Pages

Sunday, November 20, 2011

Fuel Cell Submarine “U 35″ for the German Navy Christened


Dr. Sigrid Hubert-Reichling christened one of the most modern non-nuclear submarines in the world today at the shipyard of Howaldtswerke-Deutsche Werft GmbH (HDW), a company of ThyssenKrupp Marine Systems, under the name of “U 35”.
She is the wife of the Lord Mayor of Zweibrücken, the town that has assumed sponsorship of U 35. U 35 is the first boat of the second batch of Class 212A submarines built for the German Navy.
The contract to deliver a second batch of two further Class 212A submarines was signed on 22nd September 2006 in Koblenz with the German Office for Military Technology and Procurement. The submarine building activities are taking place at the shipyards of HDW in Kiel and Emder Werft- und Dockbetrieben in Emden.
The two additional units will be largely identical to their sister ships from the first batch. Of course, they are also equipped with the air-independent fuel cell propulsion system which has already given excellent results in operations with the boats of the first batch.
To meet changes in operational scenarios and to take constant technological advances into account, a number of modifications have been made:
  • Integration of a communication system for Network Centric Warfare
  • Installation of an integrated German Sonar and Command and Weapon Control System
  • Replacement of the flank array sonar by a superficial lateral antenna
  • Replacement of one periscope by an optronics mast
  • Installation of a hoistable mast with towable antenna-bearing buoy to enable communication from the deep submerged submarine
  • Integration of a lockout system for Special Operation Forces
  • Tropicalisation to enable world-wide operations.
Freitag underlined the ability of the boat to carry out operations lasting several weeks continuously deep submerged, thanks to the ultra-modern fuel cell technology on board. With virtually undetectable heat and noise emissions and a hull of non-magnetic steel, the boat will be exceedingly difficult to detect and thus able to operate unnoticed, discreetly gathering important information, monitoring sea areas or supporting covert operations.
The Italian Navy has also decided in favour of a second batch of two Class 212A submarines, which are being built under licence by the local Italian shipyard Fincantieri. That means that the Italian Navy will soon also have four boats of this class available for operations.
U 35 - Technical Specs
General boat data
- Length over all: approx. 56 m
- Height including sail: approx. 11.5 m
- Maximum hull diameter: approx. 7 m
- Displacement: approx. 1,450 t
- Crew: 28
- Pressure hull built of non-magnetic steel
Propulsion system
- Diesel generator
- SIEMENS Permasyn motor
- Fuel cell system
- Low-noise skew-back propeller


Read more: DEFENCE TALK

RI-Australia Bakal Gelar Latgab Tanggap Bencana


 
Wahyu Wening / Jurnal Nasional
Jurnas.com | JURU Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha menyatakan, Indonesia dan Australia akan menggelar latihan bersama tanggap bencana alam. Latihan ini akan melibatkan militer RI-Australia dengan mengundang militer AS.

Selain itu, latihan tersebut juga akan melibatkan badan penanggulangan bencana ASEAN dan militer China. "Sebagai persiapan, akan ada serangkaian pertemuan intensif dua kali antara RI dengan Australia membahas hal ini, dimulai pada tahun depan," kata Julian di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/11).

Nantinya, setelah ada pertemuan teknis dan semua jelas, latihan bersama ini juga akan disosialisasikan ke negara-negara ASEAN dan Jepang, serta China yang juga diundang. "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tadi menyatakan amat gembira dengan penjelasan PM Australia Julia Gillard. Hal yang baik ini harus disosialisasikan segera agar bisa mencairkan ketegangan yang terjadi," ujarnya.

Lebih lanjut Julian menjelaskan, berdasarkan pengalaman tanggap bencana alam di Aceh dan Nias, memang penanggulangan bisa cepat dilakukan dengan bantuan militer. "Hal ini sekaligus juga dimaksudkan agar publik mengetahui, bahwa militer bisa dilibatkan secara aktif dalam menanggulangi ancaman non-tradisional, seperti bencana alam dan banjir," ucap Julian.

jurnas

Saturday, November 19, 2011

Hibah F16

Presiden SBY dan Presiden AS
Barack Obama saat
menyampaikan keterangan pers
bersama, seusai pertemuan
bilateral, di BNDCC, Jumat (18/11)
petang. (Foto: muchlis/
presidensby.info)
18 November 2011, Nusa Dua,
Bali (Presiden RI): Indonesia dan
Amerika Serikat bersepakat
meningkatkan kemitraan
komprehensif di berbagai bidang.
AS, antara lain, akan memberikan
hibah pesawat F-16 dan dana
millenium comprehensive
partenrship senilai 600 juta dolar
AS. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menyampaikan hal ini
dalam keterangan pers bersama
Presiden AS Barack Obama,
seusai pertemuan bilateral, di Bali
Nusa Dua Convention Center,
Jumat (18/11) pukul 18.45 WITA.
"Dalam pertemuan tadi, baik
Indonesia maupun Amerika
Serikat menyepakati
peningkatakan kerja sama di
bidang polhukam dengan berbagi
jenis kegiatan, seperti dialog
keamanan, kerja sama pelatihan
militer, dan program hibah F-16,"
kata Presiden SBY.
Kedua negara juga banyak
bersepakat dalam pembicaraan
masalah ekonomi, seperti tentang
investasi dan perdagangan.
"Sementara itu, telah dilakukan
satu dialog di bidang komersial.
Ini juga penting karena
menyangkut iklim investasi,
energi bersih dan lingkungan,
termasuk mengenai perubahan
iklim," Presiden SBY
menambahkan. Dalam
pembicaraan ekonomi, dibahas
pula persoalan usaha kecil, mikro,
dan menengah (UMKM),
kewirausahaan, dan kerja sama
industri.
Indonesia, lanjut SBY, berterima
kasih dengan telah diluluskannya
millenium comprehensive
partnership senilai 600 juta dolar
AS. "Bantuan ini terkait dengan
pembangunan yang ramah
lingkungan," ujar SBY. Di bidang
kesejahteraan rakyat, dibahas
kerja sama pendidikan dan
kesehatan.
"Itulah capaian konkret kerja
sama bilateral setelah kemitraan
komprehensif kami luncurkan,"
SBY menjelaskan.
Presiden SBY juga menyampaikan
kepada Presiden Obama tentang
harapan Indonesia dalam
kemitraan stategis yang telah
dibangun sejak tahun lalu. Kerja
sama Indonesia-AS adalah kerja
sama sebagai sesama negara
demokrasi yang menghormati
HAM, sesama negara yang peduli
permasalahan kawasan Asia
Tenggara, Asia Timur, dan Pasifik.
"Yang sama-sama ingin
membangun dan memperkuat
ekonomi di kawasan dalam wujud
investasi, perdagangan, dan kerja
sama yang lain agar ekonomi di
kawasan tumbuh makin kuat,
namun perekonomian global yang
makin berimbang," Kepala Negara
menegaskan.
Menurut Presiden, partisipasi dan
kontribusi AS dalam keseluruhan
perkembangan ekonomi sangat
penting. "Dan di situlah
Indonesia sangat berharap untuk
menjadi salah satu pilar dari
kemitraan komprehensif
Indonesia-Amerika Serikat di
tahun-tahun mendatang,"
Presiden menandaskan.
Pertemuan bilateral RI-AS ini
berlangsung sekitar 30 menit.
Presiden SBY didampingi Menko
Polhukam Djoko Suyanto, Menko
Perekonomian Hatta Rajasa,
Menlu Marty Natalegawa,
Mendag Gita Wirjawan, dan
Mensesneg Sudi Silalahi.
Sebelumnya, Presiden SBY
bersama para pemimpin ASEAN
mengadakan KTT ke-3 ASEAN-
Amerika Serikat, di ruang lain di
BNDCC. Presiden SBY yang
memimpin pertemuan tersebut
mengatakan, KTT ke-3 ini akan
menjadi bagian penting untuk
meningkatkan koordinasi kedua
pihak.
"Tantangan yang dihadapi di Asia
Pasifik sekarang ini memerlukan
kerja sama yang baik dari semua
pihak dan itu harus ditangani
dengan cara yang efektif," kata
Presiden saat membuka
pertemuan. "Kerjasama antara
ASEAN dan Amerika Serikat harus
menjadi aspek penting dalam
usaha bersama."
Sumber: Presiden RI

Friday, November 18, 2011

Bahaya Perang Cyber



Cyberwar bukanlah fiksi. Indonesia sudah terlibat perang siber sejak satu dekade lalu?

Jum'at, 18 November 2011, 23:02 WIB
Muhammad Firman
Pemakaman Mayor Jenderal Hassan Tehrani Moghaddam (REUTERS/Jamejam Online/Ebrahim Norouzi)
VIVAnews - Sabtu, 12 November 2011. Sebuah ledakan dahsyat terdengar di pangkalan misil Alghadir di Bid Ganeh, barat Teheran. Guncangannya terasa hingga 30 mil jauhnya. Ledakan itu membunuh 17 anggota pasukan elit Iran, termasuk Mayor Jenderal Hassan Tehrani Moghaddam, arsitek program misil negeri tersebut.
Meski investigasi belum digelar, buru-buru Iran menegaskan bahwa ledakan itu bukanlah akibat sabotase yang dilakukan oleh musuh bebuyutan mereka. “Kasus tersebut murni kecelakaan, saat petugas tengah memindahkan amunisi. Tidak ada kaitannya dengan Israel ataupun Amerika Serikat,” kata Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi, kepala staf militer Iran.
Padahal, dunia kini mafhum, itulah salah satu contoh yang menunjukkan betapa perang siber (cyberwar) bukan lagi sekadar dongeng fiksi, tapi telah menjadi bagian nyata dari percaturan dunia ini.
Dan Iran adalah salah satu negara yang kerap menjadi sasaran serangan siber Israel--yang mendapat dukungan penuh Amerika Serikat--khususnya terkait upaya Iran memperkaya uranium, salah satu komponen utama nuklir.
Serangan malware Stuxnet pada instalasi pengayaan nuklir Iran di Natanz pada tahun 2009 lalu adalah salah satu buktinya. Stuxnet mampu menyusup masuk dan menyabot sistem dengan cara memperlambat ataupun mempercepat motor penggerak, bahkan membuatnya berputar jauh di atas kecepatan maksimum. Kecepatan ini akan menghancurkan sentrifuse atau setidaknya merusak kemampuan alat itu untuk memproduksi bahan bakar uranium.
Malware paling canggih dan paling hebat yang pernah dibuat sepanjang sejarah itu diakui banyak kalangan sebagai serangan paling cerdas. Pengakuan itu bukan datang dari sembarang orang, tapi dari kalangan industri aplikasi pengamanan terkemuka dunia seperti Symantec (Amerika Serikat), Kaspersky (Rusia), dan F-Secure (Finlandia).
Satu catatannya: serangan ini hanya bisa dilakukan hanya dengan dukungan dari pemerintah negara tertentu. Ini karena Stuxnet terdiri dari program-program komputer kompleks yang pembuatannya memerlukan beragam keterampilan. Ia sangat canggih dan membutuhkan dana sangat besar untuk menciptakannya. Tidak banyak kelompok yang mampu melancarkan serangan seperti ini.
Para pakar Symantec memperkirakan pengerjaan Stuxnet membutuhkan tenaga 5 hingga 30 orang dalam waktu enam bulan. Selain itu, dibutuhkan pengetahuan sistem kontrol industri dan akses terhadap sistem itu untuk melakukan pengujian kualitasnya. Sekali lagi, ini mengindikaskan bahwa Stuxnet adalah sebuah proyek yang sangat terorganisir dan dibekingi dana besar.
“Kami benar-benar belum pernah melihat worm seperti ini sebelumnya,” kata Liam O’Murchu, peneliti Symantec Security Response. “Fakta bahwa worm ini dapat mengontrol cara kerja mesin fisik tentunya sangat mengkhawatirkan.”
Stuxnet sendiri 100 persen merupakan serangan siber terarah yang ditujukan untuk menghancurkan proses industri di dunia nyata. Banyak pakar keamanan bersepakat: Israel dan Amerika Serikat terlibat dalam serangan maya itu.
Dan benar saja.
Februari 2011, Daily Telegraph, harian asal Inggris, memberitakan dalam sebuah upacara perpisahan di Israel Defense Forces (IDF), Gabi Ashkenazi, sang mantan kepala staf IDF, mengatakan Stuxnet merupakan salah satu keberhasilan utama dia saat memimpin lembaga itu.
Pada Mei 2011, Need To Know, sebuah program mingguan stasiun TV PBS, Amerika Serikat, juga menayangkan pernyataan Gary Samore, Koordinator Gedung Putih untuk Pengendalian Senjata dan Senjata Pemusnah Massal. “Kami gembira bahwa mereka (Iran) mengalami masalah dengan mesin sentrifuse mereka dan kami–Amerika Serikat dan sekutunya–akan melakukan apapun yang kami bisa untuk memastikan bahwa mereka akan menghadapi masalah yang lebih rumit,” kata Samore.
Matra kelima
Jagat cyber kini bahkan telah didudukkan sebagai matra perang kelima--setelah darat, laut, udara, dan angkasa luar. Inovasi di bidang teknologi telah mengubah taktik dalam konflik di zaman modern dan membuat dunia maya menjadi medan perang terbaru.
Banyak perangkat mutakhir telah dibuat untuk keperluan ini. Dibantu oleh kemajuan teknologi elektromagnetik serta teknologi komunikasi dan informasi, sebuah bentuk pertempuran elektronik telah tercipta dan membuat pemerintahan berbagai negara melihat perang dunia maya sebagai ancaman terbesar di masa depan.
Alon Ben David, analis militer dari Channel 10 Israel menyebutkan: “Jika Anda punya beberapa orang pintar dan sebuah komputer yang bagus, Anda bisa melakukan banyak hal. Anda tidak perlu pesawat udara, tank, pasukan tentara. Anda bisa memasuki negara lain, menciptakan kerusakan besar tanpa perlu meninggalkan kursi empuk Anda,” ucapnya.
Dalam sebuah laporan eksklusif di harian Le Monde Perancis, jurnalis Nicky Hager berhasil menguak keberadaan instalasi Urim milik Unit 8200, yang merupakan salah satu instalasi pengintaian terbesar di dunia, setara dengan instalasi milik Amerika Serikat di Menwith Hill, Yorkshire, Inggris.
Instalasi yang dibangun sejak satu dekade yang lalu itu awalnya hanya bertugas memonitor percakapan internasional di jaringan satelit Intelsat dan stasiun relay telepon antar negara besar. Tapi kini ia juga bertugas mengawasi percakapan via satelit Inmarsat, juga menyadap kabel-kabel bawah laut.
Menurut sumber orang dalam, komputer-komputer di instalasi Negev diprogram untuk dapat memilah-milah kata serta berbagai pesan di percakapan telepon, email, dan data yang diintersepnya. Pesan-pesan yang berhasil disadap itu langsung dikirim ke markas besar Unit 8200 di Camp Glilot di kota Herzliya, sebelah utara Tel Aviv.
Di tempat itulah pesan-pesan dari berbagai bahasa itu diterjemahkan dan diteruskan ke agen-agen Mossad di negara lain maupun berbagai badan lain yang berkepentingan.
Yang harus dicatat dari Unit 8200 adalah kekuatan pasukan elite sibernya. Upaya dan obsesi Israel untuk memiliki kekuatan siber yang handal, telah dimulai sejak 1990-an. Saat itu para peretas (hacker) Israel cuma disodori dua pilihan: masuk bui atau bergabung dengan The Unit.
Kini, hasilnya tak main-main. Sebuah konsultan di AS memperhitungkan The Unit sebagai salah satu ancaman siber terbesar dunia, di samping China, Rusia, Iran, dan Perancis. Stuxnet adalah salah satu bukti konkretnya.
Angkatan perang siber
Kekuatan sebuah angkatan perang siber ditentukan oleh kemampuan serangan, pertahanan, serta ketergantungan suatu negara terhadap Internet. Dalam buku “Cyber War”, pakar keamanan komputer asal AS dan profesor di Universitas Harvard Richard A. Clarke dan Robert A. Knake memetakan kekuatan negara-negara dalam menghadapi perang siber.
Amerika Serikat, meski punya kemampuan serangan yang baik, tidak punya kemampuan untuk memutuskan jaringan Internet saat diserang, mengingat sebagian terbesar jaringan Internet di negara ini dimiliki dan dioperasikan oleh swasta. Sebaliknya, China memiliki kemampuan memutus seluruh jaringan Internet di negaranya bila suatu saat diserang. China juga mampu membatasi utilisasi trafik, dengan memutus koneksi dari para pengguna yang tak terlalu berkepentingan.
Namun negara yang dinilai paling mampu bertahan jika terjadi perang dunia maya, menurut Clarke, adalah Korea Utara. Negara ini mampu memutus koneksi Internetnya dengan lebih mudah ketimbang China. Bisa dibilang Korea Utara tak akan mengalami kerugian akibat serangan siber musuh, karena tak ada infrastruktur kritikal seperti pembangkit listrik, jalur kereta, atau jalur pipa yang tersambung ke Internet.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure known (Id-SIRTII) menyebutkan, perang siber di negeri ini juga bukanlah hal baru. Sebagaimana perang-perang siber lain yang mewarnai tensi politik dan hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya, Indonesia sudah mulai terlibat perang siber sejak satu dekade yang lalu--mulai dari perang siber dengan Portugal pada 1999, dengan Australia, hingga cyberwar dengan Malaysia beberapa tahun terakhir.
Sayangnya, menurut salah satu pentolan kelompok peretas Antihackerlink, Arief Wicaksono, kemampuan para aktivis siber Indonesia bisa dikatakan masih belum mumpuni. Pasalnya, daya peretas di suatu negara biasanya  sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur Internet serta tarifnya.
“Dari sisi kuantitas mungkin memang banyak insiden yang berasal dari Indonesia. Namun dari sisi kualitas, skill hacker Indonesia masih kurang optimal,” kata Arief yang kini menjadi koordinator Research and Development Antihackerlink.
Karenanya, menurut dia, perang siber di Indonesia masih sebatas serangan defacing atau mengubah tampilan desain sebuah laman web. Serangan jenis ini bisa dibilang hanya untuk mempermalukan, tapi terbilang tidak membahayakan.
Tapi, seiring dengan pertumbuhan Internet di Indonesia yang begitu cepat, dia percaya akan lebih banyak lagi infrastruktur strategis dan layanan publik yang akan semakin bergantung pada sistem informasi, teknologi, dan jaringan Internet, sehingga rentan terhadap serangan siber.
Menurut Salahuddien, kini pelanggan Internet reguler Indonesia ada sekitar 60 juta. Sekitar 90 juta pengguna ponsel juga telah mengakses Internet. Dalam dua tahun ke depan, kata Didien, diperkirakan pengguna Internet Indonesia akan mencapai sekitar 150 juta orang.
Jika sudah begitu, dia mengingatkan, “Ancaman perang informasi dan serangan cyber akan semakin meningkat dan menjadi medan pertempuran utama di masa mendatang, termasuk di Indonesia.” (kd)
• VIVAnews

Hillary Clinton top bagi peserta diskusi bisnis ASEAN-AS



Jumat, 18 November 2011 15:14 WIB | 732 Views
Pidato Hillary Clinton Menlu AS Hillary Clinton memberikan pidato Pada kegiatan ASEAN Businnes and Invesment Summit, di Bali International Convention Centre, Nusa Dua,Bali, Jumat (18/11). Dalam pidatonya Hillary Clinton mendukung kegiatan KTT ke-19 ASEAN serta akan meningkatkan kerjasama antara AS-ASEAN. (FOTO ANTARA/ Wahyu Putro A)

Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Dari seorang ibu negara kini menjadi menteri luar negeri Amerika Serikat dan itulah yang kini terjadi dengan Hillary Rodham Clinton. Hadir dalam diskusi investasi dan bisnis ASEAN-Amerika Serikat di Nusa Dua, Bali, Jumat petang, sosok mantan ibu negara itu sangat menyita perhatian peserta.

Begitu muncul dari balik pintu, puluhan telefon genggam berkamera dari peserta mengarah pada dirinya dan baru beberapa lama bunyi jepretan rana menghilang dari pendengaran. Busana yang dikenakan sederhana saja, kemeja wanita berwarna merah yang cukup kontras dengan rambut blonde yang dia miliki.

Alokasi waktu sebagai pembicara kunci dalam diskusi bisnis itu hanya 10 menit plus sekitar lima menit sebagai kata pengenalan oleh pembawa acara. Kata-kata pembawa acara itu seolah tidak lagi dipedulikan, karena visi Amerika Serikat untuk bangkit kembali dari kemelut perekonomian itulah yang ditunggu-tunggu.

Memang, Clinton membawakan empat strategi yang ditempuh pemerintahan Obama. Tidak sedikitpun dia membahas agenda politik seperti yang biasa dia utarakan pada banyak kesempatan, justru aspek bisnis dan ekonomi global dan kawasan yang dia nyatakan.

Layar lebar di kedua sisi panggung yang mendapat pengawalan ketat dari The Secret Service, memperkuat kesan akan koleksi data dan fakta yang dia miliki tentang Indonesia. Kehadiran beberapa pengusaha papan atas Amerika Serikat menguatkan hal itu. (*)

ANTARA

Obama bertemu sepuluh pimpinan ASEAN



Jumat, 18 November 2011 15:51 WIB | 916 Views


()
 Selamat datang, kepada Presiden Barack Obama dan seluruh pimpinan ASEAN"

Nusa Dua (ANTARA News) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengadakan pertemuan puncak dengan pimpinan sepuluh negara ASEAN dalam Pertemuan ke-3 AS-ASEAN di Nusa Dua, Jumat. 

Presiden Obama disambut langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Pati Djalal.  Kemudian, bersama sepuluh pimpinan negara ASEAN menuju ruang Nusa Dua 3 Bali Nusa Dua Convention Center tempat pertemuan dilaksanakan. 

Konferensi Tingkat Tinggi keempat AS-ASEAN didahului dengan foto bersama Obama dengan sepuluh pimpinan negara ASEAN, dilanjutkan dengan pidato selamat datang Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua ASEAN 2011. 

"Selamat datang kepada Presiden Barack Obama dan seluruh pimpinan ASEAN yang hadir dalam pertemuan puncak AS-ASEAN. Pertemuan ini sangat penting untuk peningkatan hubungan yang baik antara AS dan ASEAN," katanya.

Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan ada beberapa agenda yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut antara lain mengkaji berbagai hal yang telah dikerjasamakan selama ini oleh kedua pihak.

Pada pertemuan puncak AS-ASEAN pada 2010, kedua pihak menyatakan pentingnya meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan, ekonomi, perubahan iklim dan keamanan.(*)
ANTARA

Ini kesepakatan bisnis terbesar, kata Obama



Jumat, 18 November 2011 16:29 WIB | 66 Views
Presiden Amerika Serikat Barrack Obama berpidato usai menyaksikan penandatanganan perjanjian bisnis pembelian pesawat jenis Boeing oleh Lion Air. (ANTARA/Ari Bowo Sucipto)
 selamat kepada Boeing yang telah membuat pesawat terbang hebat, termasuk yang saya tumpangi ini"
Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebut kesepakatan bisnis antara sebuah perusahaan AS dan satu maskapai nasional Indonesia sebagai kesepakatan bisnis yang besar.

Dia juga menegaskan bahwa AS memiliki investasi perdagangan dan peluang komersial yang luar biasa di kawasan Asia Pasifik.

"Baik, saya hanya ingin membuat sebuah pernyataan singkat. Ini adalah contoh luar biasa dari investasi perdagangan dan peluang komersial yang ada di kawasan Asia Pasifik," kata Obama di Nusa Dua, Jumat.

Dalam siaran persnya, Obama mengatakan bahwa beberapa hari terakhir ini dia telah berbicara tentang bagaimana memastikan kehadiran di wilayah Indonesia yang dapat langsung berkaitan dengan lapangan pekerjaan di Amerika.

"Dan apa yang kita lihat di sini, kesepakatan bernilai miliaran dolar antara Lion Air, salah satu maskapai penerbangan dengan pertumbuhan tercepat tidak hanya di wilayah ini, namun di dunia dan Boeing akan menghasilkan lebih dari 100.000 pekerjaan di Amerika Serikat untuk jangka waktu panjang," katanya.

"Ini merupakan kesepakatan bisnis terbesar, karena Boeing akan membuat lebih dari 200 pesawat terbang yang akan dijual. Pemerintah AS dan Ex-Im Bank, pada khususnya, menjadi kunci dalam memfasilitasi kesepakatan ini," katanya.

"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para pejabat pemerintah yang berupaya agar hal ini terwujud. Ini merupakan salah satu contoh bagaimana kami akan mencapai tujuan jangka panjang yang saya tetapkan, yaitu meningkatkan ekspor AS sebanyak dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan," kata Obama.

Obama mengucapkan selamat kepada Lion Air atas keberhasilannya yang dinilainya luar biasa.

"Saya juga memberi selamat kepada Boeing yang telah membuat pesawat terbang hebat, termasuk yang saya tumpangi ini," katanya.

Obama mengatakan penumpang di kawasan ini akan memperoleh manfaat dari maskapai penerbangan yang baik.

"Selain itu, para pekerja kami di AS akan dapat memperoleh keamanan pekerjaan dan dapat menghasilkan produk yang bagus buatan Amerika," katanya.(*)
ANTARA

BERITA POLULER