Pages

Saturday, October 8, 2011

Deteksi Predator, Iran Pasang Radar Canggih



Predator Amerika Serikat
Panglima Pangkalan Pertahanan Udara Khatam Al Anbiya Iran, Brigjend Farzad Esmaili mengkonfirmasikan pengoperasian radar-radar canggih dalam sistem pertahanan negara untuk mendeteksi pesawat tanpa awak. Esmaili, Sabtu (8/10) kepada IRNA, mengatakan, "Jika radar-radar sebelumnya beroperasi pada frekuensi tunggal dan satu dimensi, kini kita memiliki radar-radar dengan multi-frekuensi dan untuk gelombang yang berbeda guna mendeteksi predator."
"Radar-radar sebelumnya tidak punya kemampuan untuk mendeteksi pesawat tanpa awak. Namun, kami akan meningkatkan kemampuan sistem itu dan siap menghadapi segala jenis pesawat tanpa awak ilegal di atas wilayah Iran," tambahnya.
Lebih lanjut, Esmaili menjelaskan, "Sebelumnya, pesawat-pesawat tanpa awak terlihat di beberapa daerah perbatasan, tapi sekarang dengan kewaspadaan penuh dan pemanfaatan radar canggih, tidak ada lagi predator yang berani terbang di atas wilayah Iran." Ditambahkannya, sekarang Pangkalan Pertahanan Udara Militer Iran siap menyerahkan bangkai pesawat tanpa awak jika terlihat terbang tanpa izin.
"Kini, jika ada pesawat tanpa awak terlihat di wilayah Iran, dapat dipastikan itu pesawat untuk pendidikan dan milik militer Iran atau Pasdaran," jelas Esmaili. Ditegaskannya, setiap jenis pesawat tanpa awak ilegal akan dimusnahkan oleh militer Iran.
Mereaksi niat rezim Zionis Israel untuk mengerahkan pesawat tanpa awak dalam memantau Iran, Esmaili menegaskan, Israel hanya omong kosong dan seluruh struktur Zionis tidak punya kemampuan untuk melakukan itu. (IRIB/RM)

irib

Iran Kembangkan Jet Tempur Paling Canggih

Pesawat Tempur Saeqeh tengah mengudara
Pesawat Tempur Saeqeh tengah mengudara

Menteri Pertahanan Republik Islam Iran, Brigjend Ahmad Vahidi mengatakan Iran telah meluncurkan sebuah proyek baru terkait rancangan dan pembuatan pesawat tempur canggih baru.
Seperti dilaporkan IRNA, Menhan Vahidi Kamis (06/10) mengatakan Iran telah memiliki pengalaman yang cukup lewat rancangan dan produksi massal pesawat Saeqeh (Thunderbolt) dan Azaraksh (Lightening). Hal itu disampaikannya saat mengunjungi Pangkalan Udara Nojeh di kota Hamedan yang terletak 400 kilometer Barat Daya Tehran, ibukota Iran.
Di lain pernyataannya, Brigjend Vahidi menyebut keberhasilan mendisain dan memroduksi pesawat tempur canggih bukti kemampuan industri pertahanan Iran, sekaligus menggagalkan sanksi sepihak PBB yang dimotori oleh Amerika dan Eropa.
Sementara itu, Brigjend Mohammadreza Karshki mengatakan, bulan Februari lalu Angkata Udara Republik Islam Iran telah memulai proyek besar merancang dan membangun pesawat tempur paling canggih Iran. Ditambahkannya, proyek ini dikerjakan dengan kerjasama AU dan Dephan Iran.
Iran mengoperasikan skuadron pertama dari pesawat Saeqeh dalam pertunjukan udara bulan September 2010. (IRIB/SL)

irib
Silahkan lihat gambar-gambar pesawat tempur Iran.
Pesawat Tempur Saeqeh tengah mengudara
Pesawat Tempur Saeqeh tengah mengudara
Saeqeh menembakkan roketnya
Saeqeh menembakkan roketnya
30_8506140536_l600.jpg




32_8506140536_l600.jpg
Saeqeh terbang berdua


Pangarmatim Resmikan Lanal Morotai



6 Oktober 2011, Morotai (Dispenarmatim): Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E meresmikan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Morotai di Kabupaten Pulau Morotai Propinsi Maluku Utara, Rabu (5/10).

Dalam peresmian tersebut dihadiri oleh Bupati Pulau Morotai Drs. Rusli Sibua, Komandan Lantamal IX Laksamana Pertama TNI Rahardjo Dwi Prihanggono, S.H, Danlanal Ternate Kolonel Laut (P) Untung Sukoco, Kabinda Maluku Utara Laksamana Pertama TNI Joko Hariyanto, Komandan KRI Slamet Riyadi Kolonel Laut (P) Eko Wahyono, Asintel Pangarmatim Kolonel Laut (P) Bambang Udoyo, Asrena Pangarmatim Kolonel Laut (P) Firman M, Asintel Danlantamal IX Kolonel Laut (P) Arif Sumartono, Aslog Danlantamal IX Kolonel Laut (T) Didik Joko Sukmono, Komandan Lanud Morotai Mayor Lek Damar Hari Sadewo, Dandim Tobelo serta pasukan upacara Perwira, Bintara, Tamtama, Polri, Pegawai Dinas Perhubungan serta siswa-siswi SMK dan SUPM Pulau Morotai.

Letkol Laut (P) Purwadi merupakan Komandan Lanal Morotai pertama yang mengemban tugas untuk memimpin Lanal Morotai. Lanal Morotai yang memiliki pintu masuk lalu lintas internasional melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III tentunya akan memicu munculnya kerawanan terhadap kemungkinan terjadinya tindak pelanggaran oleh kapal-kapal asing.

Dalam amanatnya Pangarmatim mengatakan, bahwa pembentukan Lanal Morotai merupakan salah satu realisasi kebijakan pemimpin tentang gelar pangkalan dalam rangka mewujudkan TNI AL yang dapat diandalkan dan dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Pengembangan dan pembangunan TNI AL merupakan suatu tuntutan kebutuhan sebagai salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan peran TNI AL sebagai alat negara di bidang pertahanan laut.

Pembentukan Lanal Morotai juga menandai semakin meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap negara kepulauan, tergugahnya jiwa dan semangat bahari nasional, serta orientasi pemerintah yang menyangkut pembangunan nasional pada aspek kelautan yang telah mendorong kesadaran untuk memelihara kekuatan pertahanan laut yang kuat untuk menjalin kepentingan nasional di laut.

Pesatnya perkembangan dinamika global pada aspek maritim, lanjut Pangarmatim, khususnya peningkatan kuantitas kapal-kapal asing pengguna laut di ALKI serta perairan-perairan perbatasan, memerlukan kehadiran satuan operasi TNI AL secara terus menerus dalam rangka penegakan hukum dan menjaga keamanan di wilayah yuridiksi nasional. Oleh karena itu, kehadiran satuan operasional TNI AL harus didukung dengan gelar pangkalan yang efektif, agar mampu mendukung kesiapsiagaan dan ketahanlamaan operasi.

Laut Maluku bagian Utara merupakan pintu masuk lalu lintas internasional lewat ALKI III, hal ini tentunya menjadi kerawanan dan kemungkinan terjadinya tindak pelanggaran oleh kapal-kapal asing, baik dalam pelanggaran hukum di laut ataupun gangguan keamanan seperti perompakan, pembajakan serta penangkapan ikan secara ilegal ataupun kejahatan lintas negara (transnational crime). Untuk mengantisipasi potensi kerawanan yang timbul maka perlu adanya monitoring, pengawasan serta pengendalian yang intensif oleh unsur-unsur TNI AL guna melindungi kepentingan nasional.

Secara historis, pulau Morotai memiliki catatan bersejarah dalam perang dunia ke II, bahkan oleh Jendral Dauglas Mc Arthur, Morotai disulap menjadi Pusat Komando Tentara Sekutu dengan membangun 7 lapangan terbang dan pelabuhan militer yang besar di Tanjung Dahegila sehingga kapal-kapal besar dapat merapat di pelabuhan tersebut. Berangkat dari catatan sejarah tersebut serta hasil analisis dan studi kelayakan suatu pangkalan militer, posisi Pulau Morotai sebagai titik awal dukungan operasi dipandang sangatlah strategis, guna memberikan dukungan logistik kepada unsur-unsur operasional TNI AL dan melakukan Monitoring, Surveilance and Controlling di kawasan Laut Maluku sebagai pintu masuk Utara ALKI III. Sehubungan dengan pertimbangan tersebut, maka pembentukan dan peresmian Lanal Morotai menjadi suatu kebutuhan yang sangat kita harapkan bersama.

Keberadaan Lanal Morotai juga akan mampu mengamankan hasil-hasil pembangunan yang dilakukan oleh Provinsi, maupun daerah setempat khususnya aspek kelautan. Dalam konteks semangat otonomi daerah, peran Lanal Morotai dalam melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan laut, hendaknya bersinergis serta menjadi pendorong bagi pelaksanaan pembangunan daerah sehingga mampu meningkatkan kemandirian daerah dan kesejahteraan rakyat. Terrealisasinya pembentukan Lanal Morotai tentu tidak terlepas dari dorongan, dukungan dan bantuan Gubernur Maluku Utara, Bupati Morotai, satuan TNI, instansi terkait serta segenap lapisan masyarakat.

Selain meresmikan Lanal Morotai, Pangarmatim juga melaksanakan peletakan batu pertama dilahan yang akan dipakai untuk pembangunan Mako Lanal Morotai. Selanjutnya dilaksanakan pembukaan selubung papan nama di gedung sementara Lanal Morotai dan pelaksanaan penanaman pohon Trembesi oleh Ibu Endah Ade Supandi di halaman Mako sementara Lanal Morotai.

Sumber: Dispenarmatim

Kopaska Dan Navy Seals Latihan Demolisi



5 Oktober 2011, Karang Tekok (Dispenarmatim): Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL dan US Navy Seal melaksanakan latihan penghancuran sasaran menggunkan bahan peledak (Demolisi) bertempat di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Karang Tekok Situbondo, Selasa (04/10). Kegiatan itu merupakan rangkaian Latihan Bersama (Latma) Flash Iron 11-02 JCET antara Kopaska TNI AL dan US Navy Seal.

Pasukan khusus negeri Paman Sam itu memaparkan tentang sistim, cara kerja dan prosedur pengamanan dan penggunaan bahan peledak yang mereka miliki kepada personel Pasukan Katak yang mengikuti kegiatan Latma tersebut. Mereka membawa peralatan demolisi yang tergolong canggih dan belum dimiliki oleh militer Indonesia yaitu bahan peledak berbentuk padat jenis C4.



Mesikipun sudah tidak asing dengan peralatan demolisi namun pasukan khusus TNI AL itu tetap memperhatikan setiap instruksi yang disampaikan oleh personel Navy Seal dengan seksama. Satu persatu personel Kopaska mendapat kesempatan untuk merakit bahan peledak jenis C4 secara langsung. Selanjutnya mereka memasang peledak itu di sebuah lembah yang berada di area perbukitan Puslatpur Marinir Karang Tekok kemudian meledakkanya dari jarak yang aman.

Gladi demolisi itu disaksikan langsung oleh Komandan Satuan (Dansat) Kopaska Koarmatim Kolonel Laut (P) Yeheskiel Katiandago yang terus memantau jalannya latihan bersama Flash iron 11-02. Hasil yang didapat dari materi latihan demolisi itu bagi prajurit yang baru masuk jajaran Kopaska adalah mendapat pengetahuan baru tentang perakitan bahan menggunakan C4.

Sumber: Dispenarmatim

Jepang mengandangkan 200 jet tempur F15


BBCIndonesia.com - detikNews

F15
Jepang berencana meremajakan armada udaranya dengan anggaran lebih dari US$8 miliar.

Jepang mengandangkan lebih dari 200 pesawat tempur F-15 setelah salah satu pesawat tempur itu mengalami kerusakan.

Dalam sebuah misi latihanm, tangki bahan bakar salah satu pesawat tempur tersebut terlepas dan jatuh.

Api terlihat menjalar dibawah sayap dan bagian tangki yang terlepas jatuh disekitar kawasan barat kota Komatsu.

Tangki dengan berat sekitar 155kg, dalam keadaan kosong, dan misil tiruan terlepas dari pesawat dan jatuh di sebuah lapangan dekat dengan landasan untuk mendarat. Puing dari tangki yang lepas itu jatuh di 10 lokasi, termasuk di saluran pembuangan kotoran.

Tidak ada yang terluka dalam insiden tersebut dan pesawat tempur itu sendiri berhasil mendarat dengan aman.

"Kami menangani kecelakaan ini dengan sangat serius, kata Jenderal Shigeru Iwasaki, Kepala Angkatan Udara Jepang, dalam sebuah keterangan pers.

Dia mengatakan penyebab jatuhnya tangki F-15 masih dalam penyelidikan.

Peremajaan pesawat

Insiden copotnya tangki bahan bakar F-15 ini adalah yang kedua dalam tiga bulan terakhir.

Juli silam, armada udara juga dikandangkan setelah sebuah pesawat jatuh di Laut Cina Selatan. Pilotnya, meski diyakini sudah tewas, tetapi tetap dimasukan ke dalam daftar hilang dan sampai saat ini belum ada penjelasan resmi terkait kecelakaan tersebut.

Serangkaian kecelakaan yang melibatkan armada udara ini nampaknya membuat Angkatan Udara Jepang bersikap reaktif dengan mengandangkan semua pesawat tempur F-15 milik mereka.

Pejabat Pasukan Pertahanan Udara Jepang mengatakan semua misi kecuali yang terkait dengan keadaan darurat kini dihentikan dan akan berakhir sampai 202 pesawat tempur F-15 Jepang sepenuhnya dinyatakan aman.

Insiden terbaru ini terjadi disaat Tokyo juga tengah mencari pengganti pesawat yang sudah dimakan usia. Jepang tengah mempertimbangkan kemungkinan membeli pesawat baru baik dari pabrikan pesawat tempur AS dan dari Eurofighter Typhoon dalam sebuah kesepakatan yang kemungkinan akan dicapai akhir tahun ini dengan anggaran sebesar US$8 miliar

detik

325 Juta Dollar Untuk C-295


JAKARTA – Pemerintah RI menganggarkan dana USD 325 juta untuk pemenuhan kebutuhan pesawat angkut militer TNI AU. “Kita alokasikan anggaran 325 juta dolar AS untuk kebutuhan pesawat angkutan sedang ini, tetapi kita tetap mengikuti proses yang ada,” ujar Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Letjen TNI Purn Sjafrie Sjamsoeddin di Lanud Halim Perdanakusuma, Jumat (7/10).

Sebelumnya bersama anggota DPR komisi I, III, dan VI, Wamenhan mengikuti demo terbang pesawat NC-295 buatan Spanyol dari Halim PK ke Lampung, dan kembali lagi ke Halim. Menurut Sjafrie, proses ini mencakup pertimbangan dari pengguna yakni TNI, DPR, dan pemerintah.

Sjafrie menjelaskan, pemerintah tengah menjajaki pembelian pesawat yang nantinya akan diproduksi PT DI berdasarkan lisensi Airbus Military (EADS).

Maggie Bergsma, Airbus Head of Media Relations Communications mengatakan, pihaknya akan meninjau performa PT DI termasuk memberikan pembekalan manajemen untuk memperkuat performa perusahaan. "Tidak hanya dalam memproduksi pesawat, tetapi juga dalam memasarkannya,” ujar Maggie.

Heli Panther Untuk Anti Kapal Selam TNI-AL

Selain kebutuhan pesawat, PTDI juga telah mampu memenuhi kebutuhan alutsista berupa heli, torpedo dan simulator.

Dari jenis helikopter, PTDI berencana memproduksi heli BELL-412EP varian serbu dan angkut sebanyak delapan unit bernilai masing-masing 85 juta dolar AS pada tahun 2011 dan 2012. Selain itu PTDI juga menawarkan heli jenis Fennec AS-550 kepada TNI AD sebanyak delapan unit seharga USD 90 juta.

Untuk TNI AU, jenis yang ditawarkan adalah helikopter jenis EC-725 Cougar untuk Combat SAR sebanyak enam unit bernilai USD 200 juta dan helikopter NAS-332 Super Puma sebanyak dua unit senilai Rp.370 miliar.

Sementara untuk TNI AL selain tiga unit heli angkut BELL-412EP senilai USD 30 juta, PTDI juga menawarkan satu unit AS-565 Panther Anti Kapal Selam (AKS) sebesar Rp200 miliar.

Total potensi pasar dalam negeri yang ingin digaet PT DI antara 2011-2014 adalah USD 905 juta plus Rp1,087 triliun. Itu setara Rp9,23 triliun.

Sumber : POSKOTA.CO.ID

Tur Demo Pesawat C-295


JAKARTA - Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) berjabat tangan dengan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso (kanan) seusai mengikuti Demo Flight pesawat C-295 di Skadron Dua, Landasan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Jumat (7/10). Hadir juga Komandan Wing 1 Lanud Halim Perdana Kusuma Kolonel Penerbang Tri Bowo Budi Santoso, tur ini bertujuan untuk memperagakan kemampuan multi misi dan karakteristik operasional pesawat C-295, untuk dioperasikan dilingkungan Indonesia dan menjawab kebutuhan Angkatan Udara Republik Indonesia. FOTO ANTARA/M Agung Rajasa/Koz/pd/11. ARC.WEB.ID








BERITA POLULER