27 Pebruari 2012, Jakarta: Untuk
menjaga integritas Negara
Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI), Indonesia membutuhkan
Tank Kelas Berat. Karenanya
diperlukan modernisasi alutsista,
yang salah satunya dengan
memilih pengadaan Tank
Leopard. Hal tersebut dikatakan
Menteri Pertahanan RI Purnomo
Yusgiantoro pada saat
memberikan keterangan pers,
Jumat (24/2) di kantor
Kementerian Pertahanan, Jakarta.
Menhan, menjelaskan terkait
penempatan Tank Leopard ini
tidak akan ditempatkan di wilayah
Papua. Karena menurut Menhan
kondisi geografis di Papua tidak
memungkinkan untuk dilalui jenis
kendaraan tempur Tank Berat.
Untuk tahap selanjutnya, Menhan
menyampaikan bahwa Indonesia
melalui TNI Angkatan Darat
berencana akan membangun
Batalyon Tank dalam
pembangunan kekuatan /
modernisasi Angkata Darat.
Menhan Purnomo Yusgiantoro
menekankan, Indonesia
membutuhkan Tank Berat atau
Main Battle Tank (MBT), karena
yang dimiliki Indonesia selama ini
hanya Tank Ringan atau Light
Battle Tank (LBT) seperti Scorpion
dan AMX 13.
Menurut Purnomo Tank Leopard
merupakan jenis alutsista tank
yang memiliki teknologi terbaik
saat ini. Ditambahkan Menhan
walaupun Tank Leopard
berukuran besar, namun tetap
dapat melalui lokasi tanpa
infrastruktur, termasuk melalui
sungai sedalam empat meter.
Pemerintah telah mempersiapkan
anggaran pengadaan Tank Kelas
Berat, sesuai dengan kebutuhan
dari TNI AD. Saat ini kondisi
ekonomi Indonesia membaik atau
kuat dengan pertumbuhan
ekonomi mencapai 6,5% pada
tahun 2011, sehingga
moderinisasi TNI di mungkinkan
dilakukan.
Kemhan: Leopard Masih
Dinegosiasikan
Kementerian Pertahanan
menyatakan rencana pembelian
sekitar 100 unit "Main Battle
Tank" (MBT) jenis "Leopard 2A6"
masih dinegosiasikan dengan
pihak Belanda.
"Kita masih negosiasikan, belum
ada keputusan final," kata Kepala
Pusat Komunikasi Publik
Kementerian Pertahanan Brigjen
TNI Hartind Asrin ketika
dikonfirmasi ANTARA di Jakarta,
Senin.
Ia menambahkan, sambil terus
melakukan negosiasi Pemerintah
Indonesia juga melakukan
penjajakan ke beberapa negara
lain untuk pengadaan "Leopard",
antara lain Jerman.
"Kami juga melakukan langkah-
langkah antisipasi dengan
mencari alternatif ke beberapa
negara," kata Hartind.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan
Purnomo Yusgiantoro
menegaskan Indonesia
membutuhkan main battle tank
atau tank berat seperti Leopard
yang direncanakan akan dibeli
dari Belanda.
"Kami percaya, negara yang kuat
harus memiliki sistem pertahanan
yang kuat. Di negara maju mana
pun, ketika ekonomi membaik,
sistem pertahanannya pasti
meningkat," katanya.
Rencana pembelian tank Leopard
mendapat penolakan tidak saja di
dalam negeri tetapi juga di
Belanda, sebagai negara penjual.
Di dalam negeri, beberapa
anggota Komisi I DPR menolak
rencana itu. DPR menilai
spesifikasi tank Leopard tak cocok
dengan kondisi medan Indonesia.
Sejumlah kalangan menilai
Leopard tidak cocok untuk kontur
geografis Indonesia.
Parlemen Belanda tidak setuju
atas rencana Pemerintah Belanda
menjual tank ke Indonesia.
Alasan yang disebut dalam mosi
adalah tentara Indonesia "pernah
melanggar HAM di Aceh, Timor
Timur, dan Papua Barat."
Atas kontroversi itu tim teknis
Kementerian Pertahanan telah
berangkat ke Belanda untuk
melihat langsung kondisi tank
berat dimaksud, kesesuaian harga
dan negosiasi secara politik.
Sumber: Kemhan/ ANTARA News
Monday, February 27, 2012
Sunday, February 26, 2012
Proficiat, 50 tahun Skuadron Udara 6!
Bogor (ANTARA News) - Satu di antara tiga
skuadron udara operasional pesawat
sayap putar milik TNI-AU (kini ada
Skuadron Udara 45 VVIP) berulang tahun
ke-50 atau ulang tahun emas. Skuadron Udara 6 yang
berpangkalan di Pangkalan Udara Atang Sendjaya, Bogor,
telah melakukan banyak kiprah demi Indonesia.
Mulai dari operasi militer perang hingga operasi militer
selain perang ( other than war operation ). Siapa yang tidak
merasakan manfaat helikopter dalam penanggulangan
bencana tsunami Aceh pada 2003-2004? Atau pengamatan
dan pengiriman personel dan peralatan dalam mengatasi
konflik bersenjata di Tanah Air?
Penerbang dan awak pendukung skuadron udara ini juga
banyak mengisi Skuadron Udara VVIP 17 (saat itu) atau
Skuadron Udara VVIP 45. Tugas pokok mereka adalah
menjadi turangga udara bagi keperluan Kepala Negara atau
Wakil Presiden.
Walau juga ada barisan catatan warga-warga skuadron
udara itu yang gugur dalam tugas atau karena sebab lain
terkait penugasan. Untuk mengenang kejayaan dan
pengorbanan itu semua maka juga diresmikan Heritage
Room dalam rangkaian acara peringatan ulang tahun emas
itu.
Upacara ulang tahun emas Skuadron Udara 6 dilaksanakan
secara sederhana dipimpin Komandan Pangkalan Udara
Atang Senjaya, Marsekal Pertama TNI Tabri Santoso, di
Bogor, Jumat.
"50 tahun merupakan tonggak bagi kemajuan Skuadron
Udara 6 menjadi lebih baik dihadapkan pada tantangan
tugas yang makin beragam dan kompleks," katanya. 24
Februari 1952 adalah hari jadi resmi skuadron udara itu.
Masa-masa itu, Indonesia dalam pergolakan di dalam negeri
sementara kekuatan asing juga mengincar republik muda
bernama Indonesia.
Dia secara khusus meminta agar para awak skuadron yang
berinti kekuatan helikopter NAS-332 Super Puma buatan
Aerospatiale, Perancis, yang kemudian dilebur menjadi
konsorsium Eurocopter, itu terus meningkatkan
profesionalisme dalam menjalankan tugas pokoknya.
Sementara itu, Komandan Skuadron Udara 6, Letnan
Kolonel Penerbang Hendro Arief, mengatakan, tingkat
kesiapan skuadron udara yang dipimpin dia mencapai 80
persen.
"Dengan tingkat kesiapan yang ada tersebut, maka
Skuadron Udara 6 siap untuk melaksanakan tugas pokoknya
baik dalam operasi militer maupun operasi militer selain
perang," katanya.
"Armada kami terdapat di beberapa titik, selain di home
base di sini, juga di Jayapura dan Pontianak masing-masing
satu unit," katanya.
Sejak awal berdiri hingga kini beragam jenis helikopter
pernah bergabung di dalam skuadron udara itu, baik buatan
blok Timur ataupun Barat secara terpisah ataupun pada
rentang waktu bersamaan. Mereka adalah Mi-4 Hound ,
S-58T Twin Pack, UH-34D, dan yang terbaru adalah NAS-332
Super Puma .
Akan tetapi, pengadaan terakhir pesawat-pesawat
terbangnya itu terjadi pada dasawarsa '80-an, disusul pada
awal 2001. Alasan keuangan negara jadi hal yang selalu
dimajukan saban wacana pengadaan dan peremajaan
pesawat terbang dikemukakan.
Bukan cuma acara berlatar militer dilakukan, juga acara
bertajuk Go Green in the Golden Moment , yaitu atraksi
kesenian barongsai, pameran statik helikopter S-58T Twin
Pack, Bolkow Blohm BO-105, dan NAS-332 Super Puma .
Juga sunbangan Batalion 461 Pasukan Khas TNI-AU
bermarkas di Pangkalan Udara Utama Halim
Perdanakusuma. Pasukan ini memiliki "pertalian erat"
dengan helikopter TNI-AU karena berbagai operasi mereka
sangat bersandar pada kesiapan operasional helikopter.
Masyarakat juga bergembira, dan mereka menyumbangkan
atraksi menerbangkan beberapa pesawat swayasa.
Proficiat Skuadron Udara 6!
sumber:antara
skuadron udara operasional pesawat
sayap putar milik TNI-AU (kini ada
Skuadron Udara 45 VVIP) berulang tahun
ke-50 atau ulang tahun emas. Skuadron Udara 6 yang
berpangkalan di Pangkalan Udara Atang Sendjaya, Bogor,
telah melakukan banyak kiprah demi Indonesia.
Mulai dari operasi militer perang hingga operasi militer
selain perang ( other than war operation ). Siapa yang tidak
merasakan manfaat helikopter dalam penanggulangan
bencana tsunami Aceh pada 2003-2004? Atau pengamatan
dan pengiriman personel dan peralatan dalam mengatasi
konflik bersenjata di Tanah Air?
Penerbang dan awak pendukung skuadron udara ini juga
banyak mengisi Skuadron Udara VVIP 17 (saat itu) atau
Skuadron Udara VVIP 45. Tugas pokok mereka adalah
menjadi turangga udara bagi keperluan Kepala Negara atau
Wakil Presiden.
Walau juga ada barisan catatan warga-warga skuadron
udara itu yang gugur dalam tugas atau karena sebab lain
terkait penugasan. Untuk mengenang kejayaan dan
pengorbanan itu semua maka juga diresmikan Heritage
Room dalam rangkaian acara peringatan ulang tahun emas
itu.
Upacara ulang tahun emas Skuadron Udara 6 dilaksanakan
secara sederhana dipimpin Komandan Pangkalan Udara
Atang Senjaya, Marsekal Pertama TNI Tabri Santoso, di
Bogor, Jumat.
"50 tahun merupakan tonggak bagi kemajuan Skuadron
Udara 6 menjadi lebih baik dihadapkan pada tantangan
tugas yang makin beragam dan kompleks," katanya. 24
Februari 1952 adalah hari jadi resmi skuadron udara itu.
Masa-masa itu, Indonesia dalam pergolakan di dalam negeri
sementara kekuatan asing juga mengincar republik muda
bernama Indonesia.
Dia secara khusus meminta agar para awak skuadron yang
berinti kekuatan helikopter NAS-332 Super Puma buatan
Aerospatiale, Perancis, yang kemudian dilebur menjadi
konsorsium Eurocopter, itu terus meningkatkan
profesionalisme dalam menjalankan tugas pokoknya.
Sementara itu, Komandan Skuadron Udara 6, Letnan
Kolonel Penerbang Hendro Arief, mengatakan, tingkat
kesiapan skuadron udara yang dipimpin dia mencapai 80
persen.
"Dengan tingkat kesiapan yang ada tersebut, maka
Skuadron Udara 6 siap untuk melaksanakan tugas pokoknya
baik dalam operasi militer maupun operasi militer selain
perang," katanya.
"Armada kami terdapat di beberapa titik, selain di home
base di sini, juga di Jayapura dan Pontianak masing-masing
satu unit," katanya.
Sejak awal berdiri hingga kini beragam jenis helikopter
pernah bergabung di dalam skuadron udara itu, baik buatan
blok Timur ataupun Barat secara terpisah ataupun pada
rentang waktu bersamaan. Mereka adalah Mi-4 Hound ,
S-58T Twin Pack, UH-34D, dan yang terbaru adalah NAS-332
Super Puma .
Akan tetapi, pengadaan terakhir pesawat-pesawat
terbangnya itu terjadi pada dasawarsa '80-an, disusul pada
awal 2001. Alasan keuangan negara jadi hal yang selalu
dimajukan saban wacana pengadaan dan peremajaan
pesawat terbang dikemukakan.
Bukan cuma acara berlatar militer dilakukan, juga acara
bertajuk Go Green in the Golden Moment , yaitu atraksi
kesenian barongsai, pameran statik helikopter S-58T Twin
Pack, Bolkow Blohm BO-105, dan NAS-332 Super Puma .
Juga sunbangan Batalion 461 Pasukan Khas TNI-AU
bermarkas di Pangkalan Udara Utama Halim
Perdanakusuma. Pasukan ini memiliki "pertalian erat"
dengan helikopter TNI-AU karena berbagai operasi mereka
sangat bersandar pada kesiapan operasional helikopter.
Masyarakat juga bergembira, dan mereka menyumbangkan
atraksi menerbangkan beberapa pesawat swayasa.
Proficiat Skuadron Udara 6!
sumber:antara
Saturday, February 25, 2012
ATD -X, jet tempur generasi 6 Jepang calon penakluk F -22 Raptor
Saat negara-negara maju saat ini masih dalam tahap awal
produksi pesawat tempur generasi kelima, Jepang sudah
mempersiapkan konsep dan desain pesawat tempur generasi
keenam yang memiliki kemampuan "anti (pesawat)
siluman" (counterstealth). Menurut majalah pertahanan Jane's
Defence Weekly edisi 16 November 2011, yang diterima Kompas,
Kamis (25/11/2011), pesawat tempur generasi ke-6 ini akan
dibangun berdasarkan pesawat konsep ATD-X (Advanced
Technology Demonstrator-X). Pesawat ATD-X sendiri akan segera
memasuki pembuatan kerangka pesawat (airframe).
Kementerian Pertahanan Jepang dan Mitsubishi Heavy Industries
dikabarkan akan menandatangani kontrak pembuatan ATD-X
akhir tahun ini. Kemhan Jepang sudah menyiapkan anggaran
senilai 39,2 miliar yen (sekitar Rp4,5 triliun) dari 2009 hingga
2016. "Secara teknologi, Jepang tak punya masalah untuk
mengembangkan kemampuan siluman (di pesawat tempur). Kami
akan membuat pesawat yang bagus," tutur Letnan Jenderal
Hideyuki Yoshioka, Direktur Pengembangan Sistem Udara Institut
Pengembangan dan Riset Teknis Kemhan Jepang.
Rencana penggelaran pesawat tempur generasi kelima
berteknologi stealth Chengdu J-20 oleh China dan Sukhoi PAK-FA
T-50 oleh Rusia membuat Jepang memandang proyek
pengembangan pesawat tempur masa depan ini sangat
mendesak. "China dan Rusia masing-masing akan menggelar
Chengdu J-20 dan Sukhoi PAK-FA T-50 dalam waktu dekat. Kami
tahu 28 radar kami efektif mendeteksi pesawat generasi ketiga
dan keempat dari jarak jauh, tetapi dengan munculnya pesawat-
pesawat generasi kelima ini, kami tak yakin bagaimana kinerja
radar-radar itu nantinya," tandas Yoshioka.
Jenderal bintang tiga tersebut mengharapkan ATD-X akan
melakukan terbang perdana pada tahun fiskal 2016.
"Penerbangan perdana pada 2016 adalah keharusan yang mutlak.
Ini vital bagi pertahanan udara negara kami," tandas Yoshioka.
Basis riset
Meski demikian, ATD-X tidak akan serta-merta diproduksi massal
untuk menggantikan peran pesawat tempur Mitsubishi F-2 saat
ini. ATD-X hanya akan digunakan untuk meriset berbagai
teknologi yang lebih maju dan integrasi sistem, sebagai dasar
untuk memproduksi pesawat tempur generasi keenam.
Dalam konsep Jepang, pesawat tempur generasi keenam akan
memiliki kemampuan i3 (informed, intelligent, instantaneous) dan
memiliki karakteristik counterstealth. Pesawat generasi keenam
inilah yang digadang-gadang akan menggantikan armada F-2,
pesawat tempur yang diproduksi berdasar platform F-16 buatan
AS. "ATD-X tidak akan serta-merta menjadi pesawat generasi baru
Jepang. Tetapi dengan memastikan kemampuan siluman dan
manuverabilitasnya, kami berharap ia akan menjadi dasar bagi
generasi penerus F-2," ungkap Kolonel Yoshikazu Takizawa dari
TRDI.
Meski tak akan mengalami hambatan dalam hal teknologi, Jepang
diperkirakan harus menghadapi rintangan politik dari sekutu
utamanya, AS. AS selama ini selalu keberatan Jepang
mengembangkan rancang bangun pesawat tempurnya sendiri.
Salah satu alternatif yang akan ditempuh adalah mengajak AS
mengembangkan bersama pesawat tempur generasi keenam ini.
AS saat ini menjadi satu-satunya negara di dunia yang telah
mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima, yakni F-22
Raptor, dan dalam waktu dekat kemungkinan akan segera
mengoperasikan F-35 Lightning II.
sumber:
internasional.kompas.com
produksi pesawat tempur generasi kelima, Jepang sudah
mempersiapkan konsep dan desain pesawat tempur generasi
keenam yang memiliki kemampuan "anti (pesawat)
siluman" (counterstealth). Menurut majalah pertahanan Jane's
Defence Weekly edisi 16 November 2011, yang diterima Kompas,
Kamis (25/11/2011), pesawat tempur generasi ke-6 ini akan
dibangun berdasarkan pesawat konsep ATD-X (Advanced
Technology Demonstrator-X). Pesawat ATD-X sendiri akan segera
memasuki pembuatan kerangka pesawat (airframe).
Kementerian Pertahanan Jepang dan Mitsubishi Heavy Industries
dikabarkan akan menandatangani kontrak pembuatan ATD-X
akhir tahun ini. Kemhan Jepang sudah menyiapkan anggaran
senilai 39,2 miliar yen (sekitar Rp4,5 triliun) dari 2009 hingga
2016. "Secara teknologi, Jepang tak punya masalah untuk
mengembangkan kemampuan siluman (di pesawat tempur). Kami
akan membuat pesawat yang bagus," tutur Letnan Jenderal
Hideyuki Yoshioka, Direktur Pengembangan Sistem Udara Institut
Pengembangan dan Riset Teknis Kemhan Jepang.
Rencana penggelaran pesawat tempur generasi kelima
berteknologi stealth Chengdu J-20 oleh China dan Sukhoi PAK-FA
T-50 oleh Rusia membuat Jepang memandang proyek
pengembangan pesawat tempur masa depan ini sangat
mendesak. "China dan Rusia masing-masing akan menggelar
Chengdu J-20 dan Sukhoi PAK-FA T-50 dalam waktu dekat. Kami
tahu 28 radar kami efektif mendeteksi pesawat generasi ketiga
dan keempat dari jarak jauh, tetapi dengan munculnya pesawat-
pesawat generasi kelima ini, kami tak yakin bagaimana kinerja
radar-radar itu nantinya," tandas Yoshioka.
Jenderal bintang tiga tersebut mengharapkan ATD-X akan
melakukan terbang perdana pada tahun fiskal 2016.
"Penerbangan perdana pada 2016 adalah keharusan yang mutlak.
Ini vital bagi pertahanan udara negara kami," tandas Yoshioka.
Basis riset
Meski demikian, ATD-X tidak akan serta-merta diproduksi massal
untuk menggantikan peran pesawat tempur Mitsubishi F-2 saat
ini. ATD-X hanya akan digunakan untuk meriset berbagai
teknologi yang lebih maju dan integrasi sistem, sebagai dasar
untuk memproduksi pesawat tempur generasi keenam.
Dalam konsep Jepang, pesawat tempur generasi keenam akan
memiliki kemampuan i3 (informed, intelligent, instantaneous) dan
memiliki karakteristik counterstealth. Pesawat generasi keenam
inilah yang digadang-gadang akan menggantikan armada F-2,
pesawat tempur yang diproduksi berdasar platform F-16 buatan
AS. "ATD-X tidak akan serta-merta menjadi pesawat generasi baru
Jepang. Tetapi dengan memastikan kemampuan siluman dan
manuverabilitasnya, kami berharap ia akan menjadi dasar bagi
generasi penerus F-2," ungkap Kolonel Yoshikazu Takizawa dari
TRDI.
Meski tak akan mengalami hambatan dalam hal teknologi, Jepang
diperkirakan harus menghadapi rintangan politik dari sekutu
utamanya, AS. AS selama ini selalu keberatan Jepang
mengembangkan rancang bangun pesawat tempurnya sendiri.
Salah satu alternatif yang akan ditempuh adalah mengajak AS
mengembangkan bersama pesawat tempur generasi keenam ini.
AS saat ini menjadi satu-satunya negara di dunia yang telah
mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima, yakni F-22
Raptor, dan dalam waktu dekat kemungkinan akan segera
mengoperasikan F-35 Lightning II.
sumber:
internasional.kompas.com
BUMNIS Harus FokusPenuhi PesananKementrianPertahanan
JAKARTA - Menteri BUMN, Dahlan
Iskan, meminta BUMN Industri
Strategis (BUMNIS) agar fokus
memproduksi arsenal dan arsenal
pesanan Kementerian Pertahanan.
"BUMN Industri strategis seperti PT
PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT
Dahana, PT Pindad, termasuk PT
Industri Kapal Indonesia kita arahkan
agar fokus memenuhi permintaan
Kementerian Pertahanan," kata Iskan,
di Kantor Kementerian BUMN,
Jakarta, Kamis (23/2).
Menurut dia, dalam kondisi seperti
sekarang ini BUMNIS seharusnya
lebih mengutamakan kapal perang,
kapal angkutan militer atau produk
lain pesanan Kementerian
Pertahanan daripada memproduksi
kapal komersial.
"Jumlah kapal perang pesanan TNI/
Polri cukup banyak, jadi sebaiknya
produksi kapal niaga dihentikan
sementara agar dapat memenuhi
order tersebut," ujarnya.
Meski begitu mantan Direktur Utama
PT PLN tersebut tidak merinci jenis
kapal apa saja yang dipesan oleh
Kementerian Pertahanan.
Ia hanya menjelaskan, pemerintah
saat ini mengalokasikan dana APBN
yang cukup besar untuk membiayai
pengadaan alustista nasional.
Iskan mengakui kondisi keuangan
BUMNIS tersebut cukup
memprihatinkan karena dampak krisis
dan situasi ekonomi di masa lalu.
"Mereka sesungguhnya banyak
mendapat pesanan kapal dari luar
negeri, namun karena krisis
mengakibatkan perusahaan pemesan
kapal tidak mampu menebus kapal
ketika sudah selesai dikerjakan atau
dibangun," katanya.
Aktifitas pekerja di galangan kapal PT
PAL Indonesia
Menurut dia saat ini merupakan
momentum bagi perusahaan yang
bergerak dalam bidang produksi
terkait alutsista untuk bangkit
kembali.
PT Pal Indonesia yang selama ini
produksinya didominasi pesanan
kapal komersial, kini mau tidak mau
harus memproduksi pesanan
Kementerian Pertahanan yang
memang pendanaan dan ordernya
sudah jelas.
Menurut catatan, PT Pal dan PT
Dirgantara Indonesia memiliki sejarah
buruk dalam kinerja keuangannya
sehingga memaksa Kementerian
BUMN untuk melakukan
restrukturisasi terhadap perusahaan
itu dengan melakukan penyuntikan
dana.
Untuk itu tambah Dahlan, langkah
untuk memprioritaskan pemenuhan
permintaan TNI/Polri tersebut
merupakan yang terbaik.
"Yang penting saat ini perusahaan
hidup dulu dari order-order
Kementerian Pertahanan. Baru dua
tahun kemudian setelah kondisi
keuangan perusahaan stabil bisa
mengincar pesanan kapal komersial,"
katanya.
Sumber : ANTARANEWS.COM
Iskan, meminta BUMN Industri
Strategis (BUMNIS) agar fokus
memproduksi arsenal dan arsenal
pesanan Kementerian Pertahanan.
"BUMN Industri strategis seperti PT
PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT
Dahana, PT Pindad, termasuk PT
Industri Kapal Indonesia kita arahkan
agar fokus memenuhi permintaan
Kementerian Pertahanan," kata Iskan,
di Kantor Kementerian BUMN,
Jakarta, Kamis (23/2).
Menurut dia, dalam kondisi seperti
sekarang ini BUMNIS seharusnya
lebih mengutamakan kapal perang,
kapal angkutan militer atau produk
lain pesanan Kementerian
Pertahanan daripada memproduksi
kapal komersial.
"Jumlah kapal perang pesanan TNI/
Polri cukup banyak, jadi sebaiknya
produksi kapal niaga dihentikan
sementara agar dapat memenuhi
order tersebut," ujarnya.
Meski begitu mantan Direktur Utama
PT PLN tersebut tidak merinci jenis
kapal apa saja yang dipesan oleh
Kementerian Pertahanan.
Ia hanya menjelaskan, pemerintah
saat ini mengalokasikan dana APBN
yang cukup besar untuk membiayai
pengadaan alustista nasional.
Iskan mengakui kondisi keuangan
BUMNIS tersebut cukup
memprihatinkan karena dampak krisis
dan situasi ekonomi di masa lalu.
"Mereka sesungguhnya banyak
mendapat pesanan kapal dari luar
negeri, namun karena krisis
mengakibatkan perusahaan pemesan
kapal tidak mampu menebus kapal
ketika sudah selesai dikerjakan atau
dibangun," katanya.
Aktifitas pekerja di galangan kapal PT
PAL Indonesia
Menurut dia saat ini merupakan
momentum bagi perusahaan yang
bergerak dalam bidang produksi
terkait alutsista untuk bangkit
kembali.
PT Pal Indonesia yang selama ini
produksinya didominasi pesanan
kapal komersial, kini mau tidak mau
harus memproduksi pesanan
Kementerian Pertahanan yang
memang pendanaan dan ordernya
sudah jelas.
Menurut catatan, PT Pal dan PT
Dirgantara Indonesia memiliki sejarah
buruk dalam kinerja keuangannya
sehingga memaksa Kementerian
BUMN untuk melakukan
restrukturisasi terhadap perusahaan
itu dengan melakukan penyuntikan
dana.
Untuk itu tambah Dahlan, langkah
untuk memprioritaskan pemenuhan
permintaan TNI/Polri tersebut
merupakan yang terbaik.
"Yang penting saat ini perusahaan
hidup dulu dari order-order
Kementerian Pertahanan. Baru dua
tahun kemudian setelah kondisi
keuangan perusahaan stabil bisa
mengincar pesanan kapal komersial,"
katanya.
Sumber : ANTARANEWS.COM
Hercules Kembali dari AS Setelah Jalani Overhaul
Jurnas.com PESAWAT tempur Hercules milik
TNI AU kembali ke Indonesia setelah
menjalani perbaikan menyeluruh (overhaul)
di Amerika Serikat. Serah terima pesawat ini
akan dilakukan di base ops Halim
Perdanakusuma.
“Siang ini akan dilakukan upacara
penyambutan,” kata Kepala Dinas
Penerangan TNI AU Marsekal Pertama
Azman Yunus saat dihubungi, Jumat (24/2).
Menurut Azman, Hercules yang mengalami
overhaul atas bantuan Amerika ini
dilakukan sejak setahun lalu.
Selain perbaikan, mulai body, structure
hingga persenjataan, pesawat ini juga di-up
grade kemampuannya. “Serah terima
dilakukan oleh dubes Amerika di Indonesia
dengan Wakil KSAU,” ujar Azman. Pesawat
ini diperbaiki di Oklahoma Amerika Serikat
untuk menjalani pemeliharaan berat dalam
Programmed Depot Maintenance di
hanggar perusahaan swasta ARINC, di
Oklahoma, Amerika Serikat.
Jika pesawat tersebut selesai diperbaiki,
direncanakan dua unit Hercules lainnya
akan juga diperbaiki. Menurut Azman,
teknisi TNI AU sebenarnya punya
kemampuan memperbaiki pesawat tersebut.
Namun, kemampuan tidak didukung
fasilitas dan peralatan pendukung.
"Alat-alat yang dibutuhkan tidak ada. Kalau
beli (alat-alatnya), lebih jauh dan lebih
mahal, lebih baik kita gunakan orang lain,"
katanya.
(Jurnal Nasional)
TNI AU kembali ke Indonesia setelah
menjalani perbaikan menyeluruh (overhaul)
di Amerika Serikat. Serah terima pesawat ini
akan dilakukan di base ops Halim
Perdanakusuma.
“Siang ini akan dilakukan upacara
penyambutan,” kata Kepala Dinas
Penerangan TNI AU Marsekal Pertama
Azman Yunus saat dihubungi, Jumat (24/2).
Menurut Azman, Hercules yang mengalami
overhaul atas bantuan Amerika ini
dilakukan sejak setahun lalu.
Selain perbaikan, mulai body, structure
hingga persenjataan, pesawat ini juga di-up
grade kemampuannya. “Serah terima
dilakukan oleh dubes Amerika di Indonesia
dengan Wakil KSAU,” ujar Azman. Pesawat
ini diperbaiki di Oklahoma Amerika Serikat
untuk menjalani pemeliharaan berat dalam
Programmed Depot Maintenance di
hanggar perusahaan swasta ARINC, di
Oklahoma, Amerika Serikat.
Jika pesawat tersebut selesai diperbaiki,
direncanakan dua unit Hercules lainnya
akan juga diperbaiki. Menurut Azman,
teknisi TNI AU sebenarnya punya
kemampuan memperbaiki pesawat tersebut.
Namun, kemampuan tidak didukung
fasilitas dan peralatan pendukung.
"Alat-alat yang dibutuhkan tidak ada. Kalau
beli (alat-alatnya), lebih jauh dan lebih
mahal, lebih baik kita gunakan orang lain,"
katanya.
(Jurnal Nasional)
Pemerintah Berencana Membeli Korvet yang Ditolak Brunei
KDB Nakhoda Ragam, KDB
Bendhara Sakam dan KDB
Jerambak kapal korvet kelas
Nakhoda Ragam teronggok
selama 10 tahun setelah Brunei
Darussalam sebagai pemesan
batal mengoperasikan. Aljazair
diberitakan akan mengakuisisi
ketiga korvet, tetapi
membatalkan, lebih memilih
frigate kelas FREMM. Indonesia
sedang bernegosiasi untuk
membeli ketiga korvet ini. (Foto:
Flickr)
25 Februari 2012: Besarnya
wilayah laut Indonesia membuat
TNI Angkatan Laut (TNI AL) terus
berbenah diri dengan menambah
armada tempurnya. Salah
satunya adalah dengan membeli
kapal perang dari negara lain.
Tersiar kabar bahwasanya TNI AL
sedang mengincar kapal perang
Nakhoda Ragam Class, sebuah
kapal perang kelas corvete
buatan BAe System Marine,
Inggris, yang tidak jadi dibeli AL
Brunei Darussalam karena suatu
masalah.
Menanggapi kabar tersebut,
kepada itoday, pengamat
pertahanan Muradi mengatakan,
jika memang kapal yang akan
dibeli adalah kapal kelas patroli,
maka tidak akan menjadi
masalah. Tetapi jika yang dibeli
adalah kapal perang yang
berukuran besar, maka itu
menjadi masalah. Sebab
kebutuhannya berbeda dengan
apa yang dibutuhkan Indonesia.
Pembelian alat utama sistem
senjata memang bukan seperti
membeli kacang goreng, setiap
negara memiliki kebutuhan yang
berbeda. Oleh sebab itu,
walaupun kapal yang dibelui
sama kelasnya, tetapi masalah
“jeroan” kapal bisa berbeda.
Karena setiap negara memiliki
spesifikasi dan kebutuhan
menghadapi tantangan yang
berbeda.
“Perairan Brunei itu sangat
sempit. saking sempitnya,
perairan Brunei mungkin bisa
dikelilingi dengan kapal patroli
kecil dalam waktu tiga jam saja.
Bandingkan dengan perairan
Indonesia,” jelas Muradi.
KRI Diponegoro-365 satu dari
empat korvet kelas SIGMA.
Pemerintah pernah
mencanangkan kapal perang baru
TNI AL dirancang merujuk disain
SIGMA. (Foto: Damen)
Melihat adanya perbedaan yang
sangat signifikan itu, Muradi
menganggap, rencana pembelian
kapal perang buatan Inggris yang
tidak jadi dibeli Brunei, adalah
solusi instan untuk jangka pendek
saja, karena untuk mengakali
anggaran pertahanan Indonesia
yang terbilang kecil.
Dari informasi yang diterima
itoday, rencana pembelian kapal
perang Nakhoda Ragam Class ini
sudah mencapai 70 persen, sudah
mencapai tahapan MoU. Namun
TNI AL tetap membuka
kemungkinan untuk membeli
kapal perang lainnya untuk
memperkuat armada tempurnya.
Nakhoda Ragam Class sendiri
adalah kapal perang kelas corvete
buatan Inggris yang dibuat
berdasarkan seri F2000, yang
memiliki kecepatan maksimal 30
knot.
Kapal perang ini dilengkapi sensor
radar dan avionik buatan Thales,
dipersenjatai dengan satu
meriam 76 mm, dua meriam
penangkis serangan udara kaliber
30 mm, torpedo, Thales Sensors
Cutlass 22, rudal permukaan-
udara Seawolf, rudal Exocet
MM40 Block II dan dilengkapi
dengan hanggar yang mampu
menampung satu S-70 Seahawk.
Sumber: itoday
Bendhara Sakam dan KDB
Jerambak kapal korvet kelas
Nakhoda Ragam teronggok
selama 10 tahun setelah Brunei
Darussalam sebagai pemesan
batal mengoperasikan. Aljazair
diberitakan akan mengakuisisi
ketiga korvet, tetapi
membatalkan, lebih memilih
frigate kelas FREMM. Indonesia
sedang bernegosiasi untuk
membeli ketiga korvet ini. (Foto:
Flickr)
25 Februari 2012: Besarnya
wilayah laut Indonesia membuat
TNI Angkatan Laut (TNI AL) terus
berbenah diri dengan menambah
armada tempurnya. Salah
satunya adalah dengan membeli
kapal perang dari negara lain.
Tersiar kabar bahwasanya TNI AL
sedang mengincar kapal perang
Nakhoda Ragam Class, sebuah
kapal perang kelas corvete
buatan BAe System Marine,
Inggris, yang tidak jadi dibeli AL
Brunei Darussalam karena suatu
masalah.
Menanggapi kabar tersebut,
kepada itoday, pengamat
pertahanan Muradi mengatakan,
jika memang kapal yang akan
dibeli adalah kapal kelas patroli,
maka tidak akan menjadi
masalah. Tetapi jika yang dibeli
adalah kapal perang yang
berukuran besar, maka itu
menjadi masalah. Sebab
kebutuhannya berbeda dengan
apa yang dibutuhkan Indonesia.
Pembelian alat utama sistem
senjata memang bukan seperti
membeli kacang goreng, setiap
negara memiliki kebutuhan yang
berbeda. Oleh sebab itu,
walaupun kapal yang dibelui
sama kelasnya, tetapi masalah
“jeroan” kapal bisa berbeda.
Karena setiap negara memiliki
spesifikasi dan kebutuhan
menghadapi tantangan yang
berbeda.
“Perairan Brunei itu sangat
sempit. saking sempitnya,
perairan Brunei mungkin bisa
dikelilingi dengan kapal patroli
kecil dalam waktu tiga jam saja.
Bandingkan dengan perairan
Indonesia,” jelas Muradi.
KRI Diponegoro-365 satu dari
empat korvet kelas SIGMA.
Pemerintah pernah
mencanangkan kapal perang baru
TNI AL dirancang merujuk disain
SIGMA. (Foto: Damen)
Melihat adanya perbedaan yang
sangat signifikan itu, Muradi
menganggap, rencana pembelian
kapal perang buatan Inggris yang
tidak jadi dibeli Brunei, adalah
solusi instan untuk jangka pendek
saja, karena untuk mengakali
anggaran pertahanan Indonesia
yang terbilang kecil.
Dari informasi yang diterima
itoday, rencana pembelian kapal
perang Nakhoda Ragam Class ini
sudah mencapai 70 persen, sudah
mencapai tahapan MoU. Namun
TNI AL tetap membuka
kemungkinan untuk membeli
kapal perang lainnya untuk
memperkuat armada tempurnya.
Nakhoda Ragam Class sendiri
adalah kapal perang kelas corvete
buatan Inggris yang dibuat
berdasarkan seri F2000, yang
memiliki kecepatan maksimal 30
knot.
Kapal perang ini dilengkapi sensor
radar dan avionik buatan Thales,
dipersenjatai dengan satu
meriam 76 mm, dua meriam
penangkis serangan udara kaliber
30 mm, torpedo, Thales Sensors
Cutlass 22, rudal permukaan-
udara Seawolf, rudal Exocet
MM40 Block II dan dilengkapi
dengan hanggar yang mampu
menampung satu S-70 Seahawk.
Sumber: itoday
Versi Terbaru Tank Leopard 2A7+
25 Februari 2012, Jakarta: Perusahaan Krauss-Maffei
Wegmann (KMW) asal Muenchen, Jerman,
mengembangkan dan memproduksi tank Leopard seri
terbaru yang diluncurkan pertama kali pada Juni 2010,
Leopard 2A7+. Tank ini setingkat lebih maju dan
canggih daripada Leopard 2A6 yang akan dibeli
pemerintah Indonesia dari Belanda.
Leopard 2A7+ adalah tank tempur utama berteknologi
canggih yang telah teruji dan digunakan Angkatan
Darat Jerman. Pada Juli 2011 pemerintah Jerman
melalui Dewan Keamanan Federal telah menyetujui
penjualan 200 unit Leopard 2A7+ ke pemerintah
Kerajaan Arab Saudi.
Manajer proyek Krauss-Maffei Wegmann, Kai Stollfuss,
mengatakan ada dua perbedaan utama antara tank
Leopard 2A7+ dibandingkan Leopard A6: sistem
periskop dan sistem komputernya yang jauh lebih
canggih. Leopard 2A7+ dapat digunakan di segala
medan pertempuran, mulai dari pegunungan,
perbukitan, perkotaan, hingga menyeberangi sungai.
"Sama seperti Leopard 2A6, Leopard 2A7+ cocok
digunakan di Indonesia. Tank ini terbukti andal
digunakan di Afganistan yang kondisi geografisnya
bergunung-gunung," ujar dia di sela pameran
kedirgantaraan dan teknologi pertahanan Singapore
Airshow, Jumat pekan lalu, 17 Februari 2012.
Leopard 2A6 dilengkapi dengan meriam L55, sebuah
mesin yang mampu mendeteksi ranjau dan sistem
pendingin udara. Sejak Maret 2001 Angkatan Darat
Jerman memperbarui tank Leopard 2A5 mereka
menjadi Leopard 2A6. Adapun tentara Kerajaan
Belanda memperbarui 180 unit tank Leopard 2A5
menjadi Leopard 2 A6, yang mulai beroperasi sejak
Februari 2003.
Leopard 2A7+ memiliki fasilitas yang lebih lengkap
daripada pendahulunya. Selain meriam Rheinmetall
L55 kaliber 120 mm dan mesin pendeteksi ranjau, tank
tempur yang dikembangkan untuk misi baru Angkatan
Darat Jerman ini dilengkapi dengan sistem yang
berfokus pada perlindungan 4 awaknya dari serangan
roket, ledakan ranjau, hingga lontaran granat.
Tank jenis ini juga dilengkapi peralatan untuk
membersihkan jalur dari ranjau, jebakan bom, atau
puing-puing yang dapat menghalangi pergerakan.
Sarana komunikasi eksternal yang lebih canggih juga
dipasang pada tank tempur ini. Tak hanya itu, Leopard
2A7+ juga dilengkapi dengan sensor panas di bagian
depan dan belakang serta peningkatan kemampuan
periskop untuk pengintaian jarak jauh.
Dengan berat 67,5 ton, panjang badan dan meriam
10,97 meter, lebar 4 meter, tinggi 2,64 meter, Leopard
2A7+ memiliki mesin berkekuatan 1.500 tenaga kuda
yang mampu dipacu hingga kecepatan 72 kilometer
per jam. Daerah jelajahnya mencapai 450 kilometer.
Tembakan meriamnya mampu menjangkau jarak
hingga 6 kilometer.
Stollfuss mengatakan Krauss-Maffei Wegmann adalah
satu-satunya perusahaan di Jerman yang
memproduksi tank seri Leopard. Perusahaan ini
awalnya mengembangkan Leopard 2 sebagai tank
tempur utama pada 1979, menggantikan Leopard 1
yang diproduksi 16 tahun sebelumnya. Leopard
dikembangkan menjadi beberapa seri hingga yang
terbaru adalah Leopard 2A7+.
Ada lebih dari 6.000 unit tank Leopard 1 yang diekspor
ke Belgia, Denmark, Kanada, Yunani, Italia, Belanda,
Norwegia, Australia, dan Turki. Sedangkan Leopard 2
digunakan militer Austria, Kanada, Denmark, Cile,
Finlandia, Yunani, Jerman, Belanda, Norwegia,
Portugal, Polandia, Singapura, Swiss, Turki, Swedia,
dan Spanyol. Jumlah Leopard 2 seluruhnya mencapai
lebih dari 3.200 unit.
Stollfuss tidak bersedia memberikan informasi harga
tank Leopard yang diproduksi Krauss-Maffei
Wegmann. Dia mengatakan hanya sebagai pihak yang
menyediakan tank sesuai dengan spesifikasi yang
diinginkan negara pembeli. Soal harga tank diserahkan
sepenuhnya kepada pemerintah Jerman. "Karena
pembelian tank ini harus G to G, dari pemerintah ke
pemerintah," kata dia.
Ditanya tentang rencana pemerintah Indonesia
membeli tank Leopard dari Belanda, Stollfuss
mengetahui dan mengikuti pemberitaannya. Dia pula
yang memberi tahu Tempo bahwa tank yang dipesan
pemerintah Indonesia adalah dari seri Leopard 2A6.
Namun dia enggan berkomentar tentang rencana
pembelian Leopard 2A6 oleh pemerintah Indonesia.
Belanda berencana menjual 100 unit tank Leopard 2A6
bekas. Pemerintah Indonesia harus merogoh kocek
sebanyak US$ 280 juta untuk mendapatkan seluruh
tank yang ditawarkan Belanda. Itu pun jika parlemen
kedua negara, yang selama ini getol menolak rencana
pembelian tersebut, berubah sikap dan
menyetujuinya.
Stollfuss mengatakan, kalaupun jadi membeli Leopard
2 A6 buatan Belanda, pemerintah Indonesia
disarankan memperbarui dan meningkatkan
kemampuannya menjadi tank seri terbaru, yakni
Leopard 2 A7+. Menurut dia, tank dengan kemampuan
lebih canggih pasti akan lebih menguntungkan
pemerintah Indonesia. "Tapi tentu harus ada biaya
tambahan yang dikeluarkan untuk modifikasi
tersebut," kata dia menandaskan.
Sumber: TEMPO
Wegmann (KMW) asal Muenchen, Jerman,
mengembangkan dan memproduksi tank Leopard seri
terbaru yang diluncurkan pertama kali pada Juni 2010,
Leopard 2A7+. Tank ini setingkat lebih maju dan
canggih daripada Leopard 2A6 yang akan dibeli
pemerintah Indonesia dari Belanda.
Leopard 2A7+ adalah tank tempur utama berteknologi
canggih yang telah teruji dan digunakan Angkatan
Darat Jerman. Pada Juli 2011 pemerintah Jerman
melalui Dewan Keamanan Federal telah menyetujui
penjualan 200 unit Leopard 2A7+ ke pemerintah
Kerajaan Arab Saudi.
Manajer proyek Krauss-Maffei Wegmann, Kai Stollfuss,
mengatakan ada dua perbedaan utama antara tank
Leopard 2A7+ dibandingkan Leopard A6: sistem
periskop dan sistem komputernya yang jauh lebih
canggih. Leopard 2A7+ dapat digunakan di segala
medan pertempuran, mulai dari pegunungan,
perbukitan, perkotaan, hingga menyeberangi sungai.
"Sama seperti Leopard 2A6, Leopard 2A7+ cocok
digunakan di Indonesia. Tank ini terbukti andal
digunakan di Afganistan yang kondisi geografisnya
bergunung-gunung," ujar dia di sela pameran
kedirgantaraan dan teknologi pertahanan Singapore
Airshow, Jumat pekan lalu, 17 Februari 2012.
Leopard 2A6 dilengkapi dengan meriam L55, sebuah
mesin yang mampu mendeteksi ranjau dan sistem
pendingin udara. Sejak Maret 2001 Angkatan Darat
Jerman memperbarui tank Leopard 2A5 mereka
menjadi Leopard 2A6. Adapun tentara Kerajaan
Belanda memperbarui 180 unit tank Leopard 2A5
menjadi Leopard 2 A6, yang mulai beroperasi sejak
Februari 2003.
Leopard 2A7+ memiliki fasilitas yang lebih lengkap
daripada pendahulunya. Selain meriam Rheinmetall
L55 kaliber 120 mm dan mesin pendeteksi ranjau, tank
tempur yang dikembangkan untuk misi baru Angkatan
Darat Jerman ini dilengkapi dengan sistem yang
berfokus pada perlindungan 4 awaknya dari serangan
roket, ledakan ranjau, hingga lontaran granat.
Tank jenis ini juga dilengkapi peralatan untuk
membersihkan jalur dari ranjau, jebakan bom, atau
puing-puing yang dapat menghalangi pergerakan.
Sarana komunikasi eksternal yang lebih canggih juga
dipasang pada tank tempur ini. Tak hanya itu, Leopard
2A7+ juga dilengkapi dengan sensor panas di bagian
depan dan belakang serta peningkatan kemampuan
periskop untuk pengintaian jarak jauh.
Dengan berat 67,5 ton, panjang badan dan meriam
10,97 meter, lebar 4 meter, tinggi 2,64 meter, Leopard
2A7+ memiliki mesin berkekuatan 1.500 tenaga kuda
yang mampu dipacu hingga kecepatan 72 kilometer
per jam. Daerah jelajahnya mencapai 450 kilometer.
Tembakan meriamnya mampu menjangkau jarak
hingga 6 kilometer.
Stollfuss mengatakan Krauss-Maffei Wegmann adalah
satu-satunya perusahaan di Jerman yang
memproduksi tank seri Leopard. Perusahaan ini
awalnya mengembangkan Leopard 2 sebagai tank
tempur utama pada 1979, menggantikan Leopard 1
yang diproduksi 16 tahun sebelumnya. Leopard
dikembangkan menjadi beberapa seri hingga yang
terbaru adalah Leopard 2A7+.
Ada lebih dari 6.000 unit tank Leopard 1 yang diekspor
ke Belgia, Denmark, Kanada, Yunani, Italia, Belanda,
Norwegia, Australia, dan Turki. Sedangkan Leopard 2
digunakan militer Austria, Kanada, Denmark, Cile,
Finlandia, Yunani, Jerman, Belanda, Norwegia,
Portugal, Polandia, Singapura, Swiss, Turki, Swedia,
dan Spanyol. Jumlah Leopard 2 seluruhnya mencapai
lebih dari 3.200 unit.
Stollfuss tidak bersedia memberikan informasi harga
tank Leopard yang diproduksi Krauss-Maffei
Wegmann. Dia mengatakan hanya sebagai pihak yang
menyediakan tank sesuai dengan spesifikasi yang
diinginkan negara pembeli. Soal harga tank diserahkan
sepenuhnya kepada pemerintah Jerman. "Karena
pembelian tank ini harus G to G, dari pemerintah ke
pemerintah," kata dia.
Ditanya tentang rencana pemerintah Indonesia
membeli tank Leopard dari Belanda, Stollfuss
mengetahui dan mengikuti pemberitaannya. Dia pula
yang memberi tahu Tempo bahwa tank yang dipesan
pemerintah Indonesia adalah dari seri Leopard 2A6.
Namun dia enggan berkomentar tentang rencana
pembelian Leopard 2A6 oleh pemerintah Indonesia.
Belanda berencana menjual 100 unit tank Leopard 2A6
bekas. Pemerintah Indonesia harus merogoh kocek
sebanyak US$ 280 juta untuk mendapatkan seluruh
tank yang ditawarkan Belanda. Itu pun jika parlemen
kedua negara, yang selama ini getol menolak rencana
pembelian tersebut, berubah sikap dan
menyetujuinya.
Stollfuss mengatakan, kalaupun jadi membeli Leopard
2 A6 buatan Belanda, pemerintah Indonesia
disarankan memperbarui dan meningkatkan
kemampuannya menjadi tank seri terbaru, yakni
Leopard 2 A7+. Menurut dia, tank dengan kemampuan
lebih canggih pasti akan lebih menguntungkan
pemerintah Indonesia. "Tapi tentu harus ada biaya
tambahan yang dikeluarkan untuk modifikasi
tersebut," kata dia menandaskan.
Sumber: TEMPO
Subscribe to:
Posts (Atom)
BERITA POLULER
-
Rusia Jamin Indonesia Bebas Embargo Militer TEMPO.CO , Jakarta - Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Alexander A. Ivanov, menyatakan pem...
-
Rencana kedatangan alutsista TNI 2010-2014 dengan anggaran pembelian US$ 15 Milyar : Renstra TNI 2010-2014 memberikan nuansa pelangi terhad...
-
T-90S Rusia (Main Battle Tank Russia) Kavaleri Peroleh 178 Unit Kendaraan Tempur Kaveleri TNI Angkatan Darat (AD) akan mendapatkan tambah...