Pages

Thursday, February 16, 2012

Marinir TNI AL Tambah 37 Unit Tank BMP-3F



Tank amfibi BMP-3F milik Marinir TNI AL (Foto: ANTARA)

JAKARTA - Marinir TNI AL kembali mendatangkan 37 unit tank amfibi BMP-3F yang dibeli dari Rusia dari program pengadaan 2012. Tank tersebut ditargetkan sudah bisa dikirim ke Tanah Air secara bertahap mulai tahun ini. Kadispenal Laksamana Pertama TNI Untung Suropati mengungkapkan, pengadaan alutsista tank amfibi tersebut merupakan bagian dari strategi TNI AL berkaitan dengan konsep kekuatan pokok minimum.“Juga berkaitan dengan pengembangan divisi marinir kita di Sorong,” ungkap Untung di Jakarta Kamis (16/2) kemarin.

Penambahan divisi marinir menjadi tiga divisi (dua divisi sekarang di Surabaya dan Jakarta) tersebut harus diikuti dengan penambahan alutsista. Sejauh ini marinir telah memakai tank BMP-3F sejak Desember 2010 sejumlah 17 unit.Tank ini merupakan tank terberat yang dimiliki militer Indonesia, bahkan mengalahkan milik TNI Angkatan Darat. Terkait nilai kontrak 37 unit BMP-3F, Untung mengaku belum bisa menyampaikan ke publik.

“Sejauh ini baru jumlah yang bisa disampaikan,” ucapnya. Saat ini, TNI AL sudah dilengkapi sejumlah alutsista andalan. Di antaranya BTR (Bronetransporter) - 50 P panser amfibi buatan Rusia, PT – 76, dan BVP-2 yang didatangkan dari Slovakia, serta LVT (landing vehicle track) - 7A1 buatan Amerika Serikat tahun 1985 yang merupakan hibah dari Korps Marinir Korea Selatan pada 2009.

Menurut dia, tank-tank tersebut kemungkinan sudah bisa mulai diboyong ke Tanah Air tahun ini. “Untuk datangnya bertahap, saya kira tahun ini sudah mulai karena untuk tank tidak serumit kalau kita pesan kapal selam maupun kapal perang permukaan,”ungkapnya. Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno, jumlah tank BMP-3F nanti diharapkan bisa menjadi 54 unit.

Ditempatkan di Wilayah Barat dan Timur

Tank tersebut nantinya akan ditempatkan di wilayah barat dan timur Indonesia. Anggota Komisi I DPR Helmy Fauzi mengatakan, rencana tersebut masih sebatas penjajakan dan belum sampai pada penandatanganan kontrak. “Tapi, penjajakan ini perlu. Kondisi geografis kita yang berupa kepulauan memang memerlukan ada penguatan angkatan laut, termasuk marinir,” ucapnya.

Menurut politikus PDIP ini, marinir membutuhkan tank amfibi karena yang dimiliki sekarang sudah uzur. “Jika TNI Angkatan Darat saja butuh 100 MBT, harusnya marinir lebih dari itu sehingga bisa mendukung operasi yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk nanti di Sorong,”paparnya. Meski memerlukan tank amfibi, Helmy mewanti-wanti agar dalam pembeliannya tidak tergesa-gesa,tapi harus tetap memperhatikan beberapa aspek penting.

Di antaranya diversifikasi alutsista.“Jangan sampai kita terpaku pada negara tertentu sehingga bisa membatasi penggunaan alutsista itu,”kata dia. Selain itu, keterlibatan industri pertahanan dalam negeri juga penting untuk dipertimbangkan. Apalagi, selama ini industri dalam negeri seperti PT PAL memiliki kemampuan dalam pengembangan alutsista TNI Angkatan Laut, termasuk dalam meretrofit tank amfibi milik marinir.

Untuk pembayaran,Helmy menekankan agar pemerintah sebisa mungkin menghindari kredit ekspor karena jatuhnya biaya yang harus dibayar menjadi membengkak akibat bunga kredit. Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, hingga saat ini pemerintah masih memiliki sisa kredit negara (state credit) sebesar USD800 juta dari total USD1 miliar yang ditawarkan pemerintah Rusia. Sisa yang cukup besar itu disebabkan pemerintah tidak jadi membeli kapal selam dari negara tersebut.

Sumber : SEPUTARINDONESIA.COM

Dua Pesawat F 16 AS Kejar Pesawat Ringan Sipil


Tribunnews.com - Jumat, 17 Februari 2012 09:27 WIB

Dua Pesawat F 16  AS Kejar Pesawat Ringan Sipil
AFP
Dua pesawat tempur F 16 milik Angkatan Udara AS mngejar sebuah pesawat sipil yang telah melanggar batas wilayah penerbangan di atas kota Los Angeles, Amerika Serikat 

TRIBUNNEWS.COM LOS ANGELES - Dua pesawat tempur F 16 milik Angkatan Udara Amerika Serikat Kamis melesat terbang memburu sebuah pesawat ringan sipil jenis Cessna 182 yang telah melanggar jalur penerbangan,
Kejadian pengejaran pesawat sipil itu dilakukan di atas kota Los Angeles, dimana saat itu Presiden Barack Obama sedang melakukan perjalanan penggalangan dana.
Menurit Norad yang dilansir AFP kedua pesawat jenis F 16 yang memburu pesawat sipil itu berasal dari pangkalan udara cadangan Base di Riverside County, California.
"Setelah mencegat pesawat F-16 mengikutinya hingga pesawat itu mendarat tanpa insiden pada sekitar pukul 12:30 waktu setempat, pesawat disambut oleh penegak hukum setempat," ujar Komando Pertahanan Amerika Utara Aerospace.
Edwin Donovan, juru bicara Dinas Rahasia Amerika mengatakan kepada AFP , pesawat jenis Cessna memasuki wilayah udara Marine One yang merupakan wilayah udara terbatas, kemudian pesawat tersebut dipaksa mendarat di bandara Long Beach.

sumber : TRIBUN NEWS

Biak Disiapkan Sebagai Skadron Pesawat Tempur

6 Februari 2012, Biak: Pangkalan
Udara Manuhua STAB di
Kabupaten Biak Numfor, Papua
dipersiapkan untuk skadron
pesawat tempur dalam rangka
menunjang tugas operasional
Komando Sektor Pertahanan
Udara Nasional IV di kawasan
Timur Indonesia.
Panglima Komando Sektor
Pertahanan Udara Nasional IV
Biak Marsekal Pertama TNI Dedy
Nita Komara di Biak Kamis
mengatakan, untuk
pengembangan pengamanan
wilayah udara NKRI di kawasan
Papua, keberadaan pangkalan
udara Manuhua Biak masuk
dalam rencana pengembangan
sebagai pangkalan skadron
pesawat tempur TNI AU.
"Keberadaan bandara Lanud
Manuhua Biak sangat strategis
dan memenuhi syarat bisa
dikembangkan menjadi pangkalan
skadron pesawat tempur, ya
pada tahun 2014 diharapkan
program ini dapat terwujud,"
ungkap Pangkosek Hanudnas IV
Marsma TNI Dedy.
Ia mengakui, untuk idealnya
pengembangan pangkalan
skadron pesawat tempur di
Lanud Manuhua empat flight
dengan 12 pesawat tempur.
Dengan kondisi pangkalan udara
Manuhua Biak saat ini, lanjut
Marsma Dedy, yang sangat luas
dan memenuhi syarat paling tidak
dapat menampung delapan
pesawat tempur TNI AU.
"Jika rencana skadron pesawat
tempur TNI AU dibuka di Biak
maka akan menunjang operasi
Komando Sektor Pertahanan
Udara Nasional IV Biak menjaga
pengamanan wilayah udara NKRI
khususnya di wilayah Papua
sekitarnya," ungkap Pangkosek
Hanudnas IV Marsma TNI Dedy
Nita Komara.
Hingga Kamis siang, tiga pesawat
tempur F16 skadron Iswahyudi
Madiun, dua Hercules, serta satu
helikopter Puma berada di
bandara Lanud Manuhua Biak
untuk mendukung latihan cakra
dan operasi "Tangkis Petir" yang
diselenggarakan Kosek Hanudnas
IV Biak mulai 16-21 Februari 2012.
Sumber: ANTARA News

LOCKMART UNVEILS THE “NEW” F-16V, STRATEGICALLY TAILORED NOT TO COMPETE WITH THE F-35

Posted on February 15, 2012 by
aviationintel.com
Lockheed gave birth in public to their highly
conservative F-16V concept today at the
Singapore Air Show. Although it is not fully
clear exactly what the “new” F-16 will
feature, what we do know is that it will be
fitted with a SABR or RACR Active
Electronically Scanned Array radar, new
brains and crew interface. Along with these
evolutions we can probably assume it will
be toting a digital self-protection and
Electronic Service Measures (ESM) suite,
along with the latest commercially available
Helmet Mounted Sight (HMS) and other
cool gadgets. The aircraft will most likely
leverage the redesigned structural elements
of the F-16E/F as well and possibly feature
the GE-F110-132 motor as an option. In fact
I would venture to guess that this aircraft is
really a base model configuration from
which customers can customize to fit their
needs. Something like an “open
architecture” F-16. Of important note is that
it sounds like Lockheed will offer an
upgrade based on the V for older F-16s as
well. It will be good for the DoD if other
nations do sign on as it will diffuse costs of
such a program, one that is looming large
for the USAF due to continued F-35 delays.
Further, by funnel a ton of separate
upgrade programs into a single common
one, Lockheed can lower unit costs across
the board.
This aircraft cannot be compared to the
Boeing F-15SE concept as it appears there
is no attempt by Lockheed to make the
F-16V stealthy. This makes all too much
sense as the survivability offered by stealth,
even from only certain hemispheres, is
something that their marquee fighter, the
F-35, will continue to monopolize within
their product stable. Interestingly, the
F-16V would be the perfect cost-effective
and low risk workhorse for the USAF if we
had bought enough F-22, which at $150M
per copy now seems like a steal, and
continue to develop America’s Next
Generation Bomber. To bad the DoD’s one-
size-fits-all-at-all-costs obsession makes
this winning and affordable “high-low”
procurement strategy dead on arrival.
http://www.lockheedmartin.com/us/news/
press-releases/2012/february/0215aero-
F-16V.html
*Thanks so much to valued Aviationintel

Wednesday, February 15, 2012

Busi Vespa Jadi Penggerak Utama Tank



16 Februari 2012, Semarang: Keterbatasan alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki TNI tidak menyurutkan langkah para prajurit itu untuk tetap semangat berjuang.Salah satu jajaran TNI yang berhasil berinovasi adalah Batalion Kavaleri 2/Tank.

Batalion yang selalu berurusan dengan alat tempur berat tank ini cukup direpotkan dengan puluhan tank yang sudah berusia tua. Onderdil mesin tank yang dimiliki batalion ini sudah tidak dijual di pasaran umum. Alhasil jika mesin tank rusak, akan susah untuk memperbaikinya. Namun,para prajurit Yon Kav 2/Tank tidak kehilangan akal.Mereka pun mencoba berinovasi dengan onderdil lain untuk menggantikan fungsi onderdil tank yang sudah rusak dan uzur atau istilahnya “dikanibal”. Hasilnya sungguh di luar dugaan.

Busi tank jenis AMX 13 pun mampu digantikan hanya dengan busi vespa. Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) IV/Diponegoro Brigjen TNI Dedi Kusnadi Thamim mengaku bangga atas kreasi dan inovasi prajurit Yon Kav 2/Tank tersebut.“Kita akan melakukan penelitian lebih mendalam dan akan mengikutkan inovasi tersebut dalam lomba cipta karya teknologi militer,yang kemudian akan dipatenkan,” ungkap Dedi seusai mencoba Tank AMX 13 yang sudah dikanibal dengan busi vespa di Lapangan Parade Makodam IV/Diponegoro,Semarang, kemarin.

Kasdam mengaku,setelah melakukan uji coba,tidak bisa merasakan mana tank yang kanibal dengan tank asli.Dari segi manuver kemampuan dan kecepatan,tidak berbeda. “Sepuluh tahun yang lalu saya pernah mengendarai tank jenis yang sama dan masih asli, rasanya tidak ada yang beda,” ungkapnya. Dengan inovasi yang dilakukan,“kuda besi”jenis AMX 13 buatan Prancis yang sudah berusia setengah abad itu masih tetap bisa difungsikan secara maksimal. Kasdam mengatakan,inovasi yang dilakukan Yon Kav 2/Tank ini perlu ditiru kesatuan lain dalam rangka kemajuan satuan dan efisiensi peralatan di tengah minimnya anggaran belanja alusista.

KomandanYon Kav 2/Tank Letkol Kav Dicky Armunanto Mulkan mengaku, inovasi tersebut berupa kanibalisme suku cadang itu terpaksa dilakukan karena suku cadang untuk tank jenis AMX 13 sudah tidak diproduksi lagi. ”Seperti businya,sekarang ini sudah tidak ada.Karena itu, kita ganti dengan busi vespa yang modifikasi dengan cara dibuatkan konventer (sambungan),maka jadilah busi motor menjadi busi tank,” ungkapnya.

Dicky mengaku,Yon Kav 2/Tank memiliki 2 jenis AMX 13,yakni AMX 13 tipe tempur yang mengusung persenjataan berat Cannon 105 mm, senapan mesin berat (SMR) Browning 50 atau kaliber 12,7 mm,senapan mesin ringan (SMR) kaliber 7,62 mm,dan AMX 13 tipe Angkut Personel Carrier (APC). Selain busi,inovasi lain yang dilakukan prajurit Yon Kav 2/Tank adalah memodifikasi senjata SMB. Modifikasi ini mengadopsi senjata air soft gun.“Pada senjata yang asli,rangkaian penggeraknya diganti dengan peranti kuningan yang berfungsi sebagai pelontar amunisi dengan memanfaatkan tekanan gas sehingga tidak merusak yang asli,”paparnya.

Rangkaian yang dibuat dalam waktu hanya satu bulan oleh Koptu Hadi Mulyono itu merupakan rakitan dari bahan kuningan blok diameter 3,88 mm,pipa kuningan diameter 16mm, serta as kuningan diameter 16 dan 28 mm. Inovasi lainnya adalah pengembangan sistem CCTV pada tank.Kamera tersembunyi yang dipasang dalam tank itu dapat langsung online sehingga bisa langsung diakses pimpinan.

“Dengan kamera yang dipasang di ranpur,akan memudahkan pemberian instruksi kepada pengemudi tank karena komando atas bisa langsung memantau,”ungkapnya.

Sumber: SINDO

Pembelian tank Leopard sebelum 2014


Kamis, 16 Februari 2012 06:54 WIB
Tank Leopard (military.wikia.com)
kalau Belanda menjual kami beli, tapi kalau tidak kami pergi. Tunggu saja perkembangan berikutnya,"

Surabaya (ANTARA News) - Pembelian 100 unit Tank Leopard dari Belanda diharapkan selesai sebelum 2014.

"Sampai sekarang masih tahap penjajakan dan belum berhenti. Tim yang kami bentuk masih membahasnya dan diharapkan sebelum 2014 sudah selesai," ujar Kepala Staf Angkatan Darat  Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo kepada wartawan di Surabaya, Rabu malam.

"Sekali lagi saya tegaskan, kalau Belanda menjual kami beli, tapi kalau tidak kami pergi. Tunggu saja perkembangan berikutnya," kata mantan Pangkostrad tersebut.

Pihaknya juga mengatakan saat ini Jerman  menjajaki dan menawari Indonesia. Menurut Pramono, tank buatan Jerman menjadi alternatif jika target awal tidak kesampaian.

"Memang ada tawaran dari Jerman. Hanya saja kami belum bersikap, tapi itu bisa dijadikan alternatif. Yang pasti sebelum 2014 sudah harus selesai," tutur mantan Danjen Kopassus tersebut.

Jika pembelian Tank Leopard yang alokasi anggarannya mencapai 280 Juta US Dollar berjalan mulus, diharapkan bisa menjadi prestasi serta menaikkan wibawa bangsa.

Anggaran dari pemerintah  untuk modernisasi peralatan TNI AD sebesar Rp14 triliun.

"Di antaranya pengadaan tambahan helikopter, PT Pindad yang menyiapkan anoa atau panser, serta alutsista lainnya. Bahkan Leopard ini hanya bagian kecil saja kok," tukas jenderal yang juga pernah menjabat Pangdam Siliwangi tersebut.

Tahun ini direncanakan pembelian meriam, rudal anti pesawat, peluncur roket multiras dan lainnya. 


sumber : Antara

Russia Repeats Offer To RI To Become A ‘Space Nation’

Jakarta - Russia has again urged the Indonesian
government to conclude a much-delayed agreement on a
milestone satellite station project, offering the idea of
Indonesia becoming a “prestigious space nation”.
Russian Ambassador to Indonesia Alexander A. Ivanov
reiterated on Tuesday his country’s keen interest in the
project to develop a satellite launch station on the
Indonesian island of Biak, which is situated off the
northern coast of Papua and 3,200 kilometers northeast
of Jakarta.
The plan was first made public in 2006, but no agreement
has so far been concluded to pave the way for its
implementation.
“To tell you frankly, the draft agreement is almost ready
with the exception of one article. It is on missile
technology immunity,” Ivanov told a media briefing in
Jakarta, adding that the Biak project would utilize
technology possessed only by Russia that had not been
used anywhere else in the world.
He said Indonesia was still troubled by the article, but
Russia kept pushing for it given that Indonesia was not a
member of the Missile Technology Control Regime; an
informal and voluntary partnership between 34 countries
to prevent the proliferation of missile and unmanned
aerial vehicle technology capable of carrying a 500-kg
payload at least 300 km.
Ivanov said Russia, as a member of the regime, had
“international obligations” on the safeguards.
Contacted separately, Indonesian Foreign Ministry
spokesman Michael Tene refused to discuss why the
Indonesian government still objected to the contentious
clause, citing only “technical issues” behind the prolonged
negotiations over the Biak project.
“As the negotiations are still ongoing, I cannot add
anything more,” Michael told The Jakarta Post.
Ivanov explained that the Biak station would be an air-
launch station, meaning satellites would be launched from
a “mothership” aircraft instead of from the ground.
He said this was more “ecologically friendly”, adding that
ground-based launches usually caused pollution on the
ground and in the air.
“If this project is implemented, Indonesia will become a
space nation. Indonesia will have the opportunity to
launch commercial satellites from all over the world,
especially countries situated in the Asia-Pacific region.”
Ivanov refused to share what was in the project for
Russia, but added that it would be very “beneficial” and
“prestigious” to Indonesia.
He added Biak was chosen due to its proximity to the
equator, reducing the cost of satellite launches.
“The cost of launching is eight times cheaper in
comparison to launching satellites, for example, from
territories in Kazakhstan or Russia.”
Ivanov also reiterated on Tuesday Russia’s interest in
boosting its trade and investment partnerships with
Indonesia.
He said a delegation of about 40 representatives from
major Russian private companies would visit Indonesia at
the end of the month to seek business opportunities in
Southeast Asia’s largest economy.
They include representatives from the space technology,
oil and gas, railway and agriculture sectors, Ivanov said.
Source : TJP

BERITA POLULER