Pages

Monday, May 9, 2011

Kapal Perang Taiwan Dipersenjatai Rudal Supersonik


(Foto: AFP)

9 Mei 2011, Taipei (Berita HanKam): Taiwan telah menempatkan rudal supersonik Hsiung Feng III di kapal perang sebagai respon pengembangan kekuatan angkatan laut Cina, ucap Lin Yu-fang anggota parlemen mengutip pernyataan Vice Admiral Lee Hao, Minggu (8/5).

Sejumlah kapal perang telah dipersenjatai rudal Hsiung Feng III, termasuk 8 frigate kelas Perry dan 7 kapal patroli. Nilai proyek pembelian rudal 413 juta dolar, tetapi tidak disebutkan jumlah rudal yang telah diproduksi.

Para analis militer mengatakan Hsiung Feng III, dirancang mampu mencapai kecepatan maksimal 2 atau 3 march.

Taiwan juga merencanakan membangun kapal patroli siluman dan dipersenjatai rudal tahun depan.

Sumber: AFP
Berita HanKam

TNI Bantu Evakuasi Kecelakaan di Dungu



tni_kongo2Kongo, Seruu.com -  Ditengah kesibukan pembangunan jalan Dungu-Faradje yang dilaksanakan oleh Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-H/Monusco Pimpinan Letkol Czi Widiyanto (Dansatgas), sekitar pukul 11.00 LT, telah terjadi kecelakaan maut yang mengakibatkan enam orang meninggal dunia, 12 orang luka berat dan ringan. Pada saat kejadian kecelakaan, Kontingen Indonesia sedang giatnya melaksanakan pembangunan jalan Dungu-Faradje yang sudah mencapai KM 129.
Kecelakaan terjadi di KM 105, 500 M dari Camp Bumi Cenderawasih 2. Pada saat itu ada seorang masyarakat yang melaporkan kejadian kecelakaan tersebut, kemudian melalui alat komunikasi pada pukul 11.15 LT memberitahukan ke lokasi Clearing Road  dan langsung di respon oleh Wadansatgas Mayor Czi Bambang Iswandaru (lokasi kerja). Mendengar ada kejadian kecelakaan tersebut, Wadansatgas segera memerintahkan Danton 3 (Lettu Mar Ahmad Muthohar) untuk segera mundur ke belakang dan melakukan aksi evakuasi jenazah dan korban luka-luka.
Evakuasi yang dilakukan Kontingen Indonesia terhadap masyarakat Kongo yang mengalami kecelakaan itu, melibatkan 15 personel TNI, dua Dum truk dan satu ambulan Satgas yang kemudian dibawa ke rumah sakit umum Kota Dungu. Sedangkan Truk Unimog yang mengalami kecelakaan tersebut langsung ditarik ke atas jalan raya yang selanjutnya diserahkan kepada pihak yang berwajib guna  dilakukan identifikasi lebih lanjut.
Adapun tujuan kendaraan yang mengalami kecelakaan tersebuat adalah dari Kota Dungu menuju Faradje yang mengangkut para pedagang yang naik sepeda dan lain-lain.  Karena terlihat semua penumpang ada yang membawa sepeda dan barang-barang dagangan serta berpenumpang melebihi kapasitas muatan truk Unimog dan mereka rata-rata selalu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. [puspen/is]

Kapal Perang Taiwan Dipersenjatai Rudal Supersonik


(Foto: AFP)

9 Mei 2011, Taipei (Berita HanKam): Taiwan telah menempatkan rudal supersonik Hsiung Feng III di kapal perang sebagai respon pengembangan kekuatan angkatan laut Cina, ucap Lin Yu-fang anggota parlemen mengutip pernyataan Vice Admiral Lee Hao, Minggu (8/5).

Sejumlah kapal perang telah dipersenjatai rudal Hsiung Feng III, termasuk 8 frigate kelas Perry dan 7 kapal patroli. Nilai proyek pembelian rudal 413 juta dolar, tetapi tidak disebutkan jumlah rudal yang telah diproduksi.

Para analis militer mengatakan Hsiung Feng III, dirancang mampu mencapai kecepatan maksimal 2 atau 3 march.

Taiwan juga merencanakan membangun kapal patroli siluman dan dipersenjatai rudal tahun depan.

Sumber: AFP
Berita HanKam

Awak KRI Frans Kaisiepo-368 Menjadi Observer



5 Mei 2011, Beirut (Dispenarmatim): Tim Observer dari KRI Frans Kaisiepo-368 diberi kesempatan melihat langsung prosedur Tim Boarding Exercise BNS Madhumati P911 pada latihan bersama antara unsur-unsur Maritime Task Force/UNIFIL.

Kedua perwira KRI Frans Kaisiepo-368 yang diberi kesempatan sebagai Tim Observer tersebut adalah Lettu Laut (P) Ikhlas Makmur yang sehari-hari menjabat sebagai Kadiv PIT dan Lettu Laut (KH) Septo Harmoko yang sehari-sehari menjabat sebagai Dantim I Kopaska.

Komandan Maritime Task Force/UNIFIL Rear Admiral Luiz Henrique Caroli sebelumnya memberikan apresiasi positif kepada Tim Boarding Exercise KRI Frans Kaisiepo-368 yang telah melaksanakan latihan bersama dengan FGS Hyane P6130 pada tanggal 27 April 2011 dengan sukses, aman dan lancar. Latihan Boarding Exercise yang dilaksanakan oleh KRI Frans Kaisiepo-368 yang dilaksanakan sebelumnya merupakan yang pertama kali dilaksanakan oleh unsur Maritime Task Force/UNIFIL pada periode ini.

Selanjutnya beliau menyarankan kepada unsur Maritime Task Force/UNIFIL lainya untuk melasanakan latihan Boarding Exercise guna meningkatkan profesionlisme Tim Boarding Exercise tiap-tiap unsur.

Latihan Boarding Exercise kali ini yang dilaksanakan di Zone 1 Center pada pukul 14.00-15.00 LT tersebut melibatkan tiga unsur Maritme Task Force/UNIFIL yaitu KRI Frans Kaisiepo-368 (Indonesia) sebagai Replying Unit/MIO Commander, BNS Madhumati P911 (Bangladesh) dan FGS Mosel A512 (Jerman).

Pada Boarding Exercise kali ini, BNS Madhumati P911 sebagai Unit MTF melaksanakan MIO/hailing terhadap motor vessel yang diperankan oleh FGS Mosel A512. Selanjutnya data kapal yang diperoleh hasil hailing, dilaporkan kepada MIO Commander (KRI Frans Kaisiepo-368), selanjutnya dilaporkan ke Naval Operation Center (NOC)/Maritime Task Force/UNIFIL yang kemudian berkoordinasi dengan LAF-Navy. Atas dasar persetujuan dan permintaan LAF-Navy, agar dilaksanakan pemeriksaan oleh Tim Boarding. Selanjutnya MIO Commander (KRI Frans Kaisiepo-368) menginstruksikan Unit MTF (BNS Madhumati P911) melaksanakan pemeriksaan terhadap motor vessel tersebut (FGS Mosel A512) dengan didampingi oleh LLO dari LAF-Navy ESN Hassan Djafar.

Setelah selesai melaksanakan latihan Tim Observer dari KRI Frans Kaisiepo-368, BNS Madhumati P911, dan FGS Mosel A512 melakukan koordinasi serta menarik beberapa kesimpulan sebagai koreksi dan bahan evaluasi terhadap pelaksanaan Boarding Exercise kali ini serta pelaksanaan Boarding Exercise berikutnya.

Sumber: Dispenarmatim

ASEAN Mampu Tengahi Barat - Muslim


Senin, 9 Mei 2011 13:44 WIB | 462 Views
Sekjen ASEAN, Surin Pitsuwan (FOTO.ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan menyatakan pada Senin bahwa proses rekonsiliasi antara dunia barat dengan Muslim dapat ditengahi oleh ASEAN.

"Jalur rekonsiliasi antara dunia barat dan Muslim dapat melalui ASEAN," kata Surin, dihadapan diplomat dari berbagai negara sahabat dalam pernyataan paska Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-18 di Sekretariat ASEAN, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, ia menanggapi kesanggupan ASEAN dalam menyelesaikan pergolakan politik yang sedang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara pada awal tahun ini.

Ia menjelaskan bahwa inti permasalahan terletak pada menyeimbangkan antara tradisi dan kehidupan masa kini secara kondusif terhadap perkembangan dan "good governance".

Surin memaparkan bahwa Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam pada tingkat tertentu telah mencapai kesuksesan.

"Kami memiliki pengalaman dan keberhasilan mengenai proses tersebut," ucapnya dihadapan para diplomat negara sahabat dan wartawan.

Tidak ada kawasan lain di dunia yang lebih beragam disbanding Asia Tenggara, katanya.

"Namun Anda tidak akan melihat masalah serius perselisihan komunal, karena kami dapat menangani permasalah itu," katanya.

KTT tahun ini membicarakan sejumlah permasalahan, seperti kejahatan transnasional, penyeludupan manusia, keamanan kawasan termasuk keamanan energi dan makanan, serta persiapan pencapaian Komunitas ASEAN pada 2015.

Indonesia, selaku Ketua ASEAN 2011, memiliki fokus untuk mempromosikan inisiatif ASEAN pasca-2015, yaitu Komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Bangsa-Bangsa.

Inisiatif tersebut dicuatkan agar kawasan Asia Tenggara menjadi semakin tanggap menghadapi tantangan dan mampu memberikan jalan keluar terhadap berbagai permasalahan di tingkat global,

Pembentukan Komunitas ASEAN berlandaskan tiga pilar yaitu Komunitas Keamanan, Komunitas Ekonomi, dan Komunitas Sosial Budaya.

ASEAN terdiri dari Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.

(KR-IFB/S026)


Antara

Pindad Musnahkan 45 Ton Bahan Peledak Kadaluarsa


LUMAJANG - PT Perusahaan Industri Angkatan Darat (Pindad) Jum’at, (6/5), mulai memusnahkan 45 ton bahan peledak kadaluwarsa.

Pemusnahan dilakukan di Lapangan Tembak (Air Shoot Range) TNI Angkatan Udara di Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, proses pemusnahan dilakukan secara bertahap dan diperkirakan berlangsung hingga Jum’at (13/5) pekan depan.

Wartawan Tempo tidak bisa menyaksikan langsung pemusnahan tersebut. Pintu masuk di kawasan Air Shoot Range ditutup. Tidak seorang pun diperbolehkan masuk.

Aparat TNI Angkatan Udara yang berjaga di pintu masuk menuju lapangan tembak mengingatkan Tempo agar tidak meliput kegiatan tersebut. “Jangan diliput,” ucapnya.

Informasi resmi kegiatan pemusnahan bahan peladak tersebut hanya diperoleh Tempo dari Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lumajang, Soetomo.

“Kami diminta bantuan oleh PT Pindad untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, seperti terjadi kebakaran,” katanya, Jum’at siang, 6 Mei 2011.

Menurut Soetomo, PMK menerjunkan satu unit mobil pemadam kebakaran beserta tiga personil dan empat tabung alat pemadam kebakaran ringan. “Kami hanya antisipasi saja. Bagaimana pelaksanaan pemusnahan, kami tidak tahu,” ujarnya.

Sementara itu, sumber Tempo di lokasi pemusnahan menjelaskan, penanggung jawab operasional kegiatan pemusnahan adalah Kepolisian Daerah Jawa Timur. “Surat perintahnya langsung dari Kapolda,” paparnya.

Suni, 40 tahun, warga Desa Jatimulyo, Kecamatan Kunir, yang berbatasan dengan Desa Pandanwangi, mengatakan kegiatan pemusnahan sudah biasa terjadi.

“Biasanya, setelah usai latihan perang dan ada bom yang tidak meledak, maka akan dimusnahkan,” tutur Suni saat ditemui di rumahnya.

Suni juga mengatakan, proses pemusnahan tidak menimbulkan ledakan. “Informasinya hanya dibakar saja,” kata Suni.

Itu sebabnya Suni dan warga lainnya tidak merasa khawatir dengan proses pemusnahan bom kadaluwarsa tersebut. “Masyarakat juga dilarang memasuki kawasan lapangan tembak selama kegiatan pemusnahan berlangsung,” kata Suni.

Warga setempat sempat mendengar satu kali suara ledakan yang berasal dari lapangan tembak yang menjadi lokasi pemusnahan. “Baru sekali berbunyi ledakan. Tetapi tidak begitu besar,” kata seorang warga yang berada sekitar dua kilometer dari lokasi pemusnahan. Hingga berita ini ditulis belum diperoleh konfirmasi dari pihak PT. Pindad.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Pride of the Seas


07 Mei 2011

HTMSChakri Naruebet is docked at Juk Samet naval base in Sattahip district of Chon Buri. The aircraft carrier has been deployed in disaster relief operations and to protect maritime resources. (photo : Thiti Wannamontha-Bangkok Post)
Navy's flagship is first port of call in emergencies

Serving the country for 14 years, aircraft carrier HTMS Chakri Naruebet has been a protector of marine resources and linchpin of disaster relief operations.

The government approved the building of the navy's 7.1 billion baht flagship in 1992 after Typhoon Gay devastated Chumphon province and other southern provinces in 1989.

Since then, the aircraft carrier has been used in several disaster relief operations under the codename 911.

It is not only the Royal Thai Navy's largest warship, HTMS Chakri Naruebet is also Southeast Asia's largest helicopter carrier with a full-load displacement of 11,544 tonnes and can sail in wave heights of 13.8 metres.

The carrier is 30.5 metres wide and 182.6 metres long, and as high as a 12-storey building. Its dock is about 4,000 square metres.

Constructed at Bazan shipyard in Spain, the ship was commissioned into the navy on March 20, 1997.

His Majesty the King named it Chakri Naruebet, meaning "The Honour of the Chakri Dynasty".

Her Majesty the Queen presided over the launch of the carrier on Jan 20, 1996, at the Bazan dockyard.

The carrier has brought pride to the navy. About 30,000-40,000 Thais visit the ship every month at Juk Samet naval base in Sattahip district of Chon Buri.

One of six Seahawk helicopters on the carrier prepares for take-off. (photo : Bangkok Post)
"HTMS Chakri Naruebet is the Thai people's ship as it was bought with taxpayer money. Thais are allowed to visit the ship free of charge," said Suvin Jangyodsuk, commanding officer of the aircraft carrier.

"The navy is responsible for taking care of the people's property and is ready to protect our territorial waters and marine resources. We are also ready for disaster relief operations." Captain Suvin is the fifth commander of the ship since it was launched.

During the 1997 economic crisis, the ship did not engage in training exercises due to naval budget cuts.

When the economy improved, the carrier was taken out of for exercises at least one to two times a month.

Capt Suvin said 451 personnel are stationed on the carrier and that number can exceed 600 during special exercises.

HTMS Chakri Naruebet was constructed by Spanish shipbuilders Bazan/Navantia. (photo : Naval Technology)

The carrier has been deployed on several disaster relief operations, including in the aftermath of the 2004 Indian Ocean earthquake and tsunami when it transported more than 700 bodies.

During the floods in the South in March, the ship was sent to Surat Thani and plucked 734 stranded visitors from Koh Tao. "We were the first agency to reach flood-hit people," said Capt Suvin.

The carrier has a fully equipped hospital with more than 40 beds.

In the event of a territorial dispute, the carrier serves as a floating operation command centre. In peace time, it is duty-bound to protect the country's marine resources and help people affected by natural disasters.

Naval personnel man an anti-aircraft gun. (photo : Bangkok Post)

The officers' uniforms make the aircraft carrier more colourful. They don red, yellow, green, purple and white uniforms depending on the section they are attached to. Those wearing red uniforms belong to the firefighting section, for example, while those in yellow work for the air traffic control unit.

The carrier has a kitchen with the capacity to feed almost 500 personnel.

Chief Petty Officer 1st Class Chamnong Saengkham, 58, the head chef, said 15 staff prepare meals for everyone. His team cooks 50 kilogrammes of rice a day for three meals. Vegetables, meat and other ingredients are bought fresh from a market in Sattahip district.

Petty Officer 1st Class Thitipong Thongyoi, 29, said he was proud of being a crew member on the country's largest naval vessel.

HTMS Chakri Naruebet in side view (image : Shipbucket-MConrads)

Floating Facts

HTMS Chakri Naruebet

Builder: Bazan of Spain
Keel-laying ceremony: July 12, 1994
Launched: Jan 20, 1996
Commissioned: March 20, 1997

Length: 182.6 metres (overall)
Beam:22.5 metres (flight-deck waterline), 30.5 metres (maximum)
Height (flight deck): 18.5 metres
Height (masthead): 42 metres
Draught: 6.2 metres
Displacement: 11,544 tonnes (fully laden)
Cruising speed: 12 knots
Maximum speed: 27 knots
Range: 10,000 nautical miles at 12 knots
Propulsion:Combined diesel or gas (CODOG) turbine system
- 2 x GE LM2500 gas turbines
- 2 x Bazan-MTU 16V 1163 TB83 diesel engines
- 2 propulsion shaftswith 4-bladed propellers
Power system: 4 power generators
4 back-up power generators
Other equipment:
3 sets of 155-tonne air-conditioners
2 sets 5-tonne cooling systems
2 sets of stabilisers
4 sets of reverse osmosis water machines
5 elevators

Hospital: Check-up room, operating room, X-ray room, dental room, 15 beds and 26 auxiliary beds for emergencies

Personnel:451 officers including 42 commissioned navy officers; 69 chief petty officers; 230 petty officers; 110 seamen
Weaponry: Three Sandral launchers Four 20mm close-in weapons systems
Aircraft carried: Nine Spanish Matador AV-8s aircraft Six S-70B Seahawk helicopters

(Bangkok Post)

BERITA POLULER