Pages

Thursday, November 17, 2011

Independensi ASEAN


Di Balik Parade Militer AS ke Asia Pasifik

Lion Air Borong Boeing Rp195 Triliun

Penandatanganan kesepakatan dilakukan di Bali, saat Obama menghadiri KTT Asia Timur.

Jum'at, 18 November 2011, 10:53 WIB
Hadi Suprapto
Lion Air (VIVAnews/Muhamad Solihin)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Maskapai Lion Air menandatangani jual beli pesawat dengan pabrikan asal Amerika Serikat, Boeing Co, senilai US$21,7 miliar atau sekitar Rp195 triliun. Kesepakatan itu diumumkan oleh Gedung Putih dalam lawatan Presiden AS, Barack Obama, ke Asia-Pasifik.

Seperti dikutip kantor berita Reuters, penandatanganan kesepakatan itu dilakukan di Bali saat Obama menghadiri KTT ASEAN.

"Ini adalah contoh bagaimana kita akan mencapai tujuan jangka panjang, saya akan menggandakan ekspor kami selama beberapa tahun mendatang," kata Obama setelah menghadiri upacara penandatanganan, Jumat 18 November 2011.

Dia menggambarkan, kesepakatan itu sebagai situasi "win-win" bagi konsumen di wilayah Asia Timur dan pekerja AS. Obama juga mengatakan, pemerintahannya dan Exi-Im Bank memainkan peran penting dalam memfasilitasi kesepakatan ini.

Partai Demokrat berada di bawah tekanan kuat menjelang pertarungan pemilihan umum pada 2012 untuk menunjukkan kemajuan dalam meningkatkan perekonomian dan mengurangi tingkat pengangguran AS.

Selama lawatan sembilan hari di Asia-Pasifik yang dimulai di Hawaii, Obama telah berusaha menekankan perluasan hubungan perdagangan dengan Asia, wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
• VIVAnews

Tentara AS di Darwin, RI Tak Berburuk Sangka

"Indonesia tidak akan terjebak dalam suasana seperti itu," kata Marty Natalegawa.

Kamis, 17 November 2011, 18:42 WIB
Denny Armandhanu
Tentara AS di kapal perang USS Howard (VIVAnews/Muhamad Solihin)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Keberadaan tentara Amerika Serikat di Darwin, Australia, dinilai bukanlah suatu ancaman bagi kawasan ASEAN, terutama menyangkut masalah Laut China Selatan. Namun, harus diwaspadai adanya persepsi negatif yang dapat mengubah situasi menjadi buruk.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa di Nusa Dua, Bali, Kamis 17 November 2011. Dia mengatakan Indonesia berusaha bersikap hati-hati agar tidak masuk ke dalam persepsi negatif mengenai adanya pemusatan kekuatan AS di Australia.

"Kami kira tidak harus dilihat sebagai suatu yang mengganggu, kecuali ada niat mengubah suasana. Indonesia tidak akan terjebak dalam suasana seperti itu," kata Marty.

Menurut dia, Indonesia tidak melihat kehadiran AS di Australia sebagai suatu yang negatif. Kerjasama bilateral adalah hal biasa dalam dunia diplomasi. Semua negara bisa saja melakukan kesepakatan serupa.

Terkait anggapan bahwa keberadaan tentara AS itu dapat mengancam stabilitas di Laut China Selatan, Marty juga tidak mempersoalkannya. Dia mengatakan, tahap-tahap perundingan antara ASEAN dan China telah memasuki tahapan code of conduct yang akan mengatur perilaku negara-negara yang terkait masalah sengketa perbatasan.

"Pilihannya hanya satu, melalui dialog dan perundingan," tegasnya.

Mengenai kekhawatiran adanya agresi militer antara negara-negara yang bersengketa di Laut China Selatan, termasuk terlibatnya AS, tidak juga dipusingkan oleh Marty. Dia mengatakan hal tersebut akan terhindarkan dengan disepakatinya Bali Principle pada KTT Asia Timur (EAS) Sabtu mendatang. Untuk pertama kalinya, AS dan Rusia akan mengikuti ajang ini.

Inti dari Bali Principle, kata Marty, adalah: "Tidak akan menggunakan kekerasan di antara negara Asia Timur. Dengan ini sudah ada normanya, untuk tidak menciptakan ketidakstabilan di kawasan." (kd)
• VIVAnews

KTT ASEAN, F-16 Dikerahkan ke Bali

Selain jet tempur F-16, helikopter tempur juga dikerahkan untuk berpatroli udara.

Jum'at, 18 November 2011, 06:34 WIB
Eko Huda S

Pesawat Jet F-16 (REUTERS/USAF/Staff Sgt. Greg L. Davis/Handout/Files)

VIVAnews - Tiga pesawat tempur F-16 dioperasikan untuk patroli udara selama berlangsungnya KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali. Jet tempur ini didatangkan dari Komando Lanud Hasanuddin, Makassar.

Selama KTT ASEAN, jet tempur ini akan berpatroli di angkasa Bali empat kali dalam sehari. Selain F-16, patroli keamanan udara juga disokong oleh sejumlah helikopter tempur. Burung-burung besi tempur itu kini telah bersiaga di Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Selain itu, selama palaksanaan KTT ASEAN, pesawat dilarang terbang di bawah ketinggian 10 ribu kaki. Larangan ini dilakukan untuk menjaga keamanan udara di Bali.

KTT ASEAN 2011 ini dihadiri oleh sejumlah kepala negara. Diantaranya adalah Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Obama telah mendarat di Ngurah Rai, kemarin pada pukul 18.30 WITA dengan Pesawat Air Force One. KTT ASEAN sendiri akan berakhir pada 19 November 2011.

VIVA NEWS

ASEAN Antisipasi Dominasi Negara-negara Besar


Sengketa dan potensi gangguan keamanan di Laut China Selatan mewarnai KTT ASEAN

Kamis, 17 November 2011, 21:04 WIB
Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu
Para pemimpin ASEAN di KTT ASEAN ke-19 di Bali (REUTERS/Enny Nuraheni)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Setelah membicarakan penguatan integrasi keamanan, ekonomi, dan sosial budaya di Asia Tenggara pada 17 November 2011, ASEAN selama dua hari berikut menggelar dialog dengan para mitra eksternal mereka, yang dikenal sebagai negara-negara besar, yaitu Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jepang, Rusia, Australia hingga India. Hingga akhir pekan ini, para pemimpin itu akan berdialog mengenai stabilitas kawasan dan juga dunia.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa mereka turut membahas isu-isu terkini yang tengah mendapat sorotan internasional, seperti konflik di Laut China Selatan dan rencana terbaru AS memperkuat kehadiran militernya di Asia.

Pertemuan dengan para mitra itu termasuk dari rangkaian KTT ASEAN dan KTT Terkait, yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, 17-19 November 2011. Usai KTT ASEAN pada 17 November, esoknya para pemimpin ASEAN menggelar sejumlah forum dengan mitra-mitra mereka, baik dalam bentuk ASEAN+3, ASEAN+AS, hingga KTT Asia Timur.

Kalangan media massa baik nasional maupun internasional sudah mengantisipasi bahwa pertemuan di Bali ini bisa dimanfaatkan sebagai ladang konfrontasi baru secara diplomatik oleh negara-negara peserta pertemuan. Sengketa dan potensi gangguan keamanan di Laut China Selatan mewarnai pelaksanaan rangkaian KTT ASEAN dan KTT Terkait itu, karena selama ini telah menjerat sejumlah negara peserta ke dalam konflik dan ketegangan diplomatik.

Saat membuka KTT ASEAN, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai tuan rumah secara tersirat mengingatkan sesama anggota agar mereka tidak menjadi korban kepentingan bagi negara-negara besar, namun turut menjadi bagian dari solusi. 

"Dalam dunia yang semakin kompleks dan saling kait-mengait, ASEAN sejatinya harus menjadi yang terdepan dalam mengatasi berbagai tantangan yang mencuat.  ASEAN tidak boleh hanya menjadi penonton pasif, yang rentan menjadi korban permasalahan di belahan dunia lainnya," kata Yudhoyono.

Dia pun sebelumnya optimistis bahwa sengketa di Laut China Selatan untuk saat ini masih bisa diatasi secara dialog oleh negara-negara yang berkepentingan melalui mekanisme yang telah disepakati. "Kesepakatan Guidelines on the Implementation of the Declaration on the Conduct of the Parties in the South China Sea antara ASEAN dan RRT, telah menumbuhkan optimisme dalam melihat permasalahan di Laut China Selatan," kata Yudhoyono.

Menurut kantor berita Reuters, perairan itu dihuni lebih dari 200 pulau kecil, batu, dan karang. Laut China Selatan membentang dari pesisir China dan Taiwan di utara, Vietnam di sebelah barat, Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Singapura di selatan dan barat daya, hingga ke Filipina di sebelah timur.

Kawasan maritim ini telah lama menjadi sumber konflik antara Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei, China, dan Taiwan. Selain mempermasalahkan batas zona ekonomi ekslusif, sejumlah negara juga saling mengklaim kepemilikan Pulau Spratley dan Paracel di wilayah perairan itu.

Laut China Selatan sangat strategis, karena menjadi salah satu jalur lalu lintas tersibuk bagi pengapalan minyak mentah dan logistik. Wilayah itu juga menyimpan banyak ikan dan sumber minyak dan gas alam yang belum digarap.

China ingin menyelesaikan krisis itu melalui negosiasi secara bilateral, bukan melalui forum multilateral. "Kami berharap [isu] Laut China Selatan tidak akan dibicarakan pada KTT Asia Timur," kata Wakil Menteri Luar Negeri China, Liu Zhenmin, awal pekan ini seperti yang dikutip harian The Wall Street Journal

Namun, negara-negara lain menginginkan penyelesaian secara multilateral atau regional. Menteri Luar Negeri Filipina, Albert del Rosario, berharap ASEAN bisa memainkan peran yang lebih menentukan lagi pada isu Laut China Selatan, dengan memfasilitasi suatu pertemuan tingkat tinggi untuk membahas usulan Filipina agar diciptakan zona damai yang bebas, bersahabat, dan bisa bekerjasama di kawasan itu.  

Kendati tidak berkonfrontasi langsung, AS pun turut berkepentingan. Niat AS untuk mengangkat isu Laut China Selatan di KTT Asia Timur akhir pekan ini sudah diutarakan secara tersirat oleh pejabatnya.

Menurut Ben Rhodes, deputi penasihat nasional AS, mengungkapkan bahwa keamanan maritim merupakan salah satu agenda AS di Bali, selain isu non-proliferasi nuklir dan bantuan kemanusiaan. "Laut China Selatan tentunya akan muncul dalam konteks itu," kata Rhodes, seperti dikutip oleh harian The Wall Street Journal. Namun dia tidak mau memastikan bahwa AS akan benar-benar mengangkat agenda itu pada KTT Asia Timur nanti, yang belum pernah dihadiri oleh Presiden AS.
Militer AS
Isu lain yang patut diantisipasi oleh ASEAN dan para mitranya akhir pekan ini adalah soal rencana AS untuk menambah lagi kehadiran militernya di Asia Pasifik.
Presiden Barack Obama sudah memaparkan rencana Washington untuk memperkuat kehadiran militer AS di Australia Utara. Penempatan pasukan AS itu untuk menjaga konstelasi stabilitas di Asia Pasifik sekaligus dapat diberdayakan untuk operasi kemanusiaan dan bantuan keamanan.

Dalam pertemuan Obama dengan PM Julia Gillard Kamis kemarin, Australia sudah bersedia menjadi pangkalan bagi 2.500 pasukan Marinir AS, yang akan dikirim secara bertahap mulai tahun 2012 ke Darwin, wilayah sebelah utara Australia yang dekat dengan perbatasan maritim di sebelah tenggara Indonesia.

Kepada parlemen Australia, 17 November 2011, Obama menyatakan bahwa AS kini telah mengalihkan fokus keamanannya dari Irak dan Afganistan. Kini, penempatan pasukan AS ke luar negeri akan diarahkan ke Asia Pasifik, terutama Asia Tenggara.

"Saat kita telah mengakhiri perang [di Irak dan Afganistan], saya telah mengarahkan tim keamanan nasional saya untuk menjadikan keberadaan dan misi kami di Asia Pasifik sebagai prioritas utama," kata Obama seperti dikutip kantor berita Reuters saat menjabarkan visi AS bagi kawasan Asia Pasifik.

Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, sebelumnya juga menegaskan bahwa melibatkan negaranya merupakan hal yang vital bagi masa depan Asia. "Masa depan politik akan diputuskan di Asia, bukan Afganistan atau Irak, dan AS akan menjadi pusat dari aksi itu," tulis Clinton dalam opininya yang dimuat Foreign Policy Magazine edisi November 2011.

Namun, kehadiran militer AS lebih dekat ke Asia itu sudah mengundang kegelisahan. Dikhawatirkan, langkah ini merupakan cara AS untuk menandingi kekuatan China di Laut China Selatan. Pasalnya, negara-negara Asia Tenggara yang dimasuki AS bermasalah dengan China terkait konflik di perbatasan sengketa. ASEAN, kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, tidak akan membiarkan kawasan Asia Tenggara dijadikan ajang persaingan negara-negara besar.

"Kita tidak akan membiarkan Asia Tenggara, oleh siapapun, menjadi ajang persaingan negara-negara yang menganggap dirinya besar," kata Marty.

Tujuan pengiriman tentara tambahan AS di Australia, lanjut Marty, harus disampaikan secara transparan, untuk menghindari adanya kesalahpahaman. Jika tidak demikian, maka upaya yang tengah dirintis oleh ASEAN di Laut China Selatan akan menjadi rusak.

"Saya tidak ingin melihat adanya reaksi yang provokatif, yang membalikkan keadaan, dan menciptakan rasa saling tidak percaya," kata Marty.
• VIVAnews

Presiden Berharap KejL Sama Konkrit Pengelolaan Laut China Selatan

BERITA POLULER