Pages

Wednesday, April 13, 2011

Menhan : Industri Pertahanan di Asean Perlu Spesialisasi



Menteri Pertahanan Asean, US Defence Secretary Robert Gates dan Presiden Vietnam Nguyen Minh Triet di ASEAN meeting di Vietnam

JAKARTA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, untuk menjadikan kawasan ASEAN sebagai wilayah yang memiliki posisi tawar kuat dalam percaturan global, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan, menuntut keberadaan industri pertahanan yang terspesialisasi di antara negara anggotanya.

Demikian disampaikan menteri pertahanan, di Jakarta, Senin (11/4), saat menerima panitia penyelenggara seminar mengenai industri pertahanan yang terdiri dari pimpinan redaksi Kantor Berita ANTARA dan harian sore Sinar Harapan.

Panitia yang hadir Wakil Pemimpin Umum Sinar Harapan Daud Sinjal, Pemimpin Redaksi Kantor Berita ANTARA Saiful Hadi, Pemimpin Redaksi Sinar Harapan Kris Kaban, wartawan senior Kristanto dan Benny S Butarbutar.

"Tujuan pembentukan masyarakat ASEAN tahun 2015 yang memiliki kapasitas ekonomi yang kuat tidak akan pernah tercapai jika persyaratan mutlak akan suatu kemandirian ekonomi kawasan, yaitu situasi keamanan yang kondusif tidak tercapai," katanya.

Untuk itu, kata Purnomo, seluruh potensi kekuatan masing-masing negara perlu diteliti dengan benar, termasuk industri pertahanannya agar sinergi yang dibutuhkan bisa benar-benar direalisasikan. Masing-masing negara sudah saatnya memiliki keunggulan khusus dalam industri pertahanan seperti yang dimiliki Uni Eropa.

Sinergi Industri Pertahanan Asia

"Pembangunan industri pertahanan di negara-negara anggota ASEAN bisa dengan cepat terwujud jika masing-masing negara berbenah dan bisa fokus pada kekuatan yang paling unggul dan paling dominan yang dimiliki satu negara. Setelah itu akan muncul peta kekuatan pertahanan ASEAN," kata mantan menteri energi dan sumber daya manusia tersebut.

Dengan mensinergikan kekuatan dari masing-masing industri pertahanannya, maka kawasan ASEAN akan lebih cepat dalam mewujudkan kekuatan keamanan kawasan yang secara otomatis menjadi pilar penopang pertumbuhan kawasan baik sekaligus meningkatkan posisi daya saingnya di regional maupun global.

"Seminar industri pertahanan merupakan salah satu cara, mengingat kemajuan suatu kawasan mutlak memerlukan kerja sama keamanan guna menopang kekuatan ekonomi ASEAN. Kesadaran akan potensi besar yang dimiliki ASEAN perlu diketahui secara luas sehingga menggugah kesadaran publik," ungkap Pemimpin Umum Sinar Harapan, Daud Sinjal.

Masyarakat ASEAN 2015 merupakan implementasi dari piagam ASEAN yang bertujuan masing-masing negara anggota ASEAN akan lebih kuat kapasitas ekonominya dalam menghadapi dinamikan globalisasi. Tentu saja masing-masing negara perlu bekerja sama meningkatkan daya saing, kapasitas dan kekuatannya untuk bisa menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan rakyat ASEAN.

Seminar diharapkan berlangsung pada bulan Mei bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional dan juga pertemuan para menteri pertahanan ASEAN di Jakarta.

Sumber : ANTARA

Tuesday, April 12, 2011

Penangkapan Kapal Malaysia Karena Langgar Batas


Selasa, 12 April 2011 12:36 WIB | 548 Views
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad (FOTO.ANTARA)
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menegaskan bahwa aparat Indonesia menangkap dua kapal Malaysia karena mereka telah melanggar batas negara dan melakukan penangkapan iklan secara ilegal.

"Sampai hari ini Malaysia cenderung masih mengulur-ulur waktu untuk membicarakan masalah perbatasan," kata Fadel di Jakarta, Selasa.

Padahal, menurut dia, Kementerian Kelautan Indonesia telah berkali-kali menawarkan kepada Malaysia untuk membicarakan tentang agenda permasalahan perbatasan antara kedua negara.

Ia menegaskan, akar dari persoalan terkait penangkapan kapal nelayan adalah masalah perbatasan. "Kita harus membicarakan garis batas dengan Malaysia agar terdapat batasan yang jelas," katanya.

Rencananya, Fadel akan mengagendakan untuk membicarakan masalah perbatasan dengan Malaysia pada rapat konsultasi yang dijadwalkan digelar pada Agustus 2011.

Kapal Pengawas Hiu 001 milik Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan berhasil menangkap dua kapal asal Malaysia pada Kamis (7/4).

Kedua kapal Malaysia yang masing-masing berawak lima orang berkewarganegaraan Thailand itu ditangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia Perairan Zona Ekonomi Eksekutif Indonesia (ZEEI) Selat Malaka.

Kapal yang ditangkap antara lain KM KF 5325 GT 75,80 ditangkap pada posisi 04 derajat 35`02" N/099 derajat 24`01" E dengan nahkoda berinisial KLA.

Sedangkan kapal lainnya adalah KM. KF 5195 GT 63,80 ditangkap pada posisi 04 derajat 40`50" N/099 derajat 25`00" E dengan nahkoda berinisial NHOI.

Keduanya ditangkap karena tidak mempunyai Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) dari pemerintah RI serta penggunaan alat tangkap terlarang Trawl.

Dengan demikian, keduanya melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf (b) Jo pasal 92 Jo pasal 93 ayat (2) Jo pasal 86 ayat (1) UU No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Usai ditangkap, kedua kapal langsung dibawa ke dermaga Lantamal I Belawan dan langsung dilakukan pembongkaran ikan sebagai barang bukti untuk disimpan di suatu tempat agar tidak rusak, dengan disaksikan Kepala Stasiun Pengawas Belawan.


Antara

Malaysia Justru Tuduh Petugas KKP Telah Memprovokasi Mereka

  
menhan_malaysiaKuala Lumpur, Seruu.com - Penangkapan dua kapal nelayan Malaysia ternyata berbuntut panjang. Dalam pernyataannya yang dimuat di harian The Star, Menteri Pertahanan Malaysia justru menuding petugas Kementrian Kelautan dan Perikanan Indonesia telah meprovokasi mereka dengan menodongkan senjata ke helikopter bersenjata milik tentara diraja Malaysia.
Menteri Pertahanan Malaysia mengklaim penangkapan kapal nelayan Malaysia itu terjadi saat kedua kapal berada pada 25 mil dari perbatasan Indonesia-Malaysia. Kedua kapal nelayan Malaysia itu ditangkap oleh petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Begitu mendapatkan laporan penangkapan, Angkatan Laut Kerajaan Malaysia dan Badan Penegakan Maritim Malaysia (APMM) mengirim empat helikopter untuk mencari kapal nelayan yang ditangkap.
Saat pencarian, APMM menemukan dua kapal dari Hutan Melintang asal Perak itu telah bergerak menuju perbatasan dengan dikawal kapal otoritas maritim Indonesia. Melihat kapal nelayannya dibawa menuju perairan Indonesia, AMPP pun memberikan peringatan melalui pengeras suara. "Petugas APMM menggunakan pengeras suara untuk memerintahkan otoritas Indonesia melepaskan perahu karena mereka masih berada di perairan Malaysia, tapi perintah itu diabaikan," tulis Kementerian Pertahanan Malaysia dalam pernyataan persnya.
Bahkan, perintah itu dijawab otoritas Indonesia dengan menodongkan senjata ke arah helikopter APMM Malaysia. Petugas Indonesia dari atas kapal mengarahkan senjatanya ke helikopter (Malaysia) ketika mereka berusaha mencegah mereka (perahu yang ditangkap dan petugas Indonesia) melintasi perbatasan.
Namun, untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, otoritas Malaysia tidak mengambil tindakan lebih lanjut untuk menghentikan kapal petugas Indonesia. Dua perahu Malaysia itu dibawa melintasi perbatasan sekitar pukul 15.50. "Pemerintah Malaysia akan menangani kasus ini secara diplomatis, untuk menghindari ketegangan antara kedua negara," tulis kementrian Pertahanan Malaysia. [mus]

seruu.com

Monday, April 11, 2011

Yusron: KRI Frans Kaisiepo Bisa Diarahkan Bebaskan ABK di Somalia



Nurvita Indarini - detikNews


  
Yusron: KRI Frans Kaisiepo Bisa Diarahkan Bebaskan ABK di Somalia
  

Jakarta - Hampir sebulan kapal Sinar Kudus dalam penguasaan perompak Somalia. Pemerintah didesak menggunakan kekuatan militer untuk membebaskan 20 anak buah kapal (ABK) Indonesia yang ada di kapal itu. Cara yang bisa ditempuh adalah dengan mengerahkan kapal perang KRI Frans Kaisiepo yang sekarang berada di Libanon.

"Ada kapal korvet kita KRI Frans Kaisiepo yang sedang bertugas di Libanon dalam misi UNIFIL (PBB). Kapal ini bisa diputar haluan untuk membebaskan Sinar Kudus di Somalia. Ini korvet bukan kapal odong-odong, bukan korvet kacangan," ujar mantan anggota DPR dari Komisi I, Yusron Ihza Mahendra.

Berikut ini wawancara detikcom dengan alumnus jurusan Hubungan Internasional UI yang juga Wakil Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) ini, Selasa (12/4/2011):

Hampir sebulan 20 ABK Kapal Sinar Kudus dalam penawanan Perompak Somalia. Apakah cara-cara soft power masih relevan?

Menurut saya, diplomasi tidak ada gunanya. Ini tidak akan efektif karena Somalia itu kan dilanda perang saudara. Pemerintah Somalia ini antara ada dan tiada karena sibuk dengan perang saudara. Kalau mau ambil cara diplomasi, diplomasi dengan negara yang porak poranda, tentu mereka tidak akan concern dengan masalah kita. Jadi mau diplomasi sama siapa? Masalah mereka saja tidak kurang besar, bagaimana mungkin peduli dengan masalah kita.

Bagaimana dengan ide mengedepankan jalur keagamaan? Apakah akan efektif?

Ide menggunakan jalur keagamaan, menurut saya, itu tidak akan efektif. Sebab kapal yang dibajak berbendera Indonesia dan sebagian besar awaknya adalah orang Indonesia. Kalau di atas kapal asing ada beberapa warga negara kita, mungkin pendekatan jalur agama bisa. Tapi ini kan isinya semua orang Indonesia.

Kalau dalam perompakan, tidak ada istilah diplomasi. Penyelesaian itu tingal 2, yaitu bayar atau hajar. Tapi menurut saya, perompak itu pantas untuk dihajar. Kalau bayar artinya memenuhi tuntutan perompak, membayar tebusan yang diajukan perompak Somalia itu. Dulu kan mereka minta Rp 20 miliar, yang berarti satu kepala Rp 1 miliar, lalu naik lagi. Ini lalu berlarut. Mereka menekan kita, kalau mau bayar ya bayar. Dari segi hitungan ekonomi kalau mau bayar, ya sebenarnya tidak tekor banget. Nikel yang diangkut itu nilainya sekitar Rp 1,5 triliun.

Kalau saya cenderung tidak memilih opsi itu (bayar). Saya lebih berpikir menggunakan opsi militer untuk membebaskan mereka.

Mengapa?

Tentu keselamatan 20 ABK itu menjadi prioritas. Kalau menggunakan militer juga kita sanggup melakukannya. Selain bisa membebaskan kapal, kita juga akan dapat citra yang akan dipegang.

Ada kapal korvet kita KRI Frans Kaisiepo yang sedang bertugas di Libanon dalam misi UNIFIL (PBB). Kapal ini bisa diputar haluan untuk membebaskan Sinar Kudus di Somalia. Ini korvet bukan kapal odong-odong, bukan korvet kacangan. Kapal ini dilengkapi meriam dan landasan heli, serta bisa untuk perang elektronik.

Kalau mau, pemerintah bisa menginstruksikan kapal ini untuk izin 3 hari dari UNIFIL, sekaligus minta dukungan UNIFIL dan meminta kerjasama untuk mendapat data satelit Amerika. Korvet itu diawaki sekitar 80-100 orang. Kalau dirasa kurang, bisa membawa tambahan pasukan dari sini.

Kita lihat beberapa waktu lalu, belum 2 bulan lalu Malaysia mengerahkan tentara laut Diraja Malaysia untuk bisa menghajar perompak. Korea Selatan juga. India seminggu lalu bahkan bisa meringkus 61 perompak. Kalau Malaysia, Korea Selatan dan India bisa, kenapa kita tidak.

Kita bisa menunjukkan kalau kita ini bukan bangsa kacangan. Apalagi kalau alat-alat yang kita pakai untuk menghajar perompak itu buatan negeri kita sendiri tentu kita menunjukkan pada dunia kalau kita kuat. Yang jelas untuk menyelesaikan kasus ini, pemerintah tidak bisa menunda-nunda.

Pembebasan tawanan oleh perompak kabarnya tidak hanya sekadar pembayaran tebusan. Artinya waktu pembebasan tergantung perompak?

Perompak ini motifnya ekonomi, maunya duit. Dia tidak mau lama-lama menahan juga. Kalau kita mau bayar, bisa menggunakan negosiator yang canggih. Tapi yang ingin saya katakan, dalam urusan ini bukan hanya persoalan Samudera Indonesia selaku pemilik kapal Sinar Kudus tapi juga Kementerian Luar Negeri, lalu juga TNI. TNI itu kan punya fungsi perang dan non perang. Sekarang tunjukkanlah itu. Ini juga terkait masalah perdagangan, kok Menteri Perdagangannya diam saja. Lalu juga Kementerian Perhubungan kok diam saja. Dalam keadaan seperti ini kok kecenderungannya cuek-cuek saja, jangan hanya dilimpahkan ke Samudera Indonesia.

Kekurangan dan kelebihan dari operasi militer?

Dalam suatu kegiatan pasti ada gagal dan berhasil. Perompak itu tahunya hanya tebusannya dibayar sesuai yang mereka tetapkan. Kalau cocok angkanya ya dibayar. Tapi saya kira perlu juga kekuatan militer untuk mengantarkan duit. Jangan-jangan duit dikasih, tapi sandera tidak dibebaskan.

Kalau operasi militer kita lakukan, tentu citra kita di mata internasional akan terangkat. Ke depannya bisa saja, perompak berpikir ulang kalau akan melakukan aksi yang sama. Malaysia saja berhasil membebaskan dan menyelamatkan semua, kita bisa belajar dari Malaysia. Semua hal tentu ada risikonya, tapi membiarkan masalah ini berlarut-larut tentu akan semakin berisiko.

Kalau terlalu lama responsnya, nanti bisa uring-uringan si perompaknya. Kalau sudah begitu, takutnya nanti dia melakukan kekerasan. Harus ada koordinasi cepat, koordinasi dengan kawan lain. TNI kalau disuruh pasti maulah untuk mengerahkan kekuatan militernya. Masalahnya perintahnya nggak ada. Alas hukum untuk melakukan itu nggak ada. Komisi I DPR saya kira bisa mendesak ini. Saya agak heran kok pada diam-diam saja.

Tentu saja sebelum mengerahkan kekuatan militer kita tidak bisa asal serang. Harus dipetakan, lihat data. Karena bagaimana juga ada warga kita di tangan perompak itu.

Mungkin pemerintah khawatir perlu biaya besar untuk mengerahkan pasukan militer di perairan Somalia?

Memang perlu ada kalkulasi ekonomi. Tapi kalau dibandingkan nilai nikel yang diangkut yang senilai Rp 1,5 triliun, saya kira untuk melakukan aksi militer, setengah dari nilai itu juga nggak ada. Bahkan mungkin Rp 100 miliar juga tidak sampai.

Tapi kalau saya lebih suka berpikir, untuk harga diri bangsa jangan disetarakan dengan uang. Ini pride kita. Duit nomor dualah. Bisa menyelamatkan ABK sekaligus mengangkat citra kita kalau kita ambil langkah militer.

Perairan Somalia semakin marak dengan aksi perompakan?

Bicara perompakan, itu kan masalah internasional. Saya kira ini terkait dengan kondisi Somalia sendiri. Somalia kan sedang ada masalah dengan perang saudara. Untuk perang butuh biaya. Jadi mungkin uang yang diperoleh dari perompakan bukan sekadar untuk mengisi perut saja tetapi juga untuk biaya perang mereka.

Agar masalah perompakan ini tidak berlarut apa yang bisa dilakukan?

Kalau ini diselesaikan orang per orang kondisinya berat. Sebenarnya ada yang patroli dan mengawasi di sana. Kita bisa kontak dengan mereka. Sebenarnya sudah ada perhatian dunia ke masalah itu. Tapi kita bisa berperan lebih konkret lagi. Saya kira dengan ASEAN bisa kita bentuk semacam badan keselamatan pelayaran yang melakukan patroli dengan dana yang ditanggung bersama.

Patroli ini nantinya dilakukan secara rutin dan bergiliran dari 10 anggota ASEAN. Ini sekaligus juga akan mampu membuat ASEAN lebih dipandang dunia. Diplomasi seperti ini yang kita butuhkan, bukan diplomasi dengan perompak. Masak diplomasi dilakukan dengan perompak.

Apakah perlu pengawalan pada kapal-kapal kargo yang melintas di perairan Somalia?

Saya kira itu cost-nya terlalu tinggi. Menurut saya lebih baik mengefektifkan kerjasama yang sudah ada untuk melakukan semacam coast guard bersama. Dengan melakukan bersama negara lain, maka kita tidak akan capek sendiri. Selain menambah kedekatan hubungan juga ini bisa dijadikan ajang tukar menukar pengalaman.


(vit/nrl)

Detik

KRI Frans Kaisiepo

Posted: 5 April 2010 by tioseptian in top artikel
KRI Frans Kaisiepo 368
KRI Frans Kaisiepo (367) merupakan kapal keempat dari korvet kelas SIGMA milik TNI Angkatan Laut. KRI Frans Kaisiepo merupakan sebuah korvet yang dibuat oleh galangan kapal Schelde, Belanda dimulai pada tahun 2006 khusus untuk TNI-AL. Bertugas sebagai kapal patroli dengan kemampuan anti-kapal permukaan, anti-kapal selam dan anti-pesawat udara.
Sejarah
Pembuatan
Kontrak pembelian dan pembuatan Kapal kelas ini dilakukan pada bulan Januari 2004 dan efektif berlaku sejak 12 Juli 2004. Kapal dibuat di galangan kapal Schelde Naval Shipbuilding (SNS), Vlissingen, Belanda. Setelah sebelumnya direncanakan untuk dibuat di Surabaya oleh PT PAL, tetapi Batal.
Nama
Menggunakan nama Frans Kaisiepo, salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Papua
Kapal
Persenjataan
Torpedo
KRI Frans Kaisiepo dilengkapi dengan torpedo 3A 244S Mode II/MU 90 yang dilengkapi dengan 2 peluncur torpedo tipe B515.
Peluru kendali
Dipasang dua tipe rudal di atas kapal ini, yaitu:
  • Peluru kendali anti kapal: MBDA Exocet varian terbaru MM40 block 2 yang mampu menjangkau target berjarak 180 km.[2]
  • Peluru kendali darat ke udara: MBDA Mistral versi terbaru TETRAL. Mistral adalah sistem rudal pertahanan udara jarak sangat pendek, yang dapat digunakan dari berbagai platform, bisa dari kendaraan di darat, kapal, helikopter, bahkan dengan konfigurasi jinjing ala Stinger.[2]
Meriam
Meriam utama di posisi A dipasang Oto-Melara 76 mm buatan Italia. Sedangkan kanon ringan tambahan pada posisi B dipasang Auxiliary Gun 2 x 20 mm Vector G12.
Persenjataan elektronik
  • Sistem manajemen tempur Thales TACTICOS buatan Thales, sebuah perusahan hi-tech Belanda, spesialis dalam bidang disain dan produksi sistem integral untuk komando dan kontrol, sensor dan komunikasi. Sistem ini dikenal dengan nama Combat Management System (CMS). Keunggulan teknologi yang dikembangkan Thales kini menjadi standar pertahanan NATO.[2]
  • Data Link: LINK Y Mk2 datalink system
  • Komunikasi elektronik: Thales/Signaal FOCON
  • Sistem Pengumpan: TERMA SKWS
  • Platform integrasi utama: Imtech UniMACs 3000 Integrated Bridge System
Sensor dan elektronis
Radar
Radar utama MW08 3D multibeam surveillance buatan Thales, sebuah radar dengan G-band, yang merupakan famili 3D multibeam jarak menengah (105 km) untuk survei, menentukan sasaran, dan penjejakan. MW08 ini dilengkapi dengan teknologi radar termutakhir yang pendeteksiannya serba otomatis. Radar ini juga dilengkapi dengan kontrol tembak untuk mengendalikan senjata terhadap sasaran permukaan. Ini juga diperkuat dengan radar kontrol tembak LIROD Mk2.
Sonar
Thales Kingklip frekuensi menengah aktif/pasif ASW hull mounted sonar
Tenaga penggerak
Kapal kelas sigma ini dilengkapi dua buah mesin diesel V28-33D STC (sequintial turbo charging) diproduksi oleh MAN Diesel (Jerman) berkonfigurasi V 20 silinder. Mesin berkekuatan 8900 kW ini masing-masing menggerakan sebuah baling-baling yang bisa diatur kemiringan bilahnya melalui sebuah gir pengurang putaran satu tingkat. Mesin berbobot 46 ton ini berukuran panjang x lebar x tinggi = 7330 x 2100 x 3180 mm.
Penugasan
2009
Rencana Peluncuran
Spesifikasi KRI-Frans Kaisiepo
Pembuat : Schelde Naval Shipbuilding (SNS), Vlissingen, Belanda.
Mulai dibuat :
Diluncurkan : 2009
Ditugaskan : Direncanakan pada 2009
Nama sebelumnya : SIGMA 4
Status : persiapan
Pelabuhan daftar : Armada Timur TNI-AL
Karakteristik umum
Berat benanam : 1.700 Ton
Panjang : 90,71 m (297.60 kaki)
Lebar : 13,02 m (42.72 kaki)
Draft : 3,60 m (11.81 kaki)
Tenaga penggerak : 2 shaft V28-33D STC MAN Diesel @8.900 kW
Kecepatan : 28 knot
Jarak tempuh : 540 km pada 18 knot[1]
Awak kapal : 80 orang
Sensor dan Radar : Radar MW08 3D multibeam surveillance radar
Radar senjata : LIROD Mk2 tracking radar
Persenjataan elektronik dan umpan: Sistem Perang: Thales TACTICOS
Data Link : LINK Y Mk2 datalink system
Sonar Thales Kingklip medium frequency active/passive ASW hull mounted sonar
Komunikasi elektronik Thales/Signaal FOCON
Sistem Pengecoh : TERMA SKWS
Platform integrasi utama : Imtech UniMACs 3000 Integrated Bridge System
Persenjataan
2 x 4 rudal anti-pesawat MBDA Mistral TETRAL
4 rudal permukaan MBDA Exocet MM40 block 2
76 mm Oto-Melara kanon utama
2 x 20 mm Vector G12 kanon ringan
2 seluncur torpedo B515 tipe 3A 244S Mode II/MU 90
Sumber : wikipedia.org

Belajar Membebaskan Sandera dari Operasi Woyla

Laurencius Simanjuntak - detikNews


Belajar Membebaskan Sandera dari Operasi Woyla
Jakarta - 28 Maret 1981. Dari ketinggian ribuan kaki di atas Palembang, 48 penumpang pesawat DC-9 Woyla Garuda Indonesia itu gemetar. Mereka tak kuasa menahan tangis karena pesawat tujuan Polonia, Medan, yang mereka tumpangi, dibajak sekelompok orang.

Oleh pembajak, pesawat itu pun dibablaskan hingga ke Bandara Penang, Malaysia. Usai mengisi bahan bakar di Negeri Jiran, itu pembajak lalu mengarahkan pesawat ke Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand.

Tiga hari bertahan di bandara atau 31 Maret 1981, pembajak yang menamakan diri Komando Jihad, itu akhirnya berhasil dilumpuhkan lewat operasi militer  pasukan Kopassandha (sekarang Kopassus) yang dipimpin oleh Letkol Inf Sintong Pandjaitan.

Dalam buku biografinya 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando' (2009), Sintong menggambarkan jalannya operasi yang rumit namun berbuah manis: tak ada satu pun korban dari penumpang.

Sejarah mencatat, operasi pembebabasan sandera itu hanya berlangsung 3 menit. Peristiwa Woyla, demikian operasi itu dikenang, tercatat sebagai peristiwa terorisme bermotif jihad pertama yang menimpa Indonesia, dan satu-satunya dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia.

Kini 30 tahun setelah Peristiwa Woyla itu, pembajakan terjadi pada Kapal MV Sinar Kudus asal Indonesia. Kapal yang diawak 31 ABK, 20 di antaranya dari WNI, itu dibajak oleh perompak Somalia di perairan Laut Arab, saat melakukan perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Selatan menuju ke Rotterdam, Belanda, 16 Maret lalu.

Sangat berbeda dengan langkah pemerintahan Orde Baru saat itu, kini hampir sebulan berlalu, belum ada langkah signifikan pemerintah Indonesia untuk membebaskan sandera di kapal kargo bermuatan biji nikel itu.

Juru Bicara Kepresidenan bidang Luar Negeri, Teuku Faizasyah membantah pemerintah tidak berbuat apa-apa. Menurutnya, pemerintah sudah menginstruksikan agar penyelamatan dilakukan maksimal, namun pembebasan sandera membutuhkan waktu.

"Saya rasa ini sedang ditangani pihak terkait," kata Faizasyah dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (10/4).

Pemerintah, kata Menko Polhukam Djoko Suyanto, juga melakukan koordinasi dengan pemilik kapal. Pemilik kapal, katanya, akan memenuhi uang tebusan dari pembajak.

"Pemilik kapal berjanji akan penuhi tuntutan pembajak, kontak person siapa, delivery dan jaminan kapal dan awaknya nanti," papar Djoko sembari menambahkan kapal yang dibajak telah diasuransikan, baik isi muatan kapal maupun kapalnya itu sendiri.

Namun dalam keterangan persnya, PT Samudera Indonesia Tbk selaku pemilik kapal enggan membeberkan apakah tebusan sudah dibayar atau belum. Alasannya, pembebasan kapal bukan sekadar soal membayar tebusan.

"Pada 2010 ada lebih dari 70 pembajakan yang berlanjut selama lebih dari 150 hari. Ini bukan soal bayar tebusan atau tidak bayar tebusan. Waktu paling singkat yang kami catat, kurang lebih 60 hari untuk membebaskan," ujar Wakil Direktur Utama PT Samudera Indonesia, David Batubara kemarin.

Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin mengatakan, sebenarnya ada 4 opsi dalam menyelasaikan kasus pembajakan, yakni memenuhi tuntuntan perompak, jalur diplomasi, menggunakan mediator atau operasi militer.

Melihat pemerintah Somalia yang tidak bisa menertibkan perompak dan pemerintah RI yang tidak punya akses ke perompak, lanjut Hasanuddin, opsi diplomasi dan penggunaan mediator menjadi sangat sulit.

"Opsinya hanya dua, penuhi tuntutan perompak atau operasi militer," ujar dia.

detik

Israeli system intercepts Gaza rocket for first time

Israeli system intercepts Gaza rocket for first time

By Agence France-Presse on Friday, April 8th, 2011

Israel's Iron Dome short-range missile defence system shot down a rocket fired from the Gaza Strip on Thursday, the first time such an interceptor has been deployed anywhere.
The military confirmed the rocket had been brought down over the southern city of Ashkelon by the unique multi-million-dollar system, which came into operation on March 27, the first time that Iron Dome had hit a rocket in actual combat.
Prime Minister Benjamin Netanyahu said the system gave Israel hope that the Jewish state could now better defend it's citizens from the thousands of rockets that have been fired into Israel in recent years.
"It gives hope that over time we can develop some better defence for civilians that are targeted by regimes ... deliberately targeting the innocent," said Netanyahu, who was visiting the Czech Republic.
As the rocket came in from Gaza, the interceptor missile streaked into the sky to hit it with the two trails converging in an explosion, said the AFP correspondent.
"Israel air defences using the Iron Dome system earlier this evening intercepted a rocket fired at the Israeli home front. Immediately afterwards aircraft identified the cell that fired the rocket and attacked them, identifying a hit," an army spokeswoman said.
It was not immediately clear what kind of rocket it was.
The rocket fire came after Palestinian militants in Gaza fired an anti-tank rocket at an Israeli school bus, critically wounding a teenager. Later militants fired dozens of mortar rounds and rockets into Israel.
Israel responded with air strikes and tank fire, killing four Palestinian and wounding more than 30.
The first Iron Dome battery was deployed outside Beersheva, just days after the southern desert city was hit by several Grad rockets fired from Gaza.
Ashkelon, which has a population of some 113,000, has also recently come under attack from Grads, which have a range of up to 50 kilometres (30 miles).
The defence system, the first of its kind in the world and still at the experimental stage, is not yet able to provide complete protection against the hundreds of rockets fired from Gaza into southern Israel, officials have said.
"We have deployed them in the last two weeks without actually testing them in laboratory conditions... (and) they have so far worked very well," Netanyahu said.
Israel plans to raise to six the number batteries in operation over the next two years.
The system, developed by Israel's Rafael Advanced Defence Systems with the help of US funding, is designed to intercept rockets and artillery shells fired from a range of between four and 70 kilometres (2.5 and 43 miles).
Over the past five years, militants in Gaza and in south Lebanon have fired thousands of projectiles at the Jewish state, and Israel is planning to deploy the system along both borders.
Iron Dome will join the Arrow long-range ballistic missile defence system in an ambitious multi-layered programme to protect cities from rockets and missiles fired from Lebanon or Gaza, Syria or Iran.
A third system, known as David's Sling, is currently under development with the aim of countering medium-range missiles.

Israel Uji Coba Sistem Rudal Baru

Selasa, 12 April 2011 11:43 WIB | 143 Views

Ilustrasi (ist)

Yerusalem (ANTARA News) - Israel berhasil menguji coba sistem peluru kendali (rudal) baru yang bertujuan untuk melindungi wilayah Israel dari serangan roket yang berasal dari Jalur Gaza dan Lebanon.

Sistem rudal mutakhir terbaru bernama Kubah Besi berhasil diuji coba di Israel dengan menghancurkan delapan roket di udara.

Menurut Perwira Angkatan Darat Israel yang melakukan uji coba bahwa rudal itu diatur untuk meledakkan delapan roket di udara sebelum mereka jatuh di wilayah Israel.

Pemerintah menegaskan bahwa sistem Kubah Besi telah berhasil melebihi keinginan atas apa yang mereka harapkan, sebagaimana dikutip dari Cihan.

Dikatakannya bahwa melalui proyek ini mereka mendapat kesempatan untuk menghancurkan roket sebelum jatuh di daratan Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah mengunjungi skuadron barisan penembak Kubah Besi di Israel selatan. Dia memberi selamat kepada perwira militer setelah keberhasilan uji coba itu.

Diperkirakan bahwa sistem penembakan rudal akan ditempatkan di wilayah selatan Israel.

Radio Israel mengabarkan bahwa tentara akan mengelola skuadron penembakan rudal baru dan mereka menanti dana sebesar 205 juta dolar AS dari Amerika Serikat.

Menurut sejumlah pakar, sistem tersebut dalam jarak 4 hingga 80 kilometer diperkirakan bisa menghancurkan roket di udara yang ditembakkan oleh para pejuang.

Israel akan memasang 20 sistem penembakan rudal Kubah Besi di sepanjang perbatasan dengan Gaza dan Lebanon.
Antara

Warga Tolak Rencana Uji Coba Senjata Berat Baru TNI

 


105mm Towed Howitzer KH-178
Gambar:@lautsista

Selasa, 12 April 2011 01:46 WIB | 896 Views
Semarang (ANTARA News) - Warga Desa Setrojenar, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menolak rencana uji coba persenjataan baru milik jajaran Kodam IV/Diponegoro pada hari ini karena khawatir lahan yang telah ditanami berbagai tanaman pertanian tersebut menjadi rusak.

Kepala Penerangan Kodam IV/Diponegoro Letnan Kolonel Infanteri Zaenal yang dihubungi melalui telepon, dari Semarang, Senin malam, mengatakan pertemuan antara pihak terkait dengan para warga yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Kebumen masih berlangsung.

"Pertemuan dengan puluhan warga setempat dihadiri Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Langgeng Sulistyono, Kapolda Jateng Irjen Pol Edward Aritonang dan difasilitasi Bupati Kebumen Buyar Winarso masih berlangsung hingga Senin (11/4) malam," ujarnya.

Ia mengatakan, pertemuan sejumlah pihak terkait para warga tersebut untuk mencari titik temu dalam permasalahan tersebut dan menghindari tindakan anarkis yang kemungkinan dilakukan pihak-pihak tertentu.

Menurut dia, rencana uji coba persenjataan baru jenis artileri medan jarak jauh di kawasan yang dikenal dengan nama Urut Sewu ini direncanakan hanya berlangsung Senin (11/4).

"Senjata berat yang akan diuji coba tersebut biasa digunakan untuk pertempuran jarak jauh," ujarnya.

Ia mengungkapkan, lokasi uji coba senjata sebenarnya milik Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat dan telah digunakan sejak tahun 1949.

"Lokasi tersebut digunakan oleh masyarakat setempat untuk bercocok tanam dan TNI AD tidak melakukan pelarangan terkait hal tersebut," katanya.

Terkait dengan hasil pertemuan, Zaenal berjanji akan memberitahu lebih lanjut.  (ANT/K004)

BERITA POLULER