Pages

Tuesday, October 18, 2011

Seoul Eyes Powerplant Options for KF-X



19 Oktober 2011

EJ200 is the powerplant for the Eurofighter Typhoon (photo : Eurofighter)
Seoul is tentatively exploring engine options for its proposed Korea Fighter Experimental (KF-X) programme, with the Eurojet consortiumputting forward its EJ200 powerplant.

According to industry sources at the Seoul air show, the South Korean Defense Acquisition Program Administration has issued requests for information to Eurojet for its EJ200 and to General Electric for its F414.
 
KFX/IFX/F-33 STEALTH
"We are offering the EJ200 as it is for KF-X, and would allow them to manufacture 60% of the engine," said Eurojet vice-president sales Paul Herrmann.

"This would involve 60% technology transfer, and help make them self-sustaining."

He added that it was up to Seoul to decide what 60% of the engine it would produce locally, adding that it seems particularly interested in full authority digital engine control technology.

The EJ200 is the powerplant for the Eurofighter Typhoon (above), a contender in South Korea's F-X III competition for 60 fighters. Herrmann stressed that the EJ200 offer for KF-X is not associated with Eurofighter's F-X III campaign. The F414 powers the Boeing F/A-18E/F Super Hornet.

Though the KF-X is likely to require 50,000lb (220kN) of thrust, Seoul has yet to decide if this will be achieved with two engines of the EJ200 and F414 size, or with a single larger engine such as the Pratt & Whitney F135, which powers the Lockheed Martin F-35.

P&W has not received an RFI in relation to KF-X, but said it would be willing to explore the possibility if approached. P&W is the dominant powerplant supplier for the Republic of Korea Air Force, with its F100 engines powering the 21 Boeing F-15Ks obtained under the F-X II competition, as well as the service's fleet of Lockheed KF-16s.

The KF-X is intended as an F-16 replacement. Although Seoul has been interested in the programme for some time, it was only in July that Korea Aerospace Industries and the government signed a contract to develop the aircraft. Indonesia is also part of the programme, with the two governments opening a combined research and development centre in August.

On 14 July, Indonesia's Antara official news agency said Jakarta would participate in the programme, contributing 20% of the development costs. The two partners have agreed to produce 150 to 200 units, of which Indonesia would get 50.

Industry sources have said Washington is highly dubious about the KF-X programme. It may be wary of providing advanced technologies for an aircraft that is being co-produced with Indonesia, a country that has been subject to US arms sanctions in the past.

Speaking on condition of anonymity, a US government official has also said KF-X will place a tremendous strain on South Korea's research capabilities and defence budget, resulting in a fighter less effective than others available in the international market.

Kepala BIN : Tugas Baru Intelijen Ekonomi



JAKARTA - Letnan Jenderal TNI Marciano Norman, yang resmi dinyatakan Presiden Susilo Yudhoyono menjadi kepala Badan Intelijen Negara, diberi tugas pula menangani intelijen ekonomi. BIN bertanggung jawab utama mengamankan negara dengan menyediakan data dan analisis intelijen yang mumpuni.

Hal ini menjadi penekanan dalam pengumuman resmi Yudhoyono kepada pers di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/10) malam. Ekonomi Indonesia yang sedang menggeliat dan menjadi salah satu perhatian dunia dan kawasan perlu diamankan secara khusus.

Aktivitas perdagangan dan perekonomian serta perbankan nasional yang sedang aktif bertumbuh terkait dengan kepentingan politik kawasan dan global. Sudah sering diketahui tiap negara "saling intip" kemajuan perekonomian yang terjadi pada negara lain, termasuk kepada Indonesia. Dengan kewenangan dan pranata yang dimilikinya, BIN mengoordinasikan instansi-instansi intelijen yang ada di Indonesia.

Norman, alumnus Akademi Militer pada 1978 dari korps kaveleri, merupakan perwira tinggi yang dipercaya Kepala Pemerintah menggantikan Jenderal Polisi (Purnawirawan) Sutanto di pos pimpinan puncak BIN itu. Saat ini Norman adalah Komandan Komando Pendidikan dan Latihan TNI-AD, setelah sebelumnya menjadi Panglima Kodam Jaya, dan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Markas Besar TNI.

Sumber : ANTARA

Operasi Pengamanan Laut Bali Jelang KTT Asean


Operasi Pengamanan Laut Bali Jelang KTT Asean

DENPASAR - Beberapa prajurit TNI AL bersiaga di atas KRI Ki Hajar Dewantara-364 saat melanjutkan operasi pengamanan laut Bali di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Selasa (18/10). Menjelang berlangsungnya berbagai konferensi internasional terutama KTT ASEAN di Bali, pengawasan wilayah perairan Pulau Dewata terus diperketat dan TNI AL rencananya menyiagakan 3 kapal perang serta sekitar 600 personel untuk pengamanan kegiatan itu. FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana/Koz/pd/11.




Simbol Teknologi Tinggi Itu Kembali Menggeliat


NC-295 AIR BUS MILITARY

INDUSTRI produk kedirgantaraan kebanggaan bangsa,  PT Dirgantara Indonesia (PT DI) saat ini sudah memasuki tahun ke 36.Langkah sejarah perusahaan strategis ini mengalami fase yang membanggakan sekaligus mengharukan pada saat memulai produksi pesawat komersial N250 turboprop berkapasitas 50-70 penumpang dan mengembangkan jet N2130 berkapasitas 100-130 penumpang.  Pada saat yang sama, ’’ultimatum’’ IMF pada saat krisis finansial (tahun 1998) memaksa industri kedirgantaraan kita bertekuk lutut pada donatur berwajah kapitalis.

Sekadar catatan, pesawat penumpang N250, yang dijuluki Gatot Kaca, terbang perdana pada 10 Agustus 1995, dan tanggal ini dijadikan sebagai Hari Teknologi Nasional.
Cerita pendirian Nurtanio diawali dengan kedatangan BJ Habibie bersama 17 insinyur dari Jerman dengan restu Dirut Pertamina dan panggilan pulang Presiden Soeharto tahun 1975 untuk bekerja di ATP (Advance Technology Pertamina).  Sementara itu, di Bandung sudah ada Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio.  Atas restu Pak Harto, Habibie diperkenankan membuat industri pesawat terbang berskala internasional, lalu ATP dan Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio digabung dan diresmikan 23 Agustus 1976.
Dalam langkah perjalanannya, Nurtanio kemudian berganti baju menjadi PT IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) tahun 1986, kemudian ganti baju lagi menjadi PT DI (Dirgantara Indonesia) tahun 2000. 

Pada saat ganti baju yang terakhir itu, perseroan ini sedang mengalami goncangan hebat sebagai akibat ultimatum IMF tadi. Tidak ada kucuran dana segar dari pemerintah. Lalu tahun 2003 PT DI melakukan PHK massal kepada ribuan karyawannya.  Tercatat waktu itu ada 16 ribu karyawan dikurangi menjadi  hanya 4000 karyawan saja.

Kebangkitan

Tanggal 4 Oktober 2011 adalah penanda kebangkitan yang signifikan bagi sebuah industri teknologi tinggi PT DI, karena sahabat lamanya, CASA Spanyol, melalui bendera Airbus Military yang dimiliki European Aeronautic Defense and Space (EADS) melakukan ’’pernikahan kembali’’ dengan memproduksi bersama pembuatan pesawat angkut militer NC 295.
’’Pernikahan pertama’’ adalah kerja sama dalam memproduksi CN235. Kerja sama dengan Airbus Military ini akan memproduksi minimal sembilan pesawat angkut militer berkapasitas 71 pasukan atau 49 penerjun payung. Diproduksi secara paralel, enam di antaranya dibuat di pabrik pesawat terbang milik Airbus Military di San Pablo Spanyol, dan tiga unit lagi diproduksi di Bandung.

Sangat terbuka kemungkinan PT DI memproduksi lebih banyak NC295 untuk pasar Asia Pasifik.
Pesawat NC295 merupakan pengembangan dari CN235, punya kesanggupan membawa beban 9,2 ton sehingga masuk kategori medium military lift, badannya diperpanjang 3 meter, sementara sayapnya tetap sama dan diperkuat dengan mesin PW127G turboprop buatan Pratt &Withney. Kekuatannya satu setengah kali CN235.
Data CASA menunjukkan, NC295 lebih irit bahan bakar dan perawatan dan sanggup terbang dengan daya jelajah 5.300 km dengan kapasitas bahan bakar 4,5 ton.
Kemhan memesan sembilan unit pesawat jenis ini untuk memperkuat skuadron angkut sedang dalam mobilitas rotasi pasukan dan penanggulangan bencana alam.
Pesanan Kemhan ini membuat PT DI menggeliat dan bergairah, setelah sebelumnya tanggal 26 Mei 2011 melalui program penyertaan modal negara (PMN) dengan persetujuan Komisi VI DPR, perusahaan ini digelontor dana konversi sebesar Rp 3,8 triliun untuk memperbaiki posisi neraca keuangan.  Rincian PMN itu adalah 1,42 triliun untuk konversi utang dan 2,38 triliun untuk penyertaan modal sementara. 

Suntikan dana ini mampu menyegarkan wajah permodalan perseroan dari sebelumnya defisit 707 miliar rupiah menjadi plus 617 miliar.
Bulan Mei 2011, PT DI berhasil melakukan pengiriman pesawat produksinya CN235 jenis angkut militer VIP ke Senegal dengan nilai kontrak 13 juta dolar AS. Pesawat ini merupakan modifikasi dari CN 235 milik Merpati. Modifikasi yang dilakukan adalah dengan mengubahnya menjadi tipe pesawat militer, menganti mesin untuk menambah daya angkut dan penambahan sistem auto pilot TCAS.
Ini adalah ekspor pertama sejak tahun 2008, di mana selama itu PT DI tidak mampu melakukan ekspor pesawat produksinya meskipun yang diekspor itu pesawat second yang diperbarui.

Setelah ekspor ke Senegal, PT DI juga kembali mengirimkan dua CN235 tipe patroli maritim yang dipesan angkatan laut Korea Selatan.  Korea Selatan memesan empat unit CN 235 patroli maritim yang dilengkapi dengan alat pendeteksi kapal, migrasi ikan, polusi tumpahan minyak dengan nilai kontrak  94 juta dolar AS. Semuanya akan diselesaikan tahun ini.
 Khusus dengan Korsel, PT DI ke depan diprediksi akan mendapat tambahan order CN 235 atau NC295 dalam jumlah banyak sehubungan dengan adanya kerja sama pertahanan yang erat antara RI dan Korsel.  RI banyak memesan alutsista dari Korsel, antara lain 16 jet latih tempur T50 Golden Eagle, pengadaan 3 kapal selam kelas Changbogo, upgrade dua kapal selam dan lain-lain.
Selama ini, negeri ginseng itu sudah mengunakan 15 unit pesawat CN 235 buatan PT DI untuk keperluan operasi militernya



sumber : SUARA MERDEKA

PT. DIRGANTARA INDONESIA KEBANJIRAN ORDER


 
KFX/IFX/F-33 STEALTH
PT DI saat ini sedang disibukkan dengan penyelesaian berbagai order alutsista udara untuk TNI, yaitu pembuatan tiga pesawat CN235 patroli maritim untuk TNI AL dan penyelesaian helikopter NAS-332 Super Puma untuk TNI AU.  TNI AU juga memesan 1 unit CN235 MPA untuk skuadron intainya. Tak ketinggalan, TNI AD sebagai pelanggan tetap PT DI memesan delapan unit helikopter jenis Bell 412 EP tipe serbu dan 8 unit dari tipe angkut, kemudian helikopter jenis Fennec AS-550  sebanyak 8 unit.

Masih banyak paket-paket alutsista yang diorder oleh TNI, misalnya pembuatan SUT Torpedo tipe 364 MKO untuk kapal selam TNI AL dan paket simulator terjun payung untuk TNI AD.  Dari semua rangkaian order itu, diprediksi sampai tahun 2014, PT DI akan mendapat peluang pendapatan sebesar Rp 9,23 triliun, sebuah angka yang mampu memberikan nilai geliat bagi industri kedirgantaraan dalam negeri.

Ini semua tidak terlepas dari kebijakan pemerintah bersama DPR dalam program pengadaan alutsista TNI yang menggelontorkan dana 100 triliun rupiah dengan opsi tambahan 50 triliun selama periode 2010-2014, dengan menggandeng industri strategis pertahanan dalam negeri.  Selain PT DI, PAL dan Pindad juga mendapat order luar biasa dalam pengadaan alutsista TNI. 

PAL mendapat order pembuatan puluhan kapal cepat rudal, kapal landing ship tank, kapal LPD, integrasi sistem tempur KRI dan kerja sama pembuatan kapal selam dengan Korsel.
Pindad mendapat pesanan ribuan senjata SS2, ribuan roket R-Han, ratusan panser Anoa, kerja sama produksi panser Canon Tarantula dengan Korsel  dan Panser FNSS dengan Turki.
Untuk diketahui, selama 36 tahun masa kehadirannya, PT DI telah memproduksi lebih dari 300 pesawat terbang dan helikopter berbagai jenis, seperti NC-212, CN235, NBO105, NBELL 412, NAS332.  Juga mampu memproduksi 60 ribu unit roket dan 160 unit torpedo, 13 ribu unit komponen pesawat terbang F16, Boeing, dan Airbus.
Sejalan dengan itu, PT DI mampu melakukan penguasaan teknologi pabrikasi CASA, Boeing Company, Fokker dan Bell Helicopter, termasuk product support, maintenance dan overhaul. Dalam jaminan kualitas, sudah diakui oleh General Dynamic dengan persyaratan US Military Specification MIL-1-45208A, Bae, Lockhead, Boeing Company, Daimler Benz Aerospace dan DGAC.

Geliat gairah PT DI sebagai simbol teknologi tinggi yang dimiliki republik ini merupakan momentum kebangkitan kembali industri kerdigantaraan kita.  Apalagi saat ini sudah ada kerja sama pengembangan proyek jet tempur KFX/IFX bersama Korsel, di mana  Indonesia mendapat bagian 50 unit jet tempur generasi 4,5 dan PT DI akan menjadi produsen dan pemasar jet tempur dengan kualitas di atas F16 mulai tahun 2020.
Simbol teknologi tinggi bangsa ini kembali bersinar terang, membanggakan dan memberi harapan pada generasi penerus bangsa



sumber SUARA MERDEKA

Kapal Bersayap Hasil Riset BPPT Dipesan




Belibis NA-5 berkapasitas 8 penumpang

Jakarta, Kompas - Hasil riset rancang bangun Kapal Bersayap WiSE-8, sarana transportasi air antarpulau yang mampu terbang dengan ketinggian khusus 1-3 meter di atas permukaan air oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT, dipesan investor. Hal ini bagian dari Program Pendamping Entrepreneurship atas prakarsa Ciputra—penerima gelar Perekayasa Utama Kehormatan BPPT.

”Prototipe Kapal Bersayap WiSE-8 (Wing in Surface Effect-8) yang sudah diuji berkapasitas delapan tempat duduk. Sementara pesanan investor itu 22 tempat duduk,” kata Pelaksana Tugas Kepala BPPT Wahono Sumaryono, Jumat (7/11) di Jakarta.

Wahono mengatakan, keterbatasan tempat duduk pada Kapal Bersayap WiSE-8 hanya karena persoalan efisiensi dana riset. ”Saat ini masih dibahas mengenai kebutuhan investasi untuk mengembangkan kapal bersayap dengan 22 tempat duduk. Investor itu bersedia mendanainya,” kata Wahono, yang memprediksikan riset pengembangannya dapat diselesaikan dalam setahun.

Efek pemampatan

Kapal Bersayap WiSE menggunakan teknologi pemanfaatan efek pemampatan udara permukaan yang terjadi pada obyek yang terbang rendah. Kecepatan terbang Kapal Bersayap WiSE-8 maksimal 80 knot atau berkisar 144 kilometer per jam, dan tidak butuh landasan terbang di darat.


Belibis NA-6, diperuntukkan bagi kebutuhan militer.

Pada Oktober 2007, Kapal Bersayap WiSE-8 model Belibis NA-5 dan NA-6 berhasil diujiterbangkan di Waduk Jatiluhur, Jabar.

Secara terpisah, Ciputra mengemukakan, komitmen memesan Kapal Bersayap itu hasil pertemuan para pengusaha dengan BPPT di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (6/11). Pada pertemuan itu hadir sekitar 20 anggota Ernst & Young Entrepreneur of The Year Academy Indonesia Chapter.(NAW)

Sumber : KOMPAS

BERITA POLULER