Pages

Monday, April 25, 2011

AS Tak Perlu Adili Sjafrie Sjamsuddin dengan Cekal

Senin, 25 April 2011 18:50 WIB | 614 Views
Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Shiddiq. (ANTARA/Ismar Patrizki)
Ini kan masalah kepercayaan saja. Tuduhan itu tidak benar sama sekali, makanya sudah saat cekal terhadap Sjafrie dicabut
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR RI Nurhayati Ali Assegaf mengatakan, Amerika Serikat tak perlu mengadili Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddin dengan cara mencekalnya untuk berkunjung ke AS.

"AS perlu menghargai kedaulatan kita sendiri. AS sebaiknya mencabut cekal tersebut," kata Nurhayati di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin.

Politisi Partai Demokrat itu menambahkan, apa yang dituduhkan kepada Sjafrie terkait pelanggaran HAM dalam kasus Tragedi Semanggi tidak terbukti sama sekali. "Ini kan masalah kepercayaan saja. Tuduhan itu tidak benar sama sekali, makanya sudah saat cekal terhadap Sjafrie dicabut," ujar dia.

Oleh karenanya, dalam kunjungan kerja Komisi I DPR RI ke AS tanggal 6 hingga 13 Mei 2011 mendatang, Komisi I akan meminta pemerintah AS mencabut cekal tersebut.

"Tidak hanya cekal Sjafrie Sjamsuddin yang dicabut, tapi Komisi I DPR RI akan meminta pemerintah AS mencabut cekal terhadap yang lainnya," kata Nurhayati.

Ketua Komisi I DPR RI Mahfud Siddiq mengatakan, kunjungan kerja Komisi I DPR RI ke Amerika Serika membawa misi untuk meminta kepada pemerintah Amerika Serikat agar mencabut "cekal" terhadap Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddin.

"Memang tidak khusus. Tapi anggota Komisi I DPR RI akan melobi pemerintah AS agar mencabut cekal Sjafrie Sjamsuddin," kata Mahfud kepada antaranews.com, Jakarta, Senin.
(zul)


ANTARA

Produksi Alutsista Lokal Dikembangkan



26 April 2011, Jakarta (SINDO): Pemerintah sedang mengembangkan produksi alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri. Targetnya, industri senjata nasional bisa memenuhi kebutuhan persenjataan.

”Dengan begitu, perusahaan-perusahaan seperti PT Pindad Persero, PT PAL,atau PT LEN bisa mengembangkan industrinya untuk memenuhi pasokan persenjataan di dalam negeri,” ungkap Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta kemarin. MenurutAgus,dalam waktu dekat pemerintah akan merevisi PP Nomor 38/2003 tentang Pembebasan Bea Masuk Bahan Baku Impor Alutsista Bersifat Umum.Semula hanya amunisi dan senjata, tapi kelak akan meluas ke kendaraan tempur, pesawat, radar, kapal laut, dan alat optik.

“Sejauh ini memang belum dibahas, tapi fokus kita akan mengembangkan industri persenjataan dalam negeri,” ungkapnya. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pembangunan industri pertahanan dalam negeri sudah ditetapkan oleh pemerintah. Termasuk pagu yang bisa dipakai untuk alokasi pendanaan, dan jumlahnya cukup besar dalam mendukung industri persenjataan.

Sekarang masih dalam proses penyusunan bluebook di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). “Setelah jadi dan ditetapkan oleh Menkeu, ke depan akan menjadi pegangan bagi kita untuk pembelanjaan alutsista,”tuturnya. Purnomo menjelaskan, lima tahun lalu pagu alokasi pinjaman baru dipakai sebagian dan sebagian lagi bisa di carry over untuk dipakai dan dengan jumlah yang cukup besar.

“Lima tahun lalu baru terpakai 40–50%,ditambah untuk pagu pinjaman saat ini,”ujarnya. Di tempat terpisah,PT Bank Mandiri Tbk memberikan pembiayaan kepada PT Palindo sebesar Rp65,97 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan dua unit kapal cepat rudal tipe 40 yang akan memperkuat armada TNI Angkatan Laut.

Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengatakan, satu unit kapal cepat rudal KRI Clurit dengan nomor lambung 641 telah selesai dibangun dan diresmikan oleh Menteri Pertahanan di Dermaga Batu Ampar, Batam. “Bank Mandiri ingin terus meningkatkan peran aktif dalam pengembangan teknologi alutsista,”katanya.

Sumber: SINDO

TNI Siapkan Satgaspam KTT Asean 2011


Satu per satu persenjataan yang akan digunakan oleh Satgaspam VVIP untuk mengamankan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) 2011 dilihat oleh Kasum TNI. (Foto: Puspen TNI)

25 April 2011, Jakarta (ANTARA News): TNI menyiapkan Satuan Tugas Pengamanan (Satgaspam) VVIP untuk mendukung pelaksanaan KTT ke-18 ASEAN yang akan berlangsung di Jakarta, 4-8 Mei 2011.

"Satgaspam VVIP KTT ASEAN 2011, tidak saja terdiri atas personel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) tetapi juga terdiri atas pasukan khusus seperti Gultor Kopassus, Denjaka, Denbravo, termasuk Taipur Kostrad, Kizi Jihandak dan Nubika," kata Kepala Staf Umum TNI Letjen TNI Y. Surjo Prabowo di Jakarta, Senin.

Dalam pemeriksaan kesiapan Satgaspam VVIP KTT ASEAN 2011, ia menambahkan, satuan pengamanan VVIP KTT ASEAN juga melibatkan Tim Satwa, serta pasukan dari Polda Metro Jaya.

Pada gelar kesiapan Satgaspam VVIP KTT ASEAN 2011 tersebut diperlihatkan berbagai demonstrasi ditampilkan oleh anggota Satgas mulai dari pengawalan VVIP, mengatasi peledakan bom, aksi unjuk rasa, penghadangan di jalan hingga penyelamatan VVIP dari gedung bertingkat.

"Semua dilakukan seperti kejadian yang sebenarnya, tidak ada keraguan dalam bertindak termasuk aksi peledakan bom untuk menyelamatkan VVIP yang dilakukan oleh anggota Satgaspam VVIP meskipun harus rela mengorbankan diri sebagai tameng hidup," katanya.

Sebelumnya, Kasum TNI melaksanakan peninjauan static show yang terdiri dari alat-alat deteksi, komunikasi dan elektronika serta berbagai peralatan yang akan digunakan dalam rangka pengamanan KTT ASEAN.

Dalam pengarahannya, Kasum TNI menekankan kepada prajuritnya agar ilmu yang didapatkan dan dimiliki selama ini digunakan untuk pengamanan VVIP.

"Waktu yang ada agar digunakan untuk berlatih dan berlatih, serta saling mengenal satu sama lain. Pengamanan KTT ke-18 ASEAN jangan dianggap biasa, tetapi biasakan yang benar," ujar Surjo Prabowo.

Ia menambahkan, penyelenggaraan KTT ke-18 ASEAN di Jakarta, merupakan kehormatan dan harga diri bangsa untuk menunjukkan kepada dunia internasional Indonesia mampu menyelenggarakan KTT ASEAN dalam keadaan aman dan nyaman.

"Untuk menyukseskan terselenggaranya KTT tersebut diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga keamanan, ketertiban dan kenyamanan kota Jakarta selama pelaksanaan KTT ASEAN," katanya.

Atraksi-atraksi yang ditampilkan antara lain, pengawalan VVIP, mengatasi peledakan bom, aksi unjuk rasa, penghadangan di jalan dan penyelamatan VVIP dari gedung bertingkat. (Foto: Puspen TNI)

Satgaspam VVIP yang akan mengamankan KTT Asean ini terdiri dari Paspampres, Gultor Kopassus, Denjaka, Denbravo, Taipur Kostrad, Kizi Jihandak, Nubika, Tim satwa, serta pasukan dari Polda Metro. (Foto: Puspen TNI)

Satgaspam VVIP menampilkan berbagai demonstrasi saat Kasum TNI melakukan pemeriksaan kesiapan di Mako Paspampres, Jakarta. (Foto: Puspen TNI)

Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI Y Surjo Prabowo memeriksa persenjataan Satuan Tugas Pengamanan (Satgaspam) VVIP (Very Very Important Person). (Foto: Puspen TNI)

Sumber: ANTARA News

Sejumlah prajurit TNI AL mengikuti peresmian KRI Clurit di Dermaga Batu Ampar, Batam,

foto kapal cepat ruda
BATAM, 25/4 - KAPAL CEPAT RUDAL. Sejumlah prajurit TNI AL mengikuti peresmian KRI Clurit di Dermaga Batu Ampar, Batam, Senin (25/4). KRI Clurit adalah kapal perang jenis kapal cepat rudal buatan dalam negeri, Bank Mandiri melakukan pembiayaan yang diberikan melalui PT Palindo senilai Rp 65,95 miliar guna membuat dua unit kapal cepat rudal. FOTO ANTARA/Maha Eka Swasta/mes/11

foto kapal cepat ruda
BATAM, 25/4 - KAPAL CEPAT RUDAL. Dari kiri ke kanan Dirut Palindo Marine Hermanto , Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Dirut Bank Mandiri Zulkifli Zaini, Direktur Commercial & Business Banking Bank Mandiri , Sunarso berbincang seusai peresmian KRI Clurit di Dermaga Batu Ampar, Batam, Senin (25/4). KRI Clurit adalah kapal perang jenis kapal cepat rudal buatan dalam negeri, Bank Mandiri melakukan pembiayaan yang diberikan melalui PT Palindo senilai Rp 65,95 miliar guna membuat dua unit kapal cepat rudal. FOTO ANTARA/Maha Eka Swasta/mes/11

ANTARA

Bank Mandiri Biayai Kapal Rudal TNI


Senin, 25 April 2011 15:45 WIB | 51 Views
KCR-40. (TNI AL)
"Kami bangga dapat turut serta dalam pembangunan kapal cepat rudal berteknologi tinggi yang murni dibuat anak bangsa."
Batam (ANTARA News) - Bank Mandiri membiayai pembangunan kapal cepat rudal 40 meter yang akan digunakan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) untuk mengamankan perairan Republik Indonesia.

"Pembiayaan diberikan melalui PT Palindo senilai Rp65,97 miliar untuk dua KCR-40," kata Direktur Utama Bank Mandiri, Zulkifli Zaini, Senin.

Zulkifli mengatakan, Bank Mandiri ingin meningkatkan peran aktif dalam pengembangan teknologi alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk menciptakan kemandirian bangsa dalam memperkuat kedaulatan nasional.

"Kami bangga dapat turut serta dalam pembangunan kapal cepat rudal berteknologi tinggi yang murni dibuat anak bangsa," kata dia.

Berbeda dengan pinjaman lain, ia mengemukakan, pembiayaan alutsista bersifat peminjaman dalam negeri.

Sebelumnya, kata dia, pengadaan alutsista TNI menggunakan skema kredit ekspor. Namun, ia menjelaskan, ketentuan itu dirubah, hingga kini menjadi pinjaman dalam negeri menggunakan mata uang rupiah murni, demi meningkatkan efesiensi dan kecepatan pembiayaan pengadaan alutsista.

Direktur Commercial and Business Bank Bank Mandiri, Sunarso, mengatakan bahwa hingga saat ini menyalurkan pembiayaan Rp388,78 miliar untuk pengembangan sistem persenjataan, radio detecting and ranging (radar) dan sejumlah alat/persenjataan lainnya.

"Bank Mandiri berkomitmen mendukung pembiayaan alutsista sejak 2007," kata dia.

PT Palindo Marine membangun KCR-40 Cluri yang diserahterimakan kepada Menteri Pertahanan, Purnomo Sugiantoro, di Batam, Senin.

KCR-40 Clurit dilengkapi sistem persenjataan modern di antaranya meriam kaliber 30 mm enam laras sebagai pertempuran jarak dekat dan peluru kendali dua set rudal C-705.
(T.Y011/B008)


ANTARA

Sunday, April 24, 2011

Siapakah Sesungguhnya Perompak Somalia?



©Dina Y. Sulaeman Rakyat Indonesia hari ini sedang dirudung keprihatinan karena belasan pelautnya tengah disandera pembajak Somalia. Dalam sebuah berita online tentang perompak Somalia, ada seorang komentator yang bertanya, "Mengapa negara-negara Barat mau bersepakat menyerbu Libya, tetapi tidak ada tindakan yang mereka ambil untuk mengamankan Teluk Aden?
Sungguh sebuah pertanyaan yang kritis. Ya, mengapa perompak Somalia ‘dibiarkan' sedemikian merajalela? Masa sih AS dan NATO dengan persenjataan mereka yang sangat canggih tak mampu menumpas pembajak laut dari sebuah negara sangat-sangat miskin, Somalia?
Dulu saya pernah menulis mengenai indikasi ‘pembiaran' perompak Somalia itu, dengan mengutip analisis William Engdahl dari Global Research. Singkatnya begini, AS yang melancarkan serangan ke Yaman dengan alasan ‘mengejar Al Qaeda', sesungguhnya menghendaki perubahan rezim di sana. Yaman berbatasan dengan Arab Saudi di utara, Laut Merah di Barat, Teluk Aden dan Laut Arab di selatan, di seberang Teluk Aden ada Somalia, Jibouti. Di sebelah Jibouti berderet Eritrea, Sudan, dan Mesir. Dengan demikian, semua negara itu (Arab Saudi, Mesir, Somalia, Jibouti, Eritrea, Sudan, dan Yaman saling berhadapan dengan Selat Mandab (Bab el Mandab) yang super-strategis.Tanker-tanker minyak dari Teluk Persia harus lewat ke Selat Mandab, baru kemudian melewati Kanal Suez, dan menuju Mediterania.
Menurut Engdahl, jika AS punya alasan yang diterima opini publik internasional untuk memiliterisasi Selat Mandab, AS akan punya kartu truf di hadapan Uni Eropa dan China bila mereka ‘berani' di hadapan AS. Suplai energi China dan Eropa sangat bergantung dari Selat Mandab. Bahkan Selat Mandab bisa dipakai AS untuk menekan Arab Saudi agar tetap melakukan transaksi dalam dollar Amerika (sebagaimana pernah diberitakan media, Arab Saudi dan beberapa negara -termasuk Iran-pernah melontarkan keinginan untuk melakukan transaksi tidak dengan dollar). Engdahl juga menyebutkan adanya informasi dari Washington bahwa ada sumber minyak yang luar biasa besar di Yaman, yang sama sekali belum dieksplorasi.
Engdahl kemudian menyoroti kasus bajak laut Somalia yang membuat kacau di Selat Mandab selama dua tahun terakhir. Pertanyaannya: bagaimana mungkin bajak laut dari Somalia, sebuah negara yang berada di nomor teratas dalam list ‘negara gagal' (failed state) sampai punya senjata dan logistik yang canggih, sampai-sampai dalam dua tahun terakhir mampu membajak 80 kapal dari berbagai negara? Bahkan pembajak Somalia itu memakai gaya-gaya penjahat di negara maju: menelpon langsung kantor koran Times di Inggris, memberitahukan bahwa mereka sudah membajak. Saat ini, tercatat ada 56 kapal asing yang masih berada dalam ‘tawanan' pembajak Somalia beserta 800-an awak kapalnya. Selain kapal Indonesia "Sinar Kudus", ada kapal FV NN Iran yang ditawan sejak 2 Maret 2009 bersama 29 krunya.
Merajalelanya perompak Somalia di Selat Mandab memberi alasan kepada AS untuk menaruh kapal perangnya di sana. Pemerintah Mesir, Sudan, Jibouti, Eritrea, Somalia, Arab Saudi, sudah terkooptasi oleh AS sehingga diperkirakan tidak akan memberikan reaksi negatif bagi militerisasi AS di Selat Mandab. Kini, masih ada satu negara di sekeliling Selat Mandab yang masih perlu ditaklukkan: Yaman.
Pemerintah Yaman memang pro-AS, tapi masalahnya, Presiden Ali Abdullah Saleh tidak cukup kuat untuk mengontrol negaranya, karena itulah dia harus ‘digulingkan'. Aksi-aksi protes di Yaman saat ini, karenanya, sangat bersesuaian dengan keinginan AS.

Analisis Engdahl ini terasa klop dengan laporan dari AFP yang merilis pernyataan dari pejabat Interpol. Menurut mereka, aksi-aksi pembajakan di lepas laut Somalia dikontrol oleh sindikat kriminal, termasuk orang-orang asing (non-Somalia) yang tergiur oleh kesempatan untuk mendapatkan uang tebusan multi-juta dollar. Para pembajak itu memiliki senjata-senjata dan alat pendeteksi yang sangat canggih sehingga mereka mampu melakukan pembajakan di perairan dengan jarak yang sangat jauh, bahkan mencapai 1.200 nautical mil (=1380,935 mil) di lepas pantai Somalia. Mick Palmer, pejabat Interpol dari Australia, menyatakan bahwa ada bukti yang jelas, yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kecanggihan perlengkapan yang dimiliki para pembajak. "Jadi mereka mendapatkan bantuan yang sangat canggih dalam mendeteksi keberadaan kapal-kapal perdagangan besar," kata Palmer.
Tak heran bila Jean-Michel Louboutin, direktur eksekutif kepolisian di Interpol yang berbasis di Prancis menegaskan, "Ini adalah kejahatan yang terorganisasi."
Lebih jauh lagi, pejabat Interpol itu menjelaskan bahwa pembajak laut Somalia sebenarnya hanya mendapatkan sebagian kecil dari uang tebusan. Rata-rata, setiap dua juta dollar yang mereka dapatkan sebagai uang tebusan, hanya 10.000 dollar yang masuk ke kantong mereka. Sisanya, masuk ke kantong sindikat kriminal. Setengah juta dollar akan diambil oleh orang yang menghantarkan tebusan (biasanya diantarkan dengan helikopter yang mendarat di atas kapal yang dibajak), dan setengah juta dollar lagi diambil oleh negosiator.
Dengan tegas Palmer menyatakan, "Ini adalah sebuah industri besar. Besar sekali uang yang bisa dihasilkan dari pembajakan. Tetapi, para pembajak itu sendiri, banyak di antara mereka adalah remaja miskin, hanya mendapat sebagian kecil saja dari uang itu."
Jadi, bila kita kembali ke pertanyaan yang diajukan komentator di atas, setelah membaca uraian artikel ini, menurut Anda, apa jawabannya?[]


IRIB

Iran Terus Eksis di Perairan Internasional untuk Tujukkan Kekuatan Angkatan Laut Republik Islam

Iran Terus Eksis di Perairan Internasional untuk Tujukkan Kekuatan Angkatan Laut Republik Islam Iran akan mempertahankan eksistensi strategisnya di perairan internasional guna menunjukkan kekuatan dan melindungi kepentingan Republik Islam.
IRNA melaporkan, hal itu dikemukakan hari ini (24/4) oleh Panglima Angkatan Laut Iran, Laksamana Habibollah Sayyari.
"Angkatan Laut Republik Islam Iran berusaha eksis secara aktif dan strategis di perairan internasional guna menunjukkan kekuatan dan demi menjaga kekayaan dan kepentingan negara".
"Ini merupakan hak kami untuk eksis di perairan internasional, dan kami akan menunjukkannya di mana pun guna melindungi kepentingan negara termasuk memerangi bajak laut di Teluk Aden, Somalia," tambahnya.
Menyusul peningkatan aksi perompakan laut di Teluk Aden, Iran mengirimkan armada baru ke kawasan itu guna melindungi kapal-kapal dagang dan tanker minyak Iran dari serangan perompak laut Somalia.
Sejalan dengan upaya masyarakat internasional memerangi perompakan laut di perairan Somalia, Angkatan Laut Iran melakukan patroli rutin di Teluk Aden sejak November 2008.
Menurutnya, angkatan laut yang strategis harus memiliki kemampuan untuk eksis di perairan internasional.
Lebih lanjut Laksamana Sayyari menjelaskan, bahwa kehadiran Angkatan Laut Iran di perairan internasional bertujuan "melindungi kepentingan yang jelas, menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan persahabatan, serta untuk menunjukkan kekuatan dan kemampuan Iran di laut.
Pada Februari lalu, dua kapal Angkatan Laut Iran, Khark dan Alvand, melewati Terusan Suez, jalur pelayaran strategis internasional di Mesir, untuk pertama kalinya sejak kemenangan Revolusi Islam pada tahun 1979.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran meraih prestasi besar di bidang pertahanan dan telah mencapai swasembada dalam memproduksi persenjataan dan sistem militer penting. (IRIB/MZ)

IRIB

BERITA POLULER