Pages

Friday, November 12, 2010

Kemenhan Akan Memproses Hibah Hercules Dari Australia



Hercules C-130H milik RAAF Australia

JAKARTA - Pemerintah Indonesia akan memproses tahapan hibah pesawat C-130 Hercules dari Australia. "Ya sedang kita proses semua tahapannya, karena meski itu pesawat milik Angkatan Udara Australia tetapi hibah itu harus ada izin dari Kementerian Pertahanan AS," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta, Jumat (12/11).

Kepada ANTARA, Purnomo mengemukakan, Angkatan Udara Australia berencana akan mengganti pesawat angkut C-130 Herculesnya dari tipe H dengan tipe J.

"Hercules lama sebelum dihibahkan harus dilaporkan dan dikembalikan ke AS (sebagai produsen). Dan ini perlu proses panjang. Setelah selesai, Australia juga masih menunggu pengganti pesawatnya tiba yakni tipe J," ungkap Menhan.

Jika pesawat baru yakni Hercules tipe J belum diterima, kata dia, maka Australia juga belum bisa menghibahkan Hercules lamanya kepada Indonesia.

Populasi Hercules yang dimiliki TNI Angkatan Udara tercatat 21 unit yang kini dioperasikan di Skuadron Udara 31/Halim Perdanakusuma dan Skuadron 32/Abdurahman Saleh. Khusus di Skuadron Udara 32 dari 11 unit Hercules yang dioperasikan, hanya enam yang dinyatakan siap. Sisanya masih menjalani masa pemeliharaan rutin.

Sumber : ANTARA

Produsen Alutsista Indonesia Tampilkan Produk-produk Baru di Indodefence 2010 (1)

Panser 6x6 Anoa V2 dengan kemampuan amfibi (photo : Defense Studies)
Indodefence 2010 merupakan pameran pertahanan tingkat internasional ke-4 yang diadakan oleh Indonesia. Pada pameran kali ini sekaligus digabungkan dengan hajatan IndoMarine dan IndoAerospace. Pameran kali ini berlangsung dari tanggal 10-13 November 2010 di JIExpo Kemayoran-Jakarta.

Matra Darat
SS2 versi bullpup (photo : Defense Studies)

Dalam pameran kali ini Pindad menampilkan produk baru berupa varian senapan SS2 bullpup, serta amunisi tipe besar. Tidak ketinggalan panser 6x6 Anoa dalam beberapa varian yaitu APC, Kanon, Komando, ARV, Pengangkut Amunisi, Pengangkut BBM, Ambulans, dan Mortar Carrier. Seri V2 juga diluncurkan dengan varian amfibi ditampilkan pula miniatur panser Anoa V2 yang dilengkapi RCWS (Remotely-Controlled Weapon Systems).

RHan-122 beserta kendaraan peluncur gerak sendiri dan ditarik (photo : Defense Studies)

Roket pertahanan RHan 122 yang baru saja sukese diuji coba di Batujajar juga ditampilkan berikut kendaraan peluncurnya berupa Landrover (self propelled) ataupun towed. Roket yang digunakan oleh TNI AL ini akan segera memasuki produksi massal.
P4x4-kendaraan taktis 3/4 ton rancangan PT. Pindad (photo : Defense Studies)

Kendaraan taktis ¾ ton 4x4 yang saat ini sedang bersaing dan akan diproduksi 300 buah kesemuanya ditampilkan dalam pameran yaitu P4x4 buatan Pindad, Gudel dari Pacific Technology bekerjasama dengan AIPO, Land Rover dan Jeep J-8. Belum ada pengumuman resmi mengenai hasilnya.
Gudel-kendaraan taktis 4x4 rancangan PT. Pacific Technology (photo : Defense Studies)


Pindad juga bersiap untuk segera memproduksi kendaraan taktis 4x4 Arwana. Kendaraan yang sepintas mirip Daewoo-Barracuda ini akan dipakai oleh Brimob (brigade Mobil) Kepolisian Indonesia.

Matra Udara


CN-235NG dengan beberapa perubahan dari versi awal (photo : Defense Studies)
PT. Dirgantara Indonesia menampilkan miniatur CN-235NG, perbedaan utama dibanding pendahulunya ada pada tiga hal yaitu penghilangan rampdoor, tambahan wingtip di ujung sayap, dan pembenahan avionic. Dengan adanya perubahan tersebut bobot pesawat menjadi berkurang dan kecepatan semakin bertambah, sebaliknya konsumsi bahan bakar menjadi lebih hemat.
Bumblebee-Helikopter serang berbobot ringan (photo : Defense Studies)
Ditampilkan pula miniatur heli serang untuk Angkatan Darat dengan nama Bumblebee. Heli serang dengan MTOW 2500 ton ini mengambil dasar dari heli ringan Bo-105.

Beberapa jenis Target Drone tipe sedang juga dipamerkan, wahana ini telah beberapa kali diuji coba oleh Angkatan Darat dan dinyatakan berhasil dengan baik.

(Defense Studies)

Malaysia Berminat Tambah Panser Pindad

JAKARTA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, Malaysia berminat untuk menambah pembelian panser "Anoa" buatan PT Pindad.
Ditemui usai menyematkan Bintang Kehormatan Yudha Dharma Utama kepada Panglima Angkatan Bersenjata Kamboja, di Jakarta, Jumat (12/11), Purnomo Yusgiantoro, mengatakan, permintaan Malaysia itu akan diproses lebih lanjut.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia dan Malaysia telah menandatangani kontrak pembelian 32 unit panser "Anoa" buatan PT Pindad.

"Ini menunjukkan bahwa industri pertahanan nasional kita juga telah mampu bersaing dengan produk serupa dari negara lain. Untuk itu dalam `Indo Defence` 2010 ini kita fokus pada kerja sama industri pertahanan nasional dengan sejumlah negara, dalam rangka memodernisasi persenjataan TNI," kata Menhan.

Pengganti Condor

Menteri Pertahanan Malaysia, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid pada saat berkunjung ke pameran Indo-Defence Kamis (11/11) kemarin menyatakan bahwa Malaysia tengah mengkaji rencana pembelian Anoa dari Indonesia untuk menggantikan kendaraan tempur (ranpur) Condor miliknya.


Condor IFV buatan Deftech-Malaysia

"Angkatan Tentera Malaysia (ATM) sedang mengevaluasi penggunaan ranpur baru termasuk panser Anoa dari Indonesia untuk diterjunkan sebagai sarana pendukung tentera yang tergabung dalam pasukan keamanan PBB di Libanon selatan", ungkapnya.

Zahid juga mengatakan Malaysia merupakan salah satu negara pengguna produk Indonesia seperti pesawat angkut CN-235, belia berharap negara-negara ASEAN bisa membentuk kemitraan cerdas untuk mengurangi ketergantungan senjata pada Barat. Menurutnya negara-negara di Asean paling tidak mengimpor senjata tidak kurang senila US$ 25 miliar dari Eropa dan Amerika.

Sumber : ANTARA/ BERNAMA

PT PAL Rancang Kapal Cepat Rudal 43 Meter


(Foto: Berita HanKam)

12 November 2010 -- PT. PAL merancang Kapal Cepat Rudal (KCR) berukuran panjang keseluruhan 43 meter dan lebar 8 meter, dapat membawa 25 orang. Kecepatan maksimal KCR 30 knot dan kecepatan jelajah 18 knot.

KCR dilengkapi sistem kontrol senjata, sepucuk meriam 40 mm dan dua rudal permukaan serta dua pucuk senapan mesin 12,7 mm.

KCR dapat dilengkapi juga Electronic Support Measure (ESM) dan radar pengawas.

KCR 43 meter rancangan TNI AL dan PT Palindo Marine Shipyard lebih mematikan persenjataannya dibandingkan rancangan PT PAL. Belum dapat dikonfirmasikan TNI AL akan memesan KCR ini.

Berita HanKam

the Habibie Theorem

Do you have travel with plane ? I think all of you have traveling with plane, who know finder of Crack propagation at plane of hypersonic which used for world standard of plane construction. The finder of crack propagation theory is Prof. Dr. Ing.- Dr. Sc. H.C. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie or known as Habibie with Habibie Theorem, Habibie Factor and Habibie Method. Habibie have complete design and construct N 250 (Gatot Kaca) Plane with Fly-by-Wire technology for 50 – 50 passanger

Habibie and Plane

The 3rd President of Indonesia
N 250 (Gatot Kaca)
N 2130

Prof. BJ habibie

Habibie Projects

He also contributed for some design and contruction plane :
Fokker F 28
Transall C – 130 ( military transport )
Hansa Jet 320 ( executive jet )
Air Bus A – 300
Transport plane DO – 31(plane with landing and take off by vertical technology)
CN – 235 collaboration with CASA Spain
Panser 6X6 made by Pindad
In China, 1992, Habibie win Theodhore van Karman Award from International Council for Aeronautical Sciences. He also members of The National Academy of Engineering (USA), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences, Royal Aeronautical Society (England), Academic Nationale de I’airet de I’Espace (France) and honorary member of Gesellschaft Fuer Luft Und Raumfahrt (west germany).
Habibie born in Parepare, south sulawesi June 25,1936. He and his wife (Hj.Hasri Ainun habibie) have two son Ilham Akbar and Thareq kemal. Habibie career start from Indonesia to Germany and go back to Indonesia :
- 1954 : Study at Technology Institute of Bandung (Indonesia)
- 1955 – 1965 : Study at RWTH Aachen, West Germany
- 1960 : honorary Diploma ingineur with summa cum laude
- 1965 : honorary Doktor Ingineur with summa cum laude
- 1965 – 1969 : work at Messerschmitt – Bolkow – Blohm (MBB Hamburg) as chief
Research and Development Structure Analysis.
- 1969 – 1973 : as Chief division of Method and technology commercial plane and
military MBB.
- 1973 – 1978 : become Vice President plus Director of Technology at
MBB Hamburg.
- 1978 : as Senior Advisor for Technology in Board of Directors MBB
- 1979 – 1997 : become Research and Technology Minister at
Indonesia Government.
- 1998 : become Vice President of Republic Indonesia
- 1998 – 1999 : become 3rd President of Republic Indonesia
- 1999 – Now Founder and Advisor at HabibieCenter and ICMI(Indonesian
Muslim Intellectual Community).
“The basis of any modern economy is in their capability of using their renewable human resources. The best renewable human resources are those human resources which are in a position to contribute to a product which uses a mixture of high-tech.” (Sources : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)

SOURCE :http://hubpages.com/hub/habibie

20 YEARS, THE APPLICATION OF TECHNOLOGY AND INDUSTRIAL TRANSFORMATION OF PT. DIRGANTARA INDONESIA 79)


B.J. Habibie
          When in 1974 the Government of Indonesia decided to boost the development of the aircraft industry as part of its national development program, a strategy for industrial transformation was progressively formulated. Indonesia's general policy for national development is focused on the three main goals of increasing basic capital, utilizing resources optimally for self reliance, and applying science and technology in conformity with demand and priority. The establishment of the presently known PT. Dirgantara Indonesia marked the initiation of the strategy for industrial transformation. This strategy, reformulated in the inaugural address of the author as an Honorary Fellow at The German Aeronautical Society, DGLR in 1978, in essence is aimed to develop the technological capability of Indonesia as a backbone for its national development appropriate to its socio-cultural setting in the modern word by starting from the end product and ending with its generic elements.

          The ultimate objective of the industrial transformation strategy is transforming the nation from an agriculturally based society into and industrial based society, and additionally, for PT. Dirgantara Indonesia, to achieve world wide recognition as a viable aircraft manufacturing company.

          The strategy for industrial transformation has been formulated in four strategic phases. This phases begins with the efforts to master skills necessary to manufacture and assemble an aircraft at its final stage of its production process that is from the sub to final assembly. The phase ends up with the effort to acquire basic science which form the back bone of the technology for aerospace industry.

          Phase One : Technology Acquisition through the transfer of existing technology to achieve an added value process, capitalizing on the acquisition of manufacturing capability of advanced technology product already in the market. The aim of this phase is to attain and develop skill and technological ability with regards to the technical aspects and the production of advanced products which have already been developed by advanced industrial countries. This phase has been successfully carried out at PT. Dirgantara Indonesia since 1976. The results are among others : Licensed program for fixed wing aircraft such as NC-212; Rotary wing aircraft such as NBO-105, Super Puma NAS-332, Nbell-412 and weapon system such as SUT torpedo and FFAR missiles.

          The first phase since then, continued to advanced aerospace component production. The results are among other, Component subcontract program from : Boeing for Boeing 737 and 767, General Dynamics for F-16 A/B, British Aerospace for Rapier, Fokker for Fokker-100, Hughes for Commercial Satellite HS-601 for Palapa C.

          Phase Two : Integration of acquired and existing technology into the design and production of completely new products to be introduced in the international market. This second phase emphasized the ability to design particularly the ability to integrate and optimize the design of components for a new system. The capability to test and certify newly designed products is also developed in this stage.

          CN-235 joint design production between PT.Dirgantara Indonesia (formerly IPTN) of Indonesia and CASA of Spain can be shown as a living example of this phase. This second phase since then, continued to the development of our own version of CN-235, such as CN-235-MIL equipped with advanced cockpit compatible with NVG (Night Vision Goggle) for tactical night flying capability, CN-235-MPA with integrated mission avionics and FLIR (Forward Looking Infra Red); modified NBO-105 with digital cockpit and EFIS (Electronic Flight Instrumentation System).

          Phase Three : Development of existing and new technology into the design and production of completely new products to be introduced in the international market. During this third phase, innovations will be introduced, and new technologies are created to produce the latest and most modern products based on market needs.

          At PT. Dirgantara Indonesia this phase is realized by a new subsonic commuter aircraft development program the N250. Which is plan to roll out on November 1994 and first flight expected at the first quarter of 1995. The third phase will be followed by a family of improved and modified N250 series and a newly design transonic commuter aircraft program, the N2130. All of these product will utilize the most state of the art aerospace technology.

          Phase Four : Acquisition of large scale basic research capability and the implementation of basic research as a key element in the introduction of competitive generic technologies. The aerospace industry, PT. Dirgantara Indonesia is the spearhead of other strategic industries, its program can be expected to spin-off to non aerospace program such as land and ship industries.


FOUR STRATEGIC PHASE OF INDUSTRIAL TRANSFORMATION OF PT. DIRGANTARA INDONESIA



*** 
SUMBER : WEBSITE PT DI

BI Siapkan Kebijakan untuk Arus Modal Asing

Jakarta (ANTARA News) - Bank Indonesia menyiapkan sejumlah skenario kebijakan untuk mencegah terjadinya gejolak ekonomi akibat pembalikan arus modal asing yang masuk ke Indonesia.

"Kita punya banyak variasi skenario untuk menyiapkan diri atas kemungkinan terjadinya reversal (pembalikan) capital inflows," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Budi Mulya, di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, beberapa skenario itu, antara lain menetapkan kebijakan untuk menahan kepemilikan SBI lebih dari satu bulan atau lebih lama dibanding kebijakan yang berlangsung sekarang.

"Itu bisa saja dilakukan tergantung situasinya. Kita lihat saja perkembangannya," kata Budi Mulya.

Dijelaskannya, kondisi ekonomi global yang belum pulih mengakibatkan arus modal asing mencari negara-negara yang memberikan keuntungan besar yaitu di negara-negara emerging market termasuk Indonesia.

Sampai Oktober, porsi kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) mencapai Rp189,51 triliun atau 30,9 persen. Sementara porsi kepemilikan asing di SBI mencapai Rp70,87 triliun atau 31,5 persen.

Mengenai tingginya kepemilikan asing di SUN, Budi Mulya mengatakan, Bank Indonesia dan Pemerintah telah berkoordinasi untuk menjaga agar dana asing di SUN tidak membahayakan ekonomi nasional jika terjadi reversal.

"Kita telah berkoordinasi sebagai otoritas moneter dan fiskal. Itu merupakan concern bersama kita," katanya.

Sedangkan mengenai suku bunga BI (BI rate), menurut Budi Mulya, penetapannya tergantung ekspektasi inflasi ke depan. "BI confident pencapaian target inflasi," katanya.

BI, Kamis, menghentikan sementara lelang SBI tiga bulan. Selain untuk mengarahkan penyerapan ekses likuiditas ke instrumen yang lebih panjang, kebijakan ini juga untuk membatasi kepemilikan asing.

Untuk mengganti SBI tiga bulan, BI melakukan lelang instrumen Term Deposit (TD) tiga bulan yang tidak bisa dimiliki oleh asing karena tidak dijual di pasar sekunder dan hanya berupa transaksi antara BI dan perbankan.

ANTARA

BERITA POLULER