Pages

Wednesday, December 7, 2011

Wamenhan Tinjau Produsen Alutsista TNI



 
Wahyu Wening / Jurnal Nasional
Jurnas.com | WAKIL Menteri Pertahanan (Wamenhan), Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin akan melakukan peninjauan kesiapan produsen dalam memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.

Berdasarkan informasi dari Staf Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Wamenhan dijadwalkan akan meninjau kesiapan produsen alutsista TNI di Dok Koja Bahari, Jalan Sindang Laut 101 Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (8/12) pukul 09.00 WIB.

Terkait modernisasi alutsista TNI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara khusus memberikan perhatian dengan mengagendakannya dalam sidang kabinet bulan November lalu.

Menurut Presiden, pemerintah telah menetapkan kebijakan modernisasi pembangunan pertahanan utamanya jajaran TNI dan dalam skala tertentu Polri termasuk rencana pengadaan alutsista untuk jangka menengah dan jangka panjang. Selama pembangunan 2009-2014, pemerintah juga sudah ditetapkan dukungan pengadaan alutsista.

"Telah saya putuskan dan kita telah menyinkronisasikan kebutuhan pertahanan jajaran TNI/Polri dan dukungan anggaran yang dikelola oleh Kemenkeu dan dalam batas tertentu Bappenas," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pengantar Rapat Kabinet Terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (10/11).

Presiden mengajak memikirkan pengadaan tambahan alutsista di luar yang sudah disetujui. Padahal batas anggaran sudah ditetapkan. "(Jika itu terjadi) tentu kita bahas kembali," kata Presiden.

Kepala Negara mengingatkan, kembali kebijakan dasar alutsista yang mengharuskan membeli produk dalam negeri.

"Wajib hukumnya menggunakan alutsista produk industri pertahanan kita manakala alutsista sudah bisa diproduksi oleh jajaran industri pertahanan kita. Kalau belum bisa kita mesti membeli dari negara sahabat tanpa konditionalitas (syarat) apalagi konditionalitas politik," kata Presiden.

jurnas

TNI AL Gelar Latihan Bersama US Navy


(Foto: Dispenarmatim)

6 Desember 2011, Surabaya (Dispenarmatim): Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut menggelar latihan bersama dengan Angkatan Laut Amerika (US Navy) dalam Improvised Explosive Disposal (IED), Explosive Ordonance Disposal (EOD) Training –Underwater Demolitions Suubject Matter Expert Exchange (SMEE). Latihan tersebut dibuka oleh Komandan Komando Latihan Armada Timur (Kolatarmatim) Kolonel Laut (P) Budhianto di Kolatarmatim, Ujung, Surabaya, Selasa (6/12).

Latihan akan berlangsung selama 4 hari mulai tanggal 6 hingga 10 Desember 2011. Latihan ini bertujuan saling menguntungkan diantara kedua belah pihak. Keuntungan itu antara lain meningkatkan interobilitas dan pemahaman serta kerjasama antara TNI AL dan US Navy, memantapkan kemampuan dan profesionalisme prajurit TNI AL dalam hal IED, EOD dan SMEE dan meningkatkan hubungan diplomatik dua Negara, khususnya bidang militer serta terjalinnya kerjasama taktis dan teknis TNI AL dengan US Navy.

Dalam sambutan Pangarmatim Laksamana Muda TNI Ade Supandi, SE yang dibacakan Komandan Kolatarmatim mengatakan, bahwa Latihan ini merupakan tindak lanjut dari hasil training Planning Conference IED/ EOD training Underwater Demolitions Subject Matter Expert Exchange (SMEE), antara US Navy dengan TNI AL, yang telah dilaksanakan tanggal 4 oktober 2011 di Surabaya.

“Kita ketahui bersama, bahwa perkembangan ilmu dan teknologi berubah begitu cepat pada semua bidang, tidak terkecuali pada bidang teknologi militer, seperti kesenjataan dan bahan peledak. Bahkan masyarakat sipil pun saat ini telah banyak yang mengenal dan menguasai sistem kesenjataan dan seluk beluk bahan peledak,”kata Pangarmatim.

Menurut Pangarmatim, yang perlu diwaspadai adalah bahwa terdapat beberapa oknum yang dengan keahliannya itu digunakan tidak sebagaimana mestinya , namun justru dipakai untuk hal-hal yang dapat merugikan dan mengancam keselamatan orang lain, seperti aksi-aksi terorisme dan kejahatan bersenjata lainnya.

“Hal ini memberikan konsekuensi dan tuntutan kepada kita sebagai personel militer untuk memahami dengan benar terhadap teknologi kesenjataan dan bahan peledak yang salah satunya adalah pengetahuan tentang dasar-dasar IED, EOD dan mengetahui SOP dalam menangani bahan peledak,” tegas Pangarmatim.

Peserta Latihan ini terdiri dari Prajurit dari Satuan Kapal Ranjau (Satran) Koarmatim dan Koarmabar, Satkopaska Koarmatim dan Koarmabar, Dislambair Koarmatim, Pasmar 1 Yon Zeni Marinir, Perwakilan Arsenal/Labinsen dan perwakilan US Navy, Pendukung dan Penilai.

Latihan bersama Negara sahabat ini merupakan latihan bersama yang saling memantapkan bidang Training Introduction, Basic IED Definition, IED SOP, Tools And Tehniques, Search Tehniques With Pratice, Disruption Device Pratice, Basic Definition Of EOD, Standart Operation Procedure, Recognition, Disposal, Pratice (EOD/IED) serta Underwater Demolition SMEE. Latihan ini diikuti oleh 72 peserta.

Sumber: Dispenarmatim

Tuesday, December 6, 2011

Second Air Defense Radar System Delivered to Indonesia


Second Air Defense Radar System Delivered to Indonesia 

ThalesRaytheonSystems has delivered a second air defense radar station to Indonesia. It was commissioned in the presence of Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) officials at an inauguration ceremony on Nov. 15. The first radar station was successfully commissioned by TNI-AU in March 2011.
Located in the Eastern part of Indonesia, the new radars will feed air surveillance data to TNI-AU’s command and control center in Jakarta. The C2 center, developed by ThalesRaytheonSystems, is responsible for airspace surveillance, interceptor tasking and control, and providing air space protection over the 17,000 islands and across 33 provinces.
“Since the 1970s, Thales and ThalesRaytheonSystems have worked side-by-side with the Indonesian government on the installation of long-range radars and national and regional air command and control centers. This year will mark a significant milestone in the development of Indonesia’s national air defense system with the commissioning of these additional radars in some of the most remote regions of the Indonesian archipelago,” said Philippe Duhamel, CEO, ThalesRaytheonSystems, French Operations.
By partnering with local companies and training Indonesian personnel, ThalesRaytheonSystems has also enabled TNI-AU to tailor cost-effective life-cycle support. This approach has the added benefit of creating local jobs and strengthening the country’s domestic knowledge of radar technologies.
ThalesRaytheonSystems is an international company specializing in air defense systems, command and control systems, 3-D air defense radars, battlefield and weapon locating radars. Since its founding in 2001, ThalesRaytheonSystems has become one of the defense industry’s most successful transatlantic joint ventures. The company employs 1,600 people and is equally owned by Raytheon and Thales.


Read more: http://www.defencetalk.com/second-air-defense-radar-system-delivered-to-indonesia-38723/#ixzz1fp7ndZLb

Russia to sell six Su-30 fighter jets to Indonesia – paper

The source did not specify the price of the contract
06:44 07/12/2011
MOSCOW, December 7 (RIA Novosti)
Russia started the first day at an arms show in Malaysia with a preliminary agreement on the delivery of six Su-30MK2 fighters to Indonesia, the Kommersant business daily said on Wednesday.

Kommersant cited a Russian source at the talks with Indonesia during the LIMA-2011 arms show on the main island of Langkawi as saying that a contract on the Su-30MK2 delivery could be signed as early as by the end of 2011.

The source did not specify the price of the contract as it would depend on the array of weaponry to be installed on the aircraft according to Indonesian specifications.

However, an anonymous source in the Indonesian delegation said the contract could be worth at least $500 million.

Russia’s state-arms exporter Rosoboronexport refused to comment on the negotiations.

Russia recently completed a $300-million contract signed in 2007 on the delivery of three Su-30MK2 and three Su-27SKM fighters to Jakarta in addition to two Su-27SK and two Su-30MK fighters purchased in 2003.

Indonesian Defense Minister Purnomo Yusgiantoro said in October 2010 that his country needed a full-size squadron of 16 Su-family fighters. The Su-30MK2s are optimized as naval strike fighters.

Jakarta became one of Russia's main arms buyers in 1999 when the United States tightened an embargo on arms sales to the country over alleged human rights violations.

RIA NOVOSTI

Obama Puji Indonesia Soal Larangan Uji Coba Nuklir


 
MANDEL NGAN / AFP
Jurnas.com | PRESIDEN Barack Obama memuji tindakan Indonesia yang meratifikasi Kesepakatan Larangan Uji Coba Nuklir (CTBT) yang disahkan oleh DPR dalam sidang paripurna, Selasa (6/12).

Dalam sebuah pernyataannya seperti dilansir situs resmi Gedung Putih, Rabu, Presiden Obama menyambut baik ratifikasi Indonesia atas CTBT dan menjadi contoh yang kuat dari peran kepemimpinan positif Indonesia dalam upaya global untuk mencegah penyebaran senjata nuklir.

“Perjanjian CTBT merupakan elemen penting dari upaya internasional untuk mencegah proliferasi senjata nuklir dan saya mendorong semua negara untuk menandatangani dan meratifikasi perjanjian,” kata Presiden Obama.

AS, kata Presiden Obama, akan terus mengawal ratifikasi CTBT ini termasuk memimpin upaya global untuk mencegah proliferasi.

Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Organisasi CTBT, Tibor Toth dalam pernyataannya di Wina, Austria, menyatakan, ratifikasi adala langkah penting untuk menjadikannya sebagai hukum secara global.

Sedangkan Daryl Kimball, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengendalian Senjata (ACA) yang berbasis di Wasington menyebut tindakan Indonesia itu sebagai momentum baru terhadap pelarangan uji coba nuklir.

Posisi Indonesia dianggap penting dalam ratifikasi ini karena bersama sembilan negara lainnya termasuk yang telah memiliki reaktor nuklir seperti AS, China, India, Iran, Pakistan, Israel, Korea Utara dan Mesir diperlukan agar CTBT segera diberlakukan dalam 180 hari ke depan.

"Ratifikasi oleh AS dan China adalah hal terpenting dan akan mendorong negara-negara lain yang belum sepakat dengan CTBT,” kata Kimball. Ia menambahkan, ratifikasi oleh Israel, Mesir dan Iran akan membantu mengurangi senjata nuklir dan menciptakan keamanan di wilayah itu.

Saat ini India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel masih kukuh untuk tidak meratifikasinya, termasuk Perjanjian Proliferasi Nuklir (NPT) bagi penyebaran senjata nuklir. Reuters/Whitehouse.go

JURNAS

Navy Revives Plan to Buy P5-b Ship


06 Desember 2011

Indonesia and South Korea will compete for the tender of MRV ship for Philippine navy (photo : Kaskus Militer)
The Navy has been cleared to begin negotiations for the purchase of a multirole vessel from any of the friendly nations, Rear Admiral Alexander Pama said on Sunday.

“The latest process that we had undergone with the Department of National Defense had good results and we did not encounter anymore objections,” Pama said.

“Hopefully, all the procedures required by the defense acquisition system would be finalized and early next year we can start negotiations for the acquisition,” Pama said.

But Pama said the Navy has yet to obtain President Aquino’s approval for the purchase plan, which is part of the military’s modernization.

An MRV, which costs at least P5 billion, will serve as a mother ship equipped with state-of-the-art radars and sensors for monitoring aircrafts and patrol boats, Pama said.

Early this year, Defense Secretary Voltaire Gazmin temporarily dropped the acquisition of an MRV

from the list of big-ticket items and gave priority to light sea-crafts for internal security operations and disaster response.

Gazmin changed his mind following China’s alleged intrusions into Philippine territorial waters particularly in the West Philippine Sea (South China Sea) where the hotly disputed Spratly islands is situated.

Last August, the Philippines acquired a patrol vessel—Hamilton-class cutter—from the United States Coast Guard for P423 million to beef up security at the Malampaya gas project. The Navy renamed it BRP Gregorio del Pilar.

“The dry-docking and repainting of PF15 costs P47.914 million while the refitting to our Navy configuration is P13.872 million. It was funded by the Department of Energy.”

On Dec. 14, the Navy with Aquino as the guest of honor will launch the commissioning of the vessel together with a Philippine-made Landing Utility Craft called BRP Tagbanua (AT296), a BO105 Helicopter (PNH422) and a refurbished Presidential Yacht called BRP Ang Pangulo (AT25).

The P189 million- BRP Tagbanua, made in Misamis Oriental, is configured to transport combat personnel, tanks, vehicles, artillery equipment, and cargoes in support of military operations and perform medical assistance as well as disaster, rescue and relief operations.

Jet Pejuang Malaysia lebih hebat dari Israel






Cerita in berlaku di Tehran, Iran dimana dalam satu forum, Us Nasruddin Tantawi mendedahkan kemajuan Jet pejuang Israel yang dapat diterbangkan tanpa pilot untuk membunuh umat Islam. Tiba-tiba seorang perserta forum dari Lubnan yang pernah menuntut di UIA mencelah dengan mengatakan Malaysia mempunyai Jet Pejuang lebih maju dari Israel.

Kata-kata itu membuatkan audience terdiam sebentar kerana mereka tidak tahu menahu tentang pekara ini. " Jika Jet Pejuang Israel tanpa pilot, tapi Di Malaysia Jetnya tanpa enjin," tambahnya lagi sebagai menjawab persoalan dalam fikiran audience. Maka gelak besarlah audience ketika itu. Us Nasruddin Tantawi sebagai rakyat Malaysia berasa amat malu ketika itu dan beliau seperti ingin menyorok mukanya dibawah meja.


Pss....... artikel ini tidak bermotifkan politik. Hanya untuk difikirkan bersama 
 

BERITA POLULER