Pages

Tuesday, December 6, 2011

ALUTSISTA UNTUK POLRI

Peresmian Kapal Patroli Polisi

6 Desember 2011, Jakarta (ANTARA News): Sejumlah anggota Polisi Perairan Polri berbaris saat peresmian KP.Abimanyu jenis kapal angkut personil di Markas Komando Ditpolair Baharkam Polri. Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/12). KP.Abimanyu milik Kepolisian RI diproduksi oleh PT Dumas Tanjung Perak Shipyard, memiliki panjang 49,50 meter dengan berat 580 ton, kecepatan berlayar bisa mencapai 15 knot, serta draft untuk kedalaman laut 2,20 meter. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/ed/nz/11)

Kapal patroli KP.Pelatuk-019 milik Ditpolair Baharkam Polri melakukan demo di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/12). Ketiga kapal hibah dari pemerintah Australia tersebut diberi nama Kapal Pol Gagak-017, Kapal Pol Sikatan-018 dan Kapal Pol Pelatuk-019, berkecepatan maksimal 35 knot, untuk mengamankan wilayah laut 12 mil. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/ed/nz/11)

Australia Hibah Tiga Kapal Laut untuk Polri

Kapal patroli KP.Pelatuk-019 milik Ditpolair Baharkam Polri melakukan demo di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/12). Ketiga kapal hibah dari pemerintah Australia tersebut diberi nama Kapal Pol Gagak-017, Kapal Pol Sikatan-018 dan Kapal Pol Pelatuk-019, berkecepatan maksimal 35 knot, untuk mengamankan wilayah laut 12 mil. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/ed/nz/11)

6 Desember 2011, Jakarta (Jurnas.com): Polri menerima hubah 3 unit kapal laut tipe C dari Australian Federal Police (AFC). Kapal-kapal ini akan dipakai untuk keperluan pengamanan polri terutama untuk penegakan hukum di bidang kejahatan lintas negara.

Tiga kapal hibah AFP tersebut adalah Kapal Pol Gagak-017, Kapal Pol Sikatan-018, dan Kapal Pol Pelatuk-019. Kapal tersebut adalah tipe C atau berukuran kecil. Berukuran panjang 16 meter kapal-kapal ini memiliki kecepatan 30 knot dengan daya jelajah 400 nm (not mile). Kapal yang punya 2 unit mesin pokok ini mempunyai awak 6 orang anak buah kapal.

Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution, Selasa (6/12), kapal tersebut akan diprioritaskan untuk penanggulangan kasus-kasus kejahatan lintas negara. "Untuk wilayah yang banyak kasus people smuggling dan terorisme," kata Saud dalam acara serah terima di Direktorat Polisi Air, Tanjung Priok.

Saat ini armada laut yang dimiliki Direktorat Air Polri dinilai masih kurang. Bantuan dari AFP dinilai sangat membantu. Meski dengan peralatan transportasi yang minim, Polri menurut Saud sudah memenuhi target penegakan hukum.

Selama tahun 2010 Direktorat Polisi Air menangani 422 kasus. Padahal kasus yang ditargetkan untuk ditangani hanya 42 kasus.

Untuk tahun ini target penegakan hukum mencapai 435 kasus dan sudah diselesaikan 397 kasus. Penegakan hukum yang dilakukan meliputi kasus pencurian ikan, pelanggaran pelayaran, kepabeanan, penambangan ilegal, dan narkoba. "Untuk uang negara yang berhasil diselamatkan mencapai Rp155 miliar," kata Saud.

Sumber: Jurnas

Monday, December 5, 2011

Russian Navy to receive 1st Graney class attack sub by end of 2012



Severodvinsk submarine
07:55 03/12/2011
MOSCOW, December 3 (RIA Novosti)
Tags: submarinesSeverodvinsk submarineSevmashAndrei DyachkovRussia
The delivery of the first Graney class nuclear-powered multipurpose attack submarine to the Russian Navy has been postponed until the end of 2012 due to additional tests of its weapons systems, the Sevmash shipyard said.
Construction of the Severodvinsk submarine began in 1993 at the Sevmash shipyard in the northern Russian city of Severodvinsk but has since been dogged by financial setbacks. It was floated out in June last year and has undergone two sets of sea trials.
“The delivery of the [Severodvinsk submarine] to the Defense Ministry has been postponed until next year,” Sevmash General Director Andrei Dyachkov said on Friday in an exclusive interview with RIA Novosti.
Dyachkov said the testing of the submarine’s weaponry required at least six months of additional sea trials in 2012.
“The submarine itself showed a good performance [during previous trials],” the official said. “It will be commissioned by the end of 2012.”
Graney class nuclear submarines are designed to launch a variety of long-range cruise missiles (up to 3,100 miles or 5,000 km), with conventional or nuclear warheads, and effectively engage submarines, surface warships and land-based targets.
The submarine's armament includes 24 cruise missiles and eight torpedo launchers, as well as mines and anti-ship missiles.
Meanwhile, the construction of the second Graney class submarine, the Kazan, at the Sevmash is going according to schedule.
The Kazan will feature more advanced equipment and weaponry than the Severodvinsk, and can be considered as a prototype of modernized Graney-M class submarines.
Dyachkov said on Friday that Sevmash would start building a series of five advanced Graney-M class attack submarines in 2012 under a recent contract between the Russian United Shipbuilding Corporation and the Defense Ministry.

RIA NOVOSTI

Russian Air Force to get 60 air defense systems in 2012


Russian Air Force to get 60 air defense systems in 2012

S-400 long-range air defense missile systems
15:33 01/12/2011
MOSCOW, December 1 (RIA Novosti)
Tags: Su-25Su-34Su-35Mi-35Mi-26Mi-8Ka-52Mi-28N Night HunterNebo-UPansir-S1S-400,Vladimir DrikRussiaMoscow
The Russian Air Force is planning to acquire about 60 new and modernized air defense systems in 2012, Air Force spokesman Col. Vladimir Drik said on Thursday.
“The new acquisitions include S-400 long-range air defense missile systems, Nebo-U radars andPantsir-S1 short range missile/gun systems,” Drik said.
The Air Force will receive up to 10 Su-34 Fullback fighter-bombers, about 10 Su-25SM Frogfoot attack fighters, and an unspecified number of Su-35S Flanker-E multirole fighters.
The Su-35S is Russia’s advanced “Generation 4++” fighter.
New acquisitions will also include over 20 attack helicopters, such as the Mi-28N Night Hunter and the Ka-52 Alligator, as well as “highly modernized” Mi-35 Hind helicopters.
The Air Force will also receive about 30 Mi-8transport and five Mi-26T heavy lift helicopters.
RIA NOVOSTI

Russian Navy to receive 1st Graney class attack sub by end of 2012



Severodvinsk submarine
07:55 03/12/2011
MOSCOW, December 3 (RIA Novosti)
Tags: submarinesSeverodvinsk submarineSevmashAndrei DyachkovRussia
The delivery of the first Graney class nuclear-powered multipurpose attack submarine to the Russian Navy has been postponed until the end of 2012 due to additional tests of its weapons systems, the Sevmash shipyard said.
Construction of the Severodvinsk submarine began in 1993 at the Sevmash shipyard in the northern Russian city of Severodvinsk but has since been dogged by financial setbacks. It was floated out in June last year and has undergone two sets of sea trials.
“The delivery of the [Severodvinsk submarine] to the Defense Ministry has been postponed until next year,” Sevmash General Director Andrei Dyachkov said on Friday in an exclusive interview with RIA Novosti.
Dyachkov said the testing of the submarine’s weaponry required at least six months of additional sea trials in 2012.
“The submarine itself showed a good performance [during previous trials],” the official said. “It will be commissioned by the end of 2012.”
Graney class nuclear submarines are designed to launch a variety of long-range cruise missiles (up to 3,100 miles or 5,000 km), with conventional or nuclear warheads, and effectively engage submarines, surface warships and land-based targets.
The submarine's armament includes 24 cruise missiles and eight torpedo launchers, as well as mines and anti-ship missiles.
Meanwhile, the construction of the second Graney class submarine, the Kazan, at the Sevmash is going according to schedule.
The Kazan will feature more advanced equipment and weaponry than the Severodvinsk, and can be considered as a prototype of modernized Graney-M class submarines.
Dyachkov said on Friday that Sevmash would start building a series of five advanced Graney-M class attack submarines in 2012 under a recent contract between the Russian United Shipbuilding Corporation and the Defense Ministry.

RIA NOVOSTI

Indonesia Incar Tank Belanda



02 Desember 2011

Tank Leopard 2A6 milik Angkatan Darat Belanda (photo : moddb)

DEN HAAG (ANP) - Indonesia tertarik membeli tank tempur Leopard Belanda. Pihak-pihak terkait masih mempelajari apakah rencana akan berakhir pada sebuah kesepakatan.

Demikian pernyataan Menteri Pertahanan Belanda, Hans Hillen Rabu malam (30/11) dalam perdebatan di Parlemen mengenai anggaran kementeriannya tahun depan.

Kementerian Luar Negeri dan Urusan Ekonomi juga akan mengkaji perihal ini dan mengambil keputusan akhir. Mereka akan melihat apakah penjualan memenuhi syarat-syarat internasional yang berlaku, seperti penghormatan hak asasi manusia.

Juga akan dilihat apakah negara pembeli telah memenuhi kewajiban internasionalnya serta pada situasi politik dan kondisi keamanan yang sedang berlangsung di sana.

Menurut anggota parlemen dari partai Kiri Hijau (GroenLinks), Arjan El Fassed, berdasarkan daftar kriteria tersebut, dari sekarang sudah bisa disimpulkan bahwa Belanda tidak bisa menjual tank-tanknya ke Indonesia. Hillen menekankan bahwa ada kriteria penjualan yang tinggi dan Parlemen mengontrol ketat hal ini.

Partai Sosial Demokrat (PvdA) dan Partai Sosial (SP) sepakat dengan himbauan GroenLinks kepada pemerintah untuk tidak menjual tank ke Indonesia.

Kementerian Pertahanan telah memutuskan, tahun ini akan menjual keseluruhan 60 tank Leopardnya sebagai bagian dari langkah penghematan drastis.

Iran Klaim Tembak Pesawat Mata-mata, AS Membantah



 
MASSOUD HOSSAINI / AFP
Jurnas.com | MILITER Iran mengklaim telah menembak hingga jatuh pesawat mata-mata tanpa awak (drone) milik Angkatan Udara Amerika Serikat. Pesawat RQ-170 itu ditembak di perbatasan timur Iran, Minggu (4/12).

Mengutip pernyataan pejabat militer Iran, Senin (5/12), disebutkan RQ-170 yang berteknologi antiradar (stealth) itu mengalami kerusakan ringan pascaditembak dan saat ini sudah disita oleh aparat militer.

Ini menjadi pesawat drone ketiga yang diklaim ditembak jatuh oleh Iran dalam kurun setahun terakhir. Pada Januari lalu, militer Iran mengklaim telah menembak jatuh dua drone AS. Sedangkan pada Juli lalu pasukan Garda Revolusi Iran berhasil mendapatkan gambar drone AS yang melintas di atas fasilitas nuklir Iran di Qom.

Pihak AS menyatakan tidak yakin bahwa yang ditembak itu adalah pesawat mata-mata milik mereka. “Belum ada indikasi bahwa pesawat itu seperti drone yang ditembak Iran,” kata pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Sebaliknya, pihak Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menjawab bahwadrone itu kemungkinan adalah bagian dari pesawat mata-mata AS yang hilang ketika menjalankan misi rahasia di atas udara Afghanistan. “Bisa jadi pesawat yang ditembak Iran adalah drone yang hilang ketika sedang melakukan misi di barat Afghanistan pekan lalu,” bunyi keterangan pejabat NATO di Afghanistan. Ia menyebut, operator di pusat kendali drone kehilangan kontrol terhadap pesawatnya.

Sementara itu, Iran sejak Agustus 2010 lalu telah mengumumkan rencana mereka membangun sendiri pesawat mata-mata tanpa awak mirip dengan droneAS. Pesawat ini selain digunakan untuk keperluan mata-mata, juga dipakai untuk bertempur.

Ketika meluncurkan program membangun drone versi Iran, Presiden Mahmoud Ahmadinejad menyatakan, bahwa pesawatnya ini bisa menjangkau jarak 1.000 kilometer dan mampu mencapai Israel dengan sangat cepat. “Pesawat ini akan menjadi duta kematian bagi musuh-musuh kami,” kata Ahmadinejad. AP/AFP/Reuters/IRNA

Satgas Konga Patroli Udara di Lebanon



(Foto: Unifil)

5 Desember 2011, Jakarta (ANTARA News): Personel Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) XXIII-F akan melakukan patroli udara di area operasi yang menjadi tanggung jawab Batalyon Mekanis TNI XXIII-F/UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).

Berdasarkan keterangan pers dari Mabes TNI, di Jakarta, Senin, patroli udara itu bertujuan agar wilayah itu tetap bebas dari aktivitas bersenjata ilegal maupun pelanggaran lintas batas "Blue Line" yang dapat memicu kembali terjadinya konflik antara Lebanon dan Israel.

Komandan Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-F Letkol Inf Suharto Sudarsono, usai melaksanakan patroli udara yang pertama kali di area operasi tanggung jawabnya, di Lebanon Selatan, Minggu (4/12), mengatakan, patroli udara ini akan dilaksanakan secara rutin, yakni sebulan sekali dengan melibatkan personel gabungan dari perwira kompi-kompi.

"Hal ini dilakukan untuk mendukung dan melengkapi hasil dari kegiatan taktis yang diperoleh dari patroli jalur darat maupun dari Pos Pengamatan masing-masing kompi, guna mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dapat memicu kembali terjadinya konflik antara kedua negara," tuturnya.

Ia menyebutkan, kegiatan patroli pengintaran udara (Air Patrol Recce) itu merupakan implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1701, tahun 2006.

Resolusi ini kemudian diimplementasikan oleh pasukan-pasukan di bawah bendera Unifil dalam bentuk patroli, baik dengan berjalan kaki, berkendaraan darat maupun patroli udara serta penempatan Pos Pengamatan Statis (Static Observation Post), di area operasi masing-masing, termasuk yang dilaksanakan Kontingen Indonesia saat ini.

Operasi pemantauan melalui udara yang pertama kali menggunakan helikopter jenis Bell tipe ET-279 milik Unifil yang mampu memuat sebanyak 9 personel.

Pelaksanaan Patroli Udara ini berlangsung selama 60 menit dimulai pukul 10.00 sampai 11.00 waktu setempat dengan rute wilayah sepanjang Blue Line, mulai dari UN Posn 7-2, UN Posn 9-63 yang merupakan Markas Kompi A, selanjutnya menuju Qabrika, Suwwanan, Tulin, kemudian patroli mengarah ke Markas Indobatt 7-1 dilanjutkan menuju Markas Kompi C di UN Posn 9-2 dekat sungai Al Litani River dan kembali ke Markas Sektor Timur Unifil 7-2 di Marjayon.

Sumber: ANTARA News

BERITA POLULER