Pages

Monday, November 14, 2011

KTT ASEAN teruskan rekomendasi G-20 dan APEC


Senin, 14 November 2011 17:03 WIB | 728 Views
SBY Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada KTT APEC di Honolulu, Hawaii. (REUTERS/Jason Reed)
Di akhir dari ASEAN Summit...saya akan menyampaikan konferensi pers yang lebih menukik"
Berita Terkait
Honolulu (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Bali akan merumuskan langkah-langkah nyata dalam merespon krisis keuangan global yang menjadi agenda utama pembicaraan di KTT G20 dan KTT APEC.

Presiden Yudhoyono mengatakan krisis keuangan yang melanda zona Euro menjadi tema dominan KTT ke-19 APEC yang dihadirinya pada 12-13 November 2011 di Honolulu.

"Kita membicarakan situasi ekonomi global, termasuk bagaimana kita menciptakan kembali pertumbuhan dan lapangan pekerjaan," katanya dalam konferensi pers di Honolulu, Kepulauan Hawaii, Minggu malam waktu setempat atau Senin sore WIB.

Para pemimpin negara anggota APEC, lanjut Kepala Negara, juga membincangkan stabilitas keuangan global dan reformasi peraturan guna menghilangkan penghalang pertumbuhan ekonomi.

Presiden menyebut pembahasan di APEC adalah kelanjutan dari KTT G20 di Cannes, Perancis, pada 3-4 November 2011 yang menghasilkan kerangka kerja dan rencana aksi negara anggota dalam  menciptakan pertumbuhan ekonomi yang stabil, berimbang, dan berkelanjutan.

Yudhoyono menyebutkan pertemuan G20, APEC, dan KTT ASEAN di Bali saling terkait untuk mencari solusi dan implementasi terbaik dalam mengatasi krisis keuangan global.

"Di akhir dari ASEAN Summit, ASEAN plus, termasuk East Asia Summit, saya akan menyampaikan konferensi pers yang lebih menukik, down to earth, seperti apa policy yang dikembangkan bersama," janjinya.

Pada KTT APEC di Honolulu Amerika Serikat menginisiatifi Kerjasama Transpasifik dengan delapan anggota APEC, yaitu Australia, Selandia Baru, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Vietnam, Chili, dan Peru, guna menyepakati perdagangan bebas dengan standar produk tinggi yang mulai berlaku pada 2012.

Presiden Yudhoyono mengatakan Indonesia memilih tidak bergabung dalam Transpacifik Partnership karena ingin mempelajari lebih dahulu keuntungan dan kerugiannya.

"Saya tidak langsung ikut-ikutan begitu dan saya katakan kepada para menteri, tunggu dulu, tenang dulu, mari bicarakan baik-baik apa itu Transpacific Partnership, apa benefitnya, seperti apa konsekuensinya sehingga ketika kita sepakat kita siap," pungkas Presiden. (*)


ANTARA

Indonesia tolak bergabung dalam kerja sama Transpasifik


Senin, 14 November 2011 13:58 WIB | 500 Views
Gita Wirjawan (FOTO ANTARA)
Honolulu (ANTARA News) - Indonesia secara tegas menolak untuk ikut serta dalam kerja sama Transpasifik yang digalang oleh Amerika Serikat di tengah-tengah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-19 Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Honolulu, Kepulauan Hawaii.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di Honolulu, Minggu waktu setempat atau Senin waktu Indonesia barat mengatakan Indonesia memang didekati oleh negara-negara anggota APEC yang tergabung dalam kerja sama transpasifik untuk ikut serta dalam forum yang menyepakati perdagangan bebas dengan standar produk tinggi dan diharapkan mulai berlaku pada 2012 itu.

"Kita ditawari, negara-negara `founding`nya(pendirinya,red) termasuk Brunei dan Amerika Serikat. Sudah ada empat negara dari ASEAN yang mengambil sikap untuk masuk, yaitu Brunei, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Tentunya sikap mereka berbeda dengan sikap kita untuk sementara," tutur Gita.

Negara-negara anggota APEC yang menyepakati kerja sama transpasifik adalah AS, Australlia, Selandia Baru, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Vietnam, Chili, dan Peru.

Gita mengatakan Indonesia belum siap untuk bergabung dalam kerja sama tersebut dan masih akan mempelajari keuntungan serta kerugian yang bisa muncul dari keanggotaannya.

"Indonesia belum siap masuk Transpacific Partnership dan apa pun yang kita lakukan berkaitan dengan kerja sama itu kita akan mempelajari. Tentunya masih banyak negara-negara anggota APEC lain yang masih akan mempelajari plus dan minusnya," ujarnya.

Gita mengatakan posisi dasar Indonesia adalah mempercayai mekanisme perdagangan bebas selama terdapat unsur keadilan dan keseimbangan.

"Jadinya, perdagangan bebas harus dibuntuti dan ditopang oleh keadilan dan keseimbangan. Kalau tidak ada dan ini tidak akan membuahkan `benefit? untuk Indonesia, saya rasa kita akan mengambil sikap yang sesuai," ujarnya.


Harus periksa

Indonesia, lanjut dia, harus memeriksa kesiapan industri dalam negeri dan memastikan bisa mengirim produk serta jasa yang berskala sesuai dengan penurunan tarif yang disetujui dalam setiap kesepakatan perdagangan bebas.

"Makanya ke depan kita harus lebih komunikasi dengan kementerian terkait untuk ``make sure`(supaya pasti,red) kita bisa mengukur parameter industri kita sudah terpenuhi atau tidak. Kalau belum, jangan buka-bukaan," ujarnya.

Menurut Gita, APEC harus dikembalikan pada jalurnya sebagai forum komunitas seperti layaknya ASEAN.

APEC, lanjut dia, bukanlah forum untuk berunding dan harus mengedepankan semangat pembangunan kapasitas seperti yang tercantum dalam Bogor Goals yang disepakati pada 1994.

"Ini kan sudah mungkin kelihatan dipakai oleh beberapa anggota sebagai forum negosiasi. Saya rasa itu harus dijaga jangan seperti itu ke depan dan juga ada semangat-semangat lainnya seperti `capacity building` yang harus dijunjung tinggi, jangan hanya liberalisasi untuk `trade and investement saja," tutur Gita.

Kerja sama Transpasifik diharapkan oleh Amerika Serikat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengurangan hambatan perdagangan dan investasi, meningkatkan ekspor, dan menciptakan lapangan kerja bagi para pengangguran.

"Trans Pacific Partnership akan mengangkat ekonomi, mengurangi hambatan perdagangan dan investasi, meningkatkan ekspor, dan menciptakan lebih banyak pekerjaan kepada masyarakat, yang merupakan prioritas nomor satu saya. Seperti perjanjian dagang AS dengan Korea Selatan, Panama, dan Kolombia, Trans Pacific Partnership juga akan membantu tujuan saya untuk melipatgandakan ekspor Amerika yang bisa menyediakan jutaan lapangan pekerjaan, " demikian Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidatonya pada pertemuan negara anggota Kerjasama Transpasifik pada Sabtu 12 November 2011 di Honolulu.


ANTARA

Sunday, November 13, 2011

TNI-Polri Gelar Apel Kesiagaan Jelang KTT di Bali


Wahyu Wening / Jurnal Nasional
Jurnas.com | SEKITAR 15.000 personel TNI dan Polri menggelar apel kesiapan pengamanan KTT ke-19 ASEAN dan KTT ke-6 Asia Timur di Lapangan sepakbola Lagoon Nusa Dua, Senin.

Gelar kesiapan pengamanan tersebut dilaksanakan secara militer dipimpin Kepala Staf Umum TNI Letjen TNI Suryo Prabowo dan Wakil Kepala Polri Komjen Pol Nanan Soekarna.

Untuk pengamanan pelaksanaan KTT ASEAN 2011 yang akan dihadiri 16 pimpinan negara ASEAN dan negara mitranya, pemerintah mengerahkan sekitar 15 ribu aparat TNI dan Polri dari berbagai satuan.

Sebanyak 15 ribu personel yang dikerahkan itu terdiri atas Komando Operasional Pengamanan TNI sebanyak 7.562 personel, Satgas Pengamanan VVIP 750 orang, dan Satgas Pengamanan Wilayah 2.563 personel.

Selain itu, terdapat pula Satgas Pengamanan Laut sekitar 600 personel, Satgas Pengamanan Udara 300 personel, satuan intelijen sekitar 200 personel dan aparat Polri sekitar 1.799 personel.

Sementara sejumlah alat utama sistem senjata yang disiagakan seperti 16 unit panser ANOA, enam unit helikopter terdiri atas Mi-17, Mi-35, Bell-412, dan Puma.

Disiagakan pula satu flight pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, tiga kapal perang, tiga unit "sea rider" dan satu baterai rudal Batalyon Arhanud sembilan pucuk.

Sejumlah alat utama sistem senjata itu tergelar di area Nusa Dua dan sekitarnya. Namun, beberapa lainnya disiagakan di sejumlah lokasi lainnya.

Beberapa obyek pengamanan yang menjadi sasaran para pejabat negara peserta KTT, rute perjalanan yang dilalui tempat penyelenggaraan KTT beserta sarana dan prasarananya.

JURNAS

Hari Ini ASEAN bertemu para pemilik senjata nuklir


Senin, 14 November 2011 10:37 WIB | 346 Views
ASEAN ingin memastikan kawasannya bebas senjata nuklir sehingga mengajak dunia dan para pemilik senjata nuklir menghormati dan menerima traktat antinuklir di Asia Tenggara. (ANTARA/istimewa)
Berita Terkait
Nusa Dua (ANTARA News) - Sepuluh negara Asia Tenggara akan menggelar pertemuan dengan negara-negara pemilik senjata nuklir (P5) --China, Perancis, Inggris, Rusia, dan Amerika Serikat-- guna membahas usul teks Protokol Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ).

Mereka akan membahas lebih lanjut rancangan Protokol SEANWFZ yang telah dihasilkan dari konsultasi langsung dengan negara-negara pemilik senjata nuklir di Jenewa dan New York.

ASEAN dan lima  pemilik senjata nuklir berharap pertemuan ini menghasilkan kemajuan dalam implementasi Rencana Aksi untuk Memperkuat Implementasi Traktat SEANWFZ (2007-2012).

Kemajuan itu juga meliputi diterimanya Protokol SEANWFZ oleh negara-negara pemilik senjata nuklir, kerja sama dengan IAEA (Badan Energi Atom Internasional), dan pengajuan resolusi Traktat SEANWFZ di Sidang Majelis Umum PBB.

Esok hasil pertemuan hari ini akan dibawah ke Komisi SEANWFZ.

Direktur Politik dan Keamanan ASEAN Kemenlu Ade Padmo Sarwono menegaskan, Indonesia dan ASEAN akan terus mendorong negara P5 menerima Protokol SEANWFZ itu.

"Indonesia ingin menjaga momentum yang ada tahun ini," katanya.(*)


ANTARA 

TNI AL Siagakan Enam Kapal Perang


Sejumlah anggota Kopaska TNI AL melakukan patroli dengan menggunakan kapal Sea Raider di kawasan pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Sabtu (12/11). TNI AL menempatkan tiga tim Kopaska dengan dilengkapi kapal tempur untuk mengamankan kawasan perairan pelaksanaan KTT ASEAN ke-19, pertemuan KTT terkait dan KTT Asia Timur ke-6 yang dimulai tanggal 17-19 November. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/hp/11)

12 November 2011, Nusa Dua (ANTARA News): TNI AL menyiagakan enam kapal perang untuk mengamankan pelaksanaan KTT ASEAN ke 19 yang akan berlangsung pada 17-19 November di Nusa Dua, Bali.

Komandan Lanal Denpasar Kolonel Laut (P) I Wayan Suarjaya, Sabtu mengatakan, kapal perang RI yang sudah merapat di Bali saat ini terus melakukan patroli pengamanan di setiap sudut pantai di Bali.

"Ada enam KRI yang sudah siaga sejak beberapa hari, dan terus melakukan patroli di wilayah Bali khususnya di kawasan Nusa Dua, sebagai pola pengamanan pintu masuk Bali," ujarnya.

Enam kapal perang tersebut yakni KRI KSP, KRI Sura, KRI Sri, KRI Banda Aceh, KRI Cendrawasih dan KRI Kerapu.

Di setiap masing kapal perang tersebut terdapat 150 personel TNI AL salah satunya dari Satuan Amfibi Armatim.


Seorang anggota Kopaska TNI AL memegang senapan mesin di atas kapal Sea Raider saat berpatroli di kawasan Nusa Dua, Bali, Sabtu (12/11). (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/hp/11)

Sedangkan dari Lanal Denpasar, menyiagakan 150 personel TNI AL. Semua titik di pintu masuk pulau Bali pun mendapat pengamanan yang ketat, seperti pelabuhan Gilimanuk, Padangbai, pelabuhan Celukan bawang, dan pelabuhan-pelabuhan kecil lainnya menjadi pantauan.

"Semua titik pintu masuk dari laut diamankan, tetapi tetap terfokus di Nusa Dua," ujarnya.

Dari pengamatan di lapangan, sejumlah kapal besar tampak berlabuh dan beberapa tampak mondar-mandir di kawasan pantai Nusa Dua dan pantai Sanur.

Pengamanan KTT ASEAN di kawasan laut tersebut tidak hanya dilakukan oleh TNI AL, melain juga dilakukan oleh Polri yang telah menyiagakan dua kapal perang Polri, yakni Kapal Perang Bisma yang merupakan kapal tipe A2, dan Kapal Perang Kutilang tipe B.

"Selain itu juga dibantu dengan enam kapal patroli tipe C dengan panjang sekitar 10 meter, serta kapal-kapal kecil untuk menghalau kapal yang mencurigakan yang melintas di kawasan terlarang," jelas Dirpolair Polda Bali Kombes Pol Agoes Doeta Soepranggono saat dihubungi terpisah.

Jika Massa Merangsek, TNI dan Polisi Siap Hadapi

Beberapa anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) bergerak menuju pos tugasnya dalam gelar Pasukan TNI Pengamanan KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali, Sabtu (12/11). Sekitar 15.000 aparat TNI dan Polri dari berbagai satuan dikerahkan untuk pengamanan selama KTT ASEAN yang puncaknya berlangsung 17-19 Nopember 2011. (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/hp/11)

Pengamanan pelaksanaan KTT ASEAN dan KTT Terkait di Nusa Dua, Bali, dilakukan dalam tingkat maksimal. Mulai dari pemerikaan orang dan kendaraan, patroli di laut dan udara, hingga jika ada massa berdemonstrasi dan mencoba merangsek masuk ke arena.

Simulasi pengamanan dan penghalauan massa itu terjadi pada Minggu, di Perempatan Jalan Pratama, menuju kawasan Nusa Dua, Bali. Titik ini bisa dibilang sebagai "titik terakhir" sebelum masuk ke Kompleks Nusa Dua.

Ratusan personel gabungan TNI dan polisi, diskenariokan, menyekat dan menghalau para demonstran yang tidak setuju atas pelaksanaan KTT ASEAN dan KTT Terkait itu. Karena tidak bisa diajak bicara lagi maka tindakan tegas dilakukan, apalagi mereka bertekad menghalangi mobil-mobil kepala negara dan kepala pemerintahan yang akan masuk arena.

Semprotan meriam air bertekanan ekstra tinggi yang bisa membuat manusia dewasa mental dari posisinya berdiri itu juga diterapkan. Demikianlah kira-kira bentuk keseriusan pengamanan kelangsungan persidangan KTT ASEAN dan KTT Terkait kali ini.

Guna mencapai itu, Indonesia menerjunkan sekitar 15.000 personel TNI dari berbagai matra dan kesatuan serta korps, sebagaiman halnya juga dengan Kepolisian Indonesia. Hal itu akan bertambah lagi jika dimasukkan unsur kekuatan fisik dan arsenal milik TNI dan Kepolisian Indonesia.

Mereka digabung dalam satu gugus tugas pengamanan, yang jika dirinci meliputi 7.562 personel Komando Operasional Pengamanan TNI, 750 personel dari Satgas Pengamanan VVIP dan 2.563 personel dari Satgas Pengamanan Wilayah.

Masih 600 personel Satgas Pengamanan Laut, 300 personel Satgas Pengamanan Udara, 200 personel satuan intelijen,dan aparat Polri sekitar 1.799 personel.

Sumber: ANTARA News

Pemberontak Jadi Pahlawan Balada Presiden 207 Hari


M. Rizal - detikNews




Jakarta - Pagi masih sangat muda, semuda Republik Indonesia. Saat itu RI baru berusia 2 tahunan. Namun sepagi itu, Yogyakarta sudah diberondong bom. Saat itu, 19 Desember 1948, jam baru menunjuk pukul 05.30 WIB, tapi langit ibukota Indonesia itu sudah dipenuhi pesawat-pesawat pembom Belanda.

Pesawat-pesawat itu menyerang lapangan terbang Maguwo. Setelah 1 jam membombardir bom, pesawat menurunkan pasukan payung mereka untuk menduduki Maguwo dan menyerbu Yogya.

Serangan Belanda yang tiba-tiba membuat Kepresiden sangat mencekam. Di antara raungan pesawat dan dentuman bom, kabinet segera menggelar rapat darurat. Hadir Presiden Soekarno, Perdana Menteri Mohamad Hatta, Menteri Negara Sultan Hamenku Buwono, Menlu Agus Salim, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo, Menteri Pekerjaan Umum Ir Laoh dan Kepala Sekretaris Presiden A G Pringgodigdo.

Rapat memutuskan pembentukan Pemerintahan Darurat RI (PDRI) yang dikepalai Sjafruddin Prawiranegara. Keputusan ini untuk mengantisipasi pendudukan Belanda.

Sjafruddin sendiri tengah berada di Sumatera. Sebulan sebelumnya, sebagai menteri kemakmuran, ia ditugaskan Bung Hatta untuk membenahi kesejahteraan rakyat di Sumatera Tengah.

Pembentukan PDRI disertai dengan ketegasan selama pemerintah RI tidak bisa menjalankan fungsi dan tugasnya karena tertawan oleh Belanda maka pemerintah daruratlah yang harus meneruskannya.

Menteri Perhubungan Ir Djuanda ditugaskan untuk segera menyampaikan keputusan itu kepada Sjafruddin dengan telegram. Namun kabar ini tidak pernah sampai pada Sjafruddin.

Hari itu pula, dengan cepat Yogya bisa dikuasai Belanda. Sore hari setelah menguasai Kepresiden, Belanda pun menawan Soekarno, Hatta dan sejumlah menteri. Tiga hari setelah ditahan, pada 22 Desember, mereka dibuang ke Pulau Bangka.

Pada hari yang sama dini hari, sekitar pukul 03.40 WIB, Sjafruddin mengumumkan berdirinya PDRI. Pengumuman dilakukan pagi buta di tengah perkebunan teh Halabang, Sumatera.

Dalam pengumuman itu, Sjafrudin menyebut dirinya sebagai ketua PDRI merangkap menteri pertahanan, menteri penerangan dan menteri luar negeri adinterim.

Kemudian Wakil Ketua Teuku Mohamad Hassan merangkap menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dan Menteri Agama. Letnan Jenderal Sudirman sebagai Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) , Komisaris Besar Polisi Umar Said sebagai Kepala Jawatan Kepolisian Negara.

Sebelum pengumuman itu, terjadi perdebatan soal jabatan Sjafruddin. Pertemuan itu antara lain dihadiri Koordinator Kemakmuran untuk Sumatera Abdul Latief, Koordinator Perhubungan untuk Sumatera Indracahya, Komisaris Negara urusan Keuangan Lukman Hakim, Direktur BNI Abdul Karim, Komisaris Besar Polisi Umar Said, Komodor Udara Suyono.

Para tokoh yang hadir menginginkan Sjafruddin disebut sebagai presiden PDRI, tapi pria kelahiran Banten itu menolaknya karena untuk menghindarkan kemungkinan dugaan makar. Maklum mandat dari Soekarno dan Hatta untuk membentuk PDRI tidak pernah sampai kepada Sjafruddin.

Setelah disepakati jabatan Sjafrudin sebagai ketua, pembentukan PDRI dan kabinet diumumkan dengan dipancarluaskan langsung oleh stasiun radio darurat RPDRI yang dikawal anak buah Komodor Udara Suyono.

Dua hari setelah mendeklarasikan PDRI, 24 Desember 1948, Sjafruddin berpidato di radio AURI memberitahukan bangsa Indonesia tidak akan menyerah meskipun Soekarno dan Hatta sudah ditahan Belanda.

“Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin tertinggi kita, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung pada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah Tumbuh hilang berganti,” kata Sjafruddin.

Kepada seluruh angkatan perang negara RI, Sjafruddin menyerukan perlawanan habis-habisan kepada Belanda. “Kami serukan bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata atau menghentikan tembak menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin,” tegas Sjafruddin.

Setelah pidato pertama lewat radio itu, Syafruddin dan kabinetnya harus mengungsi lagi. Mereka harus mengungsi lagi agar tidak tertangkap karena Belanda bisa mengecek gelombang radio untuk menemukan keberadaan mereka. Menjelang subuh, rombongan berkumpul di depan rumah kediaman Sjafrudin. Mereka akan menuju Pekanbaru.

Rombongan yang terdiri sekitar 20 orang harus menembus rimba belantara, yang tentu saat itu masih banyak dihuni binatang buas. Tidak hanya terancam terkaman binatang buas, rombongan juga harus menyelamatkan diri dari berondongan bom.

Selain itu juga medan yang sulit juga membahayakan keselamatan mereka. Pernah suatu ketika, jep yang ditumpangi Sjafruddin terbalik karena kondisi jalan sangat buruk dan penuh lumpur. Kacamata Sjafruddin pecah dan tubuhnya terbalut lumpur. Untung ia tidak apa-apa.

Sjafruddin memimpin PDRI selama 6 bulan atau 207 hari. Karena dipimpin dari dalam hutan, oleh Belanda PDRI sering diplesetkan sebagai Pemerintah Dari Rimba RI. Perang terhadap Belanda tidak saja dilakukan secara fisik, perang juga dilakukan lewat radio dan diplomasi. Setiap mengungsi peralatan radio yang berfungsi mengumumkan kebijakan dan pidato Sjafruddin turut serta.

Melalui siaran Radio Sumba Raya dan Radio Angkatan Udara saat itu, Sjafruddin mengatakan pemerintahan RI masih ada. Karena Belanda mengatakan RI sudah jatuh, dibalas Sjafruddin RI tidak jatuh.

“Belanda balas kalau tidak jatuh kenapa pemerintahan ada di hutan. Dijawab Safruddin, walau pemerintahan ada di hutan tapi masih berada di dalam negeri sendiri," terang Najamudin Busro, kerabat Sjafruddin yang kini menjadi ahli sejarah Banten.

PDRI juga memimpin diplomasi di luar negeri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sjafrudin sebagai Ketua PDRI menunjuk AA Maramis yang sudah ada di luar negeri sebelum agresi militer Belanda menjadi Menteri Luar Negeri dalam pengasingan. Bersama-sama dengan Dr Sudarsono sebagai wakil RI di India, mereka memperjuangkan NKRI lewat konferensi di New Delhi.

“Hal itu menguntungkan sekali karena kedua pejabat itu bisa memberi keterangan selengkap-lengkapnya, kepada Nehru tentang keadaan Indonesia,” tulis Ali Sastro Amidjojo dalam bukunya 'Tonggak-Tonggak di Perjalananku'.

Resolusi konferensi New Delhi meminta Dewan Keamanan PBB supaya membebaskan semua anggota pemerintah Indonesia Selain itu juga, meminta Belanda segera menarik pasukannya dari Yogyakarta dan mengembalikan Yogya yang didudukinya kepada RI.

Berkat konferensi New Delhi, dunia internasional menekan Belanda. Akhirnya pada 7 Mei 1949, Belanda terpaksa menandatangani Perjanjian Roem-Van Royen. Inti perjanjian yakni menyetujui penarikan mundur pasukan Belanda dari Yogya.

Soekarno dan Hatta yang ditahan di Bangka dibebaskan dan kembali ke Yogya pada 6 Juli. Sementara Sjafrudin, kembali ke Yogya pada 13 Juli 1949 dan langsung menyerahkan mandatnya kepada Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohammad Hatta.


***

Meski memiliki jasa sangat besar, Sjafruddin merupakan orang yang rendah hati. Ia tidak pernah merasa tindakannya memimpin PDRI merupakan hal yang luar biasa.

"Saya ini seorang manusia biasa. I'm only doing my job. Apa yang dilakukan di PDRI itu sesuatu yang biasa-biasa saja," kata Sjafruddin seperti diungkap putranya, Farid Prawiranegara saat memperingati 100 Tahun Sjafruddin Prawiranegara, pada 28 Februari 2011.

Sjafruddin meninggal pada 15 Februari 1989 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Sebelum meninggal, ia pernah dijebloskan ke penjara oleh Presiden Soekarno dengan tudingan melakukan pemberontakan PRRI. Ia juga menjadi musuh Presiden Soeharto karena terus bersikap kritis.

Pada 8 November 2011, setelah perdebatan panjang soal cap pemberontak pada Sjafruddin terkait PRRI, akhirnya pria luar biasa ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

DETIK

UEA Undang Typhoon untuk Tantang Rafale


:
 
rediff.com Pesawat tempur buatan Perancis Rafale (atas) harus bersaing dengan Eurofighter Typhoon buatan Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol untuk memenangi tender pengadaan pesawat jet tempur UEA.

DUBAI, KOMPAS.com- Pesawat tempur buatan Dassault Aviation dari Perancis, Rafale, kembali harus berhadap-hadapan dengan "saudara"-nya sesama pesawat buatan Eropa, Eurofighter Typhoon, untuk memenangi kontrak pembelian pesawat tempur dari Uni Emirat Arab (UEA).
Negara kaya di wilayah Teluk Persia itu sebenarnya sudah dalam tahap akhir negosiasi pembelian Rafale degan Perancis. Namun, hari Minggu (13/11/2011), pemerintah UEA tiba-tiba mengundang Eurofighter untuk membuat penawaran tandingan.
Pihak Eurofighter, konsorsium empat negara Eropa, yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol, menyatakan, pada 17 Oktober lalu UEA meminta Inggris untuk memberikan informasi lengkap tentang kemampuan pesawat Typhoon. "Kami baru-baru ini menerima permintaan proposal tentang kemungkinan pasokan Typhoon. Kami saat ini sedang bekerja keras untuk merespons permintaan tersebut," tutur pihak Eurofighter tanpa menyebut detail jumlah pesawat yang diinginkan UEA dan batas waktu keputusan pembelian.
Baik Typhoon maupun Rafale, yang sama-sama berangkat dari konsep pesawat tempur masa depan Eropa pada era 1980-an, telah menyandang gelar "teruji dalam pertempuran" (battle proven) setelah dua tipe pesawat itu sama-sama sukses menjalankan misi operasi serangan udara di Libya beberapa waktu lalu.
Saat ini, dua jet tempur generasi 4,5 itu juga sedang bersaing memenangi kontrak pembelian 126 pesawat tempur multiperan kelas menengah (medium multirole combat aircraft, MMRCA) dari Angkatan Udara India.
Dua tipe pesawat ini memang sedang berjuang keras mencari pasar ekspor. Typhoon baru dibeli oleh dua negara di luar negara-negara pembuatnya, yakni Austria dan Arab Saudi. Sedangkan Rafale belum dilirik oleh satu negara pun di luar Perancis.
Bulan lalu, Menteri Pertahanan Perancis Gerard Longuet mengatakan, pihaknya sudah dalam tahap akhir negosiasi dengan UEA dalam proses pembelian Rafale. Sebagai salah satu negara terkaya di kawasan Timur Tengah, UEA akhir-akhir ini dikabarkan sedang membangun kekuatan militernya.
UEA dan negara-negara kawasan Teluk Persia lainnya, seperti Arab Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, dan Bahrain, juga diandalkan negara-negara Barat, terutama AS, untuk menghadapi pertumbuhan kekuatan militer Iran.
Pekan lalu, AS dikabarkan akan menjual 4.900 bom pintar yang dilengkapi piranti pelacak sasaran presisi JDAM (joint direct attack munition) kepada UEA. Bom yang mampu menembus bungker-bungker bawah tanah ini bisa digunakan untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah milik Iran.

kompas

BERITA POLULER