Pages

Sunday, December 18, 2011

Russia’s Strategic Missile Forces to get 4G control systems




Russia’s Strategic Missile Forces will receive advanced automated command-and-control systems, SMF chief Lt. Gen. Sergei Karakayev said on Friday.
New, “fourth-generation systems” will start to be deployed next year at command posts and fixed-site and road-mobile missile complexes, he said.
The system is designed to ensure effective control of new-generation nuclear weapons.
At the moment one SMF army and two SMF divisions are preparing to use the new system, the general said.

RIA NOVOSTI

Hindari Penyimpangan, Pemerintah Sediakan Tim Pengawas




Jurnas.com | MENTERI Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, pemerintah tidak main-main dalam melaksanakan program penguatan pertahanan negara. Untuk menghindari adanya penyimpangan dalam pengadaan alutsista, pemerintah telah membentuk tim untuk melakukan pengawasan.

“Kami sudah membuat tim pemantauan penyimpangan pengadaan barang dan jasa,” kata Purnomo di Jakarta, Minggu (18/12).Menurut dia, tim ini sudah berjalan dan melaksanakan tugasnya. Tidak hanya orang dari Kemhan, anggota Tim ini di antaranya juga berisi orang-orang dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin menambahkan, tim ini selain berfungsi melakukan pengawasan untuk menghindari penyimpangan keuangan, juga mengawasi terjadinya penyimpangan spesifikasi barang yang dipesan. “Dengan ini permainan agen atau broker bisa ditekan,” kata Hartind.

jurnas

Russia to build 100-ton ICBM to penetrate US missile defenses


VLASIKHA (Moscow region), December 16 (RIA Novosti)

Russia will develop a new liquid-propellant intercontinental ballistic missile to overcome the U.S.’s prospective missile defense system, Strategic Missile Forces chief Lt. Gen. Sergei Karakayev said on Friday.

A decision has been made to create a new silo-launched heavy missile that will have “enhanced capability to breach a hypothetical US missile defense system,” he said.
The new missile will replace the Voyevoda R-36M2 Satan ICBM.
Russia’s solid-propellant ICBMs may be unable to penetrate missile defenses, the general said.
He also said the Strategic Missile Forces will test launch 11 ICBMs next year.
The United States is building a missile defense system in Europe to protect against possible attack from ‘rogue states’ such as Iran.
Karakayev said Iran has neither technology nor industrial potential to build ballistic missiles.
There have been media reports about test launches of Iranian intercontinental ballistic missiles but the SMF doubts these missiles will have the effective range to reach Europe, he said.

SUMBER : RIA NOVOSTI

Terlalu dini menilai Leopard tidak cocok



Jumat, 16 Desember 2011 17:28 WIB | 1809 Views
Leopard 2A-5 Bundeswehr (Angkatan Bersenjata Jerman) ini dalam formasi serang. Jika semuanya mulus, maka 100 tank utama dengan meriam kaliber 120 milimeter smoothbore dari tipe yang lebih baru lagi, Leopard 2-A6, akan memperkuat jajaran kavaleri TNI-AD. Tandingannya Lecrec dari Perancis, Merkava (Israel), Abrams (Amerika Serikat), Challenger (Inggris), atau T-98 (Rusia). Namun ada anggapan tank utama serupa Leopard kurang pas untuk kondisi topografi dan kanopi hutan hujan tropis Indonesia. (wikipedia)
 ... Dengan alam yang berbukit-bukit dengan sungai dan danau, Leopard yang berat itu tidak cocok. Leopard yang masuk kategori tank utama (berat) lebih cocok untuk kawasan gurun atau daerah yang rata...
Jakarta (ANTARA News) - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan terlalu dini jika menilai Main Battle Tank (MBT) Leopard yang akan dibeli dari Jerman, tidak sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Harap diketahui, bobot tank besar ini dalam kondisi full gearsekitar 68 ton.

"Wilayah kita ini kan luas, bisa saja tidak cocok dengan kondisi geografis di Jawa tetapi sesuai dengan kondisi geografis di Kalimantan. Bisa saja kan itu terjadi...," katanya usai Rapat Paripurna TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) 2011 di Jakarta, Jumat.

Menurut anggota Komisi I DPR, Salim Mengga, MBT Leopard tidak sesuai dengan kondisi geografis di Indonesia. Dengan alam yang berbukit-bukit dengan sungai dan danau, Leopard yang berat itu tidak cocok. Leopard yang masuk kategori tank utama (berat) lebih cocok untuk kawasan gurun atau daerah yang rata.

Tank yang akan dibeli itu bekas Angkatan Darat Kerajaan Belanda yang sesungguhnya tidak pernah dipakai dalam misi perang sesungguhnya pun hanya sekali dua kali untuk berlatih di hutan Eropa Barat. Rencananya mereka melepas 150 Tank Leopard 2A6 yang dibuat pada 2003.

"Jadi, masalah cocok atau tidak, itu masih harus didiskusikan lagi antara TNI dan Komisi I DPR."

Pada kesempatan yang sama Kepala Staf Angkatan TNI-AD, Jenderal TNI Pramono Wibowo, mengatakan, pihaknya sudah membentuk tim yang khusus mengkaji dan menetapkan spesifikasi teknis dan kebutuhan operasional dari alt utama sistem senjata yang akan dibeli.

"Tim tersebut terdiri atas unsur kavaleri, arhanud dan lainnya. Mereka yang tahu secara teknisnya dan tentu tahu mengapa seperti itu," katanya menambahkan.

TNI-AD akan melengkapi sistem pertahanan dengan memborong arsenal dari lima pabrik di Eropa dan Amerika. Peralatan yang akan dibeli dengan dana APBN 2011 sebesar Rp 14 triliun itu dipastikan produk baru.

Dalam hal itu, kata Pramono, Indonesia diuntungkan dengan kondisi ekonomi Eropa yang tengah terbelit krisis sehingga banyak produk yang dihasilkan dijual dengan harga murah.

Alutsista yang akan dibeli tersebut, antara lain, main battle tank Leopard 2-A6 yang berbobot 62 ton. Indonesia akan membeli 100 unit tank yang sudah dipakai di 15 negara itu dengan harga per unit 280 juta dollar AS. TNI-AD juga akan membeli multiple launch rocket system
untuk kekuatan 2,5 batalion.

Untuk meriam 155 buatan Perancis dan helikopter serang darat AH-64 Apache buatan Boeing, Amerika Serikat, TNI-AD juga mendapatkan harga khusus yang relatif murah. Khusus untuk delapan helikopter, Amerika Serikat memberikan diskon lima juta dollar AS sehingga harganya turun menjadi 25 juta dollar AS
.

Pramono bersyukur karena dalam tiga tahun terakhir TNI-AD mendapatkan prioritas dalam hal pengadaan kebutuhan alutsista dan selalu mendapatkan anggaran berkisar Rp 14 triliun. (R018)
SUMBER ANTARA

Besok, Presiden Resmikan Peacekeeping Center di Sentul



 
Rusman / presidensby.info
Jurnas.com | PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono akan meresmikan penggunaan Peacekeeping Center di Sentul, Bogor, Senin (19/12) besok. Demikian informasi dari salah seorang Staf Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan di Jakarta, Minggu (18/12).

Sebelumnya, Presiden SBY dalam upacara HUT ke-66 TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Rabu (5/10) mengatakan, Peacekeeping Center di kawasan Santi Dharma, Sentul, Bogor sudah dapat digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) akhir tahun ini untuk pendidikan dan pelatihan.

"Akhir tahun ini akan gunakan Peacekeeping Center di kawasan Santi Dharma Sentul sebagai sarana pendidikan dan latihan bersama untuk operasi perdamaian, penanggulangan bencana, penanganan terorisme dan stand by force atau satuan tempur mekanis," kata Presiden SBY.

Menurut Presiden, TNI juga telah menunjukkan kepatuhan pada politik negara dengan menjunjung tinggi demokrasi dan penghormatan HAM, serta patuh pada hukum nasional. TNI pun dinilai telah memberi komitmen terbaik, mengingat akhir-akhir ini menghadapi sejumlah gangguan keamanan dalam negeri. Sebagai contoh, gangguan ketertiban masyarakat baik berupa teror, benturan fisik masyarakat, konflik horizontal, dan aksi kelompok kecil separatis di Papua.

"Tentu harus kita cegah dan hentikan. Meski masalah keamanan dan ketertiban masyarakat jadi tanggung jawab polisi, tapi TNI harus ikut serta," kata SBY.

sumber : jurnas

Indonesia Tetap Inginkan Tank Leopard



 
Tank LEOPARD 2A6 

Jurnas.com | INDONESIA bersikukuh akan membeli tank Leopard milik Belanda. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan, pihaknya akan terus melakukan upaya agar dapat membeli tank tersebut.

Initial planning-nya tetap ke sana (membeli tank Leopard). Kami terus bekerja untuk itu, bahkan saya akan bertemu dengan utusan dari Belanda untuk membicarakan hal tersebut,” kata Sjafrie di kantor Kementerian Pertahanan Jakarta, Minggu (18/12).

Sebelumnya diberitakan, Parlemen Belanda menolak penjualan tank Leopard tersebut ke Indonesia karena tidak memenuhi syarat penjualan. Mereka mensyaratkan, negara pembeli terbukti tidak melakukan pelanggaran hak asasi manusia, dan telah memenuhi kewajiban dalam bidang politik dan keamanan baik nasional maupun internasional.

Partai GroenLinks, Partai Sosial Demokrat (PvdA), dan Partai Sosial (SP) mengimbau pemerintah Belanda untuk tidak menjual tank-tanknya ke Indonesia.

Menurut Wamenhan, penolakan penjualan tank Leopard pada Indonesia belum menjadi keputusan pemerintah Belanda. “Terlalu dini menyimpulkan ada penolakan dari pihak belanda karena yang ada sekarang bukan pernyataan resmi atau jawaban institusional baik dari pemerintah maupun negara Belanda,”jelas Sjafrie.

sumber : JURNAS

Philippines Wants to Acquire F-16 Fighter Jets from US




18 Desember 2011


F-16A at AMARC Arizona, USA (photo : F16net)


THE Philippines has reportedly asked the US for a squadron of used F-16 “Fighting Falcon” fighter jets to boost the country’s external defense.


While the request calls for the F-16s to be given to the country for free, the Philippine government is willing to pay for any upgrades or modifications that may be needed for the aircraft, sources said.

The proposed deal reportedly involves the transfer of used F-16s from the US’s excess equipment now stored at the US Air Forces’ “aircraft boneyard” in Davis-Monthan Air Force Base in Arizona.

The F-16 “Fighting Falcon” is one of the most versatile multi-role fighter planes in the US Air Force. It has been used since 1974.

The recent saber-rattling by China over the Spratly Islands and some other areas on the West Philippine Sea has prompted the country to seek an air superior fighter plane, sources said.

The Philippines has always relied on the US for its external defense because of the RP-US Mutual Defense Treaty, thus the country has seen no need to boost its external defense in the past.

The recent events in the Spratlys, however, prompted the need to have an air superior fighter to discourage the Chinese air force from intruding into Philippine air space.

About five years ago, the Air Force mothballed its eight remaining 1960-vintage F-5 “Freedom Fighters” that were acquired from South Korean and Taiwan because they are no match for the more modern fighters now used by practically all civilized countries and are expensive to maintain.

Thus, the Air Force had to rely on trainer planes to support the government’s campaign against Moro separatists and communist rebels.

Before the Arroyo administration stepped down, it purchased 18 Italian-made SF-260 trainers that are also being used as light ground attack aircraft.

In addition, the Air Force has S-211 trainer jets that are also used as maritime patrol aircraft and ground attack planes.

As maritime patrol aircraft, however, the S-211s are not that efficient since they lack electronic equipment to “see” what they are patrolling. Thus, what the aircraft can “see” are all that the two pilot can spot with their eyes.

The Air Force has five S-211 jets.

The F-16 “Fighting Falcon” is a multi-role jet fighter aircraft manufactured by Lockheed Corp.

It is meant to be and air superiority fighter.

Indonesia recently acquired 24 F-16 fighters. It is also used by the air forces of Taiwan, South Korea, Thailand and Singapore.


Unit Boustead Dapat Kontrak Mindef Bernilai RM9 Bilion

17 Desember 2011

Malaysia memesan 6 fregat Gowind - Littoral Combat Ship yang akan diserahkan dalam 3 tahapan pembangunan lima-tahunan Malaysia : RMK-10, RMK-11, dan RMK-12 (image : DCNS)
KUALA LUMPUR, (Bernama) -- Unit kepada Boustead Holdings Bhd, Boustead Naval Shipyard Sdn Bhd telah diberikan kontrak bernilai RM9 bilion oleh Kementerian Pertahanan.
Kontrak itu ialah untuk penghantaran enam unit generasi kedua "Patrol Vessels Littoral Combat Ships" (Frigate Class) kepada kementerian, kata syarikat dalam kenyataan kepada Bursa Malaysia Jumaat.
Niaga janji itu meliputi reka bentuk, pembinaan, peralatan, pemasangan, pelaksanaan, integrasi dan pengujian ke atas keenam-enam kapal itu, katanya.
"Kontrak itu bernilai RM9 bilion, akan dilaksanakan dalam tempoh tiga Rancangan Malaysia, 10, 11 dan 12," katanya.
Penghantaran pertama dijangka pada 2017 dan disusuli oleh yang lain setiap enam bulan selepasnya.

BERITA POLULER