Pages

Tuesday, December 14, 2010

Lockheed Martin Successfully Tests First GMLRS+ Rocket

Lockheed Martin Successfully Tests First GMLRS+ Rocket

More Missiles & Bombs News

Lockheed Martin successfully launched a Guided Multiple Launch Rocket System Plus (GMLRS+) rocket recently in a test at White Sands Missile Range, NM.
The GMLRS+ rocket, which is equipped with a Semi-Active Laser (SAL) seeker, was fired from the High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) launcher. The rocket flew approximately 40 kilometers downrange, acquired the laser designated target and diverted over 150 meters to the target.
The GMLRS+ rocket is a Lockheed Martin internal research and development program to incrementally improve the combat-proven GMLRS Unitary program. GMLRS+ is anticipated to address operational needs including increased range, scalable effects and fleeting targets.
“We have a very high degree of confidence in the GMLRS program, based upon the tremendous track record of this combat-proven system,” said Scott Arnold, vice president of Precision Fires at Lockheed Martin Missiles and Fire Control. “As this GMLRS+ flight test demonstrated, we are adding new capabilities to the combat-proven GMLRS, giving the warfighter another highly reliable and accurate precision engagement weapon.”
Primary objectives for this GMLRS+ flight test were to demonstrate target acquisition and the ability to divert the missile to a laser-designated target; obtain technical data to support verification of the performance of the GMLRS+ rocket; and to validate seeker, rocket and launcher system software. Preliminary data indicate all test objectives were achieved. Additional launches of the improved GMLRS+ rocket are scheduled for 2011.
The current GMLRS Unitary rocket is successfully meeting the needs of the U.S. Army, U.S. Marine Corps and British Army artillery units in theater. To date, more than 1,900 GMLRS rounds have been fired in support of troops in ongoing military operations.
GMLRS is the world’s premier long-range precision artillery rocket designed specifically for destroying high-priority targets at ranges up to 70 kilometers. Successfully employed in both urban and non-urban environments, it is able to operate in all climate and light conditions while remaining beyond the range of most conventional weapons. Each GMLRS missile is packaged in a MLRS launch pod and is fired from the MLRS Family of Launchers.
Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 133,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation’s 2009 sales from continuing operations were $44.0 billion.

Missiles & Bombs News — By Lockheed Martin on December 14, 2010 

DEFENCE TALK

WikiLeaks: Arab Saudi Bertekad Hancurkan Hizbullah

Data terbaru yang dirilis situs WikiLeaks menunjukkan pemerintah Arab Saudi mengusulkan pembentukan pasukan multi Arab dengan dukungan marinir dan angkatan udara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Amerika Serikat. Pasukan multi Arab ini dimaksudkan untuk menghancurkan Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah). Data terbaru yang dirilis WikiLeaks menunjukkan bahwa prakarsa ini dilontarkan Arab Saudi sejak dua tahun lalu untuk mengintervensi urusan internal Lebanon dan menghancurkan Hizbullah. Demikian dilaporkan Fars News mengutip Koran The Guardian Rabu (8/12).
Menurut data ini, Arab Saudi menilai kemenangan Hizbullah di Beirut berarti berakhirnya pemerintahan Fouad Siniora dan kontrol Republik Islam Iran atas Lebanon. Usulan Riyadh ini secara legal tidak berhasil diratifikasi dan menurut klaim WikiLeaks, untuk opsi militer, AS dalam reaksinya masih ragu untuk menjalankan usulan tersebut.
Di dokumen WikiLeaks juga menyebutkan urgensitas menjawab isu keamanan atas apa yang disebut ancaman muqawama Lebanon dan Suriah. Masih menurut situs ini, mengingat iklim yang berkuasa di Beirut adalah militer maka perlu dilakukan tindakan serupa yaitu militer. Dan opsi militer menurut laman WikiLeaks adalah pengerahan pasukan multi Arab di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selain itu, Arab Saudi menyatakan bahwa penempatan pasukan penjaga perdamaian PBB dan multi Arab di bawah dukungan militer NATO dan AS dapat menghapus Hizbullah untuk selamanya. (IRIB/Fars News/MF)

IRIB

Western military district gets first Iskander tactical missile system


Iskander tactical missile system
11:13 14/12/2010
© RIA Novosti.
The first Iskander tactical surface-to-surface ballistic missile system has entered service with the Russian Army's Western Military District, regional commander Arkady Bakhin said on Tuesday. "We are at practically 98 percent permanent readiness. We are carrying out reequipment and delivery of new types of weapons," Bakhin said.
Iskander is designed for tactical strikes on small, high value land targets. The export variant has a range of 280 km but the variant in Russian service has a range of 500 km.
Iskander was produced by a range of scientific-industrial companies including KBM Kolomna, which previously produced the Tochka and Oka missile systems.
Russia has previously threatened to deploy Iskander in the Kaliningrad region if NATO deployed missile defense systems in Poland without Russian approval.
MOSCOW, December 14 (RIA Novosti)

RIA NOVOSTI

WikiLeaks: AS dan China Bicarakan TNI

VIVAnews - Amerika Serikat (AS) dan China turut berkepentingan atas reformasi di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Transparansi militer Indonesia dipandang bisa mendorong sekaligus memperkuat transparansi di tubuh pemerintah dan kemasyarakatan di negeri itu.

Demikian laporan hasil percakapan antara pejabat AS dan China. Laporan itu ditulis dalam memo diplomatik dari Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Beijing ke Departemen Luar Negeri di Washington DC, Maret 2007, yang bocor di laman WikiLeaks, 12 Desember 2010.

Bernomor referensi 07BEIJING1448, memo berkatagori rahasia itu merekam pembicaraan antara Asisten Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Cui Tiankai, beserta Direktur Jenderal urusan Asia, Hu Zhengyue, dengan kolega mereka dari AS, Deputi Asisten Menlu AS urusan Asia Timur dan Pasifik, Eric John, di Beijing pada 5 Maret 2007.

Mereka membicarakan isu-isu di Asia Tenggara, seperti masalah demokrasi Myanmar dan keamanan di kawasan itu. Para pejabat dari kedua negara juga membicarakan situasi di Indonesia.

John menekankan kepada Hu bahwa AS dan China harus bekerja sama untuk mendorong demokratisasi, pertumbuhan ekonomi, dan anti terorisme di Indonesia. demikan penggalan memo itu.

John, yang sejak Oktober 2007 diangkat menjadi Duta Besar AS untuk Thailand, juga menilai kendati Presiden Susilo Bambang Yudhoyoho telah mengambil sejumlah langkah positif, AS dan China harus mendorong Indonesia untuk melakukan transparansi, akuntabilitas, dan reformasi militer yang lebih optimal.

"Transparansi di dalam TNI akan memperkuat dan mendorong transparansi di dalam pemerintahan dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Ini penting untuk daya tarik investasi asing," demikian perkataan John kepada Hu yang dikutip memo itu.

"Kita juga harus mendorong reformasi dalam peraturan tenaga kerja dan investasi, begitu pula dengan penegakan hukum atas peraturan-peraturan itu," lanjut memo tersebut.

AS, menurut John, merasa bahwa China bisa memberi pengaruh dalam memberikan "arahan umum" bagi pembangunan di Indonesia. Namun, kepada John, Hu mewanti-wanti bahwa Beijing harus bersikap sensitif atas realitas politik terkait dengan nasib populasi warga keturunan China di Indonesia, yang dinilai signifikan.

Beijing, dalam memo itu, merasa "tidak terkesan" atas sejumlah presiden yang memimpin Indonesia setelah Krisis Keuangan Asia di akhir dekade 1990-an. Namun, China merasa senang kemajuan yang dibuat Yudhoyono sejak memerintah pada 2004, demikian kata Hu.

Seperti yang dilaporkan di memo diplomatik itu, Hu mengungkapkan keinginan China untuk mendorong Islam yang sekuler di Indonesia, dengan mendorong interaksi dengan 20 juta umat Muslim di Tiongkok.

Dalam beberapa tahun terakhir, AS dan China telah berkoordinasi dalam memberi bantuan kepada Indonesia terkait dengan sejumlah bencana alam. Bagi Beijing, kerjasama demikian bisa menjadi model bagi kemitraan di tingkat regional.

Sumber:VIVA NEWS

Avionics-Equipped F-35 Joins Edwards AFB Test Jets


14 December 2010, FORT WORTH, Texas -- The third F-35A to join the test fleet at Edwards Air Force Base, Calif., tops off its fuel tanks while cruising west toward its destination after departing Fort Worth, Texas, on Dec. 11. Lockheed Martin test pilot Bill Gigliotti flew the conventional takeoff and landing variant, known as AF-3, on the 1,200-mile ferry flight. AF-3 will focus on testing advanced technologies and mission systems. The F-35 Lightning II program on Dec. 9 achieved its goal of 394 flights in 2010, and reached the 400-flight mark for the year-to-date on Dec.13. (Photo: Lockheed Martin/Liz Kaszynski)

Singapura Tertarik Beli P-3C Bekas USN


P-3C Orion dari Skuadron Patroli Satu (VP-1) "Screaming Eagles". (Foto: USN/Mate 2nd Class Michael)

15 Desember 2010 -- Singapura tertarik mengakuisisi pesawat patroli maritim P-3C Orion surplus USN menurut pabrik pesawat Lockheed Martin dikutip laman Flight Global, Rabu (15/12).

“Singapura telah mengeluarkan a letter of request untuk melihat P-3,” ucap direktur Lockheed Martin Mark Jarvis. Singapura tertarik membeli 4 atau 5 pesawat. Konfigurasi pesawat mungkin sama dengan 12 pesawat Orion pesanan Taiwan, dikirimkan mulai 2012.

RSAF mengoperasikan 5 pesawat patroli maritim Fokker 50 yang sudah menua, kemungkinan besar menggantinya dengan P-3C Orion. USN akan pensiunkan P-3C Orion dan digantikan Boeing P-8A Poseidon.

Jarvis mengatakan sejumlah P-3C dapat diterbangkan ke pabrik Lockheed di Greenville, South Carolina untuk perbaikan total dan modernisasi sebelum diserahkan pada pihak ketiga.

Menurut catatan Lockheed, lebih dari 430 P-3 dioperasikan oleh 17 negara. Saat ini, Lockheed menguprade 54 P-3C milik Kanada, Norwegia, Taiwan, Badan Penjaga Perbatasan dan Bea Cukai AS dan USN, serta kemungkinan Jerman.

Flight Global
/Berita HanKam

Pesawat Malaysia Tinggalkan Surabaya


Bae-146. (Foto: BAE Systems)

14 Desember 2010, Jakarta -- Pesawat sewa bernomor penerbangan BAe146-200 Malaysia yang memasuki wilayah Indonesia secara ilegal, akhirnya bertolak kembali ke negara asalnya, setelah proses perijinan selesai.

Juru bicara TNI Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul kepada ANTARA di Jakarta, Selasa malam mengatakan, sebelumnya pesawat yang diduga membawa keluarga kerajaaan Melaka, ditahan Kantor Imigrasi Bandara Internasional Juanda, Surabaya sejak siang, karena memasuki wilayah Indonesia tanpa ijin.

Terkait itu otoritas Pemerintah Indonesia seperti Badan Intelijen Strategis TNI dan Kementerian Luar Negeri segera memproses kru pesawat untuk dimintai keterangan.

"Setelah berkoordinasi dengan Kemlu maka BAIS mengeluarkan `security clearence` dan meminta pesawat segera kembali ke Malaysia malam ini juga. Baru saja pesawat tinggal landas," kata Iskandar.

Pesawat tersebut terbang dari Dili dengan tujuan Kuala Lumpur, Malaysia.

Namun, pesawat melintas tanpa izin dan diperiksa di Bandara Juanda, Surabaya.

Akibatnya, pesawat yang berpenumpang 81 orang termasuk kru pesawat itu ditahan di Juanda.

Penahanan dilakukan atas perintah Kementerian Luar Negeri karena tidak adanya "diplomatic clearance", "security clearance", dan "flight approval".

ANTARA News

BERITA POLULER