Pages

Wednesday, March 21, 2012

Bulava Missile in for More Tests

Bulava Missile launch
17:32 20/03/2012
MOSCOW, March 20 (RIA Novosti)
A series of test launches for the Bulava intercontinental missile are planned for the summer, a source at the Russian Navy said on Tuesday.
Russian Defense Minister Anatoly Serdyukov said earlier in the day the Bulava will enter service in October.
It was not immediately clear how many launches will be conducted or whether their outcome could affect the plans to adopt the missile.
Russian experts have questioned how wise it is to adopt the troubled Bulava missile for service, suggesting it would cause more security problems than it would solve.
Military analyst Viktor Baranets said it was a “reckless” and “dangerous” move since the missile was underdeveloped.
“In its current form the missile could be even more dangerous for the [Russian] navy than for an enemy navy,” he said.
President Dmitry Medvedev said in late December that the Bulava SLBM flight tests were completed and it will now be adopted for service with the Russian Navy.
Russia successfully test launched two Bulava missiles on December 23.
Only 11 of 18 or 19 test launches of the troubled Bulava have been officially declared successful.
However, some analysts suggest that in reality the number of failures is considerably higher. Russian military expert Pavel Felgenhauer said that of the Bulava's first 12 test launches, only one was entirely successful.
Despite several previous failures officially blamed on manufacturing faults, the Russian military has insisted that there is no alternative to the Bulava.
The Bulava (SS-NX-30) SLBM, developed by the Moscow Institute of Thermal Technology (since 1998), carries up to 10 MIRV warheads and has a range of over 8,000 kilometers (5,000 miles). The three-stage ballistic missile is designed for deployment on Borey-class nuclear submarines.
 
 
sumber : RIA NOVOSTI

Menhan: JIDD Fokus Pada Ancaman Nonmiliter

Wahyu Wening / Jurnal Nasional
Dari forum ini, juga diharapkan terjadi kerja sama di bidang pertahanan di antara Negara-negara yang mengikuti kegiatan tersebut.

Jurnas.com | MENGHADAPI peralihan ancaman dari militer ke ancaman nonmiliter, Kementerian Pertahanan yang menyelenggarakan Jakarta International Defence Dialogue (JIDD) 2012 berfokus pada operasi militer selain perang. Dari forum ini, juga diharapkan terjadi kerja sama di bidang pertahanan di antara Negara-negara yang mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya juga berharap dapat memfasilitasi konteks pertahanan dan pertemuan bilateral para delegasi,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat memberi sambutan dalam acara JIDD di Jakarta Convention Center, Rabu (21/3).

Menurut Purnomo, kegiatan yang dilaksanakan dari tanggal 21-23 Maret ini akan fokus pada topik operasi selain perang. “Yaitu sudut pandang pertahanan di kawasan, menanggulangi ancaman cyber, kerja sama internasional dan menudukung keamanan nasional dan global,” jelas Purnomo.

Dikatakan Purnomo, lebih dari perwakilan 40 negara dan 50 orang pembicara internasional beserta 1.300 pesera menghadiri forum dialog pertahanan terbesar di ASEAN ini. Jumlah ini cenderung meningkat dibandingkan acara serupa tahun 2011 lalu. “Terdiri dari perwakilan internasional seperti PBB, Uni Eropa, dan NATO, serta peneliti dalam dan luar negeri,”tambah Purnomo.
sumber : Jurnas

 

Dialog Pertahanan & Pameran Alutsista Digelar Hari Ini di Jakarta

JAKARTA - Kementerian Pertahanan dan Universitas Pertahanan kembali menyelenggarakan Jakarta International Defense Dialogue (JIDD) 2012. Acara bertemakan Asia Pacific Security and Defense Expo (Apsdex) ini di dalamnya juga memamerkan produk dari berbagai perusahaan dan industri pertahanan dalam negeri serta asosiasi dan industri internasional terkemuka.

“Forum JIDD ini menjadi ajang untuk mempromosikan kerja sama antarpemerintah guna menghadapi berbagai ancaman dan permasalahan keamanan baik di kawasan regional maupun internasional,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta, Rabu (21/3).

Menurutnya, penyelenggaraan JIDD ini merupakan kali kedua setelah event yang sama sukses digelar pada 2011 lalu. Penyelenggaraan JIDD kali ini mengambil tema Military Operation Other Than War.

“Hal yang spesifik dalam kegiatan ini adalah pembahasan isu-isu pertahanan yang mencakup aspek militer dan nir militer maupun sejumlah isu tradisional dan non tradisional,” ujar Hartind.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sekjen PBB Ban-Ki Moon dijadwalkan akan turut menghadiri acara ini. Selain itu, lebih dari perwakilan 40 negara dan 50 orang pembicara internasional lainnya bersama 1.300 peserta menghadiri forum dialog pertahanan terbesar di ASEAN ini.

Sumber : JURNAS.COM

Members of the Royal Thai Military Delegation to See Demo of Ukrainian Tank "Oplot"

21 Maret 2012

Oplot main battle tank (photo : Ukraina MoD)
On March 20, Royal Thai military delegation headed by the Chief of Royal Thai Army General Prayut Chan-O-Cha acquainted with Ukrainian main battle tank "Oplot".

Demo show was held at a military firing range of the 1st single tank brigade, stationed in Chernihiv.


Tank crew demonstrated the dynamic battle features andtechnology. In particular, tank carried practical shooting with a staff weapon "Oplot".

"I am convinced that Ukraine is a leading country in the world in tank body through construction. Striking evidence of this is a tank "Oplot" - a powerful, modern military machine", the Chief of Royal Thai ArmyGeneral Prayut Chan-O-Cha.

Guspurla Prioritaskan Pembangunan Komando & Pengendalian Laut Terintegrasi


Menhan Purnomo Yusgiantoro dan KSAL saat berkunjung ke pusat komando dan pengendalian di Changi Naval Base, Singapore (Foto: MINDEF)

JAKARTA - Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Barat, Laksamana Pertama TNI Achmad Taufiqoerrochman mengatakan salah satu prioritas ke depan adalah bagaimana membangun komando dan pengendalian (kodal).

"Komando dan pengendalian harus kita bangun. Sebab saat ini masih mengandalkan penggunaan radio. Padahal kemampuan ilmu dan teknologi (IT) berkembang begitu pesat. Ini belum dimanfaatkan dengan baik, sehingga kita masih mengandalkan untuk menggunakan radio. Oleh karena itu, saat ini sedang dipikirkan bagaimana menggunakan satelit,” kata Komandan Guspurla Koarmabar, Laksma TNI Achmad Taufiqoerrochman di kantornya di Jakarta, Rabu (21/3).

Mantan Komandan Satuan Patroli Komando Armada RI Kawasan Timur ini, menjelaskan, meski sudah ada Puskodal (Pusat Komandan dan Pengendalian) di Koarmabar, namun kemampuannya masih terbatas dimana belum tersambung sampai ke kapal. “Jika mau disambungkan ke kapal tentu membutuhkan teknologi agar kapal bisa mampu menangkap satelit. Namun tentu membutuhkan biaya yang cukup mahal,” kata Komandan Pembebasan Sandera KM Sinar Kudus di Somalia ini.

Dia menegaskan kodal itu sangat strategis. Sebab begitu kalah dalam hal kodal, kalah kita. Karena pasukan sulit dikoordinasi apabila kodal dipotong oleh lawan. “Sebab perintah komandan dari satuan-satuan yang ada pasti tidak akan jalan. Jadinya satuan bisa bingung sendiri dan keluar. Ya menyerah. Jadi di situlah peran teknologi,” katanya.

Achmad Taufiqoerrochman adalah sosok perwira tinggi TNI AL yang cerdas dan memiliki keberanian. Tidak hanya memiliki kemampuan bertempur di laut tetapi juga memiliki wawasan dan strategi dalam melihat perkembangan regional dan global. Salah satu pandangannya adalah bahwa strategi yang paling baik untuk memenangkan peperangan sebenarnya tanpa harus bertempur.

Taufiqoerrochman juga menjelaskan bahwa kemampuan dasar Gugus Tempur laut adalah bertempur di laut. Karena itu, harus mengetahui bagaimana kemampuan anti serangan udara atau serangan rudal, peperangan permukaan laut, dan peperangan kapal selam.

Menurutnya, tantangan kedepan adalah bagaimana peduli pada lingkungan maritim. Prinsipnya harus peduli pada aspek maritim karena akan berdampak kepada aspek keamanan, ekonomi dan lingkungan.

Berdasarkan pengalaman di Somalia, kata Taufiqoerrochman, ternyata pengguna laut itu mempunyai ancaman bersama yaitu aspek keamanan (perompakan) dan lingkungan hidup. Laut masih menjadi lalu lintas yang berdampak ekonomi.

Karena itu, untuk menghadapi tantangan di laut, negara-negara di dunia sudah menyadari bahwa tidak bisa sendiri tetapi perlu bekerja sama. “Ke depan perlu mempunyai jaringan untuk sharing informasi. Artinya kita mendapatkan informasi dari negara lain, sebaliknya kita menyampaikan kepada mereka,” katanya.

Taufiq yang pernah memimpin pembebasan sandera di Selat Malaka ini, menyatakan sampai saat ini selalu bertemu dengan jaringan negara-negara lain guna berkoordinasi dalam hal operasi pengamanan di wilayah laut.

Dikatakannya, isu terorisme juga menjadi perhatian Gugus Tempur Laut. Namun sejauh ini belum ada kejadian teroris melancarkan serangan melalui laut. Terkait posisi Selat Malaka, dia menilai bahwa posisi Selat Malaka tetap menjadi wilayah sangat strategis.

Sumber : JURNAS.COM

Membangun Kepercayaan Kepada negara tetangga

Jakarta - Banyak negara yang menambah anggaran
pertahanan dan alat-alat persenjataannya, termasuk
Indonesia. Agar tak menimbulkan ketegangan di
kawasan, maka harus membangun kepercayaan antara
negara-negara kawasan.
"Kita perlu mempromosikan langkah-langkah
membangun kepercayaan yang lebih besar. Hal ini
penting mengingat modernisasi militer dan anggaran
pertahanan yang meningkat sedang berlangsung di
banyak negara, termasuk di Indonesia," jelas Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam acara Jakarta
International Defense Dialogue (JIDD) di Jakarta
Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu
(21/3/2012).
Belanja pertahanan yang meningkat, imbuh SBY, harus
dilihat dalam konteks proses normal dalam rangka
modernisasi militer, bukan merupakan perlombaan
persenjataan.
"Namun, kita harus memastikan bahwa peningkatan
persenjataan harus disertai dengan kepercayaan yang
lebih besar dan kepercayaan antara negara, dan
khususnya antara militer mereka. Dan seperti yang kita
semua tahu, kepercayaan dan keyakinan tidak muncul
ke permukaan dalam semalam, butuh waktu untuk
memelihara dan membutuhkan upaya lebih besar
untuk mempertahankannya," jelas SBY.
SBY mencontohkan di Laut China Selatan, di mana
masih terjadi sengketa perbatasan dan kepemilikan
antara negara China dan negara-negara ASEAN lainnya.
Persengketaan wilayah ini membutuhkan waktu lama
untuk menyelesaikannya, baik secara diplomatik
maupun yurisdiksi secara hukum.
"Sambil menunggu solusi dari sengketa teritorial,
pilihan terbaik berikutnya adalah fokus membangun
kepercayaan, memastikan bahwa negara-negara yang
mengklaim mengikuti aturan perilaku yang
meminimalkan konflik," tutur SBY.
Salah satu membentuk kepercayaan antar negara
sejalan dengan meningkatkan belanja pertahanan,
adalah dengan latihan militer bersama.
"Ya, sudah ada sejumlah latihan di wilayah kami.
Namun masih ada ketimpangan dalam melakukan
latihan-latihan militer bersama, khususnya di kalangan
negara-negara besar dimana potensi persaingan
strategis adalah masih cukup tinggi. Memang, tingkat
kenyamanan di kalangan militer tertentu masih di
bawah apa yang seharusnya, dan ini tetap menjadi
tantangan untuk wilayah kami," jelas SBY.
Selain untuk tujuan pertahanan, latihan militer
bersama ini juga untuk mengatasi ancaman bencana
alam. Seperti latihan gabungan militer Indonesia-
Australia.
"Tentu selain latihan gabungan untuk ancaman nyata
bencana alam, kita juga membangun kepercayaan, itu
yang penting," tegasnya.
Sumber : ANTARA

Tuesday, March 20, 2012

Membangun postur TNI-AL harus konsisten


Rabu, 21 Maret 2012 

Kapal selam TNI-AL KRI Cakra/401, dalam satu pelayaran permukaan di perairan Tanah Air. Pada dasawarsa '60-an, Indonesia memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey buatan Rusia yang cukup menggentarkan kekuatan militer Barat untuk merecoki kedaulatan fisik nasional pada masa itu. Sebagian kapal selam kelas Whiskey itu bahkan sempat "dipinjamkan" secara sembunyi-sembunyi kepada Pakistan saat berkonfrontasi perbatasan dengan India. (FOTO ANTARA)
... dimulai dari proses perencanaan sampai dengan proses pelaksanaan, karena sangat rentan terhadap dinamika lingkungan dan kondisi riil negara...
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - TNI-AL menyusun dokumen kebijakan perencanaan holistik 2013 dengan target mewujudkan pembangunan kekuatan pokok minimum. Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno, menegaskan, hal itu mutlak memerlukan konsistensi agar tidak bias dan meleset dari target.


"Untuk itu kita perlu terus menyamakan visi, misi serta kesatuan tekad dalam melaksanakan pembangunan TNI-AL yang dimulai dari proses perencanaan sampai dengan proses pelaksanaan, karena sangat rentan terhadap dinamika lingkungan dan kondisi riil negara," katanya, di Markas Besar TNI-AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu.

Dia memimpin Olah Yudha Rencana Strategis TNI-AL tahun anggaran 2013 yang diikuti segenap pemimpin puncak matra laut TNI itu. Rapat kerja tahunan itu bertujuan menyinkronisasikan perkiraan intelijen jangka pendek, penyelenggaraan operasi, sistem dukungan logistik, perencanaan personel, program, hingga anggaran pada 2013 nanti.

Pembangunan yang telah direncanakan, baik dalam dokumen Minimum Essential Force (MEF) TNI AL maupun rencana strategis TNI-AL 2010-2014, harus dikawal dan dijamin bersama. Sebagai gambaran, TNI-AL menginginkan armada kapal selam sekelas KRI Nanggala/402 sebanyak enam unit hingga tiga tahun ke depan.

Kapal cepat kelas KRI Clurit yang sangat efektif dalam patroli perairan dangkal dan menengah, dibeli dari galangan kapal dalam negeri hingga puluhan unit, lengkap dengan sistem arsenalnya.

"Kita perlu menjamin konsistensi pelaksanaan pembangunan kekuatan pokok minimum. Hal tersebut juga langkah strategis yang paling realistis dapat dilaksanakan TNI-AL sebagai bagian integral TNI," kata Soeparno.

Tanpa konsistensi, maka arah pembangunan yang dilaksanakan untuk mewujudkan postur TNI-AL yang diingginkan akan menjadi bias dan makin sulit untuk dicapai. (*)

sumber : Antara

TNI AL usir pesawat Malaysia langgar wilayah ( Perairan Ambalat)



Puspenerbal saat ini tengah menunggu kedatangan 5 pesawat jenis CN 235-220 untuk memperkuat unsur patroli maritim (Foto: ALERT 5)

SURABAYA - Pesawat patroli TNI-AL mengusir satu pesawat Tentara Diraja Malaysia yang melanggar wilayah Indonesia dengan terbang di atas Karang Unarang, Perairan Ambalat, Kalimantan Timur.

Direktur Perencanaan Dan Pengembangan Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal), Kolonel Laut (P) Imam Musani, ketika dihubungi ANTARA di Surabaya Selasa (20/3) mengatakan, pesawat Malaysia yang melakukan pelanggaran itu berjenis CN-235 dengan nomor lambung M44-05.

"Peristiwa pengusiran terjadi sekitar pukul 10.32 WITA. Saat itu pesawat patroli TNI-AL jenis Casa NC-212-200 melihat pesawat Malaysia melintas masuk wilayah RI di atas Karang Unarang," katanya.

Pesawat Casa TNI-AL yang dipiloti Mayor Laut (P) Imam Safii dan sedang melakukan Operasi Tameng Hiu di wilayah Tarakan, Perairan Ambalat dan sekitarnya, langsung bergerak membayang-bayangi pesawat milik Malaysia dan selanjutnya melakukan pengusiran.

Kolonel Imam Musani menambahkan, peristiwa pelanggaran batas wilayah yang dilakukan pihak Tentara Diraja Malaysia tersebut, bukan terjadi kali ini saja.

Selain melanggar batas wilayah udara, kapal perang milik Tentara Diraja Malaysia juga beberapa kali memasuki wilayah perairan RI dan diusir kapal perang Indonesia yang sedang patroli.

"Ke depan, kami akan lebih mengintensifkan kegiatan operasi dengan menambah frekuensi kegiatan patroli udara," ujar Musani.

Menurut ia, Puspenerbal saat ini tengah menunggu kedatangan lima unit pesawat baru jenis CN-235-220 yang dipesan TNI-AL dari PT Dirgantara Indonesia untuk memperkuat armada udara yang ada saat ini.

Beberapa waktu sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno menegaskan bahwa masalah pengamanan di wilayah pulau terluar yang berbatasan dengan negara tetangga tetap menjadi prioritas dari TNI-AL.

Sumber : ANTARANEWS.COM

BERITA POLULER