Pages

Tuesday, November 15, 2011

Medvedev Undang SBY ke Rusia


Presiden SBY saat memberikan keterangan pers kepada wartawan Indonesia, di Hotel Trump Internasional, Honolulu, Minggu (13/11) malam waktu Hawaii. (foto: rusman/presidensby.info)
Presiden SBY saat memberikan keterangan pers kepada wartawan Indonesia, di Hotel Trump Internasional, Honolulu, Minggu (13/11) malam waktu Hawaii. (foto: rusman/presidensby.info)
Honolulu, Hawaii: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjanji akan berkunjung ke Rusia memenuhi undangan Presiden Dmitry Medvedev ketika hubungan kedua negara makin berkembang dan diperlukan pertemuan puncak. Hal ini dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada bagian lain keterangan persnya di Hotel Trump Internasional, Honolulu, Hawaii, Minggu (13/11) malam waktu setempat.

Presiden SBY memang menggunakan kehadirannya pada forum APEC ini sebagai kesempatan untuk memenuhi undangan beberapa kepala negara dan kepala pemerintahan lainnya. Presiden sempat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Dimitry Medvedev, Sabtu (12/11) siang waktu setempat.

"Pembicaraan kemarin sangat konstruktif, dan kita bersepakat untuk meningkatkan kerja sama di banyak bidang. Beliau (Presiden Medvedev) juga mengundang saya untuk berkunjung kembali ke Rusia, setelah sebelumnya Presiden Putin juga mengundang saya," ujar Kepala Negara.

"Saya katakan, insya Allah, manakala sudah makin berkembang (hubungan kedua negara) dan memerlukan pertemuan puncak kedua pemimpin Indonesia dan Rusia, saya akan berkunjung pada saatnya nanti," SBY menambahkan. "Tetapi harapan saya, manakala saya berkunjung ke Rusia, sudah ada capaian-capaian yang konkret yang kemudian ditindaklanjuti secara riil, baik di Rusia maupun di Indonesia," SBY menjelaskan.

Dalam pertemuan bilateral di Honolulu tersebut, Presiden Medvedev yang sedianya ke Bali untuk menghadiri KTT Asia Timur meminta maaf karena tidak bisa datang. Rusia sedang menghadapi pemilu.

Sementara itu, Presiden SBY juga mengadakan pertemuan bilateral dengan PM Kanada Stephen Harper. Presiden memuji Kanada sebagai salah satu negara yang kinerjanya baik pada saat terjadi krisis finansial. "Saya mengundang PM Harper untuk berkunjung ke Indonesia sambil mematangkan dan terus meningkatkan secara konkret kerja sama antara Indonesia dan Kanada," kata Presiden SBY.

SUMBER : WEB PRESIDEN RI

Pengantar pada Sidang Kabinet Terbatas tentang Alutsista

Pengantar pada Sidang Kabinet Terbatas tentang Alutsista


TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
RAPAT TERBATAS MENBAHAS ALUTSISTA
KANTOR PRESIDEN, 10 NOVEMBER 2011





Bismillahirrahmanirrahim,

Beberapa saat yang lalu dalam Sidang Kabinet Terbatas telah kita tetapkan kebijakan modernisasi dan pembangunan kekuatan pertahanan, utamanya jajaran TNI dan dalam skala tertentu jajaran Polri, termasuk rencana pengadaan alutsista jangka menengah dan jangka panjang.

Kita juga telah menetapkan dukungan anggaran untuk pengadaan alutsista tersebut, utamanya pada periode pembangunan 2009-2014. Telah saya putuskan dan kita telah mensinkronisasikan antara kebutuhan Kementerian Pertahanan, jajaran TNI dan Polri dengan kemampuan dukungan anggaran yang dikelola oleh Kementerian Keuangan dan dalam batas tertentu BAPPENAS.

Rapat Terbatas hari ini tidak untuk membahas masalah itu, karena sudah selesai sehingga yang mesti kita pastikan pengadaan alutsista ke depan ini mestilah dalam batas anggaran yang telah kita tetapkan, yang telah kita setujui, manakala ada kebutuhan tambahan di luar yang sudah kita setujui tentu harus kita bicarakan lagi.

Di waktu yang lalu pula telah saya ingatkan kembali kebijakan dasar kita dalam pengadaan alutsista. Saya ulangi lagi, wajib hukumnya untuk membeli atau mengadakan alutsista produk industri pertahanan nasional kita, manakala alutsista itu sudah bisa diproduksi oleh jajaran industri pertahanan kita. Kalau belum bisa, ya kita mesti mengadakan atau membeli dari negara-negara sahabat, tanpa kondisionalitas, apalagi kondisionalitas politik.

Sedangkan yang ketiga, diharapkan kalau toh kita belum bisa memproduksi, maka jangka menengah, jangka panjang, kita harus membangun satu kerangka kerja sama yang konstruktif, misalnya joint investment, joint production, joint research, development, and innovation. Dengan demikian, benefit ekonomi juga kita dapatkan, transfer of technology juga terjadi dan pada saatnya nanti insya Allah, kita bisa memproduksi dalam negeri. Saya senang bahwa kebijakan dasar kita ini telah benar-benar dilaksanakan dan apabila ini kita laksanakan, maka semuanya akan mendapatkan benefit yang riil, pengguna sendiri maupun industri pertahanan kita.

Kita sama-sama sudah meninjau PT DI dan sudah melihat langsung produksi bersama antara PT DI dengan Airbus Military untuk pesawat angkut CN-295 dan setelah mendemonstrasikan kemampuan untuk mendukung operasi militer. Dalam pembicaraan lebih lanjut kemarin di Bandung, alangkah baiknya kalau pesawat semacam CN-295 itu bukan hanya dikonsumsi oleh jajaran TNI atau Polri, tetapi juga oleh pengguna di dalam negeri sendiri, pihak lain apalagi menggunakan APBN.

Kita ingin, Saudara-saudara, apa yang telah kita lakukan, contoh yang riil kerja sama Airbus Military dengan PT DI, saya juga sudah mendapatkan penjelasan kerja sama antara Korea dengan PT DI untuk membangun jet tempur militer jangka panjang, itu juga terjadi di jajaran strategis kita, Pindad misalnya, PAL misalnya dan lain-lain.

Kita waktu berada di Bandung juga sudah membahas untuk mulai memikirkan ada produksi kendaraan taktis, tempur, kend_raan taktis militer yang mampu diproduksi Pindad dengan kerja sama dengan industri yang lain. Saya kira langkah inilah, Saudara-saudara, yang harus kita sungguh jalankan, dengan demikian, in the long run benar-benar kita lebih mandiri, lebih maju teknologi kita, dan bisa memproduksi semuanya dan benefit sekali lagi, ada di mana-mana.

Rapat Terbatas hari ini lebih kita arahkan untuk setelah kemarin ditetapkan kebutuhan masing-masing angkatan dan Polri, Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Polri dengan skala prioritas, dengan timeline, berapa untuk membeli apa, dengan teknologi seperti apa, kapan akan diadakan dan seterusnya.

Kita nampaknya perlu melakukan, bisa percepatan, bisa penajaman. Setelah saya menerima laporan dari Menteri Pertahanan bersama Wakil Menteri Pertahanan dari Panglima TNI dengan jajarannya, hasil peninjauan kita ke negara-negara sahabat ya, terutama untuk sistem persenjataan yang belum bisa kita beli sendiri, yang ternyata dengan lobi yang bagus, dengan negosiasi yang bagus, ada benefit tertentu.

Menurut saya ini patut kita sambut ya karena seringkali pendekatan G-to-G, Government-to-Government itu bisa lebih cepat, bisa lebih efisien. Tidak berarti, sebagaimana yang saya sampaikan di Bandung, bisnis atau usaha di lingkungan pengadaan alutsista itu tidak ada lagi di negara mana pun ada, tetapi saya ingatkan kepada para pebisnis, mereka-mereka yang berbisnis di bidang ini ikuti kebijakan pemerintah, kemudian ikutlah membangun kemandirian industri kita sendiri, kemudian tentunya pantas dan tidak ada penyimpangan, tidak ada kongkalikong sehingga ada mark up seperti yang terjadi di waktu yang lalu, ya artinya negara sangat dirugikan.

Inilah yang harus kita pastikan. Saya sudah meminta Pimpinan TNI dan Polri untuk betul-betul melakukan sistem pengadaan seperti ini. Saya juga berharap jajaran Kementerian Keuangan, Kementerian BAPPENAS, Kementerian Pertahanan juga punya mindset dan perilaku yang sama, dengan demikian apa yang kita cita-citakan dapat kita wujudkan.

Nanti akan saya berikan kesempatan kepada Menteri Pertahanan karena sebagai contoh, untuk Angkatan Darat ternyata dengan komunikasi, konsultasi, lobi, dan negosiasi ternyata ada opportunity yang bagus antara sekarang sampai 2014, pengadaan alutsista yang memang belum bisa kita adakan, sekaligus kerja sama dengan industri dalam negeri yang kira-kira juga memenuhi kebutuhan Angkatan Darat, demikian juga Angkatan Laut, demikian juga Angkatan Udara dan Polri.

Saya setelah mendengarkan laporan lengkap nanti, apa yang sangat urgent, apa yang necessary, dan apa yang memang dalam batas kemampuan, tekad finansial kita, segera kita putuskan sehingga karena ada proses untuk itu. Proses itu bisa juga dimulai dan insya Allah, pada periode ini modernisasi dan pembangunan kekuatan pertahanan yang sesungguhnya sudah kurang lebih 20 tahun tidak kita lakukan dengan baik, bisa kita kejar dan kita tutup.

Mengapa dulu tidak kita lakukan? Karena krisis ekonomi, memang kita tidak mempunyai kemampuan dan justru, dan termasuk 10 tahun sebelum krisis pun modernisasi kita tidak dilakukan secara all out karena ada prioritas yang lain waktu itu, semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Tapi justru sekaranglah ketika ekonomi kita meningkat, penerimaan negara meningkat, pembelanjaan negara meningkat. Mari kita tutup dan kita kejar ketertinggalan kemampuan pertahanan kita dengan negara-negara sahabat.

Demikian pengantar saya dan setelah ini nanti langsung Menteri Pertahanan untuk mempresentasikan dan nanti bisa ditambahkan oleh Panglima TNI, Kapolri atau Kas Angkatan, karena Kas Angkatanlah sebetulnya yang lebih berkaitan dengan kekuatan pembangunan ataupun alutsista. Demikian pengantar saya.
*****


Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretaris Presiden


SUMBER :WEB PRESIDEN RI

Russia’s Su-30MK maker boasts order portfolio for 300 fighters

Russia’s Su-30MK maker boasts order portfolio for 300 fighters
Russia’s Su-30MK maker boasts order portfolio for 300 fighters

Russia’s Irkut corporation said on Tuesday it had secured orders for at least 300 Su-30MK fighters and that it had already delivered over half of them.
Orders have been placed by India, Algeria and Malaysia, Irkut’s marketing director Andrei Alyoshin said at the Dubai Airshow 2011.
Over 200 of the aircraft have already been delivered to customers, Irkut said.
The Su-30MK Flanker is a multirole twin-engine, two-seater for all-weather, air-to-air and air-to-surface deep interdiction missions.
Su-family fighters constitute the bulk of Russia's arms exports.

RIA NOVOSTI

TNI-AU prioritaskan pemantaun udara di Indonesia timur


Selasa, 15 November 2011 23:43 WIB | 606 Views
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat, menegaskan, TNI AU memprioritaskan pemantauan wilayah udara di Indonesia bagian timur guna memperkuat sistem pertahanan udara.

"Pemantauan wilayah udara di bagian timur Indonesia akan ter"cover" seluruhnya setelah beroperasinya satuan radar 245 di Saumlaki Maluku serta satuan radar 243 di Timika Papua," kata KSAU saat memberi arahan pada upacara peresmian beroperasinya satuan radar 245 di Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku, Selasa.

Upacara tersebut dihadiri para pejabat di jajaran TNI AU serta Bupati Maluku Tenggara Barat beserta muspida.

Menurut dia, pembangunan satuan radar 245 Saumlaki ini merupakan wujud dari program strategis untuk meng"cover" situasi dan kondisi serta kerawanan wilayah udara bagian timur Indonesia terhadap pelanggaran udara.

KSAU menjelaskan, radius jangkau satuan radar di Saumlaki sejauh 240 mil laut ini akan "over lapping" dengan dengan satuan radar 241 di Beraun Nusa Tenggara Timur (NTT) serta dengan satuan radar 243 di Timika Papua.

"Satuan radar 241 di Beraun sudah beroperasi sejak, sedangkan satuan radar 243 di Timika dijadwalkan akan mulai beroperasi pada Februari 2012," katanya.

Setelah beroperasinya satuan radar di Saumlaki dan Timika, dia berharap seluruh wilayah udara di Indonesia bagian timur-selatan dapat ter"cover" oleh satuan-satuan radar yang saling "over lapping", yakni satuan radar 244 Merauke, satuan radar 243 Timika, satuan radar 245 Saumlaki, serta satuan radar 243 Beraun.

Dengan beroperasinya satuan radar 245 di Saumlaki, kata dia, maka gelar Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosek Hanudnas) IV di wilayah Indonesia bagian timur terus dapat diwujudkan karena di wilayah ini terdapat sejumlah obyek vital nasional serta jalur penerbangan internasional.

Pada kesempatan tersebut, KSAU menjelaskan, beroperasinya satuan radar 345 Saumlaki merupakan rangkaian dari sistem pertahanan udara nasional yang dilaksanakan secara terencana, bertahap, berkelanjutan, dan saling terkait dengan sistem pertahanan udara di seluruh wilayah Indonesia.

"Dioperasikannya radar di sejumlah lokasi di wilayah Indonesia, guna tercapainya penguasaan dan pengendalian ruang udara nasional melalui operasi pertahanan udara berupa deteksi, identifikasi, penindakan, sekaligus menetralisir ancaman," katanya.

KSAU menambahkan, jika melihat dari kondisi kemampuan, kekuatan dan gelar radar, TNI AU dihadapkan pada luasnya wilayah udara nasional Indonesia, sehingga belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan yang diharapkan.

Hal ini, kata dia, karena masih terbatasnya jumlah radar yang dimiliki untuk mengcover seluruh wilayah udara nasional serta usia radar aktif yang relatif tua.

Dengan keterbatasan tersebut, menurut KSAU, maka pelaksanaan tugas pengamatan dan pemantauan seluruh obyek yang bermanuver di wilayah udar Indonesia, belum dapat dilaksankan secara maksimal.

KSAU juga mengakui, pembangunan satuan radar di wilayah timur Indonesia agak terlambat dibandingkan dengan wilayah barat dan wilayah tengah Indonesia, karena keterbatasan anggaran TNI AU.

Namun, kata dia, TNI AU bertekad bisa secepatnya membangun satuan radar di seluruh wilayah Indonesia terutama di wilayah timur Indonesia.

Dia berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat atau minimal stabil seperti saat ini yakni 6,4 persen, sehingga anggaran untuk TNI juga bisa lebih baik guna lebih mengoptimalkan sistem pertahanan seperti satuan radar.

Pada kesempatan tersebut, KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat beserta pejabat di jajaran TNI AU juga meninjau operasional satuan radar 245 Saumlaki. 

ANTARA

KSAU Resmikan Radar di Saumlaki


15 November 2011

Radar Master T TNI Angkatan Udara (photo : Audry)
Ambon, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat akan meresmikan satuan radar 245 di Saumlaki, Maluku, Selasa (15/11), guna memperkuat sistem pertahanan di wilayah timur Indonesia.

"Radar ini adalah sarana pemantauan udara yakni suatu sistem dari Kohanudnas (Komando pertahanan udara nasional) yang termonitor dari Jakarta," kata Imam Sufaat di Ambon, Senin malam.

KSAU menjelaskan, dengan beroperasinya satuan radar maka dapat melakukan pemantauan pesawat tempur, peluru kendali, pesawat komersial, maupun pemantauan lainnya seperti penangkapan ikan di laut.

Ia mencontohkan, dengan beroperasinya radar maka kecelakaan pesawat bisa segera termonitor lokasinya.

Satuan radar 245 di Saumlaki yang akan diresmikan pada Selasa (15/11), menurut dia, adalah satuan radar ke 18 dari target 32 satuan radar di seluruh wilayah Indonesia.

Menurut dia, setelah satuan radar 245 di Saumlaki, berikutnya juga akan segera diresmikan satuan radar di Timika, Papua, yang direncanakan pada Februari 2011, kemudian selanjutnya di Jayapura, Morowali, dan Kalimantan.

Sedangkan sebelumnya, kata dia, juga telah diresmikan beroperasinya satuan radar di Merauke, Papua.

Satuan radar lainnya yang telah beroperasi di wilayah timur Indonesia, menurut dia, adalah di Kupang Nusa Tenggara Timur serta di Biak, Papua.

"Jika satuan radar di Saumlaki dan Timika sudah resmi beroperasi maka tidak semakin menguatkan sistem pertahanan udara di wilayah Timur Indonesia. Tidak ada lagi blank spot karena seluruh wilayah timur Indonesia sudah tercover," katanya.

Pada kesempatan tersebut, KSAU mengakui, pembangunan satuan radar di wilayah timur Indonesia agak terlambat dibandingkan dengan wilayah barat dan wilayah tengah Indonesia, karena keterbatasan anggaran TNI AU.

Namun TNI AU, kata dia, bertekad bisa secepatnya membangun satuan radar di seluruh wilayah Indonesia terutama di wilayah timur Indonesia.

Dia berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat atau minimal stabil seperti saat ini yakni 6,4 persen, sehingga anggaran untuk TNI juga bisa lebih baik, guna lebih mengoptimalkan sistem pertahanan seperti satuan radar.

Dalam rangkaian kegiatan peresmian satuan radar 245 di Saumlaki, Maluku, pada Selasa (15/11), sebelumnya KSAU juga menyempatkan diri melakukan kunjungan ke Landasan Udara Hasanuddin di Makassar Selawesi Selatan serta Landasan Udara Pattimura berikut mess prajurit TNI AU di Ambon Maluku, pada Senin.

BINA WALET SKADRON UDARA 7 PANGKALAN UDARA SURYADARMA LANUD SURYADARMA (15/11),- Sepuluh Perwira Penerbang dan empat personel Tehnik dengan dua

BINA WALET SKADRON UDARA 7 PANGKALAN UDARA SURYADARMA

LANUD SURYADARMA (15/11),- Sepuluh Perwira Penerbang dan empat personel Tehnik dengan dua Pesawat EC 120 Colibri dan Tiga Pesawat Helikopter Bell 47 G Soloy dari Skadron Udara 7 Pangkalan Udara Suryadarma di pimpin langsung Komandan Lanud Kolonel Pnb H. Dumex Dharma, S AP, M Si (Han), melaksanakan terbang Navigasi ke Pangkalan Udara Wirasaba, Purbalingga, Selasa (15/11). Didampingi Co Pilot Lettu Pnb Djumeno Dan Lanud menggunakan Colibri H 1203 Take Off menuju Wirasaba disusul Komandan Skadron Udara 7 Letkol Pnb Sapuan bersama Co Pilot Lettu Pnb Zan sementara tiga Helikopter Soloy masing penerbang Kapten Pnb Iwan JMU (Juru Mesin Udara), Kapten Pnb Ryan, Lettu Pnb Kadek, Mayor Pnb Anggit, Lettu Pnb Faryana sudah terbang terlebih dahulu.


Menurut Letkol Pnb Sapuan, sebelum terbang menjelaskan, terbang navigasi ini untuk meningkatkan profesionalitas dan kemampuan para penerbang Skadron Udara 7 dengan penguasaan medan dan cuaca yang berbeda-beda, sosialisasi kepada masyarakat disekitar lanud yang disinggahi dalam mendukung pembinaan Potensi Dirgantara (Binpotdirga). Kita akan mendarat di Pangkalan Udara yang tidak ada Skadron Udara, kesempatan ini dipergunakan untuk mengenalkan kepada masyarakat keberadaan TNI Angkatan Udara Khususnya Pesawat Helikopter dengan menggelar Static Show (Pameran) sehingga masyarakat bisa melihat dari dekat, bahkan bisa merasakan duduk diatas ruang kemudi walaupun tidak terbang. Jelas Letkol Sapuan.


Setiap di gelar Static Show masyarakat sangat senang khususnya para pelajar, yang selama ini mereka jarang melihat keberadaan pesawat terbang dari dekat sehingga kita datang itu mereka senang tambahnya.


Terbang Navigasi dengan sandi Bina Walet tersebut akan berlangsung dua hari dengan mengambil rute Pangkalan Udara Suryadarma, Pangkalan Udara S. Sukani, Majalengka, Pangkalan Udara Wiriadinata, Tasik Malaya dan berakhir di Pangkalan Udara Wirasaba, Purbalingga Jawa Tengah dan sebaliknya akan terbang kembali ke Pangkalan Udara Suryadarma.
MABES TNI

Monday, November 14, 2011

Russia hopes to sell 90 warplanes in Middle East by 2025


MiG-35











Russia expects to sell up to 90 warplanes in the Middle East by 2025, the United Aircraft Corporation said on Tuesday.
These will mostly include so called 4++ generation fighters - Su-35 and MiG-35, an UAC spokesman said.
Sales are expected to total 180 warplanes by 2035, he said.
The UAC is participating in the Dubai Air Show-2011 that opens on November 13.

RIA NOVOSTI

BERITA POLULER