Pages

Tuesday, October 17, 2017

Perkembangan IFX saat ini



Ada kabar kemajuan mengenai proyek pesawat tempur generasi 4.5 KFX/IFX yang merupakan proyek bersama antara Korea Selatan dan Indonesia, tetapi sebagian di antaranya agak tidak mengenakkan, berdasarkan wawancara media Flight Global terhadap seorang ofisial dari Korea Aerospace Industries.

Ofisial dari perusahaan KAI buka-bukaan dalam pameran Seoul ADEX 2017, dimana desain final dari KFX sendiri diberitakan akan selesai pada bulan Juni 2018, kemudian dilanjutkan dengan fase EMD (Engineering and Manufacturing Design) yang mendetail.

Setelah fase EMD, diharapkan uji terbang perdana bisa dilakukan pada 2022, kemudian dilanjutkan dengan pengujian, integrasi sistem, dan evaluasi yang diperkirakan butuh waktu empat tahun sendiri. KFX sendiri juga akan disiapkan dalam konfigurasi tempat duduk ganda, sesuatu yang tidak pernah muncul sebelumnya dalam maket-maket pemasaran Korean Aerospace Industries.

Indonesia sendiri, yang membayar 20% biaya pengembangan, sudah berhasil memperoleh ijin ekspor untuk komponen-komponen buatan Amerika Serikat yang nantinya akan terpasang pada versi IFX, dimana saat ini IFX Design Center di Bandung tengah berkutat dengan model IFX yang akan dikembangkan, dan rencananya akan dibeli sebanyak 80 unit tersebut.

Namun, akan ada perbedaan antara KFX dan IFX. IFX sendiri akan mengambil desain KFX Block I, yang akan dikirimkan tanpa lapisan peredam gelombang radar. Belum diketahui apakah Indonesia akan mengembangkan sendiri lapisan RAM (Radar Absorbment Material), yang jelas Korea Selatan tidak akan memberikannya. Pun untuk sistem senjata internal (weapon bay) tidak akan dimasukkan dalam pengembangan Block I.

Hanya KFX yang merupakan desain KFX Block II yang akan dilengkapi dengan weapon bay dan dilapisi lapisan anti radar. Dengan perbedaan spek ini, ada kemungkinan bahwa varian KFX akan memiliki MTOW (Maximal Take Off Weight) yang lebih besar dari IFX karena harus membawa persenjataan yang lebih banyak. Akankah dimensinya juga lebih besar?

Yang jelas, baik KFX maupun IFX sama-sama akan ditenagai oleh mesin General Electric F414. Sebagian besar avionik mulai dari radar AESA, sistem IRST (Infra Red Scan and Track), panel di kokpit, dan sebagian besar LRU (Line Replaceable Unit) akan dikembangkan secara mandiri oleh perusahaan-perusahaan Korea Selatan.

Problem utama adalah masalah senjata, akan tetapi KAI berusaha mengurangi ketergantungan terhadap senjata lansiran AS dengan membuat KFX/IFX kompatibel dengan senjata buatan Eropa seperti MBDA Meteor untuk rudal jarak menengah dan rudal jelajah Taurus KEPD 350. Mengingat kedekatan Indonesia dengan Negara-negara Eropa, seharusnya tidak ada masalah dalam akuisisi senjata untuk IFX nantinya.

Yang jelas, saat ini memang masih terlalu dini untuk berspekulasi bahwa IFX benar-benar akan dibangun dengan spesifikasi yang lebih rendah dari KFX, apalagi wawancara Flightglobal tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pengumuman resmi. Tetapi ini merupakan suatu peringatan dini, dimana Indonesia harus menjaga betul proses pengembangan IFX dengan lebih ketat lagi. (Aryo Nugroho)

Sumber :https://c.uctalks.ucweb.com

Tuesday, October 3, 2017

Helikopter AH-64E Apache Guardian Meriahkan HUT TNI ke-72



Dinas Penerbangan TNI AD akan ketambahan kekuatan apabila delapan unit AH-64E Apache Guardian Block III yang dibeli dengan kontrak senilai US$ 1,1 Milyar, menjadikan TNI AD sebagai salah satu pengguna heli serang paling canggih di dunia ini. Kemunculan AH-64E dalam kelir kamuflase dua warna Penerbad yang ditengarai sebagai fase pengujian heli pesanan TNI AD tersebut pun juga sudah bersliweran di dunia maya.
Nah, di Cilegon kemarin penulis memergoki kemunculan setidaknya dua AH-64 Apache yang terbang beriringan dengan Bell 412EP dan Mi-35 milik Penerbad. Apalagi tampilannya juga sangar, dilengkapi tabung roket Hydra 70mm dan rudal AGM-114 Hellfire training terpasang di rak peluncurnya. Sekilas bangga juga melihat Apache tersebut sudah terbang, namun kemudian tak lama malah timbul pertanyaan di benak penulis, seperti ada keanehan pada Apache tersebut.
Kok Apachenya berwarna hijau zaitun ya, khas Apache milik US Army Aviation atau Dinas Penerbangan AD AS? Lalu di sponson avionik di sebelah kanan tertera emblem atau logo pedang bersilang, khas kavaleri udara AD AS? Buka-buka sedikit literatur, akhirnya rasa penasaran penulis pun terjawab sudah.
AH-64 Apache yang terbang dalam gladi parade HUT TNI ke-72 tersebut memang milik US Army, yaitu dari unit 25th Combat Aviation Brigade (CAB) yang berpangkalan di Wheeler Army Airfield, Hawaii. 25th CAB baru mengoperasikan heli Apache selama setahun, setelah sebelumnya menggunakan heli intai Kiowa Warrior. Insignia pedang bersilang di sponson kanan tersebut adalah milik Skadron ke-2, Resimen Kavaleri ke-6 dari 25th CAB yang menginduk ke 25th Infantry Division.
Total kekuatan dari 25th CAB adalah 24 helikopter AH-64E Guardian, jenis yang sama dengan yang dibeli Indonesia dan skadron ke-2 bahkan baru dinyatakan operasional secara penuh pada bulan Juni 2017. Mengenai bagaimana heli serang sekelas AH-64 Apache bisa ‘nyasar’ sampai ke Indonesia, jangan buru-buru curiga dulu.
Hubungan erat TNI AD dan US Army terwujud dalam latihan tahunan Garuda Shield 11/2017, dimana AD AS memang memboyong sejumlah helikopternya ke Indonesia termasuk UH-60 Blackhawk Medevac dan AH-64 Apache. Kalau pembaca masih ingat, heli Apache dan Blackhawk yang terbang beriringan membelah langit Jakarta sempat membuat kehebohan yang viral di awal bulan September lalu.
Ajang latihan Garuda Shield 11/2017 tersebut dimanfaatkan pula oleh pilot-pilot Penerbad untuk berlatih beroperasi dengan dan menggunakan AH-64 Apache yang akan diterima paling cepat tahun 2018. Nah, karena latihannya sendiri sudah dinyatakan ditutup pada 30 September, boleh dong helikopter Apachenya dipinjam untuk memeriahkan parade HUT TNI yang ke-72? Toh TNI memang sudah membeli helikopter Apache tersebut. (Aryo Nugroho)

Monday, October 2, 2017

Tampilan Pandur II 8×8 dengan Kanon RCWS Ares UT30MK2



Diantara ratusan alutsista TNI yang kini telah terparkir di kawasan Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, sudah terlihat sosok ranpur Pandur II 8×8 jenis IFV (Infantry Fighting Vehicle) yang dilengkapi kanon RCWS Ares UT30MK2 kaliber 30 mm. Kemunculan ini menjadi babak terbaru dari serial panser Pandur II 8×8 di Indonesia, setelah sebelumnya telah diperlihatkan Pandur II 8×8 FSV (Fire Support Vehicle) yang dilengkapi meriam Cockerill CT-CV 105 mm dan Pandur II 8×8 APC dengan SMB (Senapan Mesin Berat) kaliber 12,7 mm.

Formasi ketiga jenis panser Pandur kini telah siap untuk mengikuti parade dan defile HUT TNI Ke-72 pada 5 Oktober 2017. Bahkan Pandur II 8×8 APC secara khusus akan menampilkan atraksi berenang di laut dalam skema operasi amfibi. Sebaliknya Pandur II 8×8 yang kini dipasangi kubah kanon Ares 30 mm tidak mempunyai kapabilitas amfibi. Namun sumber penulis menyebut bahwa versi Pandur Ares 30 mm yang nantinya akan digunakan Batalyon Infanteri Mekanis TNI AD adalah varian dengan kemampuan amfibi.
Seperti apa kebisaaan dari RCWS UT30MK2? Dikutip dari factsheet yang dirilis pihak manufaktur, UT30MK2 sudah mengusung fully integrated Battlefield Management System (BMS) desain kubah modular, sehingga UT30MK2 dapat dipasangkan beragam sistem senjata dan perangkat elektro optik tambahan.
Bicara fire power, UTMK30MK2 buatan Ares Aeroespacial and Defense, manufaktur persenjataan dari Brasil, mengusung basis kanon Orbital ATK Mk 44 Bushmaster ABM (Air Burst Munition) kaliber 30 mm sebagai senjata utama, sementara disisi laras 30 mm terdapat senapan mesin 7,62 coaxial. Jika kocek user cukup, sudah tersedia modul untuk dipasangi ATGM (Anti-Tank Guided Missiles). Sebagai kanon RCWS modern, di sistem kubah sudah disematkan Laser Warning System (LWS) and optional Smoke Grenade Launcher System (SGL).
Dengan teknologi dual-axis stabilized, UT30MK2 dirancang mampu melakukan tembakkan secara efektif dalam kondisi kendaraan sedang melaju. Dan yang lebih unik, desain kubah dapat di setting tanpa awak (unmanned) ke dengan awak (manned), begitu pun sebaliknya, disesuaikan dengan kebutuhan operasi, dimana kesemua subsistem disebut-sebut saling identik.
Desain modular tak melulu pada penambahan perangkat penjejak dan senjata, namun lapisan pelindung pada kubah juga dapat ditambahkan dengan model Modular ballistic protection (STANAG 4569 Level 2, 3,4 or 6), sudah barang tentu level STANAG yang digunakan akan berimbas kepada bobot kubah itu sendiri. (Haryo Adjie)

Pengadaan Rudal NASAMS (Norwegian Advanced Surface to Air Missile) oleh TNI AU


Puasa panjang TNI akan sistem pertahanan udara jarak menengah nampaknya akan segera berakhir. Setelah spekulasi yang bersliweran mengenai rencana pembelian rudal NASAMS (Norwegian Advanced Surface to Air Missile) oleh TNI AU, penulis sudah memperoleh kepastian bahwa Kementerian Pertahanan sudah menandatangani kontrak pembelian rudal NASAMS pada bulan Juni 2017.
Kehadiran NASAMS yang membangkitkan kenangan lama akan kegarangan AURI dengan rudal SA-2 Guideline pada masa Orde Lama melengkapi sistem senjata hanud yang dimiliki TNI AU mulai dari sistem pertahanan udara titik Oerlikon Skyshield 35mm buatan Rheinmetall Jerman, rudal panggul jarak dekat QW-1 dan QW-2 dari China serta Chiron dari Korea Selatan, dan tentu saja kemudian NASAMS.
Dari peruntukannya, NASAMS akan digelar untuk pertahanan ibukota negara, yang selama ini memang hanya dijaga dengan meriam-meriam arhanud yang tentu saja sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman lawan seperti jet tempur atau pesawat pembom yang memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan dari jarak jauh (standoff). Untuk membiayai pembelian NASAMS ini, Indonesia mendapatkan fasilitas kredit dari Bank Exim Norwegia senilai lebih dari USD 100 juta.

NASAMS sendiri diprakarsai oleh Norwegia untuk mendobrak stigma bahwa menggelar sistem rudal anti pesawat alias SAM harus menyiapkan dana yang mahal. Maklum saja, rudal anti pesawat generasi 1980an memang besar, terdiri dari kendaraan peluncur, kendaraan radar, kendaraan pengendali, kendaraan catu daya, dan seterusnya.
Menyadari hal ini, Norwegia mendesain NASAMS dengan jejak (footprint) seminimal mungkin. Awalnya adalah kontraktor Norsk Forsvarsteknologi dan Hughes Aircraft yang membentuk satu joint venture untuk AU Norwegia, yang diberi nama NASAMS. Target operasionalnya adalah tahun 1992, walau kemudian molor sampai operasional pada 1994.
Sistemnya memang tetap didesain terpisah antara kendaraan peluncur, kendaraan posko / FDC (Fire Distribution Center) dan sistem radar AN/TPQ-36. Yang berbeda, konsep NASAMS dibuat modular dan seefisien mungkin. Sebagai contoh, untuk kendaraan peluncur, kotak peluncur LCHR didesain untuk dapat diangkut oleh truk standar kelas lima ton yang dilengkapi dengan dongkrak khusus untuk menurunkan dan menaikkan LCHR ke dan dari flatbed truk.

LCHR sendiri terdiri dari enam kotak dengan tiap kotak terdiri dari rel peluncur yang terlindung dari elemen cuaca. Satu kotak LCHR sendiri dapat dinaikkan ke atas palet standar dan dimasukkan ke dalam C-130H Hercules untuk digelar ke titik-titik jauh sesuai dengan keinginan pengguna. Artinya, TNI AU sendiri sanggup menggelar NASAMS kemanapun dibutuhkan.
Untuk urusan rudalnya sendiri, Norwegia awalnya menggunakan solusi COTS (Commercial Off The Shelf) alias menggunakan rudal yang sudah ada di pasaran. Pendekatan ini dirasa akan lebih mudah, murah, dan waktu pengembangannya tentu saja menjadi sangat singkat. Bahkan pada saat dibuat pertama, NASAMS memanfaatkan pylon rudal standar pesawat tempur yang dibalik.
Kongsberg sebagai pengembang rudal memilih AIM-120C AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile). AMRAAM yang sejatinya merupakan rudal udara-udara ternyata sudah ditanamkan chip dual mode oleh Raytheon selaku pembuat: mode udara-udara atau darat-udara. Sebagai rudal dengan kemampuan ganda, AMRAAM yang sudah memperoleh cap battle proven dapat berfungsi dengan baik ketika ditunjuk sebagai rudal SAM. Jarak efektif untuk AMRAAM dalam NASAMS adalah 15-20 kilometer, tergantung kondisi di mana rudal itu beroperasi.

Keistimewaan NASAMS selanjutnya adalah fleksibilitasnya; tidak ada sistem SAM yang dapat menggunakan rudal yang berbeda-beda tanpa perlu banyak penyesuaian kecuali NASAMS. Apabila pada awalnya hanya AIM-120C-3/5/7 yang disertifikasi untuk dapat diluncurkan dari NASAMS, rudal pencari panas jarak pendek generasi baru AIM-9X Sidewinder dijadikan salah satu pemukul, yang tentu saja mengandalkan IR seeker tanpa radar sama sekali sebagai penjaga garis akhir.
Dengan dimensi yang lebih besar dibandingkan FIM-92 Stinger, tentu saja AIM-9X lebih punya kans untuk merontokkan sasaran yang lebih besar. Yang terpenting, AIM-9X yang menggunakan seeker IR aktif aman dioperasikan di lingkungan dimana pesawat SEAD (Supression of Enemy Air Defence) beroperasi, yang mengancam situs radar kawan, dan tak mempan gangguan jamming radar oleh lawan. Dengan TNI AU sudah memiliki dua jenis rudal tersebut dari Amerika Serikat, artinya tidak akan ada masalah untuk penggelarannya sebagai perisai ibukota. (Aryo Nugroho)

Monday, September 11, 2017

Pabrik Lockheed Martin di Forth Worth Texas Masih Bisa Bernafas Panjang




Lini pabrik yang memproduksi pesawat tempur F-16 Fighting Falcon milik Lockheed Martin di Forth Worth Texas nyaris menjadi kenangan, ketika Lockheed Martin terbentur akan order F-16 yang mengering. Pesawat tempur hebat itu saat ini seolah tidak lagi memiliki peminat.

Tadinya F-16 terakhir akan meninggalkan pabrik pada bulan September 2017, dan pabrikan terpaksa harus memindahkan pabrik tersebut ke Greenville, South Carolina agar Forth Worth bisa memproduksi F-35 Lightning II.
Pabrik F-16 akan dibekukan setidaknya selama dua tahun, sampai lini di Greenville bisa disusun kembali. Lockheed Martin telah menawarkan varian terbaru F-16V Block 70/72 ke negara potensial seperti India dan Indonesia, tetapi sampai sekarang belum ada satupun tanggapan yang positif.
Namun peruntungan Lockheed Martin berubah dalam semalam, setelah Departemen Luar Negeri AS melalui DSCA mengumumkan bahwa Bahrain memesan 19 unit F-16 Viper Block 70 senilai US$ 2,785 miliar, masih ditambah lagi dengan peningkatan kemampuan 20 unit F-16 Block 40 yang dimilikinya ke standar F-16V Block 70. Nilai kontrak peningkatan kemampuannya adalah senilai US$1,082 miliar.
F-16V yang dipesan oleh Bahrain menggunakan konfigurasi penuh dengan radar APG-83 SABR (Scalable Agile Beam Radar) dan MMC (Modular Mission Computer). Avionik yang dibeli adalah AN/APX-126 AIFF (Advanced Identification Friend or Foe), radio terenkripsi standar SINCGARS, dan simulator, serta mesin F-110-GE-129 cadangan.
Untuk persenjataan, paket pembelian mencakup beragam senjata, mulai dari 19 unit kanon M61A1 Vulcan, rudal AIM-9X, dan rudal AGM-88 HARM sebanyak masing-masing dua unit. Kit pemandu untuk bom pintar JDAM dan GBU-24 Paveway III serta sejumlah bom pintar lainnya juga turut diakuisisi, terutama karena Bahrain bergabung dalam koalisi Arab Saudi untuk menyerang Yaman. Selain bom pintar, Bahrain juga membeli pod pengarah sasaran Sniper ATP (Advanced Targeting Pod).
Selebihnya adalah pylon senjata seperti 38 unit LAU-129 untuk meluncurkan AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM, 38 unit LAU-118A untuk meluncurkan rudal anti radiasi AGM-88 HARM. Sejumlah rudal latih alias Captive untuk AIM-9X dan AIM-120 juga dibeli untuk sarana latih.
Dengan pesanan Bahrain ini, setidaknya lini produksi Forth Worth masih akan dipertahankan untuk F-16, setidaknya untuk jangka waktu tiga sampai empat tahun ke depan. Durasi waktu ini memadai, sambil berharap bahwa kompetisi MMRCA India akan memenangkan F-16 sehingga napas elang penempur ini akan semakin panjang. 
by (Aryo Nugroho)

Friday, September 8, 2017

Luar Biasa! 6 Bulan Persiapan Bersama TNI AU-RSAF untuk 30 Menit Perayaan RISING50






Pertunjukan kemahiran para pilot-pilot TNI AU dan Republic of Singapore Air Force (RSAF) untuk mempersiapkan flypass dalam rangka 50 tahun perayaan hubungan diplomatik Republik Indonesia dan Republik Singapura atau RISING50 ternyata tidak terjadi dalam waktu semalam.

Untuk menyuguhkan penampilan sempurna formasi arrowhead yang disusul dengan formasi terbang bersama F-16 TNI AU dan RSAF membentuk angka 50 dan bom burst dari F-15SG di hadapan publik di Marina South, ternyata kedua angkatan udara sampai harus membentuk kelompok kerja yang melibatkan perwira dari kedua negara.

Kelompok kerja kedua angkatan udara tersebut harus mempersiapkan segalanya, mulai dari formasi yang akan disuguhkan, rute penerbangan yang optimal sehingga kedua kelompok F-16 yang terbang dari 2 titik yang berbeda dapat bertemu di wilayah udara Singapura. Dan tidak ada toleransi untuk kesalahan. Semua harus diperhitungkan sampai ke hitungan detik, atau resiko semakin besar. Untuk berlatih saja, sejumlah jadwal penerbangan sipil sampai harus dijadwalkan ulang atau digeser slotnya agar bisa dipakai berlatih.

Hasilnya, seperti dapat disaksikan bersama, para penerbang TNI AU yang dipimpin oleh KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto dan RSAF berhasil menyuguhkan manuver dan formasi yang rapat sempurna di hadapan para hadirin, termasuk Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Lee Hsien Long beserta Ibu Negara dan para tamu kehormatan.

Di darat, drum band dari AAU (Akademi Angkatan Udara) Pakca Lokananta dan SAF Central Band memainkan lagu-lagu nasional. Pakca Lokananta menampilkan atraksi marching band yang sangat energik dan menarik mengikuti lagu Taruna Jaya, sementara SAF Central Band memainkan lagu We Will Get There dan We Are Singapore, yang semuanya menjadi latar ketika jet-jet F-16 kedua negara menampilkan formasi dan atraksinya.

Sungguh, perencanaan yang baik, eksekusi yang sempurna, dan penampilan yang luar biasa menjadi warna akan hubungan baik antara Indonesia dan Singapura yang kita harapkan akan terus berlanjut dalam hubungan yang baik, saling memahami, dan saling mendukung antar negara. (Aryo Nugroho)

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/personal/index/