Pages

Monday, December 12, 2011

Peringatan Hari Nusantara di Dumai Diwarnai Dengan Kegiatan Latgab TNI



Dumai, DMC - Rangkaian Puncak Peringatan Hari Nusantara Tahun 2011 yang dilaksanakan di Kota Dumai, Provinsi Riau diwarnai dengan kegiatan Latihan Gabungan (Latgab) TNI Tingkat Batalyon. Kegiatan Latgab TNI yang dilaksanakan mulai tanggal 2 sampai dengan 14 Desember 2011 ini ditinjau oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., Sabtu Pagi (10/12) di Bandara  Pinang Kampai, Kota Dumai.
Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI  didampingi Kasau Marsekal TNI  Imam Sufaat, Wakasal Laksdya TNI Marsetio, Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Lodewijk F Paulus dan sejumlah pejabat Mabes TNI dan Mabes Angkatan meninjau secara langsung kegiatan Operasi Lintas Udara (Linud).
Operasi lintas udara merupakan operasi gabungan yang melibatkan dua matra yaitu Angkatan Udara dan Angkatan Darat. Operasi Linud kali menggunakan 9 pesawat C130 Hercules dari Angkatan Udara terdiri dari enam pesawat dari Skuadron 32 Abdurrahman Saleh, Malang dan tiga pesawat dari Skuadron 31 Udara Halim Perdanan Kusuma, Jakarta. Sembilan pesawat tersebut menerjunkan 416 prajurit dari Batalyon Infanteri Lintas Udara 503/MAYANGKARA TNI Angkatan Darat.
Penenjunan dilakukan dengan taktik Tactical Formation atau formasi dimana jarak antar pesawat kurang lebih 600 meter dan dipandu oleh Tim Kelompok Depan Operasi Linud (KDOL) yang merupakan tim gabungan pasukan dari satu tim Dalpur Paskas Angkatan Udara dan tim Pandu Angkatan Darat.
Operasi Linud  yang dimulai pukul 05.50 WIB tersebut, didahului dengan serangan udara ke darat yang dilakukan oleh tiga pesawat tempur Hawk 100/200 dari Skuadron Udara 12 Pekan Baru yang meluncurkan roket ke sasaran yang telah ditentukan.
Pada Operasi Linud kali ini diskenariokan situasi keamanan yang terjadi di wilayah Riau dan sekitarnya semakin memburuk, dimana aksi bersenjata yang dilaksanakan oleh pihak musuh telah berhasil mengusai sebagian objek vital di wilayah Dumai dan sekitarnya.
Operasi lintas udara bertujuan untuk menghancurkan musuh, yang karena jumlah kekuatan dan lokasinya memerlukan pendadakan dan penghancurkan secara cepat. Para Prajurit Linud melakukan pendaratan dan kemudian secara taktis segera melaksanakan pelipatan payung secara cepat dan segera secara berkelompok saling mengamankan, bergerak menuju titik berkumpul yang sudah ditentukan.
Bersamaan dengan penerjunan Prajurit Linud, dilaksanakan pula serbuan serangan Ampfibi oleh Batalyon Infanteri Marinir. Beberapa hari sebelum Pasukan Linud melaksanakan terjun taktis, telah diterjunkan pasukan KDOL dengan menggunakan penerjunan Free Fall di daerah Drop Zone sebagai team pendahulu yang menyiapkan berbagai kepentingan dalam rangka menunjang keberhasilan Operasi Linud.  Pasukan KDOL merupakan gabungan dari team Pandu dari Angkatan Darat dan team Dalpur dari Angkatan Udara.
Latihan Gabungan TNI Tahun 2011 mengambil tema “Komando Operasi Gabungan melaksanakan di wilayah darat dan laut serta udara nasional dalam rangka menegakan kedaulatan NKRI”.  Latgab meliputi gerakan menuju sasaran (lintas laut), pengintaian dan pengamatan udara, penerjunan Taipur, KDOL dan Taifib, serangan Amfibi, perebutan tumpuan pantai, serangan udara langsung, operasi Linud, perebutan tumpuan udara, operasi perlintasan, operasi penggabungan dan operasi darat lanjutan.
Terkait dengan Latgab TNI Tahun ini, Panglima TNI mengatakan Latgab TNI ini intinya dilaksanakan dengan tujuan untuk mensinergikan kemampuan yang dimiliki oleh ketiga Angkatan dalam suatu konteks operasi gabungan. Latgab TNI kali ini, diupayakan dilaksanakan secara nyata dan tidak ada yang di pre-memory-kan. (BDI/SR)

KDB Darulaman Tiba di Pangkalan TDLB



12 Desember 2011

KDB Darulaman tiba di Brunei dari perjalanan panjang pengiriman kapal baru tersebut dari Jerman (photo : Brunei Mindef)

MUARA, - Kapal Diraja Brunei DARULAMAN tiba di Jeti Pangkalan Tentera Laut Diraja Brunei, Muara. Ketibaan Kapal Diraja Brunei DARULAMAN telah disambut oleh Dato Paduka Haji Mustappa bin Haji Sirat, Timbalan Menteri Pertahanan, Pegawai-Pegawai dan anggota-anggota Tentera Laut Diraja Brunei serta keluarga.

Pada hari Jumaat 7 Oktober 2011, Kapal Diraja Brunei DARULAMAN memulakan pelayaran bersejarah yang pertamanya “The Maiden Voyage” daripada Pelabuhan Lemwerder, Jerman menuju balik ke tanah air Negara Brunei Darussalam. Kapal-kapal ini telah mengharungi Lautan Atlantik, Lautan Mediterranean, Teluk Suez, Teluk Aden, Lautan Hindi, Selat Melaka dan Laut China Selatan.

Pelayaran pertama ini telah mengambil masa kira-kira 48 hari. Tempat-tempat yang menjadi persinggahan semasa perlayaran ini adalah seperti berikut:

• Toulon (Perancis) Tiba: 16 Okt 2011 Bertolak: 19 Okt 2011
• Akzas Naval Base (Turkey) Tiba: 24 Okt 2011 Bertolak: 28 Okt 2011
• Port Said (Egypt) Tiba: 30 Okt 2011 Bertolak: 4 Okt 2011
• Muscat (Oman) Tiba: 13 Nov 2011 Bertolak: 16 Nov 2011
• Colombo (Sri Langka) Tiba: 23 Nov 2011 Bertolak: 26 Nov 2011
• Changi (Singapura) Tiba: 2 Dis 2011 Bertolak: 5 Dis 2011

Semasa dalam pelayaran, anggota-anggota kapal telah menjalankan beberapa latihan bagi meningkatkan lagi keupayaan dan profesionalisme anggota-anggota kapal seperti latihan kebakaran, latihan menembak senjata ringgan, latihan pemantauan, latihan pelancaran 'Rigid Inflatable Craft', latihan navigasi dan latihan 'Officer of the watch manuevers'.

Perkuat Alutsista dengan Kerja Sama Multinegara

DUMAI--MICOM: Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Indonesia akan bekerja sama dengan banyak negara untuk memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista) dan agar tidak tergantung hanya pada satu negara.

Kerja sama multinegara tersebut juga untuk antisipasi embargo dari satu negara. "Kerja sama dengan luar negeri prinsip kita adalah kepentingan negara. Dari pengalaman, kita tidak ingin hanya bergantung dari salah satu sumber," ujar Purnomo seusai membuka pameran alutsista dalam rangka memperingati hari Nusantara XII di Dumai, Provinsi Riau, Senin (12/12).

Bekerja sama dengan banyak negara seperti AS, Rusia, Korea, Inggris dan negara lain, lanjut Purnomo, merupakan strategi Indonesia untuk bisa tetap meningkatkan alutsista saat salah satu negara melakukan embargo. Indonesia masih bisa menjalankan sistem pertahanan bila diembargo oleh salah satu negara dengan tetap bekerja sama dengan beberapa negara.

Persoalannya, bekerja sama mendatangkan alutsista dengan multinegara mengharuskan Indonesia menyediakan SDM yang cukup. Namun, menurut Menhan, kendala tersebut bukan tantangan berat.

Dalam beberapa kejadian, Indonesia sudah mempraktikkan penggunaan pesawat tempur yang berbeda dari beberapa negara. Misalnya, sukoi dari Rusia, F16 dari AS, dan Hawk dari Inggris. "Itu bisa kita atasi. Prinsip kita adalah tidak tergantung pada satu negara. Dengan demikian, tidak heran di masa mendatang kita akan gunakan berbagai teknologi dari beberapa negara," ujarnya.

Namun, ujar Purnomo, Indonesia saat ini tetap menginginkan peningkatan industri pertahanan untuk kesejahteraan. "Contohnya saja pada panser buatan Pindad dan penggunaannya sudah dilakukan di Indonesia. Kita ingin alutsista kita kembangkan dan itu juga bisa membangun perekonomian negara," ujarnya.

Wakasad: Setiap Tahun Alutsista Ditambah



Leopard 2. (Foto: KMW)

12 Desember 2011, Bandung (Antara Jawa Barat): Setiap tahun anggaran baru, TNI Angkatan Darat akan terus melakukan penambahan alutsista (alat utama sistem persenjataan) guna menuju minimum esensial (essential force), kata Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Budiman.

"Untuk tahun 2012 kita akan mendatangkan 100 tank Leopard 2A6 buatan Jerman. Kita sengaja membeli tank jenis itu, karena saat ini jenis itu merupakan tank terbaik yang ada di dunia. Dan kemampuan alat tempur kita harus terus dibenahi," katanya kepada wartawan usai menghadiri gladi kotor upacara Hari Juang Kartika 2011 di Lapangan Mako Brigif 15 Kujang Cimahi, Jawa Barat, Senin.

Menurutnya, salah satu alasan TNI AD membeli alutsista dari luar negeri karena sejumlah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang ada seperti PT Pindad, LEN, PAL dan Kojabahari belum mampu menciptakan sistem persenjataan serupa.

Meskipun terpaksa melakukan pembelian alutsista produk asing, pihaknya selalu menerapkan persyaratan "tranfer of technology."

"Kalau pun kita terpaksa harus membeli persenjataan dari luar, kita syarakatkan kepada produsennya untuk mau transfer ilmu pengetahuan kepada kita. Makanya, saat melakukan pembelian kita sengaja bawa tenaga ahli dari Pindad dan BUMN lainnya agar bisa mengadopsi teknologi yang telah negara lain gunakan," ujarnya.

Ditargetkannya, hingga 2014 mendatang sejumlah alutsista penting yang dibutuhkan TNI AD sudah bisa terpenuhi secara bertahap tiap tahun.

Menurutnya, pemenuhan alutsista merupakan tahap terakhir yang dilakukan TNI AD setelah fase pembangunan dan peningkatan SDM (sumber daya manusia) dilakukan dan kesejahteraan prajurit terpenuhi.

"Dalam rangka meningkatkan SDM kita benahi dengan peningkatan lembaga pendidikan yang ada. Latihan tempur dan anggaran pendidikan untuk hal ini sudah kita tambah. Meski demikian mengenai anggaran detail untuk pendidikannya tidak bisa saya sebutkan," ujarnya.

Begitu juga dengan kesejahteraan sudah dipenuhi oleh pemerintah. Prajurit telah diberi remunerasi yang cukup termasuk memperhitungkan bagi mereka yang telah berkeluarga dan biaya pendidikan anaknya.

Sedangkan mengenai peringatan Hari Juang Kartika 2011 yang digelar di Cimahi, menurutnya akan melibatkan sedikitnya 4.000 prajurit termasuk dari kalangan sipil seperti FKPPI dan Angkatan Muda Siliwangi.

Dijelaskannya, Hari Juang Kartika merupakan peringatan Hari Jadi Angkatan Darat.

"Meskipun hari jadi, dalam pelaksanaannya kita akan lakukan secara sederhana diberbagai bidang. Apa yang ada dan miliki akan kita tampilkan tanpa harus melebih-lebihkan," ujarnya

Sumber: ANTARA Jawa Barat

Sunday, December 11, 2011

KSAD : Kami Membeli Tank Leopard Untuk Menyamakan Kemampuan



Monday, December 12, 2011


JAKARTA - Tentara umumnya menyenangkan bila bikin janji: selalu tepat waktu. Persis pukul sebelas siang—seperti yang dijadwalkan— Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Pramono Edhie Wibowo menerima Tempo di kantornya, Markas Besar AD, Jalan Veteran, Jakarta. Tempat itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari kantor abang iparnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara.

Tidak seperti SBY yang jangkung dan besar, tinggi Pramono Edhie layaknya kebanyakan pria Indonesia, sekitar 165 sentimeter. Tubuh masih selangsing ketika dia lulus AKABRI pada 1980. Wajahnya, terutama mata, amat mirip ayahnya, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.

Sebelum pertanyaan pertama terlontar, dia mengajukan dua syarat. Pertama, dia tak mau fotonya ada di halaman wawancara. “Saya tidak mau dianggap lagi jualan,” kata dia. Syarat kedua: “Saya tidak mau ditanya soal politik.” Soal politik yang dimaksud adalah tentang isu bahwa dia akan dicalonkan dalam pemilihan presiden 2014.

Syarat ini juga berat, karena inilah salah satu hal penting yang ingin kami tanyakan sejak saat dia dilantik menjadi Kepala Staf, enam bulan lalu. Maklum, sebagai adik Ani Yudhoyono, banyak yang menganggapnya sebagai “putra mahkota” Cikeas.

Hal lain yang juga ingin kami tanyakan saat ini, yaitu soal pembelian senjata dan peralatan militer TNI AD secara besar-besaran tahun ini. Anggaran yang sudah disetujui parlemen untuk pembelian senjata selama tiga tahun ke depan Rp 14 triliun. Sebagian uang itu—US$ 280 juta (Rp 2,5 triliun) akan dibelikan seratus tank tempur (main battle tank) Leopard 2A6 buatan Jerman. Berbeda dengan para tetangga—Singapura, Malaysia, dan Thailand—yang telah memiliki puluhan bahkan ratusan tank besar sekelas itu, Indonesia hanya memiliki tank ringan.

Pembelian alat militer dalam jumlah besar seperti itu adalah gula yang terlalu menggiurkan untuk dilewatkan para makelar senjata. Bagi penghubung antara produsen senjata di luar negeri dengan TNI, rencana pembelian senjata besar-besaran ini adalah proyek yang bisa menjamin kesejahteraan tujuh turunan mereka. Bayaran untuk mereka cukup besar. Kalau 5 persen saja mereka bisa peroleh, maka Rp 700 miliar sudah pasti bisa dikantongi. Siapa tak ngiler? Soal fee untuk para perwira dan pejabat tinggi yang meloloskan, juga bukan rahasia lagi.

Untuk hal ini sang jenderal bersedia menjawab. Ia bahkan memilih topik ini sebagai “medan pertempuran” pagi itu. Selain meminta para perwira tinggi yang terlibat pembelian senjata menemani, di belakang kepalanya tersusun rapi dua buku—The Military Balance 2011 dan Leopard 2. Kacamata baca dan secarik kertas catatan tergeletak di atasnya, tanda dia baru saja mempelajari kedua buku itu.

Maka, proses pembelian senjata yang biasanya ditutup rapat-rapat, pagi itu ia beberkan.Perbincangan 89 menit yang amat menarik hingga kami—Tomy Aryanto, Setri Yasra, Fanny Febiana, Yogita Lal, Qaris Tajudin, dan juru foto Jacky Rachmansyah—lupa meminum teh hangat yang disediakan. Berikut petikannya.

Apa alasan TNI AD membeli sejumlah peralatan militer baru, termasuk tank Leopard?

Pertama, alhamdulillah kami mendapat anggaran yang cukup besar dari negara, sesuai dengan perkembangan ekonomi Indonesia yang baik. Tapi, kalau dibandingkan dengan pembelian peralatan dan senjata Angkatan Laut atau Udara, anggaran kami yang terkecil. Ini karena peralatan militer yang mereka butuhkan memang membutuhkan teknologi tinggi. Pesawat tempur, kapal laut, kapal selam, itu cukup mahal.

Kedua, untuk menentukan apa yang harus dibeli, saya harus melihat imbangannya pada kawan-kawan kami dari negara sahabat. Jangan diartikan, saya membeli untuk menyaingi mereka. Bukan. Saya membeli, untuk menyamakan kemampuan.

Malaysia, sudah punya puluhan main battle tank, demikian juga dengan Singapura. Thailand, sudah memiliki lebih dari 200 tank besar—meski sebagian adalah hadiah Amerika dari perang Vietnam. Kita, cuma punya light tank, tank ringan. Enggak imbang. Akibatnya, kita tidak pernah latihan bersama dengan teknologi yang sama.


Kapan terakhir kali membeli tank?


Cukup lama kita tidak membeli peralatan militer besar, karena keadaan ekonomi. Kalau dihitung, terakhir kita membeli peralatan militer dalam volume besar untuk Angkatan Darat itu 20 tahunan. Kalau hanya senjata dan alat infantri, ya tiap tahun kita perbarui. Kapan terakhir kali kita membeli tank? Scorpion, itu zaman Pak Harto, jauh sebelum dia turun.

Apakah tank itu memang kita butuhkan?

Membangun tentara itu, pertama adalah memilih personel. Saya di Angkatan Darat, tidak ada kendala memilih personel. Kalau ingin mendapatkan 200 tantama, yang mendaftar 4.000. Setelah personel dipilih, mereka dilatih, lalu dilengkapi. Nah, di situ masalahnya.

Seperti apa sih kondisi persenjataan kita saat ini dan idealnya itu seperti apa?

Pembangunan persenjataan itu sangat tergantung pada anggaran dari pemerintah. Ada kebijakan TNI untuk memberlakukan minimum essential force . Kelas kita memang masih minimal, bukan idealnya. Batalion kavileri Angkatan Darat itu ada lebih dari 10, yang baru saya mau belikan baru dua batalion. Itu minimum. Tapi kita kan harus mulai.

Tank yang Anda pilih besar sekali?

Ada beberapa orang yang memang menyampaikan kepada saya: "Tankmu kebesaran." Kok kita mau beli dibilang kebesaran, wong semua orang di kawasan ini sudah lama menggunakannya. Perang tank itu ya tank lawan tank. Kalau tank kita 76 (ton) dan di sana 105 atau 120, kita belum lihat tank mereka, sudah ketembak dulu he-he-he. Ya enggak imbang dong.

Tank kan macam-macam, ada Abrams dari Amerika, ada Leclerc dari Prancis, ada dari Rusia. Kenapa Angtan Darat memilih yang dari Jerman?

Leopard adalah tank yang dipakai 15 negara di dunia. Kalau orang pakai (mobil) Mercy, kita tidak perlu lagi uji-uji lagi. Mercy punya kelas tersendiri. Kalau Leclerc, memang besar, tapi yang pakai berapa negara? Tidak banyak.

Wakil Kasad Letjen Budiman: "Sebenarnya Leopard adalah tank terbaik di dunia, Abrams kalah. Saya pernah bawa Abrams waktu sekolah di Amerika. Leopard dari segi efisiensi bahan bakar, kelincahan manuver, ini terbaik. Saya kemarin pakai Leopard A5 saja, direktur Pindad geleng-geleng. Itu lebih sip dari mobil sedan, padahal dibawa ke medan yang luar biasa."


Bagaimana dengan Abrams?

Itu juga hanya sekutunya—seperti Israel atau Australia—yang diberi. Kita kan tidak dianggap bagian dari “sekutu” mereka. Kalau mereka membolehkan kita beli dan harga bersaing, ya saya mau.

Soal harga?

Untuk harga beliau (Wakil Kasad Letjen Budiman) yang menjawab.

Budiman menjelaskan bahwa harga Leopard 2 yang baru amat mahal, "Kita tidak mampu membelinya." Indonesia lalu membeli tank Leopard 2A6 bekas milik Belanda. Mereka akan melepas 150 Leopard buatan tahun 2003 itu. "Tank ini tidak pernah dipakai perang, tidak pernah dipakai latihan besar-besaran. Itu dalam garasi yang sangat terpelihara. Permintaan mereka: bersedia G to G (antar pemerintah, tanpa perantara)? Saya bilang ya. Bersedia tidak ada fee dan uang apa-apa? Saya bilang ya. Oke, kalau you bersedia, ini harga yang saya tawarkan."


Berarti ada anggaran yang tak terpakai?

Jadi awalnya itu kami mengajukan anggaran untuk 44 unit dengan harga US$ 280 juta. Kami laporkan kepada pemerintah, dialokasikan. Ternyata, setelah tim ini kembali, kami dapat 100. Wah, kita kayak ketiban rejeki, bukan ketiban duren. Kenapa tidak? Ya kan enggak salah toh kami. Saya tidak bisa bilang ini kelebihan, wong ini masih belum memenuhi untuk minimun essential force.

Bisa bayangkan, kalau dengan US$ 280 juta saya bisa membeli tank yang jumlahnya dua kali lipat, berarti kan keuntungan US$ 140 juta, Rp 1,3 triliun. Wah, saya beli apa saja bisa. Tapi kan saya jadinya durhaka. Enggak, enggak, enggak boleh begitu.


Jadi ini betul betul bebas broker?


Bebas sama sekali. Antar pemerintah.

Kenapa Wakasad yang memimpin tim pembelian?

Bukan saya tidak percaya orang lain, seperti Asisten Perencanaan dan Asisten Logistik. Ini karena kebijakannya bersifat sangat strategis. Sehingga harus wakasad yang memimpin. Saya yang menentukan kebijakan di belakang, supaya tidak terkontaminasi.

Tapi sebenarnya semua itu ada hitungannya. Jadi begini, kami semua di Angkatan Darat sepakat, untuk membangun TNI itu tidak murah, karena dana negara juga tidak banyak. Kami sepakat, ketika kita sudah diberi pangkat, remunerasi (penambahan gaji), semua penyimpangan itu harus dihilangkan. Sekarang yang ada hanyalah pengabdian. Tidak boleh lagi mengambil dari negara, karena negara sudah memberi.


Untuk peralatan lain juga begitu?


Saat saya di Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), pernah membeli alat bidik untuk senjata Pindad. Karena alat bidiknya canggih, kita belum bisa buat, ya kita beli dari luar. Harganya, awalnya ditawarkan Rp 24 juta per unit. Saya merasa harga ini kemahalan, karena saya bisa buka di internet, harganya enggak segitu. Saya tidak mau, saya perintahkan staf saya telepon ke Amerika. Mereka bilang: "Kami sudah punya agen di Indonesia dan Singapura." Saya bilang, "Saya tidak mau, karena harganya kemahalan." Saat saya bilang harganya Rp 24 juta, dia bilang, "Waduh ya memang terlalu mahal." Allah memberi jalan. Saya jadi Kepala Staf AD, asisten logistik saya diundang ke Amerika. Saya tugaskan, cari pabrik alat bidik itu, ternyata harganya US$ 900 (Rp 8,2 juta). Bisa dibayangkan, kalau dinaikkan tiga kali lipat, saya hanya bisa membeli peralatan untuk 1 batalion, padahal seharusnya bisa untuk 3 batalion.

Artinya, seluruh kegiatan pengadaan alutista tanpa broker?

Kita usahakan.

Bagaimana dengan perawatannya? Kalau nanti kita butuh spare part, kan harus berhubungan dengan broker lagi?


Nah, ini kebijakan saya juga. Niatkan, 30 persen belikan spare part. Tiga tahun, empat tahun, lima tahun, ndak mikir aku. Sebenarnya sudah ada aturan kalau membeli barang, 30 persen sisakan untuk suku cadang. Tapi, selama ini belum dilakukan. Saya hanya mengembalikan aturan yang lama. Karena saya menganggap itu yang benar.

Sekarang, kalau membeli barang harus sekalian sama pelurunya dan suku cadangnya. Jadi, anak-anak enggak boleh berpikir lagi, baru sekian bulan dipakai sudah rusak, enggak bisa diperbaiki. Pelatihan driver, gunner, pemimpin kendaraan, sampai teknik bertempur, manuver, dan montir. Itu masuk dalam perjanjian.


Setelah tiga tahun bagaimana?

Saya pensiun ha-ha-ha.

Kapan tank Leopard datang dari Belanda?

Kalau didukung, proses pembayarn cepat, tahun depan sudah ada. Wong itu tank sudah ada di dalam gudang kok.

Akan ditaruh di mana saja?

Semuanya di Jawa, karena cukup besar.

Tidak di perbatasan?

Kalau di perbatasan kurang bijak, karena kok kayaknya mancing-mancing kekeruhan ha-ha-ha. Kita tidak pernah melihat kawan-kawan kita sebagai mush.

Dengan pembelian ini kita sudah bisa mengimbangi?

Alhamdulillah sudah. Malaysia punya 64 main battle tank dari Rusia T-91.

Selain tank, sisa anggaran akan diapakai untuk membeli apa?

Ada sejumlah peralatan yang juga akan diganti, yaitu arhanud, pertahanan serangan udara. Pesawat tempur sekarang sudah supersonic, senjata yang kita miliki masih peluru. Harusnya peluru kendali (rudal). Kami juga beli ini dari Prancis, mereknya Mistral. Mistral itu 95-99 persen pas di sasaran. Tapi cukup mahal.

Kami juga mengganti armed, meriam. Sampai saat ini kita belum punya kaliber 155 yang masuk kategori heavy caliber. Alhamdulillah, kami awalnya alokasikan untuk 1 batalion, tapi dapatnya 2 batalion. Jarak tembaknya akurat, produknya Prancis, combat proven, sudah dibawa ke Afganistan. Kita juga membeli MLRS, multi louncher rocket system. Ada dua negara yang kita dekati, Brazil dan Amerika Serikat. Rusia itu memang bagus, tapi harus lewat mafia yang harganya enggak tetap.


Wah, kayaknya siap perang. Kenapa beli meriam juga?

Meriam 76 itu adalah meriam Yugoslavia. Itu dari zaman Pak Karno. Ada seorang letnan, begitu lulus akademi militer menembakkan meriam 76. Ketika dia pensiun, meriamnya belum pensiun. Tiga puluh tahun! Kita enggak boleh dong begitu terus.

Dengan banyak merek, apa perawatan tidak repot?

Kita sudah terbiasa dengan perawatan produk yang bermacam-macam, karena teknologi berkembang.

Tidak ada penolakan dari parlemen negara produsen?

Dari Prancis tidak ada penolakan, Inggris tidak, Belanda segera menindaklanjuti, Jerman juga tidak masalah. Masalah hanya ada saat membeli helikopter Apache. Sebenarnya produsen Apache sudah memberi harga fix kepada kita, tapi parlemen Amerika Serikat masih mempertimbangkan soal keseimbangan kawasan. Singapura yang sekutu merka baru punya dua, kita mau beli delapan.

Biasanya Amerika kan agak bawel soal aturan penggunaan senjata. Bagaimana mengatasinya?

Ya memang, seperti Amerika dulu ada aturan salah satu senjata berat mereka tidak boleh dipakai di Papua. Lah, buat apa juga kita menembak rakyat sendiri pakai roket? Jadi, aturan dari mereka sebenarnya juga tidak terlalu membatasi kita.

Admin : Pertanyaan-pertanyaan soal Konflik Papua sengaja tidak saya tampilkan. Untuk jelasnya bisa di cek di link sumber berita.

Kembali ke soal senjata. Bagaimana kami bisa yakin Anda tidak diuntungkan dalam pembelian senjata?

Saya mencoba untuk terbuka, siap diaudit setiap saat. Kalau sekarang saya berusaha terbuka, semua bisa terlihat. Boleh ditanya saya dapat berapa persen dari pembelian ini. Saya tidak punya beban untuk menyerahkan pembelian tank itu kepada orang lain jika mereka bisa mendapatkan jumlah yang lebih banyak dengan spesifikasi yang sama.

Empat tahun lalu, kami mebeli truk harganya Rp 600 juta. Sekarang saya beli truk dengan spesifikasi yang sama, pasti lebih mahal dong. Tapi, saya bisa dapatkan dengan harga yang sama, Rp 600 juta. Jumlah yang seharusnya disiapkan 79 truk, setelah mendapatkan harga yang lebih murah, menjadi 113 unit. Ini berarti waktu empat tahun lalu kita beli itu keuntungan mereka luar biasa.


Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Latihan Bersama Elang Ausindo Dimulai


JAKARTA – Untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme personel TNI AU dan Royal Autralian Air Force (RAAF) khususnya awak pesawat angkut C-130 Hercules di bidang teknik dan taktik pengedropan barang, selama satu minggu , diadakan latihan udara bersama dengan sandi “Rajawali Ausindo” 2011 yang dilaksanakan di Pangkalan RAAF Base Darwin.

Dalam latihan tersebut TNI AU melibatkan satu pesawat C-130 Hercules dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma dan tujuh belas crew yang terdiri penerbang, navigator, load master, teknisi dan Radio Teknik Udara (RTU). Sedangkan RAAF melibatkan satu pesawat C-130 dari Skadron Udara 37 Wing 84 RAAF yang bermarkas di Richmond, New South Wales.

Dari pelaksanaan Air Manouver Exercise (AMX) tiap-tiap pesawat melaksanakan pengedropan barang dengan teknik Container Delevery System (CDS) dan Compact Dropping (CD) dengan area droping zone di Delamere AWR (Air Weapon Range).

Sumber : POSKOTA.CO.ID

SAF Showcases Integrated Strike Capabilities at Exercise Forging Sabre 2011


10 Desember 2011
A Republic of Singapore Air Force (RSAF) F-15SG fighter aircraft deploying a Laser Joint Direct Attack Munition (LJDAM) during Exercise Forging Sabre 2011. (all photos : Mindef)
The Singapore Armed Forces (SAF) successfully conducted an integrated live-firing during Exercise Forging Sabre 2011 in Phoenix, Arizona, USA earlier today (Singapore time). Held from 28 Nov to 11 Dec 2011, the exercise involves more than 450 personnel from the Republic of Singapore Air Force (RSAF) and the Army as well as assets such as F-15SG and F-16C/D fighters, and Apache AH-64D and Chinook CH-47 helicopters from the RSAF. Exercise Forging Sabre 2011 is the third instalment in the series which began in 2005.
The integrated live-firing, orchestrated by the exercise command post staffed by officers from the air force and army, involved multiple sensor and shooter platforms and was witnessed by Chief of Air Force, Major-General (MG) Ng Chee Meng and other senior SAF officers. Besides the deployment of advanced strike munitions, including Joint Direct Attack Munitions (JDAMs) and Hellfire missiles, the exercise also saw the RSAF's F-15SG aircraft dropping Laser JDAMs for the first time against mobile targets in day and night mission scenarios.


Speaking after viewing the integrated live-firing, MG Ng noted that Exercise Forging Sabre 2011 provided an excellent opportunity for the SAF to validate its integrated strike capabilities in a realistic and challenging environment. He said: "I am very impressed by our people's combat proficiency, professionalism and dedication. I saw for myself today how our airmen and soldiers worked to bring together a sophisticated suite of both sensors and shooters, like our F-15SGs, F-16C/Ds and Apaches, to effect an integrated strike against a variety of targets, including mobile targets. This in itself is a very complex operation and I think they have done very well." MG Ng also noted that the US' support of the Forging Sabre series of exercises was a testament to the long-standing and excellent defence ties between Singapore and the US. Besides interacting with SAF personnel participating in the exercise, MG Ng also took the opportunity to meet family members of SAF servicemen in the RSAF's F-16C/D training detachment at Luke Air Force Base.
Training in the US enables the SAF to build up its operational capabilities and readiness. Apart from supporting the conduct of training exercises such as Forging Sabre, the US also supports the RSAF's F-15SG, F-16C/D, Apache AH-64D and Chinook CH-47 aircraft training detachments in the US.
See Also :
Joint Direct Attack Munition (JDAM) and Laser JDAM
Inert Laser Joint Direct Attack Munitions loaded onto a Republic of Singapore Air Force F-15SG aircraft during an arming demonstration.
The Joint Direct Attack Munition (JDAM) is a guidance kit developed by Boeing which converts an unguided bomb into an accurately-guided and all-weather "smart" munition that can be launched 15 nautical miles from its target. The kit consists of a Global Positioning System and Inertial Navigation System fitted at the tail end of a bomb body, as well as aerodynamic body strakes to provide additional stability and lift. The Laser JDAM (LJDAM) is a JDAM guidance kit enhanced with a laser seeker that provides terminal guidance and improves precision accuracy.
The Republic of Singapore Air Force's ability to deliver JDAMs and LJDAMs against a variety of targets, including mobile targets, in day and night mission scenarios contributes significantly to the Singapore Armed Forces' integrated strike capabilities.

BERITA POLULER