Sriwijaya (atau juga disebut
Srivijaya;
Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄rī wichạy") adalah salah satu
kemaharajaan maritim yang kuat di pulau
Sumatera dan banyak memberi pengaruh di
Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari
Kamboja,
Thailand,
Semenanjung Malaya,
Sumatera,
Jawa,
Kalimantan, dan
Sulawesi.
[1][2] Dalam bahasa
Sansekerta,
sri berarti "bercahaya" dan
wijaya berarti "kemenangan".
[2] Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok,
I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan.
[3][4] Selanjut prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu
prasasti Kedukan Bukit di
Palembang, bertarikh 682.
[5] Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan
[2] diantaranya serangan dari raja
Dharmawangsa Teguh dari
Jawa di tahun 990, dan tahun 1025 serangan
Rajendra Chola I dari
Koromandel, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya dibawah kendali kerajaan
Dharmasraya.
[6]
Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan eksistensi Sriwijaya baru diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan
Perancis George Cœdès dari
École française d'Extrême-Orient.
[7]
Historiografi
Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis
George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa
Belanda dan
Indonesia.
[8] Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "San-fo-ts'i", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan beberapa prasasti dalam
Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.
[9]
Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar
Nusantara selain
Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa
Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum
kolonialisme Belanda.
[8]
Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya
Shih-li-fo-shih atau
San-fo-ts'i atau
San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut
Yavadesh dan
Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya
Zabaj dan Khmer menyebutnya
Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.
[2] Sementara dari peta
Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang adanya 3 pulau
Sabadeibei yang kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya.
[6]
Sekitar tahun 1993,
Pierre-Yves Manguin melakukan observasi dan berpendapat bahwa pusat Sriwijaya berada di
Sungai Musi antara
Bukit Seguntang dan
Sabokingking (terletak di provinsi
Sumatera Selatan sekarang).
[2] Namun sebelumnya
Soekmono berpendapat bahwa pusat Sriwijaya terletak pada kawasan sehiliran
Batang Hari, antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (di provinsi
Jambi sekarang),
[6] dengan catatan
Malayu tidak di kawasan tersebut, jika Malayu pada kawasan tersebut, ia cendrung kepada pendapat Moens,
[10] yang sebelumnya juga telah berpendapat bahwa letak dari pusat kerajaan Sriwijaya berada pada kawasan
Candi Muara Takus (provinsi
Riau sekarang), dengan asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan
I Tsing,
[11] serta hal ini dapat juga dikaitkan dengan berita tentang pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (
Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) tahun 1003 kepada kaisar Cina yang dinamakan
cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bagian dari candi yang terletak di Muara Takus).
[12] Namun yang pasti pada masa penaklukan oleh
Rajendra Chola I, berdasarkan
prasasti Tanjore, Sriwijaya telah beribukota di
Kadaram (
Kedah sekarang).
[6]
Pembentukan dan pertumbuhan
Belum banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan.
[8] Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim, namun kerajaan ini tidak memperluas kekuasaannya di luar wilayah kepulauan
Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi
Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Beberapa ahli masih memperdebatkan kawasan yang menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya, selain itu kemungkinan kerajaan ini biasa memindahkan pusat pemerintahannya, namun kawasan yang menjadi ibukota tetap diperintah secara langsung oleh penguasa, sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh
datu setempat.
Reruntuhan Wat (Candi) Kaew yang berasal dari zaman Sriwijaya di Chaiya, Thailand Selatan.
Kekaisaran Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan
I Tsing, dari
prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan
Dapunta Hyang. Di abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaitu
Malayu dan
Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya.
[2] Berdasarkan
prasasti Kota Kapur yang yang berangka tahun 686 ditemukan di pulau
Bangka, kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera, pulau Bangka dan Belitung, hingga
Lampung. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa
Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum
Bhumi Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya, peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya
Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yang kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di
Selat Malaka,
Selat Sunda,
Laut China Selatan,
Laut Jawa, dan
Selat Karimata.
Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Malaya, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di
Thailand dan
Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut, Maharaja
Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi
sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya. Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja
Khmer Jayawarman II, pendiri imperium Khmer, memutuskan hubungan dengan Sriwijaya di abad yang sama.
[2] Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain
Tarumanegara dan
Holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa
Sailendra bermigrasi ke
Jawa Tengah dan berkuasa disana. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan.
[2] Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
Setelah Dharmasetu,
Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun
candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada tahun 825.
[2]
Agama dan Budaya
Sebagai pusat pengajaran
Buddha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok
I Tsing, yang melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studinya di
Universitas Nalanda,
India, pada tahun
671 dan
695, I Tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha sehingga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin
emas telah digunakan di pesisir kerajaan. Selain itu ajaran Buddha aliran
Buddha Hinayana dan
Buddha Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya. Menjelang akhir abad ke-10,
Atiśa, seorang sarjana Buddha asal
Benggala yang berperan dalam mengembangkan Buddha Vajrayana di
Tibet dalam kertas kerjanya
Durbodhāloka menyebutkan ditulis pada masa pemerintahan
Sri Cudamani Warmadewa penguasa
Sriwijayanagara di
Malayagiri di
Suvarnadvipa.
[13]
Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya
India, pertama oleh budaya
Hindu kemudian diikuti pula oleh agama
Buddha. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melalui perdagangan dan penaklukkan dari kurun
abad ke-7 hingga
abad ke-9, sehingga secara langsung turut serta mengembangkan
bahasa Melayu beserta kebudayaannya di
Nusantara.
".... banyak raja dan pemimpin yang berada di pulau-pulau pada Lautan Selatan percaya dan mengagumi Buddha, dihati mereka telah tertanam perbuatan baik. Di dalam benteng kota Sriwijaya dipenuhi lebih dari 1000 biksu Budha, yang belajar dengan tekun dan mengamalkannya dengan baik.... Jika seorang biarawan Cina ingin pergi ke India untuk belajar Sabda, lebih baik ia tinggal dulu di sini selama satu atau dua tahun untuk mendalami ilmunya sebelum dilanjutkan di India".
— Gambaran Sriwijaya menurut I Tsing.
[4]
Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yang termahsyur sebagai bandar pusat perdagangan di Asia Tenggara, tentunya menarik minat para pedagang dan ulama muslim dari Timur Tengah. Sehingga beberapa kerajaan yang semula merupakan bagian dari Sriwijaya, kemudian tumbuh menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera kelak, disaat melemahnya pengaruh Sriwijaya.
Ada sumber yang menyebutkan, karena pengaruh orang muslim Arab yang banyak berkunjung di Sriwijaya, maka raja Sriwijaya yang bernama Sri Indrawarman masuk Islam pada tahun 718.
[14] Sehingga sangat dimungkinkan kehidupan sosial Sriwijaya adalah masyarakat sosial yang di dalamnya terdapat masyarakat Budha dan Muslim sekaligus. Tercatat beberapa kali raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di
Suriah. Pada salah satu naskah surat yang ditujukan kepada khalifah
Umar bin Abdul Aziz (717-720) berisi permintaan agar khalifah sudi mengirimkan da'i ke istana Sriwijaya.
[15]
Perdagangan
Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas
selat Malaka dan
selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.
[11] Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassalnya di seluruh Asia Tenggara.
Selain menjalin hubungan dagang dengan
India dan
Tiongkok, Sriwijaya juga menjalin perdagangan dengan tanah
Arab, kemungkinan utusan Maharaja
Sri Indrawarman yang mengantarkan surat kepada
khalifah Umar bin Abdul-Aziz dari
Bani Umayyah tahun 718 kembali ke Sriwijaya dengan membawa hadiah
Zanji (budak wanita berkulit hitam), dan kemudian dari kronik Tiongkok disebutkan
Shih-li-fo-shih dengan rajanya
Shih-li-t-'o-pa-mo (Sri Indrawarman) pada tahun 724 mengirimkan hadiah buat kaisar Cina, berupa
ts'engchi (bermaksud sama dengan
Zanji dalam
bahasa Arab).
[16]
Pada paruh pertama abad ke-10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya
dinasti Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama
Fujian,
kerajaan Min dan kerajaan Nan Han dengan negeri kayanya
Guangdong. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.
Relasi dengan kekuatan regional
Pagoda Borom That bergaya Sriwijaya di Chaiya, Thailand.
Untuk memperkuat posisinya atas penguasaan pada kawasan di Asia Tenggara, Sriwijaya menjalin hubungan diplomasi dengan
kekaisaran China, dan secara teratur mengantarkan utusan beserta upeti.
[17]
Pada masa awal
kerajaan Khmer merupakan daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan mengklaim bahwa
Chaiya, di propinsi Surat Thani,
Thailand Selatan, sebagai ibu kota kerajaan tersebut, pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan
pagoda Borom That yang bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang) Chaiya, Thatong (Kanchanadit), dan Khirirat Nikhom.
Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan
Pala di
Benggala, pada
prasasti Nalanda berangka 860 mencatat bahwa raja
Balaputradewa mendedikasikan sebuah biara kepada
Universitas Nalanda. Relasi dengan
dinasti Chola di selatan
India juga cukup baik, dari
prasasti Leiden disebutkan raja Sriwijaya di
Kataha Sri Mara-Vijayottunggawarman telah membangun sebuah
vihara yang dinamakan dengan
Vihara Culamanivarmma, namun menjadi buruk setelah
Rajendra Chola I naik tahta yang melakukan penyerangan di abad ke-11. Kemudian hubungan ini kembali membaik pada masa
Kulothunga Chola I, di mana raja Sriwijaya di Kadaram mengirimkan utusan yang meminta dikeluarkannya pengumuman pembebasan cukai pada kawasan sekitar
Vihara Culamanivarmma tersebut. Namun demikian pada masa ini Sriwijaya dianggap telah menjadi bahagian dari
dinasti Chola, dari kronik Tiongkok menyebutkan bahwa Kulothunga Chola I (
Ti-hua-ka-lo) sebagai raja San-fo-ts'i membantu perbaikan candi dekat
Kanton pada tahun
1079, pada masa
dinasti Song candi ini disebut dengan nama
Tien Ching Kuan dan pada masa
dinasti Yuan disebut dengan nama
Yuan Miau Kwan.
[6]
[sunting] Masa keemasan
Kemaharajaan Sriwijaya bercirikan kerajaan maritim, mengandalkan hegemoni pada kekuatan armada lautnya dalam menguasai alur pelayaran, jalur perdagangan, menguasai dan membangun beberapa kawasan strategis sebagai pangkalan armadanya dalam mengawasi, melindungi kapal-kapal dagang, memungut cukai serta untuk menjaga wilayah kedaulatan dan kekuasaanya.
[18]
Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain:
Sumatera,
Jawa,
Semenanjung Malaya,
Thailand,
Kamboja,
Vietnam,
[2] dan
Filipina.
[19] Dominasi atas
Selat Malaka dan
Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Sriwijaya mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, dan India.
Sriwijaya juga disebut berperan dalam menghancurkan
kerajaan Medang di Jawa, dalam
prasasti Pucangan disebutkan sebuah peristiwa
Mahapralaya yaitu peristiwa hancurnya istana Medang di Jawa Timur, di mana
Haji Wurawari dari
Lwaram yang kemungkinan merupakan raja bawahan Sriwijaya, pada tahun 1006 atau 1016 menyerang dan menyebabkan terbunuhnya raja Medang terakhir
Dharmawangsa Teguh.
[6]
Penurunan
Tahun
1017 dan
1025,
Rajendra Chola I, raja dari
dinasti Chola di
Koromandel,
India selatan, mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya, berdasarkan
prasasti Tanjore bertarikh
1030, kerajaan Chola telah menaklukan daerah-daerah koloni Sriwijaya, sekaligus berhasil menawan raja Sriwijaya yang berkuasa waktu itu
Sangrama-Vijayottunggawarman. Selama beberapa dekade berikutnya seluruh imperium Sriwijaya telah berada dalam pengaruh dinasti Chola. Meskipun demikian Rajendra Chola I tetap memberikan peluang kepada raja-raja yang ditaklukannya untuk tetap berkuasa selama tetap tunduk kepadanya.
[20] Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya berita utusan
San-fo-ts'i ke Cina tahun
1028.
[21]
Namun demikian pada masa ini Sriwijaya dianggap telah menjadi bagian dari dinasti Chola, dari kronik Tiongkok menyebutkan bahwa pada tahun
1079 Kulothunga Chola I (
Ti-hua-ka-lo) raja
dinasti Chola disebut juga sebagai raja San-fo-ts'i, yang kemudian mengirimkan utusan untuk membantu perbaikan candi dekat Kanton. Selanjutnya dalam berita Cina yang berjudul
Sung Hui Yao disebutkan bahwa kerajaan San-fo-tsi pada tahun
1082 masih mengirimkan utusan pada masa Cina di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Duta besar tersebut menyampaikan surat dari raja
Kien-pi bawahan San-fo-tsi, yang merupakan surat dari putri raja yang diserahi urusan negara San-fo-tsi, serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan, rumbia, dan 13 potong pakaian. Kemudian juga mengirimkan utusan berikutnya di tahun
1088.
[2] Pengaruh invasi Rajendra Chola I, terhadap hegemoni Sriwijaya atas raja-raja bawahannya melemah, beberapa daerah taklukan melepaskan diri, sampai muncul
Dharmasraya sebagai kekuatan baru yang kemudian menguasai kembali wilayah jajahan Sriwijaya mulai dari kawasan Semenanjung Malaya, Sumatera, sampai Jawa bagian barat.
Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku
Chu-fan-chi[22] yang ditulis pada tahun 1178,
Chou-Ju-Kua menerangkan bahwa di kepulauan
Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat kuat dan kaya, yakni San-fo-ts'i dan Cho-po (Jawa). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama Budha dan Hindu, sedangkan rakyat San-fo-ts'i memeluk Budha, dan memiliki 15 daerah bawahan yang meliputi;
Si-lan (
Kamboja),
Tan-ma-ling (
Tambralingga, Ligor, selatan Thailand),
Kia-lo-hi (Grahi,
Chaiya sekarang, selatan Thailand),
Ling-ya-si-kia (
Langkasuka),
Kilantan (
Kelantan),
Pong-fong (
Pahang),
Tong-ya-nong (
Terengganu),
Fo-lo-an (muara sungai
Dungun daerah Terengganu sekarang),
Ji-lo-t'ing (
Cherating, pantai timur semenanjung malaya),
Ts'ien-mai (
Semawe, pantai timur semenanjung malaya),
Pa-t'a (
Sungai Paka, pantai timur Semenanjung Malaya),
Lan-wu-li (
Lamuri di
Aceh),
Pa-lin-fong (
Palembang),
Kien-pi (
Jambi), dan
Sin-t'o (
Sunda).
[6][10]
Namun demikian, istilah
San-fo-tsi terutama pada tahun 1178 tidak lagi identik dengan Sriwijaya, melainkan telah identik dengan
Dharmasraya, dari daftar 15 negeri bawahan San-fo-tsi tersebut merupakan daftar jajahan kerajaan Dharmasraya, walaupun sumber Tiongkok tetap menyebut San-fo-tsi sebagai kerajaan yang berada di kawasan
laut Cina Selatan. Hal ini karena dalam
Pararaton telah menyebutkan
Malayu, disebutkan
Kertanagara raja
Singhasari mengirim sebuah
ekspedisi Pamalayu atau
Pamalayu, dan kemudian menghadiahkan
Arca Amoghapasa kepada raja Melayu,
Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa di
Dharmasraya sebagaimana yang tertulis pada
prasasti Padang Roco. Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan manuskrip yang terdapat pada
prasasti Grahi. Begitu juga dalam
Nagarakretagama, yang menguraikan tentang daerah jajahan
Majapahit juga sudah tidak menyebutkan lagi nama Sriwijaya untuk kawasan yang sebelumnya merupakan kawasan Sriwijaya.
Struktur pemerintahan
Pembentukan satu negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya, dapat dilacak dari beberapa prasasti yang mengandung informasi penting tentang
kadātuan,
vanua,
samaryyāda,
mandala dan
bhūmi.
[23]
Kadātuan dapat bermakna kawasan
dātu, (
tnah rumah) tempat tinggal
bini hāji, tempat disimpan
mas dan hasil
cukai (
drawy) sebagai kawasan yang mesti dijaga. Kadātuan ini dikelilingi oleh
vanua, yang dapat dianggap sebagai kawasan kota dari Sriwijaya yang didalamnya terdapat
vihara untuk tempat beribadah bagi masyarakatnya.
Kadātuan dan
vanua ini merupakan satu kawasan inti bagi Sriwijaya itu sendiri. Menurut
Casparis,
samaryyāda merupakan kawasan yang berbatasan dengan
vanua, yang terhubung dengan jalan khusus (
samaryyāda-patha) yang dapat bermaksud kawasan pedalaman. Sedangkan
mandala merupakan suatu kawasan otonom dari
bhūmi yang berada dalam pengaruh kekuasaan
kadātuan Sriwijaya.
Penguasa Sriwijaya disebut dengan
Dapunta Hyang atau
Maharaja, dan dalam lingkaran raja terdapat secara berurutan
yuvarāja (putra mahkota),
pratiyuvarāja (putra mahkota kedua) dan
rājakumāra (pewaris berikutnya).
[24] Prasasti Telaga Batu banyak menyebutkan berbagai jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan pada masa Sriwijaya.
Hubungan dengan dinasti Sailendra
Munculnya keterkaitan antara Sriwijaya dengan
dinasti Sailendra dimulai karena adanya nama
Śailendravamśa pada beberapa prasasti diantaranya pada
prasasti Kalasan di pulau Jawa,
prasasti Ligor di selatan Thailand, dan prasasti Nalanda di India. Sementara pada
prasasti Sojomerto dijumpai nama
Dapunta Selendra. Walau asal-usul dinasti ini masih diperdebatkan sampai sekarang.
[11]
Majumdar berpendapat dinasti Sailendra ini terdapat di Sriwijaya (Suwarnadwipa) dan
Medang (Jawa), keduanya berasal dari Kalinga di selatan
India.
[25] Kemudian Moens menambahkan kedatangan
Dapunta Hyang ke
Palembang, menyebabkan salah satu keluarga dalam dinasti ini pindah ke Jawa.
[26] Sementara
Poerbatjaraka berpendapat bahwa dinasti ini berasal dari Nusantara, didasarkan atas
Carita Parahiyangan[27] kemudian dikaitkan dengan beberapa prasasti lain di Jawa yang ber
bahasa Melayu Kuna diantaranya
prasasti Sojomerto.
[28]
Raja yang memerintah
Para Maharaja Sriwijaya
[2][6]
| Tahun | Nama Raja | Ibukota | Prasasti, catatan pengiriman utusan ke Tiongkok serta peristiwa |
| 671 | Dapunta Hyang atau
Sri Jayanasa | Srivijaya Shih-li-fo-shih | Catatan perjalanan I Tsing di tahun 671-685, Penaklukan Malayu, penaklukan Jawa Prasasti Kedukan Bukit (683), Talang Tuo (684), Kota Kapur (686), Karang Brahi dan Palas Pasemah |
| 702 | Sri Indrawarman Shih-li-t-'o-pa-mo | Sriwijaya Shih-li-fo-shih | Utusan ke Tiongkok 702-716, 724 Utusan ke Khalifah Muawiyah I dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz |
| 728 | Rudra Vikraman Lieou-t'eng-wei-kong | Sriwijaya Shih-li-fo-shih | Utusan ke Tiongkok 728-742 |
| 743-774 |
|
| Belum ada berita pada periode ini |
| 775 | Sri Maharaja | Sriwijaya | Prasasti Ligor B tahun 775 di Nakhon Si Thammarat, selatan Thailand dan menaklukkan Kamboja |
|
| Pindah ke Jawa (Jawa Tengah atau Yogyakarta) | Wangsa Sailendra mengantikan Wangsa Sanjaya |
| 778 | Dharanindra atau
Rakai Panangkaran | Jawa | Prasasti Kelurak 782 di sebelah utara kompleks Candi Prambanan Prasasti Kalasan tahun 778 di Candi Kalasan |
| 782 | Samaragrawira atau
Rakai Warak | Jawa | Prasasti Nalanda dan prasasti Mantyasih tahun 907 |
| 792 | Samaratungga atau
Rakai Garung | Jawa | Prasasti Karang Tengah tahun 824, 825 menyelesaikan pembangunan candi Borobudur |
| 840 |
|
| Kebangkitan Wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan |
| 856 | Balaputradewa | Suwarnadwipa | Kehilangan kekuasaan di Jawa, dan kembali ke Suwarnadwipa Prasasti Nalanda tahun 860, India |
| 861-959 |
|
| Belum ada berita pada periode ini |
| 960 | Sri Udayaditya Warmadewa Se-li-hou-ta-hia-li-tan | Sriwijaya San-fo-ts'i | Utusan ke Tiongkok 960, & 962 |
| 980 |
|
| Utusan ke Tiongkok 980 & 983: dengan raja, Hie-tche (Haji) |
| 988 | Sri Cudamani Warmadewa Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa | Sriwijaya Malayagiri (Suwarnadwipa) San-fo-ts'i | 990 Jawa menyerang Sriwijaya, Catatan Atiśa,
Utusan ke Tiongkok 988-992-1003,
pembangunan candi untuk kaisar Cina yang diberi nama
cheng tien wan shou |
| 1008 | Sri Mara-Vijayottunggawarman Se-li-ma-la-pi | San-fo-ts'i Kataha | Prasasti Leiden & utusan ke Tiongkok 1008 |
| 1017 |
|
| Utusan San-fo-ts'i ke Tiongkok 1017: dengan raja, Ha-ch'i-su-wa-ch'a-p'u
(Haji Sumatrabhumi (?)); gelar haji biasanya untuk raja bawahan |
| 1025 | Sangrama-Vijayottunggawarman | Sriwijaya Kadaram | Diserang oleh Rajendra Chola I dan menjadi tawanan Prasasti Tanjore bertarikh 1030 pada candi Rajaraja, Tanjore, India |
| 1030 |
|
| Dibawah Dinasti Chola dari Koromandel |
| 1079 |
|
| Utusan San-fo-ts'i dengan raja Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) ke Tiongkok 1079 membantu memperbaiki candi Tien Ching di Kuang Cho (dekat Kanton) |
| 1082 |
|
| Utusan San-fo-ts'i dari Kien-pi (Jambi) ke Tiongkok 1082 dan 1088 |
| 1089-1177 |
|
| Belum ada berita |
| 1178 |
|
| Laporan Chou-Ju-Kua dalam buku Chu-fan-chi berisi daftar koloni San-fo-ts'i |
| 1183 | Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa | Dharmasraya | Dibawah Dinasti Mauli, Kerajaan Melayu, Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand |
Warisan sejarah
Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan terlupakan dari ingatan masyarakat pendukungnya, penemuan kembali kemaharajaan bahari ini oleh Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya, berupa kemaharajaan yang terdiri atas persekutuan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh, dan berjaya di masa lalu.
Di samping Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia.
[29] Kegemilangan Sriwijaya telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah, khususnya bagi penduduk kota
Palembang, provinsi
Sumatera Selatan, keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya, seperti lagu dan tarian tradisional
Gending Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat selatan
Thailand yang menciptakan kembali tarian
Sevichai yang berdasarkan pada keanggunan seni budaya Sriwijaya.
Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, dan nama ini juga digunakan oleh
Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di Palembang. Demikian pula
Kodam II Sriwijaya (unit komando militer), PT
Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang),
Sriwijaya TV,
Sriwijaya Air (maskapai penerbangan),
Stadion Gelora Sriwijaya, dan
Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang), semua dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan, dan merayakan kemaharajaan Sriwijaya yang gemilang.
wikipedia