Pages

Sunday, December 11, 2011

Air Force Defends B10bn Budget Call


10 Desember 2011
RTAF JAS-39C Gripen (photo : Scramble)
The air force is defending its request to the government for 10 billion baht for post-flood rehabilitation work.
Air force chief Itthaporn Subhawong said the flood caused vast damage to expensive facilities and high-technology communication systems and armaments.
Cutting the budget would compromise the air force's ability to do its job.
Prime Minister Yingluck Shinawatra has questioned why the air force needs so much and asked for more detail, Defence Minister Yutthasak Sasiprapa said.
The prime minister, who visited the Defence Ministry yesterday, said the air force should prioritise spending and break it down into more detailed figures.
ACM Itthaporn said the air force asked for 10,563 million baht. He said the damage was assessed by a government-appointed committee.
"The budget we proposed truly reflects the amount of damage the air force incurred," he said.
Some equipment that was not totally ruined would be fixed, not replaced.
"We understand flood recovery in the country will be expensive. But the air force is one of the country's main defence systems.
"If rehabilitation is insufficient, we won't be able to function with the same level of capability as before," he said. The faster the money is disbursed, the sooner the force will get back on its feet.
The source said the air force may still consider trimming the funding request by up to 1.3 billion baht. It would carry out as much repair work as possible rather than acquiring new equipment.
Ms Yingluck plans to visit the air force again on Wednesday, when she will also visit the army. She will drop in on the navy the next day. "We must work together and treat each other with honour," she said. Gen Yutthasak said Ms Yingluck plans to visit the Defence Ministry regularly and have lunch with the armed forces leaders every two months as part of a policy of forging closer ties with the military.

After Warships, Aquino Now Wants to Acquire US Warplanes


10 Desember 2011

F/A18 Hornet at the AMARC in Tucson Arizona (photo : Aerommore)
MANILA, Philippines—President Benigno Aquino will ask US President Barrack Obama for fighter jets when they meet, probably sometime next April.
Aquino, a member of the Philippine Air Force reserve, made this disclosure in a speech to PAF personnel at the opening ceremonies of the PAF Invitational Shootfest and firing range blessing at the Villamor Airbase on Saturday.
“We went to Bali, Indonesia, recently and when we’re leaving for the Philippines, we saw on their airport three F-16s parked and they would be given two squadrons more by our American friends,” Aquino said in an impromptu speech.
“I said, this looks rather equitable. Two squadrons for them, one ship for us,” he added in jest.
Aquino said he would remind Obama of the strategic partnership between the Philippines and the US.
Obama has invited Aquino for a state visit to the US next year.
“I think that when I and President Obama meet next year, perhaps around April, I will remind him of our strategic partnership. They might remember that we don’t have a fighter jet here,” the President said.
The Philippines has already acquired from the US a Hamilton-class cutter and has named the erstwhile US Coast Guard vessel as the Navy’s BRP Gregorio Del Pilar.
“The Navy will be getting—I am told, I have been assured—our second Hamilton-class cutter sometime next year,” Mr. Aquino said. “And we did request that when it is given to us, they would no longer remove the equipment installed for us to put back in place… and it appears that our request would be granted…. Perhaps not the entire system, but a lot of it.”
US Secretary of State Hillary Clinton told Defense Secretary Voltaire Gazmin during talks in Manila in November that Washington would give the Philippines a second cutter virtually for free in 2012.
The Philippines and the US signed a Mutual Defense Treaty in 1951.
The US recently indicated its preparedness to assist its allies in East Asia and Southeast Asia to ensure the free flow of economic activity and the implementation of maritime rules in the region.

RI-Malaysia perkuat hubungan melalui pelatihan "ESQ"


Senin, 12 Desember 2011 00:07 WIB | 1448 Views
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pertahanan Malaysia Dato Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi mengatakan, Indonesia dan Malaysia dapat memperkuat hubungan kedua negara melalui kegiatan spiritualitas seperti pelatihan pemberdayaan sumber daya manusia ESQ.

"Kegiatan pelatihan ESQ ini dapat menjadi jembatan bagi hubungan kedua negara yang semakin baik di masa depan," katanya, usai mengikuti pelatihan pemberdayaan sumber daya manusia di lembaga ESQ pimpinan Ary Ginandjar di Jakarta, Minggu malam.

Ia mengatakan keikutsertaannya kali ini merupakan kedua kalinya, sejak 2009.

"Sebelumnya saya mengikuti pelatihan ESQ Ary Ginanjar bersama para pejabat militer dan kementerian pertahanan Malaysia," ungkap Ahmad Zahid.

Ia menambahkan, "Pada tahun ini saya kembali mengikuti pelatihan ini bersama istri dan anak-anak saya."

Ahmad Zahid mengemukakan pelatihan ESQ yang dijalani tersebut dapat memberikan kontribusi hubungan hati dua negara serumpun yang terpisah oleh penjajahan.

Ia mengatakan, berbagai persoalan yang kerap menjadi kerikil tajam bagi hubungan kedua negara seperti masalah perbatasan dan Tenaga Kerja Indonesia, dapat diselesaikan dengan baik jika dihadapi dengan bijak.

"Dan sikap bijak itu hanya bisa dilatihkan melalui ESQ ini. Jangan, segala persoalan yang ada ini dibesar-besarkan sehingga menjadikan kedua negara lupa bahwa memiliki hubungan budaya, bahasa dan agama yang serumpun," katanya.

Ahmad Zahidi mengaku sangat menyayangkan penilaian sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa Malaysia "penindas" rakyat Indonesia.

Padahal, semua persoalan itu dapat diselesaikan dengan baik tanpa terlalu dibesar-besarkan sehingga merusak hubungan baik kedua negara, tutur Menhan Ahmad Zahid.

"Bagaimana Malaysia dan Indonesia akan berperang, jika salah satu pihak tidak setuju untuk perang. Dan lagi, para pejabat militer dan Kementerian Pertahanan Malaysia belajar ESQ di Indonesia...bagaimana kita akan berperang," ujarnya menekankan.

Dalam pelatihan pemberdayaan sumber daya manusia dengan menggabungkan unsur intelektual, emosional, dan spiritual di ESQ Ary Ginanjar, Menhan Ahmad Zahid menyertakan istri dan tiga orang anaknya.

Hadir dalam penutupan kegiatan pelatihan tersebut, Ketua DPD Irman Gusman, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin, dan para pejabat yang menjadi alumni pelatihan ESQ lembaga tersebut.

ESQ atau Emosional Spritual Quetient adalah adalah lembaga training membentuk karakter kepemimpinan yang digelar oleh ESQ Leadership Centre. ESQ merupakan gabungan emosional, spiritual dan quontient, yaitu kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. 


Malaysia ingin hubungan lebih erat dengan Indonesia

Senin, 12 Desember 2011 01:22 WIB | 1034 Views

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pertahanan Malaysia Dato Seri Dr. Ahmad Zahid bin Hamidi mengatakan bahwa negaranya senantiasa ingin menjalin hubungan lebih baik dan erat dengan Indonesia.

"Dan itu semua perlu dukungan dan komitmen dari semua elemen bangsa, baik Malaysia maupun Indonesia," katanya usai mengikuti pelatihan sumber daya manusia "ESQ" di Jakarta, Minggu (11/12) malam.

Ahmad Zahid mengakui banyak persoalan yang dihadapi kedua negara, terutama masalah perbatasan kedua negara dan tenaga kerja Indonesia atau tenaga kerja wanita.

"Namun, jangan sampai segala persoalan itu terlalu dibesar-besarkan hingga mengganggu hubungan baik kedua negara. Bahkan, persoalan itu dipolitisasi pihak ketiga yang tidak senang dengan hubungan baik Malaysia-Indonesia," tuturnya.

Oleh karena itu, lanjut Menhan Malaysia, perlu ada komitmen dari seluruh elemen, baik di Malaysia maupun Indonesia, untuk memperkuat hubungan kedua negara di berbagai bidang.

"Tidak saja goverment to goverment, tetapi juga politician to politician, bussines to bussines, dan people to people kedua negara juga harus memiliki komitmen untuk memperkuat hubungan kedua negara semakin erat dan baik," ujar Ahmad Zahid.

Jika itu terjalin kuat, segala persoalan yang dihadapi kedua negara dapat diselesaikan dengan baik tanpa harus dibesar-besarkan, katanya menambahkan.

Ahmad Zahid menegaskan, meski ada berbagai persoalan yang dihadapi, Malaysia dan Indonesia tidak akan berperang.

"Dulu saat Indonesia melancarkan konfrontasi dengan Malaysia, Adam Malik pernah berkata Indonesia dan Malaysia tidak akan pernah berperang jika salah satu pihak tidak setuju perang dilakukan," katanya.

Ahmad Zahid menegaskan,"Jangan segala persoalan yang ada terlalu dibesar-besarkan hingga melupakan bahwa kita adalah negara serumpun yang memiliki bahasa, budaya yang hampir sama."


ANTARA

Pasukan Katak Koarmabar Latihan Tempur di Dumai


 
Wahyu Wening / Jurnal Nasional
Jurnas.com | SATUAN Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) melaksanakan Latihan Gladi Tugas Tempur setingkat K-2 dengan melaksanakan Manuver Sea Rider Ship Boarding (VBSS), fast rope dan stabo, di Dumai, Jumat (9/12) kemarin.

Kegiatan latihan diawali dengan upacara pembukaan pada tanggal 5 Desember 2011 di Pondok Dayung dengan Inspektur Upacara Komandan Satkopaska Koarmabar Kolonel Laut (P) R. Eko Suyatno. Selanjutnya melaksanakan pergeseran pasukan (Serpas) dengan menggunakan KRI Teluk Celukan Bawang (TCB) - 532 ke daerah latihan di Dumai. Setibanya di dumai, melaksanakan latihan drill VBSS, drill fast rope dan stabo.

Latihan Tempur setingkat K-2 diikuti beberapa detasemen Satkopaska Koarmabar. Tujuan pelaksanaan latihan gladi tugas tempur adalah untuk memelihara, meningkatkan dan memantapkan keterampilan dan kesiapan operasional prajurit Satkopaska Koarmabar. Selain itu untuk mewujudkan kemampuan baik perorangan maupun kerja sama tim agar mampu serta menguasai teknik maupun taktik prosedur di lapangan termasuk bekerjasama dengan unsur-unsur satuan lain guna mendukung tugas pokok TNI khususnya TNI Angkatan Laut.

Menurut Kadispen Koarmabar, Letkol Laut (KH) Agus Cahyono seperti dilansir dalam siaran persnya, Latihan Geladi Tugas Tempur Setingkat K2 Satuan Pasukan Katak Koarmabar dilaksanakan dua minggu pada pertengahan bulan Desember 2011 di Dumai Pekanbaru, Riau. Selama latihan materi yang diberikan antara lain latihan teori dan praktek meliputi VBSS, Fast Rope dan Stabo, terjun free fall serta demolisi bawah air.

Menurutnya, Pelaksanaan Latihan Geladi Tugas Tempur Setingkat K2 Satkopaska tersebut, sekaligus akan dilibatkan dalam demo memperingati Hari Nusantara tanggal 13 Desember tahun 2011 yang dipusatkan di Dumai, Pekanbaru Riau. Prajurit Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) melaksanakan Manuver Sea Rider Ship Boarding (VBSS) dalam Latihan Gladi Tugas Tempur setingkat K-2, di Dumai.Lantamal Tanjung Pinang Gelar Latihan Penangulangan Kebakaran
 
tic tmc metro / tic tmc metro
Jurnas.com | PANGKALAN Utama Angkatan Laut (Lantamal) IV Tanjung Pinang salah satu pangkalan utama dibawah jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) dengan Komandan, Laksamana Pertama (Laksma) TNI Darwanto S.H.,M.AP., melaksanakan latihan penanggulangan bahaya kebakaran di Lapangan Markas Komando (Mako) Lantamal IV Tanjung Pinang, Rabu (7/12) lalu.

Latihan penanggulangan bahaya kebakaran tersebut dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan personel dalam menanggulangi bahaya kebakaran yang melibatkan seluruh anggota Mako Lantamal IV Tanjung Pinang.

Menurut Kadispen Koarmabar, Letkol Laut (KH) Agus Cahyono, Latihan tersebut dipimpin Komandan Detasemen Mako (Dandenma) Lantamal IV Tanjung Pinang Mayor Laut (P) Arif Bustaman. Materi latihan meliputi pemberian teori dan praktek proses pemadaman kebakaran dengan menggunakan peralatan pemadam yang tersedia, terhadap kebakaran yang disebabkan antara lain konsleting listrik, barang cair/bahan minyak.

Dandenma Lantamal IV Tanjung Pinang Mayor Laut (P) Arif Bustaman mengatakan, kegiatan latihan penanggulangan bahaya kebakaran merupakan latihan rutin yang dilaksanakan tiap triwulan, sehingga diharapkan seluruh personel memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menanggulagi bahaya kebakaran di tempat kerja maupun lingkungan tempat tinggal serta perumahan, yang menyangkut keselamatan personil dan material.

JURNAS

TNI Ikuti Kejuaraan Taekwondo di Vietnam


 
Yudhi Sukma W / Jurnal Nasional
Jurnas.com | SEBANYAK 17 orang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengirimkan 17 orang atlet Taekwondo untuk mengikuti Vietnam People’s Army Open Taekwondo Championship di Vietnam.

Kejuaraan ini merupakan agenda tahunan olahraga prestasi Angkatan Bersenjata Vietnam yang diarahkan bagi tiga kepentingan. Pertama, kegiatan tahunan berjalan (day run) sebagai laporan keanggotan Vietnam yang dituangkan dalam bentuk pengisian situs atau website CISM.

Kedua, meningkatkan hubungan antar atlet Angkatan Bersenjata ASEAN dan Asia. Ketiga adalah kegiatan persiapan dan uji coba venues dalam rangka Vietnam sebagai tuan rumah single event Kejuaraan Dunia Militer Taekwondo CISM (CISM World Military Taekwondo Championship) pada 11-20 Agustus 2012 mendatang.

Seperti dilansir dalam siaran pers Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Cpl. Minulyo Suprapto, untuk mencapai kepentingan tersebut, Vietnam melalui Perwakilan Militer melakukan sosialisasi dengan mengundang negara-negara Asean dan beberapa negara Asia.

Keikutsertaan TNI atas dasar undangan pada kejuaraan tersebut merupakan peluang dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Vietnam dan multilateral dalam konteks Friendship through sport and game for peace. Selain itu, sebagai tolok ukur kapasitas dan kapabilitas atlet Taekwondo TNI, sekaligus sebagai persiapan kemungkinan keikutsertaan TNI pada CISM World Military Taekwondo Championship 2012 di Vietnam.

Pada kejuaraan taekwondo kali ini, Delegasi TNI dipimpin oleh Kolonel Mar. Bambang Sutrisno. Rencana kelas pertandingan yang akan diikuti oleh kontingen TNI terbagi dua untuk putra (Kelas 54-59 kg, kelas 58-63 kg, kelas 63-68 kg dan kelas 68 -74 kg) dan putri (kelas 49-53 kg dan kelas 53-57 kg). Kejuaraan Vietnam People’s Army Open Taekwondo Championship ini berlangsung pada tanggal 8-13 Desember 2011.

Dijelaskan, pengiriman dua atlet TNI pada setiap kelas diarahkan kepada dua tujuan, yaitu pada aspek strategi dan aspek kuantitas. Pada aspek strategi diarahkan guna menjaring pemenangan dalam setiap kelas yang dipertandingkan. Sedangkan pada aspek kuantitas dan ditinjau bagi kepentingan pembinaan diarahkan dalam rangka memberikan penambahan pengalaman bertanding dalam lingkup internasional kepada atlet taekwondo TNI.

JURNAS

Saturday, December 10, 2011

Hentikan Produkdi Bila Rafale Tidak Laku

Paris - Pemerintah Perancis
memutuskan akan menghentikan
produksi pesawat tempur Rafale
apabila pihak pabrikan pesawat itu,
Dassault Aviation, gagal menjual
pesawat ini ke luar negeri. Produksi
hanya akan dilanjutkan untuk
menyelesaikan pesanan Angkatan
Bersenjata Perancis.
"Jika Dassault tidak bisa menjual
Rafale ke luar negeri, produksinya
akan dihentikan," tandas Menteri
Pertahanan Gerard Longuet kepada
wartawan di Paris, Rabu (7/12 /2011).
Menurut Longuet, produksi akan
dihentikan begitu pesanan 180
pesawat dari Angkatan Bersenjata
Perancis selesai dibuat pada 2018.
Pesawat bersayap delta, yang
dibanggakan Perancis sebagai
pesawat tempur canggih itu, belum
satu pun terjual di luar negeri sejak
pertama kali dioperasikan pada 1998.
Saat ini, Rafale sedang bersaing
dengan pesawat Eurofighter Typhoon
buatan untuk memenangi kontrak
pembelian 126 pesawat tempur
multiperan menengah dari AU India.
Longuet mengatakan, pihaknya masih
berunding alot dengan pihak Uni
Emirat Arab (UEA), yang berencana
membeli 60 pesawat generasi 4,5 ini.
Namun, pihak UEA bulan lalu
mengatakan penawaran dari Perancis
ini tidak kompetitif dan memilih
melirik Typhoon serta beberapa
tawaran produk lain dari AS.
Bocoran kawat diplomatik rahasia AS
yang dimuat WikiLeaks pada 2010
menyebutkan, Raja Hamad dari
Bahrain pernah mengejek Rafale
sebagai pesawat dengan "teknologi
masa lalu".
Rafale juga tidak beruntung di Swiss,
yang lebih memilih membeli pesawat
Saab Gripen buatan Swedia untuk
menggantikan armada angkatan
udaranya yang sudah mulai menua.
Saat ditanya mengapa Rafale susah
laku di luar negeri, Longuet mengakui,
harga Rafale lebih mahal dibanding
pesawat setara dari AS, karena
diproduksi dengan jumlah jauh lebih
sedikit daripada pesawat buatan AS.
"Saat kami memesan 200 pesawat
Rafale untuk program 10 tahun
hingga 15 tahun, AS memproduksi
3.000 pesawat," ungkap Longuet.
Rafale dibangun oleh tiga kontaktor
utama, yakni Dassault, perusahaan
elektronik Thales, dan produsen
mesin Snecma. Namun, secara
keseluruan, proyek pengembangan
Rafale yang sudah menelan biaya
total 40 miliar euro (Rp 485,6 triliun)
itu, melibatkan lebih dari 1.500
perusahaan Perancis.
Rafale, yang dijuluki sebagai pesawat
"omnirole" (mahabisa) oleh
pembuatnya, turut terlibat dalam
operasi udara di Afganistan dan Libya,
sehingga dilabeli "combat
proven" (teruji dalam pertempuran)
di laman resminya.
Pesawat ini dibuat dalam tiga varian,
yakni Rafale C (berkursi tunggal,
dioperasikan dari pangkalan darat),
Rafale B (berkursi tandem,
dioperasikan dari pangkalan darat),
dan Rafale M (berkursi tunggal,
dioperasikan dari kapal induk).
Sumber : KOMPAS

Dua KRI memperkuat KOARMATIM

9 Desember 2011, Surabaya (Koarmatim):
Perairan Indonesia ditinjau dari kondisi
geografis dan perkembangan lingkungan
dewasa ini kawasan perairan Indonesia
memiliki nilai strategik yang sangat penting,
khususnya sebagai jalur perdagangan dan
perekonomian dunia. Demikian antara lain
dikatakan oleh Panglima Komando Armada
RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda
TNI Ade Supandi, SE. dalam amanat
tertulisnya, saat memimpin upacara
penerimaan KRI Salawaku -842 dan KRI
Badau-841 , di Dermaga Madura Koarmatim,
Ujung Surabaya, Jumat (9/12 ).
Menurut Pangarmatim, nilai strategis
tersebut membawa konsekuensi timbulnya
berbagai kerawanan yang sewaktu-waktu
dapat terjadi, sehingga harus diantisipasi
dengan baik dan disiapkan upaya
penanggulangannya secara tepat dan cepat.
“Dengan kehadiran ke dua KRI ini akan
memperkuat Koarmatim dalam penegakan
kedaulatan dan pengendalian perairan
yuridiksi nasional, khususnya yang menjadi
tanggung jawab Koarmatim,”tegas
Pangarmatim.
Dua KRI tersebut merupakan kapal perang
hibah dari Pemerintah Brunei Darussalam,
yang sebelumnya masuk jajaran Komando
Armada RI Kawasan Barat. KRI Salawaku –
642 dibuat di galangan Vosper Pty.
Ltd. ,Singapura pada tanggal 3 Oktober
1978 dan diliuncurkan pada tanggal 16
Maret 2979 dengan Nama Kapal KDB
Waspada P 02. Oleh pemerintah Brunei
dihibahkan kepada TNI AL pada tanggal 15
April 2011 serta diresmikan menjadi KRI
Salawaku-642 di Jakarta. Kemudian resmi
masuk jajaran TNI AL yang diterima oleh
Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan)
Marsekal Madya TNI Eris Herriyanto, MA. di
Dermaga Muara Naval Base Brunei.
KRI Badau dibuat di negara dan galangan
kapal yang sama, hanya saja yang
membedakan adalah tanggal
peluncurannya. Kalu KRI Badau diluncurkan
tanggal 25 Maret 1979. Pada tanggal 16
April 2011 sampai dengan 19 April 2011
dilaksanakan operasi penyeberangan dari
Muara (Brunei Darussalam)- laut Cina
Selatan, Pontianak, Selat Karimata, Laut
Jawa, Jakarta.
KRI Salawaku yang semula masuk ke jajaran
Komando Armada RI Kawasan Barat di
kelas kapal cepat setelah masuk ke
Koarmatim, kapal tersebut masuk di jajaran
kapal patroli. Perubahan kelas tersebut
juga membawa perubahan pada nomor
lambung kapal yang semula -642 menjadi
-842. Di Koarmatim satuan Kapal patroli
menggunakan nomor lambung dengan
menggunakan angka kepala 8. Demikian
juga dengan KRI Badau-841 yang semula di
Koarmabar dijajaran kapal cepat
menggunakan nomor lambung -641 setelah
masuk Koarmatim bergabung dengan
satuan kapal patroli nomor lambungnya
menjadi -841.
Saat ini KRI Salawaku-842 dikomndani oleh
Mayor Laut (P) Alfred Daniel Mathews dan
KRI Badau-843 dikomandani oleh Mayor
Laut (P) Komaruddin. Kedua komandan ini
merupakan Komandan pertama kapal hibah
tersebut setelah resmi masuk dalam jajaran
kekuatan TNI Angkatan Laut.
Sumber: Dispenarmatim

BERITA POLULER