Pages

Friday, July 8, 2011

TNI AL, RAN dan US Navy Latihan di Laut Jawa


USS George Washington. (Foto: US Navy)

7 Juli 2011, Laut Jawa (SURYA Online): TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan selintas latihan bersama (passing exercises/passex) di perairan Laut Jawa, Kamis.

Latihan bersama itu melibatkan USN Ship 73 (USS George Washington), USN Ship 54 (Fregatte), USN Ship 63 (Fregatte), HMAS Darwin (04), sedangkan TNI Angkatan Laut mengerahkan KRI Diponegoro-365 dan KRI Slamet Riyadi-352.

Latihan itu disaksikan para pejabat angkatan laut kedua negara dari kapal induk USS George Washington. Hadir meninjau latihan itu Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Marsetio dan pejabat kapal angkatan laut AS yang mengawaki kapal induk USS George Washington.

Materi latihan dalam Passing Exercise itu meliputi “Flash ex-Flaghoist”, “Manuver Tactical”, dan pertukaran perwira.

Dalam latihan bersama itu dilakukan pula demonstrasi Explosive Ordnance Disposal (EOD) oleh tim USS George Washington.

Kehadiran kapal induk USS George Washington dan jajarannya di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I dalam rangka “TF 70 Battle Ships” yang melintas dari perairan Indonesia dari arah Laut China Selatan ke arah Laut Natuna, Selat Karimata, Selat Sunda, serta Samudera Hindia menuju Australia untuk melakukan latihan bersama.

Wakasal Kunjungi USS George Washington

Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Marsetio berkesempatan naik kapal Induk AS USS George Washington yang saat ini berada di perairan Laut Jawa, kamis (7/7).

Wakasal beserta stafnya dijemput di Bandara Halim Perdanakusuma dengan menggunakan pesawat C2 US Navy VRC-30DET5 milik Amerika, kemudian take off menuju ke Kapal Induk USS George Washington.

Keberadaan Kapal Induk USS George Washington adalah dalam rangka kegiatan TF 70 Battle Ships yang melintas di ALKI-1 dari arah Laut China Selatan menuju Australia dalam rangka latihan.

Pada kesempatan tersebut, dimanfaatkan kegiatan Passing Exercises dengan unsur-unsur TNI AL yang melibatkan USN Ship 73 (USS George Washington), USN Ship 54 (Fregatte), USN Ship 63 (Fregatte), HMAS Darwin (04) dengan unsur TNI AL KRI Diponegoro-365 dan KRI Slamet Riyadi-352 di Selat Sunda, serta Demonstrasi EOD oleh tim USN di USS GWA. TNI AL mengirimkan 7 orang Perwira dalam Officers Exchange.

Turut hadir mendampingi Wakasal dalam peninjauan tersebut, Wakil Asisten Operasi (Waasops)

Kasal Laksamana Pertama (Laksma) TNI Ari Soedewo, serta Kepala Staf Armada Barat (Kasarmabar) Laksamana Pertama (Laksma) TNI Herry Setianegara.

Sumber: Surya/Jurnas

Thursday, July 7, 2011

Pramono Edhie Janji Benahi Alutsista dan SDM


Mantan KSAD Jenderal TNI George Toisutta (kiri) dan KSAD baru Letnan Jenderal TNI Pramono Edhie melakukan salam komando saat upacara serah terima jabatan di Mabes AD, Jakarta, Kamis (7/7). Letjen TNI Pramono Edhie merupakan lulusan akademi militer tahun 1980, menggantikan Jenderal TNI George Toisutta yang memasuki masa pensiun. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/ed/mes/11)

7 Juli 2011, Jakarta (TEMPO Interaktif): Pejabat baru Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Letnan Jenderal Pramono Edhie Wibowo, mengatakan akan meneruskan program-program yang telah disusun oleh pendahulunya, Jenderal George Toisutta. Dua bidang utama yang akan ia benahi adalah peningkatan kapasitas alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan peningkatan sumber daya manusia (SDM).

"Seluruhnya akan dibenahi. Dua-duanya seiring," kata Pramono usai upacara serah terima jabatan KSAD di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta, Kamis 7 Juli 2011. Menurut dia, pembenahan 2 aspek ini harus dilakukan bersamaan tanpa mendahulukan yang lain.

Pramono menjelaskan bahwa TNI Angkatan Darat memiliki alutsista modern. Tapi, tanpa didukung oleh kesiapan sumber daya manusia, hasilnya akan tetap tertinggal. Sebaliknya pun demikian. Bila sumber daya pasukan sudah siap tetapi tidak didukung alutsista yang modern, TNI tetap tidak mampu mengejar ketertinggalannya.

Adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sebelumnya menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) ini mengakui tidak memiliki program-program tertentu yang baru. Ia hanya akan meneruskan program dan kebijakan yang sudah disusun oleh pendahulunya, Toisutta.

"Saya prinsipnya hanya meneruskan saja apa yang belum sempurna," kata Pramono lagi. Menurut dia, perkembangan TNI Angkatan Darat belum sampai akhir. Salah satu yang akan dia lakukan adalah menyelesaikan program-program TNI Angkatan Darat yang sudah disusun tahun ini. "Saya harus selesaikan tahun ini dan selanjutnya."

Soal rencana pengembangan alutsista, Pramono mengatakan sudah ada beberapa perjanjian dan program kerja yang dibuat dan diajukan ke Kementerian Pertahanan. Namun, ia tidak menjelaskan program apa saja yang direncanakan selesai tahun ini. "Sudah dibuat oleh Pak George. Jadi, bisa dilihat sebetulnya apa yang akan kita lakukan," katanya.

Sumber: TEMPO Interaktif

Kasau Buka Latma Elang Thainesia 15 di Thailand



7 Juli 2011, Bangkok (Pelita): Kepala Staf TNI AU (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat SIP, bersama Kasau Royal Thailand Air Force (RTAF) Air Chief Marshal (ACM) Itthaporn Subhawong, secara resmi membuka latihan bersama antara TNI AU dan RTAF dengan sandi “ Elang Thainesia” ke 15 di Udon Thani, Thailand, Selasa (5/7).

Latihan bersama Elang Thainesia, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para penerbang kedua Angkatan Udara dalam melaksanakan operasi udara.

Pada kesempatan tersebut, Kedua Kepala Staf Angkatan Udara berharap, selama latihan berlangsung para peserta memperhatikan prosedur keselamatan terbang dan kerja (lambangja).

Dalam latihan bersama itu, TNI Angkatan Udara melibatkan sekitar 113 personel dan 5 pesawat tempur Hawk 100/200 dari Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru dan Skadron Udara 1 Lanud Supadio Pontianak, sedangkan RTAF melibatkan 5 pesawat tempur Alfa Jet.

Pada kesempatan tersebut Kepala Staf Angkatan Udara RTAF ACM Itthaporn Subhawong memberikan buku 30 tahun Anniversary Elang Thainesia “Everlasting Friendship RTAF-TNI AU” kepada Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat dan perwira tinggi TNI AU lainnya.

Sementara itu, di hari yang sama, Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat SIP, menerima tanda kehormatan dari pemerintah Thailand melalui Royal Thailand Air Force (RTAF) “Knight Grand Cross First Class of Nobel Honor in Thailand” yang diserahkan oleh Kasau RTAF Air Chief Marshal (ACM) Itthaporn Subhawong.

Tanda kehormatan tersebut diberikan atas jasa-jasanya memajukan dan meningkatkan hubungan kerjasama militer kedua Angkatan Udara dengan berbagai macam pencapaian meliputi Latma Elang Thainesia, pertukaran kunjungan perwira/Taruna, pertukaran siswa Sesko maupun Air War College serta intelijen exchange.

Sumber: Harian Pelita

Hibah Hercules dari Australia Masih Dibahas


Rabu, 6 Juli 2011 11:09 WIB | 663 Views
Ilustrasi Pesawat Hercules (ist)
Jakarta (ANTARA News) - Markas Besar TNI Angkatan Udara menyatakan, rencana hibah sejumlah pesawat angkut C-130 Hercules, hingga kini masih dalam pembahasan dua pihak.

Juru bicara Mabes TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro di Jakarta, Rabu mengatakan, rencana hibah pesawat Hercules tipe H dari Australia masih dalam tahap pembicaraan dua kepala staf angkatan udara kedua negara.

"Masih perlu tahapan-tahapan lainnya, yang memerlukan pembahasan intensif kedua pihak," katanya, menambahkan.

Mabes TNI Angkatan Udara berencana mengadakan sembilan unit Hercules, untuk menggenapkan menjadi 30 unit dengan 21 unit yang sudah ada sebelumnya.

Ketigapuluh unit Hercules itu, terdiri atas pesawat tanker sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional untuk mengangkut dua batalyon sebanyak 26 unit.

Untuk memenuhi sembilan unit Hercules ke depan maka pihaknya telah menjajaki beberapa tawaran dari beberapa negara.

Hingga kini sudah ada negara yang menawarkan hibah pesawat angkut C-130 Hercules kepada Indonesia.

Hingga kini setidaknya tiga negara yang menawarkan hibah pesawat angkut C-130 Hercules kepada Indonesia, seperti Amerika Serikat, Australia dan Norwegia.

Pemerintah Amerika Serikat dan Australia menawarkan enam pesawat angkut C-130 Hercules tipe E dan J dengan potongan harga khusus kepada pemerintah Indonesia pada 2012.

Enam Hercules hibah dari AS itu merupakan pesawat yang sebelumnya diperuntukkan bagi tiga negara di Asia dan Afrika. Sebelum dihibahkan ke Indonesia, pesawat itu telah mengalami perbaikan dan modifikasi.

AS menjanjikan bantuan pengadaan enam pesawat angkut C-130 Hercules tipe H dan J untuk Indonesia. Bantuan berupa potongan harga dengan menggunakan fasilitas Foreign Military Financing (FMF) dan bantuan suku cadang bagi pesawat angkut berat Hercules.

Sementara Pemerintah Norwegia menawarkan empat unit pesawat angkut C-130 Hercules tipe H kepada Indonesia, yang telah digunakan Angkatan Udara Norwegia.

Sebelum dihibahkan, Norwegia sepakat untuk melakukan peremajaan terlebih dulu atas biaya mereka. Empat unit Hercules tipe H yang ditawarkan tersebut keseluruhannya bernilai 66 juta dolar AS.


Antara

Rp7,5 Triliun, Revitalisasi 3 BUMNIP


 
Dananjoyo Kusumo / Jurnal Nasional
Jurnas.com | PEMULIHAN tiga perusahaan BUMNIP agar dapat bangkit kembali, memerlukan dana Rp7,5 triliun. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT DI, PT Pindad, dan PT PAL. "Untuk membangkitkan kembali 3 industri strategis Indonesia, butuh dana sebesar Rp7.5 triliun cash dan non-cash. Ini bisa diajukan ke Komisi VI DPR, tinggal nanti dibahas Komisi XI dan Badan Anggaran, serta Kementerian Keuangan tentunya," kata Menteri BUMN Mustafa Abubakar di Jakarta, Rabu (6/7).

Dana pemulihan tersebut, kata Mustafa, bisa tersedia dan tak perlu dikhawatirkan asalkan pasar ketiga perusahaan tersebut bisa terbuka jelas baik di dalam maupun di luar negeri. "Kami berharap bisa memanfaatkan kekuatan dari dalam karena di dalam juga banyak tawaran dana seperti dari forum komunikasi investasi, atau forum investasi BUMN. Atau juga dari kerja sama seperti PT DI dan Airbus Military ini. Ada Rp250 triliun-Rp300 triliun kemampuan pendanaan potensial yang bisa dipakai kalau proyek ini bisa jalan," kata Mustafa.

Hari ini Airbus Military dan PT DI menandatangani MoU kerja sama strategis yang difasilitasi Kementerian BUMN. Menurut menteri BUMN, Airbus Military akan membantu PT DI dalam memproduksi pesawat-pesawat baru, khususnya pesawat militer dengan misi damai. "Airbus akan mem-back up PT DI untuk produksi pesawat tipe baru seperti pesawat 212, N219. Untuk pesawat kemiliteran akan mendapat fully support dari mereka," katanya.

Airbus telah bekerja sama dengan PT DI dengan melakukan produksi spare part yang dipesan PT DI seperti sayap, ekor, dan bagian-bagian badan pesawat lainnya. PT DI saat ini tengah menyiapkan pesawat tipe N219. Pesawat 19 seat ini akan diproduksi sebanyak 20 unit pada 2015 yang merupakan pesanan Merpati Airlines.

JURNAS

Wednesday, July 6, 2011

Armada F-15 Jepang Dilarang Terbang




Getty Images/Koichi Kamoshida
Dua pesawat tempur F-15 milik Pasukan Bela Diri Udara Jepang (ASDF) terbang dalam latihan pengisian bahan bakar di udara. Kementerian Pertahanan Jepang, Rabu (6/7), melarang terbang semua armada pesawat F-15 negara itu setelah satu pesawat F-15J jatuh secara misterius di Laut China Timur, sehari sebelumnya.

TOKYO, KOMPAS.com - Kementerian Pertahanan Jepang melarang terbang semua armada pesawat tempur F-15 Eagle negara itu, Rabu (6/7). Keputusan itu diambil setelah satu pesawat F-15J jatuh secara misterius di Laut China Timur, sehari sebelumnya.
Pesawat tempur yang hilang tersebut tinggal landas dari pangkalan udara Naha di Okinawa, Jepang, Selasa pagi, untuk menjalani latihan tempur bersama tiga pesawat lain. Sekitar pukul 10.33, pilot Mayor Yuji Kawakubo (37) mengirim sinyal tanda bahaya dan hilang dari radar di titik berjarak 180 kilometer sebelah barat laut kota Naha, Okinawa.
Kawakubo sendiri hingga berita ini diturunkan masih belum ditemukan. Militer Jepang mengerahkan tak kurang dari enam kapal perang dan 13 pesawat militer, ditambah tiga kapal patroli penjaga laut, untuk mencari Kawakubo di perairan Laut China Timur.
”Sampai saat ini kami masih menyelidiki detail kecelakaan ini dan melakukan segala daya upaya untuk mencari pilot yang hilang. Kami akan terus memberikan kabar terbaru jika ada perkembangan,” tutur Kepala Staf Pasukan Bela Diri Udara (ASDF) Jepang Shigeru Iwasaki, seperti dikutip The Japan Times.
Salah satu pesawat pencari menemukan jejak tumpahan minyak dan beberapa bagian pesawat, termasuk bagian ekor pesawat jet tersebut, di laut. ”Kami menemukan beberapa bagian pesawat, tetapi pesawatnya sendiri belum ditemukan,” ujar juru bicara ASDF.
Belum diketahui apakah Kawakubo sempat menggunakan kursi pelontar untuk keluar dari pesawat sebelum pesawat itu jatuh ke laut.
Semua armada F-15 Jepang dilarang terbang sampai penyebab jatuhnya pesawat tersebut diketahui. Jepang memiliki 202 pesawat F-15 dan merupakan pengguna terbesar pesawat tempur tersebut di luar negara asalnya, Amerika Serikat.
Jepang memproduksi sendiri pesawat-pesawat tersebut di bawah lisensi yang diberikan kepada Mitsubishi Heavy Industries. Saat ini, Jepang sedang mencari pesawat baru untuk menggantikan armada F-15 yang sudah mulai menua.
AS sendiri juga berencana menggantikan armada F-15-nya dengan pesawat-pesawat yang lebih modern, seperti F-35 Lightning II dan F-22 Raptor. Meski demikian, pesawat-pesawat terbaru tersebut bukannya tanpa masalah.
Hingga saat ini, Angkatan Udara AS masih melarang terbang semua armada F-22 milik AS. Pesawat tempur termodern di dunia itu dilarang terbang sejak 3 Mei karena ditengarai bermasalah pada sistem pasokan oksigen untuk pilot.
Keputusan itu diambil AU AS setelah terjadi serentetan insiden, yang melibatkan pesawat berharga 411 juta dollar AS per unit ini. Salah satu insiden terjadi di Alaska saat sebuah F-22 menyerempet pucuk-pucuk pepohonan sebelum mendarat. Saat diperiksa, pilot pesawat itu mengaku sama sekali lupa telah menyerempet pohon, yang menunjukkan ia kemungkinan menderita hipoksia atau kekurangan oksigen.

KOMPAS

Aerosonic Announces New Order from Korea Aerospace Industries

Integrated Multi-Function Probe

Integrated Multi-Function Probe
The Integrated Multi-Function Probe (IMFPTM) provides data for Angle of Attack (AoA), Indicated Total Pressure (Pt), and Indicated Static Pressure (Ps). It provides data for AoA by sensing the direction of the local airflow. It has added sensing ports for impact and static like pressure on the rotating sensor probe. These pressures are used to calculate Pitot / Static, Airspeed, Mach number, and Altitude.
  • Added Functionality
    • Angle of Attack
    • Angle of Sideslip
    • Altitude
    • Airspeed
    • Mach Number
    • Pt
    • Ps
  • Configuration Changes to Accommodate
    • Airframes
    • Signature
  • Easily Incorporated Into Existing Airframes
http://www.indiamart.com/company/3461274/products.html

Aerosonic Corporation (AMEX:AIM), a leading supplier of precision flight products for commercial, business and military aircraft, today announced that it has received a new purchase order from Korea Aerospace Industries Ltd. ("KAI") in support of its T50 Golden Eagle jet trainer sale to Indonesia. The order is to supply air data systems that include its integrated multifunction probe ("IMFP") and related equipment for the production of the jet trainer aircraft. These additional shipments to KAI will begin in March 2012, and are planned to ship concurrently with existing orders.
The IMFP provides angle of attack, air data sensing and pressure sensing for military aircraft in one probe, reducing flight management system complexity on military aircraft. It is currently installed on several military aircraft.
"We are proud to play a role and share in the success of the T50 program and this very important win for KAI in their first international T50 export sale," commented Doug Hillman, President and Chief Executive Officer. "This order provides us with a significant increase in our backlog for one of our technologically advanced products in a growing segment of the military market, and further strengthens our relationship with a valued customer."
Aerosonic Corporation, headquartered in Clearwater, Florida, is principally engaged in the manufacture of aviation products. For additional information, visit the Company's website at www.aerosonic.com.
This document contains statements that constitute "forward-looking" statements within the meaning of the Securities Act of 1933 and the Securities Exchange Act of 1934, as amended by the Private Securities Litigation Reform Act of 1995. "Forward-looking" statements contained in this document include the intent, belief or current expectations of the Company and its senior management team with respect to future actions by officers and directors of the Company, prospects of the Company's operations, profits from future operations, overall future business prospects and long term stockholder value, as well as the assumptions upon which such statements are based.
Investors are cautioned that any such forward-looking statements are not guarantees of future performance, and that actual results may differ materially from those contemplated by such forward-looking statements. Important factors that could cause actual results to differ materially from those contemplated by the forward-looking statements in this document include, but are not limited to, adverse developments involving operations of the Company's business units, failure to meet operating objectives or to execute the business plan, and the failure to reach revenue or profit projections. The Company undertakes no obligation to update or revise the forward-looking statements contained in this document to reflect changed assumptions, the occurrence of unanticipated events, or changes to future operating results over time.

Read more: http://www.bradenton.com/2011/07/06/3326480/aerosonic-announces-new-order.html#ixzz1ROI1MfgS

BERITA POLULER