Pages

Wednesday, November 9, 2011

KRI BANDA ACEH SIAP MENDUKUNG KEGIATAN KTT ASEAN KE-19


 

LANTAMAL V (10/11),- KRI Banda Aceh-593 merapat di pelabuhan Benoa Bali dalam rangka mendukung kegiatan KTT ASEAN ke-19 di Nusa Dua, Bali. Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar melaksanakan Merplug yang dipimpin langsung oleh PJS Perwira Pelaksana Mayor Laut (P) Jatiar Sinaga, Rabu (9/11).

Dalam kegiatannya KRI Banda Aceh mengangkut peralatan dan personel yang nantinya akan terlibat langsung dalam Tim Pengamanan KTT ASEAN ke-19 di Nusa Dua, Bali, personel dan peralatan pengamanan didatangkan langsung dari Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Selama bergiat di Denpasar KRI Banda Aceh akan bersandar di Pelabuhan Benoa dan juga akan membantu pengamanan sektor laut di perairan Bali. KTT ASEAN ke-19 di Bali direncanakan akan dihadiri oleh para Kepala Negara ASEAN dan juga Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

MABES TNI

KOARMABAR MELAKSANAKAN SAR 62 KECELAKAAN LAUT DI WILAYAH BARAT


Kamis, 10 November 2011 - 11:11
KOARMABAR MELAKSANAKAN SAR 62 KECELAKAAN LAUT  DI WILAYAH BARAT
     Jakarta 10 November 2011, -- Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) berhasil melaksanakan SAR selama Tahun 2011 sejumlah 62 kasus kejadian kecelakaan yang terjadi di wilayah perairan kawasan barat mulai dari Selat Malaka, Perairan Natuna, Selat Karimata dan Laut Pantai Barat Pulau Sumatera.
 
     Koarmabar dalam melaksanakan kegiatan SAR tersebut menggelar unsur-unsur Kapal Republik Indonesia (KRI) dan Kapal Angkatan Laut (KAL) yang sedang melaksanakan operasi diantaranya Operasi Arung Pari, Operasi Taring Pari, Operasi Alur Pari dan Operasi dengan sandi Rakata Jaya yang digelar di perairan kepulauan Seribu sampai dengan Selat Sunda.
 
     Unsur-unsur KRI yang melaksanakan operasi SAR tersebut dibawah kendali komando operasional Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmabar, sedangkan KAL melaksankan operasi terbatas dibawah kendali Pangkalan-pangkalan Angkatan Laut Jajaran Koarmabar. Sedangkan KRI yang berada dibawah kendali operasi Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmabar melaksanakan SAR terhadap kejadian kecelakaan laut yang terjadi di wilayah sektor operasi.
 
     Selama ini Informasi terjadinya kecelakaan laut tersebut dapat dimonitor oleh Regional Command and Control Center di Pusat Komando dan Pengendali Gugus Keamanan Laut Koarmabar yang bermarkas di Batam, melalui operasional radar-radar Integrated Maritime Surveilances System (IMSS) yang telah terpasang di pulau Batam dan sepanjang wilayah di Selat Malaka sampai dengan Sabang.
 
     Selain itu informasi tentang kecelakaan di laut diinformasikan oleh para pengguna laut diantaranya kapal-kapal niaga, kapal penyeberangan dan masyarakat nelayan kepada unsur gelar yang sedang melaksanakan patroli keamanan laut dan patrol terbatas di perairan kawasan barat Indonesia. Kejadian kecelakaan laut tersebut juga dapat dimonitor dari Fleet Command and Control (FCC) yang berada di Pusat Komando dan Pengendali (Puskodal) Koarmabar dan selanjutnya dapat digunakan dalam pengambilan keputusan pimpinan dalam melaksanakan kegiatan SAR selanjutnya.
 
     Informasi yang diterima Regional Command and Control Center di Pusat Komando dan Pengendali Gugus Keamanan Laut Koarmabar yang bermarkas di Batam selanjutnya di teruskan kepada unsur-unsur gelar dari Guskamlaarmabar maupun Guspuraarmabar yang sektor operasinya berdekatan dengan lokasi kejadian kecelakaan laut.
Kecelakaan di laut yang terjadi sebanyak 62 kali tersebut sebagian besar disebabkan oleh faktor cuaca, kelalaian nahkoda dan anak buah kapal serta kondisi kapal. Korban jiwa sebagian besar karena peralatan keselamatan yang tidak sesaui dengan ketentuan prosedur tetap keselamatan.
 
     Dalam melaksanakan kegiatan SAR tersebut Koaramabar dan seluruh jajaran Pangkalan Angkatan Laut yang berada di wilayah barat bekerjasama dengan instansi terkait dan masyarakat setempat serta para pengguna laut. Seperti kecelakaan tenggelamnya kapal yang dialami kapal imigran illegal asal Iran di sekitar perairan Pangandaran, telah diselamatkan tujuh belas orang oleh Posal Pangandaran dan diserahkan Kepada Kepala Kantor imigran Kelas-II Tasik Malaya.

SBY Ingatkan Pebisnis Alutista Jangan Mark-up Biaya Pengadaan


leopard 2
Jakarta - Proyek pengadaan alat utama sistem senjata (alutista) kerap disalahgunakan oleh pebisnis pada masa lalu. Tak jarang, berbagai penyimpangan yang merugikan negara pun terjadi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta hal itu tidak terulang.

Pesan ini disampaikan SBY dalam rapat terbatas membahas alutista di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Kamis (10/11/2011). Hadir dalam rapat beberapa menteri bidang Polhukam, seperti Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Menhan Purnomo Yusgiantoro, dan para petinggi TNI. Hadir juga kepala Bappenas Armida Alisjahbana.
T50 GOLDEN EAGLE

"Saya ingatkan pebisnis yang mengikuti di bidang ini, ikuti kebijakan pemerintah kemudian ikut membangun kemandirian industri kita sendiri dan kemudian pantas," kata SBY.

"Dan tidak ada penyimpangan dan kongkalingkong dan mark up seperti terjadi di waktu lalu yang negara sangat dirugikan," sambungnya.

Tidak hanya itu, SBY juga kembali mengingatkan tentang prinsip dasar kebijakan pengadaan alutista. Pertama, pengadaan alutista harus membeli atau mengadakan produk industri pengadaan nasional yang sudah bisa diproduksi.

"Kalau belum bisa kita mesti mengadakan membeli dari negara-negara sahabat tanpa kondisionalitas apalagi kondisionalitas politik," tambahnya.

Harapan kedua SBY adalah membangun kerangka kerjasama yang konstruktif dengan negara-negara produsen alutista. Misalnya investasi bersama, produksi bersama dan membangun riset dan pengembangan bersama.

"Dengan demikian benefit ekonomi kita dapatkan, transfer teknologi juga terjadi dan pada saatnya nanti kita bisa produksi dalam negeri," pesan SBY yang kali ini tampil dengan safari berwarna cokelat.

detik

Konvoi Kapal Perang RI “Diserang Musuh”


Konvoi Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang tergabung dalam operasi amfibi mendapat “serangan” dari pesawat intai musuh ketika hendak memasuki perairan Kota Baru Kalimantan Timur, Selasa (08/11). Terjadi pertempuran yang sengit selama kurang lebih 30 menit antara kapal-kapal perang RI dengan pesawat musuh yang sedang berpatroli di sekitar perairan Selat Makasar.
Beberapa KRI yang menjadi unsur tabir yaitu KRI Diponegoro-365, KRI Frans Kaisiepo-368, KRI Yos Sudarso-353 serta kapal perang lainnya terus melakukan perlawanan guna melindungi keberadaan unsur-unsur Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib) yang mengangkut pasukan pendarat Marinir dan peralatan tempurnya. Seketika itu juga sekitar pukul 09.00 Wita bunyi sirine meraung-raung mengagetkan personel yang sedang bertugas di KRI dr. Soeharso-990 menandakan adanya serangan bahaya udara.
Tidak lama kemudian juga terdengar sirine bahaya kebakaran di geladak Helly akibat serangan udara oleh pesawat musuh. Personel KRI dr. Soeharso-990 yang tergabung dalam regu Pemadam Kebakaran (PEK) segera melaksanakan pemadaman dengan peralatan PEK lengkap. Dalam waktu singkat api dapat dikuasai dan dipadamkan selama kurang lebih 15 menit. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari latihan peran tempur yang dilaksanakan oleh personel KRI dr. Soeharso-990 yang tergabung dalam Latihan Armada Jaya XXX/11.
Geladi  peran tempur bahaya udara melibatkan satu buah Pesawat Udara (Pesud) Cassa U-622 dari Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) Juanda Surabaya. Skenario yang dilaksanakan adalah Cassa U-622 sebagai pesawat musuh, tiba-tiba melakukan serangan udara secara mendadak. Seluruh unsur Kogasgabfib melaksanakan peran tempur bahaya udara sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing dan seluruh personel mempati pos tempur sesuai peralatan dan persenjataan yang mereka awaki. Demikian pula personel KRI dr. Soeharso-990, yang merupakan main body dalam konvoi Kogasgabfib, turut melaksanakan latihan peran tempur bahaya udara.

Guna menjaga kerahasiaan rencana serbuan amfibi maka unsur-unsur kapal perang itu melakukan diam pancaran radio dan melaksankan komunikasi antar kapal menggunakan isyarat  dengan  bendera (Flag Hoist), semaphore dan lampu (flash). Selain itu juga dilaksanakan Replenish At Sea (RAS) antara KRI dr. Soeharso-990 dengan KRI Frans Kaisepo-368. Pembekalan dilaut (RAS) dapat dilakukan untuk pengisian bahan bakar dan air tawar dari kapal ke kapal secara cepat dan terjamin kerahasiaannya.

Seluruh latihan peran tersebut disaksikan oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E. sebagai Direktur Latihan  (Dirlat) Armada Jaya XXX/11 yang onboard di KRI dr. Soeharso-990.  Turut menyaksikan Ketua Pengawas dan Pengendali Latihan (Kawasdal) Laksamana Pertama TNI Ary Atmaja (Kepala Staf Kolinlamil) dan Ketua Tim Penilai Laksamana Pertama TNI Didik Wahyudi (Dankodikopsla Kobangdikal).

Unsur-Unsur Armada Jaya XXX/11 Laksanakan Linla Menuju Daerah Sasaran
Kaltim  09 November 2011,
Konvoi Kapal Perang RI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib) yang merupakan salah satu unsur dalam Latihan Armada Jaya XXX/11 telah memasuki perairan Selat Makasar, Kamis (09/11).


Selama perjalanan Lintas Laut (Linla) dari Pangkalan Surabaya menuju daerah sasaran, rombongan KRI yang membawa peralatan tempur dan pasukan Marinir itu melaksanakan berbagai macam gladi tempur laut seperti dalam kondisi saat peperangan  yang sesungguhnya.

Pada kesempatan itu Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E. selaku Direktur Latihan Armada Jaya XXX/11 melakukan teleconference dari KRI dr. Soeharso-990 dengan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) dan Wakasal yang berada di Mabesal Jakarta. Dalam siaran langsung yang tampil dalam layar monitor berupa komunikasi visual dan audio itu diikuti juga oleh Mako Koarmatim serta KRI Surabaya-591 selaku kapal markas Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib).

Pangarmatim selaku Direktur Latihan (Dirlat) didampingi Panglima Komando Tugas Gabungan Amfibi (Pangkogasgabfib) Laksamana Pertama TNI Taufiqurrachman serta pejabat staf lainnya melaporkan kesiapan personel dan materiil serta menyampaikan hasil kompetisi artileri yang dilaksanakan oleh unsur-unsur kapal perang yang tergabung dalam Latihan Armada Jaya XXX/11. Pada kesempatan yang sama Komandan Pasukan Pendarat (Danpasrat) Kolonel Marinir Amir Faisol juga melaporkan kepada Kasal tentang kesiapan personel dan persenjataan dalam melaksanakan serbuan amfibi yang akan dilaksanakan nanti.

Dalam formasi konvoi Linla menuju daerah sarasan terjadi kecelakaan yang dialamai oleh salah seorang personel yang berada di KRI Surabaya 591. Kelasi Kepala Rum Herwanto jatuh dari tangga saat menuju dek Helly kemudian korban ditolong oleh Bintara Kesehatan Kapal (Bakes) Kopda Farmasi (Far) Odi dengan melakukan tindakan pertolongan medis pertama. Melihat kondisi korban yang mengalami patah tulang (fraktur) betis dan paha pada kaki sebelah kiri  dan peralatan medis yang ada di KRI Surabaya kurang memadai selanjutnya korban segera dievakuasi menuju KRI dr. Soeharso-990 dengan menggunakan Helly Bolcow yang berada di KRI Teluk Mandar-514. Evakuasi Medis Udara (EMU) berlangsung dengan cepat, kemudian helly mendarat di geladak KRI dr. Soeharso dan pasien menjalani penanganan medis di Unit Gawat Darurat (UGD) kapal rumah sakit itu.

Kegiatan itu merupakan simulasi latihan EMU dari kapal ke kapal untuk mengukur sejauh mana kemampuan dan kesiapan personel medis dan para medis saat melaksanakan pertolongan terhadap pasukan yang mengalami kecelakaan atau terluka dalam pertempuran. (Dispenarmatim).

Pemerintah Sudah Sinkronisasikan Modernisasi Alutsista

Jurnas.com | PEMERINTAH telah menetapkan kebijakan modernisasi pembangunan pertahanan utamanya jajaran TNI dan dalam skala tertentu Polri termasuk rencana pengadaan alutsista untuk jangka menengah dan jangka panjang. Selama pembangunan 2009-2014, pemerintah juga sudah ditetapkan dukungan pengadaan alutsista.

"Telah saya putuskan dan kita telah menyinkronisasikan kebutuhan pertahanan jajaran TNI/Polri dan dukungan anggaran yang dikelola oleh Kemenkeu dan dalam batas tertentu Bappenas," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pengantar Rapat Kabinet Terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (10/11).

Presiden mengajak memikirkan pengadaan tambahan alutsista di luar yang sudah disetujui. Padahal batas anggaran sudah ditetapkan. "(Jika itu terjadi) tentu kita bahas kembali," kata Presiden. Kepala Negara mengingatkan, kembali kebijakan dasar alutsista yang mengharuskan membeli produk dalam negeri.

"Wajib hukumnya menggunakan alutsista produk industri pertahanan kita manakala alutsista sudah bisa diproduksi oleh jajaran industri pertahanan kita. Kalau belum bisa kita mesti membeli dari negara sahabat tanpa konditionalitas (syarat) apalagi konditionalitas politik," kata Presiden

JURNAS

Presiden: Bangun Alutsista Jangka Panjang

F-33/KFX/IFX (KERJASAMA INDONESIA-KORSEL)
Jurnas.com | PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono menekankan bahwa alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang belum diproduksi di dalam negeri agar dalam jangka menengah dan panjang harus membangun kerangka kerja sama yang konstruktif seperti joint invesment, joint production, joint research and development.

Dengan demikian keuntungan ekonomi bisa didapatkan dan transfer teknologi juga terjadi dan pada saatnya nanti bisa diproduksi di dalam negeri. "Saya senang kebijakan dasar kita ini telah benar dilaksanakan dan apabila dilaksanakan semua mendapatkan keuntungan yang riil pengguna sendiri maupun industri pertahanan kita. Kita sama-sama meninjau PT Dirgantara Indonesia dan melihat langsung produksi bersama PTDI dan Airbus Military untuk pesawat angkut CN-295 dan mendemonstrasikan kemampuan untuk mendukung operasi militer," kata Presiden saat sambutan pengantar Rapat Kabinet Terbatas tentang pengadaan alutsista di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (10/11).

Menurut Presiden, alangkah baiknya pesawat semacam pesawat CN-295 tidak sebatas dikonsumsi oleh jajaran TNI/Polri, tetapi juga pengguna di dalam negeri sendiri dan pihak lain apalagi menggunakan APBN. "Kita ingin yang kita lakukan kerja sama Airbus Military dengan PTDI dan saya sudah mendapatkan penjelasan kerja sama Korea Selatan dengan PTDI untuk membangun jet tempur militer jangka panjang. Itu juga terjadi di jajaran industri strategi kita di PAL dan Pindad," katanya.

Di Bandung, kata Presiden, mulai membahas produksi kendaraan taktis militer yang mampu diproduksi PT Pindad dengan produksi lain. "Saya kira ini yang harus sungguh dijalankan sehingga in the long run benar-benar kita lebih mandiri dan lebih maju, benefit sekali lagi didapat dimana-mana," kata Presiden.

JURNAS

Rusia marah atas penyiaran laporan nuklir Iran

Moskwa (ANTARA News) - Rusia pada Selasa menyatakan marah atas penerbitan laporan badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kegiatan nuklir Iran, dengan menyebutnya menambah ketegangan dalam kebuntuan dengan kekuatan dunia.

"Rusia sangat kecewa dan bingung bahwa laporan tersebut diserahkan kepada sumber penambah ketegangan atas masalah terkait kegiatan nuklir Iran," kata pernyataan kementerian luar negeri.

Dikatakannya, Moskwa meragukan kebijaksanaan mengumumkan laporan itu, dengan menyatakannya mengancam merusak kesempatan pembaruan pembicaraan antara kekuatan dunia dengnan Teheran untuk memecahkan kemelut nuklir melalui perundingan.

Kementerian itu menyatakan laporan tersebut kini terancam digunakan oleh yang ingin melihat Iran dipojokkan, dalam kemungkinan merujuk pada Israel dan Amerika Serikat.

Laporan Badan Tenaga Atom Dunia (IAEA) itu diterbitkan sesaat setelah Presiden Israel Shimon Peres memperingatkan bahwa serangan pencegahan atas Iran untuk menggagalkan kegiatan nuklirnya menjadi lebih mungkin.

"Ada yang memiliki nalar `lebih buruk lebih baik` dan kita tidak bisa mendukung nalar merusak kesadaraan menghancurkan upaya perundingan itu," kata kementerian luar negeri tersebut.

Dalam langkah sangat tidak biasa, Rusia dan China bersama-sama menekan IAEA tidak mengumumkan laporan tersebut, kata diplomat di Wina.

Kementerian itu menyatakan marah akibat bagian dari laporan tersebut -yang menyatakan keterangan "tepercaya" bahwa Teheran mungkin berusaha membuat senjata nuklir- bocor sebelum penerbitan itu.

"Kami akan menanyakan sampai sejauh mana sekretariat badan itu mampu menjamin kerahasiaan pekerjaannya, karena tanpa itu, keberhasilannya dipertanyakan," katanya.

Dengan mengutip yang disebutnya keterangan "dapat dipercaya" dari negara anggota negara dan tempat lain, IAEA menyatakan Iran tampak melakukan kegiatan membuat senjata nuklir, seperti, uji bahan peledak berkekuatan besar dan membuat pemicu, yang dapat dipakai untuk bom atom.

China pada Rabu memperingatkan akan gejolak di Timur Tengah akibat tindakan atas kegiatan nuklir Iran, tapi menolak menanggapi kemungkinan hukuman lain menyusul laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Iran tampaknya berusaha merancang senjata atom.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Hong Lei menyatakan China mempelajari laporan IAEA itu dan mengulangi seruan mengatasi masalah tersebut secara damai melalui pembicaraan.

"Saya ingin menunjukkan bahwa China menentang perebakan senjata nuklir dan tak menyetujui negara Timur Tengah mana pun mengembangkan senjata nuklir. Sebagai penandatangan Perjanjian Tan Rebak Nuklir, Iran memikul tanggung jawab atas tak ada perebakan nuklir," katanya dalam jumpa pers harian.

"Saya ingin menekankan bahwa penting menghindari kekacauan baru di lingkungan keamanan Timur Tengah bagi kedua wilayah tersebut dan masyarakat dunia," katanya.

Hong tidak menyebutkan hukuman dan menunjukkan China tidak terburu-buru membawa masalah tersebut kembali ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan menyatakan bahwa semua pihak harus berbuat lebih banyak untuk meningkatkan pembicaraan dan kerjasama.

China juga mengecam Amerika Serikat dan Eropa Bersatu, yang memaksakan hukuman secara sepihak terhadap Iran dan menyatakan mereka tidak harus mengambil langkah melampaui resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Surat kabar pemerintah China menyatakan kebuntuan antara Iran dengan Barat atas rencana nuklir Iran dapat meledak dengan pertikaian tentara.

Kantor berita resmi China Xinhua juga menyarankan Beijing menanggapi laporan tersebut dengan hati-hati. Pengawas Perserikatan Bangsa-Bangsa masih "tidak memiliki senjata berasap", kata Xinhua dalam tanggapannya.

"Tidak ada saksi atau bukti nyata untuk membuktikan bahwa Iran membuat senjata nuklir," katanya kepada AFP.


ANTARA

BERITA POLULER