Pages

Sunday, January 30, 2011

Kemandirian Teknologi Militer Indonesia

0diggsdigg

Industri Pertahanan Indonesia.(Foto: Ardava)

Indonesia mempunyai letak geografis sangat strategis di antara dua benua dan dua samudra. Selat Malaka, Sunda, dan Lombok adalah beberapa dari selat yang sangat strategis di dunia.

Lihat saja Selat Malaka yang dilewati sekitar 1/5 sampai 1/4 dari perdagangan laut dunia dan 1/2 dari minyak dunia yang diangkut oleh kapal tanker raksasa (Rahakundini, 2011). Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih dari 17.000 pulau, mempunyai luas lautan sekitar 5,8 juta kilometer persegi. Indonesia mempunyai sumber daya alam (SDA) melimpah baik di daratan maupun di lautan yang terdiri dari mineral barang tambang, energi dan hasil laut.

Sumber daya ini berpotensi memunculkan konflik dengan negara tetangga di pulau terluar dan daerah perbatasan. Namun,kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut dengan jarak berjauhan membuat Indonesia menghadapi ancaman yang berbeda. Indonesia memerlukan angkatan bersenjata yang kuat dengan didukung peralatan militer yang tangguh sehingga mampu menjaga teritorial negara kesatuan Republik Indonesia.

Kemampuan persenjataan Indonesia tidak sebanding dengan luasnya wilayah kepulauan, jika dibandingkan dengan negara tetangga. Sebagai contoh jumlah pesawat jet tempur modern berdasarkan data dari Center for Strategic and International Studies (Cordesman & Kleiber, 2006), Indonesia mempunyai Sukhoi Su-30 (2 buah), Su-27 (2 buah) dan F-16 (10 buah), Malaysia mempunyai MIG-29 (16 buah),Singapura mempunyai F-16 (44 buah) dan E-2C (4 buah), sedangkan Thailand mempunyai F- 16 (50 buah). Indonesia menghadapi buah simalakama di sektor ini.

Peralatan militer yang kuat memerlukan anggaran yang besar. Dengan banyaknya agenda pembangunan dan prioritas agenda pembangunan sektor yang lain, pemerintah mengalokasikan anggaran militer yang terbatas. Realisasi anggaran Kementrian Pertahanan (Kemhan) tahun 2010 hanya Rp42,9 triliun, sedangkan untuk tahun 2011, anggaran pertahanan naik 10,72% menjadi Rp47,5 triliun atau 3,86% dari APBN tahun 2011 (SINDO, 31/ 12/2010).Sementara untuk anggaran modernisasi dan pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista) direncanakan sebesar Rp150 triliun sampai tahun 2014.

Industri Militer

Indonesia mempunyai pengalaman pahit ketika Amerika Serikat (AS) mengembargo peralatan senjata dan kerja sama militer dengan Indonesia dari tahun 1999 s/d 2005. Dengan embargo tersebut, akhirnya Indonesia membuka kembali hubungan baik dengan Rusia untuk meningkatkan kemampuan persenjataan dengan membeli jet tempur Sukhoi sebagai pengganti F-16. Pengalaman pahit lainnya menimpa Indonesia dengan lepasnya Sipadan dan Ligitan pada 17 Desember 2002 ke Malaysia yang ada hubungannya dengan sumber daya mineral.

Padahal sebelumnya kedua negara menyepakati untuk status quo.Konflik perbatasan dengan Malaysia dan negara tetangga lainnya berpotensi sering terjadi seiring dengan ditemukannya sumber mineral dan energi yang sangat berharga di masa datang Belajar dari pengalaman pahit dan untuk mengoptimalkan anggaran alutsista, dibutuhkan kemandirian teknologi militer di mana sebagian alutsista yang sebelumnya direncanakan diimpor mulai untuk dapat diproduksi di dalam negeri.

Industri militer memerlukan fasilitas peralatan industri berat (heavy industry).Fasilitas yang telah dimiliki oleh PAL,PTDI (IPTN),dan Pindad jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara tetangga ASEAN. Kemandirian teknologi militer akan meningkatkan kemandirian teknologi lainnya.China dapat kita jadikan contoh.Negara ini mempunyai tujuan jangka panjang untuk mandiri dalam memproduksi peralatan militer dan tidak tergantung dari negara lain untuk memodernisasi persenjataan.

Setelah 20 tahun berusaha, China menjadi negara ketiga terbesar dunia sebagai produsen kapal sipil-komersial (RAND,2005). Porter dan Forester (2001) menyimpulkan bahwa penguasaan teknologi China dimulai dengan kemandirian pengembangan teknologi pertanian dan teknologi peralatan militer dan persenjataan. Sejarah mencatat bahwa peralatan militer perang dunia kedua dibuat oleh perusahaan yang kita kenal sekarang ini seperti Boeing, General Motor,Fiat,Ansaldo,Renault, Daimler,Volkswagen, Krupp, Hitachi, Hino, Mitsubishi Heavy Industries dan lainnya.

Fakta lainnya bahwa perang dunia kedua berakhir setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom pada tahun 1945. Nagasaki dipilih sebagai target untuk dibom karena terdapat dua pusat industri perang yang sangat besar yang dipunyai Mitsubishi Heavy Industries (Laromkarnvapen, 2008). Penguasaan teknologi militer tidaklah mudah, karena harus mempunyai kemampuan desain engineering yang memerlukan pengalaman panjang dan akumulasi know how.

Cara yang paling singkat adalah dengan melakukan reverse engineeringsebagaimana dilakukan Korea,Taiwan,Jepang pada awal perkembangannya dan diikuti oleh China yang lebih agresif. China dalam membangun persenjataannya dengan membuat sendiri, membelidarinegaralain,mengimpor beberapa senjata modern kemudian melakukan reverse engineering dan memproduksinya (Yung, 2003).

Proses reverse engineering yang dilakukan adalah dengan mengimpor beberapa persenjataan modern, kemudian mempelajari cara kerjanya, membuat desain dan spesifikasi untuk prototipe model, membuat fisik model, training teknisi, tes dan evaluasi prototipe,setelah itu melakukan produksi.

Kita Jelas Mampu

Potensi untuk meniru hal yang dilakukan China sangat besar.Banyak fasilitas industri berat yang dimiliki swasta seperti Texmaco, Tjokro, Bukaka dan beberapa fabrikator besar lain.Adapun kelompok industri BUMN yang mempunyai kemampuan untuk mendukung produksi peralatan militer adalah PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Len Industri, Dahana, Pindad, Barata, dan Krakatau Steel.

Perusahaan-perusahaan tersebut di era Menristek BJ Habibie termasuk dalam industri strategis. Industri pertahanan yang utama (alutsista) adalah: pesawat terbang, perkapalan, misil, IT dan elektronika pertahanan. BUMN dalam kelompok industri strategis. Dengan melakukan reverse engineering, dalam waktu yang tidak terlalu lama akan menguasai rancang bangun industri pertahanan, karena industri strategis tersebut sebelumnya sudah mempunyai banyak pengalaman. Pertama, industri pesawat militer.

PT DI yang sebelumnya bernama IPTN telah memiliki pengalaman untuk membuat pesawat militer CN-235,NC-212 ,helikopter, komponen Airbus, Boeing,Fokker, F-16, membuat persenjataan roket dan torpedo.Sempat membuat prototipe pesawat komersial N250 dengan mesin turbopropdan merencanakan pembuatan pesawat jet N- 2130. Sayang keduanya berhenti pengembangannya ketika krisis moneter 1997.

Pada 2010 Indonesia membuka kerja sama kembali dengan Korea Selatan yang sebelumnya tertunda, berkaitan dengan rencana produksi bersama, riset hingga terbentuknya prototipe pesawat tempur KF-X.Pesawat single seatbermesin ganda ini adalah jenis pesawat siluman (stealth) yang kemampuannya di atas pesawat Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon dan pesawat F-16 Block 60.

Apabila PT DI diberi kesempatan lebih besar, bisa jadi banyak ilmuwan terbaik PT DI yang sebelumnya berpindah kerja ke Amerika Serikat, Inggris,Jerman,dan Singapura akan kembali ke Indonesia. Kedua, industri perkapalan. Indonesia memiliki PT PAL yang pada saat ini telah menguasai teknologi produksi untuk kapal bulker sampai dengan 50.000 DWT, kapal kontainer sampai dengan 1.600 TEUS, kapal tanker sampai dengan 30,000 DWT, kapal penumpang, kapal Chemical Tanker sampai dengan 30,000 DWT,kapal LPG carrier sampai dengan 5.500 DWT, kapal landing platform, kapal patroli cepat, tugboat, kapal ikan dan kapal ferry serta penumpang.

PT PAL juga telah mengembangkan desain untuk kapal corvette termasuk desain kapal pemburu ranjau. PT PAL seharusnya sudah mampu untuk melakukan reverse engineering kapal corvette dan frigate dari kapal eks Jerman timur yang dimiliki TNI AL. Ketiga, industri roket/misil. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pada Juli 2009 telah berhasil meluncurkan roket dengan nama RX-420 (roket eksperimen diameter 420 mm) di Pameungpeuk Jawa Barat.

Roket yang akan digunakan untuk pengorbit satelit itu mampu menghasilkan daya 100 ton detik dengan membawa muatan 300 kg,mampu menjangkau radius 100 kilometer dengan kecepatan 4,4 mach atau sekitar 344 meter per detik. Pembuatan tahapan lanjut pengembangan roket dan pengembangan misil dapat melibatkan PT PAL, PTDI, Barata, Pindad, yang mempunyai peralatan industri berat, Dahana yang dapat membuat material high density energydan bahan peledak sebagai warheadmisil,dan LEN untuk teknologi kontrol misil dan torpedo.

Keempat, industri IT & elektronika pertahanan. LEN telah mampu membuat peralatan elektronika pertahanan. LEN telah berhasil mengembangkan peralatan tactical communication yang mempunyai matriks hopping yang dirancang khusus untuk mengurangi risiko penyadapan oleh pihak lain.Selain itu,telah mampu membuat peralatan surveillance dan combat management system yang canggih. Dari pengalaman tersebut seharusnya LEN mampu untuk mengembangkan kontrol misil jarak jauh,kontrol misil anti kapal dan kontrol misil surface to underwater torpedo.

LEN juga seharusnya mampu membuat sistem manajemen logistik peralatan tempur berbasis IT yang canggih. Kemampuan industri strategis apabila dipadukan akan mempunyai kapasitas setara dengan industri berat yang dimiliki Jepang, Korea dan China.Walaupun untuk mengintegrasikannya memerlukan project manageryang memahami kemampuan dari masing-masing industri tersebut.Kemandirian teknologi militer,dengan menggunakan kemampuan dan fasilitas dalam negeri akan menghemat devisa, meningkatkan multiplier effect ekonomi, meningkatkan kemampuan dalam negeri dan meningkatkan keahlian sumber daya manusia.

Sumber: SINDO

Turki Menggandeng Alenia Aeronautica Dan Embraer Dalam Pembuatan FX


0diggsdigg


ANKARA - Turki sedang mencari mitra asing untuk membantu membangun jet tempur dan kemungkinan untuk membuka pembicaraan dengan Italia Alenia Aeronautica dan Embraer dari Brasil untuk pengadaan program FX.

"Kami berharap TAI melakukan negosiasi dengan kedua produsen akhir tahun ini," kata seorang pejabat tersebut. "Dan pada tahun 2012 kita akan mengetahui dengan siapa kita akan mengambil keputusan dalam pengadaan dan pembuatan pesawat tempur tersebut."

Pemerintah telah meminta perusahaan penerbangan nasional yaitu Turki Aerospace Industries (TAI) untuk melakukan kemitraan dalam membangun pesawat tempur tersebut. TAI akan mendapatkan talangan dana sebesar $20 juta dari Industri Pertahanan Undersecretariat (SSM) untuk membuat "desain konseptual" dari sebuah pesawat tempur yang akan dibangun setelah 2020.

Dalam beberapa tahun terakhir Turki telah sanggup membuat persenjataan berteknologi tinggi untuk program alutsista Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Upaya ini bertujuan untuk membangun kekuatan udara semakin mandiri tanpa tergantung dari teknologi AS, kata pejabat tersebut.

Desember lalu, Menteri Pertahanan Vecdi Gonul mengatakan Turki akan mengembangkan dan memproduksi pesawat tempur dengan dana pemerintah sendiri maupun bersama-sama dengan negara lain.

Gonul mengatakan bahwa Turki kemungkinan besar akan bekerja sama dengan Korea Selatan.

Tetapi para pejabat pertahanan Turki mengatakan "opsi Korea" gagal karena Seoul telah bersikeras karena korsel ingin menjadi pemegang terbesar dalam pembuatan pesawat tersebut.

Jika program ini berhasil Turki akan memiliki kekuatan udara yang sama dengan armada buatan AS kelak.

Angkatan Udara Turki sekarang mengoperasikan F-16 dan F-4. Turki juga merupakan mitra dalam konsorsium yang dipimpin oleh Joint Strike Fighter U. S. (JSF) yang dibangun pesawat tempur stealth F-35 Lightning II.

Turki berencana untuk membeli sekitar 100 pesawat F-35 senilai hampir $ 15 milyar. Turki juga akan menerima 30 F-16 Blok 50 dari Lockheed Martin, pembuat F-35, sebagai pengganti sementara sampai pengiriman F-35 yang dimulai sekitar 2015.

Para pejabat mengatakan bahwa pesawat tempur Turki yang baru akan mengganti pesawat lama buatan AS yaitu F-4Es dan memiliki kemampuan diatas F-16 dan dibawah F-35."

Mereka menegaskan bahwa pesawat baru terutama akan dimaksudkan untuk pesawat tempur serang udara udara. F-4ES adalah pesawat tempur serang dari udara-udara, sedangkan F-16 dan F-35 dirancang pesawat tempur udara ke darat.

Program FX berarti bahwa Turki akan melepaskan ketergantungan membeli pesawat tempur Eropa. Pada bulan Desember, Gonul mengesampingkan potensi akuisisi jet tempur Typhoon yang dibangun oleh konsorsium Eurofighter.

Tetapi pejabat Turki masih menyuarakan keinginan untuk melakukan pembicaraan dengan Alenia Aeronautica, salah satu mitra Eurofighter, serta melakukan pembicaraan secara terpisah untuk pesawat tempur Turki bersama dengan Embraer.

"Kami melihat kedua perusahaan merupakan mitra yang cocok untuk pengadaan pesawat tempur nasional dari program kami," kata pejabat.

Sumber: DN/WDN/MIK

Korsel Akan Membuat Jet Siluman Pertama Pada Tahun 2015


0diggsdigg

Seoul - (WDN/MIK):Korea Selatan akan merencanakan pembelian dari armada pesawat tempur canggih dengan kemampuan tempur stealth pada tahun 2015, sebuah proyek diperkirakan yang menelan biaya sebesar 10 milyar won ($ 9 miliar), Yonhap News melaporkan pada hari Minggu.

Langkah itu diambil sebagai ketegangan di semenanjung Korea yang disebabkan pengembangan rudal oleh Korut yang menyebabkan keprihatinan Korsel, sementara Cina menegaskan awal bulan ini telah melakukan uji coba penerbangan pertama pesawat tempur silumannya.

AS dan perusahaan pertahanan Eropa telah bersiap-siap untuk tahap ketiga program modernisasi pesawat tempur Korea Selatan untuk menggantikan F-4E dan F-5E yang telah mengalami kecelakaan fatal dalam beberapa tahun terakhir.

F-15 Boeing Co, F-35 Joint Strike Fighters Lockheed Martin Corp dan EADS Eurofighter jet multinasional akan bergabung dalam kompetisi.

"Ada konsensus di dalam pemerintah untuk mempercepat generasi proyek pesawat tempur," Yonhap mengutip sumber dari pejabat pemerintah yang dirahasiakan identitasnya.

"Anggaran sebesar 300 juta won yang dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan tahun ini, tapi (pemerintah) untuk menyediakan anggaran tambahan melalui penyesuaian anggaran jika diperlukan."

Berdasarkan jadwal semula, Korea Selatan akan menerima proposal dari perusahaan pertahanan awal tahun depan dan akan menyeleksi pada bulan Agustus 2012 untuk memperkenalkan jet tempur dengan kemampuan siluman antara 2016 dan 2020.

Sumber : The Star/Reuters/WDN/MIK

Saturday, January 29, 2011

WZ-10 Memasuki Dinas Operasional


29 Januari 2011

CAIC WZ-10 (all photos : Alert5)

Helikopter serang China terbaru WZ-10 memasuki dinas operasional pada akhir tahun 2010 lalu. Foto-foto helikopter buatan Changhe Aircraft Industries Corporation (CAIC) ini beredar di internet China.


Sejauh ini oleh pemerintah China foto-foto tersebut dibiarkan saja beredar di internet, sama seperti pemunculan pesawat siluman China J-20 yang sekaligus menunjukkan bahwa industri kedirgantaraan China telah menguasai teknologi tinggi dan masuk era modernisasi.

WZ-10 merupakan heli serang modern yang dipersenjatai dengan kanon putar di bagian bawah hidung serta 4 cantelan dari sayap kecil di kanan dan kiri badan yang dapat dipasangi rudal dan roket.

(Defense Studies)

Germany to take fewer A400M planes

Germany to take fewer A400M planes

Germany will take delivery of only 40 of the 53 Airbus A400M military transport planes it has ordered, the parliamentary budget committee decided Wednesday, in a further blow to the troubled project.
Deputies signed off on the revised project, which will see Germany maintain its order of 53 planes but then sell on 13 of them to another client, a parliamentary source said.
There was no mention of the potential buyer for the unwanted planes in Germany's order but Airbus Military will be charged with selling them on.
Juergen Koppelin, the parliament's defence budget rapporteur, had announced the changes Tuesday.
Seven countries have ordered 180 of the aircraft for 20 billion euros (27 billion dollars) from European plane maker Airbus but the project is three years behind schedule and billions of euros over budget.
It has been marred by setbacks, with the aircraft's first flight postponed to an undetermined date because of engine problems.
Airbus, a unit of the the European Aeronautic Defence and Space Company (EADS), was supposed to get the transport plane in the air in January 2008.
It is the second time in three months that Germany has sought to cut its complement of A400Ms. In November, it reduced its firm order from 60 planes to the current 53.
Last November, the seven NATO countries -- Germany, France, Spain, Britain, Turkey, Belgium and Luxembourg -- reached an agreement on financing 5.2 billion euros of cost overruns but a definitive deal has yet to be signed.

DEFENCE TALK

Pentagon Spokesman Discusses China, North Korea

Pentagon Spokesman Discusses China, North Korea


The jury is still out on China’s apparent fifth-generation J-20 stealth aircraft, Pentagon spokesman Geoff Morrell said today.
“The J-20 stories, frankly, that I've seen over the past couple weeks … have been a little over the top,” Morrell said during a Pentagon news conference. He noted that reports of “successful testing” ignore the unknowns of the Chinese aircraft.
“What we know is that a plane that looks different than any other they produced, that they claim to be their J-20, had a short test flight when we were in Beijing,” the press secretary said. “But we don't know, frankly, much about the capabilities of that plane.”
The test flight occurred during Defense Secretary Robert M. Gates’ visit to China this month.
The J-20’s engine capabilities and degree of stealth capability are among the unknowns, Morrell said, adding that the U.S. current and developing air fleet is more than equal to any possible Chinese challenge.
“That's why we have pursued not just the F-22, which we have in more than enough numbers to deal with any scenario involving China, but also the F-35, to the tune of nearly 2,500 planes,” Morrell said.
Morrell said “given what little we know,” of the Chinese aircraft, “I would just urge everybody to … slow down a little bit on our characterizations of the J-20 at this point.”
China’s capabilities and North Korea’s recent provocations make the question of U.S. force presence in the region an important one, Morrell said.
“In light of the threat that we see emanating … from Pyongyang,” he said, “we have said that we will do what is necessary to protect ourselves here as well as our forward-deployed forces [and] our allies, who we have security commitments to.”
The United States has 28,500 troops on the Korean peninsula and more than 50,000 more in Japan, Morrell noted.
“And over the long-term lay-down of our forces in the Pacific, we are looking at ways to even bolster that, not necessarily in Korea and Japan, but along the Pacific Rim, particularly in Southeast Asia,” he said.
Australia and Singapore may offer U.S. access to certain military facilities in the region, he said, adding, “Guam, obviously, would be the best example of us changing our lay-down and our footprint in the region, enhancing [our presence] in Southeast Asia.”
Morrell said Gates’ recent comments on the North Korean threat shouldn’t be construed as applying immediately.
“I think what he said is they're becoming a direct threat to the United States,” the spokesman said. “By that, he doesn't mean at this very moment. But given their pursuit of both the nuclear weapons and their ballistic-missile capabilities, he sees them being a direct threat not within five years, but sooner than that.”
Morrell said that’s why defense officials are working with China, Japan and others to impress on North Korea that “they've got to cut out this provocative behavior, the destabilizing behavior, and they've got to seriously reevaluate their pursuit of nuclear weapons and delivery vehicles.”

DEFENCE TALK

Bill Clinton meminta peran Indonesia dalam rehabilitasi dan rekonstruksi Haiti pascabencana alam

Bill Clinton Minta Peran Indonesia Rekonstruksi Haiti

Jumat, 28 Januari 2011 05:59 WIB
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (ANTARA)
Berita Terkait
Davos (ANTARA News) - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton meminta peran Indonesia dalam rehabilitasi dan rekonstruksi Haiti pascabencana alam.

Permintaan itu disampaikan Clinton kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kunjungan kehormatan yang dilakukan di sela-sela acara World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Kamis.

Menurut Staf Khusus Kepresidenan Bidang Internasional Teuku Faizasyah, dalam pertemuan itu Clinton menyatakan apresiasi dan pengakuan dunia internasional bahwa Indonesia telah berhasil dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh pascatsunami 2004.

"Mereka melihat Indonesia telah sangat berhasil dalam proses membangun kembali Aceh dan mereka melihat bahwa ada sesuatu yang bisa dipelajari dari keberhasilan Indonesia dan untuk itu mantan Presiden Clinton mengharapkan Indonesia dapat ikut berkontribusi dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi Haiti," tutur Faiza.

Namun, menurut dia, Clinton belum secara spesifik menyebutkan jenis bantuan yang diinginkan dari Indonesia.

Meski demikian, Faiza mengatakan bahwa Indonesia telah menyanggupi dan menyatakan komitmennya untuk berkontribusi dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi Haiti.

"Secara komitmen kita menyanggupi namun tentunya harus dilihat lagi dalam bentuk seperti apa. Kita juga mencatat bahwa pascabencana banjir Myanmar ada bantuan tenaga ahli kita berikan," jelasnya.

Pada prinsipnya, lanjut Faiza, permintaan tersebut adalah bentuk pengakuan dunia internasional atas keberhasilan Indonesia dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh yang akhirnya mendorong Indonesia terlibat dalam proses yang sama di Haiti.

Sedangkan dalam kunjungan kehormatan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon kepada Presiden Yudhoyono, Faiza menjelaskan, Indonesia diminta untuk terus meningkatkan kontribusinya dalam keterlibatan pasukan perdamaian PBB.

Menurut Faiza, Ban Ki Moon menyinggung kemungkinan penempatan pasukan perdamaian dari Indonesia di Pantai Gading namun Indonesia masih menunggu perkembangan obyektif di lapangan yaitu harus terlebih dahulu tercipta perdamaian atau stabilitas di Pantai Gading sebelum Indonesia menempatkan pasukannya.

"Jadi kita tidak akan bisa serta merta mengirimkan pasukan pemeliharaan perdamaian dan di situ juga ada peran dari kawasan untuk menciptakan satu kondisi obyektif yang memadai. Pada prinsipnya kita garis bawahi bahwa kita berkomitmen pada penjagaan perdamaian tapi tentunya harus ada kondisi obyektif," jelasnya.

Sedangkan pada pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Faiza mengatakan, Prancis yang selama 2011 menjadi Ketua G20 berharap bisa membangun sinergi kebijakan dengan Prancis karena Indonesia dinilai memiliki pengaruh cukup besar di antara negara-negara berkembang.

Sebaliknya, lanjut Faiza, Presiden Yudhoyono mengundang Sarkozy di forum ASEAN yang diketuai Indonesia pada 2011 agar Presiden Prancis itu dapat menjabarkan program-program G20 kepada kepala negara/pemerintahan Asia Tenggara.

Sedangkan pada pertemuan bilateral keempat yang digelar hari Kamis, Presiden Yudhoyono bertemu dengan Presiden Swiss Micheline Clamy Rey.

Kedua kepala negara membicarakan kemungkinan untuk lebih mengkonkretkan kerjasama ekonomi yang telah disepakati tahun lalu. (D013/R007/K004)


Antara

BERITA POLULER