Subscribe Twitter

Pages

INDONESIA DEFENCE adalah blog Berita,ulasan, artikel Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Perkembangan Alutsista terkini, serta perkembangan POLITIK DALAM DAN LUAR NEGERI.

BERITA TERKINI DI INDONESIA DEFENCE

Saturday, December 26, 2015

Kapal Selam Kilo Class Baru dan Pesawat Su-35 Dipastikan akan Dibeli Indonesia



Kemungkinan besar yang akan dibeli adalah kapal selam Project 636 Improved Kilo sebanyak 3 buah (photo : sluzhuotechestvu)

Menhan Pastikan Indonesia Akan Beli Kapal Selam Baru

[JAKARTA] Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memastikan Indonesia akan segera membeli kapal selam baru atas perintah Presiden RI Joko Widodo. Kapal selam dimaksud jenis Kilo Class yang kabarnya tak lagi diproduksi.

"Perintah presiden beli baru. Daripada beli sepuluh unit yang second hand, lebih baik beli lima unit yang baru," kata Ryamizard usai rapat tertutup dengan Komisi I DPR RI, Senin (21/9).

Dia memastikan bahwa kapal selam dari Rusia sudah dipertimbangkan dengan matang, termasuk soal perawatannya.

"Kalau kapal selam Rusia itu paling lama nyelemnya dan paling dalam. Dan bisa menembak dari laut," imbuh Ryamizard.

Sementara untuk pesawat tempur, dikatakan Ryamizard pihaknya berencana mengadakan sekitar separuh dari jumlah satu skuadron pesawat yang jumlahnya 16 unit.

Dia menyatakan salah satunya adalah demi mengganti Pesawat Tempur F-5 Tiger yang sudah tua dan 'menakutkan' untuk diterbangkan lagi.

Ketika ditanya, bukankah aanggarannya tidak disetujui Bappenas RI, Menhan Ryamizard menjawab, "Presiden sudah perintah." (Suara Pembaruan)

Sebanyak 8 unit pesawat Su-35 akan dibeli dahulu selanjutnya akan disusul 8 unit lagi untuk menggenapi satu skuadron (photo : sputniknews)

Menhan segera temui wakil Rusia untuk beli Sukhoi Su-35

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pertahanan Ryamizad Ryacudu menyatakan akan segera bertemu dengan perwakilan Rusia guna membahas pembelian Sukhoi Su-35 akhir September 2015.

"Sejauh ini belum (bertemu perwakilan Rusia), rencananya akhir bulan ini," katanya di Jakarta, Senin.

Dia mengaku telah menerima intruksi langsung Presiden Joko Widodo untuk membeli Sukhoi Su-35 karena TNI AU masih menggunakan F-5 Tiger yang sudah berusia 40 tahun.

"Ini untuk mengganti F-5 yang usianya sudah 40 tahun, (pilot) lihat terbang saja takut," kata dia.

Dia menjelaskan, pembelian Sukhoi Su-35 akan bertahap, sedangkan yang akan dibeli adalah setengah skuadron. "Itu sudah diproses pemerintah dan instruksi presiden," kata Ryamizad.

Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan F-5 sudah tidak digunakan beberapa negara, bahkan Taiwan sejak dua tahun lalu tidak menggunakannya.

Dia juga menilai skuadron F-5 milik Indonesia sudah waktunya diganti. "Namun Panglima TNI ingin mengganti skuadron F-5 jangan tanggung," ujarnya.

Politikus PKS itu mengatakan Indonesia harus melakukan lompatan dalam modernisasi Alutsista dengan memiliki efek tangkal di kawasan, seperti Sukhoi Su-35.  (Antara)

TNI AU Kekeh Beli SU 35 BM

TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIAPemerintah Indonesia akhirnya memutuskan membeli satu skuadron/16 pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi Su-35 kompliet dengan persenjataannya. Pesawat tempur generasi kelima itu akan menggantikan pesawat F-5 yang dinilai sudah tidak layak terbang.
Indonesia akan menjadi negara kedua setelah Rusia yang akan mengoperasikan pesawat berjuluk Flying Tank Fighter. Dengan memiliki jet tempur generasi 5 di Arsenal, TNI akan menjadi yang paling kuat di udara ASEAN.
Singapura dan Australia sudah mengantisipasi kedatangan Su35 dengan memesan F35.
Tapi Su35 memiliki keunggulan manuver dan daya radar yang lebih jauh, sehingga memungkinkan untuk melihat lebih dulu keberadaan F35 sebelum pesawat tersebut melihat Su35.
Salah satu poin terpenting adalah adanya kesepakatan ToT dari Rusia, yang memberi kemungkinan pada PT.DI untuk mengembangkan IFX bila kerjasama dengan korea selatan tiba-tiba diputus, mengingat parlemen korsel masih mempertanyakan program tersebut.
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA2
Dirayu AS, TNI AU tak akan berpaling dari Sukhoi Su-35
Jumat, 9 Oktober 2015 12:46
Beberapa hari lalu, produsen pesawat terbang asal Amerika Serikat, Lockheed Martin secara khusus datang ke Indonesia untuk memamerkan jet tempur F-16 varian terbaru. Tanpa sungkan, mereka berharap Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara berpaling dari Sukhoi dan membeli F-16 Viper.
Meski demikian, TNI Angkatan Udara menyatakan tak akan menghentikan rencana pembelian pesawat Su-35 dari pabrikan Rusia, Sukhoi. TNI AU beralasan, jet tempur Su-29 dan Su-30 yang sudah dimiliki adalah faktor yang membuat mereka tak mau berpaling ke produk lainnya.
“Enggak, plan (rencana) sudah Sukhoi. Mungkin alasannya apa, banyak alasan. Tapi yang pertama adalah kesinambungan dalam pemeliharaan. Sebelumnya sudah ada Su-29/30 jadi dengan punya Su-35 kan sistem berlanjut,” papar Kadispenau Marsekal Pertama Dwi Badarmanto saat dihubungi merdeka.com, Jumat (9/10).
Menurutnya, Sukhoi memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan jet tempur buatan negara-negara lainnya. Salah satunya adalah sistem persenjataan yang terpasang pada Sukhoi.
“Pada Sukhoi, sistem senjata lebih comfort (nyaman), lebih baik dibandingkan dengan yang lain. Jadi, kami lebih memilih Sukhoi,” tegas dia.
Di sisi lain, TNI AU pembelian Su-35 tersebut membuat perawatan terhadap jet tempur lainnya relatif lebih mudah. Sebab, pengadaan suku cadang dan cara merawatnya dinilainya tidak jauh berbeda.
“Tapi kalau kebijakan pemerintah lain (melirik F-16, red) kami enggak tahu, tapi TNI AU sebagai pengguna tetap pilih Sukhoi 35,” tutupnya.
Spesifikasi Sukhoi Terbaru, Su-35s yang Sedang Ditawarkan Rusia Pada TNI
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA3
specification of sukhoi su-35Technical Spec of Sukhoi Su-35s
Kedigdayaan Su 27 Flanker akhirnya disempurnakan melalui kehadiran varian generasi 4++ nya, Sukhoi SU-35S yang mendapat julukan Super Flanker. Su-35S ini baru saja memasuki masa operasional di Angkatan Udara Rusia namun beberapa Negara sahabat Rusia sudah kepincut untuk segera memilikinya juga.
SU-35S bisa dikatakan sebagai Jet Tempur Rusia paling canggih yang sudah Full Operasional, kemunculannya seolah mengisi kekosongan sekaligus penjembatan utama menuju generasi ke 5 yang masih dalam tahap uji coba yakni Sukhoi T-50 PAKFA (Perspektivny Aviatsionny Kompleks Frontovoy Aviatsii/Prospective Airborne Complex of Frontline Aviation).
Di Masa mendatang Sukhoi SU-35S bersama T50 PAKFA bisa menjadi tandem yang menggetarkan kekuatan udara lawan, T50 sendiri direncanakan memasuki masa dinas pada tahun 2016 nanti. Karena merupakan pesawat generasi 4++ tentu saja kemampuam SU-35S secara teknikal berada diatas pesawat generasi 4 seperti Rafale, F18, F16, Eurofighter Tyyphon, Grippen NG, dll
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA4sukhoi radar su35_01Kemampuan radar su-35s
Super Flanker juga memiliki keistimewaan lain yakni SU-35S tak mudah untuk di endus radar lawan, meski SU-35S bukan pesawat siluman atau stealth seutuhnya layaknya generasi ke 5 seperti F22 Raptor atau F35 Lightning II. Jangkauan radar milik Super Flanker yang 2 lebih jauh ketimbang pesawat2 generasi 4 atau 4+ memungkinkan SU-35S melakukan aksi First Look-First Shoot-First Kill ,sebelum pilot lawan melihat super flanker, pilot SU-35S bisa lebih dulu menjatuhkan pesawat lawan tersebut.
Di sector mesin milik Su-35S jauh lebih bertenaga, mesin ganda 117S sangat superior dan irit setrum ketimbang Jet tempur lain, F16 misalnya. Berkat mesin yang dirancang NPO Saturn Research and Production Association, Daya Jelajah Super Flanker menjadi luar biasa jauh, bisa jadi menjadi yang terbesar dikelasnya. Sistem Avionik dan persenjataannya pun sudah ditanam dengan teknologi terkini, dibagian cockpit termpang 2 layar besar sebagai HUD utama layaknya generasi 5 SukhoiT50 PAKFA.
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA5sukhoi su-35cockpit-1
Spesifikasi Sukhoi SU-35S Super Flanker :
Awak : 1-2 Orang
Berat Maks. lepas landas : 34.500 Kg
Kecepatan Maksimum : mach 2,25
Daya Jelajah : 3.600 km
Ketinggian Maksimum : 18 Ribu Meter
Perancang : Tim Desain Sukhoi berdasarkan SU-27
Terbang Perdana : 1988
Produksi Perdana : 1995 (proses produksi kemudian dibekukan pada 1990-an akhir)
Pengembangan : Modernisasi SU-35 menjadi SU-35S ,diproduksi ulang pada 2006
Terbang Perdana SU-35S : 2008
Operator : AU Rusia telah memesan 48 unit hingga 2015
Muatan : Hingga 8 Ton
Senjata : Kanon Internal 30 mm, Misil Udara ke Udara (AAM), Udara ke Permukaan (SAM).
Keunggulan SU-35S :
•Pesawat Multiperan dengan kemampuan maneuver tinggi
•Memiliki Sistem Avionik dan Elektronik paling canggih
•Jangkauan Radar lebih jauh dengan pengenalan multitarget
•Mesin Ganda 117S dengan system Vectoring
•Sulit Diendus Radar (Semi Stealth)
•Mampu menembakkan rudal secara rearward-firing (menembak ke belakang)
Kelemahan SU-35S :
•Harga beli dan biaya Operasional yang tidak murah
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA6.0 TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA6
dua ilustrasi manuver mematikan Su-35s
Implikasi kepemilikan SU-35S bagi Indonesia (TNI AU)
Kemunculan sukhoi SU-35S kemungkinan memang telah mendapat perhatian dari Kementrian Pertahanan dan Angkatan Udara, di masa mendatang pembelian SU-35S bakal menjadi sebuah counter-attack bagi 2 negara tetangga Singapura dan Australia yang akan membeli jet tempur generasi ke 5 F35 Lightning II.
Jika salah satu Negara Asia Tenggara berhasil memiliki Super Flanker akan terjadi efek ketidakseimbangan kekuatan udara yang akan makin memanaskan gejolak perlombaan senjata dikawasan (Arm Race). Katakanlah TNI AU sekarang berminat membeli 1 skuadron Su-35S, berita ini otomatis segera menyebar dan menjadi buah bibir bagi kalangan militer di kawasan, terutama Negara tetangga Indonesia, Malaysia-Singapura-Australia.
Berita pembelian Su 35S TNI AU bisa jadi efek deterens bagi ketiga Negara tetangga ini sehingga memaksa para petinggi militernya melakukan analisis dan kajian tentang kemampuan TNI AU dengan adanya SU-35S dalam arsenal persenjataanya.
SU-35s saat ini menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan F5, dengan dana melimpah dari penghapusan subsidi BBM dan pihak Rusia yang sudah memberi lampu hijau oke, hanya masalah ToT saja yang belum disepakati.
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA7
Varian Su-35 :
•Su-35
Pesawat tempur dengan satu tempat duduk.
•Su-35UB
Pesawat tempur dan pesawat latih dengan dua tempat duduk. Berfiturkan penstabil vertikal yang lebih tinggi dan sebuah fuselage tambahan yang sama dengan Sukhoi Su-30.
•Su-35BM
Pesawat tempur bertempat duduk tunggal dengan avionik yang diperbarui dan aneka modifikasi badan pesawat. Su-35BM adalah nama tak-resmi.
•Su-35S
Su-35BM versi domestik Rusia.
•Su-35K
Su-35BM versi ekspor.
Rusia sorot pembelian SU-35, Indonesia bukan tandingan AU Australia
Minggu, 11 Oktober 2015 08:34
Upaya perusahaan penerbangan asal Amerika Serikat (AS), Lockheed Martin jauh-jauh datang ke tanah air untuk merayu pemerintah Indonesia membeli varian terbaru F-16 sirna sudah. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyatakan menolak dan tetap melanjutkan rencana pembelian Sukhoi Su-35 dari Rusia.
Padahal, Lockheed Martin menawarkan serangkaian keunggulan dan sangat menggiurkan. Mulai dari negara pertama yang mengoperasikan F-16 Viper, hingga biaya operasional terjangkau serta penggunaan teknologi terkini.
Meski tawaran menarik tersebut tak membuat TNI AU bergeming dari rencana semula. Korps dengan semboyan ‘Swa Bhuwana Paksa’ tetap menjalankan rencana awal, yakni membeli Sukhoi Su-35 buatan Rusia untuk menggantikan F-5 Tiger II yang mulai termakan usia.
Sikap Indonesia itu menarik perhatian media-media di Rusia. Mereka sampai mengulas alasan Indonesia yang memilih merapat ke Blok Timur dari pada kembali ke pelukan AS dan sekutunya.
Terpilihnya Su-35 sebagai armada pengganti F-5 Tiger II ini langsung menjadi pusat perhatian. Bahkan, Rusia sampai menganalisa sejumlah alasan yang membuat TNI AU memilih merapat ke Rusia dibandingkan kembali melirik jet tempur buatan AS.
Sejak 2013, lima jet tempur Su-27 dan 11 Su-30 telah memperkuat TNI AU, upaya untuk mendatangkannya dimulai sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, di saat bersamaan, Indonesia juga masih mengoperasikan 12 pesawat F-16 Fighting Falcon yang dibeli pada 1990-an.
“Indonesia melirik pesawat Rusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sebab, 12 F-16A/B dan 16 F-5E/F tak bisa dirawat akibat aksi embargo AS,” tulis majalah Rusia, Russia Beyond The Headlines (RBTH).
Embargo ini dilakukan atas desakan Australia akibat bentrokan di Timor Timur pascajajak pendapat yang akhirnya melepas provinsi tersebut menjadi negara yang merdeka. Pemerintah AS mengamini permintaan tersebut dan menuding Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM.
Untuk mengatasi embargo itu, Indonesia mendekat ke Rusia dan menandatangani kontrak kerja sama sebesar USD 192 juta lewat Rosoboronexport. Rencana pembelian makin dikuatkan lewat penandatangan perjanjian senilai USD 300 juta empat tahun setelahnya.
Di tahun yang sama, hubungan Jakarta dan Washington mulai membaik. Namun, kondisi ini tak membuat Indonesia mengalihkan perhatiannya untuk kembali mendatangkan jet tempur buatan AS.
“Tentunya itu bukan merefleksikan orientasi politik Indonesia. Pembelian itu benar-benar terjadi karena Indonesia tertarik dengan pesawat Sukhoi,” ujar seorang pengamat hubungan internasional Martin Sieff.
Keuntungan lainnya, komponen yang dimiliki Su-35 juga bisa digunakan varian sebelumnya, yakni Su-27 dan Su-30 yang sudah dimiliki Indonesia sebelumnya. Apalagi secara performa, pesawat tersebut dapat bersaing ketat dengan F-22A Raptor buatan AS.
“Dengan kemampuan itu, ditambah kebijakan Rusia untuk menghindari kondisi politik yang mempengaruhi penjualan senjata, membuat Indonesia berpaling ke Rusia sebagai menyuplai senjata.”
Kehadiran Su-35 ke Indonesia ini bisa mengubah peta kekuatan di kawasan Asia pasifik. Bahkan, diyakini mampu menandingi para penerbang F-18 Hornets Australia ketika berhadapan di udara.
“Kedatangan seri terbaru dari Su-27SK dan Su-30MK dari negara terbesar telah mengubah wajah, di mana F/A-18A/B/F sudah kalah kelas dari seluruh parameter performanya telah melebar,” tulis Air Power Australia.
Negara-negara ini gigit jari saat Indonesia tetap pilih Sukhoi Su-35
Sabtu, 10 Oktober 2015 07:23
Rencana Indonesia untuk mengganti jet tempur F-5E/F Tiger II menarik perhatian sejumlah negara. Setidaknya, ada lima negara produsen pesawat mencoba merayu Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara agar membeli produk mereka.
Demi mengeruk pundi-pundi rupiah, mereka tak segan mengerahkan seluruh kemampuan lobinya. Ada yang meminta bantuan duta besar, undang jurnalis ke markasnya hingga datang sendiri ke Indonesia untuk menguji pesawat buatannya.
“Enggak, plan (rencana) sudah Sukhoi,” tegas Kadispenau Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, Jumat (9/10).
Bahkan, Amerika Serikat yang baru aktif menawarkan varian F-16 terbarunya tetap tak mampu membuat Indonesia berpaling. TNI Angkatan Udara berpegang pada rencana awal, yakni mendatangkan Su-35.
Alhasil, mereka pun gigit jari. Negara-negara mana saja itu? Berikut rangkumannya:
1.SAAB, Swedia
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA8
Perusahaan avionik asal Swedia ini paling getol mempromosikan jet tempur buatannya. Khusus untuk Indonesia, mereka menawarkan pesawat bermesin tunggal multiperan, JAS 39 Gripen buat dipakai TNI Angkatan Udara.
Agar dilirik, mereka tak segan mengundang sejumlah wartawan Indonesia untuk datang dan melihat langsung produk andalannya dari dekat. Sedikitnya, ada lima media yang diundang ke markas mereka di Stockholm, Swedia pada 11 Maret lalu.
Wakil Presiden Saab, Peter Carlqvist mengaku sudah mengetahui keinginan TNI Angkatan Udara yang lebih melirik Su-35. Namun, mereka tetap yakin bisa membuat Indonesia mengalihkan perhatian ke JAS 39 Gripen.
Demi memuaskan TNI Angkatan Udara selaku user, SAAB menawarkan sejumlah garansi kepada Indonesia jika membeli jet tempur buatannya. Paket itu diberi nama ‘paket kekuatan udara lengkap’.
“Berlawanan dengan apa yang ditawarkan Sukhoi, kami menawarkan paket kekuatan udara lengkap, tidak hanya pesawat. Sukhoi hanya menawarkan pesawat,” kata Carlqvist.
Paket terbaru yang ditawarkan Saab ini meliputi jet tempur JAS39 Gripen, sistem peringatan dini dan kendali udara (AEW&C) Erieye, sistem tautan data taktis (tactical data link) yang bisa diintegrasikan dengan aset tempur matra lain, ditambah pusat perawatan pesawat dan pusat operasi penerbangan taktis (operation tactical flight center) untuk para pilot.
2.Dassault Aviation, Prancis
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA9
Berbeda dengan SAAB yang memilih mengundang wartawan ke markasnya, Dassault Aviation justru memilih mendatangkan langsung pesawat andalannya di hadapan TNI Angkatan Udara. Kedua pesawat yang dibawa itu adalah milik Angkatan Udara Prancis (Arme de l’Air).
Pesawat jenis Squall ini diberi nama Dassault Rafale merupakan generasi ke-4,5. Kedua pesawat tersebut tiba di Halim Perdanakusuma, Jakarta pada 23 Maret lalu. Tak hanya itu, mereka juga membawa satu pesawat A-400.
Dua pesawat ini langsung dibawa ke Indonesia setelah mengikuti pameran dirgantara dua tahunan di Malaysia. Tak hanya pamer, mereka juga mempersilakan pilot-pilot TNI Angkatan udara untuk mencobanya sendiri.
“Kesan saya sebagai penerbang F5, setelah saya coba terbangkan Rafale, saya bandingkan dengan F5 jauh sekali lompatan teknologinya. Pesawat F5 kan rakitan tahun 80-an sementara Rafale ini generasi ke-4. Kalau F5 banyak analog Rafale ini digital, radarnya juga jauh lebih canggih,” kata Mayor Penerbang Abdul Haris dari Skuadron Udara 14 wing 3 Lanud Iswahyudi, di Lanud Halim, Rabu (25/3).
Senda dengan Abdul, pilot pesawat tempur lainnya Mayor Agus Dwi Aryanto dari Skuadron udara 3 wing 3 Lanud Iswahyudi, mengagumi kecanggihan pesawat Rafale. Agus yang biasa menerbangkan pesawat F16 buatan Amerika mengaku performance Rafale sudah sebanding dengan pesawat buatan AS itu.
“Saya rasa ini generasinya selevel (dengan F16), secara performance mirip, memang ada keunggulan dan kelebihan masing-masing. Kalau mau dibandingkan dengan F16 performance sama,” kata Agus.
3.Eurofighter, Inggris
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA10
Sama seperti dua perusahaan sebelumnya, perusahaan Eurofighter asal Inggris juga tak mau setengah-setengah menawarkan produknya kepada Indonesia. Bahkan, mereka mengerahkan empat duta besar dari Jerman, Inggris, Spanyol dan Italia dengan mendatangi langsung dan berusaha melobi Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.
Seperti yang dikutip dari siaran pers Eurofighter, Selasa (11/8/2015), keempat Duta Besar tersebut menyerahkan sepucuk surat formal berupa dukungan terhadap Eurofighter. Surat ini ditandatangani langsung oleh masing-masing Menteri Luar Negeri maupun Menteri Pertahanan di keempat negara yang mereka wakili.
Dalam surat dukungan itu menulis segala informasi terkait teknologi yang dipergunakan oleh Eurofighter. Tak hanya itu, perusahaan penerbangan juga berjanji akan memenuhi salah satu syarat yang diwajibkan pemerintah Indonesia, yakni Transfer Teknologi alias ToT.
Untuk memenuhi syarat tersebut, Eurofighter berjanji akan memindahkan pabrik mereka dari Inggris ke Bandung, sekaligus membuat perjanjian kerja sama jangka panjang dengan PT Dirgantara Indonesia dan Airbus Group.
“Ini adalah kombinasi operasional yang unik dan kapabilitas industri yang bisa memberikan pertumbuhan strategis terhadap sektor udara Indonesia,” tulis siaran pers tersebut.
4.Lockheed Martin, Amerika Serikat
TNI MENOLAK BELI F-16 VIPER.AMERIKA KESAL DI KALAHKAN SUKHOI RUSIA11
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan Indonesia akan membeli jet tempur Su-35 dari Rusia. Pengumuman tersebut sekaligus menutup rapat-rapat kerja keras yang dilakukan tiga produsen asal Eropa.
Tapi tidak bagi Amerika Serikat. Melalui perusahaan Lockheed Martin, mereka tetap mencoba mencari celah agar Indonesia berpaling dari Su-35 dan membeli varian F-16 terbaru, yakni F-16 Viper.
Hal itu mereka lakukan dengan mendatangkan langsung simulator F-16 Viper tersebut ke Indonesia. Bahkan, perusahaan ini juga mengundang seluruh jurnalis Indonesia untuk mencobanya sendiri.
Dalam sebuah jumpa pers, Duta Besar AS, Robert O Blake mengungkapkan keyakinan tersebut. Bahkan, dia menyebut varian ini bisa memenuhi program Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia sebagai kawasan maritim.
“Indonesia sudah punya tradisi panjang terbangkan F-16. Dan Viper adalah mode; terbaru yang ditawarkan Amerika Serikat kepada Indonesia,” ujar Blake di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (7/10) pekan kemarin.
Demi menuntaskan misinya, perusahaan ini rela mengurangi harganya agar lebih murah dari penawaran yang diberikan Sukhoi selaku produsen Su-35. Mereka juga menjamin ketersediaan suku cadang serta perawatan yang ramah kepada TNI Angkatan Udara selaku user.
“Sekarang mereka (Kemenhan) masih menimbang-nimbang Sukhoi, kami rasa mereka juga mempertimbangkan pesawat kami,” ucap Direktur Bisnis Internasional Lockheed Martin, Robie Notestine dengan penuh keyakinan.
Keputusan tepat.lebih baik beli produk Rusia.kagak cerewet, kagak peduli produknya mau di pakai apa, di mana, buat siapa, kalau Amerika cerewet, orang sudah beli produk mereka kok tetap ikut campur produknya di pakai buat apa, di mana, buat siapa.
Sok pakai alasan HAM. ujung2nya embargo spare part kalau kagak mengikuti keinginan mereka. buat apa buang duit beli produk mereka.lagipula kualitas produk yang mereka jual buat negara lain pasti lebih rendah di banding yang mereka pakai sendiri, juga ada kemungkinan di dalam sistemnya di susupi penyadap/pelacak. 
Sumber Ferd

Konstruksi Kapal Fregat Pertama Jenis PKR-105 Hampir Selesai


Konstruksi kapal fregat pertama TNI AL dari jenis PKR-105 yang berasal dari desain Damen Schelde (DSNS) Sigma 10514 telah hampir selesai dibuat di galangan kapal PT PAL Surabaya. Di galangan ini PT PAL membuat dua fregat pesanan Kementerian Pertahanan untuk memperkuat armada kombatan TNI AL.

Kontrak kapal fregat pertama ditanda-tangani pada 5 Juni 2012, kapal akan diselesaikan dalam jangka waktu 49 bulan. Proses first steel-cutting di PT PAL baru dilakukan pada 15 Januari 2014, namun PT PAL akan menyelesaikan kapal ini pada Januari tahun 2017.
Kontrak kapal fregat kedua ditanda-tangani pada 14 Februari 2013 namun proses seremoni first-steel cutting dilakukan di PT PAL pada 17 September 2014. PT PAL akan menyelesaikan kapal fregat kedua ini pada bulan Oktober 2017, sehingga kedua kapal ini akan selesai pada tahun 2017.
 
 
Kapal PKR 105 memiliki spesifikasi panjang 105.11 meter, lebar 14.02 meter, tinggi 3,7 meter, berat 2.365 ton, kecepatan 28/18/15 knot dan jarak jelajah 5000 NM. Fregat ini dapat membawa helikopter dengan berat 10 ton dan membawa dua RHIB. Kapal didesain untuk mampu melakukan anti serangan permukaan, anti serangan udara, anti serangan bawah air, dan anti serangan elektronika. 
 
 
Setelah kapal ini selesai di dok kering, kapal akan diluncurkan dan pengerjaan kapal akan dipindahkan ke dok basah meliputi pekerjaan elektrikal kapal dan detail interior. Kapal ini selanjutnya akan dilakukan integrasi sistem elektronika, pemindaian dan persenjataan, kemudian dilanjutkan dengan uji laut.
 
Kapal yang sebuahnya bernilai 220 juta dolar AS (belum termasuk persenjataan) ini dibiayai kredit eksport dengan alokasi multiyears.

Dalam proses joint production, engineer dari PT PAL juga sudah belajar secara teknis di DSNS sejak rencana pembuatan kapal ini dimulai pada 2011 lalu.

Pembangunan kapal fregat ini, dibagi dalam enam modul (bagian), empat modul diantaranya dibuat di PT PAL, sedangkan dua modul yang terdiri dari permesinan dan anjungan kapal dibangun di Belanda. Dua modul dari Balanda dibawa dan dirakit di PT PAL, untuk dijadikan satu dengan empat modul lainnya. 
 
Kapal fregat pertama dari jenis PKR-105 ini rencananya akan memakai nomor lambung 331 dengan nama KRI Martadinata. Nomor lambung yang sama pernah digunakan untuk KRI Martha Kristina Tiyahahu ex Tribal class (Type 81) yaitu fregat 2.700 ton ex Royal Navy yang dibeli pada tahun 1984. Nama Martadinata juga pernah dipakai TNI AL untuk fregat ex US Navy kelas Claud Jones dengan berat 1.970 ton yang pernah dibeli pada tahun 1974.

Rencananya TNI AL akan membuat enam fregat kelas PKR-105 ini, dua dibangun melalui kontrak dengan Damen Schelde melalui joint production dengan PT PAL, sedangkan empat lainnya direncanakan dibangun sepenuhnya di PT PAL dengan supervisi dari Damen Schelde.

Keenam fregat baru ini akan menggantikan enam fregat kelas Van Speijk ex Royal Netherlands Navy yang dibeli pada tahun 1986. Keenam fregat kelas Van Speijk dengan berat 2.850 ton memang sudah terlalu tua untuk dioperasikan karena telah berdinas di Royal Netherlands Navy sejak tahun 1965 meskipun telah menjalani beberapa kali perpanjangan usia pakai.
 
Sumber : Defence Studies 

Korea to Sign Contract on KF-X Next Week





KF-X fighter (photo : Aviation Week)

South Korea's state arms procurement agency said Thursday it will sign a formal contract next week on its fighter jet development project, known as KF-X.

The Defense Acquisition Procurement Administration plans to ink the deal with Korea Aerospace Industries Ltd., the country's sole aircraft maker.

"Negotiations over the formal contract on the KF-X program are going well. It seems to be possible to sign it around Dec. 28," the agency official said on the condition of anonymity.

South Korea hopes to produce its own fighter jet to replace the aging fleet of F-4s and F-5s by mid-2020.

Last month, KAI secured Indonesia's assurance that it will pay for 20 percent of the total cost expected to reach $15 billion.

Under the contract between the DAPA and KAI, six test planes will be manufactured by 2025, according to the official.

The KF-X project received a boost from the U.S. pledge to transfer some of its jet technologies. But South Korea faces a daunting task of finding an alternative as the U.S. made it clear that four core technologies will be excluded.

Those are the active electronically scanned radar, infrared search-and-rescue system, electro-optical targeting pod and radio frequency jammer.

South Korea, meanwhile, plans to launch a task force for the project on Jan. 1 next year that will be composed of 70-80 officials and experts. 

(Korea Herald)

Monday, November 9, 2015

PT Dirgantara Indonesia Looks to Finalise IF-X Workshare

PT Dirgantara Indonesia Looks to Finalise IF-X Workshare

.


The some differences between IF-X and KF-X are : drag chute for landing, refuelling probe, and external drop tank (photo : Defense Studies)

Indonesian Airframer PT Dirgantara Indonesia (Persero) is still working towards the finalisation of its workshrae for the IF-X generation stealth multirole fighter. The airframer will work with South Korea's Defence Acquisition Program Administration (DAPA) to deliver the IF-X combat aircraft to the Indonesian Air Force. IF-X is the name given to the Indonesian version of the Korean KF-X, 4.5 generation stealth multi-role fighter.

Ade Yuyu Wahyuana, VP Business Development & Marketing at Persero, told Daily News, "Discussions are contihuing in Jakarta on the 30% workshare and the workshare agreement is yet to be signed with DAPA." " We are looking at two big jobs, the engineering work package and aircraft manufacturing for the KF-X." Importantl, Ade says, "We don't intend to be a fighter manufacturer. We will look at translating the technology we obtain from this program for our commercial aircfat programs. The first priority for the company is to look to how best it can fulfil the operational requirements of the Indonesian Air Force (IAF) for the IF-X.

KF-X fighter (photo : Defense Studies)

"There will be some differences between the Korean KF-X and our IF-X and we looking at how to comply with these requirements," says Ade. The important changes being planned for the IF-X as compared to the Korean KF-X are; Drag Chute for Landing, Finalising of Refuelling Probe Configuration (hose and drogue or receptacle) and carriage of an external Drop tank for increased range.

The KF-X and IF-X 4.5 generation stealth fighter be available in both single and tandem seating cockpit configuration. It will feature advanced aerodynamic design and stealth features such as integrated chine and faceted fuselage, caret shape ramp intake and a diamond Shape Wing. It will be fitted with next-generation AESA radar and avionics. Weapons carriage capability will be significant as a result of 10 Hard Points and a 16,000 lb (4,400 kg) store capability, It will have four semi-conformal hard points for AMRAAM.

(Defense & Security 2015 Daily News)