Pages

Monday, November 28, 2011

Ukraina Tawarkan Tank Tempur ke TNI



29 November 2011

MBT Bulat adalah versi upgrade dari T-64B MBT, mempunyai berat 45 ton, dengan kanon smoothbore 125mm (photo : Morozov)

TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan militer Ukraina, Ukrspecexport, menawarkan penjualan `main battle tank` kepada pemerintah Indonesia. Penawaran ini menyusul rencana pemerintah membeli tank-tank tempur utama ini dari Eropa.

Kepala Divisi Penjualan Asia Tenggara Ukrspecexport, Iurii Volovych, menyebutkan jika disetujui mereka siap melakukan transfer teknologi dengan pemerintah Indonesia. "Kami siap bekerjasama dengan BUMN manapun yang ditunjuk pemerintah," ujarnya saat ditemui Tempo di Hotel Aryaduta, Senin, 28 November 2011.


Tank Bulat yang ditawarkan ini merupakan Tank buatan Ukraina yang selama ini memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sedang untuk penjualan luar negeri Tank ini baru ditawarkan pada pemerintah Indonesia. "Kami melihat tank ini sangat cocok untuk kawasan Indonesia yang tropis," ujarnya.

Tank Bulat pertama kali diproduksi tahun 2004. Merupakan pengembangan dari main battle tank varian yang sama. Tank ini memiliki berat 45 ton dengan sistem senjata yang terintegrasi dan dilengkapi " gun-fire control syestem."

Untuk harga, Iurii menyebut untuk tank Bulat yang ditawarkan tidak lebih mahal dibanding Main Battle Tank sejenis. Harga per unit barunya tidak lebih dari US$ 2,5 juta. Sejauh ini, perusahaannya bisa memproduksi banyak tank, tergantung pesanan dari konsumen.

Sedangkan untuk kerjasama dengan Indonesia, perusahaannya siap melakukan kerjasama penjualan dengan sistem alih teknologi. "Penggunaan konten lokal juga dimungkinkan sesuai kemampaun perusahaan pemesan," ujarnya.

Saat ini Kementerian Pertahanan masih merampungkan rencana pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) bekas dari beberapa negara Eropa. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyebutkan rencana pembelian masih dinegosiasikan oleh Angkatan Darat. "Kami sejauh ini belum tahu persis rinciannya karena kan urusannya juga banyak," ujar Purnomo Jumat pekan lalu.

Menurut Purnomo, tim dari AD masih merumuskan harga, jumlah, dan jenis alutsista yang akan dibeli, apakah baru atau bekas pakai. Termasuk menentukan spesifikasi alutsista yang akan dibeli. "Yang baru diputuskan itu membeli main battle tank dan itu tank berat," lanjut Purnomo. Namun, sejauh ini, pemerintah merencanakan pembelian tank Leopard bekas buatn Jerman.

Industri pertahana yg ingin dikuasai Indonesia

Jakarta, PelitaOnline - Indonesia rupanya
terus menaikkan targetnya dalam
mengembangkan industri pertahanan di
Indonesia. Hal ini terlihat pada saat
pertemuan Komite Kebijakan Industri
Pertahanan (KKIP) yang digelar di Kantor
Kementerian Pertahanan, Jumat (25/11 ).
Dalam hasil pertemuan itu, setidaknya
terdapat lima kemampuan yang ingin
dikuasai Indonesia.
Pertama, industri kendaraan tempur
(Ranpur/ armor vehicle) dan kendaraan
taktis (Rantis/ tactical vehicle).
"Kedua, industri kapal perang atas air
(combat vessel) dan bawah air (submarine)
serta kapal-kapal pendukungnya (support
vessel)," kata Ketua KKIP yang juga Menteri
Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.
Ketiga, industri pesawat militer angkut
ringan dan sedang (light dan medium
military air transport, fix wing and rotary
wing) serta pesawat tempur (fighter).
Keempat, industri senjata ringan dan berat
untuk perorangan dan kelompok/ satuan
(pistol, assault riffle, caraben, SMR, SMB,
mortir, AGL, RPG) sampai dengan meriam
dan munisinya (MKK dan MKB), roket/
MLRS, torpedo, serta peluru kendali.
Sedangkan kelima adalah industri peralatan
network centric operation system, mulai
alat komunikasi radio, sistem kendali/
kontrol, komputasi, dan komando untuk
penembakan senjata, radar dan thermal
optic untuk pencari/deteksi dan penjajak
sasaran walau dengan kemampuan industri
yang relatif masih terbatas.
KKIP sendiri dibentuk berdasarkan
Peraturan Presiden No. 42 Tahun 2010
dalam rangka memantapkan fondasi
industri pertahanan nasional dalam rangka
revitalisasi industri pertahanan. Tugas
komite ini antara lain merumuskan
kebijakan yang terdiri dari penelitian,
pengembangan, dan peningkatan sumber
daya manusia, mengkoordinasikan
kerjasama luar negeri, dan memantau serta
mengevaluasi kebijakan industri
pertahanan.
(Pelita )

Pilih pilih alutsista eropa

26 November 2011, Jakarta

(PelitaOnline): Kementerian

Pertahanan RI memastikan tetap

melakukan pengadaan alat utama

sistem senjata (alutsista). Di

antara langkah yang dilakukan

Kemhan adalah mengadakan

Sidang Pleno Komite Kebijakan

Industri Pertahanan (KKIP), yang

digelar di Kantor Kemhan, Jumat

(25/11) .

Saat konferensi pers usai sidang,

Ketua KKIP yang juga Menteri

Pertahanan Purnomo

Yusgiantoro mengatakan saat ini

pihaknya memang merencanakan

pembelian. Namun, ia mengaku

tak hanya akan membeli alutsista

yang baru.

"Pembelian alutsista ada yang

baru. Ada yang sudah dipakai,

tapi bagus. Sekarang sedang

dipilah-pilah," kata Purnomo.

Menurut Purnomo, salah satu

alutsista yang kini dibidik

pemerintah, selain tank Leopard

milik Angkatan Darat Jerman juga

helikopter Apache. Kendati begitu

pihaknya masih

mempertimbangkan kembali

pembeliannya.

Alutsista yang akan dibeli, jelas

dia, tidak asal-asalan. Ia harus

memiliki masa pakai minimal 20

tahun setelah di-upgrade.

Negara-negara yang akan dijajaki

dalam pembelian alutsista ini

adalah Prancis, Belanda, Jerman,

Italia, dan Spanyol. Negara-

negara Eropa ini belakangan

tengah mengurangi anggaran

militernya, sehingga mereka

berencana melepas sebagian

peralatan tempur yang canggih

sekalipun.

Sumber: PelitaOnline


Published with Blogger-droid v2.0.1

Kemhan Uji Cob 22 unit Roket Rhan 122

Roket R-HAn 122 terus dilakukan uji coba
sebelum diproduksi massal (all photos :
DMC)
Baturaja, DMC - Kementerian Pertahanan
Republik Indonesia melalui Direktorat
Teknik Industri Pertahanan Direktorat
Jenderal Potensi Pertahanan (Dirtekindhan
Ditjen Pothan) bersama Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional
(LAPAN) kembali melakukan uji coba Roket
R-Han 122. Uji coba dilakukan di Pusat
Latihan Tempur TNI AD, Baturaja, Sumatera
Selatan., Jum’at (25/11 ).
Selain bersama LAPAN, dalam uji coba
tersebut Kemhan juga melibatkan pihak –
pihak terkait dari industri pertahanan
dalam negeri antara lain PT. Pindad, PT. DI
dan PT. Dahana. Selain itu, Kemhan juga
mengundangan TNI AL sebagai calon
pengguna Roket R-Han 122.
Uji coba kali ini merupakan hasil dari
evalusi uji coba yang dilakukan sebelumnya
pada bulan November 2010 di tempat yang
sama. Melalui uji coba dan evaluasi secara
terus menerus diharapkan Program Roket
Nasional dengan nama R-Han 122 tersebut
nantinya dapat mencapai hasil yang
maksimal dan siap diproduksi sesuai
keinginan pengguna dalam hal ini TNI

Dalam Uji coba kali ini, diluncurkan Roket
R-Han 122 sebanyak 22 unit yang terdiri
dari tiga unit warhead smoke (asap) dan 19
unit wearhead live (tajam) . Dari 22 unit
tersebut, satu unit roket warhead smoke
(asap) telah diluncurkan Kamis Sore
(24/11 ), sedangkan 21 unit seluruhnya diuji
coba pada Jum’at (25/11 ). Peluncuran
berjalan lanjar dan sukses meskii dalam
cuaca hujan.
Dari 21 unit Roket R-Han 122 yang
diluncurkan hari ini terdiri dari satu dua
roket warhead smoke (asap) dan 19 unit
roket warhead live (tajam) . Peluncuran
roket dibagi dalam tempat tahap
dilaksanakan secara salvo menggunakan
mobil launcher. Tahap satu tiga unit, kedua
enam unit, ketiga enam unit dan keempat
enam unit.
Roket R-Han 122 yang memiliki jarak
jangkau 14 kilometer tersebut merupakan
hasil kerjasama yang sinergi antara
Kementerian Pertahanan dengan
Kementerian Riset dan Teknologi, LAPAN,
PT. Pindad, dan pihak terkait lainnya.
Pengembangan roket R-Han 122 dalam
rangka mengurangi ketergantungan
pengadaan dari luar negeri dengan
memberdayakan potensi dan kemampuan
industri pertahanan dalam negeri.
Hadir menyaksikan dan menijau secara
langsung uji coba Roket R-Han 122 antara
lain Staf Ahli Menhan Bidang Keamanan
Kemhan Mayjen TNI Zaenal Fahri Tamzis
dan sejumlah pejabat di lingkungan
Kemhan, Mabes TNI AL dan industri
pertahanan dalam negeri. (BDI/ SR)
(DMC )

Friday, November 25, 2011

Kemhan Uji Cob 22 unit Roket Rhan 122

Roket R-HAn 122 terus dilakukan uji coba
sebelum diproduksi massal (all photos :
DMC)
Baturaja, DMC - Kementerian Pertahanan
Republik Indonesia melalui Direktorat
Teknik Industri Pertahanan Direktorat
Jenderal Potensi Pertahanan (Dirtekindhan
Ditjen Pothan) bersama Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional
(LAPAN) kembali melakukan uji coba Roket
R-Han 122. Uji coba dilakukan di Pusat
Latihan Tempur TNI AD, Baturaja, Sumatera
Selatan., Jum’at (25/11 ).
Selain bersama LAPAN, dalam uji coba
tersebut Kemhan juga melibatkan pihak –
pihak terkait dari industri pertahanan
dalam negeri antara lain PT. Pindad, PT. DI
dan PT. Dahana. Selain itu, Kemhan juga
mengundangan TNI AL sebagai calon
pengguna Roket R-Han 122.
Uji coba kali ini merupakan hasil dari
evalusi uji coba yang dilakukan sebelumnya
pada bulan November 2010 di tempat yang
sama. Melalui uji coba dan evaluasi secara
terus menerus diharapkan Program Roket
Nasional dengan nama R-Han 122 tersebut
nantinya dapat mencapai hasil yang
maksimal dan siap diproduksi sesuai
keinginan pengguna dalam hal ini TNI

Dalam Uji coba kali ini, diluncurkan Roket
R-Han 122 sebanyak 22 unit yang terdiri
dari tiga unit warhead smoke (asap) dan 19
unit wearhead live (tajam) . Dari 22 unit
tersebut, satu unit roket warhead smoke
(asap) telah diluncurkan Kamis Sore
(24/11 ), sedangkan 21 unit seluruhnya diuji
coba pada Jum’at (25/11 ). Peluncuran
berjalan lanjar dan sukses meskii dalam
cuaca hujan.
Dari 21 unit Roket R-Han 122 yang
diluncurkan hari ini terdiri dari satu dua
roket warhead smoke (asap) dan 19 unit
roket warhead live (tajam) . Peluncuran
roket dibagi dalam tempat tahap
dilaksanakan secara salvo menggunakan
mobil launcher. Tahap satu tiga unit, kedua
enam unit, ketiga enam unit dan keempat
enam unit.
Roket R-Han 122 yang memiliki jarak
jangkau 14 kilometer tersebut merupakan
hasil kerjasama yang sinergi antara
Kementerian Pertahanan dengan
Kementerian Riset dan Teknologi, LAPAN,
PT. Pindad, dan pihak terkait lainnya.
Pengembangan roket R-Han 122 dalam
rangka mengurangi ketergantungan
pengadaan dari luar negeri dengan
memberdayakan potensi dan kemampuan
industri pertahanan dalam negeri.
Hadir menyaksikan dan menijau secara
langsung uji coba Roket R-Han 122 antara
lain Staf Ahli Menhan Bidang Keamanan
Kemhan Mayjen TNI Zaenal Fahri Tamzis
dan sejumlah pejabat di lingkungan
Kemhan, Mabes TNI AL dan industri
pertahanan dalam negeri. (BDI/ SR)
(DMC )

Rusia akan tembakkan rudal Iskander

25 November, 2011
MOSKOW- Presiden Rusia Dmitry
Medvedev menegaskan akan
menembakkan rudal untuk
menghancurkan sistem pertahanan
rudal NATO di Eropa. Kebijakan itu
tanpa memperdulikan perjanjian yang
diteken dengan Amerika Serikat (AS).
Langkah itu diambil jika tuntutan Rusia
soal sistem pertahanan NATO tetap
diacuhkan.
Kebijakan menghancurkan sistem
pertahanan itu dikarenakan, program
yang diajukan Rusia untuk
persenjataan NATO ditolak AS.
Akibatnya, Medvedev panas dan
sampai saat ini belum ada perubahan
tentang kebijakan tersebut. Medvedev
mengatakan, Rusia akan
menembakkan rudal balistik baru
berkemampuan lebih canggih dalam
menembus sistem pertahanan musuh.
Rusia akan mematikan sistem anti-
rudal yang dimiliki oleh NATO dan AS.
Jika gagal, maka Medvedev punya
rencana B.
“Rusia akan menurunkan persenjataan
dengan sistem serang canggih di barat
dan selatan negara ini. Satunya adalah
rudal Iskander di wilayah Kalinigrad.
Hal itu kami lakukan agar bisa
menghancurkan semua sistem
pertahanan rudal AS di Eropa,” kata
Medvedev seperti dilansir dari kantor
berita CNN, Rabu (23/11) .
Ancaman Medvedev ini dilayangkan
menyusul rencana NATO membangun
pusat pertahanan rudal di beberapa
negara Eropa, di antaranya Polandia,
Rumania dan Turki. NATO mengatakan
sistem pertahanan yang rampung
2020 dimaksudkan mengantisipasi
serangan dari Timur Tengah, seperti
Iran, bukan untuk menyerang Rusia.
NATO telah meminta Rusia untuk
bergabung dalam program tersebut.
Namun, Rusia tidak puas dengan
negosiasi yang dilakukan. Medvedev
khawatir sistem pertahanan rudal
akan digunakan untuk menyerang
senjata nuklir Rusia yang menjadi
andalan negara tersebut sejak
berakhirnya Perang Dingin.
Dia menginginkan perjanjian hukum
tertulis untuk mencegah hal itu. AS
dan NATO menjamin persenjataan
tidak akan digunakan untuk
menyerang Rusia. Namun, AS
menyatakan tidak dapat mengeluarkan
dokumen yang mengikat. AS
mengatakan, dokumen itu hanya akan
membatasi kinerja sistem pertahanan
dalam menjalankan fungsinya.
Langkah Rusia ini mengancam
perjanjian baru mengenai kendali
senjata dengan AS yang
ditandatangani Barack Obama dan
Medvedev tahun lalu. Perjanjian
START (Strategic Arms Reduction
Treaty) adalah perjanjian kedua
negara untuk mengurangi tindakan
agresif dan penggunaan senjata.
Perjanjian sebelumnya ditandatangani
oleh Presiden AS George Bush dan
Presiden Rusia Mikhail Gorbachev
pada Juli 1991.
“Kondisi di mana perjanjian START
dibatalkan, dan opsi kali ini merupakan
yang tercantum dalam perjanjian,”
katanya.
Ancaman Presiden Rusia Dmitry
Medvedev akan menghancurkan
sistem pertahanan rudal NATO di
Eropa jika AS terus mengabarkannya.
Pihak Gedung Putih mengatakan
program yang dijadwalkan rampung
pada 2020 tersebut tetap akan
berjalan.
Juru bicara dewan keamanan nasional
di Gedung Putih, Tommy Vietor,
berusaha meyakinkan bahwa program
pertahanan rudal yang tengah
dibangun tidak akan membahayakan
nuklir Rusia. “Pada berbagai
kesempatan kami sudah menjelaskan
ke Rusia, bahwa sistem pertahanan
rudal di Eropa tidak akan mengancam
pertahanan Rusia,” kata Vietor, dilansir
dari Reuters.
Proses pembangunan sistem
pertahanan masih terus dilakukan di
Eropa timur, tidak peduli ancaman
Rusia. NATO dan AS membangun
sistem pertahanan rudal berbasis
darat dan laut, yaitu SM-3
interceptors, di Polandia, Rumania dan
Spanyol. Sementara sistem radar akan
dipusatkan di Turki.
Pembangunan sistem ini dilakukan
secara bertahap. Saat ini sistem
pertahanan rudal dilakukan AS dari
kapal induk di lautan. Pada tahun
2015, basis sistem pertahanan sudah
berdiri di empat negara tersebut.
Tahap ketiga dan keempat akan
dilakukan hingga rampung pada 2020.
(bbs/jpnn) sumber harian sumutpos

Cetak Biru Pertahan RI tidak berubah

Cetak biru pertahanan RI tidak
berubah
Jumat, 25 November 2011 17:25 WIB |
Dibaca 798 kali
Jakarta (ANTARA
News) - Menteri
Pertahanan Purnomo
Yusgiantoro
menegaskan bahwa cetak biru
pertahanan RI tidak akan berubah
terkait kebijakan pemerintahan Barack
Obama untuk menempatkan pasukan
marinirnya di Darwin, Australia.
"Keberadaan pasukan AS tak seperti
dikhawatirkan banyak orang dan tak
akan mengubah blueprint pertahanan
kita. Keberadaan mereka justru bisa
membantu menguatkan pasukan kita,"
katanya seusai memimpin rapat Komite
Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di
Kementerian Pertahanan di Jakarta,
Jumat.
Purnomo menjelaskan bahwa
penempatan personel AS di Darwin
akan dilakukan secara bertahap. Untuk
tahap pertama akan diterjunkan 250
prajurit. "Para prajurit inilah yang nanti
berkomitmen untuk latihan operasi
bersama. Jadi keberadaan mereka
dapat menjadi mitra dalam latihan
operasi bersama," kata Menhan.
"Dan penempatan ini juga tidak akan
mengubah rencana pemenuhan
kekuatan pokok minumum ( minimum
essential forces/MEF) ," ungkap
Purnomo menambahkan.
Sebelumnya Presiden AS Barack Obama
dalam rangkaian kunjungannya di Asia
Pasifik menegaskan AS akan
memantapkan pengaruhnya di kawasan
tersebut.
Langkah nyata yang dilakukan Obama
dengan membuat kesepakatan dengan
Perdana Menteri Australia Julia Gillard
untuk memperluas kerja sama militer
kedua negara salah satunya dengan
menempatkan sekitar 2.500 marinir AS
di Darwin.
Penempatan marinir AS di Darwin juga
disinggung dalam pertemuan bilateral
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
dengan Presiden AS Barack Obama di
sela-sela KTT ke-19 ASEAN.
Juru bicara kepresidenan bidang luar
negeri Teuku Faizasyah yang hadir
dalam pertemuan bilateral kedua
kepala negara itu mengatakan, dalam
penjelasannya Obama menyampaikan
bahwa kehadiran marinir di Darwin
dalam konteks hubungan bilateal AS
dan Australia.
"Dan dalam hal itu, tidak terpaku pada
satu kepentingan saja. Tetapi
bagaimana kerja sama itu dapat
diperluas menjadi pelatihan dan kerja
sama militer dengan salah satu negara
mitra utama AS," katanya.
Tentang kemungkinan kebijakan itu
mengancam kedaulatan dan
kepentingan Indonesia, Faizasyah
mengatakan, "Itu harus dilihat secara
komprehensif. Indonesia memiliki kerja
sama dalam mekanisme kemitraan
strategis baik dengan AS maupun
Australia, sehingga atas kerja sama itu,
maka kehadiran militer AS di Australia
tidak akan mengancam kedaulatan
Indonesia".

BERITA POLULER