Pages

Monday, February 6, 2012

Nanggala Mampu Menyelam Selama 52 Hari

   Nanggala Mampu Menyelam Selama 52 Hari


06/02/2012 11:36
Liputan6.com, Surabaya: Setelah diperbaiki total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korsel selama 2 tahun, KRI Nanggala kini sudah menjelma menjadi sebuah Kapal Selam Modern.

Kapal bernomor lambung 402 ini dilengkap dengan Torpedo yang mampu mengejar kebisingan. Kapal ini juga bisa dilengkap oleh beberapa misil seperti Exocet, Harpoon dsb. Tak hanya itu dengan kekuatan sonar baru yang bisa kapal ini mampu mendeteksi kapal perang musuh hingga 40 kilometer dengan catatan laut dalam kondisi clear atau jernih. KRI Nanggala diawaki oleh 48 awak, dalam kondisi 100 persen Nanggala bisa berada didalam air hingga 52 hari.

Kolonel (P) Tunggul Suropati, mantan Komandan Satgas Overhoul KRI Nanggala mengungkapkan kapal ini memliki kemampuan menyelam yang cukup baik. " Dalam uji coba kami bisa turun hingga 257 meter didalam laut, dalam keadaan terpaksa maksimal 300 meter " ujarnya.

Kapal selam ini sendiri mampu melaksakan tugas penyusupan, peperangan atas air dan bawah air, penyebaran ranjau terbatas. dan emergensi VIP.
KSAL dan sejumlah pejabat yang menyambut kehadiran kapal selam RI ini menyempatkan diri meninjau bagian dalam kapal.

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan TNI AL dan bergabung dengan satu kapal selam lainnya KRI Cakra-401. Seperti halnya KRI Nanggala, kapal selam KRI Cakra juga sudah lebih dulu menjalani "overhoul" di galangan yang sama di Korsel pada 2004-2006.

Perbaikan total yang dijalani KRI Nanggala meliputi, struktur kapal, lapisan baja, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonar berteknologi terkini.

Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter dengan mesin diesel elektrik yang mampu melaju hingga kecepatan 25 knot di dalam air. (ARI)
 
sumber : Liputan6

Sistem baru KRI Nanggala-402 diterapkan dari teknologi manajemen tempur dan operasi dari Norwegia.


Sejumlah prajurit TNI-AL awak kapal selam KRI Nanggala-402 berada di atas lambung kapal setibanya di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2). Kapal selam tersebut kembali bergabung dengan TNI AL usai menjalani perbaikan menyeluruh di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/12)

6 Februari 2012, Surabaya: Setelah 24 bulan diperbaiki menyeluruh (overhaul and retrofit) di dermaga Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan, KRI Nanggala-402 kembali memperkuat armada TNI-AL, Senin.

Bedanya kali ini, sistem manajemen tempur dan operasi kapal selam kelas U-209/1300 itu diperbarui memakai sistem dari Norwegia.

Dari sisi luar Dermaga Madura, Markas Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, kapal selam berkelir hitam itu muncul mengapung perlahan-lahan.

Sambutan kehadiran kembali KRI Nanggala-402 buatan Jerman itu diberikan Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno, Panglima Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, Laksamana Muda TNI Ade Sopandi, dan Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, serta perwakilan dari Daewoo.

Setelah merapat dan ditambat di dermaga itu, upacara singkat kedatangan KRI Nanggala-402 dilakukan antara semua unsur pimpinan TNI-AL dan Komandan KRI Nanggala-402, Letnan Kolonel Pelaut Purwanto.

Menyinggung kehadiran kembali kapal dari Satuan Kapal Selam TNI-AL itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Eris Haryanto, menyatakan, "Kita puas dengan kinerja Daewoo ini. Mereka pendatang baru di dunia perkapalselaman dunia namun bisa membuktikan janji dan komitmennya."

Sistem baru KRI Nanggala-402 diterapkan dari teknologi manajemen tempur dan operasi dari Norwegia. Teknologi digital itu memungkinkan komandan kapal mengambil keputusan secara lebih cepat, efisien, dan tepat atas posisi dan kedudukan kapal terhadap sasaran yang dituju.

Sebelum memakai teknologi dari Norwegia itu, KRI Nanggala-402 sebagaimana "kembarannya" KRI Cakra-401 memakai teknologi Sinbad dari Belanda yang bekerja secara manual.

Kebolehan sistem baru itu juga diujicobakan selama pelalayaran pulang dari Korea Selatan menuju perairan Indonesia sejak 21 Januari lalu dan tiba di perairan Selat Madura pada Senin pagi.

Contoh kebolehan itu --dalam operasi tempur sebenarnya-- kapal bisa meluncurkan empat torpedo secara salvo pada selang waktu sangat rapat. Kapal selam sepanjang 59 meter itu sendiri memiliki delapan tabung peluncur torpedo pada ujung haluan utamanya.

Sumber: ANTARA News

Sunday, February 5, 2012

Mereka Mulai Menyadari




Tiada hari tanpa belanja alutsista, mungkin itulah ungkapan gaya bahasa yang pantas didengungkan ke ruang publik karena memang selama setahun terakhir ini saja daftar belanja alutsista kita jelas terpampang di papan pengumuman semua media Indonesia baik baca, kaca dan maya.  Jelasnya  kita sedang menunggu kedatangan jet-jet tempur Sukhoi, F16, T-50 Golden Eagle dan pesawat jenis lain misal Super Tucano, Hercules, C295, UAV.  Kemudian Fregat, Kapal selam, Kapal cepat rudal, Kapal cepat trimaran, LST, Main Battle Tank, Panser, Rudal SAM, MLRS, Howitzer dan lain-lain.  Ada juga berbagai jenis helikopter misalnya Mi35, Mi17, Bell 412 Ep, Cougar, heli anti kapal selam.

Bangga, wow tentu saja.  Coba saja tanya pada seluruh rakyat bangsa ini melalui survey dan sampling atau metode lain, mayoritas kita akan mengatakan  setuju dan pantas.  Memang pantas dong, wong ini untuk eksistensi bangsa, untuk menjaga pagar halaman agar tidak diusik oleh “celeng” sebelah rumah sampai-sampai patok batas pun dikira umbi atau talas.  Pantas juga KSAD kita bilang lugas di rapat DPR beberapa waktu lalu :Lu cabut patok gua sikat !  kan jelas arahnya.  Atau statemen Menhan beberapa bulan lalu tentang tapal batas Tanjung Datu Kalbar: Kalau berani digeser kita serang.  Dua statemen keras ini tentu sudah membuat si “celeng” sebelah rumah berhitung ulang.
Barisan Tank Scorpion dalam Latgab TNI di Sangatta
Kita pun sudah bisa membayangkan dalam sebuah seremoni lima oktober tahun 2012 dan seterusnya akan ada bintang-bintang alutsista baru yang dipamerkan.  Seremoni birthday TNI tahun ini saja bintang yang bakalan muncul setidaknya Super Tucano, UAV, Sukhoi tambahan, adiknya Clurit, wajah baru Trimaran, BMP3 F tambahan, MBT, rudal SAM jarak menengah dan lain lain.  Lalu di seremoni 2013 muncul lagi bintang baru Golden Eagle, MLRS, LST, Fregat, Falcon upgrade, Sukhoi lagi, saudaranya Clurit yang lain.

Nah, bintang-bintang baru itu kalau mau diuji bersama paling layak dilakukan antara  awal sampai dengan pertengahan tahun 2014 melalui show of force latihan gabungan TNI berskala besar.  Dijamin pasti lebih spektakuler dengan gelar alutsista baru dalam jumlah besar karena pada saat itu kita sudah punya kuantitas dan kualitas alutsista yang bisa diandalkan.  Penambahan alutsista itu antara lain ada 80 tank amfibi BMP3F yang sangar itu, ada 100 MBT Leopard, ada tigapuluhan KCR termasuk 6 dari Clurit Class, ada 3 Fregat anyar bergabung dengan 6 Fregat eksisting, ada 3 Trimaran pakai rudal.  Kalau mau di list banyak banget yang sudah berdatangan, maklum lagi panen raya.  Kalau ini digabung dengan alutsista eksisting sudah pasti bernilai gahar. Nah uji kualitas tempurnya ada di latihan gabungan itu sehingga integrasi sistem pertempuran dengan beragam jenis alutsista tadi akan menggambarkan dahsyatnya suasana kebatinan dan nilai tempur yang dimiliki.  Efek getarnya banyak celeng berubah menjadi kambing atau remeh menjadi ramah.  Dan ini bagian dari kampanye militer untuk jangan menjual persoalan teritori yang sudah jelas dasar hukumnya kalau tidak ingin digebuk.

Dalam bingkai mikro penambahan alutsista TNI diniscayakan akan mampu meredam pelecehan teritori sekaligus penguat posisi bargaining diplomasi karena sejatinya kekuatan pengawal republik adalah untuk payung ini.  Dalam ruang yang lebih luas adalah untuk mengantisipasi dinamika kawasan Asia Tenggara yang sulit diprediksi dengan konflik Laut Cina Selatan. Kalau prajurit TNI diajak gelut fisik, adu endurance dan survival dengan prajurit negara lain kita yakin yang tampil sebagai pemenang adalah prajurit TNI karena disitu letak keunggulan hulubalang kita. Bahkan dalam berbagai kejuaraan adu tangkas menembak prajurit TNI selalu menempati posisi puncak, itu tak terbantahkan. Namun dalam upaya menguasai perkembangan teknologi pertempuran kita perlu meng update dan memodernisasi alutsista karena itu wajib hukumnya. Sekali anda melalaikan kewajiban ini maka prajurit TNI yang unggul kualitas personal itu akan menjadi pasukan gagah gemulai.
Konvoy Armada TNI AL pulang dari Latgab Sangatta
Perkuatan TNI sebenarnya adalah perkuatan pagar agar tak mudah dimasuki oleh maling atau rampok sumber daya.  Komparasinya sederhana, ada sebuah rumah besar dan kaya tapi pagarnya hanya pagar lapuk. Lalu datang rampok, menjarah menguras, dan si empunya rumah hanya mampu teriak tanpa mampu memberikan  perlawanan.  Si rampok tertawa terkekeh-kekeh, sembari bilang: Kasian deh lu.  Kalau kita lihat peta dunia atau google earth, negeri ini luar biasa strategisnya posisi geografisnya, kekayaan alamnya, rentang pantainya, jumlah penduduknya.  Lalu kalau bicara pagar halamannya, alamak, parah kali kawan, mirip seperti pemilik rumah mewah tadi, cuma bisa teriak tanpa melakukan perlawanan.

Nah sekarang pagar itu sedang dibenahi, diperkuat, dipergahar.  Di laut kekuatan armada ditambah menjadi 3 armada tempur dengan kekuatan minimal 274 KRI.  Pangkalan utama kekuatan armada ada di Tanjung Pinang, Makassar dan Sorong.  Jakarta dan Surabaya tetap menjadi pangkalan utama karena disana ada Kolinlamil untuk mobilisasi pasukan Marinir dan TNI AD. Kekuatan pasukan  Marinir ditambah 1 divisi sehingga menjadi 3 divisi.  Matra udara menambah skuadron tempur dan angkut seirama dengan kedatangan alutsista utama pesawat tempur dan angkut.  Satuan-satuan radar diperbanyak, pangkalan-pangkalan TNI AU diperkuat tidak saja dengan hanud titik (rudal jarak pendek) tetapi juga dengan hanud area ( rudal jarak menengah).  TNI AD tidak ketinggalan dengan menambah Heli tempur, Heli angkut, MBT, Panser, MLRS, Rudal, Roket, Howitzer. Kostrad ditambah menjadi 3 Divisi selain penambahan batalyon tempur Kodam di beberapa daerah perbatasan.

Perkuatan pengawal republik ini tidak lepas dari ruang pantau intelijen dan hankam negara tetangga, utamanya Malaysia, Singapura dan Australia.  Bahasa tubuh ketiga jiran ini menampakkan reaksi berbeda.  Australia misalnya memberikan warning terhadap peningkatan kekuatan TNI sebagai sebuah upaya menyetarakan keseimbangan kawasan seraya memberikan ruang perspektif untuk bekerja sama  lebih erat antar militer kedua negara.  Meskipun begitu aura kekhawatiran bangsa bule yang “nyasar” ke selatan Asia ini tetap bergema.  Ini ciri khas sekalgus arogansi Barat Anglo yang merasa tidak ingin harkatnya disaingi.
Pasukan Marinir dalam sebuah upacara militer
Sikap Singapura relatif lebih tenang dan diam. Negeri ini memang jarang mengumbar pernyataan reaksi terhadap perkembangan militer negara tetangganya.  Sikap diam ini mencerminkan kedewasaan emosional hankam mereka.  Singapura cenderung lebih suka tak pamer khawatir,  meski secara intelijen mereka sangat ingin tahu alutsista apa lagi yang akan dibeli oleh Indonesia.  Lalu bagaimana dengan Malaysia yang dalam Pameran LIMA akhir tahun silam tak jua jadi menambah arsenal udaranya meski sempat menggadang-gadang Typhoon. Komunitas militer yang banyak berdiskusi dengan jiran sebelah bisa membaca suasana hati mereka.  Sebelumnya ada semacam arogansi terhadap keunggulan alutsista yang mereka miliki terhadap RI.  Namun sejak negeri ini melakukan belanja alutsista secara besar-besaran, sikap itu sudah jauh berkurang dan bahkan berganti dengan sikap, menyadari bahwa negeri ini tak bisa disikapi dengan kesombongan militer.  

Inilah yang disebut efek gentar dan getar. Perkuatan alutsista TNI bukan dimaksudkan untuk ngajak gelut tetangga tetapi sebagai penguat dan penggentar agar jiran tak lagi remehkan teritori RI.  Kekuatan militer sejatinya adalah untuk menjaga nilai-nilai kesetaraan dalam hidup bertetangga, menjadi payung bargaining dalam langkah diplomasi untuk penyelesaian sengketa batas wilayah sekaligus menjadi kekuatan pukul terakhir demi eksistensi teritori yang diyakini benar.  Itulah kodrat eksistensi dan harga diri.  Sama seperti eksistensi diri kita sebagai pribadi yang bernama manusia, pada dasarnya suka dengan nilai-nilai kebenaran universal, kebersamaan, kesetaraan, saling menghargai dan menghormati.  Jika nilai-nilai ini dilanggar maka kodrat marah pun muncul dipermukaan wajah.  Sabar juga bagian dari kodrat tadi yang dianalogikan sebagai kekuatan bargaining menahan diri.  Nah kalau itu tak jua menemukan titik selesai, ya gelut saja demi eksistensi dan harga diri. Dan itu sah.
*******
Oleh :Jagvane, 05 Peb 2012

KS KRI Nanggala 402 Tiba Di Surabaya


Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno (menuruni tangga usai melakukan inspeksi ke dalam kapal selam KRI Nanggala-402 di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2). Kapal selam tersebut kembali bergabung dengan TNI AL usai menjalani perbaikan menyeluruh di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/12)

6 Februari 2012, Surabaya: Kapal selam TNI Angkatan Laut KRI Nanggala-402, Senin, merapat di Dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, setelah menjalani perbaikan menyeluruh selama hampir dua tahun di Korea Selatan.

Kedatangan kapal selam buatan Jerman itu disambut langsung Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, anggota Komisi I DPR RI, pejabat Kementerian Pertahanan, dan petinggi TNI AL.

KSAL dan sejumlah pejabat yang hadir menyempatkan diri meninjau bagian dalam kapal yang diperbaiki total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korsel, sejak Desember 2009 itu.

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan TNI AL dan bergabung dengan satu kapal selam lainnya KRI Cakra-401.


Anggota TNI AL melakukan penghormatan ketika kapal selam KRI Nanggala-402 tiba di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2). (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/12)

Seperti halnya KRI Nanggala, kapal selam KRI Cakra juga sudah lebih dulu menjalani "overhoul" di galangan yang sama di Korsel pada 2004-2006.

Perbaikan total yang dijalani KRI Nanggala meliputi, struktur kapal, lapisan baja, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonar berteknologi terkini.

Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter dengan mesin diesel elektrik yang mampu melaju hingga kecepatan sekitar 25 knot di dalam air.

Sumber: ANTARA News

Allahu Akbar, Iran Sukses Luncurkan Satelit Navid-e Elm-o Sanat

Memperingati hari Sepuluh Fajr Kemenangan Revolusi Islam (Dahe-ye Fajr), Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad secara resmi mengeluarkan perintah peluncuran satelit nasional Navid-e Elm-o Sanat. Demikian dilaporkan televisi al-Alam Jumat (03/2).

Satelit Navid-e Elm-o Sanat dibuat oleh Universitas Elm-o Sanat Tehran diluncurkan ke angkasa dengan ucapan Allahu Akbar bersandi suci "Ya Mahdi Adrikni" pada pukul 03:30 Jumat dinihari dan menempati jalur orbitnya dengan sukses.

Berdasarkan laporan ini, satelit yang dibuat Universitas Elm-o Sanat Tehran ini termasuk satelit pemantau yang bertugas memetakan bumi dengan presisi gambar yang sangat detil.

Satelit Navid-e Elm-o Sanat ini tergolong kelas mikro yang mengorbit di ketinggian 250 hingga 375 kilometer dan berat 50 kilogram dengan orbital sudut 55 derajat.

Aplikasi satelit ini dipergunakan untuk pelbagai kepentingan di bidang ilmu meteorologi, manajemen bencana alam, mengkaji kelembaban dan suhu udara, bahan kimia atmosfer, angin, salju, hujan dan samudera.

Satelit nasional Iran ini akan mengorbit bumi setiap kali dalam 90 menit dan kamera yang dipasang akan mengirimkan gambar dengan resolusi tinggi ke 5 stasiun bumi yang terletak di pelbagai daerah Iran.

Satelit Navid-e Elm-o Sanat lebih baik ketimbang satelit Omid dari sisi teknologi kontrol dan lebih stabil. (IRIB Indonesia/SL)

Ralph Shoenman: Navid-e Elm-o Sanat Bukti Kemampuan Iran Hadapi AS

Ralph Shoenman, pengamat politik menjelaskan, kesuksesan Republik Islam Iran meluncurkan satelit Navid-e Elm-o Sanat ke orbit menunjukkan kemampuan Iran menghadapi Amerika Serikat (AS).
 
"Mengingat perubahan intonasi petinggi AS dalam menyikapi Iran, petinggi Tehran harus melakukan persiapan matang mempengaruhi opini publik regional dan internasional menghadapi makar AS," ungkap Shoenman dalam wawancaranya dengan Press TV Jum'at (3/2).
 
Ia juga mengisyaratkan kesuksesan Iran meluncurkan salelit Navid-e Elm-o Sanat ke orbit dan  menekankan, setiap keberhasilan Iran menunjukkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) negara ini untuk menghadapi ancaman Amerika Serikat.
 
Satelit Navid atau Gospel dirancang untuk mengumpulkan data tentang kondisi cuaca dan memantau bencana alam. Satelit tersebut memiliki berat sekitar 110 pon (50 kilogram) dan akan mengorbit bumi di ketinggian hingga 234 mil (375 kilometer), mengitari planet ini 15 kali sehari. Satelit ini dari jenis yang dikenal sebagai miniatur atau mikrosatelit, yang biaya produksi dan peluncurannya jauh lebih murah.
 
Satelit ini diluncurkan pada Jum'at dini hari pukul 3:30 waktu setempat. Hadir dalam acara tersebut, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Menteri Luar Negeri, Ali Akbar Salehi dan Menteri Negara Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kamran Daneshjoo. (IRIB Indonesia/MF)

Produksi Massal Rudal Jelajah “Zafar” Dimulai

Program produksi massal rudal jelajah maritim baru bernama "Zafar" diresmikan oleh Kementerian Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Ahmad Vahidi.
 
Fars News (4/2) melaporkn, produksi massal rudal tersebut diresmikan bertepatan dengan peringatan Sepuluh Hari Kemenangan Revolusi Iran. Tipe pertama rudal "Zafar" itu juga telah diserahkan oleh Brigjen Vahidi kepada panglima Angkatan Laut Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Laksamana Ali Fadavi.
 
Vahidi kepada wartawan mengatakan, "Seperti yang telah kami umumkan sebelumnya, produksi massal rudal Zafar telah dimulai hari ini (Sabtu, 4/2). Rudal ini adalah tipe rudal anti-kapal, jarak dekat dan dengar menggunakan sistem kendali radar. Rudal ini mampu menghancurkan target sedang hingga kecil dengan keakuratan tinggi."
 
Salah satu keunggulan rudal jarak dekat ini, menurut Vahidi, adalah flesibilitasnya untuk dipasang di berbagai jenis perahu cepat dan kapal patroli Iran, serta memiliki sistem penangkal perang elektronik. Rudal ini sepenuhnya hasil kerja keras para ahli militer dalam negeri Iran.
 
Lebih lanjut Vahidi menjelaskan, "Setelah ditembakkan, rudal ini akan menurunkan ketinggiannya dan setelah itu memasuki posisi jelajah sehingga tidak terdeteksi musuh dan pada tahap berikutnya adalah menemukan target pada ketinggian sangat rendah."
 
Menyangkut kecepatan penggunaan rudal tersebut, Vahidi menandaskan, rudal Zafar dapat ditembakkan dalam setiap tiga detik baik secara per unit, maupun multi-shot. (IRIB Indonesia/MZ)

Angkatan Udara Iran Siap Tempur

Komandan Angkatan Udara Iran mengatakan bahwa sanksi terhadap Iran telah mendorong negara ini untuk mencapai swasembada di berbagai bidang.

Berbicara pada upacara khusus menandai ulang tahun ke-33 kemenangan Revolusi Islam, Brigjend Hassan Shahsafi mengatakan, sanksi Barat telah memacu Angkatan Bersenjata Iran untuk mengukir prestasi unik di bidang teknis dan sains. Ditambahkannya, keahlian teknologi pengayaan uranium dan peluncuran satelit Omid ke orbit bumi adalah di antara beberapa prestasi negara.

"Iran mengadopsi doktrin defensif, tidak memiliki rencana untuk menargetkan negara manapun, dan menyeru semua negara regional untuk bekerja sama dalam menjaga keamanan Timur Tengah, tanpa ketergantungan pada pasukan asing," jelasnya.

Brigjend Shahsafi menuturkan, Republik Islam Iran mengejar sebuah kebijakan yang independen dan mempertahankan kehadiran yang kuat di kawasan Teluk Persia, sejalan dengan posisi geostrategis penting di bidang keamanan dan energi.

"Angkatan Udara Iran dalam kesiapan tempur penuh untuk mempertahankan wilayah udara negara dan integritas wilayah serta memantau pergerakan musuh di kawasan untuk merespon setiap ancaman," tegasnya. (IRIB Indonesia/RM)

Iran Produksi Rudal Kendali Laser “Basir”

Republik Islam Iran memamerkan rudal kendali laser cerdas barunya yang diberi nama "Basir" dan merupakan hasil kerja keras para pakar militer domestik.

Hal itu dikonfirmasikan oleh Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi Senin (30/1) pada acara pameran rudal tersebut di Tehran. Vahidi menambahkan bahwa ini merupakan pertama kalinya para pakar domestik di Organisasi Industri Pertahanan Iran berhasil memproduksi rudal kendali laser canggih.

Ditegaskan Vahidi bahwa Basir dirancang untuk menghancurkan tank, kendaraan militer, jembatan, dan target bergerak atau permanen lainnya dengan tingkat keakuratan tinggi. Selain itu rudal tersebut juga mampu mengidentifikasi dan melacak target.

Brigjen Vahidi mencatat bahwa rudal tersebut memiliki memiliki jangkauan 20 km, dan sangat berguna di daerah pegunungan.

Vahidi menjelaskan bahwa Republik Islam Iran kini masuk dalam jajaran lima negara terkemuka dunia yang mampu memproduksi senjata pintar dengan menggunakan teknologi pribumi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Republik Islam telah meraih prestasi besar di sektor pertahanan dan bahkan mencapai kemandirian dalam produksi perangkat keras militer penting dan sistem pertahanan.

Tehrantelah berulang kali meyakinkan negara-negara lain, terutama negara jiran bahwa kekuatan militernya bukan ancaman bagi negara-negara lain, mengingat doktrin pertahanan Iran semata-mata berdasarkan pada prinsip pencegahan. (IRIB Indonesia/MZ)

sumber : irib

TNI AU Bantah Rencana Beli Pesawat dari Israel

Jurnas.com | TENTARA Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) memastikan rencana pembelian Pesawat Terbang Tanpa Awak (PPTA). Namun begitu, TNI AU membantah pesawat tersebut berasal dari Israel.

“Kami telah memasukkan kebutuhan terhadap pesawat ini dalam program pengadaan alutsista,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma Azman Yunus di Jakarta, Jumat (3/2). Meskipun PPTA ini diajukan untuk memenuhi kebutuhan TNI AU pengadaan dilakukan oleh Kementerian Pertahanan.

Dia membantah kabar TNI AU mengajukan pengadaan PPTA asal Israel. “Kami tidak tahu darimana pesawat itu. Karena hal itu merupakan kewenangan Kemhan,” ujarnya. Nantinya, TNI AU akan membentuk tim untuk menyusun spesifikasi yang dibutuhkan TNI AU dalam pesawat tersebut.

TNI AU tidak memertimbangkan dari negara mana pesawat itu diproduksi selama memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan. Kebutuhan pun belum disusun TNI AU karena prosesnya belum sampai ke tahapan itu. “Belum ada proses yang berjalan. Kami masih menunggu Kemhan. Yang pasti sudah ada program untuk pengadaan PPTA itu,” ujarnya.

sumber : JURNAS

As Peringatkan RI Masalah Papua

as

[WASHINGTON] Amerika Serikat
mendesak Indonesia dalam
penanganan sejumlah kasus di Papua.
Salah satu diantaranya yang disorot
adalah kasus sidang pengadilan lima
aktivis Papua yang mendeklarasikan
kemerdekaan di wilayah NKRI ini.
Padahal Indonesia merupakan sekutu
yang hangat dengan AS.
Namun pengadilan di Papua mendapat
sorotan atas kasus pengibaran bendera
Papua Merdeka dan pendeklarasian
berdirinya negara Papua dalam sebuah
acara.
Jika terbukti bersalah, kelima aktivis
Papua ini bisa dihukum penjara dengan
tuduhan melakukan makar.
“Kami mendesak otoritas di Indonesia
supaya menjalankan prosedur
keamanan dalam kasus ini dengan
didasari hukum Indonesia dan juga
kewajiban hukum internasional
Indonesia pada semua orang yang
didakwa,” tegas juru bicara
Kementerian Luar Negeri AS, baru-baru
ini.
“Kami meminta Pemerintah Indonesia
untuk mau bekerjasama dengan warga
asli Papua untuk mendengar keluhan
mereka, kemudian menyelesaikan
konflik di sana secara damai, dan juga
membangun Provinsi Papua,” ungkap
Kemenlu AS seperti dikutip AFP. [L-9 ]

sumber suarapembaharuan

BERITA POLULER