Pages

Wednesday, April 13, 2011

TNI Angkatan Laut Siap Serbu Lanun Somalia


MV Sinar Kudus.

14 April 2011, Jakarta (TEMPO Interaktif): Markas Besar TNI Angkatan Laut menyatakan siap membebaskan awak kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia. "Jika pimpinan tertinggi memerintahkan, kami akan menyiapkan diri secepatnya," kata juru bicara TNI-AL, Laksamana Pertama Prasodjo, ketika dihubungi kemarin.

Menurut Prasodjo, TNI-AL memiliki pasukan terlatih yang bisa bergerak cepat begitu ada perintah operasi. Ihwal unit pasukan mana yang akan dikirim, “Itu tergantung pada skala ancamannya,” ujar Prasodjo.

Kesiapan untuk membebaskan sandera juga disampaikan Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat. “Jika dibutuhkan kami siap membantu,” kata Kepala Dinas Penerangan Kopassus, Letnan Kolonel Thevi A Zebua, kemarin.

Direktur Pusat Studi Intelijen dan Keamanan Nasional, Dinno Cresbon, mengatakan pemerintah sebenarnya telah menyiapkan tim operasi khusus dari Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) TNI-AL. “Mereka sudah latihan pembebasan sandera dalam satu-dua hari ini,” kata Dinno kemarin.

Anggota tim khusus itu, menurut Dinno, juga pernah latihan menanggulangi teror bersama pasukan marinir Amerika Serikat.

Mantan Kepala Staf TNI-AL, Laksamana (Purn) Bernard Ken Sondakh, mengatakan perang dengan perompak tak cukup dilakukan di laut. "Cari sarangnya di darat," kata Bernard kemarin.

Belajar pada pengalaman TNI-AL di Selat Malaka, menurut Bernard, menangkap perompak di lautan ternyata sangat sulit. "Seperti mencari jarum di Danau Sunter." Karena itu, TNI-AL memilih mengamati dulu gerak-gerik perompak sampai mengetahui sarangnya. "Kami tidak kejar di laut, tapi sergap di darat," ujar dia.

Operasi pemberangusan perompak, menurut Bernard, saat ini mestinya menjadi lebih mudah. Soalnya, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan resolusi khusus yang mengizinkan setiap negara menggelar operasi militer untuk memburu para lanun.

Sumber: TEMPO Interaktif

Opsi Pembebasan Sandera Masih Rahasia

Pemerintah masih menimbang opsi terbaik. Nyawa dan keselamatan awak kapal jadi prioritas.
Rabu, 13 April 2011, 13:56 WIB
Elin Yunita Kristanti, Aries Setiawan
Perompak Somalia (www.marinecorpstimes.com)

VIVAnews - Penyanderaan kapal Indonesia, MV Sinar Kudus beserta 20 awak kapal saat ini memasuki hari ke-29. Para sandera berharap pemerintah segera mengambil tindakan. Sebab, persediaan makanan dan air bersih makin menipis. Hidup mereka jadi taruhan.

Apa yang akan dilakukan pemerintah, masih teka-teki. Namun, Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa memastikan, pemerintah tak tinggal diam, terus mengupayakan pembebasan para awak kapal milik PT Samudera Indonesia itu.

"Tahap terakhir komunikasi mereka dengan pihak penyandera, dari pemilik kapal komunkasi terus berjalan. Akan ada upaya terus menerus untuk bisa memastikan pembebasan dari ke 20 warga negara kita sesegera mungkin," ujar Marty Natalegawa di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu 13 April 2011.

Kata Marty, seperti yang disampaikan Presiden SBY secara lugas dan tegas, pemerintah akan mengambil berbagai opsi yang memang harus diambil. "Bukan saja direncanakan, tapi dilaksanakan," tambahnya.

Sementara, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto menuturkan, pemerintah masih memilih berbagai opsi yang paling baik dan memungkinkan untuk misi pembebasan 20 WNI.

"Ini sedang dirundingkan bersama, yang jelas opsi terbaik. Ada hal-hal yang tidak bisa saya sampaikan dipublik. Presiden sudah sampaikan kemarin," imbuhnya.

Yang pasti, kata Djoko, pemerintah berupaya keras untuk menyelamatkan nyawa 20 warga negaranya. "Prioritas adalah keselamatan awak kapal. Tidak ada yang menginginkan awak kapal mengalami hal yang tidak diinginkan. Keluarga juga selalu minta demikian. Bahwa keinginan untuk kita segera membebaskan, kita semua juga," tuturnya.

Sebelumnya, Selasa 12 April 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantah pemerintah lamban menangani penyanderaan Sinar Kudus. Tak semua langkah pemerintah bisa diungkap ke publik. "Mengapa? Karena Menyangkut keselamatan saudara-saudara kita yang disandera, menyangkut keselamatan yang bisa saja mengemban tugas tertentu (sebagai) pembebas," jelas SBY." Misi rahasia selalu diam-diam. (eh)
• VIVAnews

Pengamat: Beri Waktu Pemerintah Bebaskan Sandera WNI

Rabu, 13 April 2011 21:41 WIB | 740 Views
Guru Besar Hukum Internasional FHUI Hikmahanto Juwana (FOTO ANTARA/ Ujang Zaelani)
Berita Terkait
 
Jakarta (ANTARA News) - Pengamat Hukum Internasional Hikmahanto Juwana meminta publik dan keluarga para korban untuk memberi ruang dan waktu kepada Pemerintah menjalankan kewajibannya setelah Presiden menyatakan komitmennya untuk membebaskan sandera WNI dari para perompak Somalia.

"Permintaan Presiden SBY kemarin dan diulang oleh Menlu Marty Natalegawa hari ini, perlu direspons secara positif oleh publik dan media massa," kata Hikmahanto Juwana dalam keterangan tertulisnya yang diterima ANTARA, di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, jangan sampai kritikan kepada Pemerintah oleh publik menjadi kontra produktif terhadap upaya penyelamatan para ABK.

"Jangan sampai Pemerintah dipaksa membuka informasi rahasia yang berujung pada diketahuinya strategi pemerintah," katanya.

Ia menilai, dalam situasi penyelamatan sandera, publik harus mempercayakan kepada Pemerintah karena memiliki sumber daya yang diperlukan sehingga publik tidak dapat berbuat banyak kecuali mengandalkan tangan dan kewenangan Pemerintah.

"Tetapi publik dan keluarga korban tentu memiliki hak untuk diberitahu kemajuan dari apa yang dilakukan oleh Pemerintah," ujarnya.

Pemerintah, kata dia, harus pandai mengelola keingintahuan publik dan keluarga korban sehingga tidak menganggu strategi pemerintah dalam upaya pembebasan para ABK.

"Disamping itu pengelolaan dilakukan agar tidak ada kesan pengabaian kewajiban negara terhadap warga negara," katanya.

Selain Kapal Sinar Kudus yang berbendera Indonesia, saat ini masih ada 26 kapal lain dari 16 negara yang disandera para perompak Somalia. Jumlah anak buah kapal yang disandera adalah 583 orang, termasuk 20 orang WNI.(*)

ANTARA

Pemerintah Tidak Bernegosiasi dengan Perompak

Staf Khusus Presiden bidang hubungan internasional Teuku Faizasyah (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Berita Terkait
 
Jakarta (ANTARA News) - Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah menyatakan bahwa tidak ada pemerintah yang melakukan negosiasi dengan perompak, termasuk Indonesia dalam menangani pembajakan kapal "Sinar Kudus" di perairan Somalia.

"Pemerintah di mana pun tidak mau negosiasi dengan perompak, kalau pun ada negosiasi tidak dilakukan atas nama pemerintah, walau pun ada fasilitasi," kata Faiza di Istana Negara di Jakarta, Rabu.

Menurut Faiza, Pemerintah Indonesia melakukan komunikasi dengan seluruh pihak, tidak hanya dengan pemerintah Somalia namun juga dengan pihak-pihak lain yang dapat memberi akses kepada para perompak.

"Tapi tentu tidak bisa kami jelaskan secara terinci," katanya.

Sementara terkait dengan ijin Pemerintah Somalia untuk melakukan operasi militer, Faiza mengatakan pemerintah Somalia bisa saja memberikan pernyataan apa saja, namun fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa mereka tidak menguasai negaranya sendiri.

"Nanti kita malah membantu melawan lawan-lawan politiknya kalau kita operasi militer," katanya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Menko Polhukam Djoko Suyanto. Ia mengatakan bahwa komunikasi dengan perompak dilakukan oleh perusahaan pemilik barang.

"Pemerintah tidak ikut. Mereka tidak pernah berhubungan dengan pemerintahan. Tetapi pemerintah Indonesia dari awal dengan pemilik kapal sudah ada komunikasi," katanya.

Menurut Djoko, negosiasi juga melibatkan agen-agen dari sejumlah negara seperti Inggris, AS, dan Singapura.

"Ada banyak. Kita kontak-kontak, poin kita cari yang paling pas," katanya.

Menurut Djoko, saat ini sedang dicari mekanisme yang paling tepat untuk menyelesaikan kasus itu. Ia juga menyebutkan kesiapan pemilik kapal untuk menyelesaikan permasalahan itu.

"Mekanismenya bagaimana, mengirimnya bagaimana, kepada siapa, penghubungnya siapa, dan jalurnya bagaimana. Proses itu sedang dimatangkan tapi yang paling utama adalah prioritas...pada keselamatan awak kapal," katanya.

Sementara itu terkait opsi operasi militer, Djoko mengatakan bahwa keputusan yang diambil adalah yang paling baik untuk keselamatan awak kapal.

Djoko juga mengatakan bahwa para awak kapal diharapkan dapat segera dibebaskan sekali pun tidak memberikan batas waktu yang pasti untuk pembebasan sandera.

Selain kapal Sinar Kudus, saat ini masih ada 26 kapal lain dari 16 negara yang disandera para perompak Somalia. Jumlah anak buah kapal yang disandera adalah 583 orang, termasuk 20 orang WNI.


ANTARA

Indonesia Seeks Offset Barter Over T-50 Jet Buy


14 April 2011

KAI T-50 Golden Eagle (photo : Yunjin Lee)

SEOUL - Indonesia wants South Korea to buy four more of its locally built CN-235 maritime patrol aircraft in an offset barter deal over Indonesia's purchase of 16 T-50 trainer jets, according to government and industry sources here.

On April 12, the Seoul government announced that it won exclusive rights to negotiate the sale of the T-50 Golden Eagle, co-developed by Korea Aerospace Industries (KAI) and Lockheed Martin of the United States, to Indonesia. The T-50 had competed with Russia's Yak-130 and the Czech-built L-159B.

Jakarta notified Seoul of a plan to "treat KAI as the de facto preferred bidder" for its advanced trainer acquisition contest, according to a spokesperson for South Korea's presidential office Blue House.

"Both governments agreed in principle to sign a memorandum of understanding on the sale of the T-50 within the next nine months," he said.

In a news conference at the Ministry of National Defense, KAI Chief Executive Officer Kim Hong-kyung said the T-50 would be sold "much cheaper" than its original price tag of $20 million to $25 million.

"We asked our suppliers to lower the costs of manufacturing T-50 spare parts, and based on those efforts, we offered a per-unit price far lower than standard price," Kim said. He hinted that the total value of the trainer deal would be lower than the estimated $400 million, which is based on a per-unit price tag of $25 million.

"The final value of the trainer deal could be decided after negotiations," said Kim, expressing hope to conclude a final agreement within two months.

"Through negotiations, both sides will discuss a wide range of issues, such as the price, delivery timing, ground-based training equipment and systems, integrated logistics support and replacement parts," Kim noted.

Once a final contract is signed, the first delivery of T-50s will be made in 2013, he added.

The T-50 was defeated in competitions in the United Arab Emirates (UAE) and Singapore, where both countries selected Italy's M-346 trainer.

The single-engine T-50 features digital flight controls and a modern, ground-based training system. It is designed to have the maneuverability, endurance and systems to prepare pilots to fly next-generation fighters, such as the Eurofighter Typhoon, the F-22 Raptor, the Rafale and the F-35 Joint Strike Fighter. The jet has a top speed of Mach 1.4 and an operational range of 1,851 kilometers.

Other potential customers include the United States, Israel, Greece and Poland.

According to industry sources, Jakarta requested that Seoul purchase four CN-235 aircraft built by PT Dirgantara Indonesia (PT DI) in return for buying T-50s. The per-unit price of the CN-235 is known to be around $25 million. Seoul purchased four of the aircraft in 2008.

Indonesia also asked South Korea to write off $10 million in penalties over the former's delayed delivery of CN-235 planes under the 2008 deal that was worth $100 million. The first batch of two of the four planes had been scheduled to be delivered to the Korea Coast Guard in December and the remainder in April.

PT DI sent a document to the Coast Guard recently, saying delivery would be delayed for production problems, Coast Guard spokesman Koh Jae-young said.

In addition, Indonesia demands South Korea pay for the costs of integrated logistics support, according to sources.

"Indonesia is expected to offer to locally produce some of the 16 T-50s to be ordered, should a contract be signed," a source said. "How many aircraft Indonesia wants to produce locally could be a contentious issue during negotiations."

Seoul and Jakarta had a similar barter trade deal in 2001 when South Korea bought eight CN-235 transport planes in return for selling 12 KT-1 Woongbi basic trainers.

The CN-235 is a medium-range twin-turboprop airplane, jointly developed by Spain's CASA and PT DI, formerly known as IPTN. The plane is used for VIP transport, maritime patrols, airlifts and troop carrying.

South Korea has 20 CN-235s, 12 built in Spain and eight in Indonesia.

In a summit last December, President Lee Myung-bak and his Indonesian counterpart, Susilo Bambang Yudhoyono, agreed to jointly manufacture tanks, submarines and fighter jets.

TNI AL Siap Laksanakan Operasi Militer

foto hut kopaska

Foto : Antara (KOPASAKA sedang melakukan devile )
13 April 2011, Jakarta (TEMPO Interaktif): Kepala Dinas Penerangan Markas Besar TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Prasodjo menyatakan siap jika jika korpsnya ditugaskan melakukan operasi militer penyelamatan sandera kapal MV Sinar Kudus ke perairan Somalia. "Secara umum TNI AL siap setiap saat menghadapi semua ancaman," kata dia, Rabu (13/4).

Pertama Prasodjo mengatakan, TNI tak boleh membantah ditugaskan kemanapun untuk mengatasi gangguan dalam bentuk apapun. Jika pimpinan tertinggi memerintahkan menjalankan tugas ke Somalia, TNI Angkatan Laut akan segera mempersiapkan diri.

Selain kesiapan pasukan, kapal perang, logistik, dan persenjataan segera dibereskan dalam waktu singkat menjelang operasi militer. Pasukan mana yang akan dikirim, tergantung skala ancamannya. "Kami terlatih cepat dan bisa bergerak langsung," kata Prasodjo.

Tentang kepastian berangkat, Prasodjo mengaku hingga kini belum ada perintah menyiapkan pasukan. Bahkan TNI masih berpegang pada pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto tentang upaya negosiasi.

Kepala Dinas Penerangan Markas Besar Korps Marinir Letnan Kolonel Sumarto juga tak bisa memastikan soal pengiriman pasukan. "Saya tak bisa beri penjelasan," kata Sumarto. Dia mengaku belum memonitor perintah operasi militer ke Somalia.

Sumber: TEMPO Interaktif

Indonesia to Buy Choppers from Europe


13 April 2011

EC-725 Cougar - long range multi mission helicopter (photo : Defense Update)

Indonesian Defence Minister Purnomo Yusgiantoro says the country is planning to buy "dozens" of helicopters from Eurocopter.

Jakarta will reportedly also buy 16 T-50 Golden Eagle jet trainers from South Korea's Korea Aerospace Industries.

Mr Yusgiantoro says Indonesia needs to beef up its poor defences by purchasing light jet fighters and helicopters to deal with security threats.

He also said the government is aiming eventually for "joint production" of the helicopters in Indonesia.

BERITA POLULER