Block III yang dibeli dengan kontrak senilai US$ 1,1 Milyar, menjadikan TNI AD sebagai salah satu pengguna heli serang paling canggih di dunia ini. Kemunculan AH-64E dalam kelir kamuflase dua warna Penerbad yang ditengarai sebagai fase pengujian heli pesanan TNI AD tersebut pun juga sudah bersliweran di dunia maya.
Nah, di Cilegon kemarin penulis memergoki kemunculan setidaknya dua AH-64 Apache yang terbang beriringan dengan Bell 412EP dan Mi-35 milik Penerbad. Apalagi tampilannya juga sangar, dilengkapi tabung roket Hydra 70mm dan rudal AGM-114 Hellfire training terpasang di rak peluncurnya. Sekilas bangga juga melihat Apache tersebut sudah terbang, namun kemudian tak lama malah timbul pertanyaan di benak penulis, seperti ada keanehan pada Apache tersebut.
Kok Apachenya berwarna hijau zaitun ya, khas Apache milik US Army Aviation atau Dinas Penerbangan AD AS? Lalu di sponson avionik di sebelah kanan tertera emblem atau logo pedang bersilang, khas kavaleri udara AD AS? Buka-buka sedikit literatur, akhirnya rasa penasaran penulis pun terjawab sudah.
AH-64 Apache yang terbang dalam gladi parade HUT TNI ke-72 tersebut memang milik US Army, yaitu dari unit 25th Combat Aviation Brigade (CAB) yang berpangkalan di Wheeler Army Airfield, Hawaii. 25th CAB baru mengoperasikan heli Apache selama setahun, setelah sebelumnya menggunakan heli intai Kiowa Warrior. Insignia pedang bersilang di sponson kanan tersebut adalah milik Skadron ke-2, Resimen Kavaleri ke-6 dari 25th CAB yang menginduk ke 25th Infantry Division.
Total kekuatan dari 25th CAB adalah 24 helikopter AH-64E Guardian, jenis yang sama dengan yang dibeli Indonesia dan skadron ke-2 bahkan baru dinyatakan operasional secara penuh pada bulan Juni 2017. Mengenai bagaimana heli serang sekelas AH-64 Apache bisa ‘nyasar’ sampai ke Indonesia, jangan buru-buru curiga dulu.
Hubungan erat TNI AD dan US Army terwujud dalam latihan tahunan Garuda Shield 11/2017, dimana AD AS memang memboyong sejumlah helikopternya ke Indonesia termasuk UH-60 Blackhawk Medevac dan AH-64 Apache. Kalau pembaca masih ingat, heli Apache dan Blackhawk yang terbang beriringan membelah langit Jakarta sempat membuat kehebohan yang viral di awal bulan September lalu.
Ajang latihan Garuda Shield 11/2017 tersebut dimanfaatkan pula oleh pilot-pilot Penerbad untuk berlatih beroperasi dengan dan menggunakan AH-64 Apache yang akan diterima paling cepat tahun 2018. Nah, karena latihannya sendiri sudah dinyatakan ditutup pada 30 September, boleh dong helikopter Apachenya dipinjam untuk memeriahkan parade HUT TNI yang ke-72? Toh TNI memang sudah membeli helikopter Apache tersebut. (Aryo Nugroho)

Monday, October 2, 2017

Tampilan Pandur II 8×8 dengan Kanon RCWS Ares UT30MK2



Diantara ratusan alutsista TNI yang kini telah terparkir di kawasan Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, sudah terlihat sosok ranpur Pandur II 8×8 jenis IFV (Infantry Fighting Vehicle) yang dilengkapi kanon RCWS Ares UT30MK2 kaliber 30 mm. Kemunculan ini menjadi babak terbaru dari serial panser Pandur II 8×8 di Indonesia, setelah sebelumnya telah diperlihatkan Pandur II 8×8 FSV (Fire Support Vehicle) yang dilengkapi meriam Cockerill CT-CV 105 mm dan Pandur II 8×8 APC dengan SMB (Senapan Mesin Berat) kaliber 12,7 mm.

Formasi ketiga jenis panser Pandur kini telah siap untuk mengikuti parade dan defile HUT TNI Ke-72 pada 5 Oktober 2017. Bahkan Pandur II 8×8 APC secara khusus akan menampilkan atraksi berenang di laut dalam skema operasi amfibi. Sebaliknya Pandur II 8×8 yang kini dipasangi kubah kanon Ares 30 mm tidak mempunyai kapabilitas amfibi. Namun sumber penulis menyebut bahwa versi Pandur Ares 30 mm yang nantinya akan digunakan Batalyon Infanteri Mekanis TNI AD adalah varian dengan kemampuan amfibi.
Seperti apa kebisaaan dari RCWS UT30MK2? Dikutip dari factsheet yang dirilis pihak manufaktur, UT30MK2 sudah mengusung fully integrated Battlefield Management System (BMS) desain kubah modular, sehingga UT30MK2 dapat dipasangkan beragam sistem senjata dan perangkat elektro optik tambahan.
Bicara fire power, UTMK30MK2 buatan Ares Aeroespacial and Defense, manufaktur persenjataan dari Brasil, mengusung basis kanon Orbital ATK Mk 44 Bushmaster ABM (Air Burst Munition) kaliber 30 mm sebagai senjata utama, sementara disisi laras 30 mm terdapat senapan mesin 7,62 coaxial. Jika kocek user cukup, sudah tersedia modul untuk dipasangi ATGM (Anti-Tank Guided Missiles). Sebagai kanon RCWS modern, di sistem kubah sudah disematkan Laser Warning System (LWS) and optional Smoke Grenade Launcher System (SGL).
Dengan teknologi dual-axis stabilized, UT30MK2 dirancang mampu melakukan tembakkan secara efektif dalam kondisi kendaraan sedang melaju. Dan yang lebih unik, desain kubah dapat di setting tanpa awak (unmanned) ke dengan awak (manned), begitu pun sebaliknya, disesuaikan dengan kebutuhan operasi, dimana kesemua subsistem disebut-sebut saling identik.
Desain modular tak melulu pada penambahan perangkat penjejak dan senjata, namun lapisan pelindung pada kubah juga dapat ditambahkan dengan model Modular ballistic protection (STANAG 4569 Level 2, 3,4 or 6), sudah barang tentu level STANAG yang digunakan akan berimbas kepada bobot kubah itu sendiri. (Haryo Adjie)

Pengadaan Rudal NASAMS (Norwegian Advanced Surface to Air Missile) oleh TNI AU


Puasa panjang TNI akan sistem pertahanan udara jarak menengah nampaknya akan segera berakhir. Setelah spekulasi yang bersliweran mengenai rencana pembelian rudal NASAMS (Norwegian Advanced Surface to Air Missile) oleh TNI AU, penulis sudah memperoleh kepastian bahwa Kementerian Pertahanan sudah menandatangani kontrak pembelian rudal NASAMS pada bulan Juni 2017.
Kehadiran NASAMS yang membangkitkan kenangan lama akan kegarangan AURI dengan rudal SA-2 Guideline pada masa Orde Lama melengkapi sistem senjata hanud yang dimiliki TNI AU mulai dari sistem pertahanan udara titik Oerlikon Skyshield 35mm buatan Rheinmetall Jerman, rudal panggul jarak dekat QW-1 dan QW-2 dari China serta Chiron dari Korea Selatan, dan tentu saja kemudian NASAMS.
Dari peruntukannya, NASAMS akan digelar untuk pertahanan ibukota negara, yang selama ini memang hanya dijaga dengan meriam-meriam arhanud yang tentu saja sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman lawan seperti jet tempur atau pesawat pembom yang memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan dari jarak jauh (standoff). Untuk membiayai pembelian NASAMS ini, Indonesia mendapatkan fasilitas kredit dari Bank Exim Norwegia senilai lebih dari USD 100 juta.

NASAMS sendiri diprakarsai oleh Norwegia untuk mendobrak stigma bahwa menggelar sistem rudal anti pesawat alias SAM harus menyiapkan dana yang mahal. Maklum saja, rudal anti pesawat generasi 1980an memang besar, terdiri dari kendaraan peluncur, kendaraan radar, kendaraan pengendali, kendaraan catu daya, dan seterusnya.
Menyadari hal ini, Norwegia mendesain NASAMS dengan jejak (footprint) seminimal mungkin. Awalnya adalah kontraktor Norsk Forsvarsteknologi dan Hughes Aircraft yang membentuk satu joint venture untuk AU Norwegia, yang diberi nama NASAMS. Target operasionalnya adalah tahun 1992, walau kemudian molor sampai operasional pada 1994.
Sistemnya memang tetap didesain terpisah antara kendaraan peluncur, kendaraan posko / FDC (Fire Distribution Center) dan sistem radar AN/TPQ-36. Yang berbeda, konsep NASAMS dibuat modular dan seefisien mungkin. Sebagai contoh, untuk kendaraan peluncur, kotak peluncur LCHR didesain untuk dapat diangkut oleh truk standar kelas lima ton yang dilengkapi dengan dongkrak khusus untuk menurunkan dan menaikkan LCHR ke dan dari flatbed truk.

LCHR sendiri terdiri dari enam kotak dengan tiap kotak terdiri dari rel peluncur yang terlindung dari elemen cuaca. Satu kotak LCHR sendiri dapat dinaikkan ke atas palet standar dan dimasukkan ke dalam C-130H Hercules untuk digelar ke titik-titik jauh sesuai dengan keinginan pengguna. Artinya, TNI AU sendiri sanggup menggelar NASAMS kemanapun dibutuhkan.
Untuk urusan rudalnya sendiri, Norwegia awalnya menggunakan solusi COTS (Commercial Off The Shelf) alias menggunakan rudal yang sudah ada di pasaran. Pendekatan ini dirasa akan lebih mudah, murah, dan waktu pengembangannya tentu saja menjadi sangat singkat. Bahkan pada saat dibuat pertama, NASAMS memanfaatkan pylon rudal standar pesawat tempur yang dibalik.
Kongsberg sebagai pengembang rudal memilih AIM-120C AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile). AMRAAM yang sejatinya merupakan rudal udara-udara ternyata sudah ditanamkan chip dual mode oleh Raytheon selaku pembuat: mode udara-udara atau darat-udara. Sebagai rudal dengan kemampuan ganda, AMRAAM yang sudah memperoleh cap battle proven dapat berfungsi dengan baik ketika ditunjuk sebagai rudal SAM. Jarak efektif untuk AMRAAM dalam NASAMS adalah 15-20 kilometer, tergantung kondisi di mana rudal itu beroperasi.

Keistimewaan NASAMS selanjutnya adalah fleksibilitasnya; tidak ada sistem SAM yang dapat menggunakan rudal yang berbeda-beda tanpa perlu banyak penyesuaian kecuali NASAMS. Apabila pada awalnya hanya AIM-120C-3/5/7 yang disertifikasi untuk dapat diluncurkan dari NASAMS, rudal pencari panas jarak pendek generasi baru AIM-9X Sidewinder dijadikan salah satu pemukul, yang tentu saja mengandalkan IR seeker tanpa radar sama sekali sebagai penjaga garis akhir.
Dengan dimensi yang lebih besar dibandingkan FIM-92 Stinger, tentu saja AIM-9X lebih punya kans untuk merontokkan sasaran yang lebih besar. Yang terpenting, AIM-9X yang menggunakan seeker IR aktif aman dioperasikan di lingkungan dimana pesawat SEAD (Supression of Enemy Air Defence) beroperasi, yang mengancam situs radar kawan, dan tak mempan gangguan jamming radar oleh lawan. Dengan TNI AU sudah memiliki dua jenis rudal tersebut dari Amerika Serikat, artinya tidak akan ada masalah untuk penggelarannya sebagai perisai ibukota. (Aryo Nugroho)