Pages

Friday, February 17, 2012

AS Potong Anggaran, ChinaPerkuat Militer

HONG KONG - Seiring dengan adanya
pemotongan anggaran pertahanan oleh
Pentagon, Amerika Serikat (AS) tampaknya
hanya dapat mengerahkan kapal
perangnya dalam jumlah yang tidak
banyak, ke Asia. Sementara itu, China siap
memperbaharui kekuatan angkatan
lautnya dan meluncurkan kapal baru.
Perusahaan pembuat kapal di Shanghai,
China, Hudong Zhonghua meluncurkan
produk barunya yakni kapal perang
amphibi 071. Bersamaan dengan itu, para
pengamat menilai bahwa hal itu akan
semakin meningkatkan pengaruh China di
kawasan Asia.
"China menunjukkan kekuatannya dengan
mengerahkan armada tempur yang
merupakan kapal amphibinya," ujar
pengamat maritim dari International
Institute for Strategic Studies Christian Le
Miere, seperti dikutip GMA, Rabu
(15/2/2012).
Kapal perang dan kapal selam China yang
tercanggih, saat ini sudah dilengkapi
dengan sistem pertahanan anti-serangan
udara. Menurut laporan dari Pentagon
pada 2011 lalu, China memiliki 75 kapal
tempur yang besar, serta 60 kapal selam,
55 kapal tempur dengan ukuran sedang
dan juga kapal amphibi.
Meski China mengerahkan armada
tempurnya, Negeri Panda itu berniat akan
terus mengintensifkan kontak militer
dengan AS yang akan menempatkan
pasukannya di Asia. Kerja sama itu
digagas oleh Wakil Presiden China Xi
Jinping yang nantinya akan menjadi
Presiden China, menggantikan Hu Jintao.
Menanggapi hal itu, Menteri Pertahanan
AS Leon Panetta masih mendesak China
agar bersifat lebih transparan ketika
melakukan peningkatan kekuatan militer.
(AUL)

Sumber: okezone

ABK KRI Sultan Iskandar Muda-367 Menerima United Nations Medal



16 Februari 2012, Lebanon: Setelah melaksanakan penugasan selama 4 (empat) bulan lebih sebagai Pasukan pemelihara perdamaian (Peacekeeping) dibawah komando MTF UNIFIL seluruh prajurit Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-C/UNIFIL mendapatkan penganugerahan penghargaan United Nations (UN) Medal yang disematkan langsung oleh MTF Commander RADM Luiz Henrique Caroli kepada Komandan KRI SIM-367 Letkol Laut (P) Agus Hariadi selaku Dansatgas Maritim TNI Konga XXVIII-C/UNIFIL sebagai perwakilan dan pada kesempatan yang sama juga diberikan kepada Chief of Staff MTF Kolonel Laut (P) Bambang Irwanto.

United Nations Medal Parade merupakan upacara penganugerahan medali dari Dewan keamanan PBB kepada para Peacekeeper yang memenuhi syarat penugasan peacekeeping dan berkontribusi dalam tugas penegakan dan pemeliharaan perdamaian sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701.

Dalam amanatnya RADM Luiz Henrique Caroli menyampaikan apresiasi dan perhargaan yang tinggi atas partisipasi ABK KRI SIM-367 dalam upaya memelihara perdamaian di Lebanon.Sejak bergabung dengan UNIFIL MTF tanggal 1 Oktober 2011. KRI SIM-367 secara aktif memberikan kontribusi positif mulai dari pelaksanaan MIO, patroli rutin,latihan bersama dengan LAF Navy maupundengan unsur-unsur MTF lainnya diAMO.Pada akhir sambutannya MTF Commander mengharapkan kepada Pemerintah Indonesia secara kontinyu melalui Angkatan Laut Indonesia untuk selalu berpatisipasi pada misi perdamaian guna menjaga stabilitas keamanan di Lebanon.

Berikut kutipan amanat MTF Commander “...I wish to thank the Goverment of Indonesia for assigning KRI SULTAN ISKANDAR MUDA to UNIFIL. MTF is looking forward to continuing working with Indonesian Navy to help keeping the peace and stability in Lebanon.”

Acara tersebut juga dihadiri oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI H.E Dimas Samodra Roem, Komandan Satgas FHQSU, Wadan Sector East, Komandan SEMPU, Staff Officer dari UNIFIL MTF dan segenap undangan dari kalangan pejabat UNIFIL maupun masyarakat setempat.

Sumber: Dispenarmatim

Thursday, February 16, 2012

14 KCR-40 dan KCR-60 akan Dibangun Hingga 2014


17 Februari 2012

Kapal Cepat Rudal KCR-60 (image : Palindo Marine Shipyard)

Batam (ANTARA Kepri) - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menargetkan pembangunan 14 Kapal Cepat Rudal di berbagai daerah untuk menunjang pengamanan perairan Indonesia yang akan selesai pada 2014.

"Hingga 2014 kami merencanakan pembangunan 14 Kapal Cepat Rudal (KCR) ukuran 40-60 meter untuk penunjang pengamanan perairan Indonesia," kata Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Purnomo Yusgiantoro setelah meresmikan KRC Kujang di Batam, Kamis.

Menteri mengatakan upaya tersebut sebagai langkah pembangunan strategis yang nantinya tidak terbatas pada pengembangan KCR saja, namun juga pada industri strategis lainnya.

"Pembangunan kapal merupakan langkah awal, nanti pembangunan strategis di daerah juga akan mengembangkan industri untuk kekuatan udara dan darat," kata dia.

Pada dasarnya, kata Menteri, selain membangun industri dalam negeri hal tersebut juga membangun kekuatan TNI.

"Pembangunan 14 kapal tersebut baru tahap awal. Kami telah menyiapkan rencana strategis pertahanan hingga tahun 2024 dengan target 44 kapal cepat," kata Menteri.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan Indonesia setidaknya membutuhkan 44 KCR hingga 2024 untuk mengamankan seluruh wilayah laut NKRI dari gangguan-gangguan.

"Setidaknya dibutuhkan 44 kapal hingga tahun 2024 mendatang untuk keperluan penegakan hukum di laut, termasuk pengamanan terhadap pencurian terhadap kekayaan alam Indonesia, dan mencegah penyelundupan," kata dia.

Secara umum, kata dia, seluruh satuan TNI telah memiliki rencana pengembangan pertahanan masing-masing sebagai upaya peningkatan kekuatan.

"Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara telah memiliki blueprint pertahanan untuk membangun kekuatan. Pembangunan akan dilakukan bertahap," kata dia.

Ia mengatakan, salah satu rencana tersebut ialah penggantian utama sistem persenjataan (alustsista) yang sudah uzur dengan alat-alat baru yang akan dibangun, sementara alutsista yang masih bisa digunakan akan terus ditingkatkan kemampuannya.

 

TNI AL Dapat Kapal Baru

16 Februari 2012

Kapal Cepat Rudal KCR-40 KRI Kujang 642 (photo : Audrey)
BATAM, KOMPAS.com- TNI AL Armada Barat mendapat tambahan kapal baru, KRI Kujang-642. Kapal itu diserahkan pada Kamis (16/2/2012) pagi ini, di Dermaga Selatan Pelabuhan Batu Ampar, Batam.

Komandan Satuan Kapal Patroli Armada Barat Kolonel Pelaut Denih Hendrata mengatakan, KRI Kujang merupakan kapal kelima di satuannya. KRI Kujang termasuk jenis KCR- 40. "Sekarang kami punya dua KCR-40 dan tiga FPB (Fast Patrol Boat)," ujarnya.

KRI Kujang dibuat PT Palindo Marine Shipyard, Batam. Seluruh komponen kapal itu buatan Indonesia. KCR-40 merupakan kapal patroli kedua yang diserahkan Palindo pada TNI AL. Tahun lalu, Palindo menyerahkan KRI Clurit yang sejenis dengan KRI Kujang.

KRI Kujang 642 merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang berfungsi menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu cepat pula. Kapal ini berukuran panjang 44 meter, lebar 7,4 meter, dengan kecepatan maksimal 30 knot. Kapal ini memiliki daya tembak dan daya hancur karena dilengkapi Rudal C-705.

Kapal KCR-40 ini mampu menampung bahan bakar 50 ton dan air tawar 15 ton. Kapal cepat ini terbuat dari baja khusus High Tensile Steel pada bagian hulu dan lambung kapal, yang merupakan produk PT Krakatau Steel, Cilegon. Sedangkan untuk bangunan atas menggunakan Aluminium Marine Grade, yang menggunakan tiga mesin penggerak.

Marinir TNI AL Tambah 37 Unit Tank BMP-3F



Tank amfibi BMP-3F milik Marinir TNI AL (Foto: ANTARA)

JAKARTA - Marinir TNI AL kembali mendatangkan 37 unit tank amfibi BMP-3F yang dibeli dari Rusia dari program pengadaan 2012. Tank tersebut ditargetkan sudah bisa dikirim ke Tanah Air secara bertahap mulai tahun ini. Kadispenal Laksamana Pertama TNI Untung Suropati mengungkapkan, pengadaan alutsista tank amfibi tersebut merupakan bagian dari strategi TNI AL berkaitan dengan konsep kekuatan pokok minimum.“Juga berkaitan dengan pengembangan divisi marinir kita di Sorong,” ungkap Untung di Jakarta Kamis (16/2) kemarin.

Penambahan divisi marinir menjadi tiga divisi (dua divisi sekarang di Surabaya dan Jakarta) tersebut harus diikuti dengan penambahan alutsista. Sejauh ini marinir telah memakai tank BMP-3F sejak Desember 2010 sejumlah 17 unit.Tank ini merupakan tank terberat yang dimiliki militer Indonesia, bahkan mengalahkan milik TNI Angkatan Darat. Terkait nilai kontrak 37 unit BMP-3F, Untung mengaku belum bisa menyampaikan ke publik.

“Sejauh ini baru jumlah yang bisa disampaikan,” ucapnya. Saat ini, TNI AL sudah dilengkapi sejumlah alutsista andalan. Di antaranya BTR (Bronetransporter) - 50 P panser amfibi buatan Rusia, PT – 76, dan BVP-2 yang didatangkan dari Slovakia, serta LVT (landing vehicle track) - 7A1 buatan Amerika Serikat tahun 1985 yang merupakan hibah dari Korps Marinir Korea Selatan pada 2009.

Menurut dia, tank-tank tersebut kemungkinan sudah bisa mulai diboyong ke Tanah Air tahun ini. “Untuk datangnya bertahap, saya kira tahun ini sudah mulai karena untuk tank tidak serumit kalau kita pesan kapal selam maupun kapal perang permukaan,”ungkapnya. Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno, jumlah tank BMP-3F nanti diharapkan bisa menjadi 54 unit.

Ditempatkan di Wilayah Barat dan Timur

Tank tersebut nantinya akan ditempatkan di wilayah barat dan timur Indonesia. Anggota Komisi I DPR Helmy Fauzi mengatakan, rencana tersebut masih sebatas penjajakan dan belum sampai pada penandatanganan kontrak. “Tapi, penjajakan ini perlu. Kondisi geografis kita yang berupa kepulauan memang memerlukan ada penguatan angkatan laut, termasuk marinir,” ucapnya.

Menurut politikus PDIP ini, marinir membutuhkan tank amfibi karena yang dimiliki sekarang sudah uzur. “Jika TNI Angkatan Darat saja butuh 100 MBT, harusnya marinir lebih dari itu sehingga bisa mendukung operasi yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk nanti di Sorong,”paparnya. Meski memerlukan tank amfibi, Helmy mewanti-wanti agar dalam pembeliannya tidak tergesa-gesa,tapi harus tetap memperhatikan beberapa aspek penting.

Di antaranya diversifikasi alutsista.“Jangan sampai kita terpaku pada negara tertentu sehingga bisa membatasi penggunaan alutsista itu,”kata dia. Selain itu, keterlibatan industri pertahanan dalam negeri juga penting untuk dipertimbangkan. Apalagi, selama ini industri dalam negeri seperti PT PAL memiliki kemampuan dalam pengembangan alutsista TNI Angkatan Laut, termasuk dalam meretrofit tank amfibi milik marinir.

Untuk pembayaran,Helmy menekankan agar pemerintah sebisa mungkin menghindari kredit ekspor karena jatuhnya biaya yang harus dibayar menjadi membengkak akibat bunga kredit. Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, hingga saat ini pemerintah masih memiliki sisa kredit negara (state credit) sebesar USD800 juta dari total USD1 miliar yang ditawarkan pemerintah Rusia. Sisa yang cukup besar itu disebabkan pemerintah tidak jadi membeli kapal selam dari negara tersebut.

Sumber : SEPUTARINDONESIA.COM

Dua Pesawat F 16 AS Kejar Pesawat Ringan Sipil


Tribunnews.com - Jumat, 17 Februari 2012 09:27 WIB

Dua Pesawat F 16  AS Kejar Pesawat Ringan Sipil
AFP
Dua pesawat tempur F 16 milik Angkatan Udara AS mngejar sebuah pesawat sipil yang telah melanggar batas wilayah penerbangan di atas kota Los Angeles, Amerika Serikat 

TRIBUNNEWS.COM LOS ANGELES - Dua pesawat tempur F 16 milik Angkatan Udara Amerika Serikat Kamis melesat terbang memburu sebuah pesawat ringan sipil jenis Cessna 182 yang telah melanggar jalur penerbangan,
Kejadian pengejaran pesawat sipil itu dilakukan di atas kota Los Angeles, dimana saat itu Presiden Barack Obama sedang melakukan perjalanan penggalangan dana.
Menurit Norad yang dilansir AFP kedua pesawat jenis F 16 yang memburu pesawat sipil itu berasal dari pangkalan udara cadangan Base di Riverside County, California.
"Setelah mencegat pesawat F-16 mengikutinya hingga pesawat itu mendarat tanpa insiden pada sekitar pukul 12:30 waktu setempat, pesawat disambut oleh penegak hukum setempat," ujar Komando Pertahanan Amerika Utara Aerospace.
Edwin Donovan, juru bicara Dinas Rahasia Amerika mengatakan kepada AFP , pesawat jenis Cessna memasuki wilayah udara Marine One yang merupakan wilayah udara terbatas, kemudian pesawat tersebut dipaksa mendarat di bandara Long Beach.

sumber : TRIBUN NEWS

Biak Disiapkan Sebagai Skadron Pesawat Tempur

6 Februari 2012, Biak: Pangkalan
Udara Manuhua STAB di
Kabupaten Biak Numfor, Papua
dipersiapkan untuk skadron
pesawat tempur dalam rangka
menunjang tugas operasional
Komando Sektor Pertahanan
Udara Nasional IV di kawasan
Timur Indonesia.
Panglima Komando Sektor
Pertahanan Udara Nasional IV
Biak Marsekal Pertama TNI Dedy
Nita Komara di Biak Kamis
mengatakan, untuk
pengembangan pengamanan
wilayah udara NKRI di kawasan
Papua, keberadaan pangkalan
udara Manuhua Biak masuk
dalam rencana pengembangan
sebagai pangkalan skadron
pesawat tempur TNI AU.
"Keberadaan bandara Lanud
Manuhua Biak sangat strategis
dan memenuhi syarat bisa
dikembangkan menjadi pangkalan
skadron pesawat tempur, ya
pada tahun 2014 diharapkan
program ini dapat terwujud,"
ungkap Pangkosek Hanudnas IV
Marsma TNI Dedy.
Ia mengakui, untuk idealnya
pengembangan pangkalan
skadron pesawat tempur di
Lanud Manuhua empat flight
dengan 12 pesawat tempur.
Dengan kondisi pangkalan udara
Manuhua Biak saat ini, lanjut
Marsma Dedy, yang sangat luas
dan memenuhi syarat paling tidak
dapat menampung delapan
pesawat tempur TNI AU.
"Jika rencana skadron pesawat
tempur TNI AU dibuka di Biak
maka akan menunjang operasi
Komando Sektor Pertahanan
Udara Nasional IV Biak menjaga
pengamanan wilayah udara NKRI
khususnya di wilayah Papua
sekitarnya," ungkap Pangkosek
Hanudnas IV Marsma TNI Dedy
Nita Komara.
Hingga Kamis siang, tiga pesawat
tempur F16 skadron Iswahyudi
Madiun, dua Hercules, serta satu
helikopter Puma berada di
bandara Lanud Manuhua Biak
untuk mendukung latihan cakra
dan operasi "Tangkis Petir" yang
diselenggarakan Kosek Hanudnas
IV Biak mulai 16-21 Februari 2012.
Sumber: ANTARA News

LOCKMART UNVEILS THE “NEW” F-16V, STRATEGICALLY TAILORED NOT TO COMPETE WITH THE F-35

Posted on February 15, 2012 by
aviationintel.com
Lockheed gave birth in public to their highly
conservative F-16V concept today at the
Singapore Air Show. Although it is not fully
clear exactly what the “new” F-16 will
feature, what we do know is that it will be
fitted with a SABR or RACR Active
Electronically Scanned Array radar, new
brains and crew interface. Along with these
evolutions we can probably assume it will
be toting a digital self-protection and
Electronic Service Measures (ESM) suite,
along with the latest commercially available
Helmet Mounted Sight (HMS) and other
cool gadgets. The aircraft will most likely
leverage the redesigned structural elements
of the F-16E/F as well and possibly feature
the GE-F110-132 motor as an option. In fact
I would venture to guess that this aircraft is
really a base model configuration from
which customers can customize to fit their
needs. Something like an “open
architecture” F-16. Of important note is that
it sounds like Lockheed will offer an
upgrade based on the V for older F-16s as
well. It will be good for the DoD if other
nations do sign on as it will diffuse costs of
such a program, one that is looming large
for the USAF due to continued F-35 delays.
Further, by funnel a ton of separate
upgrade programs into a single common
one, Lockheed can lower unit costs across
the board.
This aircraft cannot be compared to the
Boeing F-15SE concept as it appears there
is no attempt by Lockheed to make the
F-16V stealthy. This makes all too much
sense as the survivability offered by stealth,
even from only certain hemispheres, is
something that their marquee fighter, the
F-35, will continue to monopolize within
their product stable. Interestingly, the
F-16V would be the perfect cost-effective
and low risk workhorse for the USAF if we
had bought enough F-22, which at $150M
per copy now seems like a steal, and
continue to develop America’s Next
Generation Bomber. To bad the DoD’s one-
size-fits-all-at-all-costs obsession makes
this winning and affordable “high-low”
procurement strategy dead on arrival.
http://www.lockheedmartin.com/us/news/
press-releases/2012/february/0215aero-
F-16V.html
*Thanks so much to valued Aviationintel

BERITA POLULER