Pages

Wednesday, November 16, 2011

TNI Gelar Lomba Tembak "Panglima Cup"



 
Noor Irawan / PT. Media Nusa Pradana
Jurnas.com | SEBANYAK 164 peserta dari Mabes TNI dan ketiga matra TNI mengikuti lomba Tembak Panglima Cup 2011 di Lapangan Tembak Kartika Markas Komando Divisi Infantri 1 Kostrad, Cilodong, Depok, Rabu (16/11). Masing-masing kontingen sebanyak 41 orang terdiri dari 28 orang penembak dan 13 orang pendukung. Lomba tembak ini diselenggarakan pada Rabu (16/11) hingga Senin (21/11) mendatang.

Irjen Mabes TNI Marsekal Madya Sukirno saat membacakan sambutan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, lomba tembak ini merupakan program tahunan yang bertujuan mengoptimalkan pembinaan petembak dari masing-masing angkatan. Kegiatan ini juga dijadikan ajang kaderisasi dan persiapan dalam menghadapi event lomba tembak, baik nasional, regional maupun internasional.

”Keberhasilan pembinaan latihan di satuan, khususnya bagi pembinaan petembak sangat ditentukan oleh potensi atlet, kemampuan pelatih dan ketekunan pembina,”kata Sukirno di Cilodong, Rabu (16/11).

Selain itu, lanjutnya, dana, sarana dan prasarana pendukung, waktu pelatihan serta semangat dan disiplin para atlet dalam menjalankan program-program latihan, juga mendukung keberhasilan.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam pembinaan petembak adalah intensitas atlet dalam melakukan pertandingan, karena dengan banyak bertanding dan berkompetisi akan dapat mematangkan dan dapat mengasah potensi serta kemampuan yang dimilikinya.

"Lomba tembak ini juga diharapkan menampilkan sosok prajurit sekaligus petembak yang profesional dan berwatak kesatria," katanya.

Materi yang digelar dalam perlombaan ini adalah senapan, pistol putra dan putri, SO/GPMG serta eksibisi jenis pistol Pati. Yang diperebutkan adalah juara umum, juara beregu tiap materi, juara perorangan tiap materi.

Lomba tembak TNI 2011 juga diselenggarakan untuk mencari petembak-petembak TNI yang akan disiapkan mengikuti lomba tembak yang diadakan setiap tiga tahun sekali di Brunei Darussalam.

JURNAS

Berbagai Teknologi Canggih Dipamerkan



 
Agung Kuncahya B. / Jurnal Nasional
Jurnas.com | BERBAGAI teknologi canggih dipamerkan dalam Pameran Inovasi Indonesia 2011. Ada 14 stand yang menjadi peserta dalam pameran yang diadakan selama 4 hari di Terra Atrium Central Park, Jakarta.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi BPPT Marzan Aziz Iskandar mengatakan even ini diadakan untuk pengembangan inovasi masyarakat dalam bidang teknologi. “Ada 14 stand yang menampilkan teknologi terkini,” kata dia dalam pembukaan pameran inovasi Indonesia di Jakarta, Rabu (16/11).

Beberapa Penemuan Teknologi dalam acara ini antara lain:

LIPI berhasil menemukan inovasi teknologi pengalengan gudeg Bu Citro dan sayur Lombok hijau khas Indonesia.Universitas Brawijaya berhasil mengembangkan pasteurisasi metode pengawetan susu (susu listrik)Universitas Negeri Semarang berhasil menciptakan software laptop pelacak anti maling yang dikenal dengan nama Gematop (Get Maling Laptop). Dengan memasang Gematop pada laptop akan sangat memudahkan pemilik untuk melakukan pelacakan jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan (kehilangan laptop). Secara otomatis Gematop bekerja sembunyi-sembunyi memotret wajah pengguna laptop dan mengirim berbagai data yang dibutuhkan ke email pemilik untuk memudahkan dalam hal keperluan pelacakan.Universitas Tarumanegara menciptakan robot yang diberi nama eksapot. Robot ini bisa menjangkau daerah yang tidak bisa dijangkau oleh manusia.Politeknik Caltex Riau berhasil menciptakan Head Controller Wheel Chair (Kursi roda dengan sensor gerak kepala). Kursi roda ini menggunakan pengaturan pergerakan kepala.Universitas Bina Nusantara menciptakan alat penghemat listrik (Century Saver dengan cara menghilangkan arus boros / induksi pada tiap peralatan elektronik). Alat ini bisa menghemat listrik sampai 30 persen.

Marzan berharap semangat seperti itu, bisa tumbuh terus sehingga bisa menciptakan inovasi baru di bidang teknologi. “Masalah sehari- hari bisa menimbulkan ide menjadi inovasi,” katanya.

JURNAS

KTT ASEAN digelar, SBY berbahasa Indonesia



Kamis, 17 November 2011 08:06 WIB | 583 Views


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (FOTO ANTARA)

Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Pertemuan puncak para pemimpin ASEAN, Kamis pagi pukul 09.00 WITA, resmi dibuka.

"Salam damai dan sejahtera," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang embuka pertemuan tingkat tinggi se-Asia Tenggara itu dengan Bahasa Indonesia.

Presiden yang sebelum tampil ke podium duduk diapit para pemimpin ASEAN termasuk PM Thailand Yingluck Shinawatra, menekankan nilai solidaritas pada organisasi yang saat ini dipimpin Indonesia itu.

Sejarah membuktikan, demikian Yudhoyono, bahwa ASEAN berhasil mengatasi persoalan-persoalan kawasan dengan mengutamakan perundingan.

ASEAN juga mampu menjawab tantangan dari dinamika global, demikian Yudhoyono.


Teks lengkap pidato presiden pada KTT ASEAN

Kamis, 17 November 2011 08:35 WIB | 30 Views

Nusa Dua (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka KTT ke-19 ASEAN di Bali Nusa Dua Convention Center, BNDCC, Nusa Dua, Bali, Kamis pagi.

Yudhoyono menyampaikan sambutan dalam Bahasa Indonesia pada acara yang dihadiri oleh para pemimpin negara-negara anggota ASEAN.

Berikut isi pidato tersebut:


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu?alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,

Yang Mulia, para kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara anggota ASEAN,
Yang Mulia, Dr. Surin Pitsuwan, Sekretaris Jenderal ASEAN,
Yang saya hormati, para Pemimpin Lembaga-Lembaga Negara, dan para menteri negara-negara anggota ASEAN,
Yang saya hormati, para Perwakilan Tetap dan Duta Besar untuk ASEAN,
Yang saya hormati, Saudara Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika,

Para anggota delegasi dan hadirin sekalian yang saya muliakan,

Atas nama Pemerintah dan rakyat Indonesia, saya mengucapkan selamat datang, kepada para Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, yang datang dari negara-negara anggota ASEAN. Kehadiran Yang Mulia sekalian akan semakin memperkokoh kerja sama di kawasan Asia Tenggara, yang saat ini tengah bergerak maju menuju Komunitas ASEAN 2015.

Dalam kesempatan ini, saya secara pribadi, maupun dalam kapasitas sebagai Ketua ASEAN, ingin menyampaikan keprihatinan serta rasa duka yang mendalam, atas bencana banjir yang melanda beberapa negara anggota ASEAN. Musibah yang memilukan ini telah menimbulkan kerugian harta benda yang besar, dan bahkan menelan ratusan korban jiwa. Bantuan dan uluran tangan yang telah kita berikan kepada para korban, tak lain adalah wujud solidaritas sesama ASEAN.

Selanjutnya, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan, atas dukungan penuh dan kerja sama dari seluruh negara anggota ASEAN selama masa keketuaan Indonesia. Keberhasilan penyelenggaraan KTT ASEAN ke-18 di Jakarta, dan sama halnya keberhasilan penyelenggaraan SEA Games tahun 2011 di Palembang dan Jakarta, adalah berkat dukungan yang diberikan tersebut.

Dengan dukungan tersebut kita telah menghasilkan banyak capaian, sejak diselenggara-kannya KTT-18 ASEAN di Jakarta bulan Mei lalu. Saya meyakini, dukungan serupa akan diberikan dalam penyelenggaraan KTT ke-19 di Pulau Bali ini.

Pulau Bali memiliki makna historis yang khusus bagi kerja sama ASEAN, karena di sinilah tercapai beberapa kesepakatan penting, yang menjadi pijakan arah perkembangan kerja sama ASEAN. Pada tahun 1976, telah dilahirkan Treaty of Amity and Cooperation (TAC), yang dikenal dengan Bali Concord I. Dokumen tersebut mengatur pola perilaku antar negara anggota, khususnya untuk tidak menggunakan kekerasan dan mengedepankan cara-cara damai. Semangat yang tertuang dalam TAC tersebut telah pula diterima oleh banyak negara non-ASEAN, dan hingga saat ini, sebanyak 29 negara telah menjadi negara pihak pada TAC.

Pada tahun 2003, Bali kembali mencatat sejarah dengan dilahirkannya Bali Concord II. Melalui Bali Concord II ini, negara-negara ASEAN bersepakat untuk membangun komunitas berdasarkan tiga pilar: pilar politik dan keamanan, pilar ekonomi, dan pilar sosial budaya. Kita bergembira bahwa pasca Bali Concord II, ASEAN kemudian menyepakati ASEAN Charter, yang mengukuhkan ASEAN sebagai rule-based organization.

KTT ASEAN kali ini insya Allah akan melahirkan Bali Concord III, yang akan memetakan jalan ke depan, bagi interaksi komunitas ASEAN dengan komunitas global bangsa-bangsa. Hal ini sesungguhnya sejalan dengan tradisi kerja sama ASEAN selama ini, yang selalu membuka diri terhadap dunia luar, seperti melalui mekanisme dialog ASEAN dengan mitra wicaranya, dan forum strategis seperti ARF. Semangat dari Bali Concord III adalah, partisipasi dan kontribusi ASEAN yang semakin besar bagi terwujudnya dunia, yanG Eebih damai, lebih adil, lebih demokratis dan lebih sejahtera, termasuk peran aktif ASEAN untuk ikut mengatasi berbagai permasalahan fundamental dewasa ini.

Yang Mulia,

Hadirin sekalian,

Kita berkumpul pada saat dunia dihadapkan pada satu proses perubahan, yang berdampak luas pada kehidupan umat manusia. Di Timur Tengah dan Afrika Utara, transformasi sistem sosial dan politik melalui Arab Spring terus berproses. Sementara itu, dunia pun dihadapkan pada ancaman krisis ekonomi global baru, akibat gejolak keuangan di Eurozone. Kita sama-sama mengikuti, bahwa masalah krisis keuangan ini menjadi agenda pembahasan dalam KTT G20 di Cannes, dan KTT APEC di Honolulu baru-baru ini. Sementara itu, di samping ketidakpastian baru yang menghantui perekonomian dunia, permasalahan dan tantangan yang fundamental juga masih kita hadapi, seperti ketahanan pangan, energi dan air; perubahan iklim; bencana alam, serta dampak revolusi teknologi informasi pada kehidupan masyarakat kita.

Di tengah ?pancaroba? ini, banyak harapan ditumpukan pada kawasan kita. Sejarah telah me-nguji dan membuktikan bahwa ASEAN kian menjadi asosiasi yang matang, yang mampu menciptakan stabilitas dan keamanan kawasan, mampu mening-katkan kekuatan ekonominya, serta mampu menjadi komunitas yang makin ?people-centered? dan mampu pula menjalin kerukunan antar indentitas dan peradaban yang beragam. Dengan modal dan posisi ini, saya percaya ASEAN mampu untuk berkontribusi dalam merespon berbagai dinamika global tersebut. Hal ini sejalan dengan tema Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun ini: ?Komunitas ASEAN di antara Komunitas Global Bangsa-bangsa?. Maknanya, ASEAN ingin berperan lebih besar dalam urusan dunia : to outreach to the world.

Berangkat dari tema ini, saya ingin menggaris-bawahi lima hal pokok yang perlu dibahas pada rangkaian kegiatan KTT ke-19 ASEAN dan KTT terkait lainnya.

Pertama, kita perlu melakukan langkah-langkah konkrit guna memperkuat ketiga pilar Komunitas ASEAN. Kita harus memastikan tercapainya seluruh Rencana Aksi di ketiga pilar tersebut secara seimbang dan saling mengisi, sebelum 2015.

Pembangunan Komunitas ASEAN harus terus melibatkan segenap pemangku kepentingan di kawasan. ASEAN harus menjadi komunitas yang people-oriented, people-centered, dan people-driven. Mereduksi makna komunitas ASEAN dengan cara menjadikan asosiasi ini sebagai urusan pemerintahan negara-negara anggota semata, ataupun hanya menitik beratkan pada kerjasama ekonomi, sungguhpun itu penting, adalah keliru.

Kedua, kita perlu memperkuat pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Melalui pertumbuhan tersebut, kawasan kita akan lebih tahan (resilient), terhadap volatilitas perekonomian global. Lebih dari itu, daya tahan tersebut akan membuat kita mampu menjadi bagian dari solusi, atas krisis keuangan dan ekonomi dunia saat ini. Kita juga akan mampu menyumbang pertumbuhan ekonomi global yang kuat, serta mampu membuat perekonomian global makin berimbang (more balanced global economy)

Saya bergembira bahwa ASEAN telah memiliki peta jalan untuk menjaga tingkat pertumbuhan, antara lain, dengan membangun konektivitas (connectivity) antar negara dan antar kawasan. Kita harus memastikan realisasi dari Master Plan on ASEAN Connectivity. Sama halnya, dalam kerangka nasional, Indonesia juga membangun konektivitas melalui MP3EI, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik serta membangun peluang untuk investasi, perdagangan dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Dengan keterhubungan yang semakin efektif, maka perdagangan dan investasi antar negara akan meningkat. Tentunya, yang kita tuju bersama adalah pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Kita berikan kesempatan yang adil bagi segenap warga kita untuk mendapatkan keuntungan, dari semakin terintegrasinya pereko-nomian kawasan.

Ketiga, kita perlu mengambil peran utama dalam menata arsitektur kerja sama kawasan yang lebih efisien dan efektif.

ASEAN harus mampu mempertahankan sentralitas dan kepemimpinannya, dalam berinter-aksi dengan mitra wicara, dan dalam kesertaan ASEAN di forum-forum intra kawasan.

Kerja sama dengan para mitra ASEAN telah kita kembangkan melalui mekanisme ASEAN Plus One, ASEAN Plus Tiga, ASEAN Defense Ministerial Meeting Plus, dan ASEAN Regional Forum, maupun mekanisme-mekanisme lainnya.

Sementara itu, dalam pembentukan arsitektur kawasan melalui kerangka East Asian Summit, kita perlu mengidentifikasi prinsip-prinsip bersama, yang memandu hubungan seluruh negara peserta EAS. Melalui prinsip-prinsip itulah tata hubungan yang damai dan bersahabat tidak lagi terbatas pada Asia Tenggara, tetapi juga bagi negara-negara pelaku utama di kawasan Asia Timur ini. Kita membentuk East Asia Summit tentu bukan untuk menimbulkan perpecahan, tetapi justru untuk meningkatkan persatuan dan kebersamaan.

Keempat, kita perlu menjaga stabilitas dan keamanan kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.

ASEAN harus senantiasa bertindak proaktif memfasilitasi dan melibatkan diri dalam penyelesaian berbagai ?residual issues?, yang selama ini menjadi faktor penghambat akselerasi kerja sama ASEAN. Dalam masa Keketuaan Indonesia, ASEAN memfasilitasi dialog damai masalah perbatasan antara Kamboja dan Thailand. Ke depan, kita harus terus meningkatkan kapasitas dan kemampuan ASEAN dalam resolusi konflik.

Kita patut bergembira bahwa ASEAN juga mampu membangun comfort zones bagi banyak negara, untuk berdialog mengenai isu-isu yang pelik. Sebagai ilustrasi, di sela-sela pertemuan ARF bulan Juli lalu, telah berlangsung pembicaraan antara dua negara bersaudara, Korea Utara dan Korea Selatan.

Selain itu, kesepakatan Guidelines on the Implementation of the Declaration on the Conduct of the Parties in the South China Sea antara ASEAN dan RRT, telah menumbuhkan optimisme dalam melihat permasalahan di Laut Cina Selatan.

Upaya kita meraih perdamaian dan stabilitas kawasan semakin maju, dengan penerimaan negara-negara pemilik senjata nuklir terhadap kerangka kerja sama Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ [:shon-fez]). Kita harus memanfaatkan momentum yang sangat baik ini untuk melaksanaan penandatanganan Protokol SEANWFZ [: shon-fez] sesegera mungkin.

Kelima, dengan melakukan keempat langkah yang saya sebutkan tadi secara bersamaan, maka kita akan memperkuat peran ASEAN secara global.

Dalam dunia yang semakin kompleks dan saling kait-mengait, ASEAN sejatinya harus menjadi yang terdepan dalam mengatasi berbagai tantangan yang mencuat. ASEAN tidak boleh hanya menjadi penonton pasif, yang rentan menjadi korban permasalahan di belahan dunia lainnya.

Kita berharap, Deklarasi Bali mengenai Komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Bangsa-bangsa, akan menjadi petunjuk pelaksanaan dan landasan bersama kita (common platform), guna meningkatkan kontribusi ASEAN dalam penanganan isu-isu global.

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Itulah agenda dan sasaran utama dalam rangkaian Pertemuan Puncak ASEAN tahun 2011 di Bali, Indonesia ini.

Akhirnya, seraya memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, KTT ke-19 ASEAN dan KTT terkait lainnya saya nyatakan dengan resmi dimulai.

Terima kasih.
Wassalamu?alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om Santhi, Santhi, Santhi Om.


Nusa Dua Bali, 17 November 2011
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO





ANTARA

ASEAN tidak menjadi ajang persaingan negara besar



Rabu, 16 November 2011 21:08 WIB | 825 Views
Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, terus mengamati dari dekat segenap agenda dan pelaksanaan persidangan dalam KTT Ke-19 ASEAN di Nusa Dua, Bali. Dari sisi isu pertahanan dan keamanan kawasan, perselisihan perbatasan wilayah laut di Laut China Selatan menyedot perhatian besar. Berangkat dari isu itu, ASEAN tidak akan membiarkan dirinya menjadi arena persaingan bagi negara-negara lain. (FOTO ANTARA)
 ...ASEAN tidak akan membiarkan kawasan Asia Tenggara, dari mana atau oleh siapapun, menjadi ajang persaingan negara-negara yang menganggap dirinya atau negara-negara besar...

Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, menegaskan, ASEAN tidak akan membiarkan kawasan Asia Tenggara menjadi ajang persaingan negara-negara besar. Persaingan ini, bisa dilihat dalam berbagai aspek dan bidang.

"Negara-negara ASEAN tidak akan membiarkan kawasan Asia Tenggara, dari mana atau oleh siapapun, menjadi ajang persaingan negara-negara yang menganggap dirinya atau negara-negara besar," kata Natalegawa, diBali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Rabu malam.

Pernyataan dia disampaikan untuk menjawab pertanyaan tentang sikap ASEAN atas pernyataan Amerika Serikat untuk meningkatkan kerjasama pengamanan maritim di perairan Filipina. Hal itu merujuk pada sengketa Laut China Selatan dari beberapa negara ASEAN, termasuk Filipina dan Vietnam, dengan China.

Natalegawa mengaku belum membaca mengenai pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, namun ia memastikan, ASEAN masa kini berbeda dengan ASEAN masa lalu karena kini ASEAN memiliki pendekatan yang jelas.

Karena itu, kata dia, ASEAN sangat berkepentingan untuk memberikan tatanan yang jelas, Code of Conduct dan panduan yang jelas sehingga kepedulian-kepedulian dari negara-negara non Asia Tenggara dapat dijadikan dalam bentuk yang sesuai dengan kepentingan Asia Tenggara.

Filipina mengusulkan Zona Perdamaian, Kebebasan, Persahabatan dan Kerja Sama (ZoPFFC) untuk mendefinisikan mana wilayah konflik dan mana yang berada dalam kedaulatan sebuah negara di kawasan sengketa Laut China Selatan. Ide ini akan membawa pada kerja sama kawasan. 

Dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN, menteri luar negeri Filipina disebutkan mengomentari ASEAN yang dianggapnya gagal menggunakan kekuatan diplomatik untuk menghadapi tekanan dari China.

Namun Natalegawa menyatakan, proposal Filipina gagal untuk mendapat daya tarik di kawasan. Ia menyebut, proposal itu menemui kendala dalam upaya menemukan mana kawasan yang diperselisihkan dan mana kawasan yang tidak diperselisihkan.

Sementara itu AFP menyebutkan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, berikrar mendukung Filipina saat ketegangan meningkat menyangkut wilayah lautnya dengan China, dalam pesannya dari kapal perang AS di Teluk Manila.

Filipina memang menjadi titik penting bermakna strategis Amerika Serikat di Asia Tenggara. Pangkalan Subic dan Pangkalan Udara Clark menjadi ukuran tingkat kepentingan Amerika Serikat di kawasan itu.

Clinton tidak secara langsung menyebut China, yang Filipina dan Vietnam tuduh melakukan taktik-taktik semakin agresif dalam sengketa-sengketa wilayah di Laut China Selatan.

Tetapi Menteri Luar Negeri Filipina, Alberto Del Rosario, juga berbicara dari kapal USS Fitzgerald yang berpangkalan di Kalifornia itu, bahwa pernyataan itu merupakan satu sinyal kuat mengenai sengketa-sengketa dalam apa yang ia sebut Laut Filipina Barat itu.

ANTARA 

Korps Marinir miliki divisi Sorong-Papua pada 2012



Selasa, 15 November 2011 21:09 WIB | 1352 Views
KSAL Laksamana TNI Soeparno (FOTO ANTARA)
BMP-3F MARINIR
Surabaya (ANTARA News) - Korps Marinir akan memiliki divisi baru yakni Divisi III Sorong-Papua pada tahun 2012 untuk melengkapi Divisi I (Pasmar-1) di Surabaya dan Divisi II (Pasmar-2) di Jakarta.

"Embrionya sudah lama ada di Sorong, yakni satu batalyon di Papua, tapi nantinya akan ditingkatkan menjadi brigade dan akhirnya divisi," kata KSAL Laksamana TNI Soeparno di Surabaya, Selasa.

Ia mengemukakan hal itu setelah memimpin upacara HUT ke-66 Korps Marinir di Lapangan Tembak Lettu Anumerta FX Supramono, Kesatrian Marinir Karangpilang, Surabaya.

Didampingi Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) A Fariz Washington dan Komandan Pasmar-2 Brigjen TNI (Mar) Sturman Panjaitan, ia menjelaskan penataan itu akan mendorong adanya tiga divisi yakni Divisi I di Jakarta, Divisi II di Surabaya, dan Divisi III di Sorong-Papua.

"Jadi, pengamanan kawasan perbatasan Indonesia dengan negara lain tidak akan ditambah, karena sudah dianggap cukup. Apalagi Marinir memang bukan untuk pengamanan perbatasan laut," ucapnya.

Selain itu, Korps Marinir juga akan menambah tank BMP-3 F sebanyak 54 unit tank dengan 34 tank baru akan direalisasikan pada tahun 2012, sedangkan sisanya menyusul.

"Ke-54 tank baru itu akan ditempatkan di wilayah barat dan timur dengan sebagian tank merupakan produksi dalam negeri. Yang jelas, kalau alat tempur kita bisa dibuat di dalam negeri, ya kita beli di sini," ujarnya.

Kendati demikian, menurut KSAL, Korps Marinir itu bukan pasukan "ecek-ecek" (sepele). "Anda bisa lihat sendiri kesiapan personel dan materiil dari Divisi Infanteri 1 dan 2 dengan seluruh alat tempurnya yang didatangkan ke sini pada HUT ke-66 Koprs Marinir," katanya.

Upacara HUT ke-66 Korps Marinir yang diikuti 6.155 prajurit itu dimeriahkan dengn atraksi dari 12 tank PT-76 buatan Rusia yang dipakai dalam Pertempuran Trikora pada tahun 1960-an, tiga pucuk Launcher RPG yang pernah dipakai di Aceh dan Timtim, sekaligus demonstrasi terjun statik oleh 60 peterjun dan terjun "Freefall" oleh 11 peterjun yang turun secara bersamaan (bertumpukan).

Sebelumnya (14/11), istri Komandan Korps Marinir yang juga Ketua Gabungan Jalasenastri Korps Marinir, Ny Nita Alfan Baharudin, merayakan HUT Korps Marinir dengan mengunjungi anggota Marinir Wilayah Timur yang dirawat di Rumah Sakit Marinir, Gunungsari, Surabaya.

ANTARA

Transfer Teknologi Alutsista Bekas Sulit Terwujud


Helikopter serbu rancangan PT DI. (Foto: Berita HanKam)

17 November 2011, Jakarta (SINDO): Pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) bekas pakai negara lain akan memberikan manfaat bagi industri pertahanan dalam negeri apabila alat itu dijadikan bahan penelitian dan praktik.

Sebab,transfer of technology (ToT) lewat pembelian alutsista bekas sangat sulit diharapkan. Saat ini pemerintah sedang mengkaji rencana pembelian alutsista bekas negara-negara Eropa,di antaranya helikopter Apache.Padahal,dalam waktu bersamaan PT Dirgantara Indonesia juga sedang melakukan riset pembuatan helikopter, pengembangan dari jenis helikopter terdahulu.

Direktur Teknologi PT Dirgantara Indonesia Dita Ardoni Jafri mengungkapkan, pembelian helikopter baru saja sulit untuk mendapatkan ToT secara utuh, apalagi bekas.“ToT tidak bisa kita minta,tapi harus direbut.Saya tidak pernah percaya ada ToT. Mungkin memang ada, tapi itu sifatnya ke personel yang ikut pembuatan,” ujarnya kemarin.

Saat ini,PT DI sedang dalam proses riset pembuatan helikopter dengan mengembangkan helikopter jenis lama. Proyek rekayasa helikopter ini bekerja sama dengan Lapan. Namun, kendalanya tidak ada beberapa komponen helikopter yang dibutuhkan, yakni mesin,girboks, dan komponen dinamik.

Ketiga jenis komponen itu belum dapat diproduksi di dalam negeri sehingga harus mencari dari helikopter bekas jenis BO untuk selanjutnya dikembangkan ke dalam pembuatan helikopter jenis baru. Pengembangan itu memang bukan untuk helikopter serbu sebagaimana Apache karena PT DI belum memiliki chip-nya.

Namun proyek ini bisa menjadi rintisan karena komponen semua jenis helikopter relatif sama, kecuali kemampuan manuver dan avioniknya. “Sebenarnya asal ada pesanan yang tinggi,kita bisa karena pesanan yang tinggi itu otomatis mendorong kreativitas terus berkembang,”sebut Dita.

Dia melanjutkan, di beberapa negara seperti China, untuk membangun industri pertahanan dalam negerinya mereka rela “merusak” alutsista yang dibeli guna dipelajari di dalam negeri.Hal ini didukung dengan kebijakan pemerintahnya yang bersedia memesan dalam jumlah banyak meski itu baru proses belajar.

Rencana pembelian helikopter bekas oleh pemerintah ini di satu sisi bisa menguntungkan industri dirgantara.“Sebagai produsen, kita senang karena beli bekas itu artinya usia pakai lebih cepat rusak,”sebut dia. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menuturkan, pembelian alutsista bekas juga tidak sesuai dengan rencana awal pemerintah untuk membangun industri pertahanan dalam negeri.

“PT DI kan sekarang juga sedang mengembangkan pembuatan helikopter, tapi malah akan membeli bekas dari luar negeri,” ungkapnya. Alutsista bekas juga merugikan karena memiliki usia pakai yang lebih pendek dan kesulitan mendapatkan suku cadang serta amunisi. Selain itu, alutsista bekas juga belum tentu cocok dengan kondisi geografis Indonesia, kecuali helikopter.

“Kita lihat F-16 yang katanya hibah, tapi ternyata harus keluar duit USD700 juta. Jadi, dihitung-hitung tetap mahal juga,”imbuhnya. Sebelumnya,Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan,pemerintah mendorong agar setiap pembelian alutsista impor dilakukan dengan sistem government to government (G to G) sehingga akan didapat garansi yang lebih banyak untuk dapat memanfaatkan senjata itu dengan baik.

Pemerintah juga menolak membeli jika disertai persyaratan tertentu yang bakal menyulitkan di kemudian hari, misalnya membuka peluang ancaman embargo.Belajar dari pengalaman masa lalu, pemerintah pernah membeli alutsita yang ternyata barang itu tidak bisa digunakan.

“Belajar dari situ, kita sekarang tidak mau lagi melakukan pembelian, misalkan ada persyaratanpersyaratan yang menyulitkan kita.Itu clear,”ujarnya.

Sumber: SINDO

Tuesday, November 15, 2011

“Sangatta Kembali Kepangkuan Ibu Pertiwi”



16 November 2011, Sangatta (Dispenarmatim): TNI Angkatan Laut yang sedang melaksanakan latihan operasi pendaratan amfibi dengan sandi “Armada Jaya XXX/11” berhasil “merebut” kembali pantai Sekerat yang telah di kuasai oleh musuh, Jum’at (11/11). Daerah pantai itu berada di Sangatta Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur dan masuk dalam wilayah Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terjadi “pertempuran” sengit pada dini hari sekitar pukul 04.30 (Wita) ketika Pasukan Pendarat (Pasrat) Marinir TNI AL berusaha merebut kembali wilayah itu kepangkuan ibu pertiwi.

Panglima Komando Tugas Gabungan Amfibi (Pangkogasgabfib) Laksamana Pertama TNI Taufiqurrachman melalui siaran radio yang diakses oleh unsur kapal-kapal Kogasgabfib memerintahkan kepada seluruh pasukan pendarat untuk merebut pantai Sekerat yang telah dikuasai musuh. Dalam taklimatnya Pangkogasgabfib mengatakan “Daratkan Pasukan Pendarat”, kemudian dalam waktu singkat pasukan pendarat yang dipimpin oleh Komandan Pasukan Pendarat (Danpasrat) Kolonel Marinir Amir Faisol keluar dari Tank Deck KRI Surabaya-591 dan KRI Teluk Ende-517 meluncur ke daerah sasaran.

Pendaratan amfibi diawali dengan beberapa ledakan penghancuran (Demolisi) terhadap benteng pertahanan lawan oleh personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL yang sebelumnya telah melakukan infiltrasi penyusupan ke jantung pertahanan musuh di pantai Sekerat. Kemudian disusul ledakan-ledakan berikutnya yang berasal dari Bantuan Tembakan Kapal (BTK) oleh unsur-unsur kapal perang yang berada jauh di tengah laut. Tembakan artileri dari meriam kapal perang membuat konsentrasi musuh menjadi terpencah kemudian pasukan pendarat Marinir dapat berhasil mencapai titik pendaratan meskipun mendapat perlawanan sengit dari pasukan lawan yang berada di darat.

Pasukan Marinir melaksanakan pendaratan lintas pantai dengan barisan terdepan 5 buah Tank jenis Pallawa Tanka (PT) 76M dan 2 buah BVP 2 untuk melaksanakan tembakan perlindungan. Sedangkan yang lainnya menggunakan 12 unit Tank angkut personel Browne Transporter (BTR) dan 4 buah Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri (Kapa) serta 20 perahu karet. Begitu pasukan marinir tiba di pantai pendaratan langsung disambut dengan rentetan tembakan oleh musuh, dan terjadi pertempuran sengit untuk menguasi daerah itu. Dalam waktu singkat Pantai Sanggatta dapat dikuasai kemudian pasukan yang berada dibawah Komando Tugas Gabungan Pendarat Administrasi (Kogasbagratmin) melakukan pendaratan administrasi menggunakan dua buah kendaraan Landing Craft Utility (LCU) dari KRI Surabaya.

Untuk menghancurkan kekuatan musuh dilaksanakan tembakan penyapuan oleh 2 unit peluncur roket RM 70 Grad dsn;2 pucuk meriam Howitzer kaliber 105mm. Namum pertempuran terus berkobar dimana-mana, selanjutnya pasukan Marinir TNI AL dan kendaraan tempurnya memburu sisa-sisa musuh yang bersembunyi di Obyek Vital Nasional (Obvitnas) dermaga Kaltim Prima Coal (KPC). Seluruh kekuatan musuh dapat dihancurkan dan Sanggatta kembali kepangkuan ibu pertiwi.

Operasi pendaratan amfibi itu merupakan puncak acara Latihan Armada Jaya XXX/11 yang digelar oleh TNI AL diwilayah Kalimantan Timur dengan melibatkan seluruh komponen Sistim Persenjataan Armada Terpadu (SSAT) TNI AL. Kekuatan tersebut adalah pangkalan, Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang terdiri dari Kapal-kapal Kombatan, kapal selam, kapal amfibi, kapal cepat rudal, buru ranjau, kapal patroli dan kapal bantu (Salvage) juga unsur Pesawat Udara (Pesud) yang terdiri dari pesawat Cassa dan helikopter.

Sedangkan pasukan Marinir mengerahkan satu Batalyon Tim Pendarat (BTP) marinir yang terdiri dari pasukan Infanteri, 5 unit PT 76M, 2 unit Tank BVP, 12 unit Tank BTR, 4 unit Kapa, 2 pucuk meriam Howitzer kaliber 105mm, 23 truck, 2 kendaraan taktis Tatra, 2 unit ambulan medis dan 20 perahu karet. Selain itu juga didukung kekuatan lainnya diantaranya dari adalah 2 tim Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL, Intai Para Amfibi (Taifib), Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal), kesehatan, Search And Rescue (SAR) serta pandu gelombang dari Divisi Pantai.




Latihan tempur itu disaksikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno didampingi Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E. selaku Direktur Latihan Armada Jaya XXX/11. Acara itu juga dihadiri beberapa tamu kehormatan dari Atase Pertahanan (Athan) negara sahabat diantaranya Athan Amerika Serikat, Australia, Singapura, Malaysia, Belanda dan Italia serta pejabat Muspida setempat.

Kegiatan latihan Armada Jaya XXX/11 diliput oleh seluruh media, baik cetak maupun elektronik yang berasal dari pusat Jakarta dan media lokal. Dalam konferensi persnya Kasal mengatakan “Latihan Armada Jaya XXX/11 merupakan puncak latihan TNI AL yang diselenggarakan setiap tahun”, tegas Kasal.

Sumber: Dispenarmatim

BERITA POLULER