Pages

Wednesday, November 10, 2010

Tim Aerobatik Australian Roulettes Akan Beraksi di Indo-Defence 2010




JAKARTA - Tim aerobatik AU Australia, Roulettes Senin (8/11) menggelar latihan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. "Kondisinya cukup clear. Tidak ada masalah. Sejauh ini baik-baik saja," ujar Komandan Sekolah Penerbang AU Australia, menanggapi gosip debu Merapi yang telah sampai diJakarta.

Kondisi aman ini dibuktikan oleh aksi memukau para penerbang negeri kanguru tersebut. Selama setengah jam, Roulettes menunjukkan aksi-aksi mendebarkan di udara.

Tim aerobatik Roulettes menggunakan 6 pesawat berjenis Pilatus PC-9A yang bercat merah putih. 3 Pilot TNI AU yang merupakan anggota tim aerobatik Jupiter, ikut dalam aksi ini.

Rencananya, Tim Roulettes akan tampil dalam Indo-Defence di Kemayoran, 10-13 November. Jika memungkinkan, mereka juga akan tampil di Bandara Adisutjipto tanggal 14 November nanti. Tapi tentu semua sesuai kondisi.

Para pilot melakukan aksi-aksi aerobatik dengan kecepatan sekitar 590 km/jam. Mereka mempertahankan jarak antar pesawat hanya sekitar 3 meter. Uniknya selama atraksi, pilot satu dengan lainnya hanya berkomunikasi dengan bahasa isyarat tangan.

Mereka menunjukan berbagai manuver seperti loops, barrel rolls, mirror, corkscrew dan rollbacks. "Kami ingin mengucapkan terimakasih pada TNI AU atas kesempatan latihan bersama ini," ujar Penton.

Sumber : DETIKNEWS.COM

TNI AU Beli Dua Unit Pesawat Boeing 737-400


JAKARTA - TNI AU dan PT Garuda Indonesia mengadakan penandatangan nota kesepahaman tentang pengalihan dua unit pesawat Boeing 737-400, yang ditandatangai oleh Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat dan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar, di Mabesau Cilangkap, Senin (8/11).

Penandatanganan nota kesepahaman ini adalah salah satu tahapan dalam mewujudkan proses pembelian 2 unit pesawat Boeing 737-400 dari PT Garuda Indonesia (Persero) ke pihak TNI AU, selanjutnya akan dilaksanakan proses pengadaan barang/jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu penyusunan dokumen kontrak jual beli.

Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, dalam Rencana Strategis Tahun 2010-2012, TNI AU telah memprogramkan dan menganggarkan untuk meningkatkan kemampuan alutsista agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penangkal, penindak, dan pemulih dalam rangka menegakkan kedaulatan negara di udara.

“TNI AU mengharapkan bahwa kegiatan penyusunan dokumen kontrak pembelian pararel dengan kegiatan pelatihan di bidang pemeliharaan, dan tim teknis, agar supaya pesawat tersebut dapat dioperasikan di TNI AU dengan segera”, ungkapnya.

Sementara itu, Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar menyatakan, sebagai “national flag carrier” selain menjalankan misi sebagai salah sebagai suatu entitas bisnis, Garuda memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan aspek perekonomian , sosial dan budaya, serta pertahanan dan keamanan negara.

Dikatakan, sejalan dengan peranannya tersebut, maka Garuda Indonesia senantiasa berupaya untuk dapat menjalin kerja sama serta memberikan dukungan bagi berbagai lembaga dan intitusi agar tercipta sinergi yang dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dan pada umumnya bagi negara dan bangsa.

Sumber : PIKIRAN RAKYAT

Kerjasama Revitalisasi Industri Pertahanan di Tandatangani




JAKARTA - Peresmian pembukaan pameran bidang pertahanan terbesar di Indonesia, Indo Defence, Indo Aerospace, dan Indo Marine 2010, ditandai dengan penandatanganan 23 kesepakatan kerja sama tentang revitalisasi industri pertahanan.

”Ini adalah kerja sama untuk TNI dan Polri,” ungkap Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Rabu (10/11) pada pembukaan pameran di Kemayoran, Jakarta. Pameran ini dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Beberapa kerja sama, antara Kementerian Pertahanan dan pihak luar negeri, di antaranya adalah kontrak senilai 142 juta dollar Amerika Serikat untuk pembelian pesawat EMB 346 Super Tucano dengan Embraer, Brasil.

Selain itu ditandatangani pula kontrak dengan Rosoboronexport, untuk pembelian senjata untuk pesawat Sukhoi senilai 54 juta dollar AS.

Kesepakatan lainnya melibatkan kerjasama industri pertahanan dalam negeri dengan Kementerian Pertahanan maupun dengan pengguna langsung dan kalangan industri (Mitra). PT Pindad, misalnya, bekerja sama dengan CV Sari Bahari untuk peledak dan detonator bom Sukhoi P-100L.

Selain itu, juga ada kerja sama dengan TNI AU untuk pengadaan bom BT 250 dan BLP 250. Sedangkan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menjalin kerja sama dengan industri asing, seperti Eurocopter-Perancis untuk pengembangan helikopter EC-725 Cougar, Superpuma, dan helikopter SAR. PTDI juga berencana menandatangani MoA dengan Korean Aerospace Industries Ltd untuk pemasaran pesawat CN-235 dan T-50 Golden Eagle.

Sementara PT.PAL yang sebelumnya mengadakan kerjasama dengan Damen-Belanda untuk membuat PKR juga menggandeng China Shipbuilding Industry Corporation untuk bekerja sama pengembangan beragam kapal Sipil dan Militer.

Sumber : KOMPAS, Berbagai Sumber Lain

Semua Varian Anoa Hadir di Indo-Defence 2010


JAKARTA - Berbeda dengan pagelaran Indo-Defence 2 tahun lalu, kali ini Pindad tidak menampilkan live demo dari Anoa 6x6 yang menjadi produk andalannya. Meskipun di tampilkan agak berlebihan karena jumlah yang didisplay tidak kurang hampir 40 unit, beberapa varian baru tampak ikut ditampilkan di sini. Salah satunya yang terbaru adalah Anoa varian recovery, amfibi dan mortir.

Menurut Humas Pindad, Timbul Sitompul, kedia unit tersebut memang baru kali ini ditampilkan dipublik. "Semua varian Anoa yang kita punya ada disini, termasuk varian mortir yang kita display didalam area pameran.

Khusus untuk Anda pembaca Blog ALutsista, berikut beberapa foto yang diambil langsung dari ajang pameran Indo-Defence 2010, Rabu (10/11) di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. ©alutsista










Pembukaan Indo Defence 2010

0diggsdigg



INDO DEFENCE 2010. Sejumlah anggota TNI mencoba alat simulator terbang yang dipamerkan dalam "Indo Defence 2010 Expo & Forum" di JIExpo











JAKARTA,10/11 - PEMBUKAAN INDO DEFENCE. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) bersama Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (4kanan) mengamati produk yang dipamerkan pada "Indo Defence 2010 Expo & Forum" di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (10/11). Pameran mengenai industri alat-alat pertahanan dan militer tersebut berlangsung 10-13 November 2010 dan diikuti oleh lebih dari 400 peserta pameran dari 38 negara.


Sumber: ANTARA FOTO

Lokomotif Kemandirian Alutsista

 

0diggsdigg


Dalam rangka modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista), Kementerian Pertahanan (Kemhan) sepenuhnya mengikuti kebijakan penggunaan secara optimal produksi industri pertahanan dalam negeri. "Policy tersebut amat strategis karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap negara lain," ujar Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto MA.

Bersama Menhan Purnomo Yusgiantoro dan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin, pria kelahiran Bogor, 5 Januari 1955 ini amat gigih memperjuangkan kemandirian alutsista, kesejahteraan prajurit, serta meningkatkan kinerja Kemhan.

Alumnus Akabri 1976 ini adalah perwira penerbang tempur. Ia pernah menjadi Athan RI di Madrid, Spanyol (1997), Danlanud Adisutjipto (2002), Wadan Kodikau (2004), Waasrenum Panglima TNI (2005), Pangkohanudnas (2006), Kas Koopsau II (2005). Ketika dipercaya mengabdi di Kemhan, ia diamanatkan menjabat Dirjen Ranahan (2008), Irjen Kemhan (2010), dan kini Sekjen Kemhan.

Sekjen Eris mengatakan, pasca-workshop revitalisasi industri pertahanan pada akhir tahun lalu, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 01 tentang Percepatan Pembangunan. Inpres tersebut mengamanatkan beberapa poin terkait kinerja Kemhan. "Antara lain, pembetukan KKIP, penyusunan RUU Revitalisasi Industri Pertahanan, pembuatan rencana induk dan roadmap revitalisasi industri pertahanan, litbang yang hasilnya digunakan untuk memenuhi peralatan pertahanan dan keamanan dalam negeri, serta pengadaan alutsista industri domestik dengan menggunakan pinjaman dalam negeri," ujar peraih Bintang Yudha Dharma Nararya ini.

Sumber: SUARA KARYA

Pemberdayaan BUMNIS, Membangun Kemandirian Alutsista

 

0diggsdigg



JAKARTA - Dalam rangka modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista), TNI akan sepenuhnya mengikuti kebijakan pemerintah menggunakan secara optimal produksi industri pertahanan dalam negeri. Kebijakan tersebut amat strategis, karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap negara lain.

Dalam program revitalisasi ini, pemerintah memiliki komitmen kuat untuk menciptakan Indonesia Incorporated dengan memberdayakan BUMN Industri Strategis (BUMNIS), seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, dan PT LEN.

Menurut Sekjen Kementerian Pertahanan (Kemhan) Marsdya TNI Eris Herryanto MA, produk alutsista buatan industri dalam negeri bisa dibanggakan. Panser buatan PT Pindad misalnya, diminati Malaysia. "Malaysia berniat membeli 30 unit panser buatan Pindad. Ini bagus karena berarti produk industri pertahanan kita diakui di luar negeri," ujar Eris.

Lebih lanjut, Sekjen Kemhan menegaskan, kebijakan-kebijakan yang ditetapkan Menhan Purnomo Yusgiantoro sangat pro terhadap kemandirian industri pertahanan dalam negeri. Kebijakan tersebut di antaranya adalah bahwa setiap pengadaan alutsista TNI harus mengikutsertakan industri nasional, baik BUMN maupun swasta, dalam pengadaan alutsista untuk diproduksi di dalam negeri.

Selain itu, dalam setiap pengadaan hendaknya mengikutsertakan beberapa syarat lainnya untuk diajukan kepada para penyedia barang. Antara lain, memberikan transfer of know how atau local content.

Dengan adanya kebijakan Menhan yang pro terhadap kemandirian industri pertahanan dalam negeri tersebut, lebih lanjut Sekjen Kemhan mengimbau pihak terkait, baik pengguna (TNI) maupun produsen (industri pertahanan dalam negeri), untuk dapat mengimbangi kebijakan yang diberikan Menhan tersebut. "Dengan demikian proses peningkatan kemandirian indusrti dalam negeri akan berjalan lebih cepat," ujarnya.

Sementara mengenai kebutuhan alutsista TNI untuk kurun waktu lima tahun ke depan, Eris mengatakan, itu telah tercantum dalam Rencana Strategis (Renstra) 2010-2014, khususnya dalam rincian kebutuhan minimum essential forces (MEF).

"Pengadaan alutsista TNI akan diupayakan dari industri pertahanan di dalam negeri. Sebab, PT PAL sudah bisa membangun kapal perang, PT DI sudah mampu memproduksi helikopter tempur, dan PT Pindad sudah mampu memproduksi panser dan persenjataan militer," kata Eris.

Di bagian lain, dia menyebutkan, kemampuan dan profesionalisme prajurit TNI dapat mengimbangi negara-negara lain. Itu bisa terlihat saat melakukan latihan bersama dengan negara seperti Amerika Serikat, Australia, Malaysia, dan Singapura.

"Kemampuan dan profesionalisme prajurit TNI kita, terutama Kopassus, sudah diakui dunia internasional. Prajurit TNI kita dianggap berkualifikasi untuk operasi tempur dan gerilya di hutan. Karena itu, militer banyak negara menyatakan ingin melakukan latihan bersama dengan prajurit TNI," tutur Eris.

Solusi Anggaran

Meski demikian, walau Kementerian Pertahanan merencanakan akan membangun sistem pertahanan dan keamanan dalam lima tahun ke depan, akan tetapi anggaran untuk pengadaan alutsista hingga tahun 2015 masih mengalami kekurangan sekitar Rp 50 triliun.

Kekurangan anggaran alutsista itu dihitung berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang dibandingkan dengan kebutuhan dari Kemhan. Namun, jumlah Rp 50 triliun tersebut, masih dapat diupayakan oleh pemerintah.

Dia mengaku optimistis, anggaran belanja alutsista tersebut bisa dipenuhi. Untuk tahun 2011 mendatang, anggaran untuk pengadaan dan pemeliharaan alutsista sebesar Rp 11 triliun. "Kalau kita bisa meningkatkan penerimaan negara dengan baik, baik itu pajak atau non pajak, penerimaan sumber daya alam itu (anggaran) sesuatu yang optimis ke depan," katanya.

Terkait kemandirian alutsista, dalam kesempatan tersebut, Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto MA, mengatakan, Peraturan Presiden (Perpres) tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) sudah ditandatangani oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. KKIP mengemban tugas untuk meningkatkan kemandirian industri pertahanan.

"Perpres tentang KKIP sudah keluar dan Kemhan menyiapkan personel, tempat sekretariat dan mekanismenya," ucap Sekjen Kemhan saat mempimpin rapat koordinasi antara penentu kebijakan, pengguna dan produsen bidang alutsista ke XI, di PT Len Industri (Persero), Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Sekjen Kemhan mengatakan, setelah dilaksanakan workshop revitalisasi industri pertahanan pada akhir tahun lalu, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 01 tentang Percepatan Pembangunan.

Inpres tersebut mengamanatkan beberapa poin yang berkaitan dengan Kemhan. Antara lain, pembetukan KKIP, penyusunan RUU Revitalisasi Industri Pertahanan, pembuatan rencana induk dan roadmap revitalisasi industri pertahanan, penelitian dan pengembangan (litbang) yang hasilnya digunakan untuk memenuhi peralatan pertahanan dan keamanan dalam negeri dan pengadaan alutsista industri dalam negeri dengan menggunakan pinjaman dalam negeri.

Terkait KKIP, Sekjen Kemhan menjelaskan, bahwa lembaga tersebut diketuai Menhan dan, wakilnya dijabat Menteri BUMN, serta sebagai sekretarisnya adalah Wamenhan. Karena, perpresnya sudah keluar, KKIP ini sudah mulai bekerja.

Sementara itu, soal penyusunan RUU Revitalisasi Industri Pertahanan, Sekjen Kemhan mengatakan, pada tahun ini Kementerian Pertahanan menyiapkan naskah akademik dan draf undang-undangnya.

Sehingga diharapkan, pada tahun 2011, RUU Revitalisasi Industri Pertahanan sudah dapat masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR. Undang-Undang tentang Revitalisasi Industri Pertahanan tersebut, diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam mengembangkan industri pertahanan ke depan.

Sumber: SUARA KARYA

BERITA POLULER