Pages

Tuesday, January 25, 2011

TNI-AL Akan Uji Persenjataan Strategisnya


Rudal Yakhont. (Foto: RIA Novosti)

25 Januari 2011, Jakarta -- (ANTARA News): TNI Angkatan Laut akan menguji sejumlah persenjataan strategisnya seperti peluru kendali untuk memastikan kesiapan alat utama sistem persenjataan dan personel matra laut dalam mengantisipasi berbagai ancaman sesuai perkembangan lingkungan strategis yang terjadi.

"Uji persenjataan itu dimaksudkan untuk meningkatkan manajemen pemeliharaan, perawatan, perbaikan yang efektif guna mencapai kesiapsiagaan yang optimal," kata Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di sela-sela rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut 2011 di Jakarta, Selasa.

Ia menambahkan, salah satu persenjataan strategis yang akan diuji adalah peluru kendali Yakhont buatan Rusia.

Beberapa kehandalan Yakhont yang tidak dimiliki rudal anti permukaan TNI-AL sebelumnya adalah Yakhont mempunyai kecepatan maksimum hingga 2,5 Mach. Ditambah lagi Yakhont punya jangkauan tembak sangat jauh, tak tanggung-tanggung 300 Km.

"Dua kemampuan tadi yang hingga kini belum dimiliki jajaran rudal anti kapal TNI-AL. Yakhont dapat ditemabka dari Surabaya ke sasaran di Yogyakarta," ungkap Kasal.

Seperti diketahui TNI-AL mempunyai rudal Exocet MM30/40, Harpoon dan C802. Tapi dibalik itu, Yakhont mempunyai bobot dan dimensi yang terbilang bongsor di kelasnya. Harga satu unit Yakhont ditaksir sekitar 1,2 juta dolar AS.

Saat ini 16 KRI sudah dipasang rudal Yakhont yaitu enam pada kapal jenis fregat dan 10 di kapal perang Korvet. Masing-masing Fregat dipasang delapan unit Yakhont sedangkan Korvet sebanyak empat unit. Pemasangan dilakukan sepenuhnya oleh PT PAL Surabaya.

Kasal menambahkan, sasaran tembak dari uji coba sejumlah persenjataan strategis itu adalah kapal perang yang tidak lagi digunakan. Uji coba akan dilaksanakan di Samudra Indonesia pada Februari.

Kapal Selam

Pada kesempatan yang sama, Kasal Soeparno mengatakan, pihaknya masih menunggu keputusan Kementerian Pertahanan terkait pengadaan dua kapal selam baru yang telah direncakan sejak lama.

"Kita telah menyampaikan spesifikasi teknik dan spesifikasi operasional kapal selam yang kami butuhkan. Sekarang prosesnya masih di kementerian Pertahanan. Di sana akan dibahas lagi di Tim Evaluasi Pengadaan yang akan menentukan kapal selam jenis apa yang akan dibeli dan digunakan TNI Angkatan Laut. Apapun yang diberikan kami terima," kata Soeparno.

Pengadaan dua unit kapal selam itu dibiayai fasilitas Kredit Ekspor (KE) senilai 700 juta dolar Amerika Serikat, yang diperoleh dari fasilitas pinjaman luar negeri di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2004-2009.

"Kami sudah tentukan spesifikasi teknisnya, serta kemampuan dan efek penggentar yang lebih dari yang dimiliki negara tetangga," kata Kasal.

Pada tender pertama, dari empat negara produsen kapal selam yang mengajukan tawaran produk mereka, seperti Jerman, Perancis, Korea Selatan, dan Rusia, TNI Angkatan Laut telah menetapkan dua negara produsen sesuai kebutuhan yaitu Korea Selatan dan Rusia.

Rencananya, dari dua pilihan itu akan diuji kembali mana spesifikasi kapal selam yang sesuai dengan kebutuhan TNI Angkatan Laut oleh Kementerian Pertahanan.

Sumber: ANTARA News

Monday, January 24, 2011

Transfer Teknologi Alutsista Harus secara Bertahap


0diggsdigg

JAKARTA – Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI), Edy Prasetyono, mengatakan alih teknologi dalam pembuatan alat utama sistem senjata (alutsista) membutuhkan tahapan dan waktu yang tidak singkat. Alih teknologi harus dilakukan secara bertahap agar industri pertahanan dalam negeri bisa memperkuat alutsista yang dibutuhkan TNI. “Pada dasarnya, teknologi, apalagi teknologi dalam bidang pembuatan alutsista, harus diupayakan sendiri.

Kita harus mampu belajar dari proses, lalu mengembangkan sendiri,” kata Edy kepada Koran Jakarta, di Jakarta, Minggu (23/1). Tak hanya membuat sendiri, Edy juga berharap Indonesia seharusnya bisa mempersiapkan infrastrukturnya, keberlanjutannya, termasuk urusan finansial. “Jika mungkin, dalam hal pemasarannya,” ujarnya. Secara terpisah, Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana Soeparno mengatakan TNI AL berencana mengembangkan ka pal selam asli Indonesia secara bertahap.

Untuk mencapai tahap itu, TNI AL berencana melakukan transfer teknologi sedikit demi sedikit dari lima proyek kapal selam yang akan dibuat. “Satu kapal selam yang akan kita adakan pada tahun ini memang murni dari luar negeri dan diharapkan bisa selesai akhir tahun,” katanya. Untuk empat kapal selam selanjutnya, akan mulai dilakukan transfer teknologi. Soeparno mengandaikan, untuk pengadaan kapal selam kedua, mungkin baru seperempatnya yang merupakan produksi dalam negeri.

Tiga perempatnya masih berasal dari luar negeri. Pada pembuatan kapal selam ketiga, porsi produksi dalam negeri meningkat menjadi dua perempat. Dan pada pembuatan kapal selam kelima barulah murni dibuat di dalam negeri. “Saya berharap ahliahli di Indonesia sudah bisa membuat kapal selam sendiri pada pengadaan kapal selam kelima,” kata Soeparno. Alih teknologi secara bertahap ini dilakukan karena kapal selam memiliki spesifi kasi kerumitan tersendiri. Kapal selam juga merupakan senjata strategis yang teknologinya cukup tinggi sehingga sangat sulit untuk langsung membuatnya di dalam negeri.

Untuk negara yang akan dituju dalam pembangunan kapal selam ini, Soeparno mengaku belum menentukan. Namun, dia menegaskan bisa jadi negara yang akan diajak bekerja sama dalam pengadaan pertama hingga keempat bisa berganti- ganti. “Bergantung pada kesanggupan mereka dalam transfer teknologi,” ujarnya. Kerja Sama Untuk alutsista Angkatan Udara, TNI AU belum mau menerima tawaran keja sama pengadaan pesawat tempur dengan China dan Pakistan. Kepala Staf TNI (Kasau) Marsekal Imam Sufaat mengakui memang ada permintaan kerja sama dari kedua negara itu, namun masih sebatas tawaran.

“Jika pertimbangan politik dan pertimbangan lainnya dinilai positif, mungkin kerja sama (dengan kedua negara itu) akan ditindaklanjuti. Saat ini kita akan fokus mengembangkan pesawat tempur jenis KFX dengan Korea Selatan,” kata Imam. Dia mengatakan dalam pembuatan pesawat KFX, Indonesia akan ikut dengan tim Korea Selatan, mulai dari opsi keuangan hingga opsi teknik. Prototipe pesawat diharapkan bisa selesai pada 2020 mendatang, dan bisa dikembangkan sendiri. Imam mengatakan TNI AU memang membutuhkan pesawat tempur yang spesifi kasinya melebihi F16 tetapi tidak lebih canggih dari F35.

Pesawat tempur jenis KFX dinilai merupakan jawaban dari kebutuhan itu. Edy mengatakan khusus untuk kerja sama pengadaan pesawat tempur jenis KFX yang baru bisa menciptakan prototipe pada 2020, Edy melihat hal itu merupakan hal yang wajar walau pun saat ini pesawat jenis KFX tak secanggih pesawat F35 maupun pesawat yang baru saja diluncurkan China, J20, yang merupakan produk generasi kelima. “Wajar, sebab harus melalui serangkaian uji coba sesuai kebutuhan dan keandalan yang tinggi. Waktu yang lama pun wajar dalam produksi alutsista,” katanya.

Sumber: KORAN JAKARTA

TNI AL Kirim Personel 'Colong' Teknologi Alutsista dari Luar


Dede Rosyadi - detikNews




0diggsdigg0diggsdigg
Kapal Perang TNI AL Jakarta - TNI AL masih tetap akan mengandalkan produksi dalam negeri untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista)-nya. Namun TNI AL akan mengirim personelnya ke luar negeri untuk belajar teknologi alutsista terbaru.

"Pelaksanaannya bervariasi. Arahannya tetap tidak berubah-ubah dari dahulu sampai sekarang. Untuk alutsista masih produk dalam negeri," ujar KSAL Laksamana M Soeparno.

Hal itu disampaikan Soeparno sebelum rapat pimpinan TNI AL 2011, di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (25/1/2011).

Soeparno menambahkan tenaga ahli untuk alutsista dari luar negeri. Pengadaan alutsista tahun ini juga ditempuh dengan cara transfer teknologi.

"Kita kirim TNI AL untuk belajar tentang teknologi alutsista di LN. Bisa dikatakan mencolong teknologi dari luar," jelas Soeparno.

Pulau Terluar

TNI AL juga berencana menambah personel untuk menjaga 92 pulau-pulau terluar. Ada 12 pulau yang harus dijaga karena menjadi titik perbatasan dengan negara lain.

"Dan diamankan dengan cara, penambahan personel. Dan prasarana, yang cukup tentu semua itu menambah biaya. Pulau-pulau terluar itu harus ditempati oleh personel anggota TNI AL," tandas dia.

(nwk/nrl)

detik

Penambahan Pesawat TNI AU Terus Diupayakan


25 Januari 2011

F-16 TNI AU akan diupayakan menjadi 34 pesawat (photo : Kaskus Militer)

Harapkan Hibah F-16

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara terus mengupayakan hibah 24 pesawat jet tempur F-16 bekas dari Amerika Serikat. Pendekatan khusus terus dilakukan sejak Indonesia mengajukan permintaan hibah pada 2009.

Empat pesawat angkut militer Hercules rencananya juga akan dihibahkan dari Australia.

Pada rapat pimpinan TNI beberapa waktu lalu, Presiden menyatakan harapan agar TNI AU menambah jumlah pesawatnya menjadi 16 pesawat F-16, 16 pesawat jenis Sukhoi, dan 30 Hercules.

”Dengan tawaran hibah F-16 ini, anggaran telah kami upgrade sehingga nanti total jadi 34 pesawat F-16,” ujar Kepala Staf TNI AU Marsekal Imam Sufaat di sela Rapat Pimpinan TNI AU di Yogyakarta, Senin (24/1). (WKM)

RI- Republik Korea Akan Tingkatkan Kerjasama Industri Pertahanan


0diggsdigg

Tank XK2 Buatan Korsel.

Jakarta, DMC - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Jumat (21/1), menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Republik Korea HE Kim Ho-Young, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Kedatangannya kali ini adalah untuk menyampaikan dua hal yaitu mengenai kunjungan utusan khusus Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang akan bertemu dengan Pemerintah Republik Korea dan persiapan mengenai konten kerjasama industri pertahanannya.

Dubes Republik Korea mengharapkan diadakannya pertemuan antara pihak Republik Korea dengan Kementerian Pertahanan RI dan TNI sebelum utusan khusus Presiden RI bertemu dengan Pemerintah Republik Korea untuk menindaklanjuti kemungkinan kerjasama ini.

Sementara itu Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan bahwa berdasarkan laporan dari Sekjen Kemhan mengenai hasil dari pertemuan antara Presiden RI dengan Presiden Korea pada akhir tahun kemarin. Informasi tersebutlah yang mendorong Kementerian Pertahanan untuk proaktif berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Perekonomian tentang agenda yang menjadi fokus pertemuan tersebut.

Kementerian Pertahanan sampai saat ini masih membahas hasil pertemuan kedua pimpinan negara tersebut dengan Kemenko Perekonomian mengenai pembicaraan tentang kerjasama industri pertahanan dalam pertemuan tersebut. Menhan Purnomo Yusgiantoro mengharapkan hasil pertemuan antara kedua Kepala Pemerintahan tersebut dapat direalisasikan sesegera mungkin.

Pada akhir tahun yang lalu Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Republik Korea mengadakan pertemuan tingkat tinggi yang didalamnya membicarakan beberapa hal penting diantaranya kerjasama industri pertahanan antara kedua negara. Dan kedatangan Dubes Korsel kali ini adalah untuk mengetahui tindak lanjut upaya peningkatan kerjasama industri pertahanan kedua tersebut.

Kerjasama industri pertahanan ini antara lain pembangunan tank, panser, kapal patroli serta pesawat tempur. Yang dibicarakan oleh Presiden RI kepada Presiden Republik Korea sebenarnya sama dengan keinginan Wakil Menhan yang diungkapkan sebelumnya yaitu peningkatan kerjasama strategis di bidang industri pertahanan. Saat menerima Dubes Republik Korea, Wamenhan didampingi Kepala Badan Ranahan Kemhan Laksda TNI Susilo dan Dir Tekind Ditjen Pothan Kemhan Brigjen TNI Agus Suyarso.

Sumber: DMC

SAF Troops Thunder On in New Zealand


24 Januari 2011
The SSPH is a tracked self-propelled howitzer which fires 155mm rounds at a maximum rate of six shots per minute. (all photos : Cyberpioneer)

Amidst the unusually chilly summer this year, the Singapore Armed Forces' (SAF) artillery troops are certainly keeping warm as their big guns fired hot and true at the Waiouru Training Area, New Zealand.

On 22 Jan, they received a special guest as Minister of State for Defence Associate Professor Koo Tsai Kee visited the SAF troops participating in the exercise, together with the New Zealand Defence Minister Dr Wayne Mapp.

As part of their visit, both ministers observed a battalion live-firing exercise involving the Singapore Self-Propelled Howitzer (SSPH), Primus. This marks the second consecutive year they are observing the exercise.

About 350 personnel from the 21st and 24th Battalion, Singapore Artillery, have been in New Zealand since 17 Jan for the annual artillery exercise codenamed Thunder Warrior.

The SSPH, which carries a 155mm artillery gun, is able to hit targets up to 30km away at a maximum firing rate of six rounds per minute.

When cyberpioneer spoke to personnel from the two units on 21 Jan, they had just spent the previous night preparing for the next day's live-firing operations.

"The men were working in low-light conditions, strong winds and nine-degree weather. Yet, they were still able to deliver accurate fire this morning," said Colonel (COL) Steven Seng. He is the Exercise Supervising Officer and Commander 3rd Division Artillery.

The TPQ36 Weapon Locating Radar (WLR) enables artillery units to pinpoint the source of “enemy” fire as well as estimate the final impact area of their firing.

"They have shown that they are able to adapt and improvise, and I'm very proud of their fighting spirit," he added.

Commanders on the ground have also been doing their part to keep morale high by taking extra measures to ensure the safety of the soldiers under their charge.

"The weather is cold and the men might not feel that they are losing water, so we have been constantly reminding everyone to hydrate themselves," said Lieutenant Colonel Chang Pin Chuan, Commanding Officer 24SA.

"SAF medics have also been told to check on the men to look out for signs of cold rash and hypothermia on a daily basis."

This year's exercise also sees the inclusion of the Ammunition Resupply Vehicles (ARV), which is used to ferry artillery rounds to various gun positions around the training area.

Based on the Bronco chassis, the ARV is able to traverse harsh and undulating terrain to deliver ammunition where required.

Previously, fresh ammunition would be ferried by wheeled vehicles such as the five-tonne transport truck, or the SSPHs would return to base in order to pick up new rounds.
An Ammunition Resupply Vehicle (ARV) charges ahead to provide fresh ammunition for the artillery guns.

"Wheeled vehicles are not as mobile as tracked vehicles out in the field. Having the ARV allows the guns to be resupplied faster," explained COL Seng.

The ARV was trialled in 2010 as part of the Thunder Warrior series of exercises. It has since been incorporated into the Singapore Artillery's operations.

Established in 1997, Exercise Thunder Warrior is an annual artillery exercise that has been held for over 10 years. Since then, the exercise has grown in complexity and size. In 1999, it became a battalion-level exercise, with a New Zealand detachment participating alongside SAF troops.

Assoc Prof Koo's visit is part of the regular ministerial exchanges between Singapore and New Zealand. The SAF and the New Zealand Defence Force interact through a wide range of bilateral and multilateral training exercises, professional exchanges and courses. The two countries are also part of the Five Power Defence Arrangements.

Exercise Thunder Warrior 2011 will conclude on 1 Feb.

Konsep Pembangunan Aviation Park Disiapkan


24 Januari 2011

Perbaikan pesawat di Garuda Maintenance Facility (photo : Kompas/Raditya)

Asing Bisa Rebut Bisnis Perawatan Pesawat

Jakarta, Kompas - Bisnis perawatan pesawat di Indonesia berpotensi direbut pihak asing. Oleh karena itu, dibutuhkan keterlibatan pemerintah untuk memimpin langsung pengembangan masif bisnis perawatan pesawat.

Nilai bisnis tahun 2014 diperkirakan Rp 18 triliun per tahun untuk melayani lebih dari 1.000 unit pesawat.

”Pemerintah harus berdiri paling depan, baru kemudian mengundang investor. Dulu kita membanggakan Garuda Maintenance Facility, tetapi sekarang negara tetangga sudah melangkah lebih maju,” kata pengamat penerbangan Dudi Sudibyo, Minggu (23/1) di Jakarta.

Di hadapan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono dan Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun, akhir pekan lalu di Jakarta, Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Richard Budihadianto menegaskan pentingnya dibangun pusat perawatan pesawat (aerospace park).

Dengan dibangunnya aerospace park, akan ada kluster khusus perawatan pesawat dan di tengahnya bisa dibangun gudang khusus material atau suku cadang pesawat. ”Gudang ini penting karena selama ini kita sering kehilangan waktu kerja karena masing-masing perusahaan memesan material sendiri dan sering telat datang,” ujar Richard.

Ia mencontohkan, sewa pesawat Boeing 737 senilai 5.000 dollar AS per hari. Apabila perawatannya terlambat diselesaikan karena suku cadangnya terlambat datang, akan merugikan maskapai yang menyewa Boeing itu.

Richard menjelaskan, pengembangan bisnis perawatan pesawat dapat dilakukan dengan menyinergikan badan usaha milik negara (BUMN) bidang pemeliharaan pesawat yang ada. Alasannya, 85 persen pasar perawatan pesawat di Indonesia dikuasai BUMN, di antaranya GMF AeroAsia, PT Nusantara Turbin dan Propulsi, Aircraft Service PT Dirgantara Indonesia, serta Merpati Maintenance Facility.

Saat ini persoalan yang dihadapi adalah belum ada strategi pengembangan dan finansial soal aerospace park. ”Kami baru susun masterplan Cengkareng, termasuk aerospace park sebagai bagian dari Cengkareng Aerotropolis. Paling cepat, dibangun tahun 2012,” kata Direktur Utama Angkasa Pura II Tri Sunoko.

Sementara Singapura telah mengembangkan Seletar Aerospace Park dengan investasi Rp 540 miliar di lahan seluas 140 hektar. Malaysia membangun Malaysia International Aerospace Center (MIAC) dengan investasi Rp 819 miliar di lahan 84 hektar. Thailand di Bangkok Internasional Airport juga membangun aerospace park.

Melihat langkah yang sudah diambil negara tetangga, itu berarti pembangunan aerospace park tak bisa ditunda lagi bila tidak ingin bisnis perawatan pesawat diambil oleh pihak asing.

Tahun 2009, hanya sekitar 30 persen dari nilai perawatan pesawat domestik sebesar 750 juta dollar AS, yang dapat dikerjakan perusahaan perawatan pesawat dalam negeri.

Padahal, tahun 2014 diperkirakan lebih dari 1.000 pesawat memerlukan jasa perawatan. Tahun 2010 hanya ada 816 pesawat.

”Kementerian Perhubungan terus mendorong bisnis perawatan ini maju, terutama karena keselamatan penerbangan sangat bergantung pada bagusnya perawatan pesawat,” kata Bambang Susantono.

Sementara itu, Alex Retraubun menegaskan, Kementerian Perindustrian akan mendorong BUMN agar serius dalam bisnis perawatan pesawat. ”Pasar terbuka di depan mata. Jangan ragu membangun bisnis perawatan pesawat,” katanya. (RYO)

(Kompas)

BERITA POLULER