Pages

Thursday, February 23, 2012

$200m Refit to Give Fighter Jets Growl


EA-18G Growler
An EA-18G Growler of VX-31 overflies Ridgecrest, California as it returns to NAWS China Lake at the conclusion of a test mission
THE Federal Government will spend more than $200 million to transform six air force fighter jets into hi-tech electronic warfare planes.

The RAAF purchased 24 Boeing Super Hornet fighters under a $6 billion deal with the US Navy to fill the gap between the retirement of the F-111 fighter bomber and the expected delivery of the first batch of 14 Joint Strike Fighter stealth jets later this decade.

Defence Minister Stephen Smith will announce the decision to upgrade the jet fighters early next month to EA-18G models known as "Growlers" to plug an emerging air combat capability gap.
EA-18G Growler
Cobrachen Ea-18g.jpg



The G-model entered service with the US Navy in 2008 and it allows attacking forces to detect and jam enemy radars to protect friendly aircraft from all known surface-to-air missile threats.

The Growler is the launch platform for the "Next Generation Jammer" that uses advanced radar technology from Northrop Grumman to conduct precision jamming.

Australia purchased 12 Super Hornet fighters wired for the Growler upgrade during the production process at a cost of $35 million. Retro fitting has never been attempted before and will cost between $200 million and $300 million.

News Limited understands that the first aircraft will be converted at the Boeing factory in St Louis and the remainder at Amberley RAAF base near Brisbane.

Meanwhile, Mr Smith is facing criticism from air force brass for his move to buy 12 more Super Hornets to cover the likely delay into service of up to 70 Australian JSFs.

A decision is due by September this year, but the RAAF is arguing against more Super Hornets because they fear that will leave less funds for Joint Strike Fighters.

"The RAAF doesn't want to run two types of fighter jets," a source said. Mr Smith told theAustralian Defence Magazine congress in Canberra yesterday that Defence would be expected to deliver a further contribution from its $27 billion budget to the government's quest for a surplus this year.

"The current 2012-13 Budget process will also examine whether Defence is able to make a further contribution to the Government's Budget bottom line," he said.

Defence budget analyst Mark Thomson said Mr Smith had taken a "shot across the bow" of Defence before the May budget. "They will be going through this budget with a finetooth comb," he said.

Turki Anugerahi Bintang Kehormatan kepada Panglima TNI


Jumat, 17 Februari 2012
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mendapat anugerah Bintang Kehormatan Order of Merit Liyakat Nisani dari Turki. Bintang Kehormatan itu diberikan sebagai bentuk  penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasanya dalam meningkatkan hubungan Militer dan Pertahanan RI-Turki.

Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Turki, Jenderal Necdet Ozel menyematkan Order of Merit Liyakat Nisani kepada Laksamana Agus di Ankara, Turki (12/2/2012).

“Pemberian Bintang Kehormatan ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi bangsa dan negara Indonesia, khususnya Tentara Nasional Indonesia,” tutur Agus.

Pada kesempatan ke Turki (11-13/2/2012), Agus melakukan serangkaian pertemuan dengan petinggi militer di Turki guna membahas peningkatan hubungan di bidang militer dan pertahanan. Diantaranya, Kasum AB Turki dan Menteri Pertahanan Nasional Turki Ismet Yilmaz.

Dari rangkaian pertemuan tersebut, Agus menuturkan RI-Turki sepakat untuk terus meningkatkan hubungan militer dan pertahanan.

Kerjasama itu akan digarap mulai dari penyusunan rencana pertukaran personil militer di bidang pendidikan maupun bidang khusus lainnya seperti counter-terrorism hingga peningkatan kerjasama bidang industri pertahanan. 
 
Ia juga melakukan peninjauan ke Akademi Militer, Pusat Pasukan Khusus Angkatan Bersenjata Turki dan beberapa industri pertahanan seperti pabrik alat komunikasi dan roket.
Selama kunjungan di Turki, ia didampingi Duta Besar RI Ankara Nahari Agustini dan Atase Pertahanan RI Ankara Kolonel Cpm Chandra W Sukotjo. 
 
SUMBER :KEMLU

RI DAPAT TOT RUDAL C705 DARI CINA


Rudal C-705. (Foto: Zhenguan Studio)

24 Februari 2012: Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali (guided missiles/rudal) C-705.

Dengan kesepakatan itu, Indonesia mendapat kewenangan untuk memproduksi rudal yang mempunyai jangkauan lintas cakrawala (over the horizon). Sekilas, ini merupakan kabar biasa.Tapi, bagi kepentingan pertahanan bangsa ini, langkah ini merupakan milestone bagi pembangunan kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) sekaligus menguatkan derajat kapabilitas pertahanan Indonesia. Bangsa ini pun patut berbangga karena tidak banyak negara yang mampu menguasai teknologi rudal atau berkesempatan mendapat alih teknologi senjata strategis tersebut. Pentingnya penguasaan teknologi rudal disadari betul bangsa ini.

Ini terlihat dari rangkaian program roket nasional hingga pembangunan material pendukung. Sudah jauh hari Indonesia memulai tahap awal pembangunan rudal dengan memproduksi roket udara ke darat, folding fin aerial rockets (FFAR), yang diaplikasikan pada helikopter dan pesawat milik TNI. Sejumlah BUMN,yakni PT Dahana,PT Dirgantara Indonesia,PT Pindad,dan PT Krakatau Steel, juga membangun roket R-Han yang mempunyai jangkauan 15-20 kilometer. Untuk material pendukung, awal tahun ini pemerintah meresmikan dua industri strategis,yakni PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) di Bontang,Kalimantan Timur dan pabrik bahan berenergi tinggi di areal PT Dahana di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Dengan pengoperasian kedua pabrik tersebut,kebutuhan bahan baku peledak dan propelan sudah bisa dipenuhi dari dalam negeri. Dengan demikian,kerja sama dengan China merupakan lanjutan dari tahapan penguasaan teknologi rudal.Melalui kerja sama ini Indonesia mendapatkan limpahan teknologi (technology spillover) yang selama ini dikunci rapat-rapat oleh segelintir negara seperti teknologi telemetri, propulsi, tracking-and guidance, dan sebagainya.

Jika menguasai rahasia teknologi rudal ini,bisa jadi suatu saat Indonesia memproduksi rudal C-705,tapi juga memanfaatkannya untuk mendongkrak kapasitas roket pertahanan (R-Han) atau bahkan menyulap roket pengorbit satelit (RPS) yang tengah dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjadi rudal balistik. Dalam pertahanan, kemampuan penguasaan rudal sangat strategis untuk meningkatkan kekuatan militer suatu negara. Rudal merupakan bagian dari kesenjataan artileri dengan daya jangkau yang mampu mencapai garis belakang pertahanan dan menembus jantung pertahanan lawan.

Ditilik dari kemampuan yang dimiliki––yakni daya jangkau (range), daya ketelitian (precision), dan daya hancur (destruction capability), rudal adalah instrumen paling efektif untuk memenangkan sebuah perang. Bagi TNI, rudal C-705 akan menjadi bagian dari sistem kesenjataan strategis. Rudal yang pertama diperlihatkan ke publik pada ajang Zhuhai Airshow Ke-7 pada 2008 direncanakan akan menempati posisi utama sistem senjata kapal cepat rudal (KCR) yang dimiliki TNI Angkatan Laut.

C-705 akan bahu-membahu dengan rudal Yakhont buatan Rusia yang dipasang di KRI kelas Van Speijk menjadi tulang punggung matra laut Indonesia, terutama di wilayah laut dangkal. Si vis pacem,para bellum.Jika mendambakan perdamaian,bersiap-siaplah untuk perang.Dalam konteks pemahaman inilah,penguatan, modernisasi, dan pembangunan kemandirian alutsista dilakukan oleh pemerintah.Penguasaan teknologi rudal menjadi instrumen penting membangun sistem pertahanan nasional yang mandiri dan berdaya getar tinggi–-high level of deterrence.

Sumber: SINDO

Wajar Persenjataan Diperkuat!

SEMARANG - Menteri Pertahanan
Purnomo Yusgiantoro menilai wajar
kondisi perekonomian negara yang
membaik akan memperkuat dan
meningkatkan sistem pertahanannya
sebagaimana dilakukan Indonesia.
"Selama 2010-2014, kita memang
mendapatkan anggaran pertahanan
dalam jumlah cukup besar yakni
Rp150 triliun, dan Rp50 triliun untuk
pembelian alutsista dalam negeri
dalam kurun lima tahun," katanya di
Semarang, Rabu (22/2).
Ia menjelaskan, pembelian alutsista
yang diprogramkan dalam kurun
waktu lima tahun itu memang untuk
pembelian pada industri pertahanan
dalam negeri seperti PT Pindad, PT
PAL, dan PT Dirgantara Indonesia.
Setelah itu, kata dia, Rp32,5 triliun
untuk pemeliharaan dan perawatan
seperti pembenahan tank-tank dan
kapal tempur, sedangkan sisanya
untuk pembelian alutsista baru untuk
memperkuat persenjataan TNI.
Menurut dia, pembelian alutsista
baru untuk memperkuat sistem
pertahanan negara itu memang
berimplikasi dari membaiknya
perekonomian Indonesia yang baik,
bahkan cadangan devisa cukup besar
sekitar 140 miliar dolar AS.
Untuk pembelian alutsista baru, ia
mengatakan, salah satunya memang
berencana menganggarkan sekitar
tiga triliun rupiah untuk pembelian
tank berat atau "main battle tank"
sebanyak 100 unit dari luar negeri.
"Kami tidak menyebut jenis Leopard,
namun yang jelas ada anggaran tiga
triliun rupiah untuk pembelian `main
battle tank` sebanyak 100 unit.
Sebab, yang kita miliki sekarang ini
tank-tank kecil," katanya.
Namun, kata dia, pembelian alutsista
buatan Jerman itu harus melalui
sejumlah tahapan, termasuk
persetujuan pemerintah dan
parlemen kedua negara, terutama
Belanda sebagai negara yang selama
ini memakai tank itu.
"Masih dijajaki, terutama negara yang
menggunakannya, seperti Belanda
dan pabriknya di Jerman. Pembelian
alutsista itu harus melalui
persetujuan kedua negara, baik
pemerintah dan DPR masing-masing,"
katanya.
Ia menjelaskan, saat ini rencana
pembelian tank itu sudah masuk
pembahasan parlemen Belanda, dan
perlu diyakinkan bahwa persenjataan
yang dibeli nantinya tidak untuk
ekspansi, namun untuk pertahanan
diri.
Ditanya jenis tank Leopard yang
dinilai tidak sesuai topografis
Indonesia, ia meyakinkan Indonesia
membutuhkan tank berat untuk
menunjang pertahanan, sebab yang
dimiliki selama ini masih jenis tank
ringan.
"Malaysia saja memiliki tank berat
yang ditempatkan di sepanjang
perbatasan Kalimantan. Meski
berukuran besar, tank berat ini bisa
melalui lokasi yang belum ada
infrastrukturnya, termasuk sungai,"
katanya.
Tank berat tersebut, kata Purnomo,
beratnya mencapai 40 ton, lebih
besar dibandingkan dengan jenis tank
ringan yang beratnya antara 15-20
ton, namun jenis tank itu bisa melalui
sungai yang berkedalaman 4-5 meter.
Sumber : ANTARANEWS.COM

Tiga Pesawat Sukhoi Uji Coba Bom Buatan TNI AU dan Pindad


(Foto: Sari Bahari)

22 Februari 2012, Jakarta: Tiga Pesawat tempur Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanudin Makassar, Sulawesi Selatan, melaksanakan uji dinamis Bom Tajam buatan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau) bekerja sama dengan PT Pindad. Uji coba dilakukan di Lanud Iswahjudi dengan sasaran Air Weapon Range (AWR) Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (22/2/2012).

Dalam siaran persnya, TNI AU menyatakan, ketiga pesawat Sukhoi tersebut menguji Bom Tajam Nasional (BTN)-250 dan Bom Latih Asap Practice (BLA P)-50, dengan tujuan untuk mengetahui daya ledak serta ketepatan sasaran. Kepala Penerangan dan Perpustakan (Kapentak) Kapentak Lanud Iswahjudi, Mayor Sutrisno, menuturkan jika uji coba Bom Tajam Nasional (BTN)-250 tersebut sukses sesuai dengan yang diharapkan, serta mendapat sertifikat kelaikan dari Dislitbangau, kemandirian di bidang alat utama sistem senjata atau alutsista akan terwujud.

"Sehingga pesawat TNI-AU, khususnya Sukhoi memiliki bom sendiri tanpa tergantung dari luar negeri," katanya.

Uji coba disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Kadislitbangau), Marsekal Pertama TNI Basuki Purwanto, mulai dari pemasangan bom di body maupun wing pesawat Sukhoi hingga pelaksanaan pengeboman di AWR Pandanwangi, Lumajang.

Sumber: KOMPAS

Monday, February 20, 2012

Rudal C-705 Untuk KCR & Rudal Yakhont Untuk Fregat Van Speijk


JAKARTA - "Kapal Cepat Rudal (KCR) TNI AL positif dipersenjatai rudal C-705 hasil produksi bersama Pemerintah Indonesia dan China". Demikian diungkapkan Asisten Perencanaan KSAL Laksamana Muda TNI Soemartono kepada ANTARA di Jakarta, Senin (20/2).

"TNI AL sudah melakukan uji coba terhadap rudal C-705 sebanyak dua kali, dan hasilnya sangat bagus untuk jadi senjata utama di KCR TNI AL," ungkapnya.

Soemartono mengemukakan sebelumnya TNI AL juga pernah menggunakan rudal buatan China C-802 untuk mempersenjatai beberapa kapal kelas van speijk dan kapal patroli cepat. "Namun, jarak jangkaunya masih kurang dibandingkan C-705 yang bisa mencapai 100 meter lebih, dengan tingkat akurasi yang baik," ujarnya menambahkan.

Kedepannya KCR TNI AL akan menggunakan C-705, sedangkan Fregat Van Speijk menggunakan rudal Yakhont kata Soemartono menegaskan.

TNI AL saat ini baru memiliki dua unit KCR yakni KRI Clurit dan KRI Kujang. "Total TNI AL memesan 40 unit KCR untuk ditempatkan di beberapa wilayah laut Indonesia yang rawan kejahatan laut," ungkapnya.

Proses kerjasama produksi rudal ini dilakukan Kementrian Pertahanan RI dan Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMEIC) yang menjadi pemegang proyek pengerjaan rudal C-705. Menhan selama di China juga dijadwalkan meninjau perusahaan roket dan peluru kendali China ALIT (Aerospace Long March International Trade and Co.Ltd).

Sumber : ANTARANEWS.COM

Menhan Lakukan Kunjungan Kerja ke China


20 Februari 2012, Beijing, China: Memenuhi undangan Menteri Pertahanan (Menhan) RRT, Jenderal Liang Guanglie, Menhan RI Purnomo Yusgiantoro memulai kunjungan resminya ke Beijing, 19 - 21 Februari 2012.

Delegasi yang dipimpin oleh Menhan RI tersebut terdiri dari , antara lain, Wakasal Laksdya TNI Marsetio, Dirjen Strahan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, dan Karo TU Kemhan Laksma TNI Yuhastiar. Duta Besar RI untuk RRT Imron Cotan turut mendampingi delegasi yang dipimpin oleh Menhan RI Purnomo Yusgiantoro tersebut.

Segera setelah mendarat di Beijing dari tanah air, hari pertama Menhan RI diisi dengan kunjungan, diskusi, serta peninjauan ke dua kompleks industri pertahanan (Inhan) RRT yang terkait dengan produksi peluru kendali darat ke darat, darat ke udara, serta udara ke darat. Di akhir pertemuan, kedua pihak menyepakati untuk melakukan kerjasama Inhan, termasuk 'transfer of technology', yang menguntungkan kedua belah-pihak (win-win solution).

Selanjutnya kunjungan resmi Delegasi Kemhan yang dipimpin oleh Menhan RI tersebut direncanakan akan melakukan pertemuan dan perundingan dengan mitranya, Menhan RRT Jenderal Liang Guanglie, tukar-menukar pikiran dengan salah-satu lembaga riset/produksi Inhan terkemuka lainnya, serta melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Kepala Komite Sentral Militer RRT, Jenderal Guo Boxiong, orang pertama di Angkatan Perang (PLA) RRT (20 Februari 2012).

Kunjungan resmi Menhan RI akan ditutup dengan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri Li Keqiang (21 Februari 2012) yang diperkirakan banyak pihak akan menduduki jabatan Perdana Menteri RRT di masa mendatang.

Kerjasama Militer RI-RRT Mencapai Tingkat Tertinggi Dalam Sejarah Hubungan Kedua Negara

Hubungan Tiongkok dan Indonesia dapat ditelusuri sejak berabad-abad yang silam dan kini, hubungan kedua negara sedang berada pada puncaknya. Pada tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao telah menandatangani Deklarasi Bersama Kemitraan Strategis. Pada tahun 2010 telah ditandatangani Plan of Action 2010-2015 yang mencakup pengembangan kerjasama di bidang politik dan keamanan, ekonomi dan pembangunan serta sosial budaya sebagai upaya implementasi Kemitraan Strategis dimaksud.

Ketika PM Wen Jiabao berkunjung ke Indonesia April 2011, bersama-sama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah dikeluarkan Joint Communiqué untuk memperdalam dan memperluas kerjasama khususnya di bidang ekonomi dan investasi. Kedua Negara juga menikmati meningkatnya volume perdagangan di mana pada tahun lalu (2011), berdasarkan perhitungan RRT, sudah mencapai US$ 60 milyar, mendekati target yang ditetapkan oleh kedua pemimpin bangsa yaitu US$ 80 milyar pada tahun 2014. Investasi mencapai US$ 1 milyar dan turis RRT yang berkunjung ke Indonesia sekitar 600.000, meningkat 50% dibandingkan tahun lalu.

Demikian antara lain disampaikan oleh Dubes RI untuk RRT merangkap Mongolia pada kesempatan kunjungan kehormatan kepada Menteri Pertahanan (Menhan) RRT Jenderal Liang Guanglie pada tanggal 16 Januari 2012.

Lebih lanjut Dubes RI mengatakan bahwa di bidang militer, hubungan dan kerjasama pun berjalan lancar. Saling kunjung antar pejabat tinggi milite_ kedua negara terlihat meningkat sejak tahun 2007. Memenuhi undangan Menhan RI Purnomo, Menhan RRT telah berkunjung ke Indonesia pada tahun 2011, sekaligus menghadiri ASEAN Defense Ministerial Meeting (ADMM). Dalam waktu dekat ini, direncanakan delegasi tingkat tinggi Kementerian Pertahanan Indonesia akan berkunjung ke RRT.

Sementara itu, tercatat berbagai bentuk kerjasama dan kegiatan seperti pelatihan personil, pelatihan pilot pesawat tempur, penyediaan alutsista RRT, pembentukan berbagai mekanisme dialog dan konsultasi serta penandatanganan MoU Kerja Sama Industri Strategis dan Pertahanan mencerminkan tingginya bobot hubungan militer kedua negara. Demikian juga latihan bersama antar pasukan khusus kedua negara di bidang anti terorisme yang oleh Menhan RRT dinilai sebagai terobosan baru hubungan militer kedua negara. Oleh karenanya, Menhan RRT mengatakan bahwa kerjasama RI-RRT telah mencapai titik tertinggi dalam sejarah hubungan kedua negara. Terlepas dari berbagai capaian tersebut, kedua pihak sepakat untuk mengkaji lebih lanjut mengenai kemungkinan pengembangan kerjasama di sektor lainnya dalam upaya mendorong kerjasama militer kedua negara ketingkat yang lebih tinggi lagi.

Menhan RRT juga mengatakan bahwa militer Tiongkok juga sangat memandang penting hubungan bersahabat dengan militer Indonesia. Menghadapi perkembangan dinamis khususnya kawasan Asia-Pasifik, RRT dan RI sebagai dua negara besar di Asia perlu untuk mempererat kerjasama demi terjaganya stabilitas dan keamanan kawasan bersama-sama dengan kekuatan-kekuatan di kawasan dan luar kawasan.

Sumber: KBRI Beijing

Kapal Cepat TNI AL akan Dipersenjatai Peluru Kendali

Peluru kendali C-705. (Foto: wuxinghongqi)

21 Februari 2012, Jakarta: Kapal Cepat Rudal (KCR) TNI Angkatan Laut akan dipersenjatai dengan peluru kendali C-705 yang akan diproduksi bersama Pemerintah Indonesia dan Cina.

Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Muda TNI Soemartono mengatakan, saat ini kedua pemerintah tengah menjajaki produksi bersama peluru kendali tersebut.

"Kami sudah melakukan uji coba terhadap rudal C-705 sebanyak dua kali, dan hasilnya sangat bagus untuk melengkapi persenjataan KCR-KCR TNI Angkatan Laut," ungkapnya, Senin (20/2).

Soemartono mengemukakan sebelumnya TNI Angkatan Laut pernah menggunakan rudal buatan Cina C-802 untuk mempersenjatai beberapa kapal kelas Van Speijk dan kapal patroli cepat.

"Namun, jarak jangkaunya masih kurang dibandingkan C-705 yang bisa mencapai 100 meter lebih, dengan tingkat akurasi yang baik," ujarnya menambahkan.

Karena itu, kedepan untuk kapal-kapal cepat berpeluru kendali TNI Angkatan Laut akan menggunakan C-705, kata Soemartono menegaskan.

TNI Angkatan Laut kini tengah memiliki dua unit KCR yakni KRI Clurit dan KRI Kujang. "Kami telah memesan 40 unit KCR untuk ditempatkan di beberapa wilayah laut Indonesia yang rawan kejahatan laut," ungkapnya.

Indonesia-China Mantapkan Alih Teknologi Peluru Kendali

Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta Senin mengatakan, proses alih teknologi menjadi syarat utama dalam setiap pembelian alat utama sistem senjata dari mancanegara, termasuk peluru kendali dari China.

"Selain itu, kita juga telah menjajaki kerja sama produksi bersama rudal tersebut sebagai produk nasional," kata Brigjen Hartind Asrin menambahkan.

Rangkaian proses alih teknologi itu antara lain ditandai dengan kunjungan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro ke China Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMEIC) yang menjadi pemegang proyek pengerjaan rudal C-705 yang akan dibeli TNI Angkatan Laut disertai proses alih teknologi.

Sebelumnya, kedua pemerintah telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan kedua negara. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan industri nasional pertahanan China, Chen Qiufa.

Nota kesepahaman itu mencakup lima poin yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka "G to G".

Kedua, alih teknologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, upgrade dan pelatihan.

Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama dalam dan di luar negara masing-masing.

Selama di China, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan China, Menhan Purnomo Yusgiantoro juga berencana melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang.

Tak hanya itu, Menhan juga berencana meninjau perusahaan roket dan peluru kendali China ALIT (Aerospace Long March International Trade and Co.Ltd) .

Saat ini, Kementerian Pertahanan sedang menyusun rencana terkait dengan proses alih teknologi peluru kendali C-705.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam kunjungan kerjanya ke Cina awal pekan ini juga mengunjungi Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMEIC) yang menjadi pemegang proyek pengerjaan rudal C-705 yang akan dibeli TNI Angkatan Laut disertai proses alih teknologi.

Selama di Cina, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan Cina dan Wakil Perdana Menteri Cina Li Keqiang.

Tak hanya itu, Purnomo juga meninjau perusahaan roket dan peluru kendali Cina ALIT (Aerospace Long March International Trade and Co.Ltd).

Sumber: Republika/Antara News

BERITA POLULER