Pages

Friday, April 22, 2011

Prototipe Baru Radar Pantai Ditargetkan Selesai 2014


22 Agustus 2011

Radar pantai Indra yang telah dibuat oleh PT Inti (photo : Defense Studies)

JAKARTA: Prototipe baru radar pantai buatan dalam negeri untuk kepentingan pengawasan transportasi laut dan udara serta kepentingan pertahanan nasional ditargetkan selesai pada 2014.

“Sekarang sudah banyak riset-riset itu. Riset teknologi radar yang kuat akan menghasilkan inovasi radar yang bagus, dan pada 2014 harus sudah ada prototipe terbaiknya,” kata Menristek Suharna Surapranata di sela Seminar Radar Nasional (SRN) V 2011 yang bertemakan “Sinergi Kemampuan Bangsa untuk Kemandirian” di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan, sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono industri pertahanan nasional harus direvitalisasi, dengan demikian perlu disinergikan dengan riset-riset di dalam negeri sehingga di masa depan Indonesia akan lebih mandiri.

Anggaran Kementerian Ristek, diakuinya sangat kecil, tahun ini anggaran ristek untuk riset pertahanan hanya Rp15-20 miliar, karena itu diperlukan kerja sama dengan lembaga lainnya, seperti dari swasta dan universitas.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi Hari Purwanto di tempat sama mengatakan, Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan memiliki pesisir yang sangat panjang membutuhkan minimal 800 radar pantai.

Kebutuhan sebanyak itu, lanjut dia, harus dipenuhi oleh hasil-hasil riset dari dalam negeri dan diproduksi sendiri oleh industri yang ada di tanah air seperti PT Inti, PT LEN, PT Pindad dan lain-lain.

“Karena itu, prototipe yang dihasilkan oleh para ilmuwan di bidang radar harus bisa dimanfaatkan oleh sektor pertahanan maupun transportasi dan berorientasi pada industri,” katanya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Lukman Hakim mengatakan, melihat kebutuhan akan radar yang sangat besar, Indonesia jangan hanya menjadi pasar bagi produk-produk dari luar negeri.

“Kita harus berperan di negeri sendiri dengan meningkatkan kemandirian dalam pembuatan produk-produk yang mempunyai nilai tambah besar seperti radar,” katanya.

LIPI, urainya, sudah berinisiatif meneliti soal radar ini sejak 1988 dan telah menghasilkan prototipe radar ISRA (Indonesian Surveillance Radar) yang telah dikomersialisasikan melalui kerja sama dengan PT Inti dan dimanfaatkan di Selat Sunda.

Sedangkan Staf Ahli Menhan bidang Teknologi dan Industri Dr Timbul Siahaan mengatakan, Kementerian Pertahanan harus mulai memanfaatkan kapasitas industri yang ada di dalam negeri untuk memenuhi segala kebutuhan di bidang pertahanan nasional.

Sampai dengan 2025, ujar dia, diharapkan 32 radar di seluruh Indonesia bisa dipenuhi dengan penambahan 15 satuan radar baru.

Dalam SRN V ini dipresentasikan 43 makalah oleh para peneliti di bidang radar.(hh)

(Bisnis Jabar)

Tentara Thailand-Kamboja kembali Baku Tembak di Perbatasan, 6 Tewas


Suci Dian Firani - detikNews
 
Tentara Thailand-Kamboja kembali Baku Tembak di Perbatasan, 6 Tewas
Ilustrasi: Tentara Kamboja (AFP)
Bangkok - Militer Thailand dan Kamboja kembali terlibat baku tembak gara-gara sengketa batas wilayah di dekat kuil Hindu Preah Vihear. Insiden itu menyebabkan 6 orang tewas dan 12 lainnya terluka, termasuk 3 tentara Thailand yang dilaporkan dalam kondisi kritis.

Korban tewas terdiri dari 3 tentara Thailand dan 3 tentara Kamboja. Ribuan penduduk desa juga terpaksa dievakuasi. Demikian seperti dilansir AFP, Jumat (22/4/2011).

Menurut catatan, ini adalah kejadian paling serius sejak pertempuran pada bulan Februari 2011 lalu. Pertempuran di dekat kuil Preah Vihear yang telah berumur 900 tahun itu menyebabkan 10 orang tewas.

Kedua belah pihak saling menyalahkan atas bentrokan terakhir yang pecah di pagi hari dan berlangsung selama beberapa jam ini.

"Tentara Kamboja yang menembak pertama kali dengan senapan di Thailand dan kami hanya melakukan pembalasan yang sesuai. Saya pikir Kamboja ingin mengambil alih kuil di perbatasan," kata Menteri Pertahanan Thailand, Jenderal Prawit Wongsuwon.

Sebaliknya, Kamboja menuduh tentara Thailand memasuki 0,4 kilometer (0,25 mil) ke wilayahnya.

"Pasukan Thailand berbaris langsung menuju posisi pasukan Kamboja yang ditempatkan di kuil Krabei Ta dan meluncurkan serangan tak beralasan. Ini adalah satu lagi invasi oleh Thailand di Kamboja dan kita tidak bisa menerima hal ini," kata Juru Bicara Pemerintah Kamboja, Phay Siphan.

Perbatasan Thailand-Kamboja belum sepenuhnya dibatasi, sebagian karena dipenuhi dengan ranjau darat sisa dari perang di Kamboja. Konflik memanas ketika UNESCO memberikan status kuil Hindu Preah Vihear sebagai warisan dunia.

Pengadilan Dunia pada tahun 1962 memutuskan bahwa kuil itu milik Kamboja, namun kedua negara mengajukan klaim kepemilikan seluas 4,6 kilometer persegi (1,8 mil persegi) dari daerah yang berdekatan.

Kamboja telah meminta mediasi luar untuk membantu mengakhiri kebuntuan itu, tapi Thailand menegaskan sengketa harus diselesaikan melalui pembicaraan bilateral.

Pada bulan Februari, anggota Dewan Keamanan PBB menyerukan kepada kedua negara untuk "menahan diri" dan melakukan gencatan senjata. Permintaan itu disampaikan pemerintah Indonesia selaku ketua blok regional ASEAN.

"Indonesia, sebagai ketua ASEAN saat ini, menyerukan penghentian segera pertikaian antara Kamboja dan Thailand," kata Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa.

Dia mengatakan bahwa dia telah melakukan kontak dengan rekan-rekannya Thailand dan Kamboja, mendesak kedua negara untuk menyelesaikan pertikaian mereka melalui cara-cara damai.

detik news

Operasi di Teluk Aden Dipertingkat


22 April 2011

MV Bunga Mas Lima yang dipakai sebagai kapal markas TLDM di Teluk Aden (photo : Militaryphotos)

Malaysia hantar satu lagi kapal auxillary pastikan ancaman lanun dapat dikekang

KUALA LUMPUR: Malaysia merancang meningkatkan operasi keselamatannya di Teluk Aden, Somalia termasuk menambah bilangan kapal auxillary dan keperluan logistik di perairan itu bagi memberi perlindungan kepada kapal dagang negara daripada serangan lanun.

Difahamkan, proses pengubahsuaian kapal itu sedang giat dilakukan dan dijadualkan siap dalam masa tiga bulan sebelum dihantar untuk operasi di Teluk Aden, September ini.

Operasi itu dilakukan dengan kerjasama Perbadanan Perkapalan Antarabangsa Malaysia (MISC) yang akan menanggung keseluruhan kos operasi khas berkenaan.

Helikopter Fennec turut dibawa bersama kapal Bunga Mas Lima (photo : Militaryphotos)

Panglima Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM), Laksamana Tan Sri Abdul Aziz Jaafar, berkata kehadiran kapal auxillary kedua di perairan itu dijangka dapat membantu kapal pertama, MV Bunga Mas 5 yang digunakan Pasukan Khas Laut (PASKAL).

MV Bunga Mas 5 adalah projek perintis kerjasama strategik TLDM dan MISC dalam Ops Fajar di Teluk Aden.

“Bagi TLDM, kehadiran kapal kedua ini mampu memastikan operasi keselamatan kita dilaksanakan secara lebih komprehensif, malah kawasan operasi dapat diperluaskan,” katanya dalam temubual khas sempena Hari TLDM Ke-77 di sini, semalam.

PASKAL di kapal Bunga Mas Lima membawa sea raider (photo : Militaryphotos)
Beliau berkata, kapal tambahan juga membolehkan tugas mengiringi dan memberi perlindungan keselamatan bagi kapal dagang Malaysia dilakukan secara berterusan di kedua-dua laluan pelayaran di Teluk Aden.
“Sebelum ini, kita hanya ada MV Bunga Mas 5 ...mana-mana kapal dagang kita kena tunggu giliran untuk diiringi ketika melalui Teluk Aden. Jika ada dua kapal, kita boleh buat operasi timur ke barat, begitu juga sebaliknya secara serentak. Ini membantu menjimatkan masa dan kos,” katanya.

Bagaimanapun, Abdul Aziz menafikan kerajaan terpaksa menanggung beban kewangan berikutan penggunaan aset itu kerana kos penyelenggaraan dan alat ganti kedua-dua kapal, termasuk helikopter jenis Fennec yang ditempatkan di atas MV Bunga Mas 5 ditanggung sepenuhnya oleh MISC.

“TLDM hanya menyediakan anggota dan peralatan, termasuk helikopter serta persenjataan. Semua kos lain, termasuk bahan api dan alat ganti ditanggung MISC,” katanya.

Sementara itu, beliau berkata, cadangan penggabungan operasi keselamatan negara Asean di Teluk Aden perlu diperhalusi kerana dikhuatiri boleh menimbulkan beban kewangan kepada negara yang menyertai operasi itu.

(Berita Harian)

Ukrspetseksport Ships 12 Of BTR-3E1 To Thailand


22 April 2011

12 BTR-3E1 ship to Thailand (photo : Militaryphotos)

The State Company for Export and Import of Military and Special-Purpose Products and Services, Ukrspetseksport, on April 19 shipped 12 of BTR-3E1 to Thailand, reads a statement made by Ukrspetseksport.

The armored troop carriers successfully passed acceptance of the Thai side's technical supervision, they fired shoots from all types of weapons, and also fired missiles.

The machines shipped to the customer by the Kyiv Repair and Engineering Works state enterprise.

Ukrspetseksport notes, this is another batch of BTRs that are supplied to Thailand under the contract concluded in 2007.

It did not specify the exact number of machines already delivered.

As Ukrainian News earlier reported, Ukraine in 2007 won the tender for supplying 96 of BTR-3E1 armored troop carriers to Thailand worth USD 117 million.

The supply of Ukrainian combat vehicles was supposed to start in 2009 and end in late 2009 but execution of the contract was postponed since lingering reconciliation of the BTR powertrain.

BTR-3E1 is made on the basis of BTR-80. It weighs 16.4 tons, carries nine crewmembers.

(Ukranian News)

Thailand Selects ESSM for Frigates


21 April 2011

The RIM-162 Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM) is a development of the RIM-7 Sea Sparrow missile, this medium-range surface-to-air missile can reach 50+km target and mach 4+ with semi-active radar homing of missile guidance system (photo : US Navy)
The Royal Thai Navys two Naresuan-class (Type 25T) frigates are to receive RIM-162 Evolved SeaSparrow Missile (ESSM) air defence missiles as part of a mid-life refit programme starting in 2012.

HTMS Naresuan 421, is a modified version of the Chinese-made Type 053 frigate built by Zhonghua shipyard and comissioned in 1995, the frigates has 120.5 m length and 2,980 tonnes full load (photo : worldwarships)

Raytheon has been selected to provide the medium-range semi-active radar-guided missiles for the Chinese-built frigates, a company executive told Janes at the US Navy Leagues Sea-Air-Space 2011 exhibition on 12 April.

(Jane's)

TNI Terus Awasi Kapal Sinar Kudus di Somalia



21 April 2011, Jakarta (ANTARA News): Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan bahwa pasukan TNI yang berada di sekitar Somalia terus memantau situasi kapal MV Sinar Kudus yang disandera beserta krunya oleh kawanan perompak.

"Pasukan siaga terus. Kita masih standby," kata Agus Suhartono di kantor kepresidenan di Jakarta, Kamis.

Agus menegaskan, TNI selalu siap dengan semua opsi, termasuk serangan militer untuk menyelesaikan pembajakan tersebut.

Menurut Agus, saat ini upaya mengakhiri pembajakan masih berlangsung melalui langkah-langah negosiasi. PT Samudera Indonesia terus berkomunikasi dengan pembajak tentang mekanisme pembayaran uang tebusan.

"Sekarang ini yang kita cermati adalah mekanismenya, kan tidak mudah itu bagaimana menyampaikan tebusannya dan sebagainya."

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengemukakan, pemerintah sudah mengerahkan kekuatan militer ke Somalia sebagai upaya penyelamatan 20 WNI ABK kapal MV Sinar Kudus, yang dibajak perompak di wilayah itu.

Dua kapal freigat dengan 401 tentara gabungan Korps Marinir TNI Angkatan Laut dan Korps Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat ditugaskan ke perairan di sekitar benua Afrika.

Dijelaskannya, pada 17 Maret pemerintah menerima informasi pembajakan kapal milik PT Samudera Indonesia oleh perompak Somalia.

"Sehari kemudian, dirapatkan, lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan agar mengutamakan keselamatan awak kapal. Rapat kembali digelar 20-22 Maret, yang menghasilkan dua opsi. Yaitu, pemerintah mendukung negosiasi pemilik kapal dengan para lanun, sekaligus menyiapkan pasukan khusus untuk menyerbu dan merebut Sinar Kudus," tuturnya.

Djoko menambahkan, demi keselamatan awak, pemerintah memilih mengedepankan sisi negosiasi dan menyembunyikan opsi penyerbuan.

Pada 23 Maret, kapal diberangkatkan, agar segar dan siap tempur, anggota Kopassus terbang ke Kolombo, Sri Langka. Kapal merapat di Kolombo untuk menjemput mereka dan mengisi logistik. Pasukan bergerak dari Kolombo pada 30 Maret.

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menambahkan, karena letak Somalia yang jauh, membuat kedua kapal itu terlambat mencegat MV Sinar Kudus. "Tanggal 2 April, Sinar Kudus lego jangkar, merapat ke daratan. Kami berharap ketemu di laut, tapi baru sampai di posisi lego jangkar pada 5 April," katanya.

"TNI menerbangkan helikopter, untuk mengecek situasi dan kondisi di lapangan dan `Sinar Kudus` berada di dekat daratan, di tengah puluhan kapal yang dibajak perompak," katanya.

Berdasarkan situasi dan kondsi tersebut, Pemerintah memutuskan mengedepankan negosiasi dan menempatkan kedua kapal freigat itu di dekat Somalia.

Dua kapal itu, dimaksudkan untuk mengawal mengawal "Sinar Kudus" pulang jika negosiasi berhasil.

Sumber: ANTARA News

SBY Senang Dihibahi Kapal Brunei


Presiden SBY memperkenalkan para menteri penyambut kepada Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah, di halaman depan Istana Merdeka, Kamis (21/4) siang. Ini merupakan kunjungan kehormatan. (Foto: abror/presidensby.info)

21 April 2011, Jakarta (TEMPO Interaktif): Sultan Hassanal Bolkiah Brunei Darussalam berkunjung ke Istana Merdeka hari ini. Berbatik hitam, mantan pria terkaya di dunia itu datang mengendarai mobil limousin berwarna hitam sekitar pukul 14.00 WIB. Begitu turun dari mobil, Sultan langsung menyalami Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkemeja tenun ikat kehijauan. Ia juga menyalami menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua yang turut menyambutnya.

"Presiden berterima kasih untuk hibah kapal dari Brunei," ujar Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah usai pertemuan di Istana Merdeka, Kamis (21/4).

Brunei menghibahkan dua kapal patroli: KDB Waspada (P02) dan KDB Pejuang (P03), sebagai bagian dari upaya meningkatkan hubungan militer kedua negara. Pemberian itu diumumkan Wakil Menteri Pertahanan Brunei Dato Paduka Hj Mustappa Hj Sirat ketika Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan ke Bandar Seri Begawan, Brunei, pada Februari lalu.

Dua kapal yang tiap unitnya bernilai sekitar Rp 50 miliar itu bakal diberangkatkan dari Brunei tanggal 28 April. Kapal sepanjang 44 meter tersebut dibuat tahun 1977-1978 oleh pabrikan Inggris, dan dihibahkan beserta suku cadangnya yang diperkirakan cukup untuk waktu sepuluh tahun. Biaya perjalanan, pelatihan awak, dan administrasi surat-surat semuanya diongkosi Brunei.

Dalam pertemuan tak sampai sejam itu, Yudhoyono berterima kasih juga untuk keberhasilan penanganan sekitar 170 ribu orang buruh migran Indonesia di negeri jiran tersebut. Sebagai Ketua ASEAN, ia juga meminta dukungan Sultan Brunei terhadap program ketahanan pangan dan energi ASEAN. Kepada sejawatnya, Yudhoyono menyampaikan Indonesia sedang merampungkan rencana induk percepatan pembangunan ekonomi Indonesia, dan berharap Brunei ikut berinvestasi.

"Sultan Brunei memberi dukungan pada ASEAN, dan menyambut positif tawaran investasi," kata Teuku Faizasyah.

Sumber: TEMPO Interaktif

BERITA POLULER