Pages

Sunday, October 16, 2011

Korpaskhas AU Berusia 64 Tahun : Canon Oerlicon Kaliber 35 MM, radar dan rudal jarak pendek Cyron, QW-3 akan memperkuat korp tsb.


 Canon Oerlicon Kaliber 35 MM buatan swiss
SOREANG, (PRLM).- Memasuki usia 64 tahun Senin (17/10) Baret Jingga Korps Pasukan Khas Angkayan Udata (Korpaskhas) diharapkan menjadi satuan tempur yang kian eksis dalam mendukung tugas pokok TNI Angkatan Udara. Apalagi TNI terus memodernisasi alat utama sistem pertahanan (Alutsista) sehingga menjadi tantangan bagi prajurit Baret Jingga.
“Korpaskhas merupakan garda depan TNI AU yang bertugas membina empat kemampuan yaitu tempu_ darat, pertahanan udara (Hanud) Titik, matra udara dan satuan khusus,” kata Komandan Korpaskhas, Marsma TNI Amarullah, di ruang kerjanya, Minggu (16/10).
Lebih jauh Amarullah mengatakan, Korpaskhas lahir pada 17 Oktober 1947 ditandai dengan peristiwa heroik penerjunan 13 pasukan di Sambi Kotawaringin Barat, Kalimatan Tengah.
“Penerjunan dimaksudkan untuk mengobarkan semangat perjuangan rakyat daerah tersebut dalam mengusir penjajah yang masih bercokol di bumi Kalimatan,” katanya.
Satuan yang dulu dikenal dengan Pasukan Gerak Tjepat (PGT/Kopasgat) telah ikut berkiprah dalam berbagai pengabdian kepada bangsa dan negara. “Pada tahun 1985 Kopasgat) berubah menjadi Pusat Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Puspaskhasau). Ditahun 1997 Puspaskhasau ditingkatkan dari Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) menjadi Komando Utama Pembinaan    (Kotamabin) sehingga sebutannya menjadi Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) Angkatan Udara,” ujarnya.
Untuk pengembangan Alutsista, kata Amarullah, Korpaskhas sudah mendapatkan persenjataan QW-3 yang terus dimantapkan melalui latihan-latihan pengoperasiannya. “Dengan akan datangnya senjata penangkis udara Canon Oerlicon Kaliber 35 MM yang dilengkapi dengan radar dan rudal jarak pendek Cyron. Diharapkan pada akhir tahun 2012 mendatang Alutsista tersebut sudah menambah kekuatan,” katanya. (A-71/A-26).***

sumber : PIKIRAN RAKYAT

Friday, October 14, 2011

Menhan Menerima Kunjungan Dubes Swedia


Jakarta, DMC – Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro  didampingi Sekjen Kemhan, Marsdya TNI Eris Herryanto menerima Dubes Swedia untuk Indonesia Mrs Ewa Polano bersama Delegasi Perusahaan Kedirgantaraan dan Pertahanan Swedia, (SAAB), Kamis (13/10) di Kantor Kemhan, Jakarta.

Maksud  kunjungan Duta Besar Swedia ini adalah membahas peluang kerjasama di bidang pertahanan kedua negara khususnya Alutsista jenis Pesawat Tempur. Turut juga mendampingi Menhan saat menerima Dubes Swedia, Direktur Teknologi dan Industri Ditjen Pothan Kemhan Brigjen TNI Agus Suyarso dan Kapuskom Publik Brigjen TNI Hartind Asrin.(MAW/SR)

SUMBER DMC/KEMHAN

KSAD: Event Lomba Tembak Ajang Komunikasi


 
/ www.aarm21indonesia.com
Jurnas.com | LOMBA tembak ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-21 resmi dibuka Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal TNI Budiman di Markas Divisi Infantri I/Kostrad Cilodong, Jawa Barat, Jumat (14/10).

Dalam sambutan tertulisnya, KSAD Jenderal TNI Pramono Edhi Wibowo berharap, agar event lomba tembak ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang komunikasi dan interaksi, sehingga dapat meningkatkan saling pengertian dan kesepahaman antarprajurit Angkatan Darat ASEAN. "Kehadiran kontingen dari Angkatan Darat ASEAN di Markas Divif I/Kostrad ini merupakan kebanggan dan kehormatan bagi segenap prajurit TNI Angkatan Darat," kata Pramono.

Menurut Pramono, sebagai prajurit yang berada pada satu kawasan yang sama, Asia Tenggara, keberadaan secara bersama-sama di tempat ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan persahabatan dan persaudaraan di antara prajurit. "Melalui event ini diharapkan para peserta lomba dapat meraih prestasi terbaiknya dengan senantiasa menjunjung tinggi sportivitas guna meraih prestasi terbaik, dengan tetap dilandasi semangat kebersamaan dan persaudaraan ASEAN," ujarnya.

Event AARM ke-21 ini dilaksanakan setiap tahun dan diikuti oleh Angkatan Darat dari negara-negara anggota ASEAN dengn tempat bergiliran. Tahun ini TNI AD bertindak sebagai tuan rumah.

Lomba tembak AARM ke-21 ini dilaksanakan di lapangan tembak Kartika Cilodong selama 14 hari, dari 14 Oktober hingga 27 Oktober dan diikuti sebanyak 470 atlet petembak Angkatan Darat dari 10 negara ASEAN.

Ada enam cabang yang dipertandingkan, yakni cabang Pistol Putra dan Putri, Senapan, Senjata Otomatis, Karaben, dan Novelty Shoot. Cabang Novelty Shoot ini khusus dilombakan antara Pimpinan Angkatan Darat negara-negara ASEAN.

Lomba tembak AARM ke-21 ini memperebutkan 117 tropi, terdiri atas 15 tropi bergilir, 47 tropi lomba, dan 55 tropi Novelty Shoot, dan memperebutkan 389 medali emas, perak, dan perunggu. Pada 2010, AARM dilaksanakan di Malaysia dan TNI AD berhasil meraih juara umum.

ANTARA

Lomba Tembak AARM Ke-21 Resmi Dibuka


 
Oscar Ferri / PT. Media Nusa Pradana
Jurnas.com | LOMBA Tembak ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-21 resmi dibuka. Event ini dibuka langsung oleh Wakil KASAD Letnan Jenderal Budiman. "Semoga kegiatan AARM ini bisa mempererat silatuhrahmi TNI AD antarnegara ASEAN. Saya berharap, event lomba tembak ini bisa terjalin saling pengertian, kerja sama antar Angkatan Darat negara-negara ASEAN," kata KSAD Jenderal Pramono Edhi Wibowo, dalam sambutan yang dibacakan Wakil KSAD Letjen TNI Budiman, di Madivif-I/Kostrad Cilodong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (14/10).

Pantauan Jurnal Nasional, kontingen dari semua negara anggota ASEAN berkumpul dan berbaris di lapangan untuk mengikuti upacara pembukaan sekitar pukul 08.30 WIB. Budiman sendiri bertindak sebagai Inspektur upacara.

Event AARM ke-21 ini dilaksanakan setiap tahun dan diikuti oleh Angkatan Darat dari negara-negara anggota ASEAN dengan tempat bergiliran. Tahun ini TNI AD bertindak sebagai tuan rumah.

Adapun event AARM ke-21 ini dilaksanakan di Lapangan Tembak Kartika, Cilodong dari 14 Oktober hingga 27 Oktober. Jenis lomba antara lain tembak senapan, karaben, pistol putra/putri dan senjata automatis.

JURNAS

Tentara Singapura pun kagum pada SPR-2


Jumat, 14 Oktober 2011 14:11 WIB | 517 Views
Senapan tembak tepat SPR dibuat PT Pindad (Persero) dalam tiga versi. Unggulan berkaliber 12,7 milimeter dalam magasen berkapasitas lima peluru, baja setebal tiga milimeter bisa dia jebol dari jarak 900 meter. Tingkat perkenaan, dalam rangkaian pengujian, diakui mumpuni namun masih memerlukan teater laga yang sesungguhnya. (istimewa)
... Good...
Depok (ANTARA News) - "Good....," kata salah seorang petembak kontingen Angkatan Darat Singapura, sambil terus memandangi dan melihat detail fitur senapan runduk anti material versi SPR-2, yang dipajang di stand PT Pindad di sela-sela kejuaraan tembak AARM ke-21, di Depok, Jawa Barat.

Tentara dari Singapura itu satu dari 10 kontingen angkatan darat negara-negara ASEAN yang berkumpul untuk adu tangkas, tepat, dan trengginas dalam pemakaian senapan ringan dan semi otomatik. Nama gelaran itu adalah ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) yang bertempat di Markas Komando Divisi I Kostrad, yang berlangsung mulai hari ini.

Good memang bukan excellent atau outstanding, tapi ucapan dari tentara Singapura itu semoga bukan basa-basi karena negara kecil itu juga punya senapan serbu perorangan dan senapan tembak tepat buatan industri sendiri. Sebutlah SAR-80 dan generasi terakhirnya, SAR-21.

Yang terakhir ini bahkan diakui kualitas dan akurasi serta endurabilitasnya oleh banyak militer dunia. Sama-sama kaliber 5,6 milimeter kali 45, namun bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengangkat topi atas kinerja senapan serbu berkonsep bullpup itu.

Sambil melihat detail fitur senapan SPR-2, sebagian besar petembak angkatan darat dari sepuluh negara ASEAN yang berkunjung ke stand PT Pindad, juga berpose layaknya penembak runduk menggunakan SPR-2 sambil meminta salah seorang rekannya mengabadikan posenya lewat kamera.

"Jangan lupa nanti fotonya dikirim via email yaa...," ujar salah seorang anggota kontingen Angkatan Darat Brunei Darussalam.

Diding Sumardi dari Divisi Senjata PT Pindad mengemukakan pihaknya baru membuat lima prototipe dari SPR-2, namun sudah membuat sejumlah amunisi untuk senapan runduk dengan amunisi berkaliber 12,7 x 99 mm itu.

"Kami telah bandingkan dengan sejumlah senapan runduk yang selama ini digunakan TNI baik Kopassus, Kopaska maupun Paskhas. Kita bandingkan agar senapan yang kami hasilkan ini dapat menjadi produk unggulan," katanya.

Diding mengatakan SPR-2 memiliki kapasitas megasen lima butir dengan panjang keseluruhan 1.550 mm, berat 16 kilogram, dan jarak tembak efektif 2.000 meter.

PT Pindad mempunyai tiga produk Senapan Penembak Runduk (SPR) atau senapan sniper anti material tank yang berkualitas dunia. SPR produksi PT Pindad ada tiga varian, SPR-1, SPR-2 dan SPR-3. Senapan tersebut dapat menembus baja yang tebalnya tiga sentimeter dari jarak 900 meter.

"SPR 1 didesain menggunakan munisi kaliber 7,62 mm dengan jarak efektif 900 m," kata Diding.

Selain senapan runduk, dalam kegiatan lomba tembak angkatan darat ASEAN itu juga ditampilkan berbagai produk PT Pindad termasuk Senapan Serbu (SS) berbagai varian, senapan SM2-V1 dan miniatur kendaraan taktis, kendaraan tempur seperti panser ANOA 6x6. (R018) 


ANTARA

Varian F-35B Kemungkinan Besar Dibatalkan



jsf.milPesawat F-35B sedang melakukan uji coba pendaratan secara vertikal.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com- 
Program pengembangan pesawat tempur berteknologi siluman, F-35 atau Joint Strike Fighter (JSF), kembali menghadapi masalah. Salah satu varian pesawat itu, yakni F-35B, kemungkinan besar akan batal diproduksi sebagai dampak pemotongan anggaran besar-besaran di Pentagon.
Demikian diungkapkan Ketua Gabungan Kepala Staf AS yang baru, Jenderal Martin Dempsey, Kamis (13/10/2011). Di hadapan para wakil rakyat AS di Kongres, Dempsey mengaku ragu apakah dengan pengetatan anggaran yang disetujui Kongres baru-baru ini, pihak Departemen Pertahanan AS masih bisa mengembangkan tiga varian F-35.
"Saya khawatir dengan (nasib) tiga varian itu dan apakah kita bisa terus maju (dengan rencana semula) dalam kondisi fiskal seperti ini, apakah kita bisa membiayai semuanya," kata Dempsey kepada Komite Angkatan Bersenjata DPR AS.
Menurut rencana awal, program JSF akan mengembangkan tiga varian pesawat F-35, yakni F-35A yang lepas landas dan mendarat di lapangan udara konvensional dan dirancang untuk menggantikan armada pesawat tempur F-16 milik Angkatan Udara AS (USAF).
Varian kedua adalah F-35B, yang mampu tinggal landas dari landasan pendek dan mendarat secara vertikal (short take-off and vertical landing/STOVL). Varian ini dirancang untuk menggantikan armada pesawat Harrier milik Korps Marinir AS (USMC).
Varian ketiga adalah F-35C, yang memiliki kemampuan mendarat dan tinggal landas dari geladak kapal induk. F-35C dirancang untuk menggantikan peranan F/A-18 Hornet milik Angkatan Laut AS (US Navy).
Saat ini Dempsey mengaku sedang meminta masukan dari berbagai pihak, termasuk Komandan USMC Jenderal James Amos, salah satu pembela utama program F-35B.
Dalam kesepakatan pengurangan defisit anggaran AS beberapa bulan lalu, Pentagon mendapat "jatah" pengurangan anggaran sebesar 450 miliar dollar AS (hampir Rp 4 kuadriliun) dalam waktu sepuluh tahun mendatang. Program JSF, yang telah berlarut-larut selama bertahun-tahun dan anggarannya terus membengkak, menjadi sasaran utama pemotongan anggaran ini.
Program pembuatan pesawat oleh pabrikan Lockheed Martin ini menjadi program pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista) termahal dalam sejarah Pentagon. Varian yang paling menjadi sorotan adalah F-35B, karena harus melibatkan teknologi yang lebih rumit dibanding dua varian lainnya.
Inggris, salah satu negara yang terlibat dalam JSF dan berpengalaman membuat pesawat Harrier, sudah membatalkan rencana pembelian F-35B dan lebih memilih membeli F-35C.
Mantan Menteri Pertahanan AS Robert Gates menempatkan program F-35B dalam "masa percobaan" sejak Januari lalu, setelah varian pesawat itu mengalami serangkaian masalah teknis. Gates mengatakan, jika dalam waktu dua tahun masalah-masalah itu tak teratasi, rencana produksi pesawat itu akan dibatalkan.
Dengan makin membengkaknya biaya pengembangan JSF, para pejabat pertahanan AS berjuang keras mengendalikan harga jual pesawat-pesawat F-35. Menurut Pentagon, dalam waktu sepuluh tahun terakhir, biaya pembuatan per pesawat sudah membengkak dua kali lipat.
Biaya pengembangan keseluruhan sudah melonjak menjadi 385 miliar dollar AS dan harga satuannya menjadi 103 juta dollar AS dalam standar nilai tukar tetap, atau 113 juta dollar AS (sekitar Rp 1 triliun) per pesawat dengan menggunakan nilai uang dollar AS tahun 2011 ini.
KOMPAS

Thursday, October 13, 2011

Penggunaan SUMPIT oleh Yonif Raider



Penggunaan SUMPIT oleh Yonif Raider


Raider Bersumpit

“Senjata sumpit ini memang hebat dan tidak kalah dengan senjata api, pistol ataupun senapan. Oleh karenanya, satuan ini menjadi tertarik mengadopsinya menjadi salah satu peralatan tempur prajurit dan mengkombinasikannya dengan senjata organik militer mereka, Untuk dipergunakan bagi kepentingan tugas.”
Sebagai satuan tempur yang memang dalam kehidupan kesehariannya bergaul dengan senjata mematikan untuk membunuh musuh, maka Yonif 600/Raider yang bermarkas di Kalimantan ini terinspirasi oleh senjata yang biasa dipergunakan oleh Suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Senjata Sumpit yang biasa diguakan oleh Suku Dayak ini untuk berburu binatang, dengan menggunakan anak sumpil yang ujungnya diberi racun dari ramuan getah tumbuh-tumbuhan dan bisa binatang buas, dapat menimbulkan efek kematian yang relatif singkat pada sasaran yang disumpitnya.

Realisasinya, pada Pebruari 2003 satuan ini membentuk “Tim Sumpit”, yang
personelnya diambil dari para prajurit batalyon keturunan asli Dayak. Sebulan kemudian,Yonif 600/Raider mendatangkan pelatih dari tokoh Dayak Pedalaman yang terkenal dengan sumpit beracunnya untuk melatih 25 orang prajurit tentang cara penggunaan sumpit dan pembuatan racun yang dipakai untuk anak sumpit.
Memang, sebelum masuk menjadi tentara, kedelapan puluh lima orang prajurit itu sudah terbiasa menggunakan sumpit dalam kehidupan sehari-harinya untuk berburu hewan di hutan. Namun didalam penggunaan ramuan yang dipakai untuk anak sumpit berbeda-beda, karena mereka berasal dari bermacam-macam Suku Dayak. Agar terdapat kesamaan dalam penggunaan ramuan racun anak sumpit, yang menghasilkan racun yang sangat bagus, mematikan dan ccpat rcaksinya, makamercka dibimbing sclama tiga bulan oleh para tokoh Suku Dayak pedalaman Kalimantan itu. Selain itu, mereka juga mendapat pelatihan tentang bagaimana cara membawa dan teknik menggunakan senjata sumpit di medan pertempuran, mengingat mereka juga harus tetap membawa perlengkapan perorangan, termasuk ransel dan sejata api.

Setelah latihan selesai, lalu keduapuluhlima orang prajurit itu disebar kekompi-kompi dan pada setiap seminggu sekali mereka memberikan pelatihan kepada rekan-rekannya yang lain, agar seluruh anggola Yonif 600/ Raider mampu menggunakan sumpit.
Inisiatif dan upaya keras untuk menjadikan Sumpit sebagai senjata prajurit ini ternyata tidaklah sia-sia. Terbukti saat Yonif 600/ Raider bertugas ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 2004¬2005, personel Tim Sumpit yang disebar ke dalam tiap-tiap tim, dengan pembagian di setiap tim terdapat tiga hingga empat orang prajurit berkemampuan menggunakan senjata Sumpit, berhasil membunuh empat orang. pemberontak GAM, sekaligus menyila empat pucuk senjata AK-47 yang mereka pakai.
Ceritanya, pada Pebruari 2004 saat “Tim Anas-1 Kipan A Yonif 600/Raider yang dipirnpin Lettu Inf Mulyadi melaksanakan penyergapan di Kampung Blang Sukun, Pidie. Ketika itu, tim dibagi menjadi empat kelompok, salah sulu tim dipimpin Oleh Kopda Impung Upai, salah satu personel “Tim Sumpit, yang jabatan sehari-harinya di satuan adalah sebagai Tamtama Penembak SMR (Senapan Mesin Ringan). Sebelum kelompok lain masuk kedudukan, Kelompok-4 yang dipinpin Kopda Impung Upai, putra asli Dayak kelahiran Datah Bilang, Tenggarong 6 .luli 1977  ini adalah kelompok yang pertama kali masuk kedudukan. Saat akan masuk, terlihat satu orang pos tinjau GAM lengkap dengan senjata AK 47 sedang berjaga-jaga. Agar gerakan tetap rahasia dan kehadiran pasukan tidak diketahui musuh, Kopda Impung Upai lalu melumpuhkan pos tinjau tersebut dengan menggunakan sumpit. Anak sumpit tepat mengenai leher bagian belakang anggota GAM itu. Tidak lebih dari 10 detik, orang itu roboh dengan tidak menimbulkan suara berisik . Senjata lain mereka ambil. Dengan tewasnya pos tinjau GAM tersebut, kelompok lain dari pasukan Yonif 600/Raider dapat masuk kedudukan dengan aman tanpa diketahui GAM dan penyergapanpun dapat dilaksanakan dengan sukses tanpa ada korban dari pihak kawan.
Raider menggunakan sumpit sebagai senjata mematikan untuk menghadapi musuh di dalam penugasan inilah, yang merupakan ciri khas Yonif 600/Raider dan membedakan satuan kami dengan satuan raider lainnya di Indonesia” Danyonif 600/Raider letkol Inf R. Haryono. Penggunaan sumpit memang sangat cocok untuk pasukan raider, yang salah satu semboyannya adalah “senyap dalam bergerak”. Selain untuk menjaga kerahasiaan gerak pasukan,juga untuk “bunuh senyap”. Keberadaan senjata sumpit terasa tepat menggantikan fungsi senjata berperedam, yang Iebih diperuntukkan bagi aksi pertempuran kota atau Pertempuran .larak Dekat (PJD) dan tidak dipergunakan untuk medan-medan penugasan berupa hutan.
Dengan mempelajari kesuksesan penggunaan sumpit di medan tugas, maka sampai sekarang Yonif 600/Raider tetap memelihara kemampuan personelnya dalam menggunakan sumpit dan menjadikan penggunaan sumpit sebagai kualipikasi seluruh personel Yonif 600/Raider, sekaligus melakukan regenerasi personel Tim Sumpit dengan merekrut para prajuril batalyon yang berasal dari etnis Dayak. Suku Dayak mengenal berbagai macam senjata yang biasa digunakan untuk berburu dan berperang pada zaman dahulu atau untuk kegunaan sehari-hari, seperti di ladang. Misalnya sumpitan (sipet), mandau, lonjo (tombak), perisai (telawang), dan taji.
Senjata sumpit berupa buluh dari batang kayu bulat sepanjang 1,9 meter hingga 2,1 meter. Sumpit harus terbuat dari kayu keras seperti kayu ulin, tampang, lanan, berangbungkan, rasak, atau kayu plepek. Diameter sumpit dua hingga tiga sentimeter yang berlubang di bagian tengahnya, dengan diameter lubang sekitar satu sentimeter. Lubang ini untuk memasukkan anak sumpit atau damek. Secara tradisional, kalau ingin tepat sasaran dan kuat bernapas, panjang sumpit harus sesuai dengan tinggi badan orang yang menggunakannya, Bagian yang paling penting dari sumpitan, selain batang sumpit, yaitu pelurunya atau anak sumpitnya yang disebut damek. Ujung anak sumpit runcing, sedang bagian pangkal belakang ada semacam gabus dan sejenis dahan pohon agar anak sumpit melayang saat menuju sasaran.Racun damek oleh etnis Dayak Lundayeh disebut parir. Racun yang sangat mematikan ini merupakan campuran dari berbagai getah pohon, ramuan tumbuhan serta bisa binatang seperti ular dan kalajengking. Selain beracun, kelebihan yang dimiliki senjata ini dibandingkan dengan senjata khas Dayak lainnya, yakni kemampuan mengenai sasaran dalam jarak yang relatif jauh. Jarak efektif bisa mencapai puluhan meter, tergantung kemampuan si penyumpit. Selain itu, senjata ini juga tidak menimbulkan bunyi. Unsur senyap ini sangat penting saat mengincar musuh maupun binatang buruan yang sedang lengah.

(Sumber : Majalah Defender)

BERITA POLULER