Pages

Sunday, November 13, 2011

Pemberontak Jadi Pahlawan Balada Presiden 207 Hari


M. Rizal - detikNews




Jakarta - Pagi masih sangat muda, semuda Republik Indonesia. Saat itu RI baru berusia 2 tahunan. Namun sepagi itu, Yogyakarta sudah diberondong bom. Saat itu, 19 Desember 1948, jam baru menunjuk pukul 05.30 WIB, tapi langit ibukota Indonesia itu sudah dipenuhi pesawat-pesawat pembom Belanda.

Pesawat-pesawat itu menyerang lapangan terbang Maguwo. Setelah 1 jam membombardir bom, pesawat menurunkan pasukan payung mereka untuk menduduki Maguwo dan menyerbu Yogya.

Serangan Belanda yang tiba-tiba membuat Kepresiden sangat mencekam. Di antara raungan pesawat dan dentuman bom, kabinet segera menggelar rapat darurat. Hadir Presiden Soekarno, Perdana Menteri Mohamad Hatta, Menteri Negara Sultan Hamenku Buwono, Menlu Agus Salim, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo, Menteri Pekerjaan Umum Ir Laoh dan Kepala Sekretaris Presiden A G Pringgodigdo.

Rapat memutuskan pembentukan Pemerintahan Darurat RI (PDRI) yang dikepalai Sjafruddin Prawiranegara. Keputusan ini untuk mengantisipasi pendudukan Belanda.

Sjafruddin sendiri tengah berada di Sumatera. Sebulan sebelumnya, sebagai menteri kemakmuran, ia ditugaskan Bung Hatta untuk membenahi kesejahteraan rakyat di Sumatera Tengah.

Pembentukan PDRI disertai dengan ketegasan selama pemerintah RI tidak bisa menjalankan fungsi dan tugasnya karena tertawan oleh Belanda maka pemerintah daruratlah yang harus meneruskannya.

Menteri Perhubungan Ir Djuanda ditugaskan untuk segera menyampaikan keputusan itu kepada Sjafruddin dengan telegram. Namun kabar ini tidak pernah sampai pada Sjafruddin.

Hari itu pula, dengan cepat Yogya bisa dikuasai Belanda. Sore hari setelah menguasai Kepresiden, Belanda pun menawan Soekarno, Hatta dan sejumlah menteri. Tiga hari setelah ditahan, pada 22 Desember, mereka dibuang ke Pulau Bangka.

Pada hari yang sama dini hari, sekitar pukul 03.40 WIB, Sjafruddin mengumumkan berdirinya PDRI. Pengumuman dilakukan pagi buta di tengah perkebunan teh Halabang, Sumatera.

Dalam pengumuman itu, Sjafrudin menyebut dirinya sebagai ketua PDRI merangkap menteri pertahanan, menteri penerangan dan menteri luar negeri adinterim.

Kemudian Wakil Ketua Teuku Mohamad Hassan merangkap menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dan Menteri Agama. Letnan Jenderal Sudirman sebagai Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) , Komisaris Besar Polisi Umar Said sebagai Kepala Jawatan Kepolisian Negara.

Sebelum pengumuman itu, terjadi perdebatan soal jabatan Sjafruddin. Pertemuan itu antara lain dihadiri Koordinator Kemakmuran untuk Sumatera Abdul Latief, Koordinator Perhubungan untuk Sumatera Indracahya, Komisaris Negara urusan Keuangan Lukman Hakim, Direktur BNI Abdul Karim, Komisaris Besar Polisi Umar Said, Komodor Udara Suyono.

Para tokoh yang hadir menginginkan Sjafruddin disebut sebagai presiden PDRI, tapi pria kelahiran Banten itu menolaknya karena untuk menghindarkan kemungkinan dugaan makar. Maklum mandat dari Soekarno dan Hatta untuk membentuk PDRI tidak pernah sampai kepada Sjafruddin.

Setelah disepakati jabatan Sjafrudin sebagai ketua, pembentukan PDRI dan kabinet diumumkan dengan dipancarluaskan langsung oleh stasiun radio darurat RPDRI yang dikawal anak buah Komodor Udara Suyono.

Dua hari setelah mendeklarasikan PDRI, 24 Desember 1948, Sjafruddin berpidato di radio AURI memberitahukan bangsa Indonesia tidak akan menyerah meskipun Soekarno dan Hatta sudah ditahan Belanda.

“Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin tertinggi kita, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung pada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah Tumbuh hilang berganti,” kata Sjafruddin.

Kepada seluruh angkatan perang negara RI, Sjafruddin menyerukan perlawanan habis-habisan kepada Belanda. “Kami serukan bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata atau menghentikan tembak menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin,” tegas Sjafruddin.

Setelah pidato pertama lewat radio itu, Syafruddin dan kabinetnya harus mengungsi lagi. Mereka harus mengungsi lagi agar tidak tertangkap karena Belanda bisa mengecek gelombang radio untuk menemukan keberadaan mereka. Menjelang subuh, rombongan berkumpul di depan rumah kediaman Sjafrudin. Mereka akan menuju Pekanbaru.

Rombongan yang terdiri sekitar 20 orang harus menembus rimba belantara, yang tentu saat itu masih banyak dihuni binatang buas. Tidak hanya terancam terkaman binatang buas, rombongan juga harus menyelamatkan diri dari berondongan bom.

Selain itu juga medan yang sulit juga membahayakan keselamatan mereka. Pernah suatu ketika, jep yang ditumpangi Sjafruddin terbalik karena kondisi jalan sangat buruk dan penuh lumpur. Kacamata Sjafruddin pecah dan tubuhnya terbalut lumpur. Untung ia tidak apa-apa.

Sjafruddin memimpin PDRI selama 6 bulan atau 207 hari. Karena dipimpin dari dalam hutan, oleh Belanda PDRI sering diplesetkan sebagai Pemerintah Dari Rimba RI. Perang terhadap Belanda tidak saja dilakukan secara fisik, perang juga dilakukan lewat radio dan diplomasi. Setiap mengungsi peralatan radio yang berfungsi mengumumkan kebijakan dan pidato Sjafruddin turut serta.

Melalui siaran Radio Sumba Raya dan Radio Angkatan Udara saat itu, Sjafruddin mengatakan pemerintahan RI masih ada. Karena Belanda mengatakan RI sudah jatuh, dibalas Sjafruddin RI tidak jatuh.

“Belanda balas kalau tidak jatuh kenapa pemerintahan ada di hutan. Dijawab Safruddin, walau pemerintahan ada di hutan tapi masih berada di dalam negeri sendiri," terang Najamudin Busro, kerabat Sjafruddin yang kini menjadi ahli sejarah Banten.

PDRI juga memimpin diplomasi di luar negeri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sjafrudin sebagai Ketua PDRI menunjuk AA Maramis yang sudah ada di luar negeri sebelum agresi militer Belanda menjadi Menteri Luar Negeri dalam pengasingan. Bersama-sama dengan Dr Sudarsono sebagai wakil RI di India, mereka memperjuangkan NKRI lewat konferensi di New Delhi.

“Hal itu menguntungkan sekali karena kedua pejabat itu bisa memberi keterangan selengkap-lengkapnya, kepada Nehru tentang keadaan Indonesia,” tulis Ali Sastro Amidjojo dalam bukunya 'Tonggak-Tonggak di Perjalananku'.

Resolusi konferensi New Delhi meminta Dewan Keamanan PBB supaya membebaskan semua anggota pemerintah Indonesia Selain itu juga, meminta Belanda segera menarik pasukannya dari Yogyakarta dan mengembalikan Yogya yang didudukinya kepada RI.

Berkat konferensi New Delhi, dunia internasional menekan Belanda. Akhirnya pada 7 Mei 1949, Belanda terpaksa menandatangani Perjanjian Roem-Van Royen. Inti perjanjian yakni menyetujui penarikan mundur pasukan Belanda dari Yogya.

Soekarno dan Hatta yang ditahan di Bangka dibebaskan dan kembali ke Yogya pada 6 Juli. Sementara Sjafrudin, kembali ke Yogya pada 13 Juli 1949 dan langsung menyerahkan mandatnya kepada Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohammad Hatta.


***

Meski memiliki jasa sangat besar, Sjafruddin merupakan orang yang rendah hati. Ia tidak pernah merasa tindakannya memimpin PDRI merupakan hal yang luar biasa.

"Saya ini seorang manusia biasa. I'm only doing my job. Apa yang dilakukan di PDRI itu sesuatu yang biasa-biasa saja," kata Sjafruddin seperti diungkap putranya, Farid Prawiranegara saat memperingati 100 Tahun Sjafruddin Prawiranegara, pada 28 Februari 2011.

Sjafruddin meninggal pada 15 Februari 1989 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Sebelum meninggal, ia pernah dijebloskan ke penjara oleh Presiden Soekarno dengan tudingan melakukan pemberontakan PRRI. Ia juga menjadi musuh Presiden Soeharto karena terus bersikap kritis.

Pada 8 November 2011, setelah perdebatan panjang soal cap pemberontak pada Sjafruddin terkait PRRI, akhirnya pria luar biasa ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

DETIK

UEA Undang Typhoon untuk Tantang Rafale


:
 
rediff.com Pesawat tempur buatan Perancis Rafale (atas) harus bersaing dengan Eurofighter Typhoon buatan Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol untuk memenangi tender pengadaan pesawat jet tempur UEA.

DUBAI, KOMPAS.com- Pesawat tempur buatan Dassault Aviation dari Perancis, Rafale, kembali harus berhadap-hadapan dengan "saudara"-nya sesama pesawat buatan Eropa, Eurofighter Typhoon, untuk memenangi kontrak pembelian pesawat tempur dari Uni Emirat Arab (UEA).
Negara kaya di wilayah Teluk Persia itu sebenarnya sudah dalam tahap akhir negosiasi pembelian Rafale degan Perancis. Namun, hari Minggu (13/11/2011), pemerintah UEA tiba-tiba mengundang Eurofighter untuk membuat penawaran tandingan.
Pihak Eurofighter, konsorsium empat negara Eropa, yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol, menyatakan, pada 17 Oktober lalu UEA meminta Inggris untuk memberikan informasi lengkap tentang kemampuan pesawat Typhoon. "Kami baru-baru ini menerima permintaan proposal tentang kemungkinan pasokan Typhoon. Kami saat ini sedang bekerja keras untuk merespons permintaan tersebut," tutur pihak Eurofighter tanpa menyebut detail jumlah pesawat yang diinginkan UEA dan batas waktu keputusan pembelian.
Baik Typhoon maupun Rafale, yang sama-sama berangkat dari konsep pesawat tempur masa depan Eropa pada era 1980-an, telah menyandang gelar "teruji dalam pertempuran" (battle proven) setelah dua tipe pesawat itu sama-sama sukses menjalankan misi operasi serangan udara di Libya beberapa waktu lalu.
Saat ini, dua jet tempur generasi 4,5 itu juga sedang bersaing memenangi kontrak pembelian 126 pesawat tempur multiperan kelas menengah (medium multirole combat aircraft, MMRCA) dari Angkatan Udara India.
Dua tipe pesawat ini memang sedang berjuang keras mencari pasar ekspor. Typhoon baru dibeli oleh dua negara di luar negara-negara pembuatnya, yakni Austria dan Arab Saudi. Sedangkan Rafale belum dilirik oleh satu negara pun di luar Perancis.
Bulan lalu, Menteri Pertahanan Perancis Gerard Longuet mengatakan, pihaknya sudah dalam tahap akhir negosiasi dengan UEA dalam proses pembelian Rafale. Sebagai salah satu negara terkaya di kawasan Timur Tengah, UEA akhir-akhir ini dikabarkan sedang membangun kekuatan militernya.
UEA dan negara-negara kawasan Teluk Persia lainnya, seperti Arab Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, dan Bahrain, juga diandalkan negara-negara Barat, terutama AS, untuk menghadapi pertumbuhan kekuatan militer Iran.
Pekan lalu, AS dikabarkan akan menjual 4.900 bom pintar yang dilengkapi piranti pelacak sasaran presisi JDAM (joint direct attack munition) kepada UEA. Bom yang mampu menembus bungker-bungker bawah tanah ini bisa digunakan untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah milik Iran.

kompas

Alutsista Bekas Eropa Masih Dalam Kajian


 
Wahyu Wening / Jurnal Nasional
Jurnas.com | PENGADAAN alutsista bekas pakai negara Eropa masih dalam kajian Kementerian Pertahanan. Jika disepakati, pembeliannya diupayakan melalui program Government to Government (G to G).

“Kami belum sampai pada fase memutuskan. Baru menilai apakah kita layak melengkapi pertahanan dengan alutsista itu,”kata Sekjen Kemenhan Marsekal Madya Eris Herryanto di Jakarta, Jumat (11/11).

Prinsip pengadaannya, kata Eris, diupayakan dalam bentuk G to G. Jika tidak memungkinkan, pembelian akan dilakukan secara langsung pada perusahaan pembuatnya. Eris tidak mempersoalkan adanya peranan broker asalkan atas arahan langsung perusahaan. “Kami tak masalah berkomunikasi dengan agen, untuk memperlancar. Kami dealnya sama pabrik, karena agen ditunjuk pabrik,” katanya.

Peran agen, jelas Eris, diperlukan karena merupakan representasi perusahaan di Indonesia. “Kalau ada apa-apa kami hubungi dia untuk disampaikan ke pabrikan.”

Indonesia menjajaki alutsista bekas dari Eropa yang terkena imbas krisis ekonomi, untuk mengurangi anggaran pertahanan mereka. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai rapat alutsista di Istana kemarin (10/11), Kementerian Pertahanan diminta melakukan inventarisasi kebutuhan alutsista. Beberapa alutsista yang dilirik Indonesia diantaranya heli Apache dan tank Leopard.

jurnas

TNI AU Bentuk Skadron Helikopter Baru


11 November 2011

Sebelum menjadi skadron tersendiri, helikopter angkut VIP/VVIP bergabung dengan Skadron Udara 17 yang juga berpangkalan di halim (photo : Jetphotos)

JAKARTA, KOMPAS.com - TNI Angkatan Udara membentuk skadron helikopter baru yakni Skadron 45. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat meresmikan Skadron Udara 45 yang merupakan satuan angkut VIP dan VVIP di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jumat (11/11/2011).

KSAU juga melantik Letkol (Pnb) Muzawar sebagai Komandan Skadron Udara 45. "Untuk membangun Angkatan Udara yang kuat adalah tidak mudah dan membutuhkan dana yang tidak sedikit," kata KSAU.

Menurut KSAU, sebagai pangkalan operasional, Lanud Halim Perdanakusuma menjadi salah satu pengkalan dengan tingkat operasional yang sangat tinggi, oleh karena itu seluruh personel Satuan Lanud Halim Perdanakusuma harus benar-benar memperhatikan masalah Keselamatan Terbang dan Kerja yang menjadi dasar sebagai pegangan dalam setiap pelaksanaan tugas.

Saat ini di Lanud Halim berpangkalan Skadron Udara 17 yang juga bertugas mengangkut para penumpang VIP dan VVIP. Skadron Udara 17 menggunakan pesawat fixed wing seperti Boeing dan sejumlah pesawat terbang lain.

TNI AD Dapat Rp14 Triliun Pengadaan Alutsista


Tank Leoprad 2A6 Belanda (photo : Army Recognition)

Magelang (ANTARA News) - Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat mendapat alokasi pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) dari pemerintah sebanyak Rp14 triliun.

Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo di Magelang, Jumat, mengatakan, hasil terakhir dalam sidang kabinet terbatas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, TNI AD diberi porsi untuk pengadaan alutsista Rp14 triliun.

Ia mengatakan hal tersebut usai acara Wisuda Purnawira Perwira Tinggi TNI AD di Akademi Militer Magelang. Pada kesempatan tersebut diwisuda 166 perwira tinggi TNI AD yang telah memasuki masa pensiun, antara lain Jenderal TNI (Purn) Agustadi Sasongko Purnomo, Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, dan Jenderal TNI (Purn) George Toissuta.

Menurut Pramono, anggaran tersebut antara lain akan digunakan untuk membeli tank, roket, meriam, dan helikopter.

Ia mengatakan, untuk pengadaan alutsista tersebut TNI AD telah menugaskan Wakasad TNI AD untuk melihat langsung pabrik senjata di Eropa bersama tim dari Kementerian Pertahanan.

Menurut dia, alutsista yang akan dibeli misalnya main battle tank atau tank berat yang selama ini Indonesia belum pernah memiliki. "Jika ini bisa diwujudkan maka Indonesia akan menjadi negara yang seimbang dengan negara tetangga," katanya.

Ia mengatakan, dengan kondisi perekonomian eropa yang sedang tidak baik maka mereka membutuhkan uang tunai sehingga mereka menjual senjata dengan harga murah.

Ia menuturkan, dari plafon untuk pembelian 44 tank berat, ternyata mereka menawarkan untuk pembelian 100 unit tank berat.

"Indonesia sebenarnya diuntungkan dengan situasi ekonomi Eropa kurang baik saat ini, mereka berani menjual dengan harga murah, sedangkan Indonesia butuh peralatan tersebut," katanya.

Pramono mengatakan, untuk pengadaan helikopter Apache, Indonesia dapat harga khusus, dari harga 30 juta dolar AS perunit mendapat keringanan 5 juta dolar US perunit sehingga harganya menjadi 25 juta dolar US perunit.

"Karena membeli delapan unit helikopter maka dapat menghemat dana hingga 40 juta dolar AS," katanya.

Ia mengatakan, pengadaan alutsista tersebut harus selesai tahun 2014 sesuai anggaran yang disiapkan pemerintahan saat ini.

Friday, November 11, 2011

AS Akan Bangun Pangkalan Militer di Australia!

Canberra - Amerika Serikat dikabarkan akan membangun pangkalan militer di Australia. Para marinir AS akan mulai ditempatkan di sebuah pangkalan militer di Darwin, Australia.

Menurut harian Australia, Sydney Morning Herald (SMH), Jumat (11/11/2011), hal itu akan diumumkan Presiden AS Barack Obama bersama Perdana Menteri (PM) Australia Julia Gillard saat mereka berkunjung ke Darwin pekan depan.

Selama ini para marinir AS telah ditempatkan di pangkalan AS di Pulau Okinawa, Jepang dan di Guam, sekitar 2 ribu kilometer sebelah utara Papua Nugini.

Para pakar menilai penempatan pasukan marinir AS secara permanen di Australia ini sebagai upaya untuk meningkatkan aliansi AS-Australia dalam menghadapi kebangkitan China.

"Ini semua tetang kebangkitan China, modernisasi militer China dan khususnya, ini soal bertambahnya kerentanan pasukan AS di Jepang dan Guam atas rudal-rudal generasi baru China," kata Alan Dupont, profesor keamanan internasional di kampus Sydney University.

"Rudal-rudal baru China bisa mengancam mereka dengan cara yang sebelumnya tidak bisa, jadi AS mulai mereposisi mereka guna membuat mereka tidak begitu rentan," tutur Dupont.

Keputusan soal penempatan pasukan marinir AS di Australia ini telah dipertimbangkan sejak bertahun-tahun lalu. Apalagi karena langkah ini pasti akan menimbulkan reaksi dari pemerintah China.

Menurut Hugh White, profesor studi strategis di Australian National University, keputusan ini akan mendatangkan konsekuensi mendalam bagi hubungan Australia dengan China.

"Saya pikir ini langkah yang sangat berisiko dan sangat signifikan bagi Australia. Dalam pandangan Beijing, semua yang dilakukan AS di Pasifik barat dimaksudkan untuk meningkatkan perlawanan akan tantangan China terhadap keunggulan AS," tutur White.

Menurut SMH, Obama dan Gillard akan mengumumkan bahwa AS tidak akan membangun pangkalan baru bagi para marinir namun akan menggunakan Robertson Barracks, pangkalan Australia yang telah lama ada di Darwin. Pangkalan itu selama ini menampung sekitar 4.500 tentara Australia. Pangkalan tersebut kemungkinan akan diperluas guna menampung para marinir AS.

DETIK

Menhan Inginkan BUMN Industri Pertahanan Sehat


 
Wahyu Wening / Jurnal Nasional
Jurnas.com | MENTERI Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan keinginannya untuk membina BUMN industri pertahanan agar menjadi BUMN yang sehat. Solusinya, pertama, melalui penyertaan modal negara. Kedua, mendorong agar terjadi pergeseran yang tadinya impor menjadi produksi bersama dan berakhir produksi dalam negeri. Ketiga, mendukung pengembangan pasar, baik itu pasar domestik maupun pasar luar negeri. “Kita dorong dengan menggunakan prinsip Indonesia Incorporated seperti penjualan beberapa produk kita yang keluar dari BUMN-BUMN industri pertahanan kita, dan terakhir legislasi, dimana kita sekarang sedang memperjuangkan revitalisasi industri pertahanan melalui undang-undang,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai rapat kabinet terbatas tentang pengadaan alutsista TNI dan Polri di Kantor Presiden, Kamis (9/11).

Menurut Menhan, dinamika sekarang ini sebagai akibat krisis ekonomi di Eropa dan Amerika, dimana banyak mengurangi alutsistanya. bahkan di negara-negara Eropa, menjual murah Alutsistanya. “Sekarang kita dalam posisi bagaimana kita menyikapi, dalam arti kata, mana yang sesuai dengan kebutuhan kita, mana yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita, lalu dananya ada gak?,” kata Purnomo menjelaskan.

Purnomo juga mengatakan, PT Pindad saat ini sedang mengembangkan industri kendaraan taktis seperti Hummer. "Ini sedang dikerjakan oleh PT Pindad dan kita harapkan dalam waktu beberapa bulan ini selesai, "ujarnya.

Dikatakan Purnomo, pembuatan Hummer tersebut melalui skema joint production. "Nantinya kita kembangkan untuk dipakai oleh pasukan-pasukan khusus kita, pasukan-pasukan brigade tempur kita,” katanya.

JURNAS

BERITA POLULER