Pages

Thursday, November 11, 2010

Korea Aerospace Industries (KAI) Mencari Mitra Tambahan Untuk Proyek Jet Tempur KF-X


Model Jet Tempur KFX

Korea Aerospace Industries sedang memberitahukan kepada pihak luar mengenai partisipasi dalam program Jet tempur KF-X, dengan keterlibatan Indonesia yang telah direncanakan, dan belum dapat konfirmasi.

"Kami belum tahu, siapa saja yang  akan bekerja pada  program jet tempur KF-X kita," kata Enes Park, wakil presiden eksekutif di KAI. "Kalau bisa semakin banyak negara bisa masuk" Pemerintah Korea Selatan akan menyediakan 60% dari dana yang diperlukan untuk program tersebut, ia menambahkan, dengan sisanya akan bersumber dari "pihak luar".

Sementara ia tidak mengesampingkan keikutsertaan Indonesia dalam program ini, Park mengatakan KAI sekarang berbicara dengan "beberapa negara".

Pada Farnborough Air Show pada bulan Juli, Korea Selatan menandatangani nota kesepahaman dengan Indonesia, dengan yang terakhir berpotensi memberikan kontribusi hingga 20% dari biaya pengembangan KF-X. Seoul juga dalam diskusi dengan Turki pada waktu itu.

Program ini akan memproduksi sekitar 120 jet tempur KFX untuk angkatan udara Korea Selatan. Namun, potensi harga sekitar $ 8 miliar telah menyebabkan pemerintah Korea Selatan berturut-turut untuk mogok di proyek tersebut dan  memberikan lampu hijau  Keterlibatan negara lain  agar  dapat mengurangi biaya produksi Seoul.

Sumber: FG

Kemenhan Siapkan Roadmap Industri Pertahanan


JAKARTA - Kementrian Pertahanan tengah menyiapkan cetak biru (roadmap) industri pertahanan untuk menciptakan kekuatan pertahanan nasional ke depan. Selain itu, juga sebagai upaya meningkatkan prioritas yang ingin dicapai industri dalam jangka pendek dan jangka panjang.

"Kami tengah menyiapkan roadmap untuk jangka waktu 5 hingga 20 tahun ke depan dalam menjawab tantangan dunia militer masa mendatang," kata Kepala Riset dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Pos Hutabarat, di sela Indodefence Seminar 2010, di Jakarta, Kamis (11/11).

Dalam jangka pendek, kata Pos, pemerintah akan memprioritaskan kekuatan esensi seperti persenjataan, personel, serta infrastruktur untuk perlindungan teritori negara. Sementara, dalam jangka panjang, pemerintah akan mendata jenis peralatan militer apa saja yang akan dibutuhkan di masa mendatang dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun.

"Kami juga berencana bekerja sama dengan supplier asing, karena kita tidak mungkin produksi segala perlengkapan sendiri dimana pemerintah akan membentuk komite yang secara bertahap akan memodernisasi perlatan militer untuk mengisi industri domestik," kata Pos.



Daya Gunakan Industri Pertahanan Nasional

Ditempat yang sama Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan dewasa ini, negara-negara di kawasan dan di belahan bumi lainnya, termasuk Indonesia, dihadapkan pada perkembangan lingkungan strategis yang sangat cepat sehingga dapat memengaruhi fenomena keamanan. Untuk menjawab tantangan tersebut, industri pertahanan nasional perlu lebih jauh mendayagunakan kemajuan teknologi guna membantu pemenuhan kebutuhan dasar serta peningkatan kemampuan TNI dan ketiga Angkatan lainya.

Panglima menyampaikan hal itu saat membuka Seminar Indo Defense 2010 Expo & Forum. Menurut Panglima TNI, pengembangan kemampuan industri nasional yang menghasilkan berbagai perlengkapan militer untuk kebutuhan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara telah terbukti mencapai kemajuan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya inovasi baru terhadap produk-produk yang dapat mendukung kebutuhan alutsista TNI yang dihasilkan oleh berbagai industri strategis seperti PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT INTI, PT Dahana, PT Lapan, dan PT Turen, serta industri lokal lainnya.

Selain Panglima TNI, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro juga memberikan sambutannya dan sekaligus membuka acara seminar Indo Defense Expo & Forum yang berlangsung selama satu hari. Seminar ini diikuti oleh 200 peserta baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Sumber : JURNAS

TNI Terjunkan Satgas Brigade Khusus Merapi


Satuan Tugas Brigade Khusus TNI Penanggulangan Bencana Merapi ini akan ditempatkan di beberapa lokasi seperti Yogyakarta, Magelang, Klaten, Boyolali dan sekitarnya. (Foto: Puspen TNI)

12 Nopember 2010, Jakarta -- Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengerahkan Satuan Tugas Brigade Khusus Penanggulanan Bencana Merapi ke lokasi bencana Gunung Merapi. Satgas yang baru dibentuk ini punya tugas dan tanggung jawab mencari korban yang belum ditemukan, serta mengendalikan penduduk dalam proses evakuasi dari tempat pengungsian.

Komandan Satgaspen Brigade Khusus TNI Letkol TNI Hari Mulyanto dalam surat elektroniknya dari Yogyakarta kepada Suara Karya di Jakarta, Kamis (11/11) menjelaskan, Satgas Brigade Khusus TNI dibagi menjadi dua pasukan. Brigade Khusus TNI ditempatkan di Yogyakarta, Magelang, Klaten, Boyolali dan sekitarnya.

Pasukan pertama yang diberi nama Pasukan Gunung punya tugas mengendalikan penduduk agar tidak masuk ke wilayah bahaya. Selain itu, pasukan ini melakukan penyisiran untuk mencari korban serta melaksanakan evakuasi.

Sementara, pasukan kedua atau Pasukan Pengungsi punya tugas mengevakuasi penduduk dari tempat pengungsian, mendirikan dapur lapangan, mendirikan rumah sakit lapangan dan memberdayakan rumah sakit daerah setempat. "Brigade TNI khusus bencana Gungung Merapi ini bekerja di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB," ujarnya.

Tugas pokok Satuan Tugas Brigade Khusus TNI ini adalah melaksanakan penanggulangan bencana alam Gunung Merapi sampai dengan selesai. (Foto: Puspen TNI)

Brigade Khusus TNI dipimpin Kepala Staf Divisi Infanteri 2/Kostrad Brigjen TNI Syahiding. Jumlah prajurit yang diterjunkan sebanyak 5.117 personel, terdiri dari Madivif 2/Kostrad, Kodam IV/Diponegoro, Kopassus Grup 2, Batalyon Zeni Tempur 10/ 2/K, Batalyon Zeni Tempur 9/1/ K, Batalyon Kesehatan 2/2 K, Batalyon Perbekalan dan Angkutan 2/2/ K, Perhubungan Kostrad dan Yonhub Direktorat Perhubungan AD, unsur Satgas Kesehatan TNI, Batalyon Infanteri 407/PK, Batalyon Infanteri 403/ WP, Batalyon Zeni Tempur 4/PK, Bekangdam IV/DIP, Bekangdam V/BRW, Batalyon Pasukan Marinir 1, Batalyon Pasukan Marinir 2, Batalyon PHASKAS, Lanud Adi Sutjipto, Lanal Yogyakarta, Lanal Semarang, Direktorat Zeni TNI AD, dan Puspen TNI.

Hari mengatakan, pembentukan dan pengerahan Satgas Brigade TNI Khusus Merapi atas dasar UU nomor 34/2004 tentang TNI. Salah satu tugas pokok TNI dalam operasi militer selain perang (OMSP) adalah melaksanakan penanggulanganan bencana.

"Saat ini, Indonesia tengah mengalami bencana alam meletusnya Gunung Merapi Yogyakarta. Untuk membantu menangani bencana tersebut, TNI telah membentuk Satgas Brigade Khusus PB Merapi dengan tugas pokok melaksanakan penanggulangan bencana alam Gunung Merapi sampai selesai," ujarnya.

Siaga penerbangan

Sementara itu, TNI Angkatan Udara (AU) tetap menyiagakan beberapa unit pesawat angkut Hercules di Halim Perdanakusumah Jakarta, untuk mengangkut bantuan logistik dan relawan yang akan disalurkan kepada warga korban letusan Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta.

"Pemerintah telah mengeluarkan larangan penerbangan bagi pesawat komersil hingga tanggal 15 Nopember. Selama larangan itu ada, tentunya hanya pesawat milik TNI AU yang diperbolehkan masuk bandara Adi Sujtipto. Karena itu, kita selalu siagakan pesawat untuk membantu penanggulangan bencana Gunung Merapi," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI Bambang Samoedro.

Selain pesawat Hercules, tutur dia menambahkan, TNI AU menyiagakan pesawat Cassa dan Helikopter yang siap diooperasikan mengangkut bantuan logistik di sekitar lokasi bencana Merapi.

Pada sisi lain, Bambang mengatakan, sebanyak 350 prajurit dari Korps Pasukan Khas (Kopaskhas) TNI AU masih melakukan pencarian terhadap korban gunung merapi yang belum ditemukan.

Suara Karya

LST 117 Meter Rancangan PT PAL


(Foto: Berita HanKam)

11 November 2010 -- Dislitbangal dan PT. PAL Indonesia akan membangun 7 kapal jenis LST dalam kurun waktu 2 tahun. LST modern sepanjang 117 meter akan gantikan LST kelas Teluk Langsa yang telah berusia lebih dari 60 tahun. Sebagian LST kelas Teluk Langsa tidak dioperasikan tetapi tetap dirawat daya apungnya.

Data spesifikasi LST 117 meter

Helipad dibagian buritan. (Foto: Berita HanKam)

Panjang : 117 m
Lebar : 22 m
Kapasitas bahan bakar : 500 ton
Kapasitas air bersih : 600 ton
Kecepatan : maksimal 16 knot/operasional 14 knot
Daya mesin : 2x 2700 Kw
Penumpang : 782 orang; 124 awak kapal, 7 awak helikopter, serta 651 prajurit

Berita HanKam

Panglima TNI: Dayagunakan Industri Pertahanan


Berbagai macam amunisi produksi PT. PINDAD. (Foto: Berita HanKam)

12 November 2010, Jakarta -- Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan dewasa ini, negara-negara di kawasan dan di belahan bumi lainnya, termasuk Indonesia, dihadapkan pada perkembangan lingkungan strategis yang sangat cepat sehingga dapat memengaruhi fenomena keamanan. Untuk menjawab tantangan tersebut, industri pertahanan nasional perlu lebih jauh mendayagunakan kemajuan teknologi guna membantu pemenuhan kebutuhan dasar serta peningkatan kemampuan TNI dan ketiga Angkatan lainya.

Panglima TNI menyampaikan hal itu saat Seminar Indo Defense 2010 Expo & Forum di Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta, Kamis, (11/11), seperti dilansir dalam siaran pers Wakapuspen TNI, Brigjen TNI Avianto Saptono.

Menurut Panglima TNI, pengembangan kemampuan industri nasional yang menghasilkan berbagai perlengkapan militer untuk kebutuhan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara telah terbukti mencapai kemajuan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya inovasi baru terhadap produk-produk yang dapat mendukung kebutuhan alutsista TNI yang dihasilkan oleh berbagai industri strategis seperti PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT INTI, PT Dahana, PT Lapan, dan PT Turen, serta industri lokal lainnya.

Selain Panglima TNI, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro juga memberikan sambutannya dan sekaligus membuka acara seminar Indo Defense Expo & Forum yang berlangsung selama satu hari. Seminar ini diikuti oleh 200 peserta baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Kemenhan siapkan roadmap industri pertahanan

Kementrian Pertahanan tengah menyiapkan cetak biru (roadmap) industri pertahanan untuk menciptakan kekuatan pertahanan nasional ke depan. Selain itu, juga sebagai upaya meningkatkan prioritas yang ingin dicapai industri dalam jangka pendek dan jangka panjang.

"Kami tengah menyiapkan roadmap untuk jangka waktu 5 hingga 20 tahun ke depan dalam menjawab tantangan dunia militer masa mendatang," kata Kepala Riset dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Pos Hutabarat, di sela Indodefence Seminar 2010, di Jakarta, (11/11).

Dalam jangka pendek, kata Pos, pemerintah akan memprioritaskan kekuatan esensi seperti persenjataan, personel, serta infrastruktur untuk perlindungan teritori negara. Sementara, dalam jangka panjang, pemerintah akan mendata jenis peralatan militer apa saja yang akan dibutuhkan di masa mendatang dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun.

"Kami juga berencana bekerja sama dengan supplier asing, karena kita tidak mungkin produksi segala perlengkapan sendiri dimana pemerintah akan membentuk komite yang secara bertahap akan memodernisasi perlatan militer untuk mengisi industri domestik," kata Pos.

JURNAS

Kapal Cepat Rudal Nasional 40 Meter


Model Kapal Cepat Rudal KCR-40 diproduksi di PT Palindo Marine Shipyard Batam. (Foto: Berita HanKam)

12 November 2010 -- TNI AL bekerja sama dengan PT Palindo Marine Shipyard Batam membuat Kapal Cepat Rudal KCR-40. Badan kapal bagian bawah dari bahan aluminium baja sedangkan bagian atas fiberglass. Harga kapal Rp 60 milyar, diluar sistem persenjataan senilai 200 juta dolar. TNI AL akan membeli sistem persenjataan dari negara barat sedangkan rudal anti kapal buatan Cina. TNI AL telah memesan 22 kapal jenis ini hingga 2014.

Panjang kapal 43 m, kecepatan 27 knot ditenagai mesin 3x MAN V12 masing-masing menghasilkan tenaga 1800 HP 2300 RPM. Kapal dilengkapi 43 tempat tidur.

Kapal dipersenjatai sepucuk meriam, dua senapan mesin 12,7 mm, empat peluncur rudal anti kapal serta peluncur rudal anti serangan udara.

Berita HanKam

LST 117 Meter Rancangan PT, DKB


LST 117 Meter rancangan PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero). (Foto: Berita HanKam)

12 November 2010 -- PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero) merancang kapal pengangkut tank (LST) 117 meter guna menggantikan LST TNI AL yang sudah uzur. Kapal dipersenjatai dua pucuk meriam di bagian haluan dan dua di buritan serta mampu didarati satu helikopter di bagian buritan.

Kapal dapat membawa 162 awak kapal, 10 awak helikopter serta 733 pasukan. Daya angkut kapal lebih besar dibandingkan LST rancangan PT. PAL, dimana 124 awak kapal, 7 awak helikopter dan 651 pasukan.

TNI AL membutuhkan sedikitnya tujuh LST untuk menggantikan LST eks Amerika Serikat yang telah berumur 60 tahun.

PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero) telah membuat kapal tunda samudera KRI Louser.

Berita HanKam

BERITA POLULER