Pages

Wednesday, October 5, 2011

TNI Butuh Jet Tempur & Kapal Selam Daripada Tank & Meriam


Foto: Ramadhian/detikcom
Jakarta - Anggaran TNI akan meningkat dari Rp 47,5 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp 64,4 triliun pada tahun 2012. Untuk meningkatkan kualitas alutsista, TNI dirasakan lebih membutuhkan jet tempur, kapal perang dan kapal selam dibanding meriam artileri, dan tank baja.

"Kecenderungan perang ke depan bukan lagi konvensional dimana tentara berhadapan dengan tentara. Karena itu jika ada pilihan, lebih baik membeli pesawat tempur, atau kapal selam daripada senjata ringan, tank atau meriam untuk artileri," ujar pengamat militer Mufti Makarim saat dihubungi detikcom, Kamis (6/10/2011).

Mufti menambahkan TNI juga perlu memperbarui serta menambah peralatan pengintaian seperti radar untuk cegah tangkal. Saat ini radar milik TNI dirasa kurang untuk mengcover seluruh wilayah RI yang luas.

Mengenai hibah 30 pesawat F-16 dari AS, Mufti meminta pemerintah dan DPR mempertimbangkannya masak-masak. Biaya hibah dan upgrade pesawat bekas memang lebih murah dari membeli pesawat baru. Tetapi namanya barang bekas, tentu ada hal-hal yang selalu harus dipertimbangkan.

"Harus dipikirkan juga biaya perawatannya. Jam terbangnya juga. Jangan sampai nanti begitu ada kebutuhan operasi malah tidak bisa digunakan," tambahnya.

Mufti juga menilai embargo persenjataan bisa saja terjadi kembali, bukan hanya dari AS, tetapi juga negara-negara lain. Hal ini tentunya harus dipertimbangkan juga saat membeli senjata.



Detik

Kemampuan Tempur Pasukan, TNI Boleh Berbangga Hati


Foto: Ramadhian/detikcom
Jakarta - Teknologi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) milik TNI dinilai masih berada di bawah Malaysia dan Singapura. Namun untuk kemampuan tempur pasukan, TNI boleh berbangga hati.

"Untuk teknologi memang berada di bawah Malaysia dan Singapura. Tapi saya kira kemampuan personel masih lebih unggul," ujar pengamat militer Mufti Makarim saat dihubungi detikcom, Kamis (6/10/2011).

Namun Indonesia tentunya tidak bisa terus berbangga dengan kemampuan personelnya saja. Tuntutan ke depan, kemampuan personel yang tinggi harus didukung dengan alutsista yang modern.

Dalam membangun sistem persenjataan, TNI harus memprediksi ancaman ke depan. Jika masih merasa ancaman lebih banyak dari dalam negeri, maka fokus pertahanan tetap di darat dengan komando teritorial menjadi intinya. Namun jika TNI sudah merasa ancaman terbesar dari luar, maka pembangunan kekuatan akan fokus pada kekuatan laut dan udara.

"Kalau fokusnya tetap menambah pasukan untuk digelar di seluruh Indonesia ya pasti anggarannya akan habis untuk belanja prajurit, bukan untuk membari alutsista," katanya.

Menurutnya ada dimensi yang harus dipertimbangkan saat membeli alutsista. Yang pertama adalah pertimbangan Alutsista bukan hanya dibeli, tetapi juga harus dirawat. Jangan sampai saat akan digunakan untuk bertempur ternyata tidak ada suku cadangnya.

"Lalu kemampuan sinerginya. Ini berkaca pada pengalaman masa lalu. TNI mempunyai banyak senjata dari macam-macam negara. Akibatnya, jangankan menghadapi musuh dari luar, saat operasi militer di Aceh saja kebingungan," jelasnya.



DETIK

Development of S-500 air defense systems behind schedule - paper


Earlier generation S-400 air defense system
The development of Russia's formidable S-500 air defense system is lagging behind schedule by at least two years, the Izvestia daily said on Wednesday citing a defense industry source.
According to the source, the first prototypes will be ready and tested by 2015, while the deliveries to the Russian army could start in 2017 at the earliest.
"The production cycle of this system is about two years. Therefore, even if the prototypes are ready by 2015, the military will not receive production models earlier than in 2017," the source said.
A source in the Russian Defense Ministry confirmed that the earlier announced schedule of S-500 deliveries in 2015 was "too optimistic," as the prototypes should have already been undergoing field tests to meet the deadlines.
The S-500, a long-range air defense missile system, is expected to become the backbone of a unified aerospace defense system being formed in Russia.
The system is expected to have an extendet bange of up to 600 km (over 370 miles) and simultaneously engage up to 10 targets.
The Russian military has demanded that the system must be capable of intercepting ballistic missiles and hypersonic cruise missiles and plans to order at least ten S-500 battalions for the future Russian Aerospace Defense.
sumber : RIA NOVOSTI

Presiden SBY Periksa Barisan Upacara HUT TNI



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), selaku Inspektur Upacara memeriksa barisan peserta upacara peringatan HUT ke-66 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (5/10). Pada sempatan itu, sejumlah anggota TNI dan Polri melakukan terjun payung serta enam pesawat Sukhoi TNI AU flying pass berkecepatan tinggi dan terbang rendah di Mabes TNI Cilangkap. sumber :POSKOTA
(rihadin/sir)

TNI AU Ingin Terima Hibah F-16



(Foto: Lanud Iswahjudi)

5 Oktober 2011, Jakarta (Kompas): Terkait tawaran Pemerintah Amerika Serikat untuk menghibahkan pesawat tempur F-16, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara dan pemerintah ingin menerimanya. Namun, Dewan Perwakilan Rakyat cenderung untuk membeli pesawat F-16 baru yang lebih canggih.

”Yang diinginkan TNI AU dan pemerintah adalah kita menerima hibah 30 pesawat F-16 dari Amerika Serikat (AS) itu. Nantinya, kemampuan 24 pesawat akan ditingkatkan menjadi blok 32 dan enam lainnya untuk cadangan,” kata Kepala Staf TNI AU Marsekal Imam Sufaat, Senin (3/10), dalam konferensi pers di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta.

Imam mengatakan, dalam pertemuan terakhir dengan DPR dan pemerintah, belum dicapai kata sepakat. Rapat yang membahas perkembangan rencana hibah pesawat F-16 bekas dari Pemerintah AS itu digelar pada 21 September lalu.

Menurut Imam, dari segi efektivitas dan efisiensi, upgrade ke blok 52 akan memakan biaya yang sangat tinggi. Untuk itu, pilihan yang lebih baik adalah melakukan peningkatan kemampuan F-16 blok 32. Menurut catatan Kompas, 10 pesawat F-16 yang sudah dimiliki Indonesia adalah kategori blok 25.

Dari segi biaya, Imam memaparkan, harga satu skuadron pesawat F-16 blok 52 dari pabriknya, Lockheed Martin, mencapai sekitar 1,6 miliar dollar AS. Harga enam pesawat F-16 blok 52 adalah 720 juta dollar AS. ”Padahal, anggaran yang disediakan hanya 430 juta dollar AS,” kata KSAU lagi.

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin, dalam rapat internal fraksi-fraksi di DPR disimpulkan, dalam rencana strategis jangka pendek yang dimulai pada APBN tahun 2011, Kementerian Pertahanan dengan persetujuan Komisi I DPR memprogramkan pembelian enam pesawat tempur F-16 baru. Anggarannya dialokasikan 430 juta dollar AS. Alasannya, agar kehadiran pesawat tempur itu bisa menjadi efek getar dan daya tangkal yang cukup untuk menggantikan F-16 yang lama.

Sebaliknya, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menuturkan, rencana awal TNI AU memang membeli enam pesawat F-16 baru. Namun, sejak ada tawaran dari Pemerintah AS, dipikirkan pemakaian anggaran yang sedianya untuk membeli enam pesawat F-16 itu untuk biaya ongkos hibah dan peningkatan blok.

Menurut Hasanuddin, Komisi I DPR menilai, tawaran berupa pesawat yang tak terpakai lagi oleh AU AS itu adalah kesempatan yang baik bagi Indonesia dalam meningkatkan kuantitas pesawat tempur. Namun, DPR mengajukan dua syarat. Pertama, pesawat itu harus bisa ditingkatkan menjadi F-16 blok 52 sesuai rencana strategis. Kedua, peningkatan itu harus dilakukan di Indonesia dengan melibatkan tenaga ahli Indonesia.

Sumber: KOMPAS

Tuesday, October 4, 2011

Presiden: Optimalkan Alutsista Dalam Negeri


Jurnas.com | PRESIDEN RI Susilo Bambang Yudhoyono meminta TNI memaksimalkan penggunaan alat utama sistem senjata (alutsista) produksi dalam negeri. Pengadaan alutsista ini akan terus ditingkatkan dengan penambahan anggaran pertahanan.

"Pastikan peningkatan alutsista. Optimalkan produk industri pertahanan nasional untuk TNI, dan hentikan ketergantungan yang tak perlu ke luar negeri untuk alutsista,"kata Presiden dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke 66 di Plaza Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (5/10).

Menurut Presiden, pemerintah telah berkomitmen membangun kekuatan pertahanan dengan memenuhi minimum essential forces (MEF). Komitmen ini dibuktikan dengan peningkatan alokasi dana TNI untuk tahun anggaran 2012 sebesar lebih dari 35 persen, dari yang semula 47,5 menjadi 64,4 persen.

Presiden berharap, dengan penambahan anggaran ini TNI dapat melakukan peremajaan dan modernisasi alutsista untuk ketiga matra sehingga dapat meningkatkan daya tempur di tiga angkatan. “Sangat penting mewujudkan postur TNI untuk melaksanakan tugas yang efektif. Tahun mendatang akan terus diperbesar. Agar misi penegakan dan penjagaan keutuhan wilayah dapat dilaksanakan dengan berhasil," jelas Presiden.

Ditambahkan Presiden, TNI juga harus dapat mengatasi tantangan faktual yang terjadi seperti di Selat Malaka, aksi terorisme, persoalan perbatasan, penanganan bencana alam serta meningkatkan kerja sama dengan komponen bangsa lainnya.

Presiden memerintahkan Kementerian Pertahanan dan kementerian terkait untuk berkoordinasi dalam membangun kekuatan pertahanan yang makin tangguh. Langkah ini diharapkan selaras dengan pengoptimalisasian produk industri pertahanan dalam negeri.

Hal yang tak kalah penting, kata Presiden, adalah peningkatan SDM dengan pengujian didalam latihan agara dapat sejalan dengan modernisasi alutsista.



JURNAS

Presiden: Jadilah Tentara yang Dicintai Rakyat



KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOPresiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memeriksa pasukan pada peringatan HUT TNI ke-66 di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (5/10/2011). Penampilan skadron udara 1, skadron udara 11, dan atraksi bela diri turut menyemarakan peringatan tersebut.
JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika menyampaikan instruksinya pada Hari Ulang Tahun ke-66 Tentara Nasional Indonesia di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Selasa (5/10/2011), berharap TNI dapat menjadi tentara yang mencintai dan dicintai rakyat.
"Kepada seluruh prajurit TNI di mana pun saudara berada, jalankan tugas dengan penuh kesungguhan. Pegang teguh amanat Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Jadilah tentara rakyat dan tentara pejuang, yang dicintai dan mencintai rakyat," kata Presiden.
Turut hadir pada HUT ke-66 TNI, antara lai, Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, Ibu Herawati Boediono, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono beserta pimpinan TNI, anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, pimpinan lembaga tinggi negara, duta besar negara sahabat, dan lainnya.
Presiden mengatakan, 66 tahun yang lalu, TNI lahir dari rahim rakyat, berjuang bersama rakyat, dan membangun untuk kepentingan rakyat. Lebih dari enam dasawarsa, TNI telah menorehkan sejarah gemilang dalam membela, mempertahankan, dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada kesempatan itu, Presiden mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada prajurit TNI yang telah dan sedang melaksanakan tugas menjaga kedaulatan negara, mengemban tugas di perbatasan negara dan pulau-pulau terdepan, serta mengemban tugas misi perdamaian di berbagai belahan dunia.
"Secara khusus saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas operasi militer TNI untuk membebaskan kapal dan warga negara Indonesia yang disandera oleh perompak Somalia, termasuk kesiapan melaksanakan operasi militer lanjutan jika diperlukan, demi kehormatan dan nama baik negara kita. Kita semua berharap, ke depan TNI dapat terus meningkatkan pengabdiannya dalam mengemban tugas pokok dan fungsinya sesuai amanat konstitusi," kata Presiden.

KOMPAS

BERITA POLULER