Pages

Wednesday, June 22, 2011

Anggaran Pertahanan Diusulkan Naik


JAKARTA - Anggaran sektor pertahanan tahun depan diusulkan naik sekitar 30 persen, dari Rp 47 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp 61 triliun. Peremajaan alutsista menjadi salah satu fokus penggunaan anggaran pertahanan tahun 2012.

”Kami berharap pembelian senjata jangan parsial, tidak ada transfer teknologi dan tanpa uji coba seperti terjadi selama ini,” kata anggota Komisi I DPR, Tubagus Hasanudin, yang dihubungi di Jakarta, Selasa (21/6). Padahal, sebanyak 49 persen usulan anggaran tersebut digunakan untuk belanja pegawai.

Dia mencontohkan pembelian pesawat latih dari Korea Selatan (T-50 Golden Eagle). Hingga kini belum ada transfer teknologi yang dilakukan kepada PT Dirgantara Indonesia. Demikian pula pembelian pesawat EMB-314 Super Tucano dari Brasil, tidak ditegaskan klausul transfer teknologi ke pihak Indonesia. Rencana pengadaan dua kapal selam bertenaga diesel juga dianggap kurang tepat karena teknologi diesel mudah dideteksi sonar.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Hartind Asrin mengatakan, proses anggaran masih berlangsung, tetapi pihaknya fokus pada belanja rutin dan pengadaan alutsista. ”Kami juga melakukan ofset, yakni pembelian pesawat latih tempur dari Korea T-50. Sebaliknya mereka membeli pesawat CN-235 dari Indonesia,” ujar Hartind.


A/T-50 Golden Eagle buatan KAI, Korea Selatan

Dia menyatakan, Kemhan fokus pada kesiapan tempur atau minimum essential force (MEF). Selain itu, ada pembangunan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian di Sentul, Bogor, yang membutuhkan biaya besar.

Namun, pembelian alutsista dalam jumlah kecil, seperti pengadaan dua atau empat pesawat tempur, dinilai tidak punya efek tangkal. ”Kenapa kita tak mengadakan secara utuh dalam satu tahun anggaran satu skuadron, semisal 18 Sukhoi senilai Rp 9 triliun. Tahun berikut bisa diadakan lima batalion tank. Praktis akan tersusun kekuatan utuh di darat, laut, dan udara,” ujar Hasanudin. Ia mengatakan, rencana anggaran itu menyinggung upaya perbaikan kesejahteraan prajurit yang kebanyakan masih merana.

RAPBN sektor pertahanan di Kemhan diusulkan Rp 3,3 triliun, di Mabes TNI Rp 7,03 triliun, TNI AD Rp 26,663 triliun, TNI AL Rp 13,249 triliun, dan TNI AU Rp 11,262 triliun.

Sumber : KOMPAS

Kapal Terbaru Operasional Basarnas


PONTIANAK - Sejumlah anggota Badan SAR Nasional (Basarnas) berada di atas kapal Rescue Boat (RB) 214 usai diresmikan, di dermaga Lanal Pontianak, Selasa (21/6). Kapal RB-214 yang memiliki panjang 36 meter tersebut, akan dioperasikan untuk mendukung Operasi Basarnas dalam upaya penyelamatan laut dan sungai di wilayah Kalbar hingga perbatasan dengan Batam di barat, Jakarta di selatan dan Semarang di tenggara. FOTO ANTARA/Jessica Wuysang/ed/nz/11


Atraksi Pasukan Marinir-1 Karang Pilang, Surabaya


SURABAYA - Sejumlah prajurit Korps Marinir jajaran Pasmar-1, melakukan berbagai atraksi tempur seperti: beladiri militer, parameter tempur, simulasi pendaratan pasukan dan artileri serta teknik penyapuan ranjau di Bhumi Marinir Karangpilang Surabaya, Selasa (21/6).

Berbagai peralatan tempur ditampilkan dalam kegiatan ini, termasuk ranpur terbaru Pasmar-1, BMP-3F. Marinir saat ini memiliki 17 unit BMP-3F dimana akan ditambah jumlahnya hingga memenuhi kebutuhan 2 batalyon Pasmar. Kegiatan tersebut bagian dari penyambutan kunjungan 746 taruna dari Akademi TNI dan Akademi Kepolisian, di Bhumi Marinir Karangpilang Surabaya, dalam rangka Bhinneka Eka Bhakti. FOTO ANTARA/Eric Ireng/ss/pd/11






Kunjungan Bersama Akmil & Akpol ke Mapolda Jatim


SURABAYA - Sejumlah Taruna Akademi Militer (Akmil) dan Akademi Polisi (Akpol) mengamati senjata mesin ringan saat kunjungan di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (20/6). Kunjungan dari 741 taruna dan taruni dari jajaran TNI-AL, TNI-AU, TNI-AD, dan Polri bertujuan untuk menjaga sinergi atau integrasi dalam pendidikan Akmil dan Akpol mempererat hubungan TNI dan Polri sejak masa pendidikan. FOTO ANTARA/M Risyal Hidayat/ed/NZ/11



Pengenalan Matra Taruna Akademi TNI

SUKOHARJO - Taruna Akademi TNI mendengarkan penjelasan tentang sistem persenjataan dan perlengkapan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) saat berkunjung ke Markas Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo, Jateng, Minggu (19/6). Acara tersebut bertujuan mengenalkan Matra TNI kepada calon-calon perwira TNI di masa depan. FOTO ANTARA/Andika Betha/Koz/pd/11.


Monday, June 20, 2011

Russian warship joins NATO drills in North Atlantic


Admiral Chabanenko destroyer
07:45 20/06/2011
MOSCOW, June 20 (RIA Novosti)
Russia's Admiral Chabanenko destroyer from the Northern Fleet will make a port call at the U.S. naval base of Norfolk on Monday in preparation for joint naval drills with NATO warships.
Admiral Chabanenko, an Udaloy II class destroyer, and rescue tug Shakhter will take part in the FRUKUS 2011 exercises, which will be held on June 23-30 in the North Atlantic off the east coast of the United States.
The annual naval drills, which traditionally involve France, Russia, Britain and the United States, practice interoperability for future joint anti-piracy operations under a UN mandate.
"The goal of the exercise is to practice interoperability between warships in a multinational task force fighting piracy and protecting convoys," a spokesperson for the Russian Defense Ministry said.
The FRUKUS 2011 exercise will consist of several stages including joint maneuvering, repelling attacks of fast-speed boats, boarding operations, and helicopter landings.
Previously called RUKUS, the exercises were launched in 1988 to promote dialogue between the Soviet Union, Britain, and the United States. The name was changed to FRUKUS in 2003, when France formally joined the group.
Admiral Chabanenko was on a two-month anti-piracy duty in the Gulf of Aden in Dec. 2009 - Jan. 2010, and successfully escorted several commercial convoys through pirate-infested waters off the Somali coast.

RIA NOVOSTI

U.S. congresswoman says Russian-French Mistral deal threatens U.S. security


Russia and France signed a $1.7 billion (1.2 bln euro) contract on two Mistral class ships for the Russian Navy in St. Petersburg on Friday.
A purchase of French-built Mistral class amphibious assault ships by Russia poses a threat to U.S. security and is aimed against Washington's allies, the chairwoman of the U.S. House of Representatives' Foreign Affairs Committee has said.
"It is deeply troubling that France, a NATO ally, has decided to ignore the clear danger of selling advanced warships to Russia even as Moscow is taking an increasingly hostile approach toward the U.S., its neighbors, and Europe itself," Ileana Ros-Lehtinen said in a statement.
Russia and France signed a $1.7 billion (1.2 bln euro) contract on two Mistral class ships for the Russian Navy in St. Petersburg on Friday.
In line with the contract, the first warship is to be delivered in 2014 and the second in 2015. The warships will be equipped with Russian weapon systems, Navy chief Adm.Vladimir Vysotsky said.
French President Nicolas Sarkozy hailed the contract as a sign of strategic partnership between the two countries.
The deal has alarmed Russia's neighbors, especially Georgia, whose relations with Russia remain very tense since the August 2008 five-day war between the countries over the breakaway republic of South Ossetia, which Russia subsequently recognized as independent.
"Many of our allies in the region, such as Georgia and the Baltic states, have experienced cyber attacks, severe economic pressure, and even invasion by Russia," Ros-Lehtinen's statement reads.
Russia and France in January signed an intergovernmental agreement to build two Mistral class helicopter carriers at the STX shipyard in Saint-Nazaire, France. Another two are planned to be built later in Russia.
Contract talks stumbled over Russia's demand for the transfer of sensitive electronic systems.
A Mistral class ship is capable of carrying 16 helicopters, four landing vessels, 70 armored vehicles, and 450 personnel.

RIA NOVOSTI

BERITA POLULER