Pages

Sunday, February 8, 2026

Tak Gentar Hadapi Jet Siluman, Sistem Rafale F4 Indonesia Ini bakal Ditakuti Pilot F-35B Singapura

Rafale



Persaingan supremasi udara di kawasan Asia Tenggara memasuki babak baru yang sangat mendebarkan setelah Singapura mengonfirmasi kedatangan jet tempur siluman generasi kelima mereka.

Dikutip dari Defence Security Asia, Singapore to Receive First F-35B Stealth Fighters by End-2026 as RSAF Enters Fifth-Generation Airpower Era, 7 Februari 2026, negara tetangga tersebut akan segera mengoperasikan F-35B yang memiliki kemampuan lepas landas pendek dan mendarat vertikal.

Di sisi lain, Indonesia tidak tinggal diam dengan mendatangkan Rafale F4 dari Perancis yang sering dijuluki sebagai jet tempur "omnirole" terbaik di kelasnya saat ini.

Pertanyaan besar yang kini menghantui para pengamat militer adalah apakah Rafale F4 milik TNI Angkatan Udara mampu meladeni F-35B Singapura dalam simulasi pertempuran jarak jauh atau Beyond Visual Range (BVR).

Banyak orang berasumsi bahwa jet siluman akan selalu menang karena tidak terlihat oleh radar, namun dunia peperangan udara jauh lebih kompleks daripada sekadar angka di atas kertas.

F35


F-35B mengandalkan radar AN/APG-81 AESA yang dianggap sebagai salah satu radar paling canggih di dunia dengan kemampuan pemindaian yang sangat cepat dan presisi tinggi.

Dikutip dari Simple Flying, The Ultimate Guide To The F-35 Lightning II's Advanced Sensor Suite, 3 Mei 2024, radar ini mampu mendeteksi target dari jarak yang sangat jauh tanpa memancarkan sinyal yang mudah dilacak oleh musuh.

Teknologi ini memungkinkan F-35B untuk melihat musuh terlebih dahulu dan menembakkan rudal sebelum keberadaannya sendiri terdeteksi oleh radar lawan.

Namun, Rafale F4 membawa radar RBE2 AESA yang telah ditingkatkan secara signifikan untuk mendeteksi target dengan radar cross section (RCS) yang sangat kecil.

Dikutip dari Army Recognition, New Rafale fighter jet F4.3 Tested in Multi Domain Scenarios to Validate System Enhancements, 30 Juli 2025, radar ini dikombinasikan dengan algoritma pemrosesan sinyal terbaru yang dirancang khusus untuk menghadapi ancaman pesawat siluman.

Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada cara mereka beroperasi, di mana F-35B mengandalkan kejutan sementara Rafale mengandalkan ketajaman sensor yang berlapis.

Perisai Elektronik SPECTRA: Senjata Rahasia Jet Perancis

Kekuatan utama Rafale yang sering membuat pilot F-22 dan F-35 waspada bukanlah radarnya, melainkan sistem peperangan elektronik terintegrasi yang disebut SPECTRA.

SPECTRA adalah kependekan dari Self-Protection Equipment to Counter Threats for Rafale Aircraft yang berfungsi sebagai perisai sekaligus mata tambahan bagi sang pilot.

Sistem ini mampu mendeteksi, mengidentifikasi, dan melokalisasi ancaman elektromagnetik dengan akurasi yang sangat tinggi tanpa perlu menyalakan radar aktif.

Dikutip dari Thales Group, SPECTRA: Electronic Warfare suite for survivability of the Rafale combat aircraft, sistem ini dapat menciptakan "zona buta" bagi radar lawan melalui teknik gangguan sinyal atau jamming yang sangat canggih.

Hal inilah yang menjadi kunci bagi Rafale Indonesia untuk mengimbangi teknologi siluman F-35B Singapura dalam pertempuran jarak jauh.

Secara teori, jika SPECTRA mampu menangkap emisi radar dari F-35B, Rafale dapat mengetahui posisi pesawat siluman tersebut meskipun ia tidak muncul secara jelas di layar radar konvensional.

Strategi Deteksi Pasif Melawan Teknologi Siluman

Jet tempur siluman seperti F-35B dirancang untuk memantulkan gelombang radar ke arah lain, sehingga radar aktif akan kesulitan menangkap pantulannya.

Namun, setiap pesawat tempur tetap memancarkan panas dari mesinnya dan emisi elektronik dari sistem komunikasinya.

Rafale F4 dilengkapi dengan sensor Optronique Secteur Frontal (OSF) yang berfungsi seperti teleskop infra merah berkekuatan tinggi.

OSF memungkinkan pilot Rafale untuk mendeteksi target berdasarkan jejak panas mesin sejauh puluhan kilometer tanpa mengeluarkan sinyal radar sedikit pun.

Dalam skenario BVR, Rafale dapat terbang dalam mode "senyap" dan menggunakan OSF untuk mencari tanda-tanda panas dari F-35B yang sedang berpatroli.

Dikutip dari Omnirole Rafale, L’Optronique Secteur Frontale du Rafale, sensor ini memberikan keunggulan taktis yang luar biasa karena musuh tidak akan pernah tahu bahwa mereka sedang dikunci oleh sensor pasif.

Duel Rudal Jarak Jauh: Meteor Melawan AMRAAM

Pertempuran BVR tidak akan lengkap tanpa membahas senjata pamungkas yang dibawa oleh kedua pesawat ini di bawah sayap mereka.

Rafale F4 Indonesia akan dipersenjatai dengan rudal Meteor yang memiliki teknologi ramjet sehingga mampu melesat dengan kecepatan tinggi hingga akhir lintasan

Dikutip dari MBDA Systems, Meteor, rudal ini memiliki zona "no-escape" terbesar dibandingkan rudal udara-ke-udara lainnya di dunia.

F-35B Singapura umumnya mengandalkan rudal AIM-120D AMRAAM yang juga sangat mematikan dan memiliki jangkauan yang sangat jauh.

Meskipun AMRAAM sangat canggih, teknologi motor roket konvensionalnya akan kehilangan energi di akhir jarak tempuhnya, berbeda dengan Meteor yang terus dipacu oleh mesin ramjet.

Dalam duel jarak jauh, rudal Meteor memberikan peluang lebih besar bagi Rafale untuk menghancurkan target yang mencoba melakukan manuver menghindar di menit-menit terakhir.

Kesenjangan Generasi atau Perbedaan Doktrin?

Banyak pihak berargumen bahwa Indonesia tertinggal satu generasi karena tetap memilih pesawat generasi 4,5 daripada langsung beralih ke generasi kelima.

Namun, pilihan ini mencerminkan doktrin pertahanan Indonesia yang lebih mengutamakan kedaulatan data dan kemandirian operasional.

Dikutip dari Defence Security Asia, Indonesia Takes Delivery of First Rafale B Jets: A Landmark Shift in Southeast Asia’s Air-Power Balance, 2 Desember 2026, pembelian Rafale memberikan akses penuh kepada Indonesia untuk mengintegrasikan senjata lokal tanpa hambatan protokol ketat dari Amerika Serikat.

Singapura, dengan F-35B mereka, mendapatkan teknologi paling mutakhir namun harus terhubung erat dengan sistem logistik global yang dikendalikan secara pusat oleh produsennya.

Rafale F4 dirancang sebagai pesawat transisi yang memiliki banyak fitur generasi kelima di dalam tubuh pesawat yang lebih mudah dirawat dan dioperasikan.

Indonesia tidak benar-benar tertinggal, melainkan memilih alat yang lebih fleksibel untuk menjaga wilayah kepulauan yang sangat luas dan beragam tantangannya.


Dalam sebuah simulasi pertempuran udara, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi siluman paling hebat.

Kemenangan ditentukan oleh siapa yang mampu mengintegrasikan sensor, senjata, dan taktik tempur dengan paling efisien di medan perang yang kacau.

F-35B Singapura memiliki keunggulan dalam hal serangan kejutan dan kecanggihan sensor fusion yang tak tertandingi saat ini.

Namun, Rafale F4 Indonesia dengan sistem SPECTRA dan rudal Meteor adalah predator yang sangat berbahaya bagi pesawat siluman mana pun yang berani masuk ke jangkauan tembaknya.

Kedua pesawat ini membuat peta kekuatan udara di Asia Tenggara menjadi sangat seimbang, di mana tidak ada satu pihak pun yang bisa menang dengan mudah tanpa pengorbanan besar.

Pada akhirnya, kualitas pilot dan dukungan infrastruktur darat akan menjadi faktor penentu utama dalam duel maut antara dua raksasa udara ini. ***


Sumber: zona jakarta,Defence Security Asia, Simple Flying, Thales Group, MBDA Systems, Omnirole Rafale, Army Recognition

Sumber: Defence Security Asia, Simple Flying, Thales Group, MBDA Systems, Omnirole Rafale, Army RecognitionSumber: Defence Security Asia, Simple Flying, Thales Group, MBDA Systems, Omnirole Rafale, Army RecognitionSumber: Defence Security Asia, Simple Flying, Thales Group, MBDA Systems, Omnirole Rafale, Army Recognition




No comments:

Post a Comment

DISCLAIMER : KOMENTAR DI BLOG INI BUKAN MEWAKILI ADMIN INDONESIA DEFENCE , MELAINKAN KOMENTAR PRIBADI PARA BLOGERSISTA
KOMENTAR POSITIF OK

BERITA POLULER