Pages

Tuesday, November 9, 2010

Yudhoyono Terima Presiden Fischer

Yudhoyono Terima Presiden Fischer
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) berbincang dengan Presiden Austria Heinz Fischer saat berjalan menuju lokasi upacara penyambutan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11). (ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa akan menerima Presiden Austria Heinz Fischer yang melakukan kunjungan kenegaraan, sebelum memimpin delegasi masing-masing melakukan pertemuan dwipihak.

Menurut keterangan Juru Bicara Kepresidenan bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, Presiden Fischer melakukan kunjungan kenegaraan pada 9-11 November 2010.

Kunjungan ini dimaksudkan untuk memperkuat hubungan dwipihak Indonesia-Austria di berbagai bidang.

"Dalam pertemuan bilateral ini, kedua delegasi akan membahas perluasan dan penguatan kerja sama politik, ekonomi, termasuk perdagangan dan investasi, serta peningkatan kerja sama pembangunan. Selain itu, pertemuan juga akan membahas kerja sama sosial budaya, khususnya di bidang pendidikan dan dialog antarkepercayan," kata Faiza.

Kedua pihak akan menandatangani nota kesepahaman mengenai kelanjutan dan perluasan kerja sama di bidang dialog antar agama dan keyakinan yang diharapkan dapat meningkatkan saling pengertian dan tradisi masing-masing.

Pada 11 November Presiden Fischer akan melakukan peletakan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Selama di Indonesia, ia juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke katedral, Masjid Istiqlal serta kunjungan kehormatan kepada Ketua DPR Marzuki Alie .

Dalam kunjungannya tersebut, kata Faiza, Fischer akan didampingi 53 pelaku bisnis Austria. Hal ini mencerminkan daya tarik Indonesia bagi kerja sama investasi dan perdagangan dengan Austria. Faiza mengatakan, hubungan Indonesia-Austria telah terjalin baik sejak 1954.

"Hubungan baik ini didasarkan pada prinsip saling menghormati dan menghargai. Kerja sama di antara kedua negara di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya cenderung berkembang," kata Faiza.

Di bidang ekonomi, total perdagangan RI-Austria pada tahun 2008 mencapai 393,4 juta dolar AS. Namun, pada tahun 2009 seiring krisis keuangan global, volume perdagangan menurun menjadi 300,4 juta dollar AS.

Investasi Austria menempati urutan ke-35 di Indonesia. Dalam kurun waktu tahun 1990-2009, total investasi kumulatif Austria mencapai 20,60 juta dolar AS.

Seusai menerima kunjungan kenegaraan Presiden Fischer, Presiden Yudhoyono Selasa petang kemudian dijadwalkan meneriman Presiden AS Barack Obama yang juga melakukan kunjungan kenegaraan.
(ANT/A024)
Antara

RI-Austria Dorong Suksesnya Perundingan Palestina-Israel

RI-Austria Dorong Suksesnya Perundingan Palestina-Israel
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) dan Presiden Austria Heinz Fischer memberikan keterangan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11). (ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Austria sepakat untuk mendorong suksesnya perundingan perdamaian di Timur Tengah demi terwujudnya negara Palestina dan Israel yang hidup berdampingan dalam damai.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden Australia Heinz Fischer di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, seusai melakukan pertemuan dwipihak dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Kami memiliki pandangan yang paralel tentang tujuan akhir dari perundingan Timur Tengah mengenai Palestina dan Israel," katanya.

Ia menilai perundingan itu akan berhasil apabila baik dengan adanya pengakuan yang setara pada negara Palestina dan israel sehingga kedua negara dapat hidup berdampingan dalam damai. "Masyarakat internasional harus memberikan kontribusi sebanyak mungkin untuk mencapai itu," katanya.

Pada September lalu perundingan Palestina-Israel yang dimediasi oleh Amerika Serikat terhenti oleh karena penghentian moratorium pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat.

Palestina menolak untuk duduk berunding apabila pembangunan pemukiman tidak dihentikan. Sementara itu Israel menolak memperpanjang moratorium pembangunan pemukiman.

Negara-negara Liga Arab memberi waktu Amerika Serikat untuk segera menyelesaikan kebuntuan itu.

Presiden Fischer melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, 9-11 November 2010.

Dalam lawatannya itu turut serta sedikitnya 50-an pengusaha Austria. Kehadiran Fischer itu merupakan undangan dari Presiden Yudhoyono.
(G003*U002/A041)
 
Antara

Kunjungan Obama Peluang Tingkatkan Hubungan Ekonomi

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Dewan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan bahwa kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia merupakan peluang untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara.

"Kunjungan ini bisa memberi semangat ke dalam. Kita bisa memanfaatkannya untuk meyakinkan pelaku usaha di sana bahwa Indonesia adalah negara tujuan investasi yang menarik," katanya ketika dihubungi di Jakarta, Selasa.

Pemerintah bersama pelaku usaha Indonesia, menurut dia, selanjutnya bisa memanfaatkan kunjungan orang nomor satu negara Paman Sam itu sebagai alat promosi untuk menarik lebih banyak investasi Amerika Serikat dan menawarkan produk ekspor ke sana.

"Supaya pebisnis sektor swasta di sana lebih memperhatikan Indonesia sebagai daerah tujuan investasi yang menarik," katanya.

Ia menambahkan, pelaku usaha dalam negeri selanjutnya juga harus proaktif melakukan upaya-upaya untuk memperbesar pangsa pasar produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat.

Sebelumnya Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat juga berharap kedatangan Barack Obama dapat mendorong peningkatan investasi Amerika Serikat ke Indonesia pada sektor industri pengolahan.

"Selama ini dia kan ambil minyak dan gas, pertambangan, sumber daya alam. Saya minta selanjutnya dia masuk industri lain seperti industri alat berat," katanya.

Sementara Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar memandang kunjungan Obama sebagai saat untuk menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang makin cepat.

Menurut dia, Amerika Serikat merupakan sumber investasi yang penting sehingga hubungan yang ada perlu terus diperbaiki untuk menarik lebih banyak investasi dan keuntungan dari kegiatan perdagangan.

Oleh karena itu, kata dia, pelaku usaha dari kedua negara perlu mempelajari potensi kerja sama pada masa mendatang.

Amerika Serikat merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia.

Nilai total perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat cenderung meningkat sejak tahun 2005 sampai 2008 dan menurun pada tahun 2009.

Tahun 2008, nilai total perdagangan Indonesia-Amerika Serikat mencapai 20,9 miliar dolar AS dan kemudian turun menjadi 17,9 miliar dolar AS pada 2009.

Sementara selama Januari-Agustus 2010, total perdagangan Indonesia-Amerika Serikat mencapai 15,6 miliar dolar AS, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2009 yang nilainya 11,3 miliar dolar AS.

Neraca perdagangan Indonesia-Amerika Serikat selalu surplus sejak tahun 2005. Surplus perdagangan Indonesia-Amerika Serikat tahun 2009 sebanyak 3,7 miliar dolar AS dan selama periode Januari-Agustus 2010 surplus 2,8 miliar dolar AS.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan istrinya Michele Obama beserta rombongan tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta pada Selasa sore.

Obama dijadwalkan tiba di Istana Merdeka, Jakarta, pada pukul 17.00 WIB dan akan disambut dengan upacara kenegaraan.

Selama di Indonesia, Obama akan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerjasama Komprehensif Indonesia-AS, mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat, dan memberi kuliah umum di Universitas Indonesia.

(M035/B012/S026)
 
Antara

Obama Tiba di Istana Merdeka

Obama Tiba di Istana Merdeka
Presiden AS Barack Obama (ANTARA/REUTERS/Jim Young)
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama bersama Michelle Obama, Selasa sore, tiba di Istana Merdeka Jakarta dan langsung disambut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Ani Yudhoyono.

Belasan mobil yang tergabung dalam iring-iringan kendaraan yang mengatar Obama tiba di Istana Merdeka tepat pukul 17.00 WIB.

Setibanya di halaman samping Istana Merdeka, Obama dan Michele disambut langsung oleh Presiden Yudhoyono danAni Yudhoyono.

Keempatnya tampak akrab dan saling berjabat tangan. Sesaat kemudian, keempatnya menuju teras Istana untuk upacara penyambutan.

Dengan menghadap bendera kedua negara, Presiden Yudhoyono dan Obama mendengarkan lagu kebangsaan kedua negara, bersamaan dengan dentuman meriam.

Beberapa saat kemudian, Presiden Yudhoyono dan Obama memasuki ruang Kredensial di dalam Istana Merdeka dan berfoto bersama di hadapan para pewarta.

Setelah itu, keduanya memasuki ruang Jepara untuk melakukan pertemuan bilateral dalam format kecil.

Seperti diberitakan, Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa sore, diguyur hujan lebat, tepat ketika segala persiapan menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama sedang dilakukan.

Hujan lebat mengguyur kawasan itu sejak sekitar pukul 16.00 WIB, atau beberapa saat sebelum Obama dan rombongan tiba di bandara Halim Perdanakusuma.

Akibat hujan, sejumlah perlengkapan yang akan digunakan untuk menyanbut Obama di halaman Istana Merdeka basah kuyup.

Panggung kehormatan yang tepat berada di depan istana tak luput dari guyuran air hujan. Sejumlah penyangga kamera televisi yang sudah disiagakan juga basah.

Sejumlah pekerja istana dan beberapa wartawan nampak sibuk memindahkan peralatan itu ke tempat yang tidak terkena hujan.

Akibat hujan, upacara penyambutan yang rencananya digelar di halaman Istana Merdeka dibatalkankemudiandialihkan ke teras istana.

Pesawat khusus kepresidenan Air Force One mendarat di bandara Halim Perdanakusuma pada pukul 16.20 WIB. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti DjalaltT Obama dan rombongan langsung menuju komplek Istana Kepresidenan, Jakarta.

Di Istana, Obama dijadwalkan akan menghadiri pertemuan bilateral dalam format kecil yang akan berlangsung sekitar 30 menit. Setelah itu akan digelar pertemuan bilateral yang lebih besar, dan dihadiri oleh sejumlah pejabat dari kedua negara.

Kemudian, Presiden Yudhoyono dan Obama akan menggelar konferensi pers bersama di halaman tengah komplek Istana Kepresidenan. Acara kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan malam kenegaraan.

Keesokan harinya, Obama akan mengunjungi Masjid Istiqlal. Dia juga dijadwalkan meletakkan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Obama juga akan berpidato di Universitas Indonesia, Depok, sebelum meninggalkan Indonesia dan bertolak ke Korea Selatan untuk menghadiri pertemuan puncak G-20.
(ANT/A024)

antara

Sunday, November 7, 2010

Belajar Strategi Perang Israel dan Cara Menghadapinya!!! (3)




Poin penting lain terkait kegagalan strategi perang rezim Zionis Israel. Rezim penjajah ini memasuki sebuah perang mampu merealisasikan tujuannya menduduki sebuah daerah. Bayangkan, selama 33 hari mereka berperang di kota Bent Jbeil yang hanya berjarak 4 kilometer dari perbatasan Palestina pendudukan, tapi tetap tidak mampu mendudukinya. Kegagalan ini terus berlangsung hingga perundingan gencatan senjata disepakati.

Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam penjelasan sebelumnya, tahapan perundingan gencatan senjata akan dilakukan oleh rezim Zionis Israel lewat PBB bila mereka telah menduduki sebuah daerah. Artinya, perundingan itu hanya sekadar pengesahan Zionis Israel atas daerah itu dan bahwa Israel telah memiliki daerah tersebut.

Kenyataan yang terjadi pada hakikatnya merupakan sebuah kekalahan lain rezim Zionis Israel. Namun yang paling penting dari semua ini, untuk pertama kalinya front dalam negeri Israel menjadi sasaran serangan Hizbullah Lebanon. Ini istilah yang dibuat oleh Israel sendiri di mana seluruh kawasan Palestina pendudukan utara telah menjadi medan tempur.

Ada satu masalah besar yang sampai saat ini masih menjadi teka-teki bagi militer rezim Zionis Israel. Rezim penjajah ini masih belum mampu membongkar sistem komunikasi apa yang dipakai Hizbullah dalam perang 33 hari. Karena menurut mereka apa saja yang diketahui mereka sebagai sistem komunikasi Hizbullah mulai dari antena hingga bangunan telah mereka bombardir hingga rata dengan tanah. Tapi mereka sedemikian terkejut, betapa Sayid Hasan Nasrullah hingga akhir perang masih tetap tampil dan berhubungan dengan pasukannya di lini depan.

Rezim Zionis Israel betul-betul dalam kebingungan. Betapa tidak, setiap kali Sayid Hasan Nasrullah mengeluarkan perintah, pasti ada rudal yang ditembakkan dan ini menjadi tanda tanya besar bagi Israel. Apa sebenarnya sistem komunikasi yang dipakai Hizbullah yang tidak dimiliki oleh militer Irak?

Untuk menjawab masalah ini pasca perang 33 hari, Zionis Israel mendatangkan satu delegasi dari Amerika. Tim khusus ini ditugaskan mengkaji sistem komunikasi apa yang dipakai Hizbullah sehingga mampu bertahan selama dibombardir hebat dalam 33 hari. Karena sistem ini mampu memberikan kekuatan kepada Hizbullah untuk melanjutkan perlawanannya.

Kekalahan yang dialami di Lebanon Selatan dalam perang 33 hari ini membuat Zionis Israel kembali merevisi strategi perangnya dan kembali pada strategi pertama. Ini memaksa perubahan dalam kepemimpinan dan Jenderal Dan Halutz menjadi korban pertamanya. Ia kemudian digantikan oleh Jenderal Gabi Ashkenazi yang berasal dari angkatan darat. Dengan demikian, militer Zionis Israel memusatkan kekuatannya pada pasukan darat. Mereka baru memahami bahwa tanpa memusatkan kekuatan pada angkatan darat, mereka tidak akan mampu meraih kemenangan di satu perang pun. Sementara angkatan udara kembali pada peran semulanya sebagai pasukan pendukungMasalah lain yang dibicarakan serius oleh Zionis Israel adalah melindungi front dalam negeri. Bila kita ingin mengetahui kapan Zionis Israel akan menyerang negara lain, kita harus tahu sejauh mana mereka mampu melindungi front dalam negerinya. Pasca perang 33 hari hingga kini setiap tahunnya Zionis Israel menggelar latihan perang dan setiap kalinya mereka baru memahami betapa mereka punya masalah serius di front dalam negeri. Manuver tersebut sangat memalukan bagi Zionis Israel!

Rezim Zionis Israel senantiasa memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari ‘negara' Barat, tapi jelas bahwa terkait masalah perlindungan dalam negerinya mereka harus dikategorikan dalam negara-negara dunia ketiga. Karena di setiap latihan militer yang mereka gelar terlihat jelas ketidakkompakan dalam sistem pertahanan kota, antara bagian gawat darurat dan rumah-rumah sakit dan begitu juga antarbunker-bunker yang ada. Ini masalah serius yang muncul dalam setiap manuver militer yang dilakukan Zionis Israel setiap tahunnya.

Benar, dari sisi ini Zionis Israel harus dikategorikan dalam kelompok negara-negara dunia ketiga. Pasca latihan militer, seorang komandan militer kepada televisi Israel mengatakan bahwa manuver militer yang dilakukan ini menunjukkan betapa Israel tidak akan melakukan perang hingga lima tahun mendatang!!!

Ada poin lain yang patut dicermati saat rezim Zionis Israel kalah dalam perang 33 hari. Faktor yang tidak boleh dipandang remeh ini adalah pengaruh Intifada II terhadap militer Zionis Israel. Dalam Intifada II perjuangan bangsa Palestina dilakukan di Tepi Barat Sungai Jordanm, bukan dari Jalur Gaza. Geografi Tepi Barat juga berbeda dengan Gaza.

Jalur Gaza sebuah kawasan padat penduduk dan untuk melakukan infiltrasi ke sana, militer Zionis Israel menghadapi kesulitan dan membutuhkan biaya besar. Berbeda dengan Gaza, Tepi Barat Sungai Jordan memiliki wilayah lebih luas dengan populasi yang menyebar. Di kawasan ini, militer Zionis Israel dengan mudah memasuki setiap daerah dan menangkap warga Palestina.

Dengan gambaran tersebut, setiap konflik atau kontak senjata militer Zionis Israel dengan warga Palestina sejak tahun 2000 hingga 2006 dalam Intifada II dianggap mudah oleh mereka. Di masa itu, militer Israel menganggap setiap konflik dengan warga Palestina sebagai rekreasi mereka. Mereka sampai pada satu kesimpulan bahwa setiap kali ingin menangkap warga Palestina, maka hal itu dapat dilakukan dengan mudah dan kenyataan di lapangan memang terbukti demikian. Tapi kesalahan besar militer Zionis Israel adalah mereka terjun dalam perang 33 hari dengan cara pandang ini!!!

Dalam catatan kenangan seorang perwira militer Israel disebutkan, "Saat itu kami telah berhasil melewati jalur perbatasan. Yang terlintas di benak adalah kami akan menghadapi seorang Arab yang sedang duduk di bawah tendanya sambil memangku klashinkov. Begitu mendekatinya dengan mudah kami merampas senjata itu dari tangannya lalu meringkus dan memboyongnya ke Israel... Tapi semua bayangan itu buyar ketika kami telah memasuki daerah Lebanon. Karena kami menghadapi satuan militer terlatih, sangat efisien, dipersenjatai dengan senjata modern, punya semangat tinggi dan mampu melakukan operasi-operasi militer sulit. Semua ini gara-gara dampak Intifada II yang kami hadapi selama ini."

Pasca kekalahan itu rezim Zionis Israel terjun dalam sebuah perang lagi di Gaza selama 22 hari. Sebuah perang yang sangat tidak seimbang. Dalam perang ini hanya militer Zionis Israel yang secara berkesinambungan membombardir Jalur Gaza. Perang 22 hari bukan perang klasik di mana ada dua pihak yang melakukan konflik senjata. Namun hal penting dan sangat mempengaruhi konstelasi politik Timur Tengah adalah selama 22 hari menyerang Gaza pemerintahan Hamas tidak juga bertekuk lutut seperti yang mereka harapkan.

Tentu saja setelah tidak mampu merealisasikan tujuannya, apa yang dilakukan militer Zionis Israel selama 22 hari terhitung satu kekalahan. Perang ini sangat berdampak besar. Karena untuk pertama kalinya dipublikasikan laporan Goldstone yang mengecam Zionis Israel di tingkat internasional. Rezim Zionis Israel dikecam di seluruh dunia dan bermunculan keberanian untuk mengadili para pemimpin Israel di negara-negara Barat. Para perwira dan pejabat tinggi Zionis Israel menjadi tersangka dan diusut secara hukum.

Begitu besarnya pengaruh kekalahan Zionis Israel dalam perang 22 hari di Jalur Gaza, sehingga kini para pengambil keputusan di Israel akan berpikir panjang untuk memutuskan menyerang daerah lain. Mereka tahu benar, bahwa bila terjadi perang dan melakukan kejahatan lain, maka merekalah yang bahkan dikecam di tingkat internasional.

(IRIB/MZ/SL)

Belajar Strategi Perang Israel dan Cara Menghadapinya!!! (2)



Mengingat pengambil keputusan perang adalah perdana menteri, maka siapa yang menjadi Perdana Menteri Rezim Zionis Israel menjadi sangat penting. Di Israel seorang perdana menteri harus memiliki pengalaman militer. Oleh karena itu, sangat mungkin sekali metode pengambilan keputusan seorang perdana menteri akan berbeda dengan perdana menteri lainnya.

Dengan gambaran semacam ini, tujuh prinsip klasik metode perang Israel tetap dipertahankan oleh para penguasa Tel Aviv hingga lengsernya diktator Irak Saddam Husein. Begitu cepatnya Baghdad jatuh oleh pasukan pendudukan Amerika pada tahun 2003 memunculkan adanya perubahan dalam strategi militer Israel. Rezim penjajah Palestina begitu terpesona dengan kemenangan cepat Amerika di Irak. Oleh karenanya mereka segera membentuk tim membahas faktor-faktor apa saja yang menentukan kemenangan Amerika.

Faktor pertama yang mereka temukan adalah penggunaan teknologi canggih. Mereka menilai teknologi canggih yang dimiliki oleh AS mampu menundukkan Baghdad dalam sekejap. Atas dasar ini, mereka sampai pada satu kesimpulan bahwa Israel harus memanfaatkan teknologi canggih dalam perang mendatangnya.

Faktor kedua menurut mereka ada pada peran urgen dan prinsip dari angkatan udara Amerika. Kekuatan udara AS menjadi faktor paling determinan dalam menaklukkan kekuatan militer Irak. Sementara pasukan darat AS dengan mudah masuk dan menguasai Baghdad. Sejatinya angkatan darat AS praktis tidak memasuki perang yang sesungguhnya. Karena militer Irak sebenarnya sudah takluk dihancurkan angkatan udara Amerika terlebih dahulu. Itulah mengapa mereka dapat dengan cepat menduduki Irak.

Poin penting lainnya terkait hancurnya sistem komunikasi militer Irak. Pasukan udara Amerika dengan memanfaatkan teknologi modern berhasil menghancurkan sistem jalur komunikasi militer Irak. Militer AS menghancurkan jalur komunikasi yang menghubungkan staf komando Irak di Baghdad dengan satuan-satuan tempurnya di daerah-daerah. Pasukan Irak yang berada di Basrah akhirnya tidak mampu melakukan hubungan dengan Baghdad yang berujung pada ketidakmampuan mereka untuk mengambil keputusan. Di sini, para komandan pasukan Irak yang berada di garis depan dan di daerah-daerah malah mendapatkan informasi perang lewat televisi Aljazeera, disebabkan hubungan ke Baghdad terputus.

Faktor penting lainnya adalah korban yang sangat sedikit dari pihak Amerika. Kenyataan ini sangat mempesonakan militer Israel karena hal ini yang sangat diinginkannya.

Akhirnya militer Israel menjadikan perang Amerika di Irak sebagai panduannya dan meninggalkan strategi militer klasik yang sebelum ini diterapkannya. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah fokus memperkuat angkatan udaranya. Atas dasar ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Israel seorang perwira angkatan udara diangkat menjadi kepala staf gabungan militer Israel. Ia adalah Jenderal Dan Halutz.

Pemilihan Jend. Dan Halutz bermakna bahwa Israel serius mengubah strategi perang dari penekanan pada angkatan darat pada angkatan udara. Tidak hanya itu, Israel bahkan mengambil langkah lebih jauh mengubah kebijakannya terkait pasukan cadangan. Karena di Israel selalu saja dibahas terkait anggaran milier yang begitu besar, bahkan lebih besar dari anggaran pembangunan. Oleh karena itu, anggaran pasukan cadangan pun disunat dan difokuskan membentuk pasukan darat dalam kelompok-kelompok kecil namun diharapkan sangat efektif agar mampu membantu peran signifikan angkatan udara.

Setelah melakukan perubahan ini rezim Zionis Israel mencoba menerapkan strategi barunya dalam perang 33 hari di Lebanon. Berdasarkan analisa dan strategi baru ini Israel beranggapan dengan teknologi modern bukannya sepekan, tapi hanya dalam dua hari mereka bakal mampu menghancurkan kekuatan Hizbullah. Mereka beranggapan hanya dalam dua hari mereka mampu berhasil menghancurkan seluruh pusat-pusat kekuatan Hizbullah lewat kekuatan udara dan setelah itu mereka akan menduduki Lebanon dalam sebuah operasi kecil dari pasukan daratnya. Perang ini akan berakhir sedemikian mudahnya.

Perang 33 hari dimulai dengan gambaran ini. Dua hari dari prediksi para komandan militer Israel telah berlalu, tapi ternyata hasilnya berbeda dari prediksi yang ada. Sepekan berlalu dan tidak ada yang berubah hingga perang berlanjut menginjak pekan kedua. Akhirnya militer Israel baru mulai memahami bahwa strategi yang mereka pakai gagal meraih tujuan yang telah ditetapkan sebelum ini. Karena dalam perang 33 hari itu, tidak satupun dari para pemimpin level satu dan dua tidak ada yang tewas dalam serangan udara Israel. Yang terjadi adalah hanya dua dari pemimpin level tiga dari Hizbullah yang syahid dan mereka yang tewas lainnya berasal dari pasukan biasa Hizbullah yang syahid di medan tempur dan bukan diakibatkan serangan udara.

Semua ini menunjukkan betapa kekuatan udara tidak mampu mengakhiri perang dan ini baru dimengerti Israel setelah perang berlanjut hingga pekan kedua. Para pemimpin militer dan politik Israel baru sadar bahwa strategi yang mereka pakai itu ternyata keliru. Mereka tidak dapat menyelesaikan perang hanya bergantung pada kekuatan udara. Sementara segala target yang dibayangkan selama ini telah dimusnahkan mereka sejak pekan pertama. Karena apa saja yang mereka anggap sebagai pusat Hizbullah telah mereka bombardir dan tidak ada yang tersisa.

Kelemahan mereka dari sisi intelijen terkait target-target Hizbullah membuat mereka bak orang tolol yang akhirnya memaksa membuka arsip mereka terkait letak tempat-tempat Hizbullah. Setelah mendapatkannya tanpa perlu dikaji kembali mereka langsung membombardir daerah itu. Padahal tempat-tempat yang dahulunya milik Hizbullah itu telah beralih kepemilikian. Sebagai contoh, ada sebuah rumah di kota Nabatieh yang dahulunya milik seorang pemimpin Hizbullah yang telah diidentifikasi oleh pihak Israel beberapa tahun lalu sebelum perang 33 hari. Rumah itu sebenarnya telah dijual kepada seseorang dan dalam perang itu menjadi target serangan udara Israel. Akibat serangan itu, sebuah keluarga berikut 8 anaknya syahid seketika.

Ketidakmampuan Israel mendapatkan informasi intelijen terkait tempat-tempat Hizbullah lagi-lagi menjadi kekalahan intelijen rezim penjajah ini. Dari sisi persenjataan pun mereka tidak tahu apa senjata yang dimiliki Hizbullah. Ketika Hizbullah menggunakan senjata-senjata barunya, khususnya rudal dari darat ke laut, mereka kecolongan dan mengklaim bahwa rudal itu ditembakkan oleh para perwira Sepah Pasdaran Iran. Karena informasi intelijen yang mereka miliki menyebutkan bahwa Hizbullah benar memiliki rudal ini, tapi belum mampu menggunakannya. Di sini, kegagalan mereka coba ditepis dengan memunculkan perang urat saraf agar kekalahan intelijen mereka dapat ditutupi.

Bersambung ... (IRIB/SL/MZ)

Israel Akan Rayu AS untuk Serang Iran



Setelah Senator AS, Lindsey Graham mendesak Gedung Putih untuk menghancurkan Republik Islam Iran melalui serangan militer, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu berencana meminta Washington untuk mengancam Tehran dengan aksi militer guna menghentikan program nuklir negara itu.

"Satu-satunya cara untuk memastikan bahwa Iran tidak memperkuat diri dengan senjata nuklir adalah menciptakan sebuah ancaman yang nyata melalui aksi militer," kata kantor PM Israel kemarin (Ahad,7/11).

"Sanksi-sanksi ekonomi mungkin memberatkan Iran, tapi belum ada tanda bahwa mereka berniat menghentikan program nuklirnya," tegasnya.

"Hanya sebuah ancaman militer terhadap Iran yang benar-benar dapat mencegah kami menggunakan kekuatan militer nyata," tulis pernyataan itu. Selama ini, Tel Aviv dan Washington berulang kali mengancam Tehran dengan serangan militer.

Ancaman terbaru disampaikan oleh Panglima AS, Laksamana Mike Mullen. Ia menyatakan kesiapan untuk memulai perang jika itu benar-benar dapat mencegah Iran membuat bom atom.

Sebelumnya, Presiden Barack Obama secara implisit menyatakan akan menyerang Iran dengan senjata nuklir. Pernyataan Obama itu tentunya mengejutkan dunia. AS rupanya ingin mengulangi kekeliruannya di Perang Dunia II dengan melempar bom nuklir di Nagasaki dan Hiroshima.

Iran menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan dalam kerangka Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT). Para pejabat Tehran juga telah memperingatkan bahwa mereka akan merespon dengan tegas setiap aksi militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklirnya dan perang dapat menyebar ke tempat lain di luar Timur Tengah. (IRIB/RM/AR)

IRIB

BERITA POLULER