Pages

Thursday, November 11, 2010

ATM Timbang Guna APC Indonesia



Seri Anoa 6x6 produksi PT. Pindad (photo : Defense Studies)
JAKARTA - Malaysia sedang mempertimbangkan untuk membeli kenderaan tempur jenis APC (Armoured Personal Carrier) keluaran Indonesia iaitu ANOA bagi menggantikan kereta perisai Condor.

Menteri Pertahanan, Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi berkata, ketika ini Angkatan Tentera Malaysia (ATM) sedangkan menilai keberkesanan aset tersebut khususnya dalam menyertai misi Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) di Lebanon.

"Kita sedang meneliti apakah ANOA dapat berfungsi dengan baik ketika berada di kawasan yang suhu ekstrem seperti di Lebanon," katanya kepada pemberita ketika menghadiri Indodefence di sini, hari ini.

ANOA kini digunakan oleh Tentera Nasional Indonesia (TNI) dalam melaksanakan misi perdamaian di Lebanon Selatan.

Dalam pada itu Ahmad Zahid berkata, Malaysia juga sedang mempertimbangkan untuk bekerjasama dengan Indonesia untuk mengeluarkan peluru berkaliber sederhana.

Menurut beliau, kerjasama di kalangan negara ASEAN dapat mengelak daripada perbelanjaan besar negara-negara rantau berkenaan membeli aset ketenteraan dari negara Barat seperti Eropah.

"Ini merupakan satu bentuk kerjasama Malaysia dengan negara-negara ASEAN dalam bidang industri pertahanan," kata beliau.

Kereta perisai Condor ATM kini digunakan untuk misi pengaman.


(Utusan)

Daewoo International to Export Armored Vehicles to the Indonesian Army



Blackfox Tarantula 6x6 with 90mm turret (photo : Asia Today)

Daewoo International to export military wheeled armored vehicles 6x6 to Indonesia Army worth of 70 million dollars.

Indonesian Defense Ministry and Daewoo International recently signed agreement and came into effect 11 days to start production this month.

Wheeled armored vehicles 6 x6 is the first time to export to overseas.

Daewoo equipped 22 units of armored with a 90mm turret, split 11 units completely knock down (CKD), and 11 unit in parts assembly (SKD), Indonesia announced that it will lead to the Army by end of 2013.

Production and 90mm armored turret assembly headed by the Doosan DST, SKD volume manufacturing technology transfer contract with the armored vehicles in Indonesia is planning to assemble in the arsenal.

Company officials said "military diplomacy in the DAPA and the competitive win financial support Korea Export-Import Bank for this project was a great help," he said.

Daewoo International in the past one year worth of $ 80 million from the Indonesia Navy type 209 submarines overhaul contracts, and amount to $ 40 million from the Indonesian Air Force basic trainer contracted.

(New Daily)

Hati-hati F-16 Bekas


Jet tempur F-16 Fighting Falcon dari 18th Aggressor Squadron, lanud Eielson, Alaska. (Foto: USAF/ Staff Sgt. Christopher Boitz)

12 November 2010, Jakarta -- Pemerintah perlu mempertimbangkan dengan matang jika hendak menerima hibah pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat. Selain karena pesawat sudah tua, Indonesia juga perlu mengurangi ketergantungan teknologi militer dari negara lain.

”Untuk dapat kita pakai, pesawat F-16 yang dihibahkan itu harus mengalami perbaikan total atau retrofit. Saat retrofit selesai, pesawat itu sudah tua. Kita mengeluarkan banyak uang untuk memperbaiki barang tua,” kata Tjahjo Kumolo, anggota Komisi I DPR, di Jakarta, Kamis (11/11).

Salah satu agenda penting di bidang pertahanan yang akan ditindaklanjuti terkait kedatangan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia, beberapa waktu lalu, adalah tawaran hibah pesawat F-16 dari AS. AS lebih fokus ke F-18 dan lainnya. Pesawat F-16 yang dihibahkan itu harus mengalami retrofit dengan biaya sepertiga dari harga pesawat tersebut ketika masih baru.

Dengan hibah itu, AS terlihat baik hati. ”Padahal, itu pesawat yang sudah tua sehingga meski sudah diperbaiki, belum tentu efektif untuk memberikan daya gentar,” tutur anggota Fraksi PDI-P itu. Dia berharap anggaran perbaikan pesawat hibah itu sebaiknya untuk membeli pesawat baru.

Teguh Juwarno, anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional, mengingatkan, Indonesia pernah memiliki sejumlah pengalaman buruk saat membeli atau menerima hibah peralatan militer bekas. ”Kita pernah menerima kapal selam bekas. Meski sudah diperbaiki, ternyata tetap tidak dapat beroperasi maksimal,” katanya.

”Rencana hibah pesawat F-16 ini membuat Indonesia semakin tergantung alat pertahanan dari negara lain. Padahal, pengalaman selama ini, jika ada masalah politik sedikit saja, alat pertahanan itu dapat mangkrak (tak terurus) karena sulit mendapat suku cadang karena negara pembuat melakukan embargo,” ujar Teguh.

Namun, Indria Samego dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menilai, dalam situasi keterbatasan anggaran pertahanan Indonesia, hibah itu dapat diterima. Sebab, biaya perbaikan total yang dikeluarkan lebih murah, yaitu hanya sepertiga dibandingkan membeli pesawat baru.

”Selama ini Indonesia juga sudah memakai F-16. Dengan demikian, jika sekarang ada pesawat baru, secara ekonomi juga akan lebih hemat karena tidak ada keharusan untuk belajar mengoperasikannya,” katanya.

Terkait banyaknya bencana dan minimnya anggaran, Indonesia sebaiknya membeli pesawat angkut multiguna. Hal itu disampaikan Peter Scoffham, Vice President Defence Capability Marketing Airbus Military, Kamis.

Ia menggarisbawahi pentingnya alat angkut yang multiguna sebagai bentuk pertanggungjawaban anggaran yang merupakan uang pajak rakyat. Alat angkut fleksibel bisa digunakan untuk mengangkut barang bantuan, korban bencana, atau pasukan penerjun, dan bisa diubah fungsinya dalam waktu singkat. Uang masyarakat pun tidak sia-sia.

Barbara Kracht, Vice President Media Relations Airbus Military, mengatakan, Airbus memproduksi beberapa pesawat angkut, termasuk yang ringan dan medium, yaitu C-212, CN-235, dan C-295 serta A400M. Yang terakhir ini dianggap sebagai pesaing Hercules C-130 yang banyak digunakan Indonesia.

KOMPAS

Presiden: Tinggalkan Mentalitas Rendah Diri

Presiden: Tinggalkan Mentalitas Rendah Diri
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, untuk mencapai posisi sebagai negara yang maju dan memiliki peran kuat di kawasan serta global maka mentalitas rendah diri dan mengharapkan bantuan bangsa lain harus ditinggalkan.

Hal tersebut disampaikan Presiden Yudhoyono saat memberikan penjelasan kepada pers, Kamis, dalam perjalanan menuju Korea Selatan, mengenai tujuan dan agenda delegasi Indonesia selama KTT G-20 Seoul dan KTT APEC di Yokohama, Jepang.

"Sejak Indonesia menjadi permanen member (anggota tetap) G-20 tahun 2008, kita sebenarnya sudah masuk world class (kelas dunia). G-20 itu 20 besar sebetulnya merepresentasikan seluruh negara di dunia. Kita juga barangkali tidak sadar kalau kita punya GDP (produk domestik bruto) dalam waktu lima tahun hingga enam tahun meningkat dan sekarang sudah masuk 20 besar dunia," kata Presiden.

Atas dasar capaian itu dan juga kemampuan serta sumber daya yang dimiliki Indonesia, seharusnya bangsa Indonesia menjauhi mental rendah diri dan juga keinginan untuk selalu mendapat bantuan.

"Oleh karena itu saya tidak "happy" entah dalam konferensi pers atau pembicaraan formal, kalau ada pertemuan bilateral saya berkunjung ke negara X, presiden atau perdana menteri atau emir dari negara Z berkunjung ke Indonesia ada pertanyaan lantas apa yang kita dapat dari mereka atau apa yang tuan Presiden berikan ke Indonesia," tegas Kepala Negara.

Presiden menambahkan, "Mari kita ubah mentalitas seperti itu. Kita punya harga diri, kita punya kehormatan yang besar. Kalau bisa kita kelola dengan baik maka lima hingga sepuluh tahun atau 15 tahun dari sekarang kita benar-benar menjadi world power."

Kepala Negara mengatakan Indonesia memiliki potensi yang dimiliki oleh Brasil, China dan India sehingga sudah seharusnya tumbuh menjadi negara yang memiliki fundamental ekonomi yang kuat serta meninggalkan orientasi mengandalkan bantuan bangsa lain.

"Mari kita ubah secara total mentalitas, cara pandang melihat orang lain dan diri kita seperti itu. Kalau kita tidak bermental meminta, maka kita bisa mengatakan apa yang bisa kita lakukan, apa yang bisa kita perbuat untuk tumbuh kembang kita. Untuk memiliki kehormatan kita. Ini penting sekali karena mentalitas, cara pandang dan mindset sebuah bangsa menentukan segalanya," tegas Presiden.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono, Kamis Malam pukul 20:15 waktu Seoul atau pukul 18:15 WIB tiba di Bandara Incheon Korea Selatan.

Presiden dan rombongan dijadwalkan menghadiri KTT G-20 di Seoul pada Jumat (12/11) pagi.

Turut serta dalam rombongan Presiden antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Ketua Komite Ekonomi Nasional Chairul Tandjung dan sejumlah pejabat lainnya.

Presiden pada Jumat pagi dijadwalkan menghadiri rangkaian kegiatan G-20 yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari yaitu working group yang terbagi dalam lima sesi, satu sesi working lunch dan sesi komunike bersama serta sesi foto bersama.

Selanjutnya pada Jumat (12/11) sore Presiden bertolak menuju Yokohama Jepang untuk menghadiri KTT APEC.(*)
(T.P008/Z002/R009)
Antara

Indonesia Nears Decision on F-16, C-130 Upgrades

F-16 TNI AU (photo : Indoflyer)
Indonesia should make a decision on a mid-life upgrade for its Lockheed Martin F-16A/Bs in 2011 or 2012, but could also buy an additional batch of six Block 50/52 fighters.

If the upgrade takes place it will extend the service life of the Indonesian air force's current F-16s from 4,000 to 8,000 flight hours, and make them as capable as new-build models, says an industry source. An upgrade to all 10 aircraft is likely to cost around $150 million.

Modernisation work would take one year per aircraft, with the work to be conducted in Indonesia using kits provided by Lockheed, according to details revealed at the tri-service Indo Defence Expo & Forum in Jakarta. The air force also wants to acquire Falcon Star and Falcon Up upgrades for its current fighters.
In addition, Lockheed is pushing for Indonesia to purchase six more F-16s in the Block 50/52 configuration to give it a full squadron of 16 operational aircraft.

Another option, albeit less likely, would be for the nation to replace its current F-16s with ex-US

Air National Guard Block 50/52 airframes. However, these would have a remaining service life of only 1,500h each and be less compatible with the US Air Force's support system for the type. C-130 Hercules TNI AU (photo : Indoflyer)

Indonesia is also in discussions with Lockheed about a possible service life extension programme for its C-130B/H transports, although the fighter upgrade has the higher priority.

A decision to upgrade both types would be consistent with the nation's plans to modernise its military. In October, defence minister Purnomo Yusgiantoro said about 150 trillion Indonesian rupiah ($16.8 billion) is needed over the next five years to support the process.


Indonesia's F-16s and C-130s are a legacy of the Cold War, when Washington considered the nation a key ally. That changed when a US arms embargo was imposed in 1992 after Indonesian soldiers killed East Timorese pro-independence demonstrators. The restrictions were tightened in 1999 after a brutal crackdown in an unsuccessful attempt to prevent East Timor's independence.

The embargo resulted in the grounding of most of the nation's F-16s until it was lifted in 2005 when Washington began to view Indonesia as a model of a majority-Muslim country that is also a secular democracy.

Relations have steadily improved, underlined by US President Barack Obama's visit to Indonesia on 9-10 November.

(Flight International)

Video Animasi : PKR Sigma 10514


JAKARTA - Kapal Patroli Kawal Rudal (PKR) yang digadang-gadang sebagai main combatan vessel TNI AL bukan hanya memiliki bentuk cantik sebagai light fregat, tapi juga memiliki banyak kelebihan baik dari sistem persenjataan, radar dan kemampuan lainnya. Meskipun Kemenhan hanya memesan 1 unit, nantinya prototype PKR ini menjadi basis pengembangan kapal-kapal combatan TNI AL dimasa depan. Jalesveva Jayamahe! ©alutsista 
video bisa dilihat di KLIK DI LINK INI
http://alutsista.blogspot.com/search/label/Download%20Video

video


Kartika, Landing Hovercraft Utility Buatan Litbang TNI AL





JAKARTA - Bertempat dipelataran display statis depan Hall pameran Indo-Defence 2010, mulai Rabu (10/11) hingga Sabtu (13/11) nanti dipamerkan prototype hovercraft utility karya anak bangsa hasil buatan Balitbang Kemenhan bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Berbeda dengan Landing Craft Air Cushion (LCAC) yang digunakan marinir AS, Kartika menggunakan struktur material sandwich composite pada lambungnya dan jenis skirt pada bantalan craftnya. Ditenagai oleh 2 buah mesin diesel berkekuatan 1550Hp, hovercraft ini ditengarai mampu dipacu hingga kecepatan 40 knot. Muatan maksimum yang bisa diangkut hingga 20 ton. "Sanggup membawa 1 mobil truck 3/4 lho mas!", ungkap petugas yang menjaganya.



Hovercraft yang diberinama Kartika ini memiliki dimensi panjang 20m, lebar 11m dan tinggi 5,7m. Untuk propeller menggunakan variabel pitch control dengan sistem belt transmision, sedangkan daya angkatnya (lifter) dan pengendalinya memakai sistem centrifugal fan yang terhubung dengan hydraulic motor.

Kedepannya paling tidak kita berharap innovasi yang telah berhasil dibuat anak bangsa ini mampu diwujudkan hingga ketahap produksi, tidak hanya sekedar sukses proyek litbang saja. Smoga!!
sumber©alutsista

BERITA POLULER