Pages

Sunday, January 23, 2011

Ini Dia Alasan Kekhawatiran AS Atas Iran

Dosen Universitas California, AS, Profesor William Robinson mengatakan, program nuklir Republik Islam Iran hanya alasan AS dan apa yang sebenarnya dikhawatirkan oleh Gedung Putih adalah independensi Iran. Profesor Robinson kepada kantor berita IRNA, Ahad (23/1), menuturkan, dunia dikuasai oleh undang-undang arogan dan beberapa kekuatan menggunakan sanksi bukan untuk melaksanakan keadilan, tapi demi mengejar kepentingannya. Ditambahkannya, "Jika kita hidup di sebuah dunia, di mana seluruh negara punya kekuatan yang sama dan semua menghormati undang-undang internasional, maka sanksi dapat menjadi sarana yang baik untuk menegakkan kedaulatan dan kemerdekaan negara-negara, tapi sayangnya tidak demikian."
"AS secara ilegal menginvasi Irak dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan aturan internasional di berbagai sudut dunia. Aksi ini juga masih berlanjut di abad 21," kritiknya.
"Karena kita hidup di dunia yang tidak berimbang, maka tidak ada pihak yang mampu meratifikasi sebuah sanksi atas AS. Pelanggaran undang-undang internasional oleh negara-negara kecil sangat tidak sebanding dengan aksi negara adidaya itu," jelasnya.
Masih menurut profesor AS ini, lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan G-8 serta lembaga dunia lainnya ketika mensahkan sebuah resolusi, tidak mengindikasikan pelaksanaan keadilan, tapi sepenuhnya mencerminkan ketidakadilan dan menunjukkan ketidaksetaraan, yaitu memanfaatkan sanksi untuk memukul pihak yang lebih lemah. Penulis buku "Latin America and Global Capitalism" ini menjelaskan, jika selama ini ada keadilan, rezim Zionis Israel harus berada di bawah sanksi terberat PBB.
Seraya membandingkan serangan Israel terhadap konvoi bantuan kemanusiaan Gaza dengan kekejaman Adolf Hitler, keturunan Yahudi ini menegaskan, Israel telah melanggar hampir semua undang-undang internasional. Ditambahkannya, tidak adanya berapa jumlah resolusi yang disahkan di PBB, karena Israel kebal dari sanksi.
"Ketidakseimbangan dalam undang-undang internasional telah menyebabkan kekebalan Israel dari sanksi, sementara Iran dan Irak berada dalam pusaran sanksi," protesnya. Sanksi di Irak, lanjutnya, lebih dari 500 ribu anak telah tewas dan ini adalah sebuah genosida yang dilakukan AS.
Menurut profesor Robinson, AS telah menjalankan kebijakan yang bertujuan untuk melumpuhkan Iran, Venezuela dan Kuba. Tujuan dari strategi ini adalah memperlemah struktur ekonomi dan mengguncang negara-negara tersebut. Ditambahkannya, dengan memperlemah dan menghancurkan infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar warga, Washington ingin menciptakan perpecahan di tengah warga dan menjatuhkan pemerintah.
Lebih lanjut profesor Robinson menandaskan, isu nuklir hanya alasan untuk menarik dukungan internasional. Menurut saya, AS secara spesifik tidak mengkhawatirkan program nuklir Iran. Dikatakannya, Iran telah menunjukkan kerjasamanya dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan telah berupaya cukup dalam masalah ini. Oleh sebab itu, alasan sanksi bukan karena kekhawatiran AS atas program nuklir Iran, tapi ingin menciptakan instabilitas di negara itu. (IRIB/RM/SL)

IRIB

Hadapi Kapal AS, Iran Kirim Kapal Perusak ke Mediterania



Dalam beberapa hari ke depan, tentara Republik Islam Iran untuk pertama kalinya akan mengerahkan kapal perusak ke Laut Merah dan Mediterania. Wakil Panglima Angkatan Laut Iran, Laksamana Gholam-Reza Khadem Bigham kepada kantor berita Fars, Ahad (23/1), menyinggung mekanisme pengiriman unit permukaan dan bawah permukaan angkatan laut Iran ke perairan jauh. Dikatakannya, misi angkatan laut Iran senantiasa dibarengi oleh dua hingga empat kapal, dua kapal perang dan dua lainnya sebagai pendukung. Bigham menjelaskan, unit bawah permukaan angkatan laut Iran punya kekuatan untuk bertindak mandiri dalam berbagai jarak dan tidak memerlukan kapal pendukung, namun dalam misi yang sangat jauh, unit pendukung juga akan menyertai operasi mereka.
Seraya mengkonfirmasikan bahwa pengiriman unit bawah permukaan ke tempat yang jauh sebagai program kerja angkatan laut, Bigham menandaskan, rencana ini akan segera direalisasikan dan secara alamiah unit pendukung akan menyertai misi jauh unit bawah permukaan.
Sebelumnya, situs Debkafile yang berafiliasi dengan rezim Zionis Israel, memberitakan pengerahan kapal-kapal perang Amerika dan Perancis ke perairan Lebanon. Menurut situs ini, dua kapal perang Amerika dan Perancis yang berada di Laut Mediterania mulai bergerak menuju perairan Lebanon. (IRIB/RM/AR) 

IRIB

Sarjito Jadi Komandan Resimen Kavaleri 1-MAR



23 Januari 2011, Surabaya -- (SINDO): Tongkat komando Komandan Resimen Kavaleri 1-MAR Surabaya resmi berpindah tangan dari Kolonel MAR Lasmono ke Letkol MAR Sarjito.

Upacara serah terima jabatan (sertijab) bakal digelar pada Senin (24/1) pagi ini. Lasmono yang memimpin selama satu tahun dan 3,5 bulan ini seolah tidak kuasa meninggalkan keluarga besarnya di Resimen Kavaleri 1-MAR Surabaya. Sebab sebelum menjadi komandan, ayah dua anak ini menjadi pasukan operasional dalam satuan ini.“Rasanya memang berat meninggalkan karena sudah bertahun-tahun kami berkumpul bersama,” ungkap Lasmono di sela-sela acara perpisahan dengan sekitar 88 pasukannya.

Dalam kesehariannya boleh dibilang dia menghabiskan waktu bersama pasukannya. Ini mulai dari berlatih bersama hingga menyusun strategi. Dia yang dipromosikan menjadi Komandan Pusat Pendidikan Kavaleri di Kobangdikal ini pun berpesan kepada sejumlah pasukannya untuk tetap menjaga Resimen Kavaleri dan menjadikannya lebih baik lagi, serta membangun profesionalisme sesuai bidang masing-masing.

“Dalam satuan apa pun, kami tidak dituntut bekerja sendiri, melainkan selalu koordinasi. Sebab, kami adalah tim,” tandasnya. Satu hal yang menjadi kebanggaan Lasmono selama berada di satuan tersebut, yakni saat menerima mobil tank dari Rusia pada Desember lalu. “Total mobil tank yang kami miliki sekarang ada 17 buah,” tuturnya bangga.

Meski kegunaannya tidak berbeda dengan yang sebelumnya, sambung dia, setidaknya mobil tank yang baru datang ini lebih modern. Tepatnya, lebih mendukung digunakan saat latihan. Karena itu,Lasmono pun menitipkan pasukannya ke komandan baru untuk terus melanjutkan kinerja- kinerjanya yang belum terselesaikan. Beberapa di antaranya dengan terus melakukan agenda besar pemantapan terbaik dan kesenjataan terpadu.

Sumber: SINDO

CAE Wins C-130H Simulator Contract for Malaysia


22 Januari 2011
This is the interior of the C-130H training simulator for USAF (photo : CAE)

CAE wins military contracts valued at more than C$140 million

Montreal, Canada, (NYSE: CAE; TSX: CAE) – CAE announced it has been awarded a series of military contracts for the defence forces of more than 12 countries valued at more than C$140 million. Among the contracts are: the design and manufacture of a C-130J weapon systems trainer and other training devices for Lockheed Martin; a contract from Boeing Training Systems and Services to build two M-346 full-mission simulators; an agreement with IGTEC to design and manufacture a C-130H full-mission simulator; a contract from Airbus Military to develop A400M maintenance trainers; a contract from Boeing to provide CAE’s magnetic anomaly detection (MAD) system for the Indian Navy’s P-8I Poseidon aircraft; and a contract from the United Kingdom Ministry of Defence to continue providing training support services for Royal Navy helicopter training systems.

“We are continuing to see opportunities and solid order activity around the world for CAE’s comprehensive suite of military simulation products and services,” said Martin Gagné, CAE’s Group President, Military Products, Training and Services. “We have made it a strategic priority to position the company on key military aircraft that have a long life ahead, such as the C-130, M-346, A400M and P-8.”

Lockheed Martin

CAE has been awarded a contract by Lockheed Martin to design and manufacture a suite of C-130J transport aircraft training devices. CAE will be providing a C-130J weapon systems trainer used for aircrew training, a C-130J fuselage trainer (FuT) for training loadmasters and a C-130J loadmaster part-task trainer used to train loadmasters on the computer-controlled cargo handling system.

Boeing Training Systems and Services

CAE was recently awarded a contract by Boeing Training Systems and Services to design and manufacture two M-346 advanced lead-in fighter trainer full-mission simulators as part of the M-346 ground-based training system for an international customer. The two M-346 full-mission simulators developed by CAE will be delivered in 2012 and will feature a cockpit configuration to train the pilot and weapon systems officer (WSO), as well as the capability to network the simulators for joint training. Boeing's Constant Resolution Visual System (CRVS) will be powered by CAE Medallion-6000 image generators running databases based on the CAE-developed Common Database (CDB) standard.
IGTEC

CAE has signed an agreement with IGTEC, a Malaysia-based aerospace technology company, to design and manufacture a C-130H full-mission simulator. IGTEC will be establishing a regional simulation centre near the Subang International Airport in Malaysia to support training for regional operators of the C-130 Hercules aircraft. CAE will deliver the C-130H simulator to the new training centre at the end of 2012.

Airbus Military

CAE was recently awarded a contract by Airbus Military to design and manufacture an A400M cockpit maintenance operation simulator (CMOS) to support maintenance technician training for the new A400M versatile airlifter. The A400M CMOS will be based on CAE SimfinityTM virtual maintenance trainer (VMT) technology and will be delivered to the Airbus Military training centre in Seville, Spain in 2012. The training device will feature virtual displays of the A400M aircraft, cockpit and maintenance accessible areas to provide familiarization, troubleshooting and procedural training for maintenance technicians. The base contract includes options for CAE to develop additional A400M CMOS devices as well as other A400M training systems for maintenance technicians.

Boeing Company and Indian Navy

CAE has been awarded a subcontract by The Boeing Company to provide CAE's AN/ASQ-508A Advanced Integrated Magnetic Anomaly Detection (MAD) System for eight P-8I Poseidon aircraft to be operated by the Indian Navy. The P-8I aircraft is a new long-range anti-submarine warfare, anti-surface warfare, intelligence, surveillance, and reconnaissance platform based on the Boeing Next-Generation 737 airplane. CAE's AN/ASQ-508A MAD system, which is one of the most advanced MAD system in the market, will be integrated with the P-8I's mission system and will be used operationally during anti-submarine warfare missions.

CAE's MAD system is being delivered and is widely used on maritime patrol aircraft for a range of global defence forces, including the Turkish Navy's CN235 and ATR72, Canada's CP-140 Aurora, South Korea’s P-3 Orion, Brazil’s P-3BR, Chile’s C-295 and the Japanese Defence Agency's indigenously developed XP-1 maritime patrol aircraft. The MAD system provides the capability to detect, locate, and confirm subsurface targets by identifying magnetic variations or anomalies, such as those caused by a submarine, in the Earth's magnetic field.

Royal Navy

The UK Ministry of Defence has awarded CAE UK plc a five-year contract to continue providing training support services for the Royal Navy's Lynx helicopter training systems at Royal Navy Air Station (RNAS) Yeovilton as well as the Sea King Mk6 training systems at RNAS Culdrose. CAE will provide on-site contractor logistics support services such as simulator maintenance, preventative maintenance and other support services. In addition, as aircraft modifications are introduced, CAE will provide post design services to update the Lynx Mk8 training devices to replicate the ‘as flown’ configuration of the operational helicopters.

(CAE)

SGPV Akan Menggunakan Basis Gowind Class

24 Januari 2010

DCNS pada IMDEX 2009 menawarkan Gowind class sebagai Littoral Combat Ship kepada Malaysia untuk proyek Second Generation Patrol Vessel (image : DCNS)
TLDM bakal guna kapal tempur lebih canggih
LABIS - Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) tidak akan menggunakan kapal Meko A-100 yang menjadi asas kepada Kapal Ronda Generasi Baru (NGPV) untuk membangunkan skuadron Kapal Tempur Pesisir (LCS) sebaliknya, ia menggunakan model baru yang lebih canggih.

Sumber pertahanan memberitahu Utusan Malaysia, model baru itu mempunyai reka bentuk halimunan termoden yang setanding dengan keupayaan halimunan kapal friget kelas Delta milik Singapura yang diiktiraf selaku kapal perang tercanggih di rantau ini selain, memiliki kemampuan tempur tiga dimensi yang mantap.

Jelasnya, pembinaan LCS daripada model baru tersebut juga akan membolehkan negara menguasai pembuatan kapal perang termoden sekali gus, memenuhi tuntutan pertahanan abad ke-21 yang menekankan kepada ciri-ciri halimunan kerana kerajaan bukan sahaja membeli kapal tersebut tetapi teknologinya sekali.

"Sebuah kapal akan dibina di negara asal syarikat pengeluar tersebut iaitu di Perancis, manakala baki lima lagi kapal akan dibina oleh syarikat tempatan iaitu Boustead Holdings Berhad yang mana surat tunjuk minat (LOI) sudah pun diserahkan kepada syarikat ini.

"Kita memilih kapal ini kerana ia mempunyai keupayaan tempur termoden sesuai dengan kehendak TLDM memandangkan kapal-kapal perang negara serantau juga sudah memiliki teknologi terkini dan langkah ini bertujuan bagi menjaga perairan negara terutama di Laut China Selatan," katanya di sini hari ini.

Sumber itu bagaimanapun enggan mendedahkan lanjut mengenai spesifikasi sebenar kapal perang itu tetapi rata-rata penganalisis pertahanan tempatan menjangka kerajaan akan memilih Kapal Kelas Gowind buatan DCNS iaitu syarikat perkapalan sama yang membina kapal selam pertama negara.

Selain dibina dengan aplikasi teknologi halimunan, Kapal Gowind yang sepanjang 105 meter juga mampu membawa 16 peluru berpandu pertahanan udara jarak sederhana (50 kilometer) sama ada Aster 15 atau Mica RF; lapan peluru berpandu antikapal (Exocet, Harpoon atau RBS-15 MK.3) serta torpedo.

Pada masa yang sama, kapal berkenaan juga boleh membawa helikopter serta berupaya menjadi kapal induk kepada semua jenis pesawat tanpa pemandu (UAV) bagi tujuan pemantauan laut.

Ditanya mengenai apakah jenis persenjataan yang akan dipasang pada kapal perang tersebut, sumber tersebut berkata, pihak TLDM sedang mengkaji perkara berkenaan tetapi beliau yakin, jenis peluru berpandu sedia ada akan digunakan kecuali melibatkan pertahanan udara.

Sebelum ini, Menteri Pertahanan, Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi dilaporkan memberitahu, kapal LCS yang bakal dibina bagi memperkukuhkan perairan negara tidak lagi mengguna pakai konsep fitted for but not with seperti aplikasi pada kumpulan pertama kapal NGPV jenis KD Kedah.

(Utusan)

AL Thailand Akan Beli 2 Kapal Selam Bekas Pakai


Kapal selam AL Afsel tipe 209-1400 buatan galangan kapal Thyssen Nordseewerke,Emden bekerjasama dengan HDW.

23 Januari 2011 -- (Berita HanKam): Angkatan Laut Thailand berencana membeli dua kapal selam bekas pakai senilai 6-7 milyar baht.

Menurut sebuah sumber, AL Thailand telah memutuskan menyerahkan rencana pembelian ke kabinet untuk disetujui.

Pihak AL telah membentuk sebuah komite guna melakukan studi kelayakan.
Spesifikasi kapal selam belum ditentukan tetapi AL berharap membeli kapal selam buatan barat, kemungkinan dari Jerman.

AL Thailand menekankan memiliki kapal selam karena para pelaut Thailand hanya sedikit mengetahui mengenai teknologi kapal selam, dimana secara konstan akan ditingkatkan.

"Sejumlah negara tetangga telah mempunyai kapal selam pada armadanya. Tetapi para pelaut Thai tidak pernah berhubungan langsung dengan kapal selam. Kami masih ketinggalan dalam istilah terminologi teknologi kapal selam," ucap sumber.

Keputusan pembelian kapal selam bekas karena pihak AL menyadari anggaran belanja negara banyak disedot untuk memperbaiki perekonomian yang buruk.

KASAL Thailand Laksamana Kamthorn Phumhiran mengatakan AL memerlukan juga membeli armada frigate baru untuk menggantikan frigate yang telah digunakan 15 sampai 30 tahun.

KASAD, KASAL dan KASAU telah menyiapkan rencana pembelian persenjataan bagi matranya untuk diajukan pada pemerintah guna disetujui. Menurut sumber, rencana pembelian diajukan oleh AB Thailand diperkirakan mencapai 400 milyar bath.

Sumber: Bangkok Post

Direktur Asia-Timur Tengah UNDPKO Kunjungi Konga Libanon


Satgas Yonif Mekanis Konga XXIII-E/Unifil (Indobatt) menggelar simulasi penanganan kerusuhan di Pos XC-3, Adshit Al Qusayr, Libanon, Sabtu, (15/1/2011). Simulasi ini untuk meningkatkan kemampuan reaksi cepat Tim BMR Indobatt. (Foto: Papen Satgas Yonif Mekanis Konga XXIII-E/Unifil)

23 Januari 2011, Surabaya -- (ANTARA News): Direktur Asia dan Timur Tengah UNDPKO (United Nation Department of Peacekeeping Operation) yang berkedudukan di New York, Wolfgang W. Weber, mengunjungi markas Satuan Tugas Batalyon Infantri Mekanis Kontingen Garuda (Konga) XXIII-E/UNIFIL di Libanon Selatan.

Komandan Satgas Yonif Mekanis Konga XXIII - E/UNIFIL, Letkol Inf Hendy Antariksa, melalui surat elektroniknya kepada ANTARA News, Minggu, mengemukakan bahwa Wolfgang W. Weber datang ke markas Batalyon Indonesia (Indobatt) pada Sabtu (22/1) bersama "Sector East Deputy Commander" (SECEAST DCO) Kol Laut (Elektro) Joko Edi S.

Ia menyambut kedatangan mereka di Kompi A Mekanis UN POSN 9-63, Al Aadaisse, bersama Kepala Operasi Mayor Inf Hendriawan Senjaya, penerjemah bahasa Inggris, Mayor Sus Harianto, Kepala Seksi Intel, Mayor Budi Santosa, Perwira Hukum, Mayor Sus Faryatno Situmorang, Perwira Seksi Operasi, Kapten Mar Eko Budi P, dan Komandan Kompi A, Kapten Inf Sigit Purwoko.

Selanjutnya, mereka diarahkan menuju ruang rapat Kompi A untuk menerima paparan tentang area operasi yang disampaikannya selaku Komandan INDOBATT.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan berupa gendang dari Komandan INDOBATT kepada Wolfgang W. Weber.

Kegiatan dilanjutkan dengan "Tour of Area" yang menjadi tanggung jawab Kompi A, yaitu Panorama Point untuk melihat situasi di "Blue Line" dan "Sensitive Area" (batas wilayah Libanon-Israel).

Di Panorama Point, Wolfgang W. Weber menemui prajurit INDOBATT yang sedang berjaga dan memantau situasi di area yang sangat sensitif tersebut.

Agenda kunjungan kerja itu berlangsung empat hari ke seluruh jajaran kontingen UNIFIL yang merupakan bagian dari departemen UNDPKO dan untuk Kontingen Garuda XXIII-E/UNIFIL diwakilkan kepada Kompi A yang mendapatkan jadwal di hari kedua dari agenda tersebut.

Dalam itu, Wolfgang W. Weber mengagumi kinerja dan profesionalisme prajurit Batalyon Indonesia dalam pelaksanaan tugas di lapangan dan ia merasa disambut dengan ramah.

Wolfgang W. Weber yang dikenal sebagai sosok yang sangat teliti itu sempat memuji tata ruang rapat Kompi A yang terlihat bersih dan rapi.

Setelah itu, ia melanjutkan kunjungan ke Markas Batalyon Spanyol (Spainbatt) di Kafer Keyla.

"Kunjungan itu berlangsung singkat selama 30 menit, dimulai dari pukul 11.00 sampai dengan 11.30 LT (Local Time/waktu setempat), tapi semuanya berlangsung dengan aman dan lancar," kata Perwira Penerangan Batalyon Indonesia, Kapten Pasukan Banu Kusworo.

Sumber: ANTARA News

BERITA POLULER