Pages

Wednesday, December 28, 2011

Bertahan Dengan Alutsista tua

F16 jet fighter (photo : Militaryphotos)
Ini adalah tanya jawab dengan pengamat militer yang tidak mau disebut lengkap namanya IWJ pangilannya

Admin : Pak IWJ ahir ahir ini ada pengamat mengatakan kita bertahan dengan alutsista tua apakah benar demikian ?

IWJ : ehm.... ya sah sah saja dia ngomong kaya gitu wong dah di bayar dan dah diset terus diedit hehehe....
sebenernya gak kaya gitu parahnya memang benar ada alutsista tua tapi yang baru dan modernkan ada juga
jangan lah menghilangkan fakta yanga ada lo le..

Admin : Misalnya apaja ya pak sehingga masyarakat tidak bingung dengan pernyataan pernyataan yang di tv itu


IWJ : lo kitan dah punya sukhoi 10 unit, bahkan pesan 6 unit lagi dan tunggu kedatangannya, panser anoa kita buatan pindad
kan baru semua KRI kita itu yang tugas di lebanon emang itu KRI abal-abal itu semu pakai peralatan canggih kalu tidak
gak mungkin ada disana toh? Kapal Cepat Rudal KRI clurit karya anak bangsa yang dilengkapi rudal C705 itu baru lo, terus LPD KRI
banda Aceh Buatan PT PAL bekerjasama dengan KORSEL. yang baru baru TNI 17 unit BMP3 F itu masih fress, Helikpter MI17/35
yang baru beli itu gmn? hehe weleh weleh .. weleh

SUKHOI TNI AU
6"

KRI Sultan Iskandar Muda akan gantikan KRI Frans Kasiepo bertugas di Lebanon. (Foto: Koarmatim)Admin:Terus Apalgi Pak

KRI Clurit 641 kapal baru jenis FAC-M untuk TNI AL (photo : Antara)


IWJ : apalagi ya yaaa itu pesawat tanpa awak kita yang ditempatkan di lanud supadio itu baru itu, merian howizer dari korsel, rudal grom,
helikopter buatan PT DI , terus gini Kapal selam yang telah dibeli dari rusia itu gimana ayoo walau masih belum ada pengakuan dari pemerintah
tapi dari pihak rusia bahkan dah ada pengkuan dubesnya sendiri lo yang bilang.

Admin : hehehe ternyata banyak juga ya pak itu baru jenisnya jumlahnya wah gak ke itung tuh, nah denger denger tuh Angaran pertahan kita meningkat?
betul gak sih pak?

IWJ : ya memang meningkat dalam rangka untuk memenuhi Minimum Esencial Force (MEF)

admin: Ok pak kalau di tv ini kan banyak yang buruk buruknya aja tuh tentang prestasi indonesia baik dlm pertahan , industri pertahanan
alutsista ada gak sih prestasi yang positif nya?

IWJ : Lo ya banyak to LE LE, maklumlah namanya TV punya orang yang berpolitik mencercaa saja, tapi kebaikan kebaikan kita jadi tenggelam
banyak lo prestasi KEMHAN KITA yang lebih mengejutkan Kerja sama Pembuatan Jej tempur generasi 4,5 stealth haaa bayangakan LE, ini kerjasama
RI dengan KORSEL, Kerjasama Pembuatan KAPAL SELAM dengan RI KORSEL, Kerjasama pembuatan Kapal Perusak Kawal Rudal digadang terbesar di Asia
tenggaranga itu PT PAL dengan Damen da i belanda. aduh banyak lo LE...

admin : Lainya

IWJ : Kerjasama PT DI dengan Air Bus militari dalam joint Production Pesawat angkut militer CN295, keberhasilan LAPAN dalam buat rudal berpandu laser,
Pindad dengan rudal RHan nya, panser DOOSANYA, dengan HAMERNYA, lebih mengejutkan lagi Rusia mau TOT dalam pengadaan KS pemeliharaannya,

admin : aduh ..... ko saya pernah denger di TV ya pak IWJ? cek cek padam


Admin : Nah itu sudah lah , tapi kita mau kedatangan alutsista baru apakah benar pak?

IWJ : ya sangat benar sekali, kita nanti ditahun 2012 selamt datang 1 skuadron super tucano, T50 golden eagle 16 unit, 6 sukhoi, nah ini ini MBT leopard
MBT T90,MRLS,

ADMIN : LO HIBAH F16 itu gimnan katanya rongsokan katanya lebih baik beli baru?

IWJ : ya itu bukan hibah tapi grant dari AS, karena AS mengangggap RI sahabat dan mitra yang sangat penting di kawaasan asia fasifik
itu bukan rongsokan masih laik pakai hanya saja As meminta kita untuk up grde dari blok 25 ke 32 , kemampunya diset mendekati blok 52
gitu loo leee
nah ini yang akan di upgrde

November 17, 2011 (by Asif Shamim) - The Defense Security Cooperation Agency (DSCA) notified Congress November 16 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Indonesia for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D block 25 aircraft and associated equipment & logistical support for an estimated cost of $750 million.


The Government of Indonesia has requested a sale for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D block 25aircr f and 28 F100-PW-200 or F100-PW-220E engines being granted as Excess Defense Articles.

The upgrade includes the following major systems and components:

  • LAU-129A/A Launchers
  • ALR-69 Radar Warning Receivers
  • ARC-164/186 Radios
  • Expanded Enhanced Fire Control (EEFC) or Commercial Fire Control or Modular Mission Computers
  • ALQ-213 Electronic Warfare Management Systems
  • ALE-47 Countermeasures Dispenser Systems
  • Cartridge Actuated Devices/Propellant Actuated Devices (CAD/PAD)
  • Situational Awareness Data Link, Enhance Position Location Reporting Systems (EPLRS)
  • LN-260 (SPS version, non-PPS)
  • and AN/AAQ-33 SNIPER or AN/AAQ-28 LITENING Targeting Systems
nah kira kira begitulahhh leee



Admin : Gitu ya bapak pande juga berbahasa inggris intelek lagi , oh iya kenapa TNI pilih Grant dari pada beli baru?

IWJ : Begini lo LE .... indonesia luas minimummya perlu dijaga 180 pesawat , nah untuk mengejar itu dengan dana yang pas pasan TNI pilih jumlah banyak dari pada baru cuma 5 biji, maka diterimalah grant F16 sebanyak 24 unit + 6 unit untuk suku cadang, itu blok 25 mau di upgrade ke 32 + , disamping itu kalau kita beli yang baru kita pesan sekarang 4 bahkan 5 tahun kedepan kita baru dapat pesawatnya , sementara kebutuhan kita untuk MEF sangat mendesak dah saat TNI bangkit maklumlah dan wajar dan 20 tahun blm ada modernisasi, jadi wajar saja TNI mengejar ketertinggalan dari negara-negara sahabat dikawasan, bukan untuk perang loo untuk bertahan menjaga kedaulatan NKRI kita.

Admin : gitu ya pak, katanya kita kalah dengan negara tetangga gimana menurut bapak?


IWJ: Berbicara kemampuan saya jamin TNI masih unggul ini terlihat dari latihan-latihan bersama dengan negara sahabat, kalau berbicara alutsista cth mly disana ada sukhoi dan mig kita juga ada sukhoi disana ada hornet kta ada F16 disana ada F5 kita ada F5 tiger, mendatang kan armada kita bertambah terutama untuk sukhoi dan F16, sukhoi rencananya 180 sukhoi, kedepan kita punya F33/IFX/KFX 50 unit, tapi yang saya garis bawahi profesional mentalitas , miltansi TNI kita patut diacungi jempol toh leee leee.

Admin : Hidup untuk TNI, waah bagusnya bapak yang gantiin komentator di TV itu ya karena berbeda jau dengan yang saya lihat dan di dengar. nah berbicara prestasi TNI ya pak apa aja kira -kira mungkin bapak tau?

IWJ: Kalo banyak tahu sih gak LE cuma saya baca baca info saja, setahu saya setelah TNI mereformasi diri jauh berbeda dari masa masa sebelumnya dan TNI sudah bisa diterima masyarakat, nah berbicara prestasi kita patut bangga dengan TNI seperti :
1. KOPASUS kita masuk jajaran peringkat ketiga dunia versi dicoveri channel, ingris ,AS, Rusia dan Cina mengakui KOPASU dan mereka memperhitungkannya.
2. Dalam misi perdamainan TNI lebih banyak diterma di pendudukan lokal seperti di Lebanon, Kongo.
3. Keberhasilan TNI di somalia sayang di TV kurang diexpose.
4. TNI Juara tembak seasean, bahkan dunia itu senjata yang TNI gunakan adalah karya anak bangsa SS2 biatan pindad.
5. TNI masuk desa , melaksanakan kekiatan sosial ini yang jarang diekspose LE  padahal ini penting lo.
6. Diglobal Fire TNI kita berada urutan 14 sedunia banyangkan sedunia LE.
7. Dulu diera 60 , TNI kita mengalami kejayaannya baik dari personil dan alutsista , ( ada bomber, kapal jeljar KRI irian , mig fresko , kapal selam semua dari rusia , adajuga dari AS seperti bomber,hercules) tepatnya trikora nah sekarang mungkin terjadi trikora jilid 2 karena kita sekarang membeli alutsista secara besar besaran dalam rangka mencapai MEF. banyak lagi le...
...

Admin : wah saya jadi perperangak mendengan berita ini pak tapi giman dengan  uLah OKnum TNI yang ugal ugalan

IWJ : lo itukan oknum TNI gak mewakili korps TNI lo LE LE, salah ya kita hukum sesuai prosedur hukum yang ada di indonesia LE, nah TNI kan da_i rakyat oleh rakya dan untuk rakyat.

Admin : gitu ya pak hehe, kita kembali ke alutsista nah sekarang kan mau beli alutsista besar besaran karena TNI kitah dah ketinggalan , untuk mengatasi rawan embargo gimana ya pak?


ROKS Chang Bogo (SSK 61). (Foto: U. S. Navy/Photographer's Mate 1st Class David A. Levy)IWJ : nah itu dia embargo, embargo jadikan ini sebagai pelajaran, tapi alhamdulilah para petinggi TNI kita sadar akan hal ini, mereka telah melakukan langkah langkah yang tepat seperti deversifikasi alutsista jadi gak tergantung sama suatu negara saja. contoh kita beli sukhoi , BMP3F, KS, MI17/35, rudal yakhont  dari rusia yang menjanjikan tidak ada embargo dan unsur politik dalam pengadaan alutsista, dengan brasil kita membeli supertucaano, dengan korea selatan kita membeli KS dan T50 Golden Eagle, dengan AS kita beli F16 , cina dengan pembelian rudal, jadi balance of power dalam pengadaan alutsista itu ada apabiala ada suatu negara mengembargo kita tetap jalan. yang Kedua Alhamdulillah Presiden kita melalui kemhan telah merevitalisasi industri pertahanan kita dan menyuntik dana agar industri pertahan tersebut hidup sperti PT.DI,PT.PAL,PT PINDAD dsb dan mewajibkan membeli produk dalam negeri seperti SS2,PAnser Anoa, rudal Rhan, KCR, dan produk militer lainya , produk yang tidak bisa atau masihbelum mampu dibuat oleh industri pertahanan kita , kita beli kenegara lain dengan cara TOT ( transfer of technology) contoh KFX/IFX , KS RI dan Korsel, KS RI dan rusia, masih banyk yang lainnya.


Admin : Aduuh berbanding terbalik kali yaaaa tv tv media kenapa hal hal diatas gak di beritakan kenapa gak dieksopose? why why? gerem jadinya nih pak,.... maaf ya pak agak terlaluuu gimanaaa gituuu

IWJ : satu lagi Le banyak anak bangsa ini yang berhasil di negeri lain seperti di Boeng, Air Bus, nah Le tau sendiri pembuatan Boeing dreamler itu ada Ir - Ir indonesia ,..LAPAN dah berhasil buat roket berpandu laser bahkan nanti 2014 kita akan meluncurkan satelit sendiri bayangkan kalo roket yang mebawa satelit itu kita kasih war head, jadi meriang semua lah negara sahabat kita hehehehe....

Admin : cek cek iya ya pak....Oklah kalau gitu pak terimakasih atas kuliah umumnya hehehe makasih dah mau jawab atas pertanyaan saya ya pak.

IWJ : Ok nak oh LE nda papa bapak juga terima kasih Le ni dah capek capek berkunjung ke tempat bapak, nah sekarang mari makan sop sipiroknyaaa leee


Admin : aduuh ngrepotin lo bukannya saya ngasih bapak eee bapak ngasih makan bapak,...BTW nih enak juga ya pak

IWJ: mari marii Nak

nah para pemirsa semoga informasi diatas dapat mengkonter berita berita yang selama ini jelek saja dengan bangsa ini padahal bangsa ini dikenal dengan segudang prestasinya.. amin

By INDONESIA DEFENCE

Tuesday, December 27, 2011

AS akan gelar kapal perang di Singapura

Washington (ANTARA News) - Amerika Serikat, yang menghadapi kekuatan China --yang meningkat, mengharapkan akan menggelar beberapa kapal perang di Singapura dan mungkin meningkatkan penggelaran di Filipina dan Thailand, kata seorang perwira angkatan laut.

Amerika Serikat berikrar akan mempertahankan kebebasan navigasi di Laut China Selatan, tempat terjadinya ketegangan yang meningkat menyangkut sengketa wilayah antara Beijing dan negara-negara Asia Tenggara.

Dalam satu artikel ilmiah yang meramalkan bentuk Angkatan Laut AS pada tahun 2025, Laksamana Jonathan Greenert, kepala operasi angkatan laut menulis bahwa "kita akan menempatkan beberapa kapal perang terbaru di daerah pesisir Singapura".

Greenert mengatakan AS juga akan meningkatkan penggelaran secara berkala pesawat seperti Poseidon P-8A -- yang dikembangkan untuk melacak kapal selam -- ke sekutu-sekutu perjanjian regional, Filipina dan Thailand.

Angkatan Laut akan memerlukan pendekatan yang inovatif untuk mendorong dunia menangani kecemasan yang meningkat tentang kebebasan pelayaran sementara harus bijaksana menyangkut sumber-sumber daya kita," katanya dalam tulisan edisi Desember US Naval Institute`s Proceedings.

"Karena kita mungkin tidak dapat mendukung terus biaya diplomatik dan keuangan bagi pangkalan-pangkalan penting baru di luar negeri, armada tahun 2025 akan mengandalkan lebih banyak pada pelabuhan-pelabuhan tuan rumah dan fasilitas-fasilitas lain di mana kapal-kapal, pesawat dan awak dapat mengisi bahan bakar,istirahat,pasokan ulang dan memperbaiki saat kapal dan pesawati ketika digelar," katanya dalam tulisan itu.

Perwira angkatan laut itu tidak secara langsung menyebut China,sebagai bagian dari kebijakan yang biasa dilakukan oleh pemerintah Presiden Barack Obama dalam usaha secara terbuka bagi satu hubungan yang kooperatif dengan negara Asia yang ekonominya berkembang pesat itu.

Tetapi AS menyatakan kecemasannya pada China. Obama bulan lalu mengumumkan bahwa AS akan menggelar 2.500 Marinir di kota Darwin Australia utara pada tahun 2016-2017, satu tindakan yang dikecam Beijing.

AS juga menggelar 70.000 tentara di Jepang dan Korea Selatan dibawah aliansi-alinsi yang telah lama ada dan memberikan bantuan kepada Filipina yang meluncurkan kapal perang terbarunya ,Rabu.

Singapura juga mitra lama AS. Militer AS telah mengoperasikan satu pos kecil di negara kota itu yang membantu logistik dan pelatihan bagi pasukan di negara Asia Tenggara itu.

Dalam tulisan itu,Greenert menyebut monarki Teluk Bahrain sebagai model. Armada ke-V AS digelar di pulau kecil yang terletak dekat Afghanistan,Irak dan Iran itu.

"Pada tahun 2025 Angkatan Laut akan beroperasi dari lebih banyak negara mitra seperti Bahrain untuk dapat mempertahankan kebijakan kita di seluruh dunia," katanya dalam tulisan itu.

AS mengeluarkan dana sekitar 700 miliar dolar untuk militernya tahun lalu,jauh lebih banyak dari negara lain, dan banyak anggota Kongres setuju memotong anggaran itu karena operasi-operasi di Irak dan Afghanistan menurun.

Pemerintah Obama mengidentifikasi Asia-- yang ekonominya berkembang cepat dan dengan peraturan keamanan yang masih berkembang -- sebagai prioritas utama bagi AS.

Obama, Menlu Hillary Clinton dan Menteri Pertahanan Leon Panetta semuanya mengunjugi Asia dalam bulan-bulan belakangan ini untuk memperkuat pesan bahwa AS tidak akan meninggalkan wilayah itu walaupun ekonmi dalam negeri mengalami krisis.

China membangun kapal induk pertamanya, yang telah melakukan dua kali uji coba tahun ini. Kapal yang panjangnya 300 meter itu adalah bekas kapal induk Sovyet yang telah diperbarui.


sumber Antara

US Willing to Help Philippines Get F-16 Jets


26 Desember 2011
F16 jet fighter (photo : Militaryphotos)

MANILA, Philippines - The United States has expressed willingness to help the Philippines obtain a squadron of F-16 jet fighters to improve its defense capability, Foreign Affairs Secretary Albert del Rosario said yesterday.

Del Rosario clarified, however, that this would not mean stationing of US naval vessels in the Philippines.

He admitted there is a plan to station US navy ships in the region but stationing them in the country was not discussed.

“It has not come up yet. What the US discussed with us is we see foreign policy of US for Asia and the Pacific. They are repositioning and re-balancing. They want to re-engage with Asia. The region has become a key driver in global politics,” Del Rosario said.

“They (US) discussed with us the cooperation with stationing 2,500 (troops) and two ships in Singapore but we did not discuss anything for the Philippines, except assistance to improve our capability... I do not think at this point it is being discussed. We are still in the process of refining the VFA (Visiting Forces Agreement),” he said.

Del Rosario and Defense Secretary Voltaire Gazmin will visit the US in February or March to meet with their counterparts.

Del Rosario said the US is ready to help improve the Philippines’ defense capability.

“We are trying to get the assistance of several countries to be able to take minimum and credible defense posture and the US expressed willingness to help us with two Hamilton-class cutters, and the second one is coming. We are also trying to obtain a squadron of F-16s under defense articles,” he said.

Del Rosario said the vessels and F-16s the Philippines would like to obtain were discussed with US officials, including US Secretary of State Hillary Clinton.

“We actually discussed it already. We identified (the items) when I went to the US for the first meeting with Secretary Clinton. At the time I said we need to stand up and defend what we believe is ours and they said they would be willing to help,” Del Rosario said.

“My definition of squadron is 12 fighter jets (of) F16. This is a request and I was told it is being considered,” he said.

During her visit to Manila last month, Clinton delivered a strong message of assurance and support to the Philippines in protecting its maritime domain and improving territorial defense.

Although Clinton did not mention China, she vowed military support for the Philippines as she delivered a strong US statement from the deck of an American warship that arrived in Manila for her visit.

The territorial conflict and heightened tensions between China and the Philippines over the resource-rich West Philippine Sea (South China Sea) remain a critical factor in bilateral relations between the two neighbors.

Clinton said that as the Philippines moves to improve its territorial defense, the US is considering transferring a second patrol ship to help protect maritime domain.

Clinton said the US is now updating all its alliances in the region based on three guidelines.

She said the US is working to ensure that the core objectives of its alliances have the political support of the people.

Washington wants its alliances to be nimble, adoptive and flexible to continue to deliver results in this new world.

Clinton said the US will ensure that its collective defense capabilities and communications infrastructure are operationally and materially capable of deterring provocation.

She said the US is considering providing another vessel to the Philippines “as you move to improve your territorial defense and interdiction capability.”

The Philippines formally accepted in May a US Coast Guard Hamilton-class cutter acquired by the government through the US Foreign Military Sales program.

The cutter officially became the BRP Gregorio del Pilar and is the largest patrol ship in the Philippine Navy arsenal.

Del Rosario said in June that he submitted to the Pentagon the country’s “wish list” of military equipment to strengthen its capability in securing its maritime territory.

The list of equipment was determined by the Department of National Defense (DND) during a meeting with Del Rosario before he visited Washington. He confirmed that the list is for the maritime needs of the country.

According to Del Rosario, the Pentagon would send a team to Manila this year to look into the Philippines’ requirements for maritime security.

Washington has provided the Philippines $53 million for coast watch since 2007.

During his talks with Del Rosario at the Pentagon on June 24, former US Defense secretary Robert Gates expressed readiness to strengthen the Philippines’ capability in securing its maritime territory.

In a separate meeting by Del Rosario with US National Director for Intelligence (NDI) James Clapper, the US official pledged to enhance the NDI’s intelligence-sharing with the Philippines to heighten the latter’s maritime situational awareness and surveillance in the West Philippine Sea.

Defense options

Del Rosario conveyed to US defense officials that to complement the Excess Defense Articles (EDA), which the US traditionally turns over to the Philippines, he is exploring an option to access newer US military assets.

In response, US Defense Undersecretary for Policy Michelle Fluornoy said, “We would be happy to have our team look into the full range of requirements (for maritime security).”

She added: “We should not allow this perception that you are alone and we are not behind you.”

Clapper emphasized the US “has a long association” with the Philippines and “we’ll do whatever we can to help” even as he expressed concern over the recent incidents in the West Philippine Sea.

The Philippines conveyed to the US the country’s resolve to strengthen its capabilities to defend its maritime territory because it is “prepared to do what is necessary to stand up to any aggression in its backyard” amid the rising tension in the West Philippine Sea.

The Philippine government’s preparedness to take action in the territorial dispute was conveyed during a meeting of Del Rosario and Clinton at the State Department on June 23.

Del Rosario and Clinton discussed the situation in the West Philippine Sea, and shared the view that the recent incidents there are a source of concern and could undermine regional peace and stability.

The two officials agreed to consult closely on ways to protect their shared interest in maintaining freedom of navigation, respect for international law, and unimpeded lawful commerce in the West Philippine Sea.

Del Rosario emphasized during the meeting the Philippine government’s resolve to strengthen its capabilities to defend its maritime territory “because the Philippines is prepared to do what is necessary to stand up to any aggressive action in our backyard.”

TNI AL GELAR LATIHAN


26 Desember 2011, Jakarta
(Dispenal): Korps Marinir TNI
Angkatan Laut menggelar Latihan
Pemantapan Brigade Pendarat
(Lattap Brigrat), di Pusat Latihan
Tempur Korps Marinir Baluran,
Asembagus, Situbondo, Jawa
Timur, mulai 26 hingga 29
Desember 2011.
Kegiatan yang berlangsung empat
hari ini digelar dalam rangka
meningkatkan kemampuan taktik
dan tehnik serta keterampilan
tiap-tiap kesenjataan dijajaran
Korps Marinir, yang mana Latihan
tersebut merupakan latihan
gabungan seluruh unsur-unsur
kesenjataan yang dimiliki oleh
Korps Marinir TNI AL.
Sementara itu tujuan dari latihan
yang melibatkan 3000 prajurit
baret ungu ini untuk menjadikan
setiap prajurit Korps Marinir TNI
AL memiliki naluri lapangan yang
tinggi dan memiliki kemampuan
bertempur sesuai dengan
kesenjataan masing-masing .
Kecuali melibatkan ribuan
prajurit, latihan ini juga diikuti
sejumlah material tempur yang
dimiliki oleh Korps Marinir TNI AL
diantaranya : 15 unit BMP-3F , 5
unit Tank PT-76, 32 unit BTR-50, 6
unit LVT-7, 4 unit BVP-2, 6 unit
Roket Multi Laras (RM 70 Grad), 8
pucuk Howitzer 105 mm, dan 4
pucuk Meriam 57 mm. Selain itu
juga melibatkan 7 pesawat udara
(3 unit Heli, 4 unit Cassa 212), 3
buah Kapal Perang ( KRI Teluk
Mandar, KRI Hasanudin, KRI
Makassar), dan 4 unit Sea Raider.
Sumber: Dispenal

Monday, December 26, 2011

BERITA SEBELUMNYA TENTANG KAPAL SELAM RI : PANGLIMA TNI: KAPAL SELAM PENTING BAGI INDONESIA



Madiun, Panglima TNI, Marsekal Djoko Suyanto menyatakan bahwa keberadaan kapal selam sangat penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.

"Kalau ada negara lain yang berkomentar soal pembelian kapal selam, ya silakan saja," katanya usai berziarah ke makam ibundanya di Makam Srindit, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu.

Panglima Djoko Suyanto tidak menanggapi kabar yang menyebutkan bahwa pemerintah Australia bersikap dingin tentang rencana Pemerintah Indonesia membeli 12 kapal selam dari Rusia.

Menurut panglima, rencana TNI AL membeli 12 kapal selam dari Rusia itu merupakan bagian dari proyek pengadaan senjata hingga tahun 2024 yang bertujuan memperkuat pertahanan dan sebagai alat strategis untuk mengamankan wilayah perairan Indonesia.

Fungsi kapal selam bagi TNI-AL, kata dia, sangat penting mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang tidak menutup kemungkinan banyak kapal-kapal selam asing yang mencoba mengintai perairan Indonesia.

Apalagi pada saat latihan tempur TNI AL, dikhawatirkan adanya kapal selam milik negara asing yang setiap waktu selalu mengikuti dan mengintai.

"Maka keberadaan kapal selam tersebut merupakan kebutuhan yang penting," katanya.

Pernyataan panglima TNI tersebut disampaikan menanggapi adanya pemberitaan di salah satu koran nasional hari Sabtu yang menyebutkan Menteri luar negeri (Menlu) Australia Alexander Downer sempat bersikap dingin terkait pembelian 12 kapal selam dari Rusia.

Selain itu, kepala Pusat Studi Strategis dan Pertahanan Australian National University, Hugh White, menyatakan bahwa pembelian kapal selam itu dinilai menjadi ancaman nyata kepada kapal perang Australia.

Pasalnya kapal selam buatan Rusia tersebut berkualitas tinggi yang akan secara signifikan meningkatkan kemampuan Indonesia. Sehingga kemungkinan adanya konflik terbuka antara Australia dengan Indonesia sangat besar.

Sumber : Antara

Steregushchy class corvette: In 2007 the Indonesian Navy made an agreement in principle (pending a full contract) for four vessels of this type to replace their ageing Dutch-built Fatahillah-class corvettes


Jump to: navigation, search
Corvette Steregushchiy.jpg
Steregushchy on the Neva in 2009
The Steregushchy class (стерегущий - vigilant) is the newest class of corvette in the Russian Navy. It was designed by the Almaz Central Marine Design bureau. The first two were designated Project 2038.0 (or 20380) by the Russian Government; subsequent vessels were built to an improved design, Project 20385.[2] At 2,200 tons it is large for a corvette and is designated as a frigate by NATO.[1] Project 20382 "Tigr" is an export variant that has been sold to Indonesia and Algeria

The ships of the Steregushchy class are very large multipurpose corvettes, designed to replace the Grisha class. The first batch being built at the Severnaya Verf shipyard in St. Petersburg consists of four ships. A second building line has been started at Komsomolsk where orders for at least a further two ships are expected. The lead ship of this second batch will be named Sovershenny. The Russian Navy has publicly announced that they expect to buy at least 30 of these ships, for all four major fleets.[3]
According to Jane's Naval Forces News, the first vessel was commissioned on 14 November 2007.[4]

The first contract for the export version, Project 20382 Tigr, was signed at the 5th International Maritime Defense Show in St. Petersburg when Algeria ordered two ships.[5] The cost was estimated at US$120–150m/ship.[6]
In 2007 the Indonesian Navy made an agreement in principle (pending a full contract) for four vessels of this type to replace their ageing Dutch-built Fatahillah-class corvettes. The first was to be built in Spain and fitted out in St Petersburg, leaving open the option of Indonesian involvement in building the subsequent ships.[7] Rosoboronexport have briefed Singapore and the UAE on the vessel.[8]

The Steregushchy-class corvettes have a steel hull and composite superstructure, with a bulbous bow and nine watertight subdivisions. They have a combined bridge and command centre, and space and weight provision for eight SS-N-25 missiles.
The Kashtan CIWS on the first two ships was replaced in subsequent vessels by 12 Redut VLS cells containing[9] 9M96E medium-range SAMs of the S-400 system. SS-N-27 (3M-54 Klub) cruise missiles will be fitted to a larger domestic version, Project 20385 starting with the sixth vessel,[10] Provornyy, although 20385 is the name sometimes applied to all ships with the Redut.
The export version known as Project 20382 Tigr carries either eight supersonic SS-N-26 (P-800 Yakhont) anti-shipping missiles or sixteen subsonic SS-N-25 'Switchblade' (Kh-35E Uran).[8] It also carries two twin-tube launchers for 533mm heavy torpedoes.[8] The A-190E 100mm gun first used in the Talwar class frigates is controlled by a 5P-10E system that can track four targets simultaneously.[8] Protection from air attacks is provided by the Kashtan CIWS and eight mounts for the SA-N-10 'Grouse' (9K38 Igla) SAM.[8]
 Corvette Steregushchiy.jpg
Steregushchy on the Neva in 2009
Class overview

Builders: Severnaya, St. Petersburg
Komsomolsk Shipyard
Operators:  Russian Navy, Algeria, Indonesia
Preceded by: Grisha
Subclasses: Project 20382 Tigr
Project 20385
Cost: US$120-150m (est. for Tigr)
Built: 2001 - current
In service: 2007 - current
Building: 4
Planned: 20
Completed: 2
Active: 2
General characteristics
Class and type: FFGHM
Type: Project 2038.0
Displacement: 2,200 tons (Project 20385)[1]
Length: 343 ft (104.5 m) (Project 20385)[1]
Beam: 36 ft (11.0 m) (Project 20385)[1]
Draught: 12 ft (3.7 m) (Project 20385)[1]
Installed power: AC 380/220V, 50 Hz, 4x630 kw diesel genset
Propulsion: 2 shaft CODAD, 4 Kolomna 16D49 diesels 23,664 hp (17.6 MW)[1]
Speed: 26 knots[1]
Range: 3,800 nm at 14 knots[1]
Endurance: 15 days
Complement: 90
Sensors and
processing systems:
Air search radar: Furke-E 3D, E/F band
Surface search radar: Granit Central Scientific Institute Garpun-B/3Ts-25E/PLANK SHAVE radar
Monument targeting radar
Fire control radar: Ratep 5P-10E Puma for A-190
HOT FLASH radar
Sonar: Zarya-ME suite, bow mounted. Vinyetka low frequency active/passive towed array
Navigation: GORIZONT-25 integrated navigation system
Electronic warfare
and decoys:
TK-25E-5 ECM, 4 x PK-10 decoy
Armament: 1 x Arsenal A-190 100mm
2 x MTPU pedestal machine gun 14.5 mm
2 x Kashtan CIWS-M CADS or
12x Redut VLS cells
2x4 VL P-800 Oniks or
1x6 VL 3M-54 Klub(91RE2) or
1x8 VL Kh-35 missiles
1x6 SS-N-29 /Medvedka-VE anti-sub missile
8 x 324mm torpedo tubes (for Paket-NK) or
2x2 533mm torpedo tubes
Aircraft carried: Hangar for Ka-27 Helicopter  

 sumber : WIKI PEDIA

BERITA POLULER