Kapal perang India sandar di Makassar
Sabtu, 10 Maret 2012 13:56 WIB | Dibaca 1137 kali
Makassar (ANTARA News) - Kapal perang milik Angkatan Laut India
D 53 INS RANJIT bersandar di Pelabuhan Soekarno-Hatta,
Makassar, Sulawesi Selatan, yang langsung disambut upacara oleh
sejumlah personel Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal)
VI Makassar, Sabtu.
Selama tiga hari, kapal perang bertipe kelas perusak (destroyer ) sepanjang 147 meter,
lebar 15.8 meter, dan bobot 4.974 ton itu akan berada di Pelabuhan Makassar.
"Selama tiga hari kami di Makassar, akan melakukan kunjungan ke tempat wisata
terdekat, selain untuk memenuhi bekal ulang logistik," kata Kapten Punit Chadda yang
menakhodai INS RANJIT.
Adapun jumlah ABK kapal perang andalan India ini tercatat sebanyak 320 orang. Para
ABK tersebut secara bergantian akan berkeliling dan menikmati keindahan Kota
Makassar.
Salah satu lokasi yang akan dikunjungi yang tak jauh dari Pelabuhan Soekarno-Hatta,
Makassar, adalah Benteng Rotterdam.
Benteng yang memiliki nilai historis tinggi tersebut, erat kaitannnya dengan perjuangan
prakemerdekaan dalam melawan pemerintah kolonial Belanda dan sekutunya,
termasuk perjuangan melawan pemerintah portugis yang pernah menguasai sebagian
besar wilayah Indonesia.
(T.S036)
Saturday, March 10, 2012
Friday, March 9, 2012
Taiwan menawarkan Hibah F5 tiger F ke pada RI
TNI-AU pertimbangkan F-5 Tiger Taiwan
Jumat, 9 Maret 2012 19:54 WIB | Dibaca 854 kali
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI
Imam Sufaat, mengatakan pihaknya mempertimbangkan
hibah pesawat tempur F-5E/F Tiger dari Taiwan.
Taiwan merupakan satu sekutu Amerika Serikat. Negara
kepulauan itu berhadapan langsung dengan China dan
senantiasa mendapat kemudahan dalam pengadaan atau
peremajaan arsenal dari Amerika Serikat.
"Ya...itu baik...akan kami pertimbangkan," katanya, usai
memimpin serah terima jabatan Komandan Komando
Pendidikan TNI-AU, di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan Taiwan akan menghibahkan sekitar satu
skadron F-5E/F. "Kira-kira jumlahnya satu skadron,"
ungkapnya. Satu skuadron udara berkekuatan antara 12
hingga 20 pesawat terbang, dilengkapi sejenis depo
pemeliharaan dan persenjataan.
Sufaat mengemukakan usia pakai pesawat-pesawat F-5E/F
Tiger II TNI-AU, yang saat ini tergabung dalam Skuadron
Udara 14, akan diperpanjang hingga 2020.
"Saat ini rata-rata jam terbang pesawat-pesawat F-5 kita
tersisa 4.000 dari 10.000 jam terbang yang dimiliki. Jika
setahun 200 jam terbang, maka bisa sampai 2020," ujar
Sufaat.
Pada kesempatan yang sama Asisten Perencanaan Kepala
Staf TNI-AU, Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo,
mengatakan semua F-5E/F Indonesia masih dapat berfungsi
baik tidak perlu ditingkatkan.
"Jika fungsi-fungsinya masih dapat berjalan baik dan
maksimal ...ya tidak perlu di-up grade ...hemat biaya,"
katanya.
sumber antara
Jumat, 9 Maret 2012 19:54 WIB | Dibaca 854 kali
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI
Imam Sufaat, mengatakan pihaknya mempertimbangkan
hibah pesawat tempur F-5E/F Tiger dari Taiwan.
Taiwan merupakan satu sekutu Amerika Serikat. Negara
kepulauan itu berhadapan langsung dengan China dan
senantiasa mendapat kemudahan dalam pengadaan atau
peremajaan arsenal dari Amerika Serikat.
"Ya...itu baik...akan kami pertimbangkan," katanya, usai
memimpin serah terima jabatan Komandan Komando
Pendidikan TNI-AU, di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan Taiwan akan menghibahkan sekitar satu
skadron F-5E/F. "Kira-kira jumlahnya satu skadron,"
ungkapnya. Satu skuadron udara berkekuatan antara 12
hingga 20 pesawat terbang, dilengkapi sejenis depo
pemeliharaan dan persenjataan.
Sufaat mengemukakan usia pakai pesawat-pesawat F-5E/F
Tiger II TNI-AU, yang saat ini tergabung dalam Skuadron
Udara 14, akan diperpanjang hingga 2020.
"Saat ini rata-rata jam terbang pesawat-pesawat F-5 kita
tersisa 4.000 dari 10.000 jam terbang yang dimiliki. Jika
setahun 200 jam terbang, maka bisa sampai 2020," ujar
Sufaat.
Pada kesempatan yang sama Asisten Perencanaan Kepala
Staf TNI-AU, Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo,
mengatakan semua F-5E/F Indonesia masih dapat berfungsi
baik tidak perlu ditingkatkan.
"Jika fungsi-fungsinya masih dapat berjalan baik dan
maksimal ...ya tidak perlu di-up grade ...hemat biaya,"
katanya.
sumber antara
Thursday, March 8, 2012
PTDI serahkan CN-235 pesanan Korsel
Bandung (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan menyerahkan pesawat CN-235 Maritime Patrol Aircraft (MPA) keempat pesanan Korea Selatan yang akan dilakukan di hanggar PTDI Jalan Pajajaran Kota Bandung, Jumat (9/3).
"Pesawat yang akan diserahkan besok adalah pesawat keempat pesanan Korea Selatan atau Korean Coast Guard, serah terimanya besok di hanggar CN-235," kata Kepala Bidang Humas PT Dirgantara Indonesia, Rokhendi, di Bandung, Kamis.
Penyerahan pesawat versi militer tercanggih buatan PT Dirgantara Indonesia itu akan dilakukan oleh Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsudin kepada pihak Korea Selatan.
Pesawat itu akan langsung diterbangkan ke pangkalan Korean Coast Guard di Gimpo Korea Selatan oleh pilot PTDI Kapten Pilot Adi Budi Atmoko dan Co-Pilot wanita Esther G serta awak pesawat.
Pada 2011, PTDI juga telah menyerahkan pesawat kedua dan ketiga pesanan Korea Selatan itu yang dilakukan pada Mei dan Deember 2011. Sebelumnya Korea Selatan memesan empat pesawat intai maritim menengah itu pada 2008, dan yang akan diserahkan Jumat besok merupakan pesawat pesanan terakhir.
Korea Selatan sejak 1994 tercatat telah menggunakan dua skuadron pesawat CN-235 untuk memperkuat angkatan udaranya. Korea Selatan merupakan negara yang paling banyak membeli pesawat CN-235 buatan PTDI. Selain pesawat CN-235/MPA juga sebelumnya membeli pesawat angkut militer, sipil bahkan versi VIP dan VVIP.
Sementara itu spesifikasi khusus CN-235 MPA antara lain dilengkapi instrumen radar khusus, forward looking infra red (FLIR-penjejak berbasis infra merah tinjauan bawah), ESM, instrumen identification friend or foe (IFF-pengenal wahana kawan atau musuh), navigasi taktik, sistem komputer taktis, kamera pengintai udara, dan beberapa yang lain. Dua mesin CT7-9C yang masing-masing berkekuatan 1.750 daya kuda dipasang di kedua pilon mesin di bentang sayapnya.
Secara fisik, CN-235 MPA ini berukuran lebih panjang dan memiliki struktur lebih kuat ketimbang seri sipil CN-235. Di bagian hidung di bawah jendela kokpit, terdapat tonjolan berisikan berbagai instrumen khusus itu.
Struktur pesawat terbang juga diperkuat karena operasionalisasi CN-235 MPA lebih dominan di wilayah maritim yang berpotensi korosif terhadap metal penyusun pesawat terbang itu.
sumber : Analisa
Jerman Tawarkan leo ke RI dengan TOT
Kasad: tawaran Leopard Jerman cukup menjanjikan
Kamis, 8 Maret 2012 14:59 WIB | 877 Views
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menilai tawaran tank tempur utama Leopard 2A6 dari Jerman lebih menjanjikan dibandingkan tawaran Belanda.
"Tawaran Jerman cukup menjanjikan untuk mengisi kekosongan. Apalagi Belanda masih ada permasalahan dari parlemen," kata Pramono di Markas Besar Angkatan Darat Jakarta, Kamis.
Jerman, katanya, tidak hanya menjanjikan alih teknologi melalui pelatihan bagi pelatih tapi juga menawarkan produksi bersama dalam pembuatan beberapa bagian dari tank seberat 60 ton tersebut dengan menggandeng PT Pindad.
Bahkan, lanjut dia, Jerman menantang kesiapan industri pertahanan dalam negeri.
Lebih lanjut Pramono mengatakan, pihaknya berusaha mendapatkan 100 tank Leopard dengan anggaran 280 juta dolar AS yang tersedia.
"Adapun mekanisme pembelian dilakukan langsung antarpemerintah," ujarnya.(S037)
"Tawaran Jerman cukup menjanjikan untuk mengisi kekosongan. Apalagi Belanda masih ada permasalahan dari parlemen," kata Pramono di Markas Besar Angkatan Darat Jakarta, Kamis.
Jerman, katanya, tidak hanya menjanjikan alih teknologi melalui pelatihan bagi pelatih tapi juga menawarkan produksi bersama dalam pembuatan beberapa bagian dari tank seberat 60 ton tersebut dengan menggandeng PT Pindad.
Bahkan, lanjut dia, Jerman menantang kesiapan industri pertahanan dalam negeri.
Lebih lanjut Pramono mengatakan, pihaknya berusaha mendapatkan 100 tank Leopard dengan anggaran 280 juta dolar AS yang tersedia.
"Adapun mekanisme pembelian dilakukan langsung antarpemerintah," ujarnya.(S037)
sumber : Antara
US/ROK forces show off air power
Not even the sun had a chance to rise before Airmen here began their work during a combined combat generation exercise, March 2, between United States and Republic of Korea air forces.
"The purpose of the exercise today is to test the ability of our team to execute our combat mission at a moment's notice," said Col. Craig Leavitt, 8th Operations Group commander.
"This shows the resolve that we have as a team, the United States and the Republic of Korea forces, to defend the Republic of Korea at any time," he added.
From start to finish, aircraft were generated as they would be for wartime operations. The exercise helps Airmen practice how several pieces of a much larger puzzle are brought together in one swift motion, representing a cycle of events paramount to the overall defense of the region.
Describing it as a "bilateral event," Col. Stephen Williams, 8th Fighter Wing vice commander, noted the long hours spent behind the scenes that produced the combat air power seen between the five units. In all, the exercise included aircraft from the 35th and 80th Fighter Squadrons from the 8th Fighter Wing, Kunsan Air Base, ROK; the 421st Expeditionary Fighter Squadron from the 388th FW at Hill Air Force Base, Utah; the 55th EFS from the 20th FW at Shaw AFB, S.C.; and the 38th Fighter Group of the ROK Air Force.
A befitting finale, the "tail end" event was ushered in by the roaring sound of fighter jets as they glided down the runway as a combat-ready procession.
This isn't the first time the Wolf Pack has exercised full combat generation, and certainly isn't the last, but working with host country air power defenses has brought a more personal association to the importance of the exercise.
"This is their [Koreans] homeland," said Williams, reminding Airmen that the Wolf Pack is part of a vested interest in defending the Republic of Korea from enemy forces.
"The more we work together, the better we'll be if called upon to take the fight north," said Williams.
Sumber Defence Talk
Russia Signs Contract for Navy MiG-29K Fighter
The Russian Defense Ministry has signed a contract with aircraft maker MiG for the delivery of 20 MiG-29K and four MiG-29KUB carrier-based fighter aircraft, MiG said on Wednesday.
"Defense Minister Anatoly Serdyukov and MiG General Director Sergei Korotkov have signed the contract for the delivery of MiG-29K and MiG-29KUB carrier-based fighters," MiG said in a statement.
MiG wil deliver the aircraft from 2013-2015. The aircraft will operate from Russia's single serving carrier, the Admiral Kuznetsov, with the Northern Fleet based in Murmansk. The value of the deal has not been disclosed.
"The signature of this contract for delivery of these fighters is a real step in fulfilling our program for rearming the forces. The Naval Air Forces will get a modern combat aircraft as good as any in the world," Serdyukov was quoted as saying by his press service.
The contract will guarantee MiG a steady level of work in the medium term, Korotkov said.
The MiG-29K is a navalized variant of the MiG-29 land-based fighter, and has folding wings, an arrester tail-hook, strengthened airframe and multirole capability. It can be armed with a wide variety of air-to-air and air-to-surface weaponry. So far, the aircraft has only been exported to India for use on a refitted Russian-built carrier which is to be delivered at the end of this year.
The Admiral Kuznetsov currently operates Sukhoi Su-33 naval fighter aircraft.
sumber Defence Talk
Wednesday, March 7, 2012
First flight launch means first step toward future air dominance
The launch of the first F-35 Lightning II flight here March 6 is a small step into the next half century of air dominance.
Morale was high even though the sortie was abbreviated by the pilot's determination of "in flight emergency."
"Our first sortie is truly a milestone for the program," said Col. Andrew Toth, 33rd Fighter Wing commander. "Unfortunately things happen. We didn't want it to happen today but we were prepared. Our pilot did the exact right thing in returning the jet back to Eglin. Although there were issues we are doing whatever we can to move the program forward safely and effectively."
Pilots and maintainers will meet later today to discuss the potential fuel leak finding that caused the precautionary end of the sortie at 15 minutes versus the 90 minutes scheduled to be airborne to complete the operational check flight.
"We met both objectives today: get the aircraft airborne and start local area operations," said Lt. Col. Eric Smith, the Air Force's first F-35 pilot who tested the aircraft at Edwards AFB, Calif. "Our team did the most conservative thing by deciding to bring the plane back. We trained for this many times in the simulator for this exact reason."
The crowd on the flight line present for take-off kept the cheers for their integrated team's first aircraft launch and feel the day was still a success.
"It's a wonderful experience to know I made history launching the first F-35," said Staff Sgt. Jeremy Hauser, 33rd Aircraft Maintenance Squadron, who saluted Smith in the cockpit before the jet taxied down the ramp.
Maintainers have been preparing for today's launch with engine runs and taxi operations for approximately eight months since the aircraft began arriving here last summer. Utilizing virtual trainers, developing pilot curriculum and hosting small group tryouts has been the focus of personnel to ready themselves for flight operations to come.
"This is our execution year," said Toth, who is proud of his team for laying the foundation to get the nation's training program ready to go. "The cohesion we developed between the services makes this not just about the Air Force but about the wing's program to launch the F-35A as a baseline for the JSF program's future. It's taken the entire team, all services and contractors to build this up. Had the partnership not been there, I don't think we'd be here today."
Since 2009, Air Force, Navy and Marines sent their best aviators and aircraft mechanics to develop the next generation warriors of the joint strike fighter program here.
"I can't wait until we fly more and show our stuff to the world," said Senior Airman Arthur Verchot, 33rd Aircraft Maintenance Squadron crew chief launch assistant.
More pilot students will flow into the program at the right time so the wing has the correct number of people in each phase of the program. With people as the main training product, the 33 FW focuses on preparing for an anticipated 2,200 students a year and 900 "on campus" at any given time at full capacity.
According to Air Education and Training Command, they are taking an event-driven approach to assess when to begin transitioning the entire JSF training system, including the aircraft, to a point where the wing can initiate the training syllabus.
"We will continue to make steady progress towards our goal of standing up a world class training program at Eglin," said Gen. Edward Rice Jr., commander of AETC, who approved F-35 flight operations to begin shortly after the Air Force Aeronautical Systems Center awarded an airworthiness certificate to the service for their variant of the joint strike fighter.
Subscribe to:
Posts (Atom)
BERITA POLULER
-
Rusia Jamin Indonesia Bebas Embargo Militer TEMPO.CO , Jakarta - Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Alexander A. Ivanov, menyatakan pem...
-
Rencana kedatangan alutsista TNI 2010-2014 dengan anggaran pembelian US$ 15 Milyar : Renstra TNI 2010-2014 memberikan nuansa pelangi terhad...
-
T-90S Rusia (Main Battle Tank Russia) Kavaleri Peroleh 178 Unit Kendaraan Tempur Kaveleri TNI Angkatan Darat (AD) akan mendapatkan tambah...