Pages

Monday, October 24, 2011

Inggris latih ZEE untuk Asia Tenggara



Senin, 24 Oktober 2011 13:15 WIB | 819 Views
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara memiliki perbatasan laut dengan banyak negara. Di antara yang menonjol dan memerlukan perhatian serius adalah perbatasan maritim di Kepulauan Natuna, Laut China Selatan. (istimewa)
 ... Perbedaan interpretasi dapat memperburuk stabilitas regional itu...

Jakarta, 24/10 (ANTARA) - Inggris mengadakan pelatihan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Jakarta untuk beberapa negara di kawasan Asia Tenggara ditambah Papua Nugini dengan tujuan membantu penyelesaian masalah maritim di wilayah tersebut.

Pelatihan yang akan berlangsung 24-28 Oktober 2011 ini dibuka Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementrian Pertahanan, Mayor Jenderal TNI Suwarno, di Jakarta, Senin.

Konflik perbatasan, pencurian ikan, dan pembajakan kapal merupakan isu utama yang akan dibahas karena kawasan Asia Tenggara beberapa kali mengalami kejadian tersebut.

Dalam masalah batas laut, potensi konflik tersebut bisa dilihat dari klaim bersama antara Vietnam, Brunei, Malaysia, Filipina, dan Taiwan atas Kepulauan Spratly di Laut China Selatan.

Sedangkan pencurian ikan juga sering terjadi di wilayah ini, terakhir sembilan kapal pencuri ikan Indonesia dari Vietnam tertangkap perairan Natuna, 29 September lalu.

Delegasi Indonesia yang menghadiri pelatihan ini berjumlah 32, Malaysia dan Singapura mengirim satu wakil dan sisanya masing-masing dua. 

Instruktur pelatihan adalah Mayor Ted Bath yang sudah berpengalaman mengadakan pelatihan sejenis sebanyak 23 kali, delapan kali di Inggris dan 15 di luar Inggris. Di Jakarta sendiri, pelatihan ini sudah dilakukan lima kali.

Unit Pelatihan Internasional dan Persemakmuran (International and Commonwealth Training Unit/ICTU) yang merupakan bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris akan menjadi pelaksana pelatihan tersebut.

"Indonesia dan negara-negara tetangga sering mengalami persoalan berkaitan dengan batas teritorial laut, pelatihan ini diharapkan mampu menyelesaikan beberapa persoalan tersebut," kata Suwarno dalam sambutan sebelum membuka pelatihan.

Persoalan perbatasan laut itu, katanya, disebabkan sulit untuk mengimplementasikan hukum laut internasional dan ZEE yang sudah diratifikasi sejak 1992.

"Kehadiran peserta dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, negara Timor Timur, dan Papua Nugini akan membantu penyelesaian masalah perbatasan, pembajakan kapal, dan terorisme di wilayah ini," kata dia.

Sementara Atase Pertahanan Kedutaan Inggris untuk Indonesia, Kolonel Philip Thorpe, melalui rilis media mengatakan, kesulitan itu implementasi hukum laut internasional itu disebabkan keragaman bahasa yang digunakan dalam hukum itu. Alhasil, interpretasinya berbeda-beda. 

"Perbedaan interpretasi dapat memperburuk stabilitas regional itu. Pelatihan ZEE yang dihadiri perwakilan dari tujuh negara tetangga akan memungkinkan mereka berbagi pesan yang sama sehingga sikap saling menghormati dan memahami dapat terbangun," kata Thorpe. (SDP-14)

ANTARA

PT Dirgantara Indonesia serahkan komponen ke-2.000 A320/A321



Senin, 24 Oktober 2011 15:14 WIB | 83 Views
Ikon revolusioner Airbus Industrie, A380, sedang mengudara di Eropa. Konsorsium industri penerbangan 11 negara Eropa itu telah memberi kepercayaan kepada PT Dirgantara Indonesia untuk membuat komponen-komponen kunci dalam struktur pesawat terbang komersial dari seri menengah mereka, A320/A321. (REUTERS/Gonzalo Fuentes)
 ... ini patut disyukuri karena menjadi bukti semakin kuat kepercayaan mitra kerja PT DI, terutama Airbus Industrie...

Bandung (ANTARA News) - Ada satu sejarah penting dicetak PT Dirgantara Indonesia (PT DI) pada 20 Oktober 2011 lalu. Pabrikan pesawat terbang satu-satunya di Asia Tenggara ini mengirimkan komponen ke-2.000 pesawat komersial Airbus A320/A321.

Jadi, kalau kita nanti terbang di dalam A320/A321 produksi akhir, maka penerbangan itu juga disumbang dari industri penerbangan dalam negeri PT Dirgantara Indonesia dari hanggar produksinya, di wilayah Andir, Kota Bandung, Jawa Barat.

"Prestasi ini patut disyukuri karena menjadi bukti semakin kuat kepercayaan mitra kerja PT DI, terutama Airbus Industrie," kata Direktur Aerostructure PT DI, Andi Alisjahbana, di Bandung, Senin.

Sejak 2005, melalui "Program Paragon", PT Dirgantara Indonesia telah mendapat kepercayaan penuh membuat sebagian dari komponen sayap Airbus A320/A321 dari Airbus Industrie.

Konsorsium pembuatan pesawat terbang Eropa Barat yang bermarkas besar di Toulouse, Perancis, ini memilih PT DI karena kinerjanya yang baik dengan harga kompetitif dan pematuhan jadual kontrak yang unggul.

Dalam kontrak dengan Airbus Industrie itu, PT DI berkewajiban membuat dan mengirimkan bagian sayap pesawat terbang A320/A321. Bagian-bagian sayap utama itu adalah  Pylon Assy Port/STBD, Assy Fixed Leading Edge INBD (D Nose) dan Leading Edge Skin Assy. Kontrak pembuatan sebagian komponen sayap A320/A321 ini akan berakhir pada 2015.

Dua komponen terakhir menentukan kekuatan dan daya angkat sayap pesawat terbang sementara yang pertama terkait dengan kompartemen tempat mesin pesawat terbang komersial ditempatkan.

Dalam dunia industri penerbangan, penerapan standar baku mutu internasional dan regulasi-regulasi ketat selalu terjadi; inilah yang tidak mampu dipenuhi banyak perusahaan pembuat komponen atau pabrikan pesawat terbang lain. PT DI dinilai mampu mengatasi semua persyaratan itu oleh internasional.

Kontrak pembuatan komponen sayap dari Airbus Industrie itu, katanya, semakin meningkatkan kepercayaan mitra kerja internasional.

"Di sisi lain itu peningkatan kemampuan karyawan PT DI, karena selama enam tahun telah berhasil memberikan sumbangsih berarti, baik bagi PT DI maupun bagi dunia kedirgantaraan Eropa khususnya, dan umumnya bagi kedirgantaraan dunia," kata Alisjahbana.

Secara khusus, Alisjahbana mengucapkan terimakasih kepada seluruh karyawan PT DI yang dengan penuh dedikasi dan loyalitas telah bekerja tanpa mengenal lelah demi tercapainya target penyerahan komponen A320/A321 yang ke-2000 secara tepat waktu.

Pesawat Airbus A320 dan A319 (lebih kecil) yang sekelas dan bersaing ketat dengan Boeing B-737 buatan Boeing di Everett, Georgia, Amerika Serikat, terhitung produk konsorsium Airbus Industrie yang paling populer dan diproduksi dalam jumlah besar.

PT DI selama 20 tahun terakhir telah membuat banyak pesawat dan senjata, baik untuk tujuan ekspor maupun untuk kepentingan di dalam negeri.  Selain itu telah banyak pula personil ahli perusahaan tersebut yang dikirimi untuk membantu pabrik pembuatan pesawat, seperti ke Iran, Korea Selatan dan Turki.

Pesawat CN-235 produk kerjasama PT DI (semasa masih bernama PT IPTN) dengan CASA Spanyol pada pertengahan 1980-an hingga kini dikenal sebagai pesawat transpor sipil dan militer yang sangat handal.

Pemakai-pemakai CN-235, selain negara-negara itu, juga termasuk AS dan Perancis. (E004)
Editor: Ade Marboen

ANTARA

Presiden-Menhan AS Bahas Peningkatan Hubungan Bilateral



Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro (3 kanan) memimpin delegasi Indonesia saat mengadakan pertemuan bilateral dengan delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat, Leon E Panetta (3 kiri) di sela Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN (ADMM) di Nusa Dua, Bali, Minggu (23/10). Pertemuan tiga hari itu diawali dengan pertemuan tingkat pejabat tinggi (SOM) dan menteri dari 10 negara ASEAN untuk membahas kerjasama negara anggota serta tantangan ke depan. (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/ed/nz/11)

24 Oktober 2011, Nusa Dua (ANTARA News): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat dapat terus dipertahankan dan meningkat.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden Yudhoyono saat menerima Menteri Pertahanan AS Leon Panetta di Nusa Dua, Bali.

"Saya ucapkan terima kasih atas kerjasama bilateral (kedua negara)," kata Presiden di awal pertemuan tertutup yang berlangsung lebih kurang 45 menit itu.

Sementara itu Panetta memuji keindahan Pulau Dewata dan menyampaikan apresiasinya atas keramahan budaya setempat.

Menko Polhukam Djoko Suyanto seusai pertemuan menjelaskan bahwa pertemuan itu membahas peningkatan kerjasama kedua negara.

Djoko mengatakan bahwa Panetta selaku menhan baru AS menyatakan keinginannya untuk tetap menjalin kerja sama dengan negara-negara ASEAN.

"Tetap bahwa Indonesia dan ASEAN," ujarnya seraya mengatakan bahwa Indonesia dan AS memiliki sejarah panjang kerjasama bilateral antara lain di bidang maritim dan kontra terorisme.

Turut mendampingi Presiden dalam pertemuan itu adalah Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Duta Besar RI untuk AS Dino Patti Djalal.

Pada Minggu sore (23/10), Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panetta telah melakukan pertemuan di sela-sela ASEAN Defence Ministerial Meeting untuk membahas kerja sama bidang militer.

Menurut Purnomo dalam pertemuan itu pemerintah Amerika Serikat menyatakan komitmennya untuk menyediakan alat utama sistem senjata (Alutsista) bagi Indonesia.

Namun ia mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui jenis alutsista yang akan diberikan kepada Indonesia.

Selain itu, kata Purnomo, pemerintah Amerika Serikat juga mendukung pembentukan ASEAN Security Community yang akan diwujudkan pada 2015.

"Indonesia juga berencana mengembangkan keamanan maritim karena dua per tiga wilayah Indoneisa adalah lautan," katanya.

Purnomo mengatakan, saat ini Amerika juga sudah membantu dengan pemasangan sistem radar di Selat Malaka, dan akan dikembangkan di selat Sulawesi.

Sementara itu Kepala Negara melakukan kunjungan kerja selama empat hari di Bali, 21-24 Oktober, guna antara lain membuka ASEAN Fair.

Sumber: ANTARA News

Sunday, October 23, 2011

SEOUL AIR SHOW: Sneak-peek of K-FX cockpit



KFX cockpit.jpgTucked into a corner of the Samsung Thales exhibit booth was a small room labeled "Next Generation Aircraft Display". Inside was a demonstration cockpit, and a clue to one of the key pieces of South Korea's indigenous K-FX stealth fighter. An attendant who spoke only slightly more English than we can speak Korean seemed to express that this was a new KF-16 cockpit. But the image on the large area display showing a fighter with canards and a canted tail gave the secret away. This was the locally developed cockpit concept for the fighter South Korea hopes to develop by 2020.

KFX cockpit close-up.jpg

SEOUL AIR SHOW: KF-X vision unveiled



KFX poster crop.jpgIn a seminar today at the Seoul Air Show, South Korean government officials outlined the strategy and plans for the KF-X, a twin-engined stealth fighter with a design goal of achieving manoeuvrability, speed and range performance between a Lockheed Martin F-16 and a Boeing F-15.

South Korea wants to develop the KF-X over the next nine years, with mass production beginning after 2020. Indonesia has already joined the programme, and talks with Turkey are continuing.

If developing an all-new stealth fighter is not enough of a challenge, South Korea also intends to equip the KF-X with a set of all-new weapons, including indigenous missiles in the Raytheon AIM-9 Sidewinder and AIM-120 AMRAAM class, guided bombs and an anti-ship missile. South Korean officials have released a development budget estimate of about US$5 billion, which seems (wildly?) optimistic.

KF-X has previously been pictured with canards, but that concept was nowhere in today's presenations. Instead, the KF-X appears to have morphed into a more conventional fighter. It appears similar a two-engine variant of the Lockheed F-35. This is Korea's vision for the KF-X. Eurofighter presented an alternative vision of KF-X, which I will present later. 

KFX two view crop.jpg
KFX ROKAF colours.jpg

KFX wind tunnel model.jpg
http://www.flightglobal.com/blogs/the-dewline/2011/10/seoul-air-show-kf-x-vision-unv.html

ADMM Retreat: Menhan Se-ASEAN Pertemuan Informal dengan Menhan AS



Nusa Dua, Bali, DMC - Sejumlah Menteri  Pertahanan se-ASEAN, Minggu (23/10) telah tiba di Nusa Dua, Bali dalam rangka menghadiri ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM) Retreat 2011. ADMM Retreat merupakan pertemuan tingkat Menhan Se-ASEAN yang akan berlangsung besok Senin (24/10).
Pada Minggu Sore, Menhan se-ASEAN mengadakan pertemuan informal dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta yang juga tengah berkunjung ke Indonesia.
Pertemuan selama kurang lebih dua jam tersebut terlihat berlangsung penuh dengan suasana keakraban dan persahabatan. Pertemuan diakhiri dengan photo bersama dan konperensi press bersama Menhan Amerika Serikat dengan Menhan Se-ASEAN.
Dalam konferensi press, Menhan Amerika Serikat menyatakan bahwa dirinya merasa sangat terhormat menjadi tamu dalam pertemuan Menhan Se-ASEAN.
ADMM Retreat dihadiri Menhan dari sepuluh negara anggota ASEAN antara lain, Brunei Darussalam, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapura, Thailand dan  Vietnam.(BDI/SR

SUMBER DMC

Indonesia - Amerika Sepakat Tingkatkan Hubungan Kerjasama Pertahanan



Nusa Dua, Bali, DMC - Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Purnomo Yusgiantoro mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta, Minggu (23/10) di Nusa Dua, Bali. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan beberapa hal terkait hubungan kerjasama kedua negara khususnya kerjasama pertahanan. Kedua belah pihak sepakat untuk meningkatkan kerjasama yang telah ada.
“Kedua negara menyampaikan apresiasi masing – masing atas hubungan bilateral yang meningkat  dan hubungan ini akan terus kita lakukan dan tingkatkan terutama hubungan militery to militery dan defence to defence”, ungkap Menhan RI dalam konferensi pers.
Lebih lanjut Menhan RI mengungkapkan, dalam pertemuan bilateral tersebut Menhan Amerika Serikat menyampaikan dukungan penuh Amerika Serikat terhadap  upaya Indonesia dalam modernisasi Alutsista TNI. Menhan Amerika Serikat menyatakan dukungannya dan siap membantu apa yang dibutuhkan TNI terutama dalam bidang peningkatan kapabilitas.
Menanggapi hal tersebut, Menhan RI menyampaikan terimakasih atas dukungan Amerika Serikat kepada Indonesia dalam upaya memodernisasi Alutsista TNI. Modernisasi Alutsista TNI diperlukan karena sejak reformasi tahun 1998 masih fokus dalam melakukan reformasi TNI yang meliputi depolitisasi dan debisnisasi TNI,  disamping juga masih dalam upaya pemulihan ekonomi. “Saat ini kondisi ekonomi Indonesia sudah cukup meningkat, sehingga sudah saatnya untuk melakukan modernisasi Alutsista TNI”, tambah Menhan.
Selain membicarakan peningkatan hubungan kerjasama pertahanan kedua negara, dalam kesempatan tersebut Menhan RI juga menyampaikan beberapa hal diantara terkait situasi di Papua dan pembangunan Peace Keeping Centre (PKC) di Sentul.
Terkait situasi di Papua, Menhan RI menjelaskan bahwa sebagaimana berlaku di negara- negara lain, Pemerintah Indonesia juga bersikap tegas terhadap kegiatan sparatis di Papua, termasuk tindakan makar dan mengibarkan bendera OPM yang mengararah ingin memisahkan diri dari NKRI.
Sedangkan terkait pembangunan PKC, Menhan menjelaskan bahwa PKC yang saat ini sedang dibangun oleh Indonesia nantinya diperuntukan untuk four in one yaitu counter terrorism, penanggulangan bencana,standby forces dan pusat bahasa.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Menhan RI didampingi Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Pati Jalal, Sekretaris Jenderal Kemhan RI Marsdya TNI Eris Heryanto, S.IP, M.A., dan  Dirjen Strategi Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Puguh Santoso, ST., M.Sc., dan sejumlah pejabat di jajaran Kemhan RI dan Mabes TNI.
Kedatangan Menhan AS di Bali  merupakan rangkaian kunjungan pertamanya ke Asia, yakni Indonesia, Jepang dan Korea Selatan. Selama di Bali, selain pertemuan bilateral dengan Menhan RI, Menhan Amerika Serikat juga mengadakan pertemuan informal dengan Menhan Se-ASEAN yang juga tengah berada di Bali dalam rangka menghadiri ADMM Retreat 2011.(BDI/SR)

DMC

BERITA POLULER