Pages

Tuesday, May 10, 2011

Laporan dari AS Kunjungi AS, Komisi I DPR RI Minta Hibah F16

 
Endang Isnaini Saptorini - detikNews
Jakarta - Rombongan Komisi I DPR RI yang dipimpin oleh Hayono Isman melakukan kunjungan kerja ke Washington DC untuk bertemu dengan pejabat dari pertahanan AS. Dalam kesempatan tersebut, Komisi I DPR meminta Hibah pesawat F16 kepada negara adi kuasa itu.

Sebelumnya, rombongan sempat bertemu dengan Brad Wiegman dari Dewan Keamanan Nasional AS (National Security Division) di Gedung ‘Department of Justice‘ AS di Constitution Avenue Washington D. Setelah itu, Komisi yang membidangi pertahanan ini kemudian menuju Pentagon untuk bertemu dengan Departemen Pertahanan AS.

Dalam pertemuan selama satu jam tersebut, rombongan komisi I ditemui oleh Deputy Assistant Secretary of Defense, Robert Scher yang didampingi oleh Matice Wright (SES) Lt Col Tom Konicki (SEA Director) dan beberapa pejabat Pentagon lainnya.

Menjelang sore, rombongan Komisi I menuju ke Kementerian Luar Negeri AS untuk bertemu dengan Deputy Assistant Secretary for East Asian and Pasific Affairs, Joseph Yun dan Deputy Assistant Secretary for Arms Control and Verification, Marcie Ries.

Setelah pertemuan dengan para pejabat pertahanan AS itu, Indonesia memperoleh kepastian untuk mendapatkan hibah pesawat F16 dari AS.

"Proses yang semula diperkirakan akan memakan waktu sekitar 5 tahun, berhasil dipercepat hingga akhir Desember 2011. Yang terpenting adalah adanya penguatan industri pertahanan di tanah air," ujar Hayono kepada detikcom di Washington DC, Selasa (10/5/2011).

Kondisi pesawat hibah dari AS ini masih seperti 'kepompong', yang dibungkus dan sudah tidak pernah dipergunakan. Pesawat generasi tahun 90-an ini sudah tergolong tua, dan kemungkinan spare partnya juga sudah tidak diproduksi lagi. Peralatan pendukung seperti radar dan lain-lain perlu diperbaharui lagi.

"PT Dirgantara Indonesia menyatakan bahwa tenaga ahlinya sudah ada dan sanggup untuk melakukan tugasnya. Kita tinggal menunggu dari DOD (Departemen of Defence) yang akan mengajukan permohonan ini ke kongres AS bulan Juli mendatang," ungkap mantan Menpora ini.

Rombongan yang terdiri dari Hayono Isman (Ketua Delegasi), Sidarto Danusubroto, Gamari Sutrisno, Paula Sinjal, dan Ninung Kertapati juga dijadwalkan bertemu dengan Industri Pertahanan AS. Pertemuan yang dikoordinasikan oleh Cohen Group ini direncanakan akan menghadirkan lima pelaku industri pertahanan di AS, seperti produsen Boeing (Stenley Roth ), Northrop Grumman (Bill Ennis/John Brooks), Lockheed Martin (Cuck Jones/Rick Krikland), Honeywell (Eric Wagner) dan Sikorsky dan Pratt & Withney.

"Diharapkan pertemuan ini dapat memperoleh hasil yang signifikan bagi upaya percepatan perolehan hibah pesawat terbang dan penguatan industri pertahanan di Indonesia," imbuhnya.

(eis/her)

DETIK

Asops Danlantamal V Sambut kedatangan USS Guardian



10 Mei 2011, Surabaya (Dispen Lantamal V): Asisten Operasi (Asops) Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) V Kolonel Laut (P) Maman Firmansyah menyambut kedatangan Kapal Perang Amerika USS Guardian-5 di Dermaga Gapura Surya, Surabaya, Selasa (10/5). Hadir pula pada kesempatan itu, Dansatkamla Lantamal V Letkol Laut (P) Eko Vidiyantho, Kadissyahal Letkol Laut (P) Didik Dhuwijantoko, Dantim Intel Lantamal V Letkol Laut (E) Yudhi Mardhiyono serta perwira staf Lantamal V lainnya.

USS Guardian-5 mengadakan kunjungan ke Kota Pahlawan dalam rangka mengadakan latihan bersama (Latma) Penyapuan Ranjau dengan Satuan Kapal Ranjau (Satran) Komando Armada RI Wilayah Timur (Koarmatim). Rencananya USS Guardian berada di Surabaya selama kurang lebih enam hari hingga 16 Mei 2011 mendatang.

USS Guardian (MCM-5). (Foto: US Navy)

Beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan selama merapat di Surabaya, di antaranya yaitu mengadakan rapat koordinasi dengan Perwira Satran Koarmatim, kunjungan kehormatan ke Pangarmatim Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto, ke Danlantamal V Laksamana Pertama TNI M. Atok Urrahman, kunjungan kehormatan ke Walikota Surabaya, melaksanakan seminar dengan perwira TNI AL, mengadakan kunjungan ke KRI Pulau Rengat-711, open ship di atas USS Guardian untuk Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) dan SMA IPEM, undangan makan siang di USS Guardian, olahraga bersama, juga menerima kunjungan dari Cadet AAL dan masih manyak kegiatan lainnya yang akan dilaksanakan di Surabaya.

Kapal perang Amerika ini dibuat pada tahun 1985 tepatnya pada tanggal 8 Mei 1985, dengan jenis Kapal anti peperangan ranjau , berat 1.389 ton, panjang 68 meter, lebar 12 meter,Draf 4,0 meter, system pendorong 4 kali mesin diesel 2 kali controllable/reversible pithch propellers, 2 kali daun kemudi dan 2 kali light-load electric motor, dengan kecepatan 14 knot (26 Km/jam, 16 mil perjam). USS Guardian ini di Komandani oleh Lieutenat Commander Kenneth R. Brown dengan ABK berjumlah 81 personel, terdiri dari enam perwira, dan 75 anggota.

Setibanya di Dermaga Komandan USS Guardian beserta perwira stafnya disambut dengan tarian Jejer Jaran Dahau yaitu tarian yang berasal dari Daerah Banyuwangi pimpinan sanggar tari Ani Dancer. Tarian ini menggambarkan prosesi menyambut kedatangan tamu agung atau tamu yang dihormati dan sebelum tari-tarian dimulai dengan pengalungan bunga.

Sumber: Lantamal V

Uji Coba Senjata Buatan Pindad



10 Mei 2011, Baturaja: Pada saat ini PT Pindad telah memproduksi berbagai macam alutsista guna kepentingan Pertahanan Nasional khususnya untuk keperluan TNI. Salah satu produksinya adalah Mortir 60 Komando, Mortir 60 LR dan Mortir 81 Tampela yang telah diuji coba pada tanggal 2 Mei 2011 di Daerah Latihan Puslatpur Kodiklat TNI AD.

Mortir buatan PT. Pindad yang diuji coba adalah Mortir 60 Komando 3 pucuk, Mortir 60 LR 3 pucuk dan Mortir 81 Tampela 3 pucuk dengan jarak penembakan maksimal 8 km.

Adapun Tim uji coba terdiri dari 15 orang PT Pindad yang dipimpin oleh Bapak Iriyanto, 1 orang dari Pussenif Kapten Inf Jainal Abidin dan 4 orang prajurit Puslatpur Kodiklat TNI AD.

Sumber: Puslatpur

India to Continue Assisting Modernization of Vietnam Armed Forces


10 Mei 2011

Su-27/30 of the Vietnam People's Air Force (photo : Militaryphotos)

Indian Finance Minister Pranab Mukherjee says that India will continue to assist Vietnam in the modernization of its armed forces, particularly the Navy and Air Force.

In a discussion with Vietnamese Prime Minister Nguyen Tan Dung, in Hanoi, Mukherjee said “India is also prepared to strengthen intelligence cooperation with Vietnam.” He met the Vietnamese Prime Minister on may 4th. Mukherjee said that the strategic partnership established between the two countries is based on implicit mutual trust, a convergence of interests including in the field of defence and security and similar approaches on global and regional issues.

“As two dynamic and fast growing economies of Asia, our effort is to add greater content, through concrete programmes and projects, to our strategic partnership, he added.

In 1994, both the countries signed a Protocol on Defence cooperation. Over the years Indo-Vietnamese Defence cooperation has grown steadily through visits by military delegations, ship visits from India and training of Vietnamese Defence personnel in India. Both countries have held a series of India Vietnam Security Dialogue.

On Dec 18, 2007 Gen Phung Quang Thanh in his remarks (to the Defence Minister , AK Antony) put forward various proposals including training of Vietnamese Defence Personnel, enhancing the exchanges of delegations, expanding training cooperation and cooperation between the defence industries of the two countries. He also suggested increase in the frequency of goodwill visits by naval ships, application of information technology in defence and e- technology and technical support to Vietnamese navy. The Vietnamese Defence Minister expressed gratitude to India for providing training to armed forces officers in various areas and said ‘they are bringing back valuable knowledge and skills to their work areas’. So far, a total of 49 officers have attended various Army and Navy Courses and 64 officers have attended English language courses.

(Frontier India)

Boeing Delivers Super Hornet Trainers to Royal Australian Air Force


10 Mei 2011

Boeing Super Hornet trainer simulator (photo : AVStop)
ST. LOUIS, -- Boeing [NYSE: BA] today announced it has completed delivery of six F/A-18E/F Super Hornet aircrew and maintenance trainers to the Royal Australian Air Force at RAAF Base Amberley, Queensland.

"These are the first Super Hornet training devices for a Foreign Military Sale customer and are part of the acquisition and establishment of 24 Australian F/A-18F Block II aircraft, initial spares, support equipment, trainers and training," said Mark McGraw, Training Systems & Services vice president for Boeing.

The suite of aircrew devices includes two Tactical Operation Flight Trainers (TOFT) and two Low Cost Trainers (LCT).

Each TOFT is built on Boeing’s and L-3 Link’s proven F/A-18 simulator common hardware and software baseline, and is integrated with L-3 Link’s 360-degree SimuSphere visual display, SimuView image generator, and Boeing Training Systems & Services’ mission computer emulation; simulated radar, electronic countermeasures, and Joint Helmet Mounted Cueing System; and high-fidelity crew station controls. This provides both pilots and weapons sensor officers with a completely immersive training environment and a full spectrum of advanced tactical training.

The Boeing-built LCT runs a mission computer emulation and provides pilot and air combat officer training for navigation, weapons, radar, and electronic countermeasures. The LCT can be reconfigured to accommodate a number of aircrew training combinations with minimal facility requirements.

Two Integrated Visual Environment Maintenance Trainers (IVEMT) also were installed, including the conversion of an earlier VEMT to the IVEMT configuration.

"The IVEMT is a new development and the first fully integrated Super Hornet maintenance device," McGraw said. "It allows maintenance personnel to virtually train across all major Super Hornet systems and subsystems."

The IVEMT’s features include an interactive 3-D model environment, test/support equipment and realistic aircraft responses. Students can perform more than 500 routine troubleshooting procedures using the device.

Boeing is on schedule to complete delivery of the RAAF Super Hornets by the end of this year.

(Boeing)

Realisasi Hibah 24 F-16 Dipercepat


11 Mei 2011

Pesawat F-16 milik Air National Guard Amerika (photo : F16net)

Desember 2011, Realisasi Hibah 24 F-16

Jurnas.com REALISASI hibah 24 pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat kepada Indonesia, dijadwalkan lebih cepat. Jika tidak ada halangan, kemungkinan Desember tahun ini segera direalisasikan. Meski begitu, program hibah masih harus melalui meja Kongres AS yang dijadwalkan Juli depan. “Atase pertahanan KBRI memberikan gambaran program ini perlu waktu dua sampai lima tahun. Tetapi, setelah kami bertemu Pentagon, berhasil mempercepat proses pengadaan itu yakni 2011, akhir Desember,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hayono Isman di Washington DC tadi malam.

Pertemuan dengan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) merupakan salah satu agenda dari serangkaian kunjungan kerja Komisi I DPR RI ke AS. Menurut Hayono, yang penting bagi Indonesia bukan memiliki pesawat supercanggih F-16 untuk mengimbangi negara tetangga atau lainnya. "Indonesia ingin ada penguatan industri pertahanan kita," kata Hayono.

Karena itu, dalam program ini, Indonesia mengajukan PT Dirgantara Indonesia (DI) sebagai partner, minimal pemeliharaan. ”Biaya pemeliharaannya sangat mahal kalau harus dikirim ke AS, atau Singapura yang sudah memiliki fasilitas itu,” katanya.

Hibah didasarkan pada program EDE (excess defend article) yang selama ini menjadi aturan di AS. EDE membolehkan AS menghibahkan alutista militernya kepada negara lain yang dianggap sahabat AS. “Negara yang dianggap compatible dengan nilai-nilai yang dimiliki AS, misalnya demokrasi dan penegakan HAM. Indonesia dianggap sudah memenuhi kriteria itu,” kata mantan tokoh Kosgoro ini. Hibah ini merupakan hasil kunjungan Menteri Pertahanan AS Robert Gates ke Indonesia tahun silam.

(Jurnal nasional)

Baca Juga :

F-16 Harus Direparasi Total
11 Mei 2011

Jurnas.com MESKI dalam kondisi siap pakai tapi 24 F-16 hibah dari AS meski direparasi total. Sebab peralatan sudah banyak ketinggalan. “Intellectual property-nya, seperti peralatan komunikasi harus dipoles lagi dan bahkan diperbarui,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hayono Isman di Washington DC tadi malam.

Komisi I menginginkan dikerja samakan dengan PT Dirgantara Indonesia juga minta enam pesawat tambahan buat cadangan. ”Agar bisa dikanibal suku cadangnya sebab jenis yang dihibahkan ini sudah tidak dibuat lagi,” kata Hayono.

Dalam Foreign Military Sales, US Air Force bertanggung jawab pada pemeliharaan namun harus menunjuk perusahaan lokal AS, dan siapa yang ditunjuk oleh FMS,nantinya akan menjadi kontraktornya. Bisa saja FMS menunjuk Lockheed Martin, pabrik pembuatnya. “Tapi kita minta Lockheed Martin harus bekerja sama dengan PT DI. Kalau sampai tidak, kita tolak hibah ini,” tegas Hayono.

(Jurnal Nasional)

TNI Musnahkan Patok Malaysia yang Dipasang di Wilayah RI


(Foto: Cakgapur)

10 Mei 2011, Pontianak (ANTARA News): Komandan Korem 121/Alambhana Wanawwai, Kolonel Inftri Toto Rinanto Sudjiman menyatakan, pihaknya telah memusnahkan dua patok ilegal yang bertanda Juru Ukur Pemetaan Malaysia (JUP) karena masuk wilayah Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang sekitar 250 meter sehingga merugikan Indonesia.

"Atas penemuan itu sudah kami koordinasikan dengan aparat keamanan Malaysia dan mereka menyatakan dua patok itu ilegal sehingga langsung kami musnahkan," kata Totok Rinanto Sudjiman seusai menghadiri dengar pendapat dengan Gubernur Lemhanas di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar di Pontianak, Selasa.

Ia menduga, patok ilegal itu sengaja dibuat oleh warga negara tetangga itu, dengan tujuan untuk memperluas lahan pertanian mereka.

Danrem 121/ABW menyatakan, penemuan dua patok ilegal di sekitar Desa Sepidak, Kecamatan Jagoi Babang pada 21 April 2011 oleh masyarakat yang kemudian ditindak lanjuti dengan laporan camat ke Korem 121/ABW.

"Hingga saat ini permasalahan itu telah selesai. Untuk sementara kami belum menerima adanya kasus pergeseran patok tapal batas di tempat-tempat lain," ujar Totok.

Sementara itu, Camat Jagoi Babang Antonius Ale membenarkan, pihaknya bersama masyarakat telah menindaklanjuti temuan pergeseran patok tapal batas ke TNI.

Patok tapal batas ilegal itu ditemukan di rukun tetangga Sentabang, Dusun Kimdal, Desa Sepidak, Kecamatan Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang yang berbatasan dengan Kampung Sitas, Distrik Bauk (setingkat kecamatan) Malaysia.

"Patok itu sengaja dibuat warga negara tetangga itu, kemudian lahan sekitar 250 meter yang masuk Indonesia itu digunakan untuk pertanian," ujarnya.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjaya menyesalkan, tindakan warga negara tetangga tersebut yang bisa merugikan Indonesia.

"Modus seperti itu sudah sering terjadi dengan tujuan mengambil hasil bumi seperti kayu dan menanami dengan perkebunan, seperti sawit," katanya.

Apalagi menurut Wagub Kalbar sebagian besar kawasan perbatasan Indonesia dengan Malaysia adalah hutan lindung sehingga sangat rentan terjadinya pergeseran patok tapal batas dengan tujuan untuk aktivitas ilegal logging atau pembalakan hutan secara liar.

Panjang perbatasan darat antara Indonesia - Malaysia di Kalimantan mencapai 2.004 kilometer, terdiri dari Kalbar 857 kilometer dan Kalimantan Timur 1.147 kilometer.

Sumber: ANTARA News

BERITA POLULER