Pages

Thursday, November 17, 2011

ASEAN Antisipasi Dominasi Negara-negara Besar


Sengketa dan potensi gangguan keamanan di Laut China Selatan mewarnai KTT ASEAN

Kamis, 17 November 2011, 21:04 WIB
Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu
Para pemimpin ASEAN di KTT ASEAN ke-19 di Bali (REUTERS/Enny Nuraheni)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Setelah membicarakan penguatan integrasi keamanan, ekonomi, dan sosial budaya di Asia Tenggara pada 17 November 2011, ASEAN selama dua hari berikut menggelar dialog dengan para mitra eksternal mereka, yang dikenal sebagai negara-negara besar, yaitu Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jepang, Rusia, Australia hingga India. Hingga akhir pekan ini, para pemimpin itu akan berdialog mengenai stabilitas kawasan dan juga dunia.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa mereka turut membahas isu-isu terkini yang tengah mendapat sorotan internasional, seperti konflik di Laut China Selatan dan rencana terbaru AS memperkuat kehadiran militernya di Asia.

Pertemuan dengan para mitra itu termasuk dari rangkaian KTT ASEAN dan KTT Terkait, yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, 17-19 November 2011. Usai KTT ASEAN pada 17 November, esoknya para pemimpin ASEAN menggelar sejumlah forum dengan mitra-mitra mereka, baik dalam bentuk ASEAN+3, ASEAN+AS, hingga KTT Asia Timur.

Kalangan media massa baik nasional maupun internasional sudah mengantisipasi bahwa pertemuan di Bali ini bisa dimanfaatkan sebagai ladang konfrontasi baru secara diplomatik oleh negara-negara peserta pertemuan. Sengketa dan potensi gangguan keamanan di Laut China Selatan mewarnai pelaksanaan rangkaian KTT ASEAN dan KTT Terkait itu, karena selama ini telah menjerat sejumlah negara peserta ke dalam konflik dan ketegangan diplomatik.

Saat membuka KTT ASEAN, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai tuan rumah secara tersirat mengingatkan sesama anggota agar mereka tidak menjadi korban kepentingan bagi negara-negara besar, namun turut menjadi bagian dari solusi. 

"Dalam dunia yang semakin kompleks dan saling kait-mengait, ASEAN sejatinya harus menjadi yang terdepan dalam mengatasi berbagai tantangan yang mencuat.  ASEAN tidak boleh hanya menjadi penonton pasif, yang rentan menjadi korban permasalahan di belahan dunia lainnya," kata Yudhoyono.

Dia pun sebelumnya optimistis bahwa sengketa di Laut China Selatan untuk saat ini masih bisa diatasi secara dialog oleh negara-negara yang berkepentingan melalui mekanisme yang telah disepakati. "Kesepakatan Guidelines on the Implementation of the Declaration on the Conduct of the Parties in the South China Sea antara ASEAN dan RRT, telah menumbuhkan optimisme dalam melihat permasalahan di Laut China Selatan," kata Yudhoyono.

Menurut kantor berita Reuters, perairan itu dihuni lebih dari 200 pulau kecil, batu, dan karang. Laut China Selatan membentang dari pesisir China dan Taiwan di utara, Vietnam di sebelah barat, Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Singapura di selatan dan barat daya, hingga ke Filipina di sebelah timur.

Kawasan maritim ini telah lama menjadi sumber konflik antara Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei, China, dan Taiwan. Selain mempermasalahkan batas zona ekonomi ekslusif, sejumlah negara juga saling mengklaim kepemilikan Pulau Spratley dan Paracel di wilayah perairan itu.

Laut China Selatan sangat strategis, karena menjadi salah satu jalur lalu lintas tersibuk bagi pengapalan minyak mentah dan logistik. Wilayah itu juga menyimpan banyak ikan dan sumber minyak dan gas alam yang belum digarap.

China ingin menyelesaikan krisis itu melalui negosiasi secara bilateral, bukan melalui forum multilateral. "Kami berharap [isu] Laut China Selatan tidak akan dibicarakan pada KTT Asia Timur," kata Wakil Menteri Luar Negeri China, Liu Zhenmin, awal pekan ini seperti yang dikutip harian The Wall Street Journal

Namun, negara-negara lain menginginkan penyelesaian secara multilateral atau regional. Menteri Luar Negeri Filipina, Albert del Rosario, berharap ASEAN bisa memainkan peran yang lebih menentukan lagi pada isu Laut China Selatan, dengan memfasilitasi suatu pertemuan tingkat tinggi untuk membahas usulan Filipina agar diciptakan zona damai yang bebas, bersahabat, dan bisa bekerjasama di kawasan itu.  

Kendati tidak berkonfrontasi langsung, AS pun turut berkepentingan. Niat AS untuk mengangkat isu Laut China Selatan di KTT Asia Timur akhir pekan ini sudah diutarakan secara tersirat oleh pejabatnya.

Menurut Ben Rhodes, deputi penasihat nasional AS, mengungkapkan bahwa keamanan maritim merupakan salah satu agenda AS di Bali, selain isu non-proliferasi nuklir dan bantuan kemanusiaan. "Laut China Selatan tentunya akan muncul dalam konteks itu," kata Rhodes, seperti dikutip oleh harian The Wall Street Journal. Namun dia tidak mau memastikan bahwa AS akan benar-benar mengangkat agenda itu pada KTT Asia Timur nanti, yang belum pernah dihadiri oleh Presiden AS.
Militer AS
Isu lain yang patut diantisipasi oleh ASEAN dan para mitranya akhir pekan ini adalah soal rencana AS untuk menambah lagi kehadiran militernya di Asia Pasifik.
Presiden Barack Obama sudah memaparkan rencana Washington untuk memperkuat kehadiran militer AS di Australia Utara. Penempatan pasukan AS itu untuk menjaga konstelasi stabilitas di Asia Pasifik sekaligus dapat diberdayakan untuk operasi kemanusiaan dan bantuan keamanan.

Dalam pertemuan Obama dengan PM Julia Gillard Kamis kemarin, Australia sudah bersedia menjadi pangkalan bagi 2.500 pasukan Marinir AS, yang akan dikirim secara bertahap mulai tahun 2012 ke Darwin, wilayah sebelah utara Australia yang dekat dengan perbatasan maritim di sebelah tenggara Indonesia.

Kepada parlemen Australia, 17 November 2011, Obama menyatakan bahwa AS kini telah mengalihkan fokus keamanannya dari Irak dan Afganistan. Kini, penempatan pasukan AS ke luar negeri akan diarahkan ke Asia Pasifik, terutama Asia Tenggara.

"Saat kita telah mengakhiri perang [di Irak dan Afganistan], saya telah mengarahkan tim keamanan nasional saya untuk menjadikan keberadaan dan misi kami di Asia Pasifik sebagai prioritas utama," kata Obama seperti dikutip kantor berita Reuters saat menjabarkan visi AS bagi kawasan Asia Pasifik.

Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, sebelumnya juga menegaskan bahwa melibatkan negaranya merupakan hal yang vital bagi masa depan Asia. "Masa depan politik akan diputuskan di Asia, bukan Afganistan atau Irak, dan AS akan menjadi pusat dari aksi itu," tulis Clinton dalam opininya yang dimuat Foreign Policy Magazine edisi November 2011.

Namun, kehadiran militer AS lebih dekat ke Asia itu sudah mengundang kegelisahan. Dikhawatirkan, langkah ini merupakan cara AS untuk menandingi kekuatan China di Laut China Selatan. Pasalnya, negara-negara Asia Tenggara yang dimasuki AS bermasalah dengan China terkait konflik di perbatasan sengketa. ASEAN, kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, tidak akan membiarkan kawasan Asia Tenggara dijadikan ajang persaingan negara-negara besar.

"Kita tidak akan membiarkan Asia Tenggara, oleh siapapun, menjadi ajang persaingan negara-negara yang menganggap dirinya besar," kata Marty.

Tujuan pengiriman tentara tambahan AS di Australia, lanjut Marty, harus disampaikan secara transparan, untuk menghindari adanya kesalahpahaman. Jika tidak demikian, maka upaya yang tengah dirintis oleh ASEAN di Laut China Selatan akan menjadi rusak.

"Saya tidak ingin melihat adanya reaksi yang provokatif, yang membalikkan keadaan, dan menciptakan rasa saling tidak percaya," kata Marty.
• VIVAnews

Presiden Berharap KejL Sama Konkrit Pengelolaan Laut China Selatan

AS Uji Coba Senjata Rahasia Hipersonik


AS bisa menyerang target atau musuh, di manapun berada, di seluruh permukaan bumi.

Jum'at, 18 November 2011, 09:54 WIB
Eko Huda S
The DARPA Falcon Hypersonic Technology Vehicle (HTV)-2 (foxnews.com)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Militer Amerika Serikat berhasil melakukan uji coba prototipe senjata rahasia hipersonik. Prototipe senjata hipersonik itu sukses mengudara di atas Samudera Pasifik, Kamis 17 November 2011.

Sukses ini semakin meningkatkan kemampuan militer Amerika. Mereka akan mampu menyerang target atau musuh, di manapun berada. Di seluruh permukaan bumi. Kecepatan hipersonik sendiri didefinisikan setara dengan lima kali kecepatan suara atau 3.805 mil per jam atau setara 6.124 kilometer per jam.

Seperti konsep senjata hipersonik lainnya, senjata rahasia Amerika ini terbang di atmosfer secara mendatar. Berbeda dengan senjata rudal balistik yang membumbung ke atas dan akhirnya meluncur ke bawah. Keberhasilan ini merupakan hasil pelajaran dari dua uji penerbangan hipersonik yang dilakukan para peneliti Pentagon, atau yang disebut dengan DARPA, pada April 2010 dan Agustus 2011 yang lalu.

Senjata hipersonik yang dikembangkan ini diluncurkan dari kapal dengan tiga tahap sistem booster dari fasilitas rudal pasifik di Kepulauan Kauai di Hawaii pada pukul 06.30 pagi waktu setempat. Prototipe itu akhirnya jatuh di kawasan latihan Reagan yang letaknya di kawasan Atol Kwajalein.

Selama uji coba, pejabat Pentagon terus memantau senjata rahasia ini. Baik melalui udara, laut, hingga darat. Mereka ingin mengumpulkan data lengkap soal aerodinamis, navigasi, pemandu, kontrol, serta teknologi termal yang digunakan untuk menghindarkan intensitas panas selama penerbangan hipersonik.

Keberhasilan ini memberikan kegembiraan tersendiri pada DARPA. Pasalnya, saat menguji coba Falcon Hypersonic Technology Vehicle 2 (HTV-2) sebelumnya, mereka mengalami kegagalan sebanyak dua kali. Saat uji coba pada Agustus yang lalu, HTV-2 mencapai kecepatan 20 Mach atau 295,069 meter per detik.

Angkatan Udara Amerika juga telah melakukan uji coba sendiri dengan alat X-51A Waverider pada 13 Juni 2011. Uji coba ini merupakan program percobaan mesin scramjet. Selama percobaan itu, X-51A Waverider mencapai kecepatan hingga 5 Mach atau setara 320,543 meter per detik sebelum akhirnya gagal berganti ke sumber bahan bakar utama. (umi)
• VIVAnews

Tentara Amerika di ASEAN, suatu yang tak mengganggu


Kamis, 17 November 2011 20:11 WIB | 896 Views
Presiden Obama Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, melambaikan tangannya kepada wartawan setibanya di Bandara Ngurah Rai, Bali, Kamis (17/11). Obama tiba di Bali untuk menghadiri KTT ke-19 ASEAN dan KTT terkait lainnya yang berlangsung di Nusa Dua 17-19 Nopember 2011. (FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana)
...Indonesia tidak akan terjebak dalam suasana seperti itu...
Berita Terkait
Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan negara-negara anggota ASEAN tidak merasa terganggu dan terancam dengan keputusan Amerika Serikat untuk menempatkan sekitar 2.500 prajurit marinir di Darwin, Australia.

"Ini tidak harus dilihat sebagai sesuatu yang mengganggu," kata Marty kepada wartawan di lokasi pelaksanaan KTT ke-19 ASEAN di Nusa Dua, Bali, Kamis malam.

Dia juga menegaskan, sikap Amerika dan Australia itu juga tidak perlu dilihat sebagai ancaman bagi perdamaian di kawasan Asia Tenggara.

ASEAN akan segera mengeluarkan Prinsip-prinsip Bali. Menurut Marty, Prinsip-prinsip Bali berisi semacam kesepakatan perilaku negara-negara ASEAN dan negara-negara mitra untuk menciptakan suasana damai di kawasan Asia Tenggara.

Terkait dengan sikap Indonesia, Marty mengatakan Indonesia tidak merasa terancam dengan perkembangan tersebut. Indonesia juga tidak akan terjebak dalam arus persepsi yang menggiring untuk menyatakan hal itu sebagai ancaman.

"Indonesia tidak akan terjebak dalam suasana seperti itu," katanya.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam kunjungannya ke Australia telah mengumumkan penempatan 2.500 marinir di Darwin, wilayah di "Benua Kanguru" yang berdekatan dengan Indonesia.

Berita di halaman depan surat kabar Sydney Morning Herald mengatakan, kehadiran militer yang permanen itu telah dipertimbangkan beberapa tahun lalu saat Washington berusaha memperkuat Komando Pasifiknya.

Keputusan Amerika Serikat itu dikhawatirkan meningkatkan ketegangan di kawasan Asia Tenggara yang kini sedang berusaha mendinginkan suasana persengketaan di Laut China Selatan, dimana China dan empat negara ASEAN menjadi pihak yang bersengketa.

Sebelumnya, Marty Natalegawa menegaskan, ASEAN tidak akan membiarkan kawasan Asia Tenggara menjadi ajang persaingan negara-negara besar dan kuat untuk kepentingan tertentu.

"ASEAN tidak akan membiarkan Asia Tenggara menjadi ajang persaingan negara-negara yang menyebut diri mereka sebagai negara kuat," kata Marty kepada wartawan di lokasi KTT ke-19 ASEAN, Nusa Dua, Bali, Rabu (17/11).

Namun demikian, sikap itu tidak membuat ASEAN khawatir akan kehilangan hubungan baik dengan beberapa negara besar yang menjadi anggota forum KTT Asia Timur, seperti China, Jepang, Amerika Serikat, dan Rusia.

Menurut Marty, para pemimpin negara-negara ASEAN akan menyepakati Prinsip-prinsip Bali dalam KTT ke-19 ASEAN. Prinsip itu mengatur perilaku semua negara anggota, termasuk negara-negara kuat, sehingga perdamaian kawasan tetap terjaga.

Marty menjelaskan semua pertemuan tingkat menteri ASEAN sepakat bahwa kawasan Asia Tenggara telah menjadi kawasan yang aman, damai, dan stabil. Kawasan tersebut telah mampu mengurangi atau bahkan menghilangkan konflik antaranggota.


ANTARA

Korut uji coba rudal di Laut Kuning


Rabu, 16 November 2011 11:13 WIB | 1753 Views
Ilustrasi Ujicoba Rudal Balistik (Istimewa)
Berita Terkait
Seoul (ANTARA News) - Korea Utara baru-baru ini melakukan uji tembak rudal baru dari udara-ke-kapal di Laut Kuning, mendorong Korea Selatan untuk meningkatkan pertahanan anti-udaranya, kata laporan berita Rabu.

"Uji tembak rudal dari udara-ke-kapal yang dilakukan militer Korea Utara dari pesawat pembom IL-28, sekali dilakukan pada Oktober dan lainnya pada awal bulan ini," kata sumber pemerintah seperti dikutip kantor berita Yonhap.

Juru bicara kementerian pertahanan menolak untuk mengomentari laporan tersebut.

Rudal-rudal itu adalah versi modifikasi dari rudal dari darat-ke-kapal Styx yang disebarkan Utara di sepanjang pantai barat, dengan jangkauan tembak 40 kilometer (25 mil), kata laporan itu.

"Jika Korea Utara menembakkan rudal udara-ke-kapal dari pesawat pembom IL-28 dekat Garis Batas paling Utara (NLL), hal itu akan menimbulkan ancaman besar terhadap kapal-kapal patroli kita dan manuver kapal-kapal perusak di NLL selatan," kata sumber Korea Selatan itu.

"Penguasa militer sedang memperkuat pertahanan anti-serangan udara di darat dan di kapal," kata sumber itu tanpa memberikan rincian.

Korea Utara tidak mengakui NLL sebagai perbatasan laut yang sah ketika pihaknya secara sepihak dipaksa menarik diri oleh Komando PBB yang dipimpin AS setelah Perang Korea.

Bentrokan-bentrokan angkatan laut yang mematikan meletus dekat garis batas itu pada tahun 1999, 2002 dan 2009.

Ketegangan-ketegangan meningkat ketika Korea Selatan menuduh Korea Utara menggelamkan kapal perangnya, Cheonan, di dekat perbatasan yang disengketakan dan menewaskan 46 pelaut pada Maret 2010.

Hubungan mereka memburuk lebih lanjut setelah Korea Utara membombardir pulau Yeonpyeong di perbatasan selatan dan menewaskan empat warga Korea Selatan pada November 2010.

Setelah serangan itu, Korea Selatan dilaporkan mengerahkan rudal-rudal darat-ke-udaranya, Cheonma, di pulau Yeonpyeong dan Baengnyeong.

Dalam beberapa bulan terakhir ini telah ada tanda-tanda meredanya ketegangan itu.

Seoul mengganti menteri garis keras yang bertanggung jawab atas hubungan lintas perbatasan dan telah menyampaikan bantuan medis kepada tetangganya itu.
(ANT)

ANTARA

Selain Marinir, AS pun Siapkan Jet F-22


Jet F-22 Raptor menggantikan armada F-15 Eagle, yang teknologinya hampir berusia 40 tahun

Kamis, 17 November 2011, 16:22 WIB
Renne R.A Kawilarang
Pesawat tempur AS F-22 Raptor (REUTERS)

VIVAnews - Presiden Barack Obama sudah memaparkan rencana Washington untuk memperkuat kehadiran militer AS di Australia Utara. Penempatan pasukan AS itu untuk menjaga konstelasi stabilitas di Asia Pasifik sekaligus dapat diberdayakan untuk operasi kemanusiaan dan bantuan keamanan.

Dalam pertemuan Obama dengan PM Julia Gillard Kamis kemarin, Australia sudah bersedia menjadi pangkalan bagi 2.500 pasukan Marinir AS, yang akan dikirim secara bertahap mulai tahun ke Darwin, wilayah sebelah utara Australia yang dekat dengan perbatasan maritim di sebelah tenggara Indonesia.

Namun, Obama tidak hanya menempatkan pasukan Marinir. Seorang pejabat militer AS pun mengungkapkan bahwa mereka juga telah menyiagakan armada pesawat tempur tercanggih, F-22 Raptor, dan pesawar transport C-17, untuk mengantisipasi gangguan keamanan bagi kepentingan AS di Asia Pasifik.

"Kami telah diam-diam, namun sangat efektif, menambah kapabilitas kami di Pasifik dengan meningkatkan teknologi dan juga memperkuat integrasi dengan negara-negara mitra dan sekutu kami," kata Mayor Jenderal Angkatan Udara AS, Michael Keltz, seperti dikutip stasiun berita CNN, 16 November 2011.

Keltz adalah direktur perencanaan dan kebijakan strategis pada Komando Militer AS di Pasifik. Dia saat itu dihubungi lewat telepon dari Hawaii.

Keltz mengungkapkan bahwa F-22 Raptor telah menggantikan armada pesawat tempur F-15 Eagle. Walau masih terbang lincah, teknologi F-15 sudah hampir berumur 40 tahun. "Pesawat tempur - jet - tidak berumur panjang dan kita harus memutakhirkannya," kata Keltz. 

Belum ada penjelasan apakah armada F-22 itu juga akan ditempatkan di Australia. Namun, stasiun berita Australia Network News pada 31 Mei 2011 mengungkapkan bahwa seorang kolonel AS pernah menyarankan agar Australia menyediakan lahan bagi pangkalan F-22 dan juga kapal selam AS.

Saran itu diutarakan Kolonel Angkatan Darat AS, John Angevine dalam laporan kepada Lowly Institutes. Menurut dia, sistem pertahanan Australia saat ini perlu disesuaikan lagi dengan risiko-risiko keamanan regional.  

Kepada parlemen Australia, Obama hari ini menyatakan bahwa AS kini telah mengalihkan fokus keamanannya dari Irak dan Afganistan. Kini, penempatan pasukan AS ke luar negeri akan diarahkan ke Asia Pasifik, terutama Asia Tenggara.

"Saat kita telah mengakhiri perang [di Irak dan Afganistan], saya telah mengarahkan tim keamanan nasional saya untuk menjadikan keberadaan dan misi kami di Asia Pasifik sebagai prioritas utama," kata Obama, seperti dikutip Reuters, saat menjabarkan visi AS bagi kawasan Asia Pasifik. Hari ini dia akan bertolak ke Indonesia untuk menghadiri KTT Asia Timur di Bali dan menggelar pertemuan bilateral dengan tuan rumah.
• VIVAnews

Wednesday, November 16, 2011

SBY: Summit di Bali, Alternatif Mencari Solusi Krisis


|

KRISTIANTO PURNOMO/KOMPAS IMAGES Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono



BALI, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa Asean Summit ke 19 dan East Asia Summit dapat merupakan ajang alternatif ke III dalam mencari solusi krisis keuangan dan ekonomi global. Hal ini disampaikan Presiden saat memberikan arahan dihadapan para wartawan dalam negeri dan mancanegara yang meliput kegiatan summit di Bali, Rabu (16/11/11 di hotel Ayodhya Nusa Dua.
Demikian bunyi pers rilis yang dikirim oleh Menkominfo Tifatul Sembiring yang bertugas sebagai Humas penyelenggaraan Asean Summit dan Summit lainnya di Bali 17-19 November 2011 ini.
SBY mengatakan bahwa setelah pertemuan G-20 di Cannes, Perancis yang dipimpin oleh Sarkozy, serta pertemuan APEC di Honolulu yang dipimpin oleh Obama, maka Asean Summit dan East Asia Summit di Bali, yang 'dituan rumahi' oleh Indonesia dapat menghasilkan alternatif ke III bagi penyelesaian krisis ekonomi global.
"Asia Timur, rumah bagi lebih dari 3 milyar manusia, dimana berputar sebanyak 30 Trilyun dollar AS pendapatan domestik bruto (PDB), merupakan suatu potensi raksasa. Namun sekaligus juga sebagai potensi masalah dimasa akan datang, seperi food, energi, kesejahteraan, urban dan lain-lain", ujar SBY.
Dimasa lalu, lanjut SBY, pola pengelolaan ekonomi yang kurang adil dan tidak seimbang telah melahirkan krisis demi krisis. Sebagai contoh, krisis keuangan di Amerika Serikat 2009, bagai tsunami, telah melanda hampir semua kawasan Asia dan Eropa. Akibatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat di angka 3,58%.
"Akibat krisis th 2009 tersebut negara-negara seputar Asia tumbuh dengan negatif growth, Alhamdulillah kita masih tumbuh 4,58%. Ini patut kita syukuri," ujar SBY.
Sementara saat ini, Eropa juga kena krisis, hingga membuat limbung pemimpin-pemimpin Eropa, dan sudah mulai bergulir ke arah sosial dan politik di Yunani, Itali dan Spanyol. Tentu hal ini juga akan mempengaruhi pasar global.
"Saya ingin agar Summit di Bali ini, baik Asean Summit maupun EAS, justru memberikan energi positif bagi kontribusi penyelesaian krisis ekonomi dunia," kata SBY.
Disamping itu Presiden juga menggaris bawahi beberapa capaian yang berhasil diraih semasa  menjadi chair (ketua) Asean pada tahun 2011 ini. Seperti perdamaian Thailand dengan Kamboja, pasar bersama Asean, kerjasama UKM di Asean, penanggulangan penyebaran virus HIV dan kerjasama Asean Humanitarian (AHA).
Tifatul juga menyampaikan, sebagai Humas KTT, sampai saat ini sudah 1.958 wartawan yang datang meliput. Mereka ditempatkan di Media Center lantai 3 gedung BNDCC, yang dilengkapi kemampuan 3.000 pengguna internet serta kapasitas speed 2x 10GHZ yang didukung oleh PT. Telkom.

KOMPAS

BERITA POLULER