Pages

Wednesday, November 9, 2011

Israel Kemungkinan Serang Iran Desember Atau Awal 2012

London - Badan Tenaga Atom Internasional alias IAEA baru saja merilis laporan mengenai aktivitas nuklir Iran. Laporan itu semakin meningkatkan spekulasi serangan Israel ke Iran guna menghentikan program nuklirnya.

Bahkan menurut seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Inggris, Israel akan mencoba menyerang pembangkit-pembangkit nuklir Iran paling cepat bulan Desember atau awal tahun 2012 mendatang dengan dukungan logistik dari Amerika Serikat.

Menurut pejabat senior Inggris yang minta dirahasiakan namanya itu, para menteri Inggris telah diberitahu mengenai kemungkinan aksi militer Israel tersebut.

"Kami perkirakan itu akan terjadi paling cepat saat Natal atau di awal-awal tahun baru," kata pejabat tersebut seperti dilansir Daily Mail, Kamis (10/11/2011).

Para pejabat Inggris yakin, Presiden AS Barack Obama akan terpaksa mendukung Israel atau berisiko kehilangan dukungan vital Yahudi-Amerika dalam pemilihan presiden AS mendatang.

Belum lama ini, sumber-sumber Kementerian Pertahan n Inggris mengkonfirmasi bahwa rencana kontingensi telah disusun jika Inggris nantinya memutuskan untuk mendukung aksi militer terhadap Iran.

DETIK

30 Ribu Pejuang Palestina dan Suriah Siap Dikirim Menyerang Israel


Tercatat lebih dari 30 ribu pemuda Palestina dan Suriah, mengirim surat tanda tangan mereka  kepada pemerintah Damaskus dan menyatakan kesiapan mereka untuk melakukan operasi di Palestina pendudukan (Israel).

Fars News (9/11) melaporkan, sebelumnya pada peringatan hari Nakbah (hari petaka) di Palestina pendudukan, lima pemuda Palestina menyusup ke dalam wilyaah Israel untuk melancarkan serangan. Namun mereka ditangkap oleh pasukan rezim Zionis.

Kini lebih dari 30 ribu pemuda Palestina dan Suriah, yang telah menyelesaikan pelatihan militer mereka dalam tiga bulan terakhir menyatakan siap untuk dikirim guna melancarkan serangan ke Israel.

Dalam surat tanda tangan dan deklarasi yang dilayangkan kepada pemerintah Suriah, mereka meminta pemerintah Damaskus mengijinkan mereka memasuki wilayah Israel.  Mereka bahkan siap menjalankan misi anti-Israel dalam kondisi seberat apapun.

Bagi rezim Zionis Israel, pernyataan kesiapan 30 ribu pemuda Palestina dan Suriah untuk melancarkan serangan ke Tel Aviv itu, merupakan momok bagi rezim Zionis yang bahkan tentara mereka tidak memiliki nyali dan spirit setinggi para pejuang muqawama meski mereka dilengkapi persenjataan dan logistik termoderen.

Para pengamat berpendapat bahwa pasukan muqawama muda itu merupakan ancaman potensi besar bagi Israel. Jika Israel bersikeras mencampuri krisis di dalam negeri Suriah, maka 30 ribu pasukan muqawama itu akan menjadi bagian dari skenario pemerintah Damaskus dalam melumpuhkan pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.
(IRIB Indonesia/MZ/SL

Ahmadinejad: Kami Tidak Akan Mundur Barang Sejengkal


Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad menyatakan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah mempertaruhkan kredibilitasnya dengan klaim irasional  AS, seraya menegaskan bahwa bangsa Iran tidak akan mundur "barang sejengkal pun."

Berpidato di hadapan masyarakat di Provinsi Chaharmahal Bakhtiari, Rabu (9/11) Ahmadinejad mengatakan bahwa musuh-musuh Iran tidak mengantongi apapun dari permusuhan mereka dengan Iran selama puluhan tahun.

Menyinggung laporan Dirjen IAEA, Yukiya Amano tentang program nuklir sipil Iran, yang dibagikan kepada 35 anggota Dewan Gubernur IAEA, Selasa malam (8/11), Ahmadinejad mengatakan, "Dengan melanjutkan langkah-langkah seperti itu apakah Anda mencapai sesuatu selain kesengsaraan dan cela bagi diri Anda sendiri?"

Dalam laporannya, IAEA menuding Iran melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan senjata nuklir sebelum tahun 2003, dan mengklaim bahwa kegiatan ini "diperkirakan masih berlanjut."

Laporan itu dirilis setelah kunjungan Amano ke Washington guna berdialog dengan para pejabat AS sebelum publikasi laporannya. Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang objektivitas dan netralitas Amano.

Ahmadinejad juga menyoal motif Amano dalam menghancurkan kredibilitas IAEA dengan mengusung klaim tak berdasar AS.

Presiden Iran itu juga bersumpah bahwa bangsa Iran tidak akan mundur "barang sejengkal pun" dari jalan yang telah dipilih.

Pasca perilisan laporan Amano, AS, Israel dan beberapa negara Barat menekankan pemberlakuan sanksi lebih berat anti-Iran.

Selasa (8/11) Perancis mengancam siap untuk memberlakukan "sanksi yang belum pernah dilakukan sebelumnya" jika Iran menolak mereaksi tuntutan masyarakat internasional atas program nuklirnya.

Rabu (9/11), Perdana Menteri Inggris, William Hague, mengemukakan "langkah-langkah tambahan terhadap sektor keuangan Iran, sektor minyak dan gas, serta penentuan daftar para pejabat dan individu yang terlibat dengan program nuklir Iran."

Di lain pihak, Rusia menentang keras langkah-langkah pemaksaan terhadap Republik Islam, dan menyatakan, "Setiap sanksi tambahan terhadap Iran akan dipahami oleh masyarakat internasional sebagai alat untuk mengubah rezim di Tehran." Hal itu dikemukakan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov pada hari Rabu.

Ditambahkannya, "Pendekatan seperti ini tidak dapat kami terima, dan Rusia tidak akan meninjau proposal tersebut."

Dalam sepekan terakhir, AS dan rezim Zionis Israel kembali gencar melontarkan retorika agresif mereka terhadap Iran. Pada 6 November, Presiden Israel, Shimon Peres, mengancam bahwa kemungkinan serangan terhadap Republik Islam semakin menguat.

Namun para pejabat Iran meresponnya dengan janji balasan yang cepat dan destruktif terhadap segala bentuk serangan dan memperingatkan bahwa setiap aksi militer akan menyulut perang besar yang akan menyebar hingga ke luar wilayah Timur Tengah.
IRIB

Vietnam Requests Brahmos and Corvettes from India


10 November 2011
Khukri class, the 1350 ton corvettes of Indian Navy (photo : Mazumdar)
Vietnam's plea puts South Block in a predicament
Vietnam's request for military assistance from India, primarily in the naval field, has put South Block in a quandary, said official sources.
On the one hand, India would like to pay back Vietnam for its assistance in consistently bolstering its case at multilateral fora such as the Association of South East Asian Nations (Asean), and on the other, it would not want to irk China as the plea has come shortly after exchanges between Beijing and New Delhi over Oil & Natural Gas Commission Videsh (ONGC Videsh) prospecting for oil and gas in a portion of South China Sea claimed by both China and Vietnam.

Brahmos air-launched version (photo : Brahmos)
Vietnam President Troun Tan Sang made the request in four fields — submarine training, conversion training for its pilots to fly Sukhoi-30, modernisation of a strategic port and transfer of medium-sized warships.
In fact, the sources said, the Vietnam President overlooked protocol to meet senior Indian officials and ensured the timing of their commercial flight was revised to accommodate the unscheduled meeting. Vietnam had asked India to transfer Brahmos cruise missiles and offer its small civil nuclear plants for selection.
India and Vietnam will cooperate in the training of Su-30 pilots (photo : Militaryphotos)

India would be comfortable with providing conversion training for Sukhois as it has completed a similar exercise with Malaysia, another South-East Asian country. Meeting the other three demands needed considerable deliberation, said the sources, as India was not keen to put a spanner in ties with China with which it is shortly slated to sign an agreement to douse tensions by taking care of eye-ball-to-eyeball confrontations between military patrols in certain pockets of the line of actual control (LAC).

In particular, India will have to think hard about Vietnam's request to transfer 1,000 to 1,500 tonne vessels to sanitise Vietnam's long coast line and upgrade the Nha Trang port, located near the critical Cam Ranh Bay, especially after the alleged warning by the Chinese navy to an Indian warship that had left this port after a visit in July.

India and Vietnam will cooperate in the training of Kilo submarine (photo : China Daily)

According to the report submitted by the Navy, INS Airavat left the place quickly after a caller, identifying himself as the “Chinese Navy,” warned that “you are entering Chinese waters.” The Navy has claimed that its men on the warship did not spot any aircraft or ship from where the call had come. It also claimed not to have worked out the coordinates from where the call originated. Indian diplomats said the incident was a “non-event.”

Diplomats here said India would have to factor in two factors — though it had the right to develop ties in its near neighbourhood, it should not be done in a manner that derailed ties with China, especially at a time when the Special Representatives on the border issue were due to meet and Beijing's support wasrequired for entry into the Nuclear Suppliers' Group.
(The Hindu

Jika Diserang, InsaVasi Nuklir Dimona Israel Akan Menjadi Target Terdekat


Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran urusan kebudayaan, Mayjen, Masoud Jazayeri, Rabu (9/11), menyinggung kemampuan Iran dalam menghadapi segala bentuk ancaman militer seraya mengatakan, "Jika fasilitas nuklir Iran terancam, maka fasilitas nuklir Dimona Israel, menjadi target yang paling mudah dicapai oleh Republik Islam."

Fars News melaporkan, hal itu dikemukakan Jazayeri dalam wawancaranya dengan televisi Alalam yang berbasis di Iran, ketika menjawab pertanyaan apakah Republik Islam Iran mampu menyerang fasilitas nuklir Israel di Dimona. Ditambahkannya, "Fasilitas nuklir tersebut merupakan target yang paling dekat yang dapat dicapai Iran dan kemampuan militer Republik Islam melebihi jangkauan tersebut."

Mengenai ancaman serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, Jazayeri mengatakan, "Jika terjadi, untungnya Republik Islam Iran yang memiliki pengalaman di masa lalu, tidak mungkin akan berdiam diri."

Ditegaskannya, "Kemampuan dan strategi pertahanan kami pasti akan membuat musuh seperti Amerika atau Israel akan menyesali aksi mereka."

IRIB

Armada perang Rusia kunjungi Kanada


Rabu, 9 November 2011 09:46 WIB | 1128 Views
Vladivostok (ANTARA News) - Dulu seteru, sekarang bersahabat.  Begitulah yang tersirat dari kunjungan persahabatan satu gugus tugas Armada Pasifik Rusia pimpinan kapal jelajah rudal Varyag ke Kanada yang tiba di pelabuhan Kanada, Vancouver.

Gugus tugas yang jugG termasuk kapal tanker Irkut dan satu kapal tunda penyelamat berlayar untuk tugas lawatan di Pasifik pada 20 September, kata juru bicara armada seperti dikutip RIA Novosti, Rabu.

Satuan tugas itu juga mengunjungi pelabuhan Maizuru di Jepang dan Kepulauan Mariana AS, dan mengambil bagian dalam latihan militer Elang Pasifik-2011 dengan Angkatan Laut AS.

Angkatan Laut Kerajaan Kanada dan otoritas Vancouver telah menyiapkan program budaya yang luas bagi para pelaut Rusia.

Pada 9-10 November, penduduk Vancouver akan dapat mengunjungi kapal penjelajah Varyag, kata Kapten Satu Roman Martov.

Gugus tugas akan meninggalkan Vancouver pada 11 November dan diperkirakan akan kembali ke pangkalan induknya di Vladivostok awal Desember nanti.

Varyag, andalan Armada Pasifik Rusia, adalah kapal penjelajak rudal kelas Slava yang dirancang sebagai kapal penyerang permukaan dengan beberapa rudal antiudara dan kemampuan ASW.

Enam belas SS-N-12 Sandbox berkemampuan nuklir supersonik rudal antikapal dipasang pada empat tempat di kedua sisi suprastruktur.

NATO menjuluki kapal perang Rusia sebagai "pembunuh kapal induk" karena mereka bisa meluncurkan 1.000 kilogram bahan peledak tinggi atau hulu ledak nuklir taktis untuk jangkauan 300 mil.


antara

Presiden inginkan jaminan keamanan KTT ASEAN

Rabu, 9 November 2011 11:05 WIB | 1118 Views
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (ANTARA)
Yang tegas saja, tidak ada tanda pengenal tidak masuk"
Nusa Dua (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan ada jaminan keamanan bagi para kepala negara dan pemerintahan dan anggota delegasi yang akan hadir dalam KTT ke-19 ASEAN dan KTT terkait di Bali.

"Lakukan security dan pengamanan yang baik," kata Presiden saat memimpin rapat koordinasi persiapan pelaksanaan KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali, Rabu pagi.

Menurut Kepala Negara, masalah keamanan adalah hal yang utama dan menjadi perhatian utama para penyelenggara forum multilateral lain, seperti G20 dan APEC.

Presiden memerintahkan polisi dan TNI untuk melakukan segala upaya guna menjamin keamanan lokasi KTT.

Yudhoyono juga meninjau lokasi KTT selama kunjungan kerja di Bali. Saat meninjau Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) dan Bali International Convention Center (BICC), Presiden juga menyinggung masalah keamanan.

"Pengamanan dalam KTT APEC, G20, dan KTT Asia Timur sangat ketat, apalagi sudah ada ancaman. Untuk itu, tempat ini harus sangat `steril," katanya.

Presiden meminta mekanisme penggunaan tanda pengenal dan kamera pengawas untuk diperketat.  "Yang tegas saja, tidak ada tanda pengenal tidak masuk, baik itu di BNDCC maupun di BICC. Jalan-jalan menuju ke tempat acara juga diamankan," kata Presiden.(*)
ANTARA

BERITA POLULER