Pages

Thursday, February 9, 2012

European Jet Maker Likely to Backtrack on $1 bil. Pledge

09 Februari 2012

IFX/KFX/F-33 STEALTH

A European consortium of four aerospace and defense companies will likely walk away from its promise of investing 20 percent of the cost for a Korea-initiated project to develop a new multirole fighter, industry sources said Thursday.


The European Aeronautic Defense and Space Company N.V. (EADS) reportedly made the pledge as Korea hinted that financial and technology contributions would favorably affect the separate selection of a foreign vender to supply 60 advanced fighter jets to Korea for 8.29 trillion won ($7.3 billion).


According to a 2011 report by Korea National Defense University, EADS expressed its intent to invest up to 20 percent or $1 billion into the KF-X program, a fighter development program.

An industry insider also confirmed that EADS had expressed it was willing to contribute as much as 20 percent of the development cost for the KF-X project to officials of the Defense Acquisition Program Administration (DAPA).

“EADS’s position was that it was willing to comply with DAPA’s request for KF-X investment, but it was deemed too early to comment on the possible import of KF-X fighters from European countries,” said the source familiar with EADS’s talks with DAPA over the FX-III project.

“But now EADS will likely backtrack on the pledge as DAPA made it clear that no incentive will be given in the FX-III race to a company committed to share the financial burden of the KF-X project.”

Seoul has pursued the ambitious KF-X project since 2000 in a bid to replace its aging F-4 and F-5 fighter jets with indigenous aircraft with stealth capabilities and export potential by 2020.

Jakarta has been jointly conducting a feasibility study on the project while shouldering 20 percent of the $50 million initial costs.

Thirty-five Indonesian researchers have teamed up with 137 Korean experts for the exploratory stage, scheduled for completion with the selection of a prototype at the end of 2012.

Indonesia has pledged to invest $1 billion in the KF-X project and buy 50 KF-X fighters, but no other country has yet to follow suit.

Turkey is reportedly mulling joining the Korea-led consortium for the KF-X project, but on condition of an equal partnership with Korea.

A senior DAPA official said Seoul has rejected Ankara’s demand to allow it to have a 50 percent stake in the KF-X project along with Korea as it believes Seoul should play a dominant role.
He said DAPA could abandon the risky jet development project unless another country or a foreign company join the project and share between 20 percent and 29 percent of the development costs.

Meanwhile, an industrial source raised suspicion that Korea may have decided not to give an incentive to FX-III bidders with willingness to invest in the KF-X project as American defense companies, which he claims DAPA favors, showed no interest in making financial contributions.

EADS is competing with two U.S. defense giants, Lockheed Martin and Boeing, in the FX-III project, for which Korea is expected to announce the winner in October this year.

(Korea Times)

Ini Spesifikasi Pesawat Kepresidenan RI


Pesawat Rp820 miliar itu menampung hingga 50 penumpang.

Jum'at, 10 Februari 2012, 08:26 WIB
Pesawat Kepresidenan Boeing Business Jet 2 (Sekretariat Negara)

VIVAnews - Indonesia telah resmi membeli pesawat kepresidenan. Pesawat RI 1 berjenis Boeing Bussiness Jet 2 Green Aircraft akan tiba di tanah air pada Agustus 2013.

Pesawat kepresidenan ini dibeli dengan harga US$91,2 juta atau sekitar Rp820 miliar, dengan rincian: US$58,6 juta untuk badan pesawat, US$27 juta untuk interior kabin, US$4,5 juta untuk sistem keamanan, dan US$1,1 juta untuk biaya administrasi.

Dikutip dari Boeing.com, pesawat BBJ2 ini didisain untuk keperluan VIP. Yakni didisain dengan konfigurasi mewah dengan keberadaan kamar tidur utama, toilet yang dilengkapi dengan shower, ruang konferensi, ruang makan, dan ruang tamu.

Boeing BBJ2 ini memiliki panjang sekitar 39,5 meter, panjang sayap 35,8 meter, tinggi ekor 12,5 meter dan memiliki diameter 3,73 meter. Untuk interiornya, BBJ2 ini memiliki panjang 29,97 meter, dengan tinggi 2,16 meter dan lebar 3,53 meter.

Dengan daya tampung 39.539 liter bahan bakar, pesawat ini dapat terbang maksimal sejauh 10.334 kilometer. Namun jika pesawat berisi maksimal 50 orang, maka jarak tempuhnya mencapai 8.630 kilometer. Jarak tempuh itu bisa dilalui dengan kecepatan maksimal 871 kilometer per jam.
Enam Tangki
Sekretaris Kantor Sekretariat Negara, Lambock V. Nahattands, menyatakan saat ini pabrik Boeing tengah memasang enam tangki bahan bakar ke badan pesawat agar pesawat itu bisa terbang nonstop selama 10-12 jam. Pemasangan tangki dilakukan oleh PATS Aircraft System, dan dijadwalkan selesai pada April 2012.

Setelah pemasangan keenam tangki itu, lanjut Lambock, pekerjaan selanjutnya adalah memasang interior kabin dan sistem keamanan yang dilakukan oleh completion center. Untuk pemasangan kedua kelengkapan itu, saat ini proses lelang sedang berjalan, dan pemenangnya ditentukan akhir Februari 2012.

"Pekerjaan interior cabin dan security system akan dimulai Mei 2012 dan diperkirakan selesai Agustus 2013," kata Lambock. (ren)

Soal Pesawat Tanpa Awak Israel, TNI Tak Persoalkan Negara Produsen


Jurnas.com | RENCANA pengadaan pesawat intai tanpa awak belum final. "Semua masih berproses di Kementerian Pertahanan,” kata Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, di Depok, Jawa Barat, Selasa (7/2). TNI sebagai pengguna tidak mempermasalahkan dari negara mana alat utama sistem senjata yang akan digunakan itu diadakan. “Bila sesuai spesifikasi teknik dan kebutuhan operasi yang dibutuhkan maka semua clear... tidak masalah," ujar Panglima TNI.

Semua pengadaan alat utama sistem senjata dilakukan sesuai kerangka kekuatan pokok minimum yang telah ditetapkan.

Rencananya TNI akan membangun satu skadron pesawat intai tanpa awak (UAV). Pada 2006, digelar tender pembelian empat UAV untuk Badan Intelijen Strategis (Bais) yang akhirnya dimenangkan Searcher Mk II melalui perusahaan Filipina, Kital Philippine Corp. Searcher Mk II produk buatan Israel.

Mengutip United Press International (UPI), pembelian UAV yang satu unit seharga US$6 juta itu, Indonesia menggandeng Bank Leumi dari Inggris dan Bank Union dari Filipina sebagai penyandang dana untuk kredit ekspor.

Indonesia kali pertama memakai produk militer Israel dengan meminjam UAV Searcher Mk II milik Singapura untuk mencari lokasi sandera peneliti asing yang ditawan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua, 1996.

Kini, Malaysia telah mengoperasikan 15 unit UAV buatan Israel, Singapura 35 unit. Dalam pengujian tim Kementerian Pertahanan, UAV Searcher Mk II mengalahkan pesaingnya dari Irkut Rusia dan UAV Hermes buatan Elbit Israel yang diageni ELS Ventures, Belanda. 
 
sumber : JURNAS

Kata Ilham Habibie, Beli Pesawat Intai Berlebihan

IAI Heron 1 UAV in flight

TEMPO.CO, Jakarta- Rencana pembelian pesawat intai (unmanned aero vehicle) atau pesawat UAV dinilai terlalu berlebihan. Salah satu petinggi Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Ilham Akbar Habibie menyatakan Indonesia seharusnya mampu menciptakan sendiri pesawat seperti itu.

"Indonesia harus lebih berani mengembangkan teknologi sendiri, jangan hanya beli-beli saja dari luar," ujarnya ketika ditemui wartawan di Istana Wapres, Selasa (7/2). Bagi putra mantan presiden RI BJ. Habibie itu sudah saatnya Indonesia tidak lagi bergantung pada pihak lain. "Paling tidak terhadap teknologi-teknologi kunci seperti UAV itu," katanya.

Lebih lanjut Ilham menyatakan Indonesia memang sangat membutuhkan pesawat UAV. Baginya, pesawat jenis ini memiliki masa depan yang lebih baik. "Pesawat seperti itu makin banyak dipakai, karena biayanya murah dan memiliki risiko rendah," tuturnya. Apalagi, menurutnya, pesawat UAV memiliki fleksibilitas yang sangat bagus. "Jadi tidak ada salahnya jika kita memiliki program nasional seperti pesawat UAV yang kita kembangkan sendiri."

Kebutuhan akan pesawat UAV muncul saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI beberapa waktu lalu. Kemudian sempat muncul pilihan pesawat produksi industri dari Israel yang akan dipilih TNI AU.
 
sumber : TEMPO

Pesawat intai tanpa awak TNI operasional 2012

Heron.jpgAustralia will begin operating Israel Aerospace Industries Heron unmanned air vehicles in Afghanistan next year, under a new lease agreement with MacDonald, Dettwiler and Associates (MDA)

Kamis, 9 Februari 2012 18:34 WIB | 1554 Views

Jakarta (ANTARA News) - Pesawat intai tanpa awak (UAV) TNI yang dipesan dari PT Kital Philipine Corp mulai operasional pada 2012. Keperluan intelijen menjadi hal mendasar pengadaan wahana udara militer ini.

"Pesawat ini merupakan pesawat baru dan akan dikirim tahun ini," kata Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, di Kantor Kemhan, Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan bahwa pesawat intai tanpa awak itu memiliki kemampuan jelajah hingga radius 200 km dalam waktu 15 jam saja.

Sjafrie mengungkapkan pengadaan pesawat intai tanpa awak tersebut merupakan program pengadaan 2004, dan kontraknya sudah dilakukan sejak 2006. Kemhan pun telah melakukan uji teknis pesawat tersebut.

Ia berpendapat Indonesia sangat memerlukan pesawat itu, terutama untuk operasi intelijen. Namun begitu, pesawat itu juga dapat digunakan untuk keperluan lain, seperti mendeteksi cuaca.

Pada tahun 2006, TNI menggelar tender pembelian empat UAV untuk Badan Intelijen Strategis (Bais) yang akhirnya dimenangi Searcher Mk II melalui perusahaan Filipina, Kital Philippine Corp.

Berdasar laman kantor berita internasional United Press International (UPI), untuk pembelian UAV yang satunya senilai enam juta dolar AS tersebut, Indonesia menggandeng Bank Leumi dari Inggris dan Bank Union dari Filipina sebagai penyandang dana untuk kredit ekspor.

Belakangan karena ramai dikritik DPR, proyek pengadaan tersebut tertunda.

UAV buatan Divisi Malat Israeli Aircraft Industries (IAI) dinilai paling unggul untuk penggunaan di angkasa Nusantara.

Indonesia kali pertama memakai produk militer Israel dengan meminjam pesawat pengintai tanpa awak (UAV) Searcher Mk II milik Singapura untuk mencari lokasi sandera peneliti asing yang ditawan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua, pada 1996.

Namun, Singapura bukan satu-satunya negara yang memakai senjata buatan Israel. Malaysia telah mengoperasikan 15 unit, sedangkan Singapura 35 unit.

Dalam pengujian tim Kementerian Pertahanan, UAV Searcher Mk II mengalahkan pesaingnya dari Irkut Rusia dan UAV Hermes buatan Elbit Israel yang diageni ELS Ventures, Belanda.

Sekjen Kementerian Pertahanan Eris Heriyanto menegaskan, dalam setiap pengadaan alat utama sistem senjata dari mancanegara, pihaknya mengutamakan teknologi yang sesuai dengan spesifikasi teknik dan kebutuhan operasi TNI.

"Jadi, yang kami lihat teknologinya, bukan dari negara mana produk alat utama sistem senjata itu diadakan," katanya menambahkan. (R018)

sumber : Antara

RI Berencana Beli 8 Unit Helikopter Apache Buatan AS




AH 64 Apache

ah64-apache

9 Februari 2012, Jakarta: Pemerintah berencana untuk membeli sejumlah helikopter tempur jenis Apache dari Amerika Serikat. Hal itu dilakukan untuk menambah kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista). "Kalau tidak salah sebanyak delapan unit," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di kantornya, Kamis, 9 Februari 2012.

Menurut dia, pengadaan delapan unit helikopter tempur jenis Apache itu bukan karena ditawarkan begitu saja oleh pihak Amerika kepada pemerintah Indonesia. Rencana pembelian helikopter sejumlah itu dilakukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. "Mereka tidak menawarkan, kita yang mencari," ujar Sjafrie.

Namun, ia menambahkan, hingga kini belum ada deal antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat ihwal pembelian helikopter tempur tersebut. Sejauh ini, yang sudah disepakati adalah pembelian pesawat tempur jenis F16 dari Amerika Serikat. "Kita semua tahu yang F16 sudah deal," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan saat ini banyak proyek pengadaan alutsista. Jenis alutsista yang dibeli Indonesia pun beragam, ada yang bergerak dan ada yang tidak bergerak. Yang jelas, pemerintah mengusahakan agar pembelian senjata tersebut sesuai dengan kebutuhan. "Prosesnya dari user (TNI AD, TNI AL atau TNI AU), ke Mabes TNI, baru ke Menhan. Dari situ (baru) ada pembelian," kata Purnomo.

Seperempat Anggaran Pertahanan untuk Alutsista

Pemerintah tahun ini telah menganggarkan seperempat dari seluruh total anggaran pertahanan untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). "Kurang lebih 25 persen dari alokasi anggaran sebesar Rp 74 triliun," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di kantor Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis, 9 Februari 2012.

Menurutnya 52 persen dari total alokasi anggaran tahun ini sudah ditujukan untuk kebutuhan belanja pegawai, seperti membayar gaji. "Sisanya untuk belanja barang dan modal, khususnya alutsista," ujar Sjafrie.

Sebelumnya Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengakui saat ini banyak proyek pengadaan alutsista. Jenis alutsista yang dibeli Indonesia pun beragam, ada yang bergerak dan ada yang tidak bergerak. Tapi pemerintah mengusahakan agar pembelian senjata sesuai dengan kebutuhan. "Prosesnya dari pengguna (TNI AD, TNI AL atau TNI AU), ke Mabes TNI, baru ke Menhan. Dari situ baru ada pembelian," kata Purnomo.

Sumber: TEMPO

Serpihan Pesawat Militer AS Lepas di Atas Jepang

TOKYO, KOMPAS.com —
Angkatan Laut Amerika
Serikat (US Navy) hingga saat
ini masih menyelidiki
penyebab lepasnya beberapa
bagian dari pesawat
pengacak sinyal radar EA-6B
Prowler saat terbang di atas
wilayah udara Jepang.
Serpihan itu jatuh di sebuah
kota di dekat Tokyo, Kamis
(9/2 /2012).
Enam bagian pesawat perang
elektronik tersebut lepas di
udara, termasuk bagian dari
penutup mesin dan satu
bagian berukuran 2,2 x satu
meter persegi saat pesawat
tengah terbang di atas kota
Yamato, dekat Tokyo. Salah
satu bagian tersebut jatuh
mengenai kendaraan pribadi
warga di kota itu sehingga
menyebabkan kerusakan
minor.
Menurut US Navy, pesawat
tersebut sedang dalam
perjalanan pulang dari misi
latihan rutin menuju
pangkalannya di Yokosuka,
Prefektur Kanagawa, Jepang.
Seorang pejabat kota Yamato
mengatakan, reruntuhan
pesawat sering jatuh di
kawasan kota tersebut
bahkan pernah merusak
sebuah rumah pada 2010.
Saat ini AS menempatkan tak
kurang dari 50.000 prajurit
di Jepang yang tersebar di
beberapa pangkalan militer
di seluruh negara itu. EA-6B
Prowler adalah modifikasi
dari pesawat tempur A-6
Intruder dengan misi khusus
menjalankan perang
elektronik, seperti mengacak
sinyal radar musuh dan
mengumpulkan data intelijen
elektronik.
Pesawat itu sekaligus
menjadi pusat komando dan
kendali serangan bagi
pesawat tempur lain.
Pesawat itu juga dilengkapi
persenjataan untuk
menghancurkan lokasi radar
musuh atau instalasi rudal
darat-ke-udara musuh.

sumber : kompas

BERITA POLULER